Menanggung Segala Penderitaan di Dunia, Menyambut Kemurnian Sifat Kebuddhaan dalam Hati (Bagian 2) 吃尽人间万般苦,迎来心中佛性清 (下)

Menanggung Segala Penderitaan di Dunia, Menyambut Kemurnian Sifat Kebuddhaan dalam Hati (Bagian 2)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Paris – Perancis, 12 September 2015

Praktisi Buddhis harus meninggalkan kebodohan dan memiliki kebijaksanaan. Di dunia ini, orang yang paling bijaksana adalah orang yang memahami hukum sebab dan akibat. Menanam sebab apa, akan memperoleh buah akibat yang sesuai. Hari ini jika kamu memberikan senyuman kepada orang lain, benih sebab itu telah ditanam, dan orang lain pun akan memperlakukanmu dengan lebih lembut dan ramah. Hari ini jika kamu membantu orang lain, maka orang lain juga akan membantumu. Hari ini jika kita menanam benih sebab Bodhi, maka kita akan memperoleh buah Bodhi. Hanya orang yang memahami sebab dan akibat yang dapat menguraikan sebab dan akibat, serta mampu terbebas dari sebab dan akibat itu.

Bukan tidak ada pembalasan, hanya saja waktunya belum tiba. Banyak orang merokok. Ketika dinasihati agar tidak merokok, dia berkata, “Saya sudah merokok selama puluhan tahun. Bukankah saya tetap baik-baik saja? Saya juga tidak terkena penyakit paru-paru.”Namun masalahnya adalah, setelah merokok selama puluhan tahun, suatu hari nanti ia bisa saja terkena penyakit paru-paru. Oleh karena itu, benih apa yang ditabur, buah itulah yang akan dipetik. Jika hari ini kita memberikan cinta kasih dan welas asih kepada orang lain, maka kita akan memperoleh balasan berupa welas asih. Hati dan pikiran manusia terkadang bagaikan sebuah cermin. Mengapa dikatakan, “Rupa adalah kosong, kosong adalah rupa”? Hati ini adalah bersih, ketika memantulkan kebaikan, maka di dalam hati akan tersimpan bayangan kebaikan; Ketika memantulkan kejahatan, maka di dalam hati akan tersimpan bayangan kejahatan. Apa yang dipantulkan, itulah yang akan dimiliki di dalam hati. Baik maupun buruk muncul dalam sekejap pikiran. Sering menerima pikiran baik akan membentuk benih kebajikan. Sebaliknya, jika sering menyimpan pikiran buruk, maka akan memiliki buah keburukan. Hanya dengan memahami apa yang baik dan apa yang buruk, barulah dapat mengerti hukum sebab dan akibat. Hukum sebab dan akibat nyata dan akurat. Banyak orang sepanjang hidupnya selalu perhitungan dan mempermasalahkan hal-hal kecil; pada akhirnya mereka pun mati karena sikap perhitungan itu sendiri. Sebaliknya, banyak orang yang seumur hidupnya demi orang lain; pada akhirnya mereka hidup dalam hati banyak orang. Belajar Buddha Dharma adalah menanam benih. Kita harus menanam benih-benih kebaikan.

