Menguraikan Kerisauan dan Penderitaan dengan Welas Asih, Ciptakan Tanah Suci Xin Ling Jing Tu dengan Kekuatan Tekad (Bagian 2) — 以慈悲化解烦恼苦痛 以愿力促成心灵净土(下)

Seminar Dharma New York, 21 September 2014

Menguraikan Kerisauan dan Penderitaan dengan Welas Asih, Ciptakan Tanah Suci Xin Ling Jing Tu dengan Kekuatan Tekad

Tanpa orang yang membangun jalan, bagaimana bisa ada jalan besar yang bersinar keemasan? Tanpa orang yang menanam bunga, bagaimana ada bunga segar yang bermekaran? Tanpa welas asih praktisi Buddhis, bagaimana semua makhluk dapat terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan? Pikirkanlah, Sang Buddha, Guan Shi Yin Pu Sa, Buddha Jigong, dan para Bodhisattva lainnya di kala itu, demi menyebarkan ajaran Buddha Dharma ke dunia, mereka telah menderita kesulitan yang tak terhitung banyaknya.  Kita harus memahami untuk menjalin jodoh baik secara luas, menyelamatkan semua makhluk yang berjodoh secara luas. Banyak orang bertanya kepada Master: “Mengapa orang lain memiliki begitu banyak jodoh penolong, tetapi aku tidak punya?” Master memberi tahu kalian semua, jodoh penolong tercipta oleh kalian sendiri, ketika kalian membantu orang lain, kalian telah menanam benih jodoh penolong. Jika suatu hari nanti ada orang yang datang membantumu, dialah penolongmu. Kamu menanam benih yang baik, baru bisa mendapat penolong untuk berkumpul bersama.

 

Kita harus memahami untuk memperlakukan setiap menit kehidupan sebagai bagian dari hidup, harus menghargai waktu. Berharap kalian semua teman se-Dharma jangan bermain mahjong. Kalian bermain mahjong di atas, hantu-hantu bermain mahjong di bawah. Ada orang yang ketika sedang bermain mahjong, hatinya berpikir “Bantu Aku, Aku ingin menang”, benar-benar akan menang. Akan tetapi, sejak itu hantu akan menatapmu, kamu akan kecanduan, Kamu akan merasa sedih jika tidak main mahjong, waktu akan tersia-siakan. Kita duduk di kereta kehidupan ini, tidak boleh menyia-nyiakan sedikit pun waktu. Kita harus menyelesaikan perbuatan baik di dunia, menyelesaikan jodoh baik kita, memberikan lebih banyak kontribusi, dan melakukan lebih banyak jasa kebajikan, sehingga kita bisa meninggal tanpa penyakit di masa depan, itu adalah joboh baik yang terbesar. Sangat sulit bagi seseorang untuk tidak sakit ketika meninggal dunia. Jika bisa tidur nyenyak, tanpa memasang selang apa pun, tidak ada rasa sakit di sekujur tubuh, maka dia sudah sangat diberkahi. Berharap semua orang harus memahami untuk membina berkah dan kebajikan, mewariskan lebih banyak kebajikan kepada anak, baru bisa  mewariskan lebih banyak kebajikan kepada anak dan cucu, generasi mendatang dan melindungi mereka.

 

Praktisi Buddhis harus memahami untuk mengubah realitas dan menjalani kehidupan yang bermakna sekarang – Saya ingin pergi membantu orang lain. Saya sudah sangat tua, tetapi saya masih bisa menolong orang lain, itu menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang memiliki kepercayaan diri. Melakukan perbuatan baik hari ini untuk mengumpulkan berkah dan kebajikan bagi generasi mendatang berarti melangkah keluar dari ego pribadi, megutamakan kepentingan universal, dan membantu semua orang, medan energi Bodhisattva baru akan selalu terserap di hatimu.

