Membangkitkan Sifat Kebuddhaan, Mengamati Diri, dan Menghargai Jiwa Kebijaksanaan, serta Melampaui Keduniawian Menuju Kesucian (Bagian 2) 启发佛性观照自我珍惜慧命超凡入圣 (下)

Membangkitkan Sifat Kebuddhaan, Mengamati Diri, dan Menghargai Jiwa Kebijaksanaan, serta Melampaui Keduniawian Menuju Kesucian (Bagian 2)

Seminar Dharma Singapura, 11 April 2015

Praktisi Buddhis harus memahami kesabaran, kamu baru bisa mengalahkan segalanya. Kita harus belajar melepaskan dan mampu menahan diri dari godaan. Master sering mengatakan bahwa kehidupan manusia ditentukan oleh satu kata“pilihan”. Jika seseorang membuat pilihan yang benar, hidupnya akan dipenuhi kebahagiaan; tetapi jika salah memilih, ia akan menderita dalam kesalahan itu. Kita memilih istri, suami, pekerjaan, manakah yang bukan dalam pilihan? Dalam berteman, apakah kita memilih teman baik atau teman buruk, itu juga merupakan pilihan. Jika kita memahami cara memilih dengan benar, hidup kita akan damai seumur hidup. Belajar Buddha Dharma juga demikian. Pilihlah pintu Dharma yang paling sesuai dengan diri sendiri, dan melafalkan paritta dengan sungguh-sungguh. Delapan puluh empat ribu pintu Dharma semuanya dapat membawa kita kembali ke surga. Jika ingin mencapai pencerahan menjadi Buddha, kita harus bijak dalam membuat pilihan. Ada orang yang sepanjang hidupnya memilih pekerjaan yang tepat, ada yang memilih keluarga yang tepat, dan ada pula yang memilih arah hidup yang benar, maka hidupnya akan dipenuhi kebahagiaan dan kedamaian. Pilihan seperti ini adalah kebijaksanaan yang seharusnya kita pahami sebagai manusia, bukan mengandalkan kepintaran untuk memilih, karena kepintaran adalah mempertimbangkan keuntungan dan kerugian, sedangkan orang yang bijaksana berani merelakan. Pilihan seperti itu, barulah tidak memiliki halangan dalam hati, tiada halangan.

Ada orang yang sering berkata ini baik, itu tidak baik, suka mengomentari dan menilai orang lain. Ingatlah, setiap orang pasti memiliki kekurangan, tidak mungkin sempurna. Ada seorang petani yang memelihara ayam. Ia pernah berhubungan dengan para penganut agama lain dan merasa bahwa mereka hanya pandai berbicara tetapi tidak melakukan apa yang mereka katakan, sehingga ia menganggap mereka tidak dapat dipercaya. Karena itu, ia menolak semua penganut agama yang datang untuk membabarkan ajaran kepadanya. Ia berpikir bahwa orang-orang itu hanya berbicara tentang kebaikan dan moral, tetapi di dalam hati mereka menyimpan niat yang buruk. Suatu hari, datang seorang penganut agama yang sangat bijaksana untuk menasihatinya. Petani itu berkata, “Kalian jangan bicara apa-apa padaku.” Umat  tersebut sangat bijaksana dan berkata “Bolehkah saya membeli seekor ayam darimu?” Petani itu menjawab, “Boleh.” Umat itu memilih seekor ayam yang bulunya rontok dan sedang sakit parah, hampir mati. Petani itu berkata dengan heran: “Di peternakanku ada begitu banyak ayam yang sehat dan gagah, mengapa kamu justru memilih ayam yang hampir mati ini?” Umat itu menjawab, “Saya ingin memelihara ayam ini di depan rumah saya, dan akan memberitahu semua orang bahwa ayam ini saya beli dari tempatmu.” Petani itu sangat cemas dan berkata, “Ayam-ayamku semuanya baik, hanya ayam ini yang pengecualian. Bagaimana mungkin kamu menggunakan ayam ini untuk mewakili kualitas semua ayamku?” Umat itu pun berkata, “Kalau begitu, mengapa kamu menyangkal hati nurani semua orang yang menganut agama hanya karena beberapa umat yang  berperilaku buruk? Praktisi Buddhis tidak boleh menilai secara sepihak. Hanya karena pernah sekali tertipu atau dirugikan, jadi mencurigai semua orang di dunia ini adalah jahat. Karena satu kali putus cinta, lalu berpikir  semua lawan jenis adalah penipu. Setiap orang hanyalah satu keping kecil dari puzzle kehidupan. Kita tidak boleh menolak keseluruhan hanya karena satu kepingnya tidak bagus.

