Menjaga Karma Ucapan, Tekun Melafalkan Paritta; Sehat Tubuh dan Pikiran Menjalani Praktik Amitabha (Bagian 1)
Seminar Dharma Selandia Baru, 22 November 2015
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma. Terima kasih kepada seluruh teman se-Dharma dan para tamu dari Selandia Baru, serta para relawan. Salam sejahtera untuk kita semua! Selandia Baru adalah negeri yang sangat indah, dikenal dengan julukan “Kota Seribu Layar”. Saya sudah datang ke sini berkali-kali dan merasakan bahwa para teman se-Dharma di Selandia Baru sangat baik hati. Masyarakat Tionghoa perantauan di sini juga sangat baik hati. Orang baik sepanjang hidup damai dan selamat. Semoga cahaya Buddha dari Guan Shi Yin Pu Sa menerangi seluruh Selandia Baru, dan semoga setiap orang memperoleh segala yang diharapkan dalam pekerjaan, keluarga, kesehatan dan Kehidupan spiritualnya.
Ajaran Buddha Dharma membuat setiap orang memperoleh keseimbangan batin dan kebahagiaan dalam keluarga, dan yang paling penting adalah berpuas diri dan selalu bahagia. Kebudayaan Buddhis merupakan bagian dari sistem pengetahuan humanistik. Master Tai Xu, seorang Biksu Agung pada era Tiongkok modern, pernah mengatakan bahwa “persoalan Buddhisme pada hakikatnya adalah persoalan kemanusiaan”. Dalam budaya tradisional Tiongkok sering kali menggunakan prinsip: “Ajaran Konfusius untuk mengelola negara, ajaran Taois untuk menjaga kesehatan fisik, dan ajaran Buddhis untuk membina hati dan pikiran,” yang membantu kita dalam menetapkan arah dan posisi kebudayaan. Di zaman sekarang, tekanan batin manusia sangat besar. Tekanan psikologis dan tekanan lingkungan membuat banyak orang hampir berada di ambang kelelahan dan kehancuran. Setiap hari orang mudah marah secara tiba-tiba, tidak berpikiran jernih terhadap hal-hal yang telah berlalu maupun yang sedang dihadapi saat ini, hidup dalam penderitaan. Kita sering tidak dapat menerima perilaku banyak orang, tidak bisa berpikir jernih terhadap banyak hal. Kerisauan, kebencian, dan penyesalan terhadap masa lalu saling bercampur dalam pikiran, membuat kita menjalani hari-hari dengan perasaan depresi.
Di Gold Coast, Australia, ada seorang menantu perempuan yang setiap hari menyimpan kebencian terhadap ibu mertuanya. Suatu hari, ketika ibu mertuanya sedang mandi, ia menikamnya sebanyak 16 kali hingga meninggal dunia. Di Indonesia, ada seorang anak yang demi narkoba meminta uang kepada ayahnya. Karena ayahnya tidak memberikan uang, ia tega mencekik ayahnya hingga tewas. Jika tidak bisa berpikiran jernih, bagaimana mungkin memiliki kehidupan yang baik? Kita manusia setiap hari hidup dalam kesedihan dan sakit hati, merasa gelisah di tengah kerisauan. Bagaimana menyelesaikan semua masalah itu dengan kekuatan diri sendiri? Caranya adalah dengan belajar Buddha Dharma. Belajar Buddha Dharma membuat kamu bisa berpikiran terbuka, dan berpikir dengan jernih. Kita harus memiliki potensi kesadaran. Kita datang ke dunia ini dengan tangan kosong dan pergi pun kembali dengan tangan kosong. Dalam kehidupan manusia hanya ada dua peristiwa besar: kelahiran dan kematian. Kita sudah terlahir di dunia ini, maka harus menjalani hidup dengan baik, jangan biarkan diri sendiri mati. Selama kita masih hidup, itu adalah hal besar. Selama kita belum meninggal, semua kerisauan dan ketidaklancaran dalam kehidupan sebenarnya hanyalah masalah kecil. Kehidupan manusia yang singkat ini adalah hal yang normal. Dengan memahami kebenaran dan melepaskan, barulah kita bisa terbebaskan.
