Welas Asih dan Kebijaksanaan Mewujudkan Tanah Suci di Dunia, Hati dan Kebajikan Buddha Memberi Manfaat Bagi Masyarakat dan Semua Makhluk (Bagian 1)
Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 19 Juni 2015
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada para biksu melindungi Dharma, dan terima kasih atas kedatangan semua teman se-Dharma, juga berterima kasih kepada Tim Ambulans St. John Hong Kong atas bantuannya.
Tadi di dalam lift bertemu dengan dua teman se-Dharma yang datang dari Shanghai. Mereka menceritakan satu hal yang sangat menyentuh hati saya. Pesawat mereka, setelah mulai bergerak dan tinggal empat detik lagi akan lepas landas, tiba-tiba seluruh mesinnya mati total. Coba bayangkan, selisih empat detik, kalau pesawat itu sudah terbang di udara lalu mesinnya mati, pasti akan terjadi kecelakaan. Dengan berlinang air mata mereka bercerita kepada saya, bahwa tepat empat detik sebelum lepas landas, pesawat itu tiba-tiba mati tanpa sebab yang bisa ditemukan. Semua penumpang kemudian turun dan dipindahkan ke pesawat lain. Bukankah ini adalah wujud welas asih dari Guan Shi Yin Pu Sa? Selama semua orang sungguh-sungguh menekuni Dharma dan membina pikiran, Guan Shi Yin Pu Sa pasti akan melindungi dan mengasihi kita. Semua Naga Langit dan Dewa Pelindung Dharma akan memberkati kita.
Dalam kehidupan ini, tanpa kita sadari, puluhan tahun telah berlalu begitu saja, dan puluhan tahun itu juga sering dijalani dalam penderitaan. Hidup ini tidak kekal, dunia dan segala hal pun tidak kekal, kita tidak dapat menahan kepergian orang yang kita cintai, juga tidak bisa mengusir penyakit dan rasa sakit. Kita semua hidup dalam penderitaan dan penyesalan. Oleh karena itu, penderitaan manusia juga adalah penderitaan para Bodhisattva. Hanya dengan belajar Buddha Dharma, kita baru dapat benar-benar terbebas dari penderitaan. Mengapa kita manusia hidup di dunia ini sering kali bingung dan tersesat? Karena kita adalah manusia, ketika kita belajar Buddha Dharma, tingkat kesadaran spiritual kita akan meningkat, perlahan kita akan menjadi seperti Bodhisattva. Ingin menekuni Dharma dan menjadi Bodhisattva, kita harus mengubah nasib kita, harus sungguh-sungguh menekuni Dharma. Seseorang yang benar-benar ingin mengubah nasibnya adalah orang yang memiliki harapan, adalah orang yang memiliki kebijaksanaan. Berharap semua orang yang memiliki kebijaksanaan memulainya dari diri sendiri, mulai dari hari ini, dan menjadi Bodhisattva di dunia.
Di Malaysia, ada seorang ayah muda. Setelah melahirkan tiga orang anak, istrinya meninggal dunia dengan air mata. Ayah ini adalah seorang teman se-Dharma yang tekun. Ia sangat menderita, membesarkan ketiga anaknya. Sekarang, ketiga anak itu adalah umat kecil kita. Ayah mereka adalah semua umat, dan ibu mereka adalah semua ibu yang mencintai mereka.
Kita manusia harus tahu untuk menghargai. Dapat menjalani satu hari dengan damai dan selamat saja sudah merupakan sebuah berkah. Berapa banyak orang di dunia ini yang hari ini tidak dapat melihat matahari esok lagi? Berapa banyak orang yang menjadi cacat, berapa banyak orang yang didiagnosis menderita kanker, berapa banyak keluarga yang hancur dan kehilangan orang yang dicintai? Semua itu adalah bagian dari takdir, tetapi bagaimana cara kita menembus atau mengubah takdir tersebut? Kita harus melepaskan segala kerisauan kita. Masalah terbesar manusia hidup di dunia ini adalah kerisauan. Tidak ada orang yang memaksa kamu untuk risau, tetapi adalah kita sendiri yang memiliki energi negatif ini, itulah yang disebut kerisauan. Jangan memandang setiap hal terlalu berat, maka tidak akan menyakiti dirimu sendiri. Pandanglah segala sesuatu di dunia ini dengan lebih ringan, maka kamu akan lebih mudah melewati jalan kehidupan yang penuh rintangan. Jika kamu memandang setiap hal terlalu serius, pada akhirnya kamu akan terperangkap dalam lumpur kehidupan yang keruh.