 

Di Thailand, ada seorang wanita yang membina diri. Ia bertemu dengan seorang biksu agung yang memberinya sebuah amulet dan meramalkan: “Kamu akan bereinkarnasi dengan amulet ini di masa mendatang, dan kamu akan memiliki lebih banyak karir setelah bereinkarnasi.” Sebelum meninggal, wanita itu memegang amulet dengan erat-erat di kedua tangannya dan dimakamkan bersamanya. Setengah tahun setelah kematiannya, adik perempuannya hamil. Itu adalah kehamilan pertamanya setelah lebih dari sepuluh tahun menikah. Saat janinnya lahir, tangan kanannya memegang erat amulet, persis sama dengan amulet milik mendiang bibinya, orang tua bayi itu sangat terkejut. Setelah petinya dibuka, mereka menemukan bahwa amulet di tangan bibinya telah hilang. Karena itu adalah pemakaman pribadi, tidak seorang pun pernah menggerakkan peti jenazahnya, jadi tidak mungkin peti jenazahnya dicuri. Tidak ada keraguan tentang reinkarnasi. Ramalan biksu agung itu menjadi kenyataan. Mereka menamainya Darada. Ketika bayi itu tumbuh besar, penampilannya persis seperti mendiang bibinya. Ketika berita aneh itu keluar, media dari semua lapisan masyarakat di Thailand pergi mengunjunginya. Anak itu dapat berjalan pada usia delapan bulan dan dapat berbicara pada usia satu tahun dua bulan, dan nada bicaranya seperti orang dewasa, dia bisa memberi perintah kepada orang lain. Ketika dia berusia 22 tahun, bisnisnya berkembang tiga kali lipat. Karena dia telah berikrar di kehidupan sebelumnya, “Aku harus bereinkarnasi dengan membawa amulet untuk melakukan karir yang lebih besar.” Kepribadian dan penampilannya sangat mirip. Dia bahkan membawa benda pemakaman dari kehidupan sebelumnya, yang menimbulkan kehebohan di Thailand pada saat itu. Kejadian ini menunjukkan bahwa praktisi Buddhis harus memiliki kekuatan tekad. Jika kamu terkena kanker hari ini, tidak peduli apa pun yang terjadi, bahkan jika kehilangan uang juga jangan takut, harus memiliki kekuatan tekad , maka akan memberimu motivasi untuk memenuhi keinginanmu. Keyakinan teguh seseorang dapat menghasilkan keajaiban. Perubahan seseorang sesungguhnya dimulai dari keyakinannya sendiri, percaya bahwa diri sendiri akan berubah, dan akan memperoleh kekuatan dari tekadmu. Banyak orang akan terkena kanker, ada orang sangat yakin bahwa Bodhisattva pasti akan menyelamatkannya, dan sumber sel kankernya benar-benar bisa berubah. Seseorang mau mengubah sifat buruknya, dia juga harus melawan kebiasaan buruknya, harus mempunyai keyakinan yang kuat – Saya pasti bisa mengubahnya, baru bisa benar-benar mengubah dirinya, baru bisa berubah dari orang biasa menjadi orang suci, baru bisa dari orang suci menjadi Bodhisattva di dunia.

 