Setiap orang ingin memiliki kehidupan yang sempurna, tetapi jika kita merenungkan kembali jalan hidup yang telah kita lalui selama setengah kehidupan ini, hal mana yang benar-benar sempurna? Kita memiliki penyesalan karena belum berbakti sepenuhnya kepada orang tua, kekecewaan karena kurang sabar terhadap anak, penderitaan karena kurangnya kesabaran dalam hubungan suami istri dan kurangnya perhatian terhadap keluarga, serta kerisauan karena merasa bersalah kepada teman, guru, dan para orang yang lebih tua. Di Sydney, ada sepasang suami istri muda yang mengusir orang tua mereka hingga harus tinggal di stasiun kereta; di Melbourne, ada sepasang suami istri muda bertengkar, dan karena tidak bisa menahan emosi, melempar sendok hingga menyebabkan mata kiri anak perempuan mereka menjadi buta. Di seluruh dunia, rata-rata setiap menit ada dua pasangan suami istri yang bercerai, setiap menit ada satu pasien kanker yang meninggal, setiap tahun ada satu juta orang bunuh diri, 1,6 juta orang meninggal karena depresi, dan lebih dari seratus juta orang menjadi cacat seumur hidup akibat kecelakaan lalu lintas. Mana ada kesempurnaan di dunia ini? Satu kalimat yang tidak menyenangkan bisa membuat seseorang marah sepanjang hari. Kecurigaan, kecemburuan, kebencian, ketakutan, dan keegoisan menyebabkan kondisi batin menjadi sangat terdistorsi, melihat siapa pun merasa tidak senang. Orang lain menyakiti kamu satu kali, tetapi kamu pulang ke rumah tidak bisa berpikir jernih dan menyakiti dirimu sendiri seratus kali. Hanya dengan belajar Buddha Dharma, barulah bisa berpikiran terbuka.
Harus memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah tidak kekal. Apakah penderitaan yang kita alami sewaktu kecil masih ada hingga sekarang? Hal-hal yang dahulu membuat kita merasa sangat bahagia saat masih kecil pun kini telah berlalu. Piramida Mesir masih berdiri hingga hari ini, tetapi Firaun yang dahulu membangunnya sudah lama tiada. Kehidupan manusia di dunia ini bagaikan mimpi, ilusi, gelembung, dan bayangan. Suatu hari ketika kita terbangun dari mimpi ini, kita bahkan tidak tahu lagi berada di mana. Ketika datang ke dunia ini, kita datang dengan tangan kosong. Semua yang kita miliki hanyalah sementara: rumah, mobil, dan berbagai harta benda lainnya, bahkan orang tua kita pun pada akhirnya akan meninggalkan kita. Jangan pernah berpikir untuk membawa apa pun pergi dari dunia ini; bahkan tubuh kita sendiri pun tidak dapat dibawa pergi. Oleh karena itu, Sang Buddha bersabda, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang dapat dibawa pergi, hanya karma yang akan selalu menyertai kita. Hanya dengan tidak melekat pada segala sesuatu di dunia ini, barulah dapat benar-benar melepaskan dan berpikiran terbuka. Untuk mencapai pencerahan sejati, kita harus bisa berpikiran terbuka, mengerti dan tidak masalah. Inilah yang disebut pencerahan, inilah yang disebut pembebasan.
