Menjaga Karma Ucapan, Tekun Melafalkan Paritta; Sehat Tubuh dan Pikiran Menjalani Praktik Amitabha (Bagian 2) 守住口业勤念经,身心健康弥陀行 (下)

Menjaga Karma Ucapan, Tekun Melafalkan Paritta; Sehat Tubuh dan Pikiran Menjalani Praktik Amitabha (Bagian 2)

Seminar Dharma Selandia Baru, 22 November 2015

Master di sini menggunakan sebuah perumpamaan agar kalian dapat merasakan betapa singkatnya kehidupan: coba pikirkan, masa muda kalian dulu apakah terasa seperti mimpi yang berlalu begitu saja? Hal-hal yang dulu saat muda membuat kalian tidak bisa berpikir jernih dan sangat menderita, bukankah sekarang perasaan itu tidak ada lagi? Dulu ketika muda, demi pernikahan kalian bisa hidup setengah mati dalam penderitaan, tetapi sekarang jika dipikir kembali, semuanya hanyalah seperti mimpi. Kehidupan ini singkat, harus tahu untuk menghargainya, dalam setiap menit dan detik yang kita miliki, kita harus selalu mengingatkan diri sendiri: untuk apa saya datang ke dunia ini? Jangan menyia-nyiakan hidup, harus menghargai kehidupan dan teruslah maju. Kita harus memahami bahwa hidup ini adalah untuk membayar hutang karma, datang ke dunia untuk menanggung penderitaan dan mengikis karma. Oleh karena itu, jangan menciptakan karma baru, melunaskan karma lama, maka kita akan memiliki masa depan yang lebih baik, masa depan yang mencapai Kebuddhaan. Semoga semua orang dapat menghargai kehidupan. Mulai hari ini, jangan lagi mudah marah, karena jika marah hingga menimbulkan penyakit, tidak ada orang yang bisa menggantikannya.

Sebagian besar orang mengalami kesedihan di masa tua karena pada masa mudanya tidak menjalani kehidupan dengan baik dan tidak menyempurnakan diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Kebahagiaan di dunia ini hanyalah sebuah perasaan. Coba pikirkan, kebahagiaan yang pernah dirasakan saat muda, apakah sekarang masih ada? Namun, orang lain tidak selalu berpikir demikian. Di masa lalu, orang yang masih hidup sering menganggap bahwa orang yang sudah meninggal itu lebih bahagia, karena mereka tidak lagi harus menderita di dunia ini. Tetapi orang yang sedang menghadapi ajal justru sulit melepaskan keluarga dan rumahnya, berpikir bahwa dirinya tidak bisa menjadi manusia lagi, merasa sangat menderita. Sama seperti ketika kita masih kecil yang selalu menganggap bahwa orang tua kita sangat bahagia. Orang yang tidak mampu memahami orang lain tidak akan bisa belajar Buddha Dharma dengan baik. Orang yang ingin bahagia harus menghargai apa yang dimiliki saat ini, dan melepaskan keterikatan pada apa yang tidak dimiliki.

Manusia harus memiliki ketulusan hati, barulah Buddha akan memberikan respon spiritual; dengan sepenuh hati melafalkan nama suci Buddha, barulah hati dapat menjadi lapang. Seorang praktisi Buddhis dapat mencapai Kebuddhaan dalam kehidupan ini karena jodoh yang tidak sama, tingkat kesadaran spiritual dalam belajar Buddha Dharma juga berbeda. Praktisi Buddhis harus memahami Dharma yang sangat dalam dan luar biasa, harus mengerti melepaskan pikiran dan rupa, tidak boleh ada kemelekatan dalam berdana dan dalam belajar Buddha Dharma. Ada seseorang yang sangat suka berbuat kebajikan. Ia menyumbangkan tiga ribu yuan kepada lembaga amal. Setelah berdana, ia ingin berdana tanpa rupa. Ia membawa koran dan berkata kepada temannya: “Lihat, di balik sumbangan tiga ribu yuan ini tertulis ‘tanpa nama’. Tahukah kamu siapa ‘tanpa nama’ itu? Itu saya!” Secara permukaan ia berdana, tetapi di dalam hatinya masih mengharapkan balasan. Inilah yang disebut masih ada rupa, masih melekat pada rupa. Menjadi orang baik tidak melekat pada rupa, tulus terhadap orang lain, itulah sikap seorang praktisi Buddhis. Jika dahulu Lei Feng berbuat baik tetapi diketahui orang banyak, maka ia tidak akan menjadi Lei Feng seperti yang dikenal sekarang. Justru karena ia tidak ingin orang lain mengetahuinya, itulah yang disebut sebagai pembinaan sejati yang paling mendalam.