Seorang profesor mengambil selembar kertas putih dan menempelkannya di papan tulis. Ia kemudian membuat satu titik hitam di atas kertas itu dan bertanya kepada seorang murid, “Kamu melihat apa?” Murid itu menjawab, “Guru, ada satu titik hitam.” Profesor bertanya lagi, “Murid-murid, apa yang kalian semua lihat?” Semua siswa menjawab, “Satu titik hitam.” Profesor pun berkata, “Mengapa kalian tidak melihat kertas putih ini? Seluruh kertas putih ini penuh dengan kelebihan, mengapa kalian terus menatap pada satu kekurangan?” Seseorang memiliki begitu banyak kebaikan, mengapa harus terus-menerus memperhatikan satu kekurangannya saja? Seorang istri menikah denganmu, telah berkorban begitu banyak untuk keluarga seumur hidupnya, mengapa sebagai seorang suami kamu justru terus mempermasalahkan satu kekurangannya? Mengapa harus bersikeras mempertahankan pendapat sendiri tanpa mau melepaskannya? Pertengkaran suami istri terjadi karena suami merasa dirinya benar, dan istri juga merasa dirinya benar. Jika keduanya bisa menganggap diri masing-masing itu salah, maka pertengkaran tidak akan pernah terjadi.

Master memberi tahu kepada kalian tentang beberapa fenomena orang-orang zaman sekarang, renungkanlah dengan baik. Kekayaan orang-orang zaman sekarang semakin bertambah, tetapi rasa puas semakin hari semakin berkurang; yang dimiliki semakin banyak, tetapi kebahagiaan justru semakin sedikit; sarana komunikasi semakin banyak, tetapi komunikasi batin dan perasaan justru semakin sedikit; orang yang dikenal semakin banyak, tetapi teman yang tulus semakin sedikit. Sekarang di rumah segalanya ada, hanya saja suasana hati yang baik tidak ada. Kesehatan batin adalah dasar bagi seorang praktisi Buddhis. Daripada hidup dalam penderitaan setiap hari, lebih baik hidup dengan bahagia. Pikirkan masa depan, pikirkan bahwa hidup ini tidak kekal —  lahir tidak membawa apa pun datang, mati pun tidak bisa membawa apa pun pergi. Mengapa tidak melepaskan lebih awal? Daripada suatu hari nanti harus melepaskan, lebih baik melepaskannya lebih awal. Setiap orang ingin bahagia, kebahagiaan berasal dari berpikiran terbuka, tercerahkan, berpuas diri dan selalu bahagia. Penderitaan berasal dari kerisauan; kerisauan berasal dari keserakahan. Semakin banyak nafsu keinginan, semakin besar keserakahan, semakin besar pula kerisauan. Pada akhirnya, keserakahan membawa penderitaan hidup. Terbebas dari penderitaan adalah salah satu dasar utama yang diajarkan Bodhisattva dalam membantu kita belajar Buddha Dharma.

Master menceritakan sebuah lelucon kepada kalian semuanya. Orang-orang zaman sekarang demi mencapai tujuannya rela melakukan apa saja. Suatu malam, seorang pria dan istrinya sedang dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba muncul tiga perampok bertopeng sambil membawa golok besar dan berteriak, “Berhenti! Dari kalian berdua, hanya satu yang boleh pergi!” Tanpa ragu, si pria mendorong istrinya sambil berkata, “istriku, cepat lari!” Setelah sang istri pergi, ketiga “perampok” itu melepas topeng mereka dan berkata, “Bro, mau ajak kamu main mahjong aja, sampai harus pura-pura jadi perampok.” Lima menit kemudian, pria itu pura-pura menelepon, “Istriku, cepat kirim lima ribu yuan ke rekeningku. Ini sekelompok pencuri kecil, mereka tidak minta banyak. Jangan lapor polisi, mereka bilang cuma akan menahanku satu malam dan besok pagi akan melepaskanku.” Setengah jam kemudian, sang istri mentransfer lima ribu yuan ke rekeningnya. Kemudian, pria itu pun menggunakan uang itu untuk bermain mahjong semalaman dan menang lima ratus yuan. Istrinya di rumah semalaman cemas, memasak bubur, menyiapkan makanan, bahkan merebus ginseng Barat sebagai tonik. Dengan mata berkaca-kaca ia berkata, “Suamiku, di saat genting Aku bisa melihat betapa tulusnya cintamu padaku. Mulai sekarang, apa pun yang ingin kamu makan akan Aku buatkan.” Lelucon ini menunjukkan bahwa orang-orang zaman sekarang demi kepentingan pribadi rela melakukan segala cara dan mengabaikan perasaan orang lain.