Di sebuah kota kecil yang terpencil, hanya ada dua stasiun radio yang dapat didengar. Salah satu stasiun khusus menyiarkan berita selebritas dan peringkat lagu populer, sehingga memiliki tingkat pendengar yang sangat tinggi. Stasiun yang kedua adalah stasiun cuaca profesional, namun pendengarnya hanya segelintir orang. Suatu malam, stasiun cuaca mengeluarkan peringatan darurat: “Sebuah tornado dengan kekuatan dahsyat akan melanda kota ini pada tengah malam.” Stasiun tersebut menyerukan kepada warga untuk segera mengungsi. Sekelompok kecil pendengar pun segera bergerak, ada yang pergi mencari kepala kota, ada yang berkeliling jalan sambil memukul gong dan genderang untuk memberi tahu bahwa tornado akan datang, ada pula yang menelepon stasiun radio pertama agar menyiarkan berita tersebut demi menyelamatkan jiwa dan kesehatan penduduk. Namun, kepala kota berkata: “Kota ini belum pernah mengalami tornado. Berita tentang tornado ini adalah kesalahan atau rekayasa dari stasiun cuaca untuk meningkatkan jumlah pendengar.” Akibatnya, orang-orang yang berkeliling memberi peringatan dianggap sebagai orang gila. Sementara itu, stasiun radio pertama menolak menyiarkan berita penting tersebut dengan alasan sedang melakukan wawancara langsung dengan seorang selebritas. Akibatnya, kota kecil itu hancur rata dengan tanah. Orang-orang yang datang kemudian tidak pernah tahu bahwa di tempat itu pernah berdiri sebuah kota.
Setiap hari bisa saja menjadi hari terakhir dalam hidup kita. Banyak orang tidak menyadari bahwa mungkin hari ini atau besok adalah hari terakhir mereka di dunia ini. Dua minggu yang lalu, saya menerima telepon dari seorang pendengar. Ia memberi tahu Master bahwa dalam mimpinya ia mendapat firasat bahwa suaminya akan mengalami hal sangat buruk, sehingga ia mengingatkan suaminya agar berhati-hati, namun suaminya tidak mempercayainya. Pada suatu hari, ketika ia, suaminya dan putrinya sedang pergi keluar, suaminya tertabrak mobil dan tewas di tempat. Kini yang tersisa hanyalah dirinya bersama anaknya.
Manusia harus menjalani setiap hari dengan hati yang peka dan tajam, harus menggunakan hati untuk melihat dunia ini. Jangan serakah dan berebut, jalani setiap hari dengan baik. Jangan menganggap segalanya sebagai hal yang sudah sewajarnya atau semestinya, karena semua hal akan berubah. Kita harus menggunakan hati kita sendiri untuk menimbang, apakah dalam kehidupan ini layak untuk kita marah atau tersinggung. Mentalitas seorang praktisi Buddhis seharusnya adalah sikap menerima. Inilah yang dalam ajaran Buddha disebut menghilangkan ketidaktahuan. Banyak hal yang tidak kita pahami, maka tidak boleh menganggapnya tidak ada. Seperti pada tahun 1960-an, banyak orang meninggal karena tuberkulosis, padahal sebenarnya itu adalah kanker paru-paru. Sebelum kanker paru-paru dibuktikan oleh para ilmuwan, apakah itu berarti penyakit tersebut tidak ada? Tentu saja tetap ada. Diharapkan kita semua dapat menjalani sisa hidup dengan hati yang seimbang dan semangat untuk belajar, serta menyingkirkan ketidaktahuan, rajin belajar, menenangkan hati, serta membiarkan jiwa yang indah dalam diri kita memiliki sifat Kebuddhaan. Setiap hari membantu orang lain adalah belajar Buddha Dharma, dan setiap hari membuat orang lain bahagia adalah Bodhisattva di dunia.
