Mengembangkan Sifat Kebuddhaan, Memancarkan Kebijaksanaan, dan Memperluas Welas Asih (Bagian 2)
Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 20 Juni 2015
Nasib manusia berada di tangan kita sendiri. Tidak ada seorang pun yang memaksamu untuk merebut, membenci, atau bersedih. Kita harus memahami bahwa hati manusia adalah yang paling penting. Banyak orang yang pernikahannya hancur karena terlalu banyak mendengarkan perkataan orang lain di luar. Ketika pikiran kita benar, maka perbuatan kita pun akan benar; ketika pikiran kita jahat, maka perbuatan kita pasti akan menyimpang. Energi positif berarti melihat semua orang dan segala hal dengan pandangan baik, hatimu akan penuh energi positif dan kebaikan. Energi negatif adalah melihat segala hal di dunia ini sebagai sesuatu yang menyakitimu, menipumu, dan membuatmu iri hati. Kamu akan hidup dalam lingkungan yang penuh penderitaan. Orang-orang zaman sekarang kehilangan rasa saling percaya, itu karena hatinya dipenuhi terlalu banyak energi negatif. Semoga kita semua dapat memandang para orang tua seperti orang tua kita sendiri, dan memandang para pemuda serta anak-anak seperti anak kita sendiri. Dengan begitu, hati kita akan dipenuhi cinta kasih, kita akan menjadi semakin baik, semakin welas asih. Inilah makna sejati dari ajaran dan kasih Buddha.
Tadi Master mengatakan tentang “sila, konsentrasi, dan kebijaksanaan”. Kita harus menyingkirkan benih-benih buruk dalam diri kita dan mengubahnya agar tidak lagi menjadi akar yang dalam dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Di dalam hati ada kebaikan dan kejahatan, hati itu seperti sebuah cermin, ketika cermin memantulkan sisi jahat, maka hati akan menampilkan sisi jahatnya; tetapi ketika hati memantulkan hal-hal yang baik di dunia, maka hati akan menjadi semakin baik. Orang yang memiliki keserakahan besar akan menumbuhkan kebencian. Orang yang hatinya penuh kebencian akan mudah jatuh sakit. Orang yang diliputi kebodohan akan menyesal di kemudian hari. Tidak membenci, tidak menyesal, dan tidak sakit adalah tercerahkan.
Pekerjaan yang kita lakukan setiap hari hanyalah untuk mempertahankan kelangsungan hidup jasmani kita di dunia ini, itu hanya termasuk dalam pengejaran hal-hal yang bersifat material. Namun, bagi orang yang belajar Buddha Dharma, yang mereka kejar adalah kebebasan spiritual yang abadi. Mengapa begitu banyak biksu dengan tegas memilih untuk meninggalkan kehidupan duniawi? Karena mereka telah tercerahkan dan memahami kebenaran, mereka tahu bahwa di dunia ini, lahir tidak membawa apa pun datang, dan meninggal juga tidak dapat membawa apa pun pergi. Mereka rela menempuh jalan menuju pencapaian buah kesucian demi menyelamatkan lebih banyak makhluk hidup. Kehadiran mereka hari ini juga merupakan bentuk perlindungan terhadap Dharma. Mari kita semua teman se-Dharma yang hadir, memberikan tepuk tangan meriah sekali lagi sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada mereka.
Tubuh manusia akan mengalami kerusakan, tetapi tingkatan spiritual bersifat abadi. Praktisi Buddhis harus memahami bagaimana menggunakan kekuatan spiritual untuk menyingkirkan penderitaan yang timbul dari kesadaran jasmani. Di dunia ini, tidak ada seorang pun yang tidak pernah mengalami kesedihan, tekanan batin, kegagalan, kerisauan, dan keputusasaan. Saat kita dihadapkan pada pilihan, sering kali kita merasa ragu dan bingung. Bagi praktisi Buddhis, ketika menghadapi tuduhan atau ketidakadilan dari orang lain, justru itu adalah kesempatan untuk mengenal diri sendiri dengan lebih baik, sebagai cermin terbaik untuk menilai diri, karena banyak kekurangan dalam diri yang tidak kita sadari, ketika orang lain menegur atau menunjukkan, barulah kita tahu bahwa ternyata saya memiliki begitu banyak kekurangan. Ada seorang suami yang istrinya tidak pernah menegur atau mengkritiknya. Ia mengira dirinya sangat baik di rumah. Namun, ketika sang istri marah, barulah ia berkata kepadanya, “Kamu adalah pria yang kekanak-kanakan, kamu adalah orang yang serakah, kamu adalah orang yang sangat egois.” Ia terkejut, lalu berpikir kembali, “Ternyata saya benar-benar orang seperti itu.” Maka ia segera memperbaiki dirinya. Sesuatu yang ada di wajahmu bisa dilihat oleh orang lain, tetapi tidak bisa kamu lihat sendiri. Bulu mata tumbuh di depan mata, kita tidak dapat melihatnya sendiri. Kekurangan yang ada pada diri kalian hanya bisa dilihat oleh orang lain. Guru kalian, Master Lu, dapat melihat banyak kekurangan pada diri kalian, karena itulah saya menegur dan menasihati kalian, tujuannya adalah agar kalian dapat mencapai Kebuddhaan. Saya tidak ingin satu pun teman se-Dharma kembali terlahir dalam enam alam reinkarnasi, karena dunia ini terlalu menderita.