Praktisi Buddhis membutuhkan medan energi yang baik, yaitu lingkungan yang baik. Berteman dengan orang yang buruk dapat merusak sifat Kebuddhaan dalam diri sendiri. Sifat Kebuddhaannya bisa hilang. Sering mendengarkan orang lain berbicara hal-hal buruk akan memutus jiwa kebijaksanaan seseorang. Karena itu, dalam berteman harus sangat berhati-hati. Jika teman yang kita gaul sering berkata bahwa ini tidak baik, itu tidak baik, maka orang yang suka membicarakan benar dan salah adalah orang yang penggosip. Belajar Buddha Dharma yang sejati adalah benar-benar menyembah Buddha, harus berteman dengan teman se-Dharma yang sungguh-sungguh membina diri. Di antara para umat yang hadir hari ini, ada berapa banyak yang sedang melafalkan paritta, berikrar, dan membantu orang lain melakukan jasa kebajikan. Berteman dengan mereka berarti setiap hari kita semakin dekat dengan Buddha. Jika ingin menjadi seorang Bodhisattva sejati, maka belajarlah Buddha Dharma dengan sungguh-sungguh dan bertemanlah dengan orang bijak. Dengan begitu, pasti akan menjadi orang yang baik.

Bodhisattva sejati bukanlah patung dari tanah liat atau ukiran kayu. Bodhisattva yang kita sembah bukanlah Bodhisattva yang sesungguhnya. Yang kita sembah adalah semangat dan jiwa Bodhisattva. Para teman se-Dharma di sekitar kita yang mampu berbuat kebajikan, menolong sesama, mendengar suara dan menolong orang yang menderita, dan membantu orang lain di mana-mana,  mereka adalah Bodhisattva di dunia. Kita meneladani Bodhisattva adalah meneladani semangatnya. Jika seseorang mengenakan pakaian seperti Guan Shi Yin Pu Sa dan berdandan menyerupai Guan Shi Yin Pu Sa, apakah kamu akan belajar Buddha Dharma dengannya?  Yang kita pelajari adalah semangat dari jutaan umat yang mempraktikkan ajaran Bodhisattva dan melakukan perbuatan Bodhisattva di dunia ini. Kita harus banyak belajar dari para penyebar Dharma di sekitar kita. Langkah pertama dalam belajar Buddha Dharma adalah mengurangi nafsu keinginan dan berpuas diri. Kebijaksanaan adalah dasar dari menekuni Dharma. Bagaimana cara membuat diri sendiri memiliki kebijaksanaan? Yaitu dengan mengurangi nafsu keinginan, barulah kita bisa banyak berpuas diri.

