Menyesuaikan Jodoh Memperoleh Sifat Kebuddhaan, Menebarkan Welas Asih di Dunia Memperoleh Kebenaran Sejati (Bagian 2) 随缘换得佛性来慈悲人间得真谛 ( 下 )

Menyesuaikan Jodoh Memperoleh Sifat Kebuddhaan, Menebarkan Welas Asih di Dunia Memperoleh Kebenaran Sejati (Bagian 2)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Penang - Malaysia, 21 Januari 2015

Tidak melakukan segala kejahatan adalah fondasi dalam menekuni ajaran Buddha Dharma. Seseorang tidak boleh melakukan kejahatan apa pun. Mengamalkan segala kebaikan adalah tekad dalam mempraktikkan jalan Bodhisattva. Hanya mereka yang tidak melakukan kejahatan yang akan mempraktikkan kebaikan. Dengan hati yang dipenuhi kebaikan, bagaimana mungkin akan melakukan kejahatan? Bagaimana mungkin seseorang yang sepanjang hari melakukan kejahatan memiliki kebaikan di dalam hatinya? Kita harus menjauhi segala kejahatan, barulah bisa  mengamalkan segala kebaikan.

Ada seorang profesor tua di Universitas Cambridge. Ketika sekelompok mahasiswa akan lulus, ia mengaku dirinya menderita penyakit mata dan akan buta. Murid-murid yang mengaguminya datang untuk menjenguknya. Profesor itu bertanya, “Siapa kamu? Apa yang ingin kamu lakukan setelah lulus? Apa cita-citamu saat kecil? Apa yang ingin kamu lakukan di masa depan?” Tidak diduga, sebelum lulus, penglihatan profesor tua itu pulih. Profesor tua itu berkata, “Ketika saya hampir buta, saya depresi. Kunjungan murid-murid memberi saya banyak kekuatan. Saya dengan sepenuh hati menyiapkan sebuah hadiah, yaitu rekaman percakapan kita.” Di masa depan, ketika kalian merasa frustrasi, bingung, atau kehilangan arah dalam hidup, saya harap kalian bisa mendengarkan rekaman ini. Karena di saat itu, banyak murid ketika mengunjungi profesor, berkata, “Jangan khawatir, Profesor! Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk membuat Anda bangga. Saya akan melakukan ini dan itu.” Namun, seiring berjalannya waktu dan perubahan dunia dan masyarakat, orang perlahan akan kehilangan keberanian dan keyakinan sejati diri sendiri.

Praktisi Buddhis juga seperti itu. Awalnya, mereka berkata, “Guan Shi Yin Pu Sa, saya pasti akan membina diri dengan baik. Saya ingin berhasil membina diri dalam satu kehidupan. Saya ingin ke Surga!” Beberapa hari kemudian, bahkan belum naik ke Surga, dia sudah tidak melafalkan paritta lagi. Setelah menekuni Dharma selama beberapa waktu, ketika keyakinan dalam menekuni Dharma mulai memudar, kita harus sering mengingat niat awal kita—bagaimana saya memulainya? Karena saya terluka, merasa bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal dan tidak dapat diperoleh, merasa diri sendiri telah kehilangan begitu banyak, sehingga memasuki pintu Buddha, baru memahami makna sejati dari menekuni Dharma dan menyadari bahwa harus meninggalkan duniawi dan memasuki jalan Kebuddhaan. Sering mengingat kembali apa tekad di saat itu; inilah niat awal. Apa tujuan sebenarnya kamu menekuni Dharma? Ini juga niat awal kamu. Jangan lupakan rasa sakit setelah luka sembuh. Ingatlah selalu sukacita dan berkah yang telah diberikan orang lain kepadamu. Memiliki rasa syukur adalah fondasi welas asih. Semua orang harus memiliki rasa syukur. Siapa yang menyiapkan makanan atau kursi untukmu hari ini? Siapa yang memperkenalkan ajaran Buddha Dharma kepada kalian? Harus bersyukur, ini adalah fondasi welas asih. Bagaimana kita bisa mengenal huruf? Karena  guru. Bagaimana kita bisa tumbuh dewasa? Karena orang tua. Berbakti kepada orang tua, menghormati guru, menghormati semua teman se-Dharma, menghormati semua makhluk berjodoh, tidak membunuh, barulah bisa perlahan menghilangkan kekotoran di hati. Tidak membenci orang lain adalah membebaskan diri sendiri. Membenci orang lain adalah kerugian terbesar dan usaha yang paling tidak menguntungkan. Membenci orang lain tidak merugikan orang lain; malah akan menyakiti diri sendiri. Menghilangkan kebencian baru bisa memiliki hati yang baik.

