Memandang Hambar Ketenaran, Kekayaan, dan Hubungan Jodoh, Kebijaksanaan Tanpa Aku, Membina Diri dengan Sungguh-sungguh (Bagian 1)
Seminar Dharma Hurstville Sydney, 8 Februari 2015
Bulan Januari tahun lalu, Master juga memberikan berkat dan doa bagi semua orang di tempat ini. Waktu berlalu sangat cepat, dan tahun baru telah tiba. Master ingin mengucapkan selamat tahun baru kepada semua orang dan mendoakan semua orang memiliki kesehatan, sukses dalam segala hal, dan tekun belajar Buddha Dharma di tahun baru ini!
Di tahun baru, kita harus belajar menghargai waktu dan jodoh. Setelah menekuni Dharma, kita memahami bahwa jodoh datang dan pergi dengan cepat. Berapa banyak keluarga yang hancur? Berapa banyak kerabat yang sakit dan meninggalkan kita? Harus menghargai jodoh yang kita miliki sekarang dan memperlakukan mereka dengan baik. Suatu hari nanti, orang-orang di sekitar kita mungkin sudah tiada, dan jodoh di sekitar kita akan pergi. Jodoh datang dan pergi, jodoh memang begitu. Segala sesuatu di dunia ini tidak kekal. Kita harus memahami sebab dan akibat serta mengetahui jodoh Nidana, barulah bisa merasa puas dan selalu bahagia. Hanya dengan menekuni Dharma dan mengikis rintangan karma, kita baru bisa menghilangkan penderitaan dan memperoleh pembebasan. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang, serta Naga Langit Pelindung Dharma. Terima kasih kepada teman-teman se-Dharma dari Tiongkok daratan, Singapura, Malaysia, Selandia Baru, Jepang, Hong Kong, Indonesia, Melbourne, Brisbane, Perth, Gold Coast, Sydney, dan di seluruh dunia atas dukungannya terhadap Dharma, jasa kebajikan tiada tara.
Pada tahun 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan bahwa tahun 2015 adalah tahun pengobatan penyakit mental. Terlalu banyak orang di seluruh dunia yang menderita depresi, fobia, autisme, dan demensia, yang mengakibatkan hampir satu juta kasus bunuh diri setiap tahun. Orang hidup di dunia ini tidak boleh berpikiran buntu. Berpikiran buntu akan menyebabkan kesedihan. Kesedihan akan menyebabkan kebencian, dan kebencian akan menciptakan ketidakseimbangan mental yang ekstrem. Gaya hidup yang seperti berjudi membuat kita menjalani hari-hari di dunia ini dengan rasa takut dan cemas setiap waktu, hidup dengan pikiran yang dipenuhi keserakahan dan hati yang tidak pernah puas membuat seseorang terus tenggelam dalam kebencian. Di kota Shenyang, seorang kakek sedang naik bus. Seorang pemuda tidak mau memberikan tempat duduk kepadanya, dan keduanya pun terlibat pertengkaran. Pemuda itu berbicara dengan lidah yang tajam dan pandai berdebat, membuat sang kakek marah hingga tekanan darahnya naik. Tak mampu menahan emosi, kakek itu menampar si pemuda dua kali, lalu meninggal karena serangan jantung di dalam bus. Seorang menantu perempuan di Gold Coast menderita depresi berat dan memiliki hubungan yang tegang dengan ibu mertuanya. Ia dicaci maki oleh ibu mertuanya setiap hari, merasa sedih setiap hari, merasa dirinya seperti hidup di Alam Neraka. Suatu hari, ia menikam ibu mertuanya 32 kali saat ia sedang mandi. Lingkungan hidup orang-orang saat ini, 80% penyakit fisik berasal dari psikologis. Ajaran Buddha Dharma membantu kita terbebas dari ketersesatan dan memperoleh pencerahan. Ajaran Buddha Dharma membuat kita memiliki pola pikir tanpa perselisihan dan tanpa persaingan, sebuah fondasi untuk membangun karakter yang baik. Jangan bertengkar dengan orang lain, karena pertengkaran akan membawa kesedihan dan sakit hati. Kita harus menjaga keseimbangan pikiran dan tubuh, agar hati kita damai dan pikiran kita tenang, barulah bisa membuat keluarga bebas konflik dan masyarakat yang stabil. Berharap semua orang menekuni Dharma dengan baik.
