Bunga Teratai Bermekaran dengan Semarak, Tanah Suci di Dunia Bersatu Kembali (Bagian 1) 莲花朵朵竞开放 人间净土大团圆 (上)

Bunga Teratai Bermekaran dengan Semarak, Tanah Suci di Dunia Bersatu Kembali (Bagian 1)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 22 Juni 2015

Bunga teratai bermekaran dengan semarak, kerisauan di hati terlepaskan, segala sesuatu di dunia ini menyesuaikan jodoh. Tanah suci di dunia bersatu kembali.

Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma. Terima kasih kepada para biksu atas dukungan mereka. Terima kasih kepada teman-teman se-Dharma di seluruh dunia. Beberapa hari ini kita dipenuhi dengan sukacita Dharma, alam Dharma telah sempurna! Terima kasih kepada Kelompok Ambulans St. John Hong Kong. Terima kasih kepada teknisi audio dan para relawan teater atas dedikasi mereka. Hari ini kita telah menambah 1.200 bunga teratai lagi di Surga. Jika kita setiap hari hidup di dunia ini dengan hati yang baik dan penuh welas asih, dunia ini pasti akan menjadi lebih indah.

Waktu tidak menunggu siapa pun. Kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk banyak berbuat jasa kebajikan dan belajar ajaran Buddha Dharma dengan sungguh-sungguh, barulah bisa terbebas dari kerisauan duniawi, melampaui enam alam, dan memasuki Empat Alam Brahma. Ajaran Buddha berbicara tentang sebab-akibat tiga kehidupan, yang dimaksud adalah semua yang kamu alami di kehidupan sekarang adalah balasan dari perbuatan yang kamu lakukan di kehidupan sebelumnya. Orang yang mengumpulkan berkah dan kebajikan di kehidupan lampau akan menikmati hasilnya di kehidupan ini. Banyak orang yang menciptakan karma buruk dalam kehidupan ini, sekarang periode akhir Dharma sudah tidak dapat menunggu kehidupan berikutnya untuk menerima akibatnya. Dalam kehidupan ini langsung  menerima balasannya, hukuman mati, penjara, bunuh diri, kecelakaan hingga meninggal di tempat, dan sebagainya… semua ini adalah balasan karma langsung di kehidupan sekarang. Jika hari ini kamu merasakan bahwa akibat itu sudah menimpa dirimu, berarti kamu sedang mengalami balasan karma di kehidupan ini.

Berharap semua orang harus memahami bahwa kita tidak boleh menciptakan karma baru. Hari ini, Bodhisattva berulang kali meminta saya untuk menyampaikan kepada kalian: “Jangan menciptakan karma baru.” Karma lama, berdasarkan prinsip pembinaan diri dan pertobatan kalian, Bodhisattva bisa membantu kalian  menghapuskan banyak. Namun, jika kalian menciptakan karma baru, maka karma lama dan karma baru akan dibalas bersamaan. Beri contoh sederhana: seseorang pernah mencuri saat kecil, tetapi kemudian tidak pernah mencuri lagi, tidak ada orang yang akan menyebutnya pencuri. Namun jika seorang orang pernah mencuri, lalu hingga usia dua puluhan atau tiga puluhan, masih mencuri sepuluh tahun sekali, orang akan berkata, “Kamu mencuri sejak kecil sampai sekarang, mengapa kamu tidak bisa mengubah kebiasaan buruk ini?” Kita praktisi Buddhis, kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu tidak boleh diulangi lagi dengan menciptakan karma baru. Jika tidak, karma lama belum selesai, karma baru sudah tercipta lagi. Jika kita ingin menjaga masa depan kita agar tetap aman dan berjalan lancar, maka kita tidak boleh menciptakan karma baru.

Di masyarakat, banyak orang yang setiap hari hidup dalam keluhan, sehingga menyia-nyiakan kehidupan yang berharga. Bersungguh-sungguh dalam membina pikiran dan menekuni Dharma berarti menantang diri sendiri. Hal yang paling sulit bagi manusia untuk ditaklukkan bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri. Jika ingin mengubah orang lain, harus terlebih dahulu mengubah diri sendiri—itulah yang disebut kesadaran yang benar. Jika selalu merasa bahwa orang lain yang salah, itu adalah pandangan yang keliru. Praktisi Buddhis tidak boleh memiliki pandangan yang keliru. Berharap semua orang memiliki keyakinan yang benar dan pikiran yang benar. Perubahan diri dimulai dari diri sendiri: seringlah bertobat, jadilah orang yang tidak ada dendam, dan jadilah pribadi yang berhati murni. Orang seperti ini, di dunia ini, barulah dapat disebut sebagai “Zi Zai Fo — Buddha yang bebas dan leluasa.”