Menghadapi rintangan adalah pelajaran yang wajib di jalankan dalam belajar Buddha Dharma. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus memiliki lima macam semangat luhur: dalam hidup harus memiliki tekad dan semangat juang; Di dalam hati harus ada energi welas asih dan kebaikan; Terhadap nafsu keinginan duniawi, kita harus memiliki keteguhan dan prinsip; Terhadap kejahatan, kita harus memiliki semangat kebenaran; Terhadap kebodohan batin, kita harus memiliki energi kebijaksanaan Buddha. Aku harus memelihara dengan baik semangat kebenaran yang agung dalam diriku, semangat yang luas dan murni, memenuhi antara langit dan bumi.
Ada seorang pria ingin menyeberangi rawa. Ia melompat ke kiri dan ke kanan, berusaha mencari jalan. Namun tak lama kemudian, satu kakinya terperosok ke dalam lumpur, dan ia perlahan tenggelam. Kemudian datang lagi orang kedua. Ia juga ingin menyeberangi rawa itu. Ia melihat jejak kaki orang pertama, merasa jalannya tampak lancar, lalu dengan tenang melanjutkan langkahnya, tapi akhirnya ia pun terperosok ke dalam lumpur. Lalu datang lagi orang ketiga, melihat jejak kaki di depannya, tanpa berpikir panjang ia mengikuti jejak itu, dan hasilnya sama, ia pun tenggelam. Lalu datang lagi orang keempat yang ingin menyeberang rawa. Ia melihat begitu banyak jejak kaki di depan, ia berpikir, “ini pasti jalan terang menuju tepian pencerahan. Sudah banyak orang yang melewatinya, yakin ini pasti bisa lewat.” Namun tak disangka, ia pun terperosok ke dalam rawa yang sama. Kisah ini mengajarkan bahwa jalan yang ditinggalkan oleh orang-orang sebelumnya di dunia ini, tidak selalu berarti semakin banyak yang menempuhnya maka semakin aman, rata, dan mudah dilalui. Mengikuti jejak orang lain tidak menjamin bisa berhasil. Praktisi Buddhis di zaman sekarang, di periode akhir Dharma, kita harus merenungkan dan memahami ajaran Sang Buddha dengan bijaksana. Belajar Buddha Dharma bukan sekadar meniru bentuk luar, tetapi memahami makna sejatinya. Menggunakan kebijaksanaan Buddha untuk menuntun makhluk hidup, memahami kebenaran para Bodhisattva, barulah bisa melompati rawa-rawa kehidupan yang belum pernah kita hadapi, keluar dari lautan penderitaan, menemukan jalan baru, dan membebaskan diri sendiri. Inilah yang disebut Zen, inilah yang disebut Prajna.