Begitu banyak orang yang penuh kasih, setiap orang memiliki hati dan niat baik untuk belajar Dharma. Coba pikirkan, di masa tua nanti, siapa yang bisa menjamin bahwa semua kerabat kita masih ada? Ketika kalian sudah menjadi nenek atau kakek nanti, apakah keluarga kalian pasti bisa merawat kalian? Pada akhirnya, di dunia ini, yang benar-benar dapat membantu kita mencapai keberhasilan adalah teman-teman se-Dharma kita. Mereka adalah orang-orang terdekat di sekitar kita, mereka adalah kerabat sejati kita.
Dapat hidup dengan damai dan selamat tiap hari sudah merupakan berkah. Berapa banyak bencana yang bisa kita hindari? Topan dapat membalikkan kapal. Coba pikirkan, lima hingga enam ratus nyawa para lansia, tanpa welas asih Bodhisattva, bencana apa yang bisa kita hindari? Sekarang hati manusia di masyarakat sangat kacau, sehingga dunia ini menjadi semakin tidak kekal. Hari ini bisa begini, besok bisa begitu, membina pikiran berarti membangkitkan nurani dan kemampuan baik dalam diri, membiarkan kebijaksanaan kita memenuhi dunia, membiarkan karakter moral kita memengaruhi semua makhluk, dan menggunakan welas asih di dalam hati untuk menuntun semua makhluk. Seseorang yang memiliki hati penuh welas asih adalah Bodhisattva sejati. Untuk menjadi seorang Bodhisattva, pertama-tama harus belajar berwelas asih dan belajar bersyukur. Kita harus memahami bahwa hanya dengan rasa syukur dan welas asih, barulah kita dapat memperoleh kebijaksanaan dan paramita Bodhisattva. Orang yang benar-benar memiliki kebijaksanaan adalah mereka yang meminjam kebijaksanaan orang lain agar dirinya tidak terjerat penderitaan duniawi. Karena kita harus benar-benar memahami dan menyadari kebijaksanaan Bodhisattva bagaimana membebaskan jiwa diri sendiri, barulah kita dapat mengerti kebenaran sejati di dunia ini. Dari kelebihan dan kekurangan orang lain, kita belajar bagaimana seharusnya hidup di dunia ini.
Benar dan salah adalah salah. Hanya ketika hati tidak ada “benar”, barulah hati bisa terbebas dari “salah”. Bila hati tidak ada “salah”, dunia baru akan menjadi lebih harmonis. Tidak ada alasan atau logika yang bisa menjelaskan penderitaan duniawi. Suami dan istri berjuang bersama demi sebuah keluarga, keduanya saling berkorban, tidak ada alasan yang dapat dijelaskan, semua itu hanyalah Nidana dan balasan karma. Berharap semua orang memahami Nidana (sebab-musabab) dan mengetahui balasan karma, barulah bisa menjadi semakin bijaksana, barulah bisa melampaui lautan penderitaan di dunia, dan akhirnya menemukan jalan kembali menuju tepian pencerahan.
Jika hati tidak kacau, maka pikiran pun tidak akan kacau. Dalam hidup ini, sangat jarang kita menemukan sahabat sejati. Bila sudah menemukannya, kita harus benar-benar menghargainya. Tidak hanya menghargai kerabat di sekitar kita, tetapi juga menghargai Master, lebih lagi harus menghargai ajaran Buddha Dharma, serta menyayangi semua teman se-Dharma. Hari ini kita berkumpul bersama dengan penuh sukacita, bagaikan berada di tepi kolam teratai. Kita setiap orang adalah setangkai bunga teratai. Kita harus membuat dunia ini menjadi lebih damai, membuat manusia lebih bahagia, dan menjadikan bunga teratai ini mekar di hati setiap orang, sehingga cahaya kebijaksanaan dan welas asih Bodhi terpancar dari setiap hati yang penuh welas asih.
Menanam bunga dengan sengaja, namun bunga tak kunjung mekar; tanpa sengaja menancapkan ranting willow, justru tumbuh rindang. Belajar Buddha Dharma juga demikian, yang terpenting adalah hasilnya. Meskipun menggunakan berbagai cara, jika orang lain tetap tidak mau belajar Dharma, maka semua usahamu menjadi sia-sia. Selama kamu dapat membuat seseorang menekuni Dharma dan melafalkan parritta, itulah balasan karma. Ada orang yang sangat bersemangat menuntun orang lain, tetapi tidak berhasil. Ada pula yang dengan tubuhnya sendiri, melalui kesalahan yang pernah diperbuat, menyesali dosa-dosanya, lalu menjadikannya pelajaran untuk mengedukasi orang lain, mengubah cara pandang mereka, membuat mereka belajar Buddha Dharma. Tindakan seperti itu sendiri sudah merupakan sebuah jasa kebajikan.