Ada seorang pria berusia 50-an tahun. Ia selalu mengeluh di depan anak-anak muda dengan berkata, “Kalau sekarang Aku berusia 20 tahun, Aku pasti akan lebih hebat dari kalian semua, Aku akan meraih banyak prestasi.” Anak-anak muda itu tidak setuju dan bertanya, “Lalu, apa yang kamu lakukan saat berusia 20-an?”Pria itu menjawab, “Saat Aku berusia 20-an, Aku masih iri pada anak-anak belasan tahun, Aku belum mencapai masa kedewasaan.”Anak muda itu bertanya lagi, “Kalau begitu, setelah kamu mencapai masa kedewasaan, apa yang kamu lakukan?”Ia menjawab, “Aku kembali berpikir untuk berbuat lebih banyak.”Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Orang yang tidak berusaha dan tidak bersikap nyata itu seperti langit—meskipun diberi tambahan seratus tahun, tetap hanya akan menjadi omong kosong. Praktisi Buddhis tidak boleh hanya berbicara di mulut saja, tetapi harus benar-benar membina pikiran, dengan tulus membina diri dan berusaha yang tekun. Itulah yang disebut hidup di saat ini. Praktisi Buddhis tidak boleh menyia-nyiakan waktu dan masa muda dengan terus-menerus mengeluh. Coba pikirkan, banyak dari kalian yang hadir di sini, waktu hidup kalian sudah berlalu lebih dari setengahnya—tidak boleh lagi disia-siakan. Tanpa jasa kebajikan, dengan apa kita akan bertemu ibu kita? Dengan apa kita bisa kembali ke Alam Surga? Lebih banyaklah menuntun orang lain dan sungguh-sungguh melafalkan paritta. Itulah mentalitas yang seharusnya dimiliki oleh orang yang benar-benar belajar ajaran Buddha Dharma. Kadang-kadang pikirkanlah, mengapa sudah berusia 50 tahun, mengapa sudah beranjak menuju 60 tahun, mengapa sudah 70 tahun… Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali. Hanya dengan menghargai setiap tetes waktu yang ada dan menyikapi hidup dengan benar, barulah kita dapat benar-benar memiliki waktu dan memiliki kehidupan.

Praktisi Buddhis harus memandang dirinya sebagai kosong, harus melihat bahwa dirinya sendiri adalah kosong, sehingga tidak ada lagi kerisauan. Hendaknya sering berpikir: “Apa hebatnya saya? Saya tidak ada hebatnya. Saat saya datang, saya tidak membawa apa-apa; saat saya pergi, saya juga tidak ingin membawa apa-apa.” Dengan demikian, kita tidak akan menimbulkan kerisauan karena keakuan, dan tidak akan setiap hari merasakan iri hati atau fitnah dari orang lain akibat kesombongan dan keangkuhan diri. Jika kamu merasa dirimu hebat, ketika orang lain mengatakan hal yang buruk tentangmu, kamu akan menyimpannya di dalam hati, “Mengapa kamu memperlakukan saya seperti ini? Tahukah kamu siapa saya?” Siapa kamu? Kamu hanyalah seseorang yang tanpa nama. Ketika datang ke dunia ini, kamu bahkan tidak memiliki nama. Lalu siapa kamu? Ketika kamu pergi nanti, siapa pula dirimu? Ratusan tahun kemudian, siapa pula dirimu? Jika dipikir dengan jelas dan dipahami dengan benar, barulah kita mengerti bahwa kehidupan ini hanyalah tempat persinggahan dalam perjalanan kita, bukan rumah kita yang sebenarnya. Hari ini, saat upacara pengangkatan murid, banyak murid berkata: “Master, saya telah menemukan jalan pulang.”