Seorang petani, hanya sempat bersekolah dua tahun di tingkat SMP. Keluarganya tidak mampu membiayai sekolah, ia terpaksa putus sekolah dan pulang ke rumah untuk membantu ayahnya menggarap tiga hektar tanah yang kurang subur. Ketika ia berusia 19 tahun, ayahnya meninggal dunia. Seluruh beban keluarga pun jatuh di pundaknya. Ia harus merawat ibunya yang sakit-sakitan, serta neneknya yang lumpuh dan hanya bisa terbaring di tempat tidur. Pada tahun 1980-an, lahan pertanian dibagikan kepada masing-masing keluarga, ia menggali sebuah cekungan berair menjadi kolam, ingin beternak ikan. Namun, aparat desa mengatakan kepadanya bahwa sawah tidak boleh digunakan untuk memelihara ikan, hanya boleh ditanami. Ia pun terpaksa menimbun kembali kolam tersebut. Peristiwa ini menjadi bahan ejekan. Di mata orang lain, ia dianggap sebagai orang yang ingin cepat kaya tetapi sangat bodoh. Mendengar bahwa beternak ayam bisa menghasilkan uang, ia pun meminjam 500 yuan dari kerabatnya dan mulai beternak ayam. Namun setelah banjir, ayam-ayamnya terkena wabah dan dalam beberapa hari semuanya mati. Bagi orang lain, 500 yuan mungkin bukan jumlah besar, tetapi bagi dirinya yang tidak memiliki apa-apa, itu adalah angka yang sangat besar. Ibunya tidak kuat menanggung pukulan ini dan akhirnya meninggal karena depresi. Setelah itu, ia pernah mencoba membuat arak, menangkap ikan, bahkan bekerja membantu mengebor lubang peledakan di tebing tambang batu… tetapi semuanya tidak menghasilkan uang. Hingga usia 35 tahun, ia belum juga menikah. Bahkan wanita yang sudah bercerai dan punya anak pun tidak mau menikah dengannya, karena ia hanya memiliki sebuah rumah tanah sederhana yang bisa roboh kapan saja saat hujan besar. Pria yang tidak bisa menikah, akan dipandang rendah di pedesaan. Namun ia tetap ingin mencoba sekali lagi. Ia meminjam uang ke sana-sini untuk membeli sebuah traktor tangan. Tidak disangka, belum setengah bulan digunakan, traktor itu bersama dirinya terjun ke dalam sungai. Ia kehilangan satu kaki dan menjadi pincang. Sementara itu,  traktornya diangkat keluar, tetapi sudah hancur berkeping-keping. Ia hanya bisa membongkarnya dan menjualnya sebagai besi tua. Hampir semua orang mengatakan hidupnya sudah berakhir. Namun kemudian, ia justru menjadi direktur sebuah perusahaan di kota tempatnya tinggal, dengan aset mencapai 200 juta yuan. Kini banyak orang mengetahui masa lalunya yang penuh penderitaan dan perjalanan usahanya yang penuh kisah luar biasa. Banyak media telah mewawancarainya, dan banyak tulisan reportase menggambarkan kisahnya. Ada satu bagian yang sangat berkesan. Wartawan bertanya kepadanya:“Dalam masa-masa sulit itu, apa yang membuat Anda terus maju tanpa menyerah?”Ia duduk di belakang meja kerjanya yang besar dan mewah, menghabiskan segelas air di tangannya. Lalu ia memegang gelas itu dan bertanya kepada wartawan:“Jika saya melepaskan tangan, apa yang akan terjadi pada gelas ini?”Wartawan menjawab:“Jika dilepaskan, gelas itu pasti jatuh ke lantai dan pecah.” Ia berkata:“Baik, kita coba.”Ia pun melepaskan. Gelas itu  jatuh ke lantai dan mengeluarkan suara nyaring, tetapi tidak pecah, tetap utuh. Ia berkata:“Bahkan jika ada sepuluh orang di sini, mereka semua akan berpikir gelas ini pasti pecah. Namun, gelas ini bukan gelas biasa, melainkan terbuat dari fiberglass.” Wartawan itu mengingat percakapan klasik yang luar biasa ini. Orang seperti ini, bahkan jika hanya tersisa satu tarikan napas, ia tetap akan berusaha meraih tangan kesuksesan.