Kehidupan muncul dari kekosongan ketidaktahuan yang hening, lalu berubah wujud. Dari kekosongan alam semesta, berubah menjadi kehidupan yang berupaya. Hidup manusia hanyalah satu pikiran, dan pikiran ini sangat penting, satu pikiran yang baik dapat membebaskanmu dari penderitaan, sementara satu pikiran jahat dapat menjerumuskanmu ke dalam penderitaan. Ada orang yang pernikahannya tidak bahagia. Jika bisa berpikir jernih, maka semuanya bisa baik. Jika tidak bisa berpikiran jernih, maka ia hanya akan menyiksa dirinya dalam penderitaan. Semoga kalian tidak lagi menyiksa diri sendiri. Jangan biarkan penderitaan yang telah berlalu terus tidak bisa dilupakan, seperti ular berbisa yang setiap hari menyiksa hatimu.
Hidup adalah dalam pilihan. Orang menderita karena tidak bisa berpikir jernih, mengalami kesengsaraan juga karena tidak bisa berpikir jernih. Dalam menangani segala hal di dunia ini, semuanya dalam pilihan yang penuh penderitaan. Pilihan seseorang mencerminkan seluruh hidupmu. Jika sepanjang hidup membuat pilihan yang benar, maka kamu mungkin akan berhasil; tetapi jika seumur hidup memilih yang salah, maka dalam seumur hidup kamu akan berdampingan dengan kesalahan itu. Hal terpenting dalam hidup adalah satu pilihan. Hari ini, semua dari kita yang belajar Buddha Dharma telah membuat pilihan yang benar, yaitu menekuni Dharma, karena ajaran Buddha Dharma adalah cara dan metode terbaik untuk menyelamatkan kehidupan manusia.
Hidup ini adalah permainan tanpa akhir, seperti bermain sandiwara. Banyak orang menjalani hidup dengan berbagai kekurangan dan penderitaan. Ketika hidup berakhir, mereka baru menyadari bahwa ternyata manusia hanyalah bermimpi saja. Semoga semua orang menekuni Dharma dengan sungguh-sungguh. Sekarang ini, semakin banyak orang yang menderita berbagai penyakit. Jika kalian masih tidak mau bervegetarian, kemungkinan terkena kanker usus akan semakin tinggi. Di Shanghai saja, setiap tahun ada sekitar 35.000 orang yang meninggal karena kanker usus. Hidup dan mati tidaklah kekal. Demi memuaskan nafsu makan, banyak orang justru menyakiti nyawanya sendiri.
Manusia harus mengerti bahwa nafsu keinginan tidak bisa dijadikan sebagai harapan hidup. Harapan manusia bukanlah nafsu keinginan. Harapan sejati adalah pembebasan batin. Ketika setiap orang memiliki ketenangan jiwa, keluarga yang harmonis, tanpa pertengkaran dan keributan, itulah yang disebut kedamaian. Banyak orang setiap hari menginginkan ini dan itu, selamanya hidup dalam nafsu keinginan. Saat keinginan tidak terpenuhi, mereka akan merasa sakit dan menderita. Ketika manusia tidak memiliki nafsu keinginan, barulah ada harapan. Kita tidak boleh hidup dalam ruang pikiran yang sempit, terbatas pada imajinasi pribadi. Ada orang yang hidup dalam kenangan yang menyakitkan di masa lalu, ada pula yang hidup tanpa arah, mencari tanpa tujuan. Oleh karena itu, kita harus belajar Buddha Dharma.
Praktisi Buddhis hanya menanam, tanpa bertanya apa yang akan dituai. Hari ini, selama kamu berusaha dan tekun belajar Buddha Dharma, kamu pasti akan ada hasil yang baik. Dalam hidup ini tidak ada kata “jika”, yang ada hanyalah hasil. Jadi jangan sering berpikir, “Jika saya begini atau begitu,” hasilnya tidak akan begini atau begitu. Selama kita menjalani hidup sesuai dengan hukum sebab dan akibat, kita pasti akan memperoleh balasan karma yang lebih besar.