Kita seharusnya tidak menyia-nyiakan waktu memikirkan orang dan peristiwa di masa lalu. Ada banyak hal yang menyedihkan di masa lalu. Masa lalu adalah masa lalu, tidak ada lagi. Masa lalu harus dilupakan, harus selalu menatap ke depan. Tidak boleh memikirkan masa lalu dan membiarkan diri kita menanggung kesakitan. Sering memikirkan masa lalu dan menyakiti diri sendiri akan membubarkan semangat kita dalam menekuni Dharma. Lebih tidak boleh menyia-nyiakan hidup kita untuk orang dan peristiwa yang pasti akan kita sesali. Jika kita menderita setiap hari, itu berarti sedang menyia-nyiakan hidup. Penderitaan setiap hari karena mengejar hal-hal yang menyebabkan kita menderita. Selama memiliki hati yang welas asih, maka akan memiliki segalanya. Menekuni Dharma membuat kita memiliki welas asih. Belajar Buddha Dharma adalah belajar welas asih. Semoga kita semua  teman se-Dharma “memiliki satu pikiran welas asih, dan semua rintangan akan sirna.”

Ada seorang pria tua sedang menangis. Polisi menghampirinya dan bertanya, “Pak Tua, apa yang terjadi padamu?” Pria tua itu berkata, “Saya berusia 75 tahun, saya punya istri berusia 25 tahun di rumah, dia cerdas, cantik, dan sangat mencintai saya.” Polisi itu bertanya, “Lalu kenapa kamu masih menangis?” Pria tua itu berkata, “Karena saya tidak ingat di mana saya tinggal.” Pria tua 75 tahun memiliki istri berusia 25 tahun, ingatannya yang buruk, bahkan tidak ingat rumahnya, meskipun memilikinya juga akan kehilangannya. Kita harus melakukan hal-hal yang sesuai dengan kebutuhan pribadi kita. Orang-orang sering kali tidak tahu kapan harus berhenti dalam mengejar keinginan, dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan pada usia tertentu. Nafsu keinginan tidak boleh berlebihan. Jelas-jelas lambung dan usus sudah rusak, masih ingin terus makan ini dan itu. Jelas-jelas tidak memiliki  kemampuan ekonomi, masih bersikeras membeli rumah besar, sambil berkata, “Bank adalah brankas saya,” mampukah kamu membayarnya? Seumur hidup akan terjebak dan tidak bisa keluar dari brankas itu. Tidak semua hal di dunia ini bisa dilakukan dengan sesuka hati. Harus sering bertobat, sering berpikir, “Aku sudah keterlaluan, Aku telah berbuat salah, Aku bertobat,” ini barulah kebijaksanaan sejati.

Menekuni Dharma benar-benar harus sepenuh hati. Kalian semua bisa melafalkan paritta Xin Jing. Mengapa paritta Xin Jing begitu ampuh? Xin Jing adalah inti dari Sutra Prajnaparamita, inti dari kebijaksanaan. Semua Buddha di masa lalu, masa kini, dan masa depan semuanya mengandalkan Prajnaparamita, yaitu kebijaksanaan agung untuk mencapai tepian pencerahan. Apa itu kebijaksanaan agung? Praktisi Buddhis yang memiliki kebijaksanaan agung adalah orang yang menyelamatkan semua makhluk, orang yang melupakan dirinya sendiri. Orang yang memahami bagaimana untuk membuat lebih banyak welas asih di dunia ini,  memiliki kebijaksanaan agung baru bisa mencapai Prajnaparamita. Untuk mencapai pencerahan Bodhi tertinggi, seseorang harus menggunakan kebijaksanaan Prajnaparamita untuk memahami Buddha, menyadari hakikat Buddha, mempraktikkan ajaran Buddha, memahami hidup dan mati, serta membebaskan diri dari hidup dan mati, memahami hakikat dasar kehidupan, yaitu sifat dasar yang tidak lahir dan tidak lenyap.