Di dunia ini, kita harus mampu menyelaraskan mentalitas kita dengan baik. Jika kamu ingin membenci, maka di mana pun dalam kehidupan ini akan selalu ada hal yang bisa membuatmu membenci; dengan mudah kamu bisa membenci orang lain. Di dunia ini, kita harus belajar untuk bersyukur, dan meningkatkan rasa syukur itu menjadi rasa penuh terima kasih yang mendalam. Jika kita ingin bersyukur, maka di setiap tempat kita bisa menemukan alasan untuk bersyukur. Dengan hati yang penuh rasa syukur, barulah kita dapat memiliki hati yang penuh welas asih. Seorang praktisi Buddhis harus memulai dari hati yang tahu berterima kasih dan bersyukur. Berterima kasih kepada orang tua yang telah membesarkan kita, berterima kasih kepada guru, serta berterima kasih kepada pasangan yang pernah hadir dalam hidup kita karena telah membuat kita memahami kehidupan. Sebuah hati yang penuh rasa syukur akan membuatmu merasa bahwa orang lain itu semuanya sangat menyenangkan. Seorang praktisi Buddhis harus sungguh-sungguh berusaha mengubah ketidaktahuan dalam diri, membantu pertumbuhan dirinya sendiri. Jika kamu bertumbuh, maka segala hal akan berkembang perlahan sesuai dengan yang kamu perkirakan. Di dunia ini, hal yang paling penting adalah jangan menyalahkan orang lain, harus belajar untuk berbuat baik kepada sesama. Bukan dunia yang memilihmu, melainkan kamu yang memilih dunia ini. Karena sudah datang ke dunia ini, maka harus mengatasi kebiasaan buruk dalam diri, agar hati kita perlahan dapat menyesuaikan diri dengan dunia ini. Kerisauan di dunia ini, karena tidak bisa dihindari, maka lebih baik kita menghadapinya. Karena tekanan tidak bisa dihindari, maka lebih baik kita menyambutnya dengan hati yang penuh sukacita. Jika di dalam hati tidak ada “tanah suci”, maka sebaiknya kita sungguh-sungguh membina pikiran dan memelihara sifat yang baik. Jika keinginan belum tercapai, maka harus menyesuaikan jodoh. Berhati lapang dan berpikiran terbuka adalah dasar bagi seorang praktisi Buddhis. Bersikap tenang dalam menghadapi segala hal adalah kebijaksanaan seorang praktisi Buddhis. Bersikap ramah dan lembut adalah wujud pencerahan seorang praktisi Buddhis. Memahami kebenaran kehidupan adalah pembebasan bagi seorang praktisi Buddhis.
Hidup demi orang lain adalah tingkat kesadaran spiritual ketidakakuan. Banyak ibu hidup demi anak-anaknya; inilah sebabnya mengapa ibu begitu dihormati, dan mengapa Hari Ibu dirayakan dengan begitu meriah, sedangkan Hari Ayah tidak semeriah itu. Karena ibu berkorban lebih banyak dalam keluarga, sementara pengorbanan ayah tidak terlihat. Harus diingat, orang yang selalu memikirkan orang lain hidup dalam keadaan tingkat kesadaran spiritual ketidakakuan, sedangkan orang yang hidup hanya untuk diri sendiri adalah tingkat kesadaran spiritual keakuan. Mengapa sekarang ini keluarga begitu mudah mengalami konflik? Karena ibu memikirkan dirinya sendiri, ayah juga memikirkan kepentingannya sendiri, dan anak pun memikirkan kepentingannya sendiri. Setiap orang hidup bersama demi kepentingan pribadi—bagaimana mungkin tidak terjadi pertengkaran? Jika suami memikirkan istrinya, istri memikirkan suami dan anak-anaknya, dan anak-anak memikirkan untuk berbakti kepada orang tua, bagaimana mungkin keluarga yang seperti itu tidak hidup harmonis? Hiduplah untuk orang lain, karena jika hanya hidup demi diri sendiri akan terasa sangat menderita. Setiap hari berpikir, “Mengapa dia memperlakukanku seperti ini? Berapa banyak penderitaan yang diriku alami setelah menikah dengannya, diriku melahirkan anak untuknya, demi keluarga ini, kini diriku menjadi tua. Aku tidak pernah menikmati makanan enak atau pakaian bagus, tidak mendapatkan kenikmatan apa pun. Demi semua ini aku sudah berkorban terlalu banyak. Aku menderita, sangat menderita…”Orang yang selalu memikirkan dirinya sendiri akan selamanya hidup dalam penderitaan. Cobalah membalik cara pandang ini, hiduplah demi keluarga. Ketika melihat pertumbuhan anak, hati akan dipenuhi kebahagiaan. Anak itu bukan hanya milik suami, tetapi juga anakku sendiri. Segala penderitaan yang telah diriku jalani hingga hari ini, melihat anak tumbuh besar—sebagai seorang ibu, semuanya terasa berharga. Jika hidup untuk orang lain, kamu tidak akan dipenuhi oleh rasa cinta dan benci. Namun jika kamu hidup hanya untuk diri sendiri, maka akan muncul cinta dan benci, karena semakin banyak kamu memikirkan diri sendiri, semakin sedikit orang lain akan memikirkan untukmu.