Masalah terbesar manusia adalah penyesalan batin. Ketika seseorang menyesal dalam hatinya, ia menjadi sulit melepaskan diri dan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, itu adalah tanda tidak memiliki kebijaksanaan. Manusia tidak boleh terus hidup dalam rasa iri dan kebencian terhadap orang lain. Jika setiap hari hanya mengingat dan menyimpan kekurangan orang lain, itu berarti tidak memiliki kebijaksanaan. Kita harus belajar melepaskan masa kini. Orang bodoh menjadikan saat ini sebagai harapan, sedangkan orang bijak melepaskan saat ini sebagai suatu harapan. Harus bisa melepaskan berapa banyak ya lepaskan berapa banyak. Orang yang bisa melepaskan, kebahagiaan akan mendatanginya. Banyak orang yang melepaskan, maka tidak sakit lagi. Demikian juga dengan hubungan asmara, ketika kamu merasa sangat menderita, itu karena kamu tidak bisa melepaskan, kamu sedih, kamu terus memikirkannya. Namun, ketika suatu hari kamu benar-benar melepaskannya, bukankah semuanya terasa biasa saja? Jodoh dan takdir kita. Hidup ini seperti sebuah kereta api. Tidak ada seorang pun yang akan menemanimu dari stasiun awal hingga stasiun akhir. Sepanjang perjalanan, orang-orang naik dan turun, mereka hanya menemanimu dalam sebagian perjalanan hidupmu. Hargailah jodoh, dan jalani perjalanan hidupmu dengan baik hingga selesai. Ketika perjalanan itu berakhir, ke mana kita akan pergi? Setelah turun dari kereta, jika kita tidak bisa naik pesawat, mungkin kita akan berganti ke kereta lain, atau bahkan terjatuh ke dalam jurang, itulah alam bawah. Oleh karena itu, selama kita masih berada di dalam kereta, kita harus “membeli tiket pesawat” terlebih dahulu. Kita ingin naik ke surga. Kita ingin kembali ke rumah sejati kita.
Berpikirlah dengan terbuka dan jernih. Suami istri pada dasarnya adalah musuh. Dalam banyak drama, seorang istri sering memanggil suaminya “musuhku”. Guan Shi Yin Pu Sa melihat kalian dan juga memberi dua huruf “qin jia — keluarga dekat. Master sangat menyesuaikan jodoh. Saya juga sangat senang berkumpul sama semua orang. Di dunia ini, memahami bagaimana menghormati diri sendiri berarti juga menghormati orang lain. Sebagai manusia, kita harus mengerti balasan karma. Jika seseorang memahami sebab, ia akan mengerti akibat. Bila seseorang tahu bahwa bencana datang, itu karena benih sebabnya dulu tidak ditangani dengan baik. Berharap semua orang memahami bahwa tidak mengejar ketenaran dan kekayaan adalah berkah. Mengejar ketenaran dan kekayaan akan menderita. Ingin menjadi pejabat, setiap hari gelisah, sulit tidur, dan masih berkata kepada orang lain, “Saya sangat ingin jadi pejabat.” Pejabat apa? Wakil kepala seksi. Kelemahan manusia adalah selalu ingin lebih baik dari orang lain. Namun, jika ingin lebih baik, jangan hanya di dunia ini. Lebih baik dari orang lain yang sesungguhnya bergantung masa depan. Lihat siapa bisa naik ke Surga nanti.
Ketenaran dan kekayaan duniawi adalah sesuatu yang kamu peroleh dengan mengorbankan kemurnian hatimu. Orang yang benar-benar baik tidak akan mengejar ketenaran dan kekayaan. Hanya hati yang murni dan tulus yang dapat membuat orang lain memperoleh lebih banyak ketenaran dan kekayaan. Namun, ketika kamu sendiri mulai menginginkan ketenaran dan kekayaan itu, hatimu perlahan akan menjadi tidak murni lagi. Kita harus melepaskan ketenaran dan kekayaan duniawi agar dapat menyempurnakan hati kita yang penuh kebaikan.
Alasan mengapa manusia hidup dengan begitu lelah adalah karena tidak bisa melepaskan gengsi. Kita merasa diri kita hebat, padahal sesungguhnya, apa sih yang hebat dari manusia? Bukankah keseluruhan hidup manusia hanyalah dalam jalinan jodoh? Hari ini, jika memiliki jodoh, maka kita bisa berhasil; besok, jika jodoh itu hilang, maka kegagalan pun datang, segalanya adalah jodoh. Kita tidak boleh melekat pada jodoh, tidak boleh harus menginginkannya. Jodoh itu seperti sebuah buku, saat kita membalik halaman buku, kadang tanpa sadar kita melewatkannya; namun jika kita membacanya terlalu serius, terkadang air mata pun akan berlinang. Oleh karena itu, terhadap jodoh, kita harus menyesuaikannya. Hari ini kamu adalah suami saya, saya berterima kasih kepadamu, mari kita jalani hidup ini dengan baik. Besok, jika kamu menjadi suami orang lain, saya juga tidak akan menyesal, karena saya tahu jodoh baik kita telah berakhir dan jodoh buruk telah datang. Selama kita tekun melafalkan paritta, jodoh baik yang lebih indah akan menanti kita. Cara berpikir demikian adalah tahap awal dalam belajar Buddha Dharma. Namun, pada tahap yang lebih tinggi — kamu berjalan di jalanmu, saya melangkah di jalan saya. Kamu meninggalkan saya, itu justru membuat saya menjadi lebih bijaksana dan lebih tahu cara menghargai. Inilah yang disebut kehidupan yang penuh kebijaksanaan.