Hanya orang yang memahami Dharma dan prinsip-prinsip ajaran Buddha yang benar-benar dapat melepaskan diri dari kebodohan batinnya. Orang yang bodoh bukan berarti tidak memiliki pengetahuan, hanya saja tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk dalam jodoh. Banyak orang berkata kepada orang lain: “Kehidupan rumah tangga saya sangat menderita, suami setiap hari bertengkar dengan saya, saya benar-benar ingin bercerai.” Karena satu kalimat dari kamu, “Cerai saja, tidak apa-apa, pria seperti itu, ya sudahlah pisah saja,” maka kamu telah menyentuh karma orang lain. Master pernah menceritakan sebuah kisah nyata dari masa lalu. Ada seseorang yang suatu malam bermimpi, Dewa Bumi berkata kepadanya, “Tolong bantu saya membangun sebuah tembok di antara rumah sebelah itu. Karena di kehidupan sebelumnya, orang itu telah membina diri dengan baik, sehingga setiap kali dia pulang ke rumah, saya sebagai Dewa Bumi harus berdiri dan memberi hormat kepadanya. Saya sangat lelah, bisakah kamu membantu saya membangun tembok?”Orang tersebut kemudian membangun tembok itu, dan sejak saat itu ia tidak pernah lagi bermimpi tentang Dewa Bumi tersebut. Beberapa tahun kemudian, pada suatu hari ia kembali bermimpi. Dewa Bumi berkata kepadanya, “Sekarang kamu sudah bisa membongkar tembok ini.” “Kenapa?” “Karena sekarang dia sudah tidak memiliki jasa kebajikan lagi, jadi Aku tidak perlu berdiri lagi.” Ia pun berpikir, orang itu pasti telah melakukan sesuatu yang tidak bermoral, tidak sesuai dengan aturan dan ajaran Dharma. Lalu ia pergi bertanya, “Apakah belakangan ini kamu melakukan sesuatu? Apakah ada perbuatan yang tidak sesuai dengan aturan atau tidak bermoral?” “Aku tidak.” “Coba pikirkan lagi…” “Oh, Aku pernah membantu seseorang menulis surat gugatan perceraian.” Ternyata, justru surat gugatan perceraian itulah yang membuat seluruh jasa kebajikannya lenyap.

Kehidupan manusia adalah proses yang terus-menerus menciptakan karma. Oleh karena itu, diharapkan semua orang menasihati untuk berdamai, bukan mendorong perpisahan. Pertengkaran suami istri biasanya hanya untuk melampiaskan emosi, sehingga tidak seharusnya mengucapkan kata-kata yang menyakitkan. Jika seseorang mengucapkan kata-kata yang melukai hati orang lain, dalam pandangan ajaran Buddha Dharma hal itu sudah termasuk niat jahat. Seseorang tidak boleh memiliki niat jahat dalam pikirannya dan tidak boleh terus-menerus melekat pada sesuatu. Jika kemelekatan berlangsung lama, maka orang tersebut bisa menjadi binatang yang tidak berakal. Tahukah kalian dari apa ular berbisa berasal? Ada ular berbisa yang merupakan reinkarnasi manusia. Jika seseorang semasa hidupnya sangat kejam dan menjauh dari rasa kemanusiaan, maka setelah meninggal ia akan terlahir menjadi ular berbisa. Orang lain pun tidak ingin berhubungan dengannya, ia sangat jahat sekali. Lalu harimau berasal dari apa? Seseorang yang sangat kasar dan penuh amarah, berteriak-teriak dan meluapkan emosi dengan hebat, dengan karma yang begitu kuat dan berat, setelah meninggal akan terlahir menjadi harimau. Banyak orang berkata, “Orang ini kesakitan, melompat-lompat dan berteriak seperti harimau, saat bertengkar seolah-olah ingin menerkam dan memakan orang lain.”