Manusia harus menemukan dan menggali sifat dasarnya sendiri. Apa sebenarnya tujuan dari sifat dasar kita datang ke dunia ini? Sebanyak apa pun kerisauan yang kita miliki, karena kita tidak bisa mengubah kerisauan, sehingga kita akan menderita. Jika kamu memiliki kerisauan, kamu segera menjaga ketenangan batin, bisa menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini hanyalah ilusi yang tidak kekal, maka hati akan menjadi jernih. Tubuh ini bagaikan pohon Bodhi. Jangan biarkan debu dunia menempel padanya, barulah hati dapat terbebas dari kerisauan. Kita pada dasarnya adalah manusia yang baik dan memiliki tubuh yang suci, mengapa harus terlibat dalam urusan dunia yang penuh debu dan kekotoran? Di dalam hati, jangan beranggapan bahwa hal ini benar atau salah. Begitu ada “benar”, maka akan muncul “salah”. Jika di dalam hati tidak ada “benar”, dari mana datangnya “salah”? Benar dan salah muncul karena kita menganggap hal ini benar, sehingga dalam hati timbul hal yang dianggap tidak benar. Segalanya di dunia ini adalah jodoh, mana ada benar dan salah? Semua datang karena jodoh buruk dan sebab-akibat. Kita harus memahami prinsip-prinsip Dharma ini. Dunia fana ini penuh dengan kekotoran. Gunakanlah sifat Kebuddhaan untuk selalu mengamati diri sendiri. Kerisauan dalam hidup bagaikan ombak di lautan — satu gelombang datang, disusul gelombang berikutnya, tak pernah berhenti. Praktisi Buddhis harus mampu menembus gelombang kerisauan itu agar cahaya sejati dalam dirinya dapat bersinar. Semoga semuanya memahami bahwa Bodhi pada dasarnya bukanlah sebatang pohon, cermin bening pun bukan sebuah landasan.

Orang zaman sekarang, jika kamu tulus kepada orang lain, orang lain pun akan lebih memahami kamu. Sebaliknya, jika kamu sering berbohong, orang justru akan memandangmu rendah. Itu sama dengan merendahkan dirimu sendiri. Pada tahun 1928, sastrawan besar Shen Congwen diangkat menjadi dosen oleh Hu Shi, yang saat itu menjabat sebagai rektor Sekolah Teknik Tiongkok. Saat itu, Shen Congwen berusia 26 tahun, hanya berpendidikan sampai tingkat sekolah dasar, tetapi karya-karya esainya sudah sangat terkenal di seluruh negeri. Ia sudah memiliki reputasi besar, namun terkenal bukan berarti memiliki keberanian. Pada hari pertama ia mengajar di sekolah, di hadapan para mahasiswa yang haus akan ilmu, ia hanya menggunakan sepuluh menit untuk menyampaikan seluruh materi pelajaran, jarak dengan waktu istirahat masih lama. Ia tidak berbicara asal-asalan atau berpura-pura agar terlihat pandai. Sebaliknya, ia mengambil kapur dan menulis dengan rapi di papan tulis:“Ini adalah hari pertama saya mengajar. Murid sangat banyak, saya merasa takut.” Kalimat jujur dan polos itu langsung disambut tepuk tangan dari seluruh siswa. Praktisi Buddhis harus jujur dalam mengakui kegagalan. Hari ini, saya belum belajar dengan baik, maka akuilah bahwa memang belum belajar dengan baik. Saya belum membina diri dengan cukup baik ya belum cukup baik. Saya bukanlah “Bodhisattva” hanya di permukaan, tetapi memiliki Bodhisattva di dalam hati. Jika hari ini saya memiliki sesuatu yang membuat saya sulit memaafkan diri sendiri, maka lafalkanlah paritta Li Fo Da Chan Hui Wen dengan sungguh-sungguh. Sering memeriksa diri sendiri, jangan hanya mengandalkan kepintaran untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, karena itu justru akan menyakiti jiwa kebijaksanaanmu. Sering mengakui kesalahan kepada orang lain akan memperoleh pencapaian yang lebih besar.

Menekuni Dharma dengan ketulusan, memperlakukan orang lain dengan ketulusan, dan melakukan pekerjaan dengan ketulusan — “tiga ketulusan” ini merupakan salah satu dasar dalam menekuni Dharma. Sebenarnya, melakukan satu kesalahan itu bukanlah masalah besar. Orang melakukan satu kesalahan hanya berarti kehilangan satu kesempatan, tetapi yang didapat adalah satu pengalaman agar diri sendiri tidak mengulangi kesalahan lagi, dan memiliki peluang untuk sukses. Orang di dunia sering kali terlalu memandang penting kehidupan duniawi, merasa dirinya paling hebat, namun meremehkan jiwa kebijaksanaannya. Di dunia ini, begitu godaan datang, hati manusia mudah kehilangan keseimbangan dan ketenangan. Musuh terbesar manusia bukanlah orang lain. Tidak ada orang yang bisa membuatmu sedih, gelisah, atau bunuh diri, putus asa. Yang paling sulit ditaklukkan oleh manusia adalah dirinya sendiri. Yang paling menyakitkan pun adalah ketika seseorang tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri. Sering tercerahkan, memeriksa ucapan dan perbuatan sendiri, serta menyesali kesalahan dengan tulus, itulah yang disebut memahami secara mendalam.

