Menyesuaikan Jodoh Memperoleh Sifat Kebuddhaan, Menebarkan Welas Asih di Dunia Memperoleh Kebenaran Sejati
Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Penang - Malaysia, 21 Januari 2015
Menyesuaikan jodoh memperoleh sifat Kebuddhaan, menebarkan welas asih di dunia memperoleh kebenaran sejati. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang, Naga Langit Pelindung Dharma, para biksu, teman-teman se-Dharma dari seluruh dunia, dan teman-teman se-Dharma di Penang, Malaysia. Terima kasih atas perlindungan Dharma kalian, membuat kita dipenuhi dengan sukacita Dharma pada malam ini, cahaya Buddha menyinari kita semua.
Di masa depan, Master akan menjelaskan ajaran Buddha Dharma yang lebih mendalam kepada kalian, agar potensi kesadaran kalian bertahan selamanya, agar welas asih kalian seperti bunga teratai yang selamanya mekar. Sebenarnya, bisa menjalani hidup dengan bahagia itu akan lebih baik. Jika bisa menekuni Dharma dan menjalani hidup yang lebih bahagia lagi itu akan lebih baik. Jika ingin memiliki kebahagiaan dalam hidup setiap hari, dipenuhi dengan sukacita Dharma, dan melakukan apa yang diri sendiri sukai, maka harus mengendalikan pikiran diri sendiri dengan baik agar tidak tercemar. Kita harus memiliki Buddha di dalam hati kita, karena Buddha ada di dalam hati, kita akan sangat bahagia setiap hari.
Master sangat senang, setiap malam bisa di sini berbagi Dharma dengan semua orang, dan berbahagia bersama semua orang. Berharap semua orang harus memahami bahwa jika kita tidak memiliki Buddha di dalam hati kita, kita tidak akan tahu bagaimana menjalani hidup. Orang yang menekuni Dharma hidup di dunia ini adalah memiliki gunung dan sungai yang indah di hati mereka. Orang yang tidak menekuni Dharma hidup di dunia ini adalah kebosanan dengan gunung dan sungai yang indah. Praktisi Buddhis hendaknya membiarkan seluruh tubuh dan pikiran mereka dipenuhi dengan air suci Guan Shi Yin Pu Sa. Maha berarti tak terukur dan tak terbatas, dan “Mahaprajnaparamita” berarti kesatuan tanpa batas dengan Buddha. Orang yang bersatu dengan Buddha, selalu tinggal bersama Buddha, orang yang selalu menetapkan Buddha di dalam hati mereka akan lebih mudah mencapai pencerahan. Orang yang mudah tercerahkan lebih mudah untuk melepaskan, dan orang yang mudah melepaskan akan lebih mudah terbebaskan.
Orang hidup di dunia ini, yang paling ditakutkan adalah tidak memahami pikiran dan menemukan sifat dasar. Kita harus belajar terbebas dari kegembiraan. Hari ini sangat bahagia, saya juga seperti itu, besok sangat sedih saya juga seperti itu; tidak ada yang benar atau salah, jika kita tidak memiliki satu pun hal yang benar di dalam hati kita, maka kita tidak akan memiliki satu hal yang salah. Banyak orang sering merasa “Aku benar”, sehingga dia akan memandang orang lain salah, benar dan salah. Tidak ada benar di dalam hati, baru bisa tidak ada salah. Tidak ada kebaikan dan kejahatan. Kita harus memahami bahwa di dunia ini hanya ada sebab dan akibat, tidak ada benar dan salah, karena semua benar dan salah di dunia ini adalah hasil dari sebab dan akibat. Banyak orang yang setiap hari selalu mengira dirinya baik dan orang lain jahat, dia telah melanggar prinsip sebab dan akibat. Kita harus memahami bahwa dunia ini tidak berawal dan berakhir. Kita tiba di dunia ini tanpa mengetahui kapan ia bermula. Master berbicara tentang “tiada awal”, yang berarti sejak awal tanpa permulaan, setelah sifat dasar kita memasuki bumi ini, tidak awal dan tiada akhir.