Karma  diciptakan oleh pikiran, dan rupa akan berubah menyesuaikan pikiran. Orang yang sering berbuat baik, rupanya akan berubah menjadi lebih ramah dan penuh kedamaian. Bencana alam dan bencana ulah manusia di dunia ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba turun dari langit, melainkan sering kali merupakan akibat yang dicari oleh manusia sendiri. Banyak kejadian sebenarnya adalah bencana yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Orang sekarang sering kali tidak berbakti kepada orang tua. Ada seorang lansia yang ketika meninggal dunia, ia tidak meninggalkan sepeser pun untuk keturunannya; bahkan uang sebesar 210 ribu yuan ikut dibakar bersama jasadnya. Baru-baru ini terjadi serangan teroris di Turki yang menewaskan lebih dari 300 orang. Beberapa bulan kemudian, terjadi pembantaian dan serangan teroris di Paris, di mana orang-orang yang kehilangan kemanusiaan itu membunuh lebih dari 200 orang dan melukai lebih dari 500 orang. Ada pula sebuah bus yang tiba-tiba terjun ke dasar jurang, menyebabkan lebih dari 50 penumpang, termasuk 13 anak-anak, semuanya meninggal dunia… Bencana alam dan bencana ulah manusia terus terjadi tanpa henti. Hidup di dunia ini, kita seharusnya lebih banyak memohon keselamatan dan kedamaian, maka negara akan damai dan sejahtera, rakyat pun akan tenteram. Kita harus memahami bahwa di dunia ini jika hati manusia baik, maka keluarga akan menjadi harmonis dan damai. Manusia tidak perlu mengejar terlalu banyak hal lain; di masa kini, keselamatan dan kedamaian itu adalah berkah.

Pada abad ke-17, terjadi perang antara Denmark dan Swedia. Setelah sebuah pertempuran sengit, Denmark meraih kemenangan. Seorang prajurit Denmark duduk untuk beristirahat, merasa sangat haus. Ia mengambil botol airnya dan hendak minum, tiba-tiba ia mendengar suara permohonan. Ia pun mendekat dan melihat seorang prajurit Swedia yang terluka parah, menatap botol air di tangannya. Dengan tegas, prajurit Denmark itu berkata, “Kebutuhanmu lebih besar daripada kebutuhanku,” lalu ia mengangkat botol air tersebut dan memberikannya kepada prajurit yang terluka. Namun, secara tiba-tiba, prajurit Swedia itu mengangkat tombaknya dan menusuk ke arahnya. Untungnya, serangan itu meleset sedikit dan hanya melukai lengannya. Prajurit Denmark itu berkata, “Ah, saya memberimu air untuk diminum, tetapi kamu membalasnya seperti ini? Tadinya saya punya satu botol penuh, tetapi kamu sudah menumpahkan setengahnya. Sekarang saya hanya bisa memberimu setengah botol air.” Peristiwa ini kemudian diketahui oleh raja. Ia secara khusus memanggil prajurit Denmark itu dan bertanya, “Mengapa kamu tidak membunuh orang yang tidak tahu berterima kasih itu?”Dengan santai ia menjawab, “Yang Mulia, saya tidak ingin membunuh seseorang yang pernah ingin saya bantu.” Kisah ini memberi tahu kita tentang sisi kemanusiaan. Ketika orang lain tidak tahu berterima kasih, kita tetap harus memiliki hati yang mampu memaafkan dan mengampuni. Ini adalah bentuk pengampunan yang kedua, dan merupakan suatu sikap batin yang lebih mulia. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus memahami untuk  memaafkan orang lain. Seseorang yang pernah menyakiti kamu, jika suamimu pernah menyakitimu, kamu harus memaafkannya, karena manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Meskipun istrimu pernah menyakitimu, kamu juga harus memaafkannya. Inilah welas asih agung Buddha. Dengan bersikap toleran terhadap suami, istri, anak-anak, dan teman, barulah sifat kemanusiaan kamu akan menjadi semakin welas asih dan penuh kebajikan.