Seorang kopilot dari maskapai penerbangan Jerman karena mengalami gangguan mental ingin bunuh diri, dan akhirnya membuat seluruh pesawat dengan 150 penumpang menjadi korban bersamanya. Di zaman sekarang ini, di mana ada rasa aman? Keselamatan adalah berkah, berpuas diri adalah panjang umur. Depresi, fobia, dan autisme zaman sekarang telah menjadi penyakit berbahaya dalam masyarakat masa kini, menyebabkan banyak orang bunuh diri, kehilangan kendali atas emosi sendiri, dan menyakiti begitu banyak keluarga serta teman. Berharap semua orang rajin melafalkan paritta dan belajar Buddha Dharma dengan sungguh-sungguh. Jangan menyakiti masyarakat maupun keluarga lagi. Kita harus menjalin pertemanan yang baik, harus belajar Buddha Dharma. Sering melafalkan paritta Xin Jing; jamin tidak akan menderita penyakit depresi, autisme, dan phobia.

Zhuangzi berkata, hidup di antara langit dan bumi bagaikan kuda putih yang melintas celah, begitu cepat dan sekejap saja. Hidup ada di antara langit dan bumi. Hewan mana yang berdiri dengan kepala menghadap langit? Hanya manusia yang berdiri dengan kepala menatap langit dan kaki berpijak di bumi. Monyet memang mirip manusia, tetapi punggungnya tetap menghadap langit. Hidup berlalu dalam sekejap, tiba-tiba saja sudah hilang. Hari ini kita mengucapkan selamat tinggal kepada seorang teman, mungkin seumur hidup tak akan pernah bertemu dengannya lagi, inilah kehidupan. Kemarin adalah dasar kita, hari ini adalah tindakan, dan esok adalah rencana. Hargailah segala yang ada di depan mata, agar kemarin berkurang sedikit penyesalan, sehingga hari ini bisa lebih banyak kebahagiaan, barulah bisa merancang esok hari yang gemilang. Orang yang bijaksana, hari ini melakukan hal untuk esok, sedangkan orang bodoh hari ini masih sibuk dengan hal-hal dari kemarin. Dengan merangkumkan kemarin, memanfaatkan hari ini, dan berpikir untuk hari esok, barulah kita bisa menjalani setiap hari dengan baik.

Di mana ada kasih sejati di dunia ini? Menghargai berarti memiliki. Menghargai karma dan jodoh hari ini. Menghargai Ajaran Buddha Dharma yang begitu bagus yang dibawa oleh para Bodhisattva kepada kita. Menghargai segala cinta yang ada di dunia ini,  maka kita akan memiliki lebih banyak kasih sayang dan welas asih di dunia ini.

Seorang pemuda yang baru saja lulus dari universitas mengalami kebutaan akibat kecelakaan mobil. Setelah ia menjalin hubungan cinta, ia tidak pernah tahu seperti apa wajah kekasihnya. Kemudian, sang kekasih didiagnosis menderita kanker lambung. Menjelang ajalnya, ia memutuskan untuk mendonorkan kornea matanya kepada pacarnya. Setelah operasi, pacarnya dapat melihat kembali. Hal pertama yang ingin ia lakukan adalah mencari foto pacarnya untuk melihat wajahnya. Namun, ia hanya menemukan sebuah surat yang ditinggalkan sang kekasih. Di dalam amplop itu, hanya ada selembar foto kosong tanpa gambar apa pun. Dalam suratnya tertulis satu kalimat: “Jangan lagi penasaran seperti apa wajahku. Orang berikutnya yang kamu cintai adalah rupa wajahku”. Perasaan di dunia sungguh menyentuh, namun juga sangat singkat dan derita. Bagaimana kita bisa menghargainya? Keluarga dan anak-anak kita pernah mencintai kita, tetapi mengapa kadang kita memperlakukan mereka seperti musuh hanya karena hal-hal kecil? Mengapa kita tidak bisa sering mengingat kebaikan orang lain, dan justru terus memikirkan keburukan mereka? Kita harus menemukan kasih Buddha di dunia ini, harus melupakan sebagian penderitaan di dunia. Di dunia ini, kita harus mencari sebab dari penderitaan barulah bisa terbebaskan dari buah akibat penderitaan. Belajar Buddha Dharma berarti menyeberangi segala penderitaan duniawi. Dengan memahami “tanpa penderitaan, tanpa sebab penderitaan, tanpa lenyapnya penderitaan, dan tanpa jalan menuju lenyapnya penderitaan,” bisa menyingkirkan semua penderitaan, barulah bisa dapat hidup di dunia ini dengan kesadaran sejati. Maha Prajna Paramita, pencerahan hari ini adalah dasar kamu untuk  mencapai Kebuddhaan. Hanya dengan tercerahkan, barulah bisa memiliki kehidupan ajaran Buddha Dharma yang sesungguhnya.