Penyanyi terkenal Yao Beina meninggal dunia di usia 33 tahun karena kanker payudara yang kambuh. Ia memiliki kekayaan, ketenaran, dan harta yang lebih banyak daripada kita, tetapi ia tidak dapat mempertahankan nyawa mudanya. Seorang rekan se-Dharma kita juga menderita kanker payudara seperti dia, dan setelah operasi, kankernya kambuh lagi. Namun, ia bertemu Ajaran Xin Ling Fa Men. Ia melafalkan paritta, berikrar, melepaskan makhluk hidup, sel-sel kanker secara ajaib menghilang. Ia masih hidup hingga sekarang, juga di usia 32 tahun. Jika seseorang tidak menemukan sesuatu, ia mungkin akan kehilangannya; jika ia menemukannya, ia mungkin bisa memilikinya
Praktisi Buddhis hendaknya memiliki harapan di hatinya, karena kita memiliki Bodhisattva yang melindungi kita. Bodhisattva tidak akan melupakan kita. Kita akan memiliki harapan. Ketika tubuh kita sehat, jiwa kita akan membaik, dan tubuh kita akan menjadi lebih baik lagi karena jiwa kita mulai membaik. Orang yang percaya Buddha memohon Buddha dengan tulus, Bodhisattva Ksitigarbha dan Guan Shi Yin Pu Sa memiliki tekad. Bodhisattva Ksitigarbha berkata “Neraka tidak kosong, saya tidak akan menjadi Buddha”, Guan Shi Yin Pu Sa berkata “Mengabulkan semua permohonan”. Berharap kita baik-baiklah memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa untuk memberkati kita damai seumur hidup.
Rata-rata orang Australia hanya bertahan dalam satu pekerjaan selama tiga setengah tahun, karena rata-rata orang Australia berganti pekerjaan 17 kali seumur hidup. Jumlah perempuan di Australia lebih dari 100.000 orang daripada laki-laki. Perempuan hidup jauh lebih lama daripada laki-laki. Pada tahun 1950-an, terdapat 8.000 orang berusia di atas 100 tahun di Australia, tetapi tahun lalu hanya 2.600 orang. Dan statistik menunjukkan bahwa 80% penduduk Australia yang berumur panjang tinggal di daerah pedesaan, karena di pedesaan, mereka tidak memiliki terlalu banyak tekanan hidup seperti orang-orang di kota dan tidak perlu terlalu banyak berpikir. Belajar Buddha Dharma harus belajar berpikir lebih sederhana, makan lebih sederhana, dan bersikap lebih sederhana, agar tidak hidup terlalu lelah. Jika ingin memiliki umur yang panjang, maka harus baik-baik menekuni Dharma, membuat hati diri sendiri menjadi lebih sederhana. Bersikap lebih tulus kepada orang lain, kamu baru bisa hidup lebih panjang.
Master ingin memberi tahu beberapa pesan penting kepada semua orang di Tahun Baru ini. Setelah Tahun Baru 2015, mohon kalian semua banyak melafalkan paritta Xiao Zai Ji Xiang Shen Zhou. Bagi yang tidak dapat menghafal paritta Da Bei Zhou, mohon lafalkan tiga kali Xiao Zai Ji Xiang Shen Zhou setiap hari sebelum keluar rumah. Bagi yang dapat melafalkan paritta Da Bei Zhou lafalkan satu kali untuk melindungi kamu selamat keluar dan pulang dengan selamat. Di Ashfield, ada seorang wanita lanjut usia sedang duduk di rumah, tiba-tiba sebuah mobil menabrak rumahnya dan menewaskannya. Orang berada di rumah, keberuntungan dan kemalangan dapat terjadi kapan saja. Perekonomian global sedang memburuk tahun ini, jadi hindari investasi besar. Berhati-hatilah dengan api dan lilin di rumah, keseluruhan arah utara tidak terlalu baik, terutama harus memperhatikan api. Yang paling parah adalah kanker. Kanker organ dalam akan semakin banyak di tahun ini. Jika kamu sering mengalami ketidaknyamanan di usus, lambung atau liver, harus waspada, kemungkinan kanker.
Praktisi Buddhis terkadang sangat tercerahkan, tetapi mereka yang tidak menekuni Dharma akan sering merasa kesal karena satu kata, tidak bisa berpikiran terbuka karena suatu masalah, bahkan ada yang sampai meninggal karena marah oleh satu ucapan. Dunia ini penuh dengan kerisauan. Jika kamu tidak ingin risau, kamu tidak akan ada kerisauan. Jika kamu ingin marah, kamu akan langsung marah. Ingin tidak risau, maka jangan marah. Ingin tidak marah harus belajar Buddha Dharma. Setelah belajar Buddha Dharma barulah tahu segalanya di dunia ini adalah jodoh. Kamu marah, saya tidak marah. Marah sampai sakit tidak ada yang menggantikan. Praktisi Buddhis baru bisa mengendalikan amarah diri sendiri.