Ketidakegoisan di hati membuat dunia terasa luas. Orang yang berpikiran terbuka akan memiliki pikiran yang lapang, sementara orang yang tidak berpikiran terbuka akan melekat dan sedih setiap hari. “Kosong” adalah “pintu” yang sangat sulit dimasuki dalam agama Buddha, sehingga disebut “pintu kekosongan”, masuk ke dalam pintu kekosongan. Untuk mencapai pencerahan dan kekosongan, seseorang harus menggunakan potensi kesadaran untuk mengetahui bahwa seluruh dunia ini adalah kosong. Ini bukan mengacu pada kekosongan sesaat dalam pikiran, melainkan kekosongan hati yang sejati. Jangan terlalu menyukai terhadap hal apa pun, jangan terlalu mengejar hal apa pun, dan jangan “Aku harus memilikinya”, maka kamu tidak akan seperti mayat berjalan di dunia. Orang yang tidak bisa berpikiran terbuka akan kehilangan minat pada dunia, akan hidup dalam kekhawatiran tentang perolehan dan kehilangan di dunia ini, dan akhirnya menderita depresi.
Orang yang memiliki kebijaksanaan agung tidak melekat pada kekosongan. Banyak praktisi Buddhis berkata, “Saya ingin kosong.” Sebenarnya, bahkan tidak boleh melekat pada kata “kosong” ini, karena kosong pada dasarnya tidak ada. Melekat pada kekosongan setara dengan kembali terikat pada kekosongan itu sendiri. Di dalam kekosongan ada Bodhisattva dan sifat Kebuddhaan. Kekosongan adalah ilusi, sedangkan sifat Kebuddhaan barulah hal nyata yang sesungguhnya. Menggunakan energi diri sendiri dan ketulusan hati yang nyata untuk menyingkirkan hal-hal yang dianggap kosong dan khayalan di dunia ini, yaitu meminjam yang palsu untuk membina yang benar.
Jangan mengambil uang yang bukan milik kalian. Mengambil uang orang lain, mengira telah mengambil keuntungan, tetapi pada kenyataannya, kamu membantu orang lain memikul karmanya. Mengambil uang orang lain dan membantunya menghilangkan bencana, sebenarnya kamu tidak bisa menghilangkan bencana ini, karena uang itu sendiri bukan milikmu, setelah kamu mengambilnya, kamu pasti akan membantunya memikul karma, karena kamu tidak dapat membalas budi ini, tidak bisa membayar utang ini. Jika orang lain mengambil uangmu, itu berarti dia membantumu menghilangkan bencana. Hari ini, kita melepaskan makhluk hidup, berikrar, dan melafalkan paritta, kita sedang mengikis karma kita sendiri. Jika kamu memberi, jangan berharap untuk menerima, karena itu membutuhkan waktu, ketika waktunya matang, kamu akan memperoleh. Hanya memberi, jangan berpikir untuk memiliki. Itu barulah mentalitas seorang praktisi Buddhis.
Kekosongan itu palsu, sifat Kebuddhaan itu nyata. Kekosongan itu palsu, misalnya, mobil yang dimiliki di dunia ini, ketika mobil rusak berarti kosong, tidak ada lagi. Orang tua yang kita cintai akan menjadi palsu ketika mereka meninggal dunia. Sebesar apa pun kebencian kita terhadap seseorang, setelah ia meninggal dunia, hati kita perlahan mulai melepaskan, “Saya juga salah di masa lalu,” — sifat dasar kita muncul. Jadi, sifat dasar itu adalah abadi dan nyata. Realitas dan ilusi alam semesta ibarat emosi manusia, hari ini begini, besok begitu. Anak-anak muda sekarang hidup di dunia ini sungguh menyedihkan; diri sendiri tidak tahu kapan dirinya akan marah atau tiba-tiba akan tumbang, ilusi dan nyata, maka itu, Bodhisattva mengatakan bahwa dunia ini, “rupa adalah kosong, kosong adalah rupa.”