Baik-baiklah menekuni Dharma. Selama kita masih hidup di dunia ini, kehidupan tidak akan pernah benar-benar sempurna. Alam Manusia adalah tempat bagi kita untuk menanggung penderitaan dan mengikis karma. Rasa puas bagi seorang praktisi Buddhis adalah kesempurnaan di dunia. Hari ini saya merasa cukup, hati saya akan menjadi sempurna. Namun, ketika merasa tidak puas, selamanya akan merasa menderita. Berharap semua orang belajar menemukan kesempurnaan batin dari setiap penyesalan. Tanpa perpisahan, bagaimana mungkin ada pertemuan yang indah? Tanpa pernah ditipu, bagaimana kita bisa memahami betapa berharganya ketulusan? Tanpa merasakan manis, asam, pahit, dan pedas kehidupan, bagaimana datangnya Bodhisattva yang menolong semua makhluk? Kesempurnaan hidup adalah belajar untuk menghargai dan memberi, bukan mengukur dari seberapa banyak yang kita miliki di dunia. Orang yang tidak tamak hatinya adalah sempurna. Orang yang belajar Buddha Dharma harus melampaui nafsu keinginan duniawi dan melepaskan ketergantungan terhadap segala hal material di dunia. Kita harus memiliki ruang kebebasan di dalam hati yang tidak dapat digoda atau terikat oleh apa pun di dunia ini.

Manusia hidup di dalam jodoh. Ketika satu jodoh berakhir, jodoh yang baru akan muncul. Karena itu, kita harus menghargai jodoh. Ada seorang anak, setelah ayah dan ibunya bercerai, ia tinggal bersama ibunya. Sang ayah kemudian membangun keluarga baru dan memiliki seorang putri lagi. Anak perempuan yang pertama merasa dirinya tidak lagi dibutuhkan, merasa rendah diri dan sangat sedih. Ia bertekad, “Seumur hidup ini, seberat apa pun kesulitan yang kuhadapi, Aku tidak akan meminta bantuan ayah lagi.” Namun suatu hari, dalam hidupnya benar-benar terjadi masalah besar. Akhirnya, ia tetap meminta bantuan ayahnya. Setelah urusan itu selesai, ia mengirim pesan singkat kepada ayahnya untuk mengucapkan terima kasih. Saat mengetik dua kata “terima kasih” di ponselnya, hatinya terasa sakit seperti diremas. Tak lama kemudian, ayahnya membalas dengan dua kata: “Si Bodoh” Setelah menekuni Dharma, barulah tahu untuk menghargai. Di dunia ini, manusia sering baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kehilangannya. Banyak orang tanpa sadar membiarkan jalinan jodohnya berlalu begitu saja. Orang yang menghargai jodoh akan memiliki jodoh. Orang yang menghargai anak akan memiliki anak. Orang yang menghargai kehidupan akan memiliki kehidupan. Dan orang yang menghargai ajaran Buddha Dharma akan memiliki ajaran Buddha Dharma! Praktisi Buddhis hidup untuk orang lain, memikirkan orang lain. Seseorang yang hatinya dipenuhi keegoisan tidak akan pernah memantulkan hati yang baik. Segala sesuatu di dunia ini bergantung pada jodoh. Orang yang berjuang demi semua makhluk, haruslah melatih perilaku yang murni — yaitu tindakan yang bersih. Dalam membantu orang lain, hati harus tetap bersih. Semua akar kebajikan harus digunakan untuk menolong sesama, semua akar kebajikan harus diarahkan pada jalan Bodhi. Tidak menyakiti orang lain berarti selamanya tidak akan disakiti oleh orang lain.