Keyakinan akan melahirkan kekuatan tekad dan menghasilkan energi. Inilah yang diajarkan oleh Sang Buddha. Setelah memiliki keyakinan, barulah muncul kekuatan tekad, kemudian dari tekad itu lahir tindakan nyata. Keyakinan yang kuat akan menumbuhkan kekuatan tekad yang besar. Rumus kesetaraan massa dan energi yang dikemukakan oleh Einstein telah membuktikan hal ini dari sudut pandang ilmiah bahwa energi dapat dihasilkan dari keyakinan dan tekad yang kuat. Kita percaya bahwa diri kita memiliki kemampuan dan kekuatan tekad barulah bisa mengalahkan diri sendiri. Jika seseorang bahkan tidak berani percaya bahwa ia bisa mengubah sifat buruknya sendiri, lalu siapa yang bisa mengubahnya? Setiap orang yang hadir di sini hari ini pasti pernah mengalami penyesalan, pernah marah, juga pernah berbuat salah, bahkan mungkin pernah mengalami gangguan batin. Mengandalkan siapa untuk membantu kalian berubah? Mengandalkan ajaran Buddha Dharma, mengandalkan hati yang welas asih, dan pencerahan sejati. Berharap semua teman se-Dharma yang hadir hari ini sungguh-sungguh belajar Buddha Dharma, sungguh-sungguh mencapai pencerahan, barulah bisa keluar dari lumpur dan tak ternoda, bisa terbebas dari lautan penderitaan, dan berjalan menuju tepian pencerahan (paramita).
Jika kamu tidak mengubah dirimu sendiri, maka tidak ada seorang pun yang bisa mengubah dirimu, dan kamu juga tidak akan mampu mengubah orang lain. Orang yang paling bijaksana adalah mereka yang terlebih dahulu mengubah dirinya sendiri, karena mengubah orang lain itu sangatlah sulit. Hanya dengan benar-benar mengubah diri, barulah bisa menemukan kembali jati diri sendiri yang sejati. Jangan biarkan kepentingan sesaat dan kebiasaan buruk menutupi sifat dasar diri sendiri, jika tidak, akan sangat sulit untuk menemukan diri sendiri kembali. Praktisi Buddhis harus memahami bagaimana mengikuti hukum alam. Kita harus merasakan kebenaran hidup, terus berusaha memahami dan menggali nilai sejati diri kita, menyaksikan sifat diri, dan membuktikan sifat Kebuddhaan kita — apakah kita benar-benar baik, apakah kita mau membantu orang lain. Hari ini, begitu banyak teman se-Dharma saling membantu dan saling menghormati. Dengan demikian, kelak di Alam Sukhavati, barulah ada tempat kalian di sana. Seseorang yang sangat garang, seseorang yang bahkan tidak bisa tersenyum, ia tidak mungkin dapat memasuki Alam Sukhavati dan terbebas dari enam alam penderitaan. Menjadi Buddha sekarang berarti menjadi Buddha di dunia. Kita harus mengendalikan kebijaksanaan dan kekayaan kita. Kita membina diri adalah untuk menggunakan kehidupan yang terbatas dan waktu yang tersisa untuk menjelajahi kehidupan yang tak terbatas. Ada sebuah lagu berjudul “Waktu yang Berlalu Tak Akan Kembali.” Hargailah hidup kita, hargailah jiwa kebijaksanaan kita, belajarlah untuk berwelas asih, dan segeralah menjadi Buddha.
Ada seorang profesor sedang mengajar di kelas bersama para mahasiswa. Profesor itu membawa dua gelas air — satu berwarna kuning, satu lagi berwarna putih, lalu berkata kepada para mahasiswa: “Kalian masing-masing boleh memilih salah satu gelas air ini untuk dicicipi. Cicipilah, tapi jangan langsung katakan rasanya.” Dua pertiga mahasiswa memilih gelas berwarna kuning, hanya sepertiganya yang memilih gelas berwarna putih. Profesor lalu bertanya kepada mereka: “Air dalam gelas kuning itu apa?” Para mahasiswa menjawab, “Itu air pahit dari tanaman Huanglian (Coptis).” Profesor bertanya lagi, “Kalau begitu, mengapa kalian memilih mencicipi yang ini?” Mereka menjawab, “Karena kelihatannya seperti jus jeruk.” Kemudian profesor bertanya kepada mahasiswa yang mencicipi air putih: “Apa rasanya?” Mahasiswa menjawab, “Rasanya seperti madu.” Profesor bertanya lagi, “Kalau begitu, mengapa kalian memilih mencicipi yang putih?” Para mahasiswa berkata, “Karena air yang berwarna memang terlihat indah dan rasanya enak, tetapi tidak bisa menghilangkan rasa haus.” Profesor tersenyum dan berkata, “Sebagian besar murid memilih air pahit Huanglian karena terlihat seperti jus buah, sementara hanya sedikit yang mencicipi madu. Mengapa demikian? Ini sama seperti pilihan dalam hidup. Hidup kita juga demikian, ada dua gelas air dengan warna berbeda. Begitu kita memilih satu, berarti kita harus melepaskan yang lain. Memilih air yang warnanya mencolok berarti mengejar keindahan duniawi serta kemewahan dan kejayaan yang sementara. Terlihat menarik, tetapi sering kali berakhir dengan rasa pahit. Sedangkan memilih air putih yang tampak biasa saja berarti menjalani hidup sederhana, tidak serakah terhadap makanan dan pakaian, memiliki hati yang tenang, tidak mengejar kemewahan, hidup dengan rendah hati dan realistis. Hanya orang seperti inilah yang dapat merasakan manisnya kehidupan.” Semoga kalian semua dapat bijak dalam memilih jalan hidup kalian.”