Jika seseorang hanya berbicara tentang kekosongan dan sifat kekosongan, ia adalah menyimpang dari kekosongan, berpikir, “Dunia ini bagaimanapun adalah kosong, saya tidak masalah lagi, saya akan melakukan apa pun yang ingin saya lakukan,” ini adalah penyimpangan. Alam rupa termasuk dalam keberadaan semu; dunia berupa dimana manusia berada sesungguhnya adalah semu, dalam dunia yang penuh kesemuan ini, tetapi kita memiliki hati yang murni dan tulus, tidak menerima dan tidak melepaskan, tidak tercemari oleh apa pun, tidak mengambil dan juga tidak merelakan, maka hati tidak akan tercemar. Hati sendiri harus memahami bahwa tidak ada dan ada adalah sama. Ada berarti tidak ada, tidak ada berarti ada.
Jika memiliki pikiran untuk mengejar hal-hal materi dalam hidup, maka akan melekat. Jika seseorang tidak mengejar apapun, juga tidak peduli untuk mengejar apapun, ketika materi tidak ada daya tarikan bagimu, kamu mungkin cenderung jatuh pada pandangan nihilisme (kosong tanpa makna), “Lagipula saya tidak menginginkannya, semua yang ada di dunia ini kosong.” Ini seperti ketika seorang anak baru saja lahir, lalu memberi tahu kepadanya: “Nak, tahukah kamu, kamu datang ke dunia ini, yang menunggumu adalah kematian.” —menyimpang lagi. Kita harus memahami untuk tidak condong ke salah satu sisi, artinya tidak menerima maupun merelakan。 Tidak tercemar oleh kekosongan, “Semuanya kosong dan palsu,” tidak tercemar, juga tidak tercemar oleh ada, “Dunia ini indah, tas bermerek…” tidak tercemar. Inilah yang diajarkan Sang Buddha kepada kita: pengetahuan benar dan pandangan benar. Praktisi Buddhis harus memiliki pikiran keluar keduniawian. Segala sesuatu di dunia ini ada, tetapi itu bersifat sementara. Kita pada akhirnya akan meninggalkannya. Kita melihat masa depan dan pada akhirnya akan melepaskan. Daripada harus melepaskan cepat atau lambat, mengapa tidak melepaskannya lebih cepat? Memiliki kebijaksanaan Bodhisattva, melepaskan semua jodoh, mencapai kebebasan dan ketenangan, itulah konsentrasi Zen.
Prajna, kita berbicara tentang Prajna setiap hari. Prajna adalah kebijaksanaan agung. Prajnaparamita berarti kita telah mencapai ruang kebijaksanaan agung, telah mencapai lingkungan kebijaksanaan agung. Orang yang memiliki kebijaksanaan agung di dunia ini tidak takut. Dengan kata lain, dia telah melihat sisi sejatinya. Dunia ini tidak kekal, tidak ada, dan kosong, tetapi kita nyata hidup di dunia ini, harus menghargainya. Kita harus meminjam dunia ilusi yang palsu ini untuk menyelesaikan misi sejati kita, yaitu membina pikiran. Seperti halnya seseorang yang masih tertidur lelap, ketika ia menikmati mimpi indah, ia selalu berharap bisa tinggal lebih lama di dalam mimpi itu, menikmatinya lebih lama lagi. Namun, mimpi itu akan berakhir. Sebelum bangun, perbanyak membina pikiranmu, agar setelah bangun, kamu tidak tersiksa oleh penderitaan, terbebaskan dari kerisauan. Itu barulah “Prajna Paramita”.
Di Yunani, ada seorang filsuf besar bernama Sokrates. Filsafat merupakan profesi yang sangat mulia pada masa itu. Banyak anak muda ingin menjadi filsuf dan meraih ketenaran serta kekayaan. Seorang pemuda menemui Sokrates dan berkata, “Aku ingin belajar filsafat darimu.” Sokrates membawanya ke sungai dan tiba-tiba mendorongnya ke dalam sungai. Pemuda itu awalnya mengira Sokrates bercanda dengannya. Kemudian Sokrates juga melompat ke dalamnya, menekan kepala pemuda itu ke dalam air. Pemuda itu meronta mati-matian dan menggunakan naluri manusianya untuk mendorong tangan Sokrates, berusaha keras untuk berenang ke tepi sungai dan berkata dengan terengah-engah: “Pak, apa yang Anda lakukan? Mengapa Anda melakukan ini?” Sokrates berkata: “Saya hanya ingin memberi tahu kamu bahwa dalam melakukan hal apa pun, kamu harus memiliki ketekunan untuk bertahan dalam situasi yang putus asa agar dapat mencapai kesuksesan.” Hanya ketika orang putus asa, ia baru akan berpikir untuk memohon kepada dewa dan menyembah Buddha. Seperti air terjun, hanya ketika tidak ada jalan keluar di puncak tebing, barulah bisa menciptakan keajaiban yang indah.