Dalam tradisi Tiongkok, ada pepatah yang mengatakan: “Dekat dengan cinnabar menjadi merah, dekat dengan tinta menjadi hitam.” Pada masa akhir Dharma, nasihat terbaik yang diberikan oleh Master kepada semua orang adalah: bertemanlah dengan orang baik, karena orang baik akan hidup damai sepanjang hidupnya. Menjauh dari orang jahat berarti menjauh dari jalan kejahatan. Bahkan ketika memelihara hewan di rumah pun harus berhati-hati, karena mereka berasal dari alam binatang. Ada orang yang memeluk dan menciumi kucing atau anjingnya ke kiri dan ke kanan, lalu ketika bercermin, wajahnya mulai tampak seperti kucing, bercermin lagi, sedikit mirip anjing. Berteman dengan orang baik dan berhati lembut akan membuat kita semakin baik. Berteman dengan orang jahat akan membuat kita semakin jahat, seperti hari ini kamu naik pesawat yang dikemudikan oleh pilot gila, akhirnya ikut celaka. Berteman dengan orang yang penuh kerisauan akan membuat kita semakin gelisah. Namun berteman dengan orang yang belajar Buddha Dharma akan membuat kita semakin menyerupai Buddha.

Seorang anak laki-laki tidak sanggup lagi menanggung biaya hidup ibunya. Dengan hati yang keras, ia memutuskan untuk membawa ibunya ke gunung yang tinggi dan meninggalkannya di sana. Sore hari setelah makan malam, anak itu berkata kepada ibunya, “Ibu, Aku akan menggendongmu naik ke gunung untuk jalan-jalan.” Ibunya menjawab, “Baik, nak,” lalu dengan susah payah naik ke punggung anaknya. Sepanjang jalan, sang anak berpikir, semakin tinggi ia membawa ibunya, semakin kecil kemungkinan ibunya bisa turun kembali. Namun tiba-tiba, ia menyadari bahwa ibunya sedang menaburkan biji-bijian di sepanjang jalan. Dengan marah ia bertanya, “Ibu, kenapa Ibu menaburkan biji-bijian?” Jawaban sang ibu membuat anak itu menangis tersedu-sedu. Ibunya berkata, “Anakku yang bodoh, Ibu takut nanti kamu turun sendirian dan tersesat di jalan.” Ibu tetaplah seorang ibu, selalu memikirkan anaknya, bahkan rela mengorbankan diri juga akan memahami orang lain. Bodhisattva selamanya adalah Bodhisattva, demi semua makhluk, meskipun harus mengorbankan diri sendiri, tetap rela dan ikhlas. Demi membuat orang lain hidup lebih baik, diri sendiri rela hidup lebih lelah dan lebih susah. Inilah Ibu kita Guan Shi Yin Pu Sa. Agar semua makhluk terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan, tidak lagi diliputi kerisauan, orang suci Konfusius berkelana ke berbagai negeri untuk menyebarkan ajaran Konfusianisme. Yesus yang mulia rela disalib demi menanggung dosa umat manusia. Buddha yang agung meninggalkan tahta kerajaan demi menemukan jalan pembebasan dari penderitaan bagi umat manusia. Ibu yang penuh kasih, Guan Shi Yin Pu Sa menyeberangkan semua makhluk dengan welas asih, menanggung segala penderitaan dunia, menolong mereka yang menderita dan berada dalam kesulitan. Berapa banyak orang yang sembuh dari kanker, berapa banyak orang yang akhirnya memiliki anak, berapa banyak keluarga yang kembali bersatu, berapa banyak bencana yang berhasil kita hindari? Inilah welas asih, inilah Bodhisattva.

Master berterima kasih kepada semua orang. Hari ini, kita harus menyadari bahwa mendapatkan tubuh manusia itu sangat sulit, menjadi manusia bukanlah hal yang mudah. Kita telah menderita setengah hidup, dan hampir seumur hidup kita hidup dalam kebingungan. Kita tidak boleh terus hidup seperti ini. Kita harus tercerahkan, harus menghargai jodoh, dan memperlakukan orang lain dengan hati yang welas asih. Segala kejahatan disebabkan oleh pikiran, harus sungguh-sungguh belajar Buddha Dharma.