Praktisi Buddhis harus sungguh-sungguh, tidak mengejar ketenaran atau kehormatan, barulah ia dapat memiliki hati yang benar-benar baik. Jika kehidupan seseorang dipenuhi dengan terlalu banyak warna dan kesenangan duniawi, hal itu akan membuatmu tidak bisa membina diri dengan baik, tidak bisa mencapai ketenangan pikiran. Dua minggu yang lalu, seorang miliarder asal India — seorang raja plastik terkenal yang namanya tercatat dalam daftar orang terkaya, ia menyumbangkan 1,7 miliar dolar AS dan dengan tegas memilih untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi biksu. Ia telah memilih jalan hidupnya. Ia tidak kekurangan uang, tidak kekurangan ketenaran, dan tidak kekurangan kekayaan. Lalu mengapa ia memilih untuk menjadi biksu? Karena ia memahami bahwa rumah sejati bukanlah di dunia ini, rumah sejati adalah di surga. Kita manusia tidak mengejar ketenaran dan kehormatan barulah bisa benar-benar membina pikiran dengan baik. Kita harus memiliki kebijaksanaan sejati, barulah bisa meraih kehidupan yang penuh makna. Semoga semua orang sungguh-sungguh belajar Buddha Dharma dengan tulus, membina pikiran dengan baik, karena hanya dengan begitu kita akan memperoleh ketulusan sejati, pikiran sejati, Buddha sejati dan niat sejati.
Katak yang tinggal di tepi sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan, “Tempatmu terlalu berbahaya, cepatlah pindah ke tepi sawah bersama kami.” Katak di pinggir jalan menjawab, “Aku sudah terbiasa di sini. Setiap hari Aku hidup di tempat ini dan tidak pernah terjadi apa-apa. Aku malas untuk pindah.” Beberapa hari kemudian, katak dari tepi sawah datang menjenguk katak di pinggir jalan, namun mendapati bahwa ia sudah mati terlindas mobil. Cara untuk mengendalikan nasib sebenarnya sangat sederhana — menjauhi kemalasan, kamu akan mendapatkan ketekunan. Manusia harus belajar untuk tidak malas, karena kemalasan akan membuatmu kehilangan banyak hal yang seharusnya bisa kamu dapatkan. Kemalasan akan membuatmu kehilangan, dan kehilangan itu akan menjadi awal dari kesedihan dalam hatimu. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita harus rajin dan tekun.
Hidup di dunia ini sangatlah sulit, karena kita tidak tahu bagaimana menemukan jalan menuju pembebasan di Alam Manusia. Hati kita yang kesepian sangat membutuhkan seseorang untuk berbagi dan berkomunikasi. Pada saat itu, jika kamu bertemu dengan seorang teman baik, mungkin ia akan menuntun kamu untuk belajar Buddha Dharma dan membina pikiran. Namun, bila kamu bertemu dengan teman yang buruk, bisa jadi ia justru menjerumuskanmu ke jalan buntu. Sebenarnya, kita tidak perlu mencari ke luar. Teman yang kita cari tidak mesti harus orang lain — bisa jadi teman itu adalah diri kita sendiri. Karena hanya diri kita sendirilah yang paling peduli dan paling menyayangi kita, dan ia juga merupakan teman terbaik serta paling abadi. Percayalah, teman sejati kita itu adalah diri kita sendiri. Di manakah ia berada? Ia ada di dalam sifat dasar diri sendiri — yaitu sifat Kebuddhaan kita. Seringlah keluarkan teman ini dan berbicara dengannya: “Apakah saya sudah seperti Buddha? Apakah saya seperti Bodhisattva? Bodhisattva, bolehkah saya melakukan hal ini? Apakah saya melakukannya dengan hati nurani yang bersih?” Pada saat itu, sifat Kebuddhaan di dalam dirimu akan memberi tahu bahwa itu tidak boleh dilakukan, karena kamu tidak akan hidup selamanya di dunia ini. Karena kamu memiliki hati Buddha, belajarlah untuk bersabar dan tidak perhitungan pada urusan duniawi, barulah dapat kembali pada wujud Bodhisattva sejati.