Kita praktisi Buddhis juga demikian. Jika kita terus tekun membina pikiran, kita pasti dapat mengatasi berbagai macam kerisauan di dunia ini, dan mencapai tanah suci dalam hati kita sendiri. Menanggung segala penderitaan di dunia, menyambut kemurnian sifat Kebuddhaan dalam hati. Praktisi Buddhis karena telah menanggung banyak penderitaan dan luka batin di dunia, barulah mulai membina diri. Banyak orang tidak menanggung penderitaan, sangat bahagia, memiliki ketenaran dan kekayaan, apakah ia akan terpikir untuk membina diri? Justru karena kita telah merasakan penderitaan hidup, barulah kita mulai membina diri, barulah kita bisa memperoleh pencerahan darinya. Menyadari bahwa diri sendiri masih belum cukup baik dalam membina diri adalah pencerahan kecil. Pencerahan besar adalah tahu bahwa pembinaan diri masih belum cukup baik, maka harus sungguh-sungguh membina diri dan pikiran. Inilah yang disebut hati yang tekun. Selain membina diri sendiri, kita juga harus membantu orang lain. Inilah yang disebut menyelamatkan diri sendiri dan menolong orang lain.

Saya ingat ada seorang biksu yang melepaskan duniawi melalui pengalaman seperti ini. Dahulu ia adalah seorang pemburu yang mencari nafkah dengan menangkap berang-berang air. Ia khusus menangkap berang-berang di sungai. Suatu hari, ia menangkap seekor berang-berang, menguliti kulitnya untuk dijemur, lalu meninggalkan berang-berang itu di samping dalam keadaan sekarat dan tanpa kulit, lalu ia pergi lagi untuk menangkap berang-berang lainnya. Malam harinya, ketika ia kembali ke gua, ia melihat kulit berang-berang itu masih ada, tetapi berang-berang yang tadi itu sudah tidak terlihat. Ia berpikir, “Bagaimana mungkin seekor berang-berang yang seluruh kulitnya telah dikuliti bisa pergi begitu saja?” Ia kemudian mengikuti jejak darah yang tertinggal. Setelah menelusurinya, ia melihat seekor anak berang-berang yang masih sangat kecil sedang menyusu pada induknya yang sudah tanpa kulit tersebut. Saat itu juga ia tersentak dan tersadar. Ia berkata dalam hati, “Saya sedang menciptakan karma buruk.” Kejadian yang begitu menyedihkan itu membuatnya merasakan betapa tragisnya penderitaan di dunia ini. Seekor induk yang sudah berada di ambang kematian masih berusaha memberikan air susu kepada anaknya. Apakah kita orang-orang zaman sekarang masih memiliki hati nurani? Apakah kita masih memahami arti kasih sayang? Pengalaman inilah yang akhirnya menjadi kasus baginya untuk menjadi seorang biksu.

Kita belajar Buddha Dharma adalah untuk menyesuaikan garis nasib yang dimiliki oleh masing-masing dari kita dengan masyarakat ini, serta menerima segala akibat karma yang timbul dari berbagai keadaan di dunia ini. Menerima penderitaan dan kesulitan di dunia ini merupakan awal dari pencerahan kita.“Terlepas dari segala rupa, itulah yang disebut Tathāgata,” sebagai manusia, kita harus mampu melepaskan diri dari segala rupa yang palsu. Pikirkanlah, ketika orang lain menipumu, bukankah di sekelilingmu terdapat banyak rupa ilusi? Mengapa kamu bisa tertipu? Karena yang kamu lihat adalah rupa yang palsu. Banyak orang berkata, “Dulu ketika saya menikah dengannya, saya benar-benar buta.” Sebenarnya, ketika menikah dengannya kamu tidak buta, dan ketika bercerai pun kamu juga tidak buta. Yang buta adalah hatimu. Hatimu tidak bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Kita harus mengubah nasib. Hakikat “Tathagata” yang sejati adalah kebaikan dari sifat diri dan bodhicitta yang paling awal. Oleh karena itu, kita harus mengubah nasib kita. Hari ini, bagi kalian semua yang hadir, jika kalian bahkan tidak mau mengubah nasib sendiri, dan juga tidak mampu mengubahnya, lalu bagaimana bisa membina pikiran dengan baik? Orang yang ingin mengubah nasib harus membangkitkan niat yang tulus dengan sungguh-sungguh. Terkadang nasib memang sulit atau bahkan tidak dapat diubah, tetapi yang harus diubah adalah sikap kita terhadap nasib. Kehidupan memberikan keberhasilan dan kegagalan yang sama kepada setiap orang. Bahkan orang yang paling hebat pun, dalam perjalanan panjang hidupnya, juga akan mengalami keberhasilan dan kegagalan. Hanya dengan mentalitas yang baik, barulah bisa keluar dari batasan diri sendiri dan melampaui penjara kesadaran diri. Banyak orang sebenarnya bukan tidak bisa berubah, tetapi tidak mau berubah. Peningkatan tingkat kesadaran spiritual mencerminkan kesadaran akan keberadaan diri. Terbebas dari enam alam adalah tingkat kesadaran spiritual diri. Untuk mencari “paramita” di dunia  berarti harus melampaui dan terbebaskan. Harus menggunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk mengatasi penderitaan duniawi, menggunakan kebijaksanaan prajna untuk melampaui enam alam, inilah dasar bagi praktisi Buddhis di zaman sekarang.