Apa itu kebijaksanaan? Di dunia ini ada dua jenis yakni kepintaran dan kebijaksanaan: Kepintaran di dunia adalah perhitungan untung rugi. Misalnya, hari ini kamu berbisnis dengan orang lain dan  mendapatkan keuntungan tambahan 100 yuan, kamu mungkin tampak telah memperoleh sesuatu dan merasa sangat pintar. Namun, jika orang itu tahu kamu mendapatkan keuntungan tambahan 100 yuan, maka selanjutnya dia tidak akan berbisnis denganmu lagi, kamu akan kehilangan puluhan juta. Orang yang bijaksana adalah merelakan, berapa keuntungan yang harus saya dapat, segitulah yang akan saya peroleh, saya tidak akan mengambil keuntungan lebih, saya sama sekali tidak masalah. Orang lain melihat sikap dan perilakumu yang jujur, mereka akan terus bekerja sama denganmu di bisnis berikutnya, ini adalah kebijaksanaan. Orang yang sepanjang hari ingin mendapatkan keuntungan, orang yang senang mendapatkan keuntungan dari orang lain, dia adalah adalah orang picik. Setiap hari memberi dan membantu orang lain adalah orang suci.

Hakikat dasar kehidupan adalah jiwa sejati, adalah tidak lahir dan tidak lenyap. Jiwa manusia tidak akan muncul secara terpisah, dan juga tidak akan musnah, karena setiap makhluk memiliki sifat Kebuddhaan. Seburuk apa pun seseorang, di dalam dirinya tetap ada hati nurani. Seorang pembunuh sadis yang pada akhirnya dihukum, ia ditanya apa penyesalan terbesarnya. Ia meneteskan air mata dan berkata, “Aku telah mengecewakan ibuku.” Inilah hati nurani dan sifat dasarnya, tetapi telah tercemar oleh lima nafsu keinginan dan enam kekotoran duniawi, kehilangan hakikat sejatinya—hati nuraninya. Kita praktisi Buddhis telah membersihkan lima nafsu keinginan dan enam kekotoran duniawi kita, tidak memiliki terlalu banyak kebutuhan dan keinginan, tidak menanamkan sebab-sebab yang akan menjerumuskan kita ke neraka. Kita melakukan segala sesuatu dengan hati nurani dan kebijaksanaan, dan menggunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk menyelesaikan masalah di dunia, inilah Prajna.

Ada seorang guru Zen pada masa Dinasti Song. Semasa mudanya, sebelum menjadi biksu, ia terlibat perkelahian setelah mabuk dan secara tidak sengaja membunuh orang itu. Karena takut akan kesalahannya, ia melarikan diri, lalu menjadi biksu dan tekun membina diri, ia mencapai pencerahan sejati. Setiap kali memberi khotbah Dharma, selalu ada ratusan orang mendengarkan khotbahnya. Ketika ia berusia 70-an, suatu hari, ia tiba-tiba mandi lalu naik ke mimbar, dan memberi tahu semua orang, “Hari ini kalian semua jangan bergerak atau berbicara. Saya akan menunjukkan kepada kalian apa itu balasan karma sebab akibat.” Siang harinya, seorang perwira militer datang. Setelah memberi hormat, ia melihat guru Zen itu duduk di sana dan segera menarik busur dan anak panahnya untuk memanahnya. Guru Zen itu beranjali dan berkata, “Saya telah lama menunggumu.” Perwira itu sangat terkejut dan berkata, “Saya tidak mengenal Anda, mengapa bisa memiliki keinginan untuk menembak Anda?” Guru Zen berkata, “Berutang uang harus membayar uang; berutang nyawa harus membayar nyawa. Hukum Karma tidak pernah salah, jadi silakan saja.” Perwira itu merasa sangat aneh dan bertanya, “Saya tidak pernah mengenal Anda sebelumnya, mengapa Anda melakukan ini?” Guru Zen menceritakan kepadanya tentang bagaimana ia telah membunuh seorang pria empat puluh tahun yang lalu. Perwira itu, yang tidak pernah bisa membaca, tiba-tiba membacakan sebuah puisi dengan keras: “Kapan kebencian akan berakhir bila dibalas dengan kebencian? Rintangan yang saling terkait bukanlah suatu kebetulan, lebih baik kuselesaikan semuanya bersama guru dan kini, di tempat ini juga, ku menuju Tanah Suci Barat.” Seseorang harus memahami sebab akibat dan pembalasannya. Tidak peduli seberapa tinggi tingkat pembinaan dirimu atau seberapa besar jasa kebajikanmu dalam kehidupan ini, tak seorang pun dapat lolos dari hukum sebab akibat. Satu-satunya jalan menuju pembebasan adalah mencapai pencerahan sempurna, tidak menciptakan benih sebab dan karma baru. Master menjelaskan hal ini kepada kalian: banyak orang berkata, “Saya melakukan jasa kebajikan dan berdana setiap hari. Saya telah memberi begitu banyak, mengapa saya masih menderita? Bodhisattva, mohon bukalah mata-Mu. Mengapa tidak menyelamatkan saya?” Karena ini adalah benih sebab yang kamu tanam di masa lalu. Jadi, sekarang kamu harus menanggung akibat balasan ini. Dan benih yang ditabur dalam kehidupan ini tidak akan langsung tumbuh. Mulai hari ini, tidak melakukan segala kejahatan, hanya melakukan perbuatan baik, menanam benih kebaikan setiap hari, dan kamu akan segera dipenuhi dengan sukacita dan segala harapan akan terwujud.