Manusia tidak seharusnya terus memikirkan betapa menderitanya masa lalu, melainkan harus memikirkan hari ini dan saat ini. Pikirkanlah, pangeran Arab yang meninggal pada usia 33 tahun. Seseorang berkata kepada Master, “Master, Anda mengatakan banyak orang yang usianya 33 tahun adalah rintangan, benar, bahkan orang asing pun mengalaminya.” Pangeran itu memiliki kekayaan melimpah, tidak kekurangan apa pun, tetapi pada akhirnya yang kurang darinya adalah nyawa. Dalam hidupnya, ia memiliki segalanya, tetapi tidak memiliki nyawa. Hari ini, para teman se-Dharma yang hadir di sini, meskipun kalian tidak memiliki apa-apa, tetapi kita memiliki nyawa yang paling berharga di dunia ini.
Dalam berperilaku sebagai manusia, ajaran Buddha mengatakan bahwa kita harus menggunakan hati yang welas asih agar dapat melahirkan sikap toleransi. “Hari ini saya memaafkan istriku yang begitu lelah, biarlah dia memarahi beberapa kata,” “Saya memaafkan suamiku yang begitu lelah, menghadapi tekanan di tempat kerja, biarlah dia mengeluh beberapa kata,”inilah yang disebut toleransi. Orang yang memiliki toleransi akan lebih mudah menerima dan tetap tenang. “Tetap tenang” berarti seperti yang dikatakan orang sekarang: “Ketika dimarahi orang lain, saya tidak membalas.” Inilah kunci untuk menyelesaikan masalah dalam hidup.
Di Sydney ada seorang teman se-Dharma yang dulu setiap hari diliputi kerisauan di rumah. Ia selalu mengkhawatirkan pertumbuhan anaknya, setiap hari memperhatikan anaknya, tetapi justru setiap hari dimarahi oleh anaknya. Ia juga mengkhawatirkan suaminya, namun malah sering disalahkan oleh suaminya karena dianggap terlalu ikut campur. Ia berpikir, “saya melakukan semua ini demi kebaikan mereka, mengapa mereka memperlakukanku seperti ini? Kalau sekarang saja sudah seperti ini, nanti saat saya tua, siapa yang akan merawat saya?”Setiap hari ia hidup dalam kemarahan dan kebencian, kepada siapa pun ia selalu mengeluh, tetapi di dalam hatinya ia tidak rela meninggalkan keluarga ini. Setelah belajar Buddha Dharma, ia mulai memahami untuk melepaskan ego kecilnya. Ia mulai peduli pada tetangga, bergaul dengan semua orang, setiap hari melafalkan paritta, membimbing orang lain, dan membantu menyelesaikan kerisauan orang lain. Suami dan anak-anaknya melihat bahwa ia telah berubah, “Ibu tidak lagi banyak menasihati kami, tetapi diam-diam selalu menyayangi kami.”Semakin ia menasihati orang lain, hatinya semakin tercerahkan. Ia menyadari bahwa masih banyak orang yang hidup lebih menderita darinya. Ia sering berkata kepada orang lain, “Ketika kita masih bisa menonton televisi dengan mata kita, saya teringat berapa banyak orang yang buta; ketika saya masih bisa memilih sepatu untuk dipakai, di dunia ini ada puluhan ribu orang yang tidak memiliki kaki; ketika saya berpikir bahwa saya masih bisa hidup dengan baik, ada begitu banyak orang yang bahkan tidak dapat melihat hari esok.”Dengan mentalitas seperti ini, ia hidup dengan lapang dan bahagia, semakin lama semakin tidak menderita. Ia pun memahami makna kehidupan. Ia berkata, “Saya ingin hidup demi semua makhluk. Sekarang saya adalah orang yang paling penuh sukacita Dharma di dunia ini.” Oleh karena itu, ia memancarkan cahaya Buddha dan dipenuhi dengan sukacita Dharma.