Penderitaan seseorang adalah hasil ciptaannya sendiri, kerisauan adalah hasil pikirannya sendiri, kemarahan adalah hasil yang ia lahirkan sendiri. Sama seperti melahirkan anak, jika kamu tidak melahirkan, dari mana datangnya anak? Jika kamu tidak marah, dari mana datangnya amarah? Belajar ajaran Buddha Dharma dengan baik. Mulai dari hari ini jangan marah lagi, jika kamu tidak marah, amarah itu akan hilang dengan sendirinya. Untuk menjadi orang yang bahagia, kita harus meninggalkan kemarahan, meninggalkan kerisauan, tidak mencari penderitaan, maka kita akan selamanya terbebas dari penderitaan.

Umat awam yang belajar Buddha Dharma harus mengerti untuk menyesuaikan jodoh. Misalnya, ketika terjatuh, hati merasa kesal: “Kenapa hari ini saya bisa jatuh?” Tetapi jika dipikir dengan cara pandang Buddhisme: “Hari ini saya jatuh, bagus sekali! Saya tidak terluka, berarti saya telah melewati satu rintangan!” Jika kita memandang masalah dengan hati yang baik, kita akan memperoleh balasan yang baik. Jika memikirkan sesuatu dengan benih kejahatan, semakin dipikir akan semakin takut. Setiap orang harus belajar berpikir ke arah yang baik. Hati manusia juga demikian, hanya dengan menganggap orang lain sebagai Bodhisattva, hatimu akan penuh dengan Bodhisattva; tetapi jika kamu menganggap orang di sekitar sebagai orang jahat, maka hatimu pasti akan dipenuhi dengan kejahatan.

Seorang pemuda mengunjungi seorang bijak. Dia bertanya: “Master, hari manakah dalam kehidupan manusia yang paling penting? Apakah saat kelahiran, atau saat kematian? Apakah saat jatuh cinta, atau saat meraih kesuksesan dalam karier yang paling penting?” Orang bijak memberitahunya: “Yang paling penting dalam hidup adalah hari ini!”Pemuda itu bertanya lagi: “Mengapa?”Sang bijak berkata: “Karena hari ini adalah satu-satunya kekayaan yang kita miliki. Masa lalu sudah tidak ada, masa depan belum kita dapatkan, hanya hari ini adalah satu-satunya harta kita. Kemarin, betapapun banyak hal yang layak untuk dikenang, dirindukan, atau dibanggakan, semuanya telah benar-benar berlalu; besok, betapapun banyak impian atau kejayaan, semuanya belum datang.” Hari ini, betapapun biasanya hidup, tetap berada dalam genggaman kita sendiri, dan kitalah yang mengendalikannya. Peganglah erat saat ini, mantapkan hari ini, dan belajarlah ajaran Buddha Dharma dengan sungguh-sungguh, itu berarti kamu sedang membangun kembali kehidupanmu, sedang membersihkan sifat dasarmu, barulah kamu bisa memperoleh masa depan, karena hanya dengan menggenggam baik hari ini, barulah akan ada masa depan yang indah. Pemuda itu masih ingin bertanya lagi, namun sang bijak berkata: “Ketika kita membicarakan pentingnya hari ini, sebenarnya kita sudah menyia-nyiakan sebagian dari hari ini, dan waktu yang kita miliki pun semakin berkurang.” Coba pikirkan, kalian yang duduk di sini dengan penuh sukacita Dharma, mempelajari lebih banyak kebijaksanaan dan ajaran Buddha. Namun, ada banyak orang yang masih tidur, bermain mahjong, dan ada juga yang menghabiskan hari dengan makan dan minum saja. Hari ini tidak akan pernah kembali lagi ke dunia ini. Setiap hari selama kita masih hidup, kita harus melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Kita harus menolong sesama, dan menjadi “insinyur bagi jiwa manusia”. Satu-satunya modal yang kita miliki, juga satu-satunya kesempatan, yakni hari ini. Apa yang seharusnya kita lakukan hari ini adalah melupakan hari kemarin, dan memanfaatkan hari ini dengan sebaik-baiknya, barulah banyak impian yang dapat terwujudkan, barulah akan memiliki masa depan yang indah di hari esok. 《Sutra Vajra》 mengatakan: “Pikiran masa lalu tidak dapat diperoleh, pikiran masa kini tidak dapat diperoleh, dan pikiran masa depan juga tidak dapat diperoleh.”