Bahagia dan sukacita Dharma diciptakan oleh diri kita sendiri. Sedih dan risau juga ciptaan diri sendiri. Hanya dengan sepenuhnya meninggalkan kerisauan dan tidak menciptakan karma baru, kita baru bisa menyesali karma lama, menghapus semua sebab dan akibat buruk, dan benar-benar memahami makna hidup yang sesungguhnya. Makna hidup yang sesungguhnya adalah tidak ada yang kekal di dunia ini.

Selama makhluk hidup mendapatkan manfaat, maka hujan Dharma akan senantiasa membasahi dunia. Ketika kalian mendapatkan manfaat, para Bodhisattva akan bersukacita. 84.000 pintu Dharma semuanya merupakan pintu Dharma yang praktis. Setiap pintu Dharma adalah untuk membantu makhluk hidup mencapai penerangan sempurna. Kuncinya terletak pada apakah seseorang dapat benar-benar memahami makna sejati dari mencapai pencerahan sempurna, apakah seseorang dapat memahami pikirannya dan menemukan sifat dasarnya. Kita menekuni Dharma bukanlah tentang takhayul, bukan menggemari Buddha, tetapi memohon ajaran Dharma kepada Buddha — agar memahami kebijaksanaan agung tentang kehidupan dan menemukan jalan untuk terbebas dari kelahiran dan kematian. Master membimbing para makhluk untuk memahami pengetahuan dan wawasan Buddha, serta memahami kebijaksanaan Buddha. Mengenali kebenaran segala dharma di alam semesta dan kehidupan. Hanya mengandalkan kecerdasan manusia tidak dapat sepenuhnya menganalisa kebenaran dari alam semesta. 2.500 tahun yang lalu, Sang Buddha berkata tentang Tri-Sahasra-Maha-Sahasra-Lokadhatu di alam semesta, dan para ilmuwan telah membuktikan bahwa Bima Sakti dan tata surya selaras dengan ajaran Buddha Dharma. 2.500 tahun yang lalu, Sang Buddha telah mengatakan bahwa manusia suatu hari nanti akan bisa terbang. Bukankah kalian memenuhi sabda Buddha dengan terbang ke sini hari ini? Kelak ketika sampai ke Surga kita cukup menarik awan dan menginjaknya sudah bisa sampai ke langit Malaysia untuk menjadi pelindung Dharma. Tidak perlu khawatir pesawat akan kehilangan kontak.