Orang yang sering menyesal adalah orang yang tidak bisa melihat masa depan. Orang tidak boleh selalu hidup dalam penyesalan. Karena tidak bisa melihat masa depan barulah menyesal. Orang yang menyesal juga adalah orang egois yang tidak bisa memahami orang lain. “Mengapa saya begitu di saat itu? Mengapa saya tidak begitu di saat itu?” Kenyataannya, itu karena tidak bisa memahami perasaan orang lain. Penyesalan hanya akan membawakan kesakitan bagi diri sendiri, hanya akan menambah lebih banyak kerisauan pada diri sendiri. Harus melupakan kekurangan orang lain, dan ingat kelebihan orang lain, maka hati akan dipenuhi dengan kebahagiaan karena kelebihan orang lain. Selalu mengingat kebaikan orang lain terhadapmu, dan kamu akan sangat bahagia. Orang yang tidak menyakiti orang lain tidak akan menyakiti dirinya sendiri. Orang yang sering melukai orang lain lewat ucapan, pada akhirnya pasti akan melukai dirinya sendiri. Menyakiti orang lain justru akan semakin menyakiti diri sendiri. Mengakui kelebihan orang lain akan membuat diri sendiri merasakan kehangatan. Menatap kekurangan orang lain akan membuat diri sendiri dipenuhi dengan kerisauan. Terkadang satu kata yang baik dapat menghangatkan hati seseorang, sedangkan satu kata yang kasar dapat membuat orang membencimu seumur hidup, bisa menghancurkan pernikahan atau hubungan keluargamu. Akal sehat sangatlah penting. Akal sehat lebih penting daripada kesadaran. Kesadaran mendominasi hatimu, membuatmu berpikir, “Apa yang saya lakukan ini adalah benar,” tetapi menggunakan hati nuranimu untuk berpikir, itulah rasional “Seharusnya saya tidak menyakitinya lagi, dia sangat kasihan”.
Seorang profesor sedang mengajar mahasiswa. Ia menempelkan selembar kertas putih di papan tulis dan menggambar titik hitam di atas kertas putih itu dengan pena. Ia bertanya kepada seorang mahasiswa, “Apa yang kamu lihat?” Mahasiswa itu menjawab, “Saya melihat satu titik hitam.” Profesor itu bertanya lagi, “Murid-murid, apa yang kalian lihat?” Para mahasiswa menjawab serempak, “Kami melihat satu titik hitam.” Profesor itu berkata, “Mengapa kalian hanya melihat satu titik hitam?” Kenapa kalian tidak melihat lembaran putih kosong itu? “Kenapa kita selalu fokus pada kekurangan orang lain? Istrimu telah melakukan pekerjaan rumah untukmu seumur hidupnya dan memperlakukanmu dengan sangat baik. Dia memiliki banyak kelebihan, tetapi kamu tidak bisa melihatnya, hanya karena satu kekurangannya, kamu membencinya, memarahinya, dan terus mempermasalahkannya tanpa henti. Kita harus melihat kelebihan orang lain dan kurangi melihat kekurangan orang lain, hatimu baru akan menjadi semakin cerah.”
Berpikiran benar lebih dapat diandalkan daripada emosi. Orang yang tahu hidup demi kebahagiaan orang lain pastilah orang yang mencintai kehidupan. Seseorang yang berhati welas asih, yang dapat membantu sesama dan menyelamatkan semua makhluk hidup, ia adalah orang yang tercerahkan, ia pasti adalah orang yang hidup dengan sangat bahagia.