Orang yang paling tidak kita kenal sebenarnya adalah diri kita sendiri. Master sering berkata kepada orang lain, “Kalian tidak mengenal diri sendiri.” Banyak orang tidak memahami sifat dan temperamen mereka sendiri; mereka hanya mengetahui lapisan luar, tetapi tidak memahami batin mereka. Kita sebenarnya memiliki sepasang mata, tetapi kita tidak dapat melihat diri kita sendiri. Mata kita selalu melihat ke luar, melihat orang lain. Oleh karena itu, kekurangan orang lain dapat kita lihat dengan sangat jelas, tetapi kekurangan diri sendiri justru tidak pernah kita sadari. Setiap hari, mata kita memandang ke luar untuk mencari kesalahan orang lain, namun tidak melihat kekurangan diri sendiri. Mata kita ini harus digunakan dengan kebijaksanaan, harus melihat ke dalam hati kita sendiri: seberapa besar welas asih yang kita miliki, seberapa banyak kebaikan dalam diri kita. Kita harus menggunakan sifat Kebuddhaan dengan baik untuk menjalani kehidupan di dunia ini. Namun, dalam mata kita, yang terlihat selalu adalah ketenaran, kedudukan, kekayaan, dan keindahan—semua hal yang berada di luar diri. Apa yang dilihat oleh mata bukanlah bagian dari tubuh kita, sehingga semuanya termasuk hal-hal eksternal. Ketika mata melihat, hati pun ikut tergerak. Apa yang kita lihat setiap hari membuat kita mengejar dan menginginkannya. Demi mengejar ketenaran dan kekayaan, kita rela mengorbankan segalanya, hingga melupakan batin kita—diri sejati yang sudah lama tidak kita jumpai, kita pun akan tersesat dalam dunia fana.

Jika ingin menekuni Dharma, kita harus melihat ke dalam diri. Dalam pembinaan pikiran, ada yang disebut “mengamati hati”, yaitu melihat batin sendiri dan mengamati sifat Kebuddhaan dalam diri. Jika setiap hari kita mengamati sifat dasar diri sendiri, maka kita tidak akan lagi peduli pada ilusi dari lima nafsu dan enam kekotoran duniawi. Hal-hal yang biasanya membuat kita merasa malu atau tidak nyaman sebenarnya adalah hal-hal di luar diri, seperti gengsi, reputasi, kedudukan, mobil mewah, rumah besar… semua itu adalah sesuatu yang eksternal, bukan bagian dari batin kita. Kamu tidak akan terperdaya oleh rupa dan penampilan, karena kamu adalah orang yang belajar Buddha Dharma. Konsep ini muncul karena kamu telah belajar Dharma, tahu bahwa semua itu hanyalah hal-hal luar, bukan milikmu. Dengan demikian, kamu akan perlahan-lahan melepaskannya. Orang lain ekonominya baik atau memakai barang bermerek, semua itu adalah ilusi, kosong, dan tidak nyata, sehingga tidak akan menimbulkan ketidakseimbangan batin bagi praktisi Buddhis. Sebenarnya, apa yang kamu miliki belum tentu dimiliki orang lain. Tidak ada satu pun dari benda di luar tubuh yang bisa dibandingkan dengan kemurnian sifat Kebuddhaan dalam hatimu. Apa yang dimiliki orang lain hanyalah benda-benda di luar tubuh, sedangkan yang kita miliki adalah hal di Surga—yaitu kebijaksanaan, yang tidak dimiliki orang lain. Hargailah diri sendiri, tekunlah belajar Buddha Dharma, dan hiduplah dengan penuh keyakinan serta kejujuran, menampilkan sifat dasar yang penuh kebaikan.

Manusia harus memahami bahwa hal dan benda di luar diri tidak perlu dikejar. Banyak ibu-ibu tua yang sekarang terlihat sudah lanjut usia, mereka juga pernah memiliki masa muda. Masa muda yang telah berlalu tidak akan kembali lagi. Sebaiknya kita mengejar hal-hal yang bersifat dasar, melepaskan penampilan luar dan hal-hal material, tidak mengejar, tidak serakah, maka akan damai.