Seorang murid bertanya kepada Sang Buddha, “Anda memiliki kekuatan yang begitu besar, penuh welas asih dan kebijaksanaan yang tak terhingga, mengapa masih ada makhluk yang menderita di dunia ini?” Sang Buddha menjawab, “Meskipun saya memiliki kekuatan terbesar di alam semesta, tetap ada beberapa hal yang tidak dapat saya lakukan.” Mohon semuanya dengarkan dengan baik, ketika manusia ingin menolong orang lain atau menyelamatkan seseorang, ia harus memiliki kemampuan yang cukup, karena jika tidak berhati-hati, niat baik itu justru bisa melukai dirinya sendiri. Sang Buddha berkata, hukum sebab dan akibat tidak dapat diubah, karena setiap orang harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri. Kejahatan yang dilakukan seseorang harus ditanggung oleh dirinya sendiri. Inilah makna dari pepatah: menanam kebaikan akan menuai kebaikan. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan, bahkan para Bodhisattva pun tidak berdaya. Kedua, kebijaksanaan tidak bisa diberikan kepada orang lain. Siapa pun yang ingin terbuka kebijaksanaannya harus melalui ujian dan latihan dari kesulitan serta penderitaan. Keadaan yang lancar akan membuat orang merosot. Orang yang tidak suka diuji tidak akan pernah menjadi pribadi yang tangguh. Orang yang setiap hari hanya menikmati berkah duniawi tidak akan belajar Buddha Dharma dengan baik. Seseorang yang setiap hari hidup dalam pujian, tanpa kekhawatiran tentang sandang, pangan, dan papan, ia akan dengan cepat tidak belajar Buddha Dharma, ia akan menghadapi kesulitan dan penderitaan. Ketiga, Dharma sejati tidak dapat diucapkan. Kebenaran sejati alam semesta tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dibuktikan melalui praktik. Seperti hari ini, Master mengajarkan kalian untuk melafalkan paritta, jika kalian tidak melakukannya, tidak ada yang tahu; tetapi ketika kalian benar-benar melafalkannya dan membuktikan hasilnya, barulah itu menjadi kenyataan ada. Jika kalian tidak melafalkan paritta, maka ajaran Buddha Dharma tidak akan benar-benar ada di dunia ini. Keempat, tidak menyelamatkan orang yang tidak berjodoh. Dalam proses membimbing orang lain, jika seseorang tidak mau mendengar, tidak mau berbicara, atau menolak untuk memahami, berarti ia belum memiliki jodoh dengan Dharma. Kita tidak dapat menolongnya. Namun, para Bodhisattva penuh dengan welas asih. Guan Shi Yin Pu Sa memberi tahu kita bahwa “tidak berjodoh” berarti saat ini ia belum memiliki jodoh dengan ajaran Buddha Dharma, bukan berarti selamanya tidak akan memiliki jodoh. Ketika jodoh Kebuddhaan-nya perlahan tumbuh dan matang, kita tetap dapat membimbingnya.
Terkadang, pencerahan itu adalah berpikiran jernih. Ketika seseorang bisa berpikir jernih dan memahami, itu berarti ia tercerahkan. Kadang satu perkataan bisa membuatmu marah setengah mati. Sebelum benar-benar memahami sesuatu, jangan mudah percaya pada perkataan orang lain. Di dunia ini, di mana pun adalah kerisauan. Jika ingin tidak risau, maka janganlah marah. Jika ingin tidak marah, maka belajarlah Buddha Dharma. Setelah belajar Buddha Dharma, barulah kita mengerti bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah jodoh. Kamu marah, saya tidak ikut marah; marah sampai sakit, tak ada yang bisa menggantikan penderitaanmu. Orang yang belajar Buddha Dharma yang dapat menata dan menyeimbangkan energinya sendiri. Kita harus menata dengan baik semangat kebenaran yang agung dalam diri, agar sifat Kebuddhaan kita dapat menyebar, agar kebijaksanaan kita berkembang, dan hati welas asih kita meluas. Itulah dasar utama bagi kita praktisi Buddhis yang belajar Buddha Dharma di dunia ini. Terima kasih semuanya.