Sulit bagi orang untuk rukun satu sama lain. Kesulitannya terletak pada takdir setiap orang yang berbeda. Karena ada orang yang memiliki dendam, iri hati, dan kebencian, yang juga akan muncul dengan cara yang berbeda dalam hidup. Kita manusia juga karena takdir yang berbeda, baru akan memiliki dendam yang berbeda. Jika seseorang memiliki kondisi yang baik, ia akan memiliki dendam yang relatif lebih sedikit. Jika seseorang memiliki banyak kesulitan, ia akan memiliki kebencian yang relatif lebih besar. Kita harus belajar mencari titik temu dalam perbedaan. Meskipun takdir kita berbeda, tetapi kita harus mencari satu titik kesamaan. Belajar Zen berarti melatih diri untuk menerima orang yang berbeda. Saat menyelamatkan orang, kita akan bertemu dengan banyak karakter yang berbeda. Kita punya seorang pembawa acara wanita di Oriental TV yang memandu acara pernikahan. Ia sambil melakukan acara siaran tentang pernikahan sambil bertemu orang-orang dengan karakter yang berbeda. Setiap hari membantu mereka memperkenalkan jodoh. Akhirnya, ia menemukan seseorang dan menikah. Sejak itu, ia tidak melakukan acara siaran itu lagi. Kita harus melatih diri untuk menerima karakter orang yang berbeda dan dunia yang berbeda. Terkadang, orang bahkan tidak memahami dirinya sendiri, jadi bagaimana mungkin dia bisa memahami orang lain? Ada orang yang sebelum makan berkata bahwa ia kurang nafsu makan dan tidak ingin makan ini dan itu, tetapi setelah beberapa suap, ia melahap semua yang ada di meja, kamu tidak memahami dirimu sendiri.
Pada masa Buddha Sakyamuni, ada seorang murid bernama Devadatta yang mengikuti Sang Buddha dan membina pikirannya selama tiga puluh tahun. Tidakkah ia tahu bahwa gurunya adalah Buddha Sakyamuni? Ia tahu. Namun setelah tiga puluh tahun, ia tetap mengkhianati Sang Buddha dan meninggalkan gurunya. Apakah ia memahami Sang Buddha? Ia tidak memahami. Sangat sulit bagi seorang praktisi Buddhis untuk membuat orang lain memahami dirinya, dan juga sangat sulit bagi seorang praktisi Buddhis untuk memahami dirinya sendiri. Oleh karena itu, Guan Shi Yin Pu Sa meminta kita untuk mengamati diri kita sendiri dan mengamati siapa diri kita sebenarnya. Kita datang ke dunia ini bahkan nama pun tidak ada, meminjam sebuah tubuh untuk hidup hingga hari ini, lalu siapakah diri kita setelah meninggal nanti? Kita tidak memahami diri kita sendiri baru akan melakukan kesalahan, tidak memahami pihak lain baru akan bertengkar. Di kala itu Sang Buddha menyelamatkan makhluk hidup dengan demikian, namun masih ada murid yang tidak memahaminya. Kita harus memprioritaskan untuk memahami semua makhluk, baru menyelamatkan mereka. Jika kita tidak memahami semua makhluk, maka kita tidak akan pernah bisa menyelamatkan orang lain. Berharap setiap orang yang ingin menyelamatkan semua makhluk harus terlebih dahulu memahami mereka, memahami sifat dasar dan karakter mereka. Dengan demikian, kamu akan segera menjadi seorang Bodhisattva dan menyelamatkan semua makhluk.