Ada seorang nenek duduk di pinggir jalan. Ia melihat sebuah tembok yang hampir roboh. Setiap kali ada orang yang lewat di dekatnya, ia selalu dengan niat baik mengingatkan: “Tembok itu akan roboh, sebaiknya Anda menjauh sedikit.” Namun orang-orang yang diingatkan tidak pernah menghiraukannya, mereka tetap berjalan dengan santai melewatinya. Nenek itu sangat marah, “Mengapa begitu banyak orang tidak mau mendengarkan perkataanku?” Tiga hari berlalu, banyak orang berjalan melewati tembok itu, tetapi tembok tersebut tidak juga roboh. Pada hari keempat, nenek itu merasa agak aneh, mengapa tembok itu masih belum runtuh? Ia juga merasa sedikit kecewa, lalu berjalan mendekati tembok untuk melihatnya. Pada saat itu, tiba-tiba tembok tersebut roboh dan menimpa nenek itu hingga tertimbun di antara batu bata. Kisah ini memberi tahu kita bahwa ketika kita membantu dan mengingatkan orang lain, kita sering merasa diri kita sudah sadar. Namun, siapa yang bisa selalu sadar untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak berbuat salah? Setiap orang bisa melihat bahaya pada orang lain, tetapi tidak bisa melihat bahaya pada dirinya sendiri. Setiap orang bisa melihat kekurangan orang lain, tetapi tidak bisa melihat kekurangan pada dirinya sendiri. Banyak bahaya dalam kehidupan justru berasal dari diri sendiri. Manusia sering menciptakan bahaya itu sendiri, lalu hidup di dalamnya. Oleh karena itu, kita harus memahami pentingnya disiplin diri dan terus memotivasi diri, selalu menjaga kejernihan pikiran, barulah dapat menolong orang lain dan juga membebaskan diri sendiri.

Orang zaman sekarang tidak dapat membedakan antara baik dan jahat. Keinginan duniawi mereka tidak terbatas. Keserakahan telah mengendalikan keinginan diri sendiri. Banyak orang berkata, apa keyakinan orang-orang zaman sekarang? Keyakinan orang zaman sekarang adalah nafsu keinginan, menginginkan ketenaran dan kekayaan, menginginkan ini dan itu, selalu hanya tahu meminta, tetapi tidak tahu memberi. Nafsu keinginan dapat membuat orang ke jalan yang menyimpang. Nafsu keinginan membuat orang tersesat. Selama hati seseorang tidak benar, pemikirannya bisa menuntunnya pada perbuatan salah. Meskipun telah mempelajari banyak pengetahuan, jika tujuan hidup tidak jelas, pasti akan berjalan di jalan yang menyimpang. Setiap orang memiliki banyak “celah” dalam hatinya, prasangka, iri hati, kecurigaan, keserakahan, kelemahan, kebencian, dan sebagainya, hanya saja dampaknya berbeda pada setiap orang. Ketidaksempurnaan batin bukanlah hal yang paling menakutkan; yang menakutkan adalah ketika seseorang tahu bahwa ada kekurangan dalam dirinya, tetapi tidak berusaha memperbaikinya, maka celah itu akan semakin besar, hingga merugikan diri sendiri dan orang lain. Hidup di dunia ini, kita tidak boleh menilai semua makhluk hanya berdasarkan pemahaman kita sendiri, karena dunia yang kamu kenal, kamu sendiri sudah menyimpang, kamu mengira dirimu dulu telah belajar banyak pengetahuan dan memahami kehidupan. Coba pikirkan, setiap orang mengira dirinya akan berhasil. Jika tidak mengira dirinya akan berhasil, dari mana datangnya kegagalan?