Penderitaan dan kebahagiaan bagaikan sepasang saudara kembar. Jika ada penderitaan, pasti ada kebahagiaan; setelah kebahagiaan, pasti akan datang penderitaan. Keduanya silih berganti. Hanya orang yang tahu bagaimana menyesuaikan diri dengan keduanya serta mampu mengatasinya, barulah benar-benar memahami bagaimana menjalani kehidupan. Ada seseorang dengan wajah penuh kekecewaan datang mencari temannya untuk mengobrol. Ia berkata: “Sepanjang hari yang saya temui hanyalah masalah. Hidup saya sangat sulit, saya sangat sedih, saya benar-benar sudah tidak tahan lagi. Jika kamu bisa membantu saya menyelesaikan semua masalah ini, saya bersedia segera menyumbangkan sejumlah uang ke badan amal.” Temannya menjawab, “Menurut yang saya ketahui, ada sebuah komunitas besar yang dihuni ribuan orang, dan tidak satu pun dari mereka memiliki masalah apa pun. Apakah kamu ingin pergi ke sana?” “Tempat itu kedengarannya seperti tempat yang ingin saya kunjungi,” kata orang itu dengan penuh semangat. “Ajak saya ke sana untuk melihatnya.”Temannya lalu membawanya ke sebuah pemakaman dan berkata kepadanya: “Setahu saya, orang-orang yang tidak memiliki masalah semuanya tinggal di sini!” Konflik selalu ada, kapan pun dan di mana pun. Masalah yang kamu hadapi seharusnya bukan menjadi penghalang bagi pertumbuhanmu, harus menghadapinya dengan sikap yang benar dan optimis, dengan begitu, kamu akan merasa jauh lebih ringan. Seperti halnya seseorang yang pergi makan di restoran prasmanan. Karena layanan berakhir pukul 13.00, ia datang pukul 12.45. Ketika melihat banyak makanan sudah dibereskan, ada orang yang merasa sangat kecewa, “Hari ini sia-sia, sudah bayar mahal tapi hanya makan beberapa roti dan mentega, tidak ada yang tersisa.”Namun ada juga orang lain yang berkata, “Wah, senang sekali! Datang terlambat begini ternyata masih ada roti dan mentega!”Inilah yang disebut mentalitas.

Master menceritakan sebuah lelucon kecil kepada kalian. Larut malam, setelah Guru Wang selesai mengoreksi lembar ujian terakhir, dengan kelelahan ia menyalakan radio. Dari radio terdengar suara penyiar: “Seluruh siswa kelas 3 dari SMP XXX bersama-sama mempersembahkan lagu ini untuk guru tercinta mereka, Guru Wang, sebagai ucapan terima kasih atas selama bertahun-tahun beliau telah memberikan tak terhitung banyaknya soal latihan, sehingga mereka mendapatkan kesempatan berlatih yang sangat berharga…”Mendengar sampai di sini, mata Guru Wang pun berkaca-kaca, dan di wajahnya yang kelelahan muncul senyum penuh kelegaan. Penyiar melanjutkan:“Sekarang mari kita dengarkan lagu ini bersama-sama, ‘Kamu Tidak Akan Mendapatkan Hasil yang Baik’ yang dinyanyikan oleh Li Huimin.” Seketika itu juga, mata Guru Wang terbelalak putih dan mulutnya berbusa.

Orang-orang zaman sekarang tidak mampu membedakan baik dan buruk, tidak memiliki kebijaksanaan. Ini seperti saat Master menasihati kalian sekarang untuk tidak serakah, tidak berbohong, tidak mencuri, dan tidak melakukan perbuatan asusila, semuanya pasti akan mendatangkan masalah, namun banyak orang tidak mau mendengarkan. Master pernah menasihati banyak orang agar tidak serakah terhadap harta, karena itu akan membawa masalah. Namun mereka tidak mendengarkan dan akhirnya menjadi pejabat korup. Ada juga banyak orang yang Master nasihati agar jangan suka membual, akhirnya dipukul oleh suaminya. Saya pernah menasihatinya agar tidak mencuri, tetapi kemudian ia justru kehilangan lebih banyak karena dicuri orang lain, itulah balasan karma. Hal-hal kecil seperti itu saja suka membual, itu bisa membuat seseorang mudah dipecat dari perusahaan. Minum alkohol lalu menerobos lampu merah bisa membuat surat izin mengemudi dicabut. Banyak orang hidup dengan mentalitas “untung-untungan”. Ada seseorang yang melihat lampu kuning hampir berakhir, lalu tancap gas dan menerobos. Saat itu muncul seorang polisi dan bertanya, “Mengapa kamu menerobos lampu merah? Tidak lihat lampu merah?” Dia menjawab, “Saya melihat lampu merah, tapi saya tidak melihat Anda.” Inilah mentalitas untung-untungan, ini bukanlah kebijaksanaan.