Hidup itu tidak kekal. Semuanya adalah tidak kekal. Jangan marah, jangan sedih, harus berpikirkan terbuka dan mengerti, ini adalah hal yang biasa. Saat seseorang sedang marah, yang terbaik adalah orang lain jangan ikut marah bersamanya. Terkadang pada awalnya sangat senang di rumah, tetapi saat suami pulang dan marah, kamu juga langsung ikut marah. Hatimu selalu dikendalikan oleh orang lain, orang lain membuatmu sakit, dan kamu merasa sakit, orang lain membuatmu senang dan kamu akan merasa senang, orang sangat bodoh. Ketika seseorang melafalkan paritta, ia akan menerima aura. Semua orang tahu bahwa ada gelombang otak, ada orang yang berkata dengan bodoh: “Saya tidak melihatnya, saya tidak percaya.” Ketika orang sedang berpikir, dapatkah kamu melihat pikiranmu sendiri? Bisakah kamu melihat udara? Harus percaya. Di Amerika Serikat, terjadi perdebatan antara ilmuwan, ahli medis, dan ahli agama. Ilmuwan itu berkata, “Saya seorang astronom, saya telah mengamati langit sepanjang hidup saya, dan saya belum pernah melihat Tuhan, Buddha, atau malaikat, jadi saya tidak pernah percaya.” Ahli agama berkata, “Mohon bertanya kepada astronom ini, apakah Anda pernah melihat angin? Apakah Anda pernah melihat udara?” “Tidak.” Dan ada ilmuwan medis berkata, “Saya seorang dokter bedah, saya telah melakukan operasi sepanjang hidup saya, tetapi saya belum pernah melihat roh. Saya hanya pernah melihat liver, jantung, paru-paru…” Ahli agama bertanya kepadanya, “Mohon bertanya, apakah Anda mencintai istri Anda?” “Saya sangat mencintainya.” “Buka untukku lihat di mana cinta itu berada?” Banyak hal merupakan respon spiritual di hati, bukan yang terlihat oleh mata. Sebagai manusia, kita harus percaya pada ajaran Buddha dan mempraktikkannya. Banyak orang pergi ke kuil untuk bersujud setiap hari, tetapi tidak membina diri, maka tidak akan ada efeknya. Percaya tanpa mempraktikkannya hanya akan menunda waktunya sendiri. Banyak orang berkata, “Saya sangat percaya pada ajaran Buddha,” namun sebenarnya dia tidak percaya.

 

Membantu orang lain akan mempercepat pembinaan diri sendiri. Jika kamu membantu orang lain, kamu akan berkembang dengan cepat. Jika seorang guru terus mengajar siswanya, dia pasti akan membuat kemajuan besar. Kebaikan yang murni akan dibalas dengan kebaikan, dan kejahatan yang ekstrim akan dibalas dengan kejahatan. Kebaikan hati seseorang terhadap orang lain pasti akan dibalas dengan kebaikan. Banyak orang yang berbuat jahat akan langsung tertangkap. Mengapa banyak polisi dapat menemukan mayat tak dikenal begitu cepat? Karena arwah almarhum bisa memberitahunya melalui mimpi”di mana aku berada”,  polisi benar-benar dapat menemukannya. Ketika kita menyelamatkan orang, kita akan mempercepat kematangan karma. Jika kita terus membantu orang lain, balasan karma baik akan segera terbalaskan. Jika kita terus melakukan kejahatan di masyarakat saat ini, kita akan segera menerima balasan karma buruk. Berharap kita mendapat balasan karma baik, jangan ada balasan karma langsung.

 

Terkadang intuisi seseorang lebih dapat diandalkan daripada apa yang dilihatnya dengan mata. Ketika melihat rumah atau teman apakah boleh untuk bergaul, pandangan pertama adalah kesadaran keenam, adalah insting keenam. Jika begitu masuk ke dalam suatu rumah sudah merasa senang, berarti rumah itu pasti baik, karena kesadaran keenam setiap orang itu sangat peka; Jika merasa tidak nyaman begitu masuk, pasti ada arwah asing di dalamnya, kalian dapat sepenuhnya percaya pada diri sendiri. Jika agen properti sudah menjelaskan cukup lama, barulah kamu mulai menyukai rumah itu, itu bukanlah inspirasi dari kesadaran keenam. Sama halnya ketika melihat orang lain. Jika mempunyai firasat baik terhadap seseorang pada pandangan pertama, maka boleh berteman dengannya. Jika merasa tidak baik, kemudian mendengar dia berbicara, seperti ada pria yang baik kepada anak gadis. Awalnya si gadis tidak menyukainya sama sekali, tetapi kemudian dia mengatakan banyak hal baik, lalu merasa dia baik, ini adalah perubahan kesadaran. Master berharap kalian tidak akan memiliki pikiran jahat, tetapi sering memiliki pikiran baik, maka akan menjadi semakin baik. Jika sering berpikiran jahat, maka akan menjadi semakin jahat.

 

Master memberi tahu semua orang bahwa ada “enam tidak paham”: Jika tidak tahu menghargainya, memberimu sebuah gunung emas pun