Di kala itu, ketika Sang Buddha berdiam di Rajagaha. Beliau melihat beberapa biksu sangat tekun dan yang lainnya sangat malas, jadi Beliau menjelaskan kebenaran kepada mereka. Sang Buddha berkata, “Kita memiliki empat jenis kuda di Rajagaha. Jenis pertama akan berlari kencang saat melihat cambuk; jenis kedua akan berlari kencang segera setelah cambuk menyentuh bulunya; jenis ketiga akan berlari kencang hanya setelah cambuk kena tubuhnya dan merasa sakit; dan jenis keempat hanya akan berlari kencang setelah ditusuk paku besi oleh tuannya, merasa sakitnya menusuk tulang-tulangnya baru bergerak maju. Manusia juga dibagi menjadi empat kategori: Ada tipe orang yang setelah mendengar orang lain sakit atau meninggal dunia, ia merasa takut, tahu bahwa hidup ini tidak kekal, dan dengan pandangan benar dan pemikiran benar, berusaha untuk membina diri dengan tekun. Tipe orang kedua, melihat orang lain sakit atau meninggal, merasa takut, berpikir, “Mungkin saya juga akan mati,” barulah ia membina diri dengan tekun. Tipe orang ketiga, melihat kerabatnya sakit atau meninggal, merasakan sakitnya ketidakkekalan hidup dan akhirnya berusaha untuk membina diri dengan tekun. Ada juga tipe orang keempat. Ia harus menunggu hingga dirinya sakit parah, menderita kanker, dan menghadapi rasa takut akan kematian, barulah ia muncul pikiran untuk membina diri dengan tekun, dan memiliki pandangan dan pemikiran yang benar. “Para biksu, kalian ingin menjadi orang tipe yang mana satu?” Setiap biksu ingin menjadi salah satu dari tipe orang pertama dan kedua. Terima kasih kepada Sang Buddha, guru agung umat manusia, membuat kita memahami makna hidup yang sebenarnya. Kita harus segera sadar, jangan menunggu bencana menimpa keluarga atau diri kita sendiri barulah mau membina pikiran kita; itu akan terlambat.
Hidup adalah proses terus-menerus menghadapi masalah dan menyelesaikan masalah. Kita datang ke dunia ini hanyalah sebuah transisi. Selama berada di dunia, kerisauan, masalah keluarga, dan masalah lainnya takkan pernah berakhir. Semua kemegahan dan kekayaan duniawi adalah kosong, tidak bisa dibawa pergi. Cinta duniawi pun adalah penderitaan. Cinta pada akhirnya juga adalah penderitaan. Kemegahan dan kekayaan tidak bisa dibawa pergi, meraih bulan di air hanyalah kesia-siaan belaka.
Sepanjang hidup kita berusaha, namun pada akhirnya hanya karma yang akan menyertai kita. Hanya dengan memahami prinsip-prinsip ini, kita baru dapat benar-benar mencapai pembebasan, baru bisa benar-benar melepaskan ego, baru bisa benar-benar memohon kepada Buddha, dan benar-benar menjadi seorang Bodhisattva.
Perasaan manusia sangatlah rumit. Terkadang kita akan menangis ketika mendengar sesuatu, perasaan memang ada di dunia ini. Ada sepasang suami istri yang biasanya sering bertengkar. Suatu hari, sang suami menjalani tes dan tidak sempat mengambil hasilnya karena sedang bekerja, jadi ia meminta istrinya untuk mengambilnya. Setelah istrinya mengetahui bahwa suaminya menderita kanker, ia sangat sedih dan tidak mau memberitahunya. Sebelum tidur malam, ia bertanya kepada suaminya, “Jika Aku menderita kanker, apakah kamu akan mengobatiku? Biayanya akan sangat mahal.” Saat sang suami hendak tertidur, ia berkata, ” Jangan ngomong sembarangan! Aku akan bantu kamu berobat meskipun aku bangkrut!” Sang istri bertanya lagi, “Bagaimana kalau kamu kena kanker?” Sang suami berkata, “Kalau begitu, jangan berobat. Tidak mudah bagimu untuk mencari uang sendiri.”
Hidup adalah suatu jodoh. Manusia hidup di dunia ini karena jodoh. Sifat manusia ternyata begitu baik. Mencari kemurnian sifat akan menemukan welas asih yang hilang. Jika hati kita lebih murni, kita akan menemukan bahwa hati nurani kita masih begitu baik. Saat kecil, hati kita begitu murni dan penuh kebaikan, rela memberikan segalanya untuk orang lain makan dan digunakan, dan bersikap baik terhadap semua orang. Saat itu, kita tumbuh besar secara fisik, hati kita masih murni dan polos. Sekarang, usia kita telah menua, yang bertumbuh justru kecerdikan hati, kita mulai iri pada orang lain, curiga, menyindir, dan dipenuhi kebencian. Hati itu bagaikan sebuah cermin; apa pun yang dipantulkannya itulah yang dilihatnya. Semoga yang kita pantulkan semuanya adalah kebaikan di dunia, hati kita akan dipenuhi dengan segala hal baik. Jika memantulkan kejahatan di dunia, kita hanya akan melihat wujud jahat dan kejahatan yang benar dan salah, dan seiring waktu, kita akan menjadi orang yang sangat jahat. Sebaiknya kita tidak memantulkan apa pun; barulah kita dapat melihat panca skhanda adalah kosong.