Rasa cukup adalah sesuatu yang kita miliki dalam diri sendiri. Setiap hari, lihatlah apa yang sudah kita miliki, maka kita akan merasa cukup. Tidak serakah terhadap hal-hal yang tidak kita miliki. Di dunia ini, banyak karma yang kita ciptakan berasal dari mulut kita, dimulai dari ucapan kita. Budaya tradisional Tiongkok mengatakan, “Malapetaka keluar dari mulut, penyakit masuk dari mulut.” Menjaga ucapan sama dengan mengendalikan hatimu. Master mengajarkan beberapa kalimat penting dalam kehidupan, semoga kalian mengingatnya: Saat tidak mengerti, jangan berbicara sembarangan. Saat mengerti, jangan banyak bicara. Saat hati kacau, bicara dengan pelan-pelan. Saat tidak ada topik pembicaraan, jangan bicara. Jagalah karma ucapan dan rajinlah melafalkan paritta, sehat pikiran dan jasmani, menjalankan praktik Amitabha.
Jagalah emosi diri sendiri, dan belajarlah untuk meredakan segala perasaan tidak menyenangkan dalam diri. Banyak orang sebenarnya menciptakan masalah untuk dirinya sendiri, setiap hari hatinya tidak bahagia. Jika kamu memilih untuk tidak bahagia, maka ke mana pun kamu pergi semuanya akan terasa tidak menyenangkan. Naik bus umum, melihat orang ini terasa menjengkelkan, melihat orang itu tidak enak dipandang, memakai pakaian seperti itu, bau tubuh, rambut dibuat seperti kembang kol… Coba pikirkan, adakah sesuatu yang bisa membuatmu merasa senang? Tidak ada satu pun. Manusia harus mengerti untuk tidak membiarkan hal-hal dalam kehidupan memengaruhi emosinya. Kita manusia seperti boneka yang dikendalikan oleh orang lain. Hari ini suasana hati kita sangat baik, tetapi ketika anak pulang dan berkata, “Ibu, nilai ujianku tidak bagus,” langsung marah dan memarahi anak, seluruh suasana hati menjadi rusak. Mengapa kita harus dikendalikan oleh orang lain? Mengapa kita tidak bisa mengendalikan emosi kita sendiri?