Master berharap kalian benar-benar tercerahkan, benar-benar memiliki kebijaksanaan Prajna Bodhisattva, dan sepenuhnya memahami bahwa harus berbahagia demi kebahagiaan orang-orang di dunia dan mengkhawatirkan kekhawatiran orang-orang di dunia; harus memiliki Dharma yang benar sebagai bimbingan, jika tidak, kamu akan membina diri secara membabi buta dan akan melihat bahayanya sebelum melihat melihat manfaatnya, harus berhati-hati dalam mempelajari ajaran Buddha Dharma, memiliki keyakinan dan pikiran yang benar, menjadi seorang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. “Apakah saya berpikir seperti seorang Bodhisattva hari ini? Apakah ucapan dan tindakan saya seperti seorang Bodhisattva?” Jika jawabanmu adalah pasti, maka kamu adalah seorang Bodhisattva di dunia. Mengenai masalah diri sendiri, kita seharusnya tidak mudah marah, memarahi orang, atau iri pada orang lain. Kita harus mengendalikan kebiasaan buruk kita, selalu  mengintrospeksi diri, dan menjaga sila, sehingga tidak akan terjerumus dalam jerat ketenaran dan kekayaan. Sebuah negara memiliki hukumnya sendiri, sebuah keluarga memiliki aturannya sendiri, dan Buddha memiliki Dharma-nya. Kita bisa membantu banyak orang dan memahami bagaimana menggunakan kebaikan kita untuk membantu orang lain. Terkadang kalian bisa membantu seseorang, juga bisa secara tidak sengaja melukai seseorang, seperti air yang bisa membawa perahu tetapi juga bisa menenggelamkannya. Ketika kalian mempelajari sedikit Buddha Dharma, kalian jangan mengarang cerita saat menyelamatkan orang, karena kalian mungkin akan merusak jiwa kebijaksanaan seseorang. Berharap kalian meluangkan waktu lima menit setiap hari untuk membaca satu bab “Bai Hua Fo Fa”.

Latihlah pikiran diri sendiri menjadi demikian: dalam belajar Buddha Dharma, teguhlah bagaikan sebilah pedang permata, namun dalam kehidupan sehari-hari, lembutlah seperti air. Belajarlah untuk bersikap lembut seperti air, gunakan pedang untuk memutuskan kerisauan perasaan di dunia, dan gunakan welas asih Buddha dan Guan Shi Yin Pu Sa untuk mempengaruhi setiap makhluk yang berjodoh. Dengan demikian, barulah bisa tiada halangan di hati, tiada kekhawatiran.

Praktisi Buddhis harus serius saat menekuni Buddha Dharma, tidak boleh tertawa dan bercanda. Beberapa orang tertawa dan bercanda terlepas dari situasinya, ini tidak wibawa. Pada zaman dahulu, para penjaga dengan pedang akan meraung “wei wu — hormat” dan langsung menjadi serius. Praktisi Buddhis harus berbicara dengan penuh wibawa.

Jodoh Kebuddhaan bagaikan benang, welas asih ada di dalam hati. Dalam menekuni Dharma, seseorang hanya boleh maju, tidak boleh mundur, barulah bisa melangkah maju dengan berani! Hanya dengan membebaskan diri dari berbagai kerisauan di dunia, dia barulah orang benar-benar bebas. Membuat kemajuan, kerja keras, tekun, dan baik hati, menyingkirkan semua kerisauan duniawi, kamu akan memiliki welas asih, cinta, toleransi, dan keharmonisan di dalam hatimu.

Antar sesama adalah sebuah jodoh. Terkadang, jika kita mengucapkan “selamat tinggal” dengan tidak sengaja, mungkin takkan pernah bertemu lagi, hargailah jodoh. Kita masih di sini hari ini menunjukkan bahwa kita memiliki jodoh. Jika kita tidak lagi memiliki jodoh suatu hari, hati kita juga tidak akan merasa bersalah pada orang lain. Hargai jodoh saat memiliki jodoh. Jangan menunggu hingga tidak lagi memiliki jodoh baru menyesal dan bersedih. Harus melepaskan diri sendiri,  bertoleransi pada orang lain, dan bersikap yang rendah hati. Lima puluh tahun kemudian, kita semua akan menjadi satu keluarga. Tidak boleh marah, tidak boleh bersedih, dan tidak boleh mundur di dunia ini. Kita harus belajar menghargai semua makhluk dan jiwa kebijaksanaan kita dengan baik. Pertumbuhan setiap orang dibaliknya tidak terlepas dari semua makhluk yang menumbuhkan kita. Manusia bukanlah hewan soliter; melainkan hidup berkelompok. Makhluk yang berjodoh berkumpul bersama adalah berkah kita. Semua orang berkumpul bersama barulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Hanya ketika kita semua membabarkan Dharma bersama dan menyelamatkan makhluk hidup bersama, dunia ini barulah dunia yang damai dan sempurna. Terima kasih semuanya. Terima kasih kepada semua teman se-Dharma dan teman yang datang ke sini untuk membantu, juga berterima kasih kepada teman-teman se-Dharma di Malaysia! Terima kasih semuanya. Terima kasih kepada para biksu!