Dalam kehidupan masyarakat, karena terpengaruh oleh lima nafsu keinginan dan enam kekotoran duniawi, kebiasaan buruk terbentuk tanpa disadari. Orang Australia suka menjilat kelima jari mereka setelah makan. Apakah tindakan ini terlihat baik? Tidak baik, tetapi mereka tidak menyadarinya, karena orang tua mereka juga melakukan hal yang sama. Sebagai manusia, jangan terlebih dahulu mempelajari kebiasaan buruk. Setiap hari,  jika kamu memarahi orang lain satu kali, lama-kelamaan akan berkembang menjadi kebiasaan marah setiap hari. Dalam pertengkaran suami istri, banyak orang awalnya tidak tega mengucapkan kata “cerai”. Namun suatu hari, ia berpikir untuk mengatakan sekali “cerai saja”,  lalu kedua kali, kemudian setiap hari mengatakannya. Pada akhirnya, suatu hari ia berteriak “cerai!”, dan benar-benar bercerai. Mulut jangan sembarangan berbicara. Mengapa saat Tahun Baru Imlek orang mengucapkan “Gong Xi Fa Cai”? Itu adalah energi positif, aura yang baik. “Semoga Anda sehat dan panjang umur,” semua orang menjadi senang dan menerima energi positif. Jika setiap hari kamu dimarahi, kamu akan menerima energi negatif, dan itulah yang membuatmu marah. Jika seekor katak langsung dimasukkan ke dalam panci berisi air panas, karena sangat peka terhadap perubahan lingkungan, ia akan segera melompat keluar. Namun jika katak dimasukkan ke dalam air dingin, lalu air dipanaskan perlahan di atas api, katak tidak akan langsung melompat keluar. Ketika suhu air perlahan meningkat hingga akhirnya membuatnya kepanasan dan tidak mampu bergerak, katak pun sudah tidak bisa lagi melompat keluar. Fenomena ini memberi tahu kita bahwa manusia mudah bereaksi terhadap kejadian yang datang secara tiba-tiba, tetapi kebiasaan buruk yang perlahan-lahan justru dapat menjerumuskan kita tanpa kita sadari, bahkan kita menerimanya dengan perasaan yang seolah baik-baik saja. Menghisap satu batang rokok tidak langsung menyebabkan penyakit paru-paru, tetapi jika merokok selama sepuluh tahun, kemungkinan besar akan menimbulkan kanker paru-paru. Minum segelas alkohol tidak langsung menyebabkan kanker hati, tetapi jika terus-menerus minum selama 10 tahun, maka akan terkena kanker hati. Oleh karena itu, kita harus memiliki kesadaran yang jernih dan kewaspadaan terhadap diri sendiri. Kita harus waspada terhadap perkataan dan perbuatan diri sendiri, jangan sampai menyakiti orang lain. Jika tanpa sadar kita melukai orang lain, dalam ajaran Buddha Dharma hal itu disebut sebagai kebiasaan yang timbul dari ketidaktahuan.