Seorang guru Zen membina diri bersama muridnya. Guru Zen mengambil sebuah semangka, lalu membelahnya menjadi dua dan membagikannya kepada muridnya, masing-masing mendapat setengah. Murid itu merasa dirinya telah banyak mempelajari ajaran Buddha Dharma, lalu berkata, “Guru, saya tahu setiap hal yang Anda lakukan pasti ada alasannya. Anda pasti sedang mengajarkan saya suatu kebenaran, bukan?” Guru Zen tidak berkata apa-apa. Murid itu melanjutkan, “Sekarang saya sudah tahu jawabannya. Anda ingin memberi tahu saya bahwa manis itu harus dibagi, kebahagiaan ada di antara kita. Hari ini, jika tidak ada semangka, maka tidak ada sarana untuk kebahagiaan…”Guru Zen berkata, “Sudah, sudah, cukup. Kebodohan yang sebenarnya adalah mereka yang menganggap dirinya sangat bijaksana, lalu berusaha menghabiskan semua waktunya untuk menjelaskan segala sesuatu. Semangka ini manis, mari kita makan dengan baik, jangan mengganggu saya makan semangka.”Orang yang tidak bisa melepaskan akan selalu ditemani oleh kebodohan. Jangan merasa diri paling benar. Belajarlah dengan sungguh-sungguh dan membina diri dengan baik. Tidak perlu menjelaskan segala hal. Jika berbuat salah, bertobatlah dengan tulus. Jika berbuat benar, jadikan itu dorongan bagi diri sendiri untuk berbuat lebih baik lagi. Itulah mentalitas seorang praktisi Buddhis.

Orang zaman sekarang terburu-buru ingin tumbuh dewasa, tetapi pada saat yang sama meratapi masa kecil yang telah berlalu. Kita menukar kesehatan dengan harta, lalu tidak lama kemudian menggunakan harta untuk membeli kembali kesehatan. Kita merasa cemas terhadap masa depan, namun tidak menghargai kebahagiaan saat ini. Orang zaman sekarang menjalani hidup dengan kebingungan, namun tidak hidup di masa kini, juga tidak hidup untuk masa depan. Hidup seolah-olah tidak akan pernah mati, tetapi ketika menjelang ajal merasa seolah-olah belum pernah benar-benar hidup. Setiap hari kita menyesali hal-hal yang pernah kita lakukan, tetapi tidak pernah berpikir bagaimana menghindarinya agar di masa depan tidak lagi melakukan hal yang membuat kita menyesal. Oleh karena itu, orang yang benar-benar belajar Buddha Dharma harus melepaskan kemelekatan, harus bisa melihat masa depan, dan memahami bahwa masa depan kita ditentukan oleh jiwa kita sendiri. Yang benar-benar bisa kita miliki adalah dunia spiritual. Di dunia ini, kita harus belajar menggunakan kebijaksanaan Bodhisattva, agar kita dapat membina diri dengan baik dan belajar dengan sungguh-sungguh. Memiliki hari esok itu sangat penting, hari ini kita telah kehilangan hari kemarin, pada dasarnya memang sudah berlalu, tidak perlu disesali, hiduplah dengan baik di saat ini, manfaatkan setiap detik waktu yang ada. Dengan memiliki bodhicitta, barulah kita dapat melangkah menuju pencerahan sempurna. Dengan kebijaksanaan Bodhisattva, kita mampu mengatasi segala kerisauan di dunia, itulah kebijaksanaan prajna dari ketekunan dalam membina diri.