Kita harus belajar untuk memberi berkat. Ketika menghadapi jodoh yang tidak lancar, kita harus mengerti bagaimana menggunakan hati untuk mengubahnya. Saya pernah menceritakan sebuah kisah, seorang pengusaha besar sepatu ingin mengembangkan pasar di sebuah pulau. Ia terlebih dahulu mengirim seorang manajer umum ke sana. Setelah tiba di pulau tersebut, manajer itu mengirim telegram: “Bos, tidak ada peluang. Semua penduduk pulau tidak memakai sepatu, sama sekali tidak ada harapan.” Kemudian, bos itu mengirim seorang tenaga penjualan untuk melakukan survei lagi. Setelah sampai di pulau, tenaga penjualan tersebut mengirim telegram: “Bos, ini luar biasa! Segera kirimkan kontainer sepatu. Penduduk pulau tidak punya sepatu sama sekali, saya akan membuat setiap orang memakai sepatu.”Inilah yang disebut mentalitas. Hal yang sama bisa menimbulkan dua perasaan yang berbeda di dalam hati seseorang. Oleh karena itu, ketika menghadapi hal yang tidak kita sukai, jangan bersedih. Coba pikirkan, apakah seminggu kemudian kamu masih akan merasa sedih? Ketika menghadapi penderitaan yang besar, pikirkan, apakah setahun kemudian kamu masih akan merasa menderita? Pasti tidak. Inilah yang disebut menyesuaikan jodoh dalam keadaan lancar atau tidak lancar, mengendalikan hidup dan mati sendiri. Hati kita dikendalikan oleh diri kita sendiri, dan kebahagiaan kita juga ditentukan oleh diri kita sendiri.
Seorang biksu kecil setiap pagi bertugas menyapu daun-daun kering di halaman vihara. Setiap kali angin bertiup, daun-daun selalu berjatuhan dan tersebar memenuhi halaman. Setiap pagi, biksu kecil itu harus menghabiskan banyak waktu untuk menyapu semua daun tersebut. Ia pun terus berpikir untuk mencari cara agar pekerjaannya bisa menjadi lebih ringan. Seorang biksu berkata kepadanya, “Besok sebelum kamu mulai menyapu, coba goyangkan pohon dengan kuat agar semua daun jatuh sekaligus. Dengan begitu, lusa kamu tidak perlu lagi menyapu daun.”Biksu kecil itu merasa itu adalah ide yang bagus. Keesokan harinya, ia bangun sangat pagi dan dengan sekuat tenaga menggoyangkan pohon-pohon. Dengan cara itu, ia bisa menyapu bersih daun untuk hari ini dan juga untuk hari esok. Sepanjang hari itu, suasana hatinya sangat bagus, ia merasa sangat senang. Namun, pada hari berikutnya, ketika biksu kecil itu melihat ke halaman, ia pun tercengang. Halaman itu kembali dipenuhi daun-daun seperti biasanya. Seorang biksu tua berjalan mendekat dan berkata kepada biksu kecil, “Anak bodoh, tidak peduli seberapa keras kamu berusaha hari ini, daun-daun yang gugur tetap akan jatuh lagi besok.” Akhirnya biksu kecil itu mengerti bahwa di dunia ini banyak hal yang tidak bisa dipersiapkan terlebih dahulu. Hanya dengan sungguh-sungguh hidup di saat ini, itu barulah sikap hidup yang paling nyata.
Orang-orang zaman sekarang, banyak yang suka “meminjam” kerisauan dari hari esok. Padahal masalahnya belum datang, setiap hari tidak bisa tidur dengan nyenyak, berpikiran buntu dan tidak bisa memahami dengan jernih. “Bagaimana kalau nanti menantu perempuan memperlakukan saya dengan tidak baik?” Melihat anak laki-lakinya mulai berpacaran dengan seorang wanita asing, lalu berpikir, “Bagaimana saya bisa berkomunikasi dengannya?” Setiap hari mereka meminjam kerisauan masa depan, hingga membuat diri sendiri tidak bisa tidur nyenyak dan kehilangan selera makan. Ingin menyelesaikan lebih awal, itu tidak ada cara untuk menyelesaikannya. Kehidupan ini dijalani selangkah demi selangkah. Berusaha melakukan segalanya dengan baik hari ini, itulah hidup di saat ini. Ketika masalah datang, segera selesaikan. Potensi kesadaran muncul dalam proses menyelesaikan masalah atau kerisauan tersebut. Oleh karena itu, dalam ajaran Buddha disebutkan, “Kerisauan adalah Bodhi”. Ketika seseorang memiliki kerisauan, ia akan memiliki kebijaksanaan untuk menyelesaikannya. Banyak jalan dalam hidup ini dibentuk oleh langkah kita sendiri. Ketika memiliki potensi kesadaran, kamu akan mengerti lebih banyak prinsip kehidupan. Master memberi tahu kalian semua sebuah lirik dari Perjalanan ke Barat — “Di manakah jalan itu? Jalan itu berada di bawah telapak kaki kalian sendiri.”