Mencari satu titik kesamaan dalam kehidupan, maka semua orang akan dipenuhi dengan sukacita Dharma. Kalian semua di sini memiliki satu kesamaan—menekuni ajaran Buddha Dharma. Jadi semua orang berkumpul bersama sangat bahagia sekali, baru bisa dipenuhi dengan sukacita Dharma. Membina pikiran bersama dan membuat kemajuan bersama, maka akan saling memahami. Ajaran Buddha Dharma dapat membantu kita menghilangkan khayalan dan kesalahan dalam tindakan kita. Hati Buddha tampak bergerak, tetapi sebenarnya tidak. Ketika seseorang sedang melakukan sesuatu, ia tidak merasakan detak jantungnya. Namun, ketika ia diam dan seseorang tiba-tiba berkata, “Jangan berbicara, ada keadaan darurat,” ia akan mendengar jantungnya “pop pop”sedang berdetak. Suara manusia tidak hanya dihasilkan oleh mulut; tubuh juga dapat memberimu banyak petunjuk untuk membantumu memahami dirimu sendiri. Walaupun mulut tidak berbicara, usus akan “kurukk kurukk” berbunyi dan tulang akan “krek krek” berbunyi. Ketika Master memimpin semua orang bersujud, terdengar suara “krek” — semua kekurangan kalsium.
Dengarkan suara hati diri dengan baik-baik berarti menguasai karakter diri sendiri. Kita harus menghilangkan kesalahan dalam perilaku kita. Di dalam gerakan terdapat keheningan, dan di dalam keheningan terdapat gerakan. Saat melakukan jasa kebajikan, pikiran terasa sangat tenang. Dari penampilan luarnya, kita mungkin tampak sibuk, tetapi hati kita sesungguhnya sangat tenang. Duduk di sini, orang tidak bergerak, namun hatinya bergerak, melafalkan paritta adalah keheningan dalam gerakan. Di dunia ini, banyak orang tampak sangat tenang. Misalnya, seorang lelaki tua melihat seorang wanita lewat, dari penampilan luarnya tidak apa-apa, tetapi hati dan matanya bergerak.
Praktisi Buddhis harus memahami prinsip. Kita menyingkirkan hambatan dalam sifat dasar diri kita. Apa saja hambatan dalam sifat dasar? “Saya tidak ingin membantunya,” hambatan muncul. “Dia sudah baik selama lebih dari sepuluh tahun bersama saya, mengapa dia melakukan ini?” Begitu hambatan muncul, tidak lagi ingin bekerja sama dengannya. Ini adalah hambatan psikologis. Ketika suami istri mengabaikan satu sama lain karena perbedaan pendapat hanya karena satu kata, itu adalah hambatan. Hambatan menyebabkan kamu tersesat dan menjadi penyebab penderitaan di masa depan. Berharap semua orang jangan menciptakan hambatan.
Semua masalah, semua kebaikan dan keburukan di dunia, praktisi Buddhis bisa mengubahnya. Perubahan ini relatif, berdasarkan hatimu sendiri. Orang baik hari ini bisa menjadi orang jahat di hari esok. Orang jahat di hari ini juga bisa menjadi orang baik di hari esok, karena hati dapat berubah. Saat kamu bertemu orang jahat, jangan cemas, buatlah persiapan dan jasa kebajikan untuk memengaruhi dia. Kita memiliki Guan Shi Yin Pu Sa dan paritta Jie Jie Zhou. Setelah kamu melafalkan paritta, mungkin dia akan berubah pikiran dan berubah. Orang baik hari ini, kamu terus menyanjungnya, mana tahu dia akan menjadi orang jahat. Orang yang mengejar hal-hal duniawi pada akhirnya akan kehilangan hal-hal surgawi. Kurangi mengejar berkah duniawi dan perbanyak mengejar hal-hal di Surga. Semakin banyak yang kamu peroleh di dunia, semakin banyak yang kamu kehilangan di Surga. Semakin sedikit beban yang kamu pikul di dunia, semakin banyak yang kamu peroleh di Surga.