Dalam proses pertumbuhan diri, kita harus memiliki keyakinan yang benar dan pikiran yang benar, serta terus-menerus memperbaiki diri. Jangan dengan sengaja mengaburkan kebenaran atau melakukan perkataan dan perbuatan yang merugikan orang lain demi keuntungan diri sendiri. Master mengajarkan orang untuk bervegetarian, namun ada yang berkata: “Master, tumbuhan juga memiliki kehidupan!” Apakah hanya karena tumbuhan memiliki sedikit kehidupan, maka kita justru harus memakan makhluk hidup yang lebih besar seperti babi, anjing, dan kambing? Mengapa sekarang kasus kanker usus besar sangat banyak? Coba pikirkan, saat ini dalam operasi digunakan benang usus domba yang tidak perlu dilepas lagi. Dahulu, setelah operasi, jahitan harus dilepas. Setelah satu minggu, benang usus domba tersebut dapat menyatu dengan daging tubuh. Sekarang banyak orang makan terlalu banyak daging pada malam hari, dan setelah masuk ke dalam usus, Jika tidak bergerak, makanan tidak akan tercerna. Setelah beberapa hari, tidak bisa buang air besar secara normal, dan akhirnya menyatu dengan daging di usus dan lambung, perlahan berubah menjadi daging busuk. Oleh karena itu, banyak orang yang menderita kanker usus besar, operasi pertamanya adalah memotong sepertiga atau dua pertiga dari lambung, karena ususnya sudah rusak. Banyak orang yang masih konsumsi daging, Master menasihati kalian untuk mengurangi makan daging dan perbanyak makan makanan vegetarian. Selalu mengejar segala sesuatu yang segar dan alami, seperti sifat dasar manusia. Waktu kecil, sifat kita sangat alami, tetapi sekarang semuanya sudah hilang, karena dulu kita bertumbuh secara fisik, sekarang kita justru  “bertambah akal” — penuh perhitungan. Belajar Buddha Dharma dengan baik, singkirkan pikiran buruk yang merugikan orang lain demi keuntungan diri sendiri. Jangan mencari-cari alasan yang menyimpang, dan terlebih lagi jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, yang membuat diri sendiri masuk ke dalam penderitaan dan penyesalan. Belajarlah untuk memaafkan orang lain, itu sama dengan memberi jalan keluar bagi diri sendiri. Terus-menerus menatap kekurangan orang lain berarti menutup jalan bagi diri sendiri, dan itu sama saja dengan terus-menerus menyakiti diri sendiri.

Manusia menderita di dalam kerisauan, tetapi tidak menyadari bahwa itu adalah kerisauan. Jika seseorang menyadari bahwa itu adalah kerisauan, maka kerisauan itu dengan sendirinya akan lenyap. Ibarat seseorang yang tahu dirinya sakit, barulah ia bisa mencegah penyakitnya semakin parah. Jika seseorang tidak tahu dirinya mengidap kanker, suatu hari ketika tiba-tiba merasa sakit dan pergi ke rumah sakit untuk diperiksa, ternyata sudah stadium akhir. Setelah keluar masuk rumah sakit selama tiga bulan, menjalani radioterapi dan kemoterapi,   akhirnya pun meninggal dunia. Harus memperhatikan kesehatan tubuh, dan juga menjaga kesehatan batin, jangan sampai menciptakan kegelisahan dalam diri sendiri. Dalam kitab suci Buddha dikatakan: “Jika menyadari bahwa diri ini kosong, siapakah yang menerima celaan? Jika memahami tiada Aku, dari mana timbulnya kerisauan?” Ini memberitahu semua orang bahwa jika kita tidak terlalu menganggap diri kita penting, memandang diri lebih kosong—“Saya tidaklah hebat”, maka kita tidak akan mudah marah kepada orang lain. Hanya dengan melepaskan segala jodoh, barulah dapat mencapai Tanah Suci. Alam Manusia adalah tempat terbaik untuk membina diri mencapai Tanah Suci. Alam Manusia adalah tangga yang paling baik dalam melatih jiwa seseorang untuk naik ke Surga. Jadilah manusia yang baik; jika kita dapat menjadi manusia yang baik, maka kita pun dapat mencapai Kebuddhaan. Master Taixu pernah berkata, “Berhasil menjadi manusia berarti berhasil menjadi Buddha.” Untuk meraih keberhasilan, seseorang harus terlebih dahulu menjadi manusia yang baik. Semoga semua orang dapat belajar Buddha Dharma dengan sungguh-sungguh.

Begitu banyak praktisi Buddhis baik yang tinggal di Selandia Baru ini. Semoga Cahaya Buddha Guan Shi Yin Pu Sa menerangi semuanya, memberikan kesehatan kepada kalian, agar para rekan se-Dharma di dunia terbebas dari kerisauan dan melepaskan penderitaan. Kebijaksanaan praktisi Buddhis adalah mampu mengalahkan kerisauannya sendiri; orang yang mampu mengalahkan kerisauan adalah orang yang bijaksana.