Sebuah jam kecil yang baru saja dirakit diletakkan di antara dua jam tua. Kedua jam tua itu terus berdetak, “tik-tak, tik-tak”, berjalan dari detik ke detik. Salah satu jam tua berkata kepada jam kecil, “Ayo, sekarang sudah waktunya kamu mulai bekerja. Tetapi Aku agak khawatir, setelah kamu berdetak sebanyak tiga puluh dua juta kali, mungkin kamu tidak akan sanggup lagi.” “Ya ampun! Tiga puluh dua juta kali?” seru jam kecil dengan terkejut. “Aku harus melakukan pekerjaan sebesar itu? Aku tidak sanggup, Aku benar-benar tidak bisa.”Jam tua yang satunya lagi berkata, “Jangan dengarkan omong kosongnya. Tidak perlu takut. Kamu hanya perlu berdetak sekali setiap detik, itu saja.”“Wah, benarkah sesederhana itu?” tanya jam kecil dengan setengah percaya setengah ragu. “Kalau memang begitu, Aku akan mencobanya.”Lalu jam kecil mulai berdetak dengan santai, sekali setiap detik. Tanpa disadari, satu tahun pun berlalu. Dengan santai, ia telah berdetak sebanyak tiga puluh dua juta kali.
Kisah ini memberi tahu kita bahwa banyak orang sering kali tidak mengetahui apa yang seharusnya mereka lakukan. Ketika masih muda, mereka memiliki impian, tetapi merasa impian itu terlalu jauh sehingga tidak berani memikirkannya. Akibatnya, mereka justru semakin menjauh dari impian tersebut. Berbagai kesulitan hidup dan beban berat yang dipikul di pundak sering membuat kita kebingungan, tidak tahu bagaimana harus menghadapi perjalanan hidup selanjutnya. Sebagai praktisi Buddhis, kita semua berharap agar cita-cita dan harapan kita dapat terwujud. Namun, kesuksesan sering kali terasa begitu jauh dan sulit diraih. Kemalasan serta kurangnya rasa percaya diri membuat kita meragukan apakah kita memiliki kemampuan untuk belajar Buddha Dharma dengan baik dan apakah kita memiliki tekad yang kuat dalam menjalani kehidupan. Karena keraguan itu, banyak orang akhirnya menyerah. Menyerah terhadap keluarga, menyerah terhadap pekerjaan, bahkan menyerah untuk menjaga kesehatan dan melatih tubuh mereka. Berapa banyak orang yang menderita kanker mampu bertahan hidup hingga hari ini berkat keteguhan tekad mereka sendiri. Namun, ada pula yang setelah divonis mengidap kanker langsung kehilangan harapan, mengalami kehancuran batin, bahkan meninggal lebih cepat daripada yang diperkirakan dokter. Sesungguhnya, kita tidak perlu terlalu memikirkan apa yang akan terjadi di masa depan. Yang terpenting adalah hanya menanam dan tidak bertanya apa yang dituai. Selama kita bersikap baik kepada orang lain, suatu hari nanti orang lain juga akan bersikap baik kepada kita, mungkin sebulan, atau setahun kemudian. Yang perlu kita pikirkan adalah, hari ini saya harus menjadi orang baik, melafalkan paritta dan menekuni Dharma; besok saya akan dengan penuh welas asih menolong serta membimbing makhluk hidup, dan berusaha menyelesaikan segala hal yang ingin saya capai. Seperti jam itu yang terus berdetak dan berayun dari detik ke detik menjalani satu hari, sukacita mencapai Kebuddhaan pun akan perlahan-lahan meresap dan memenuhi tubuh serta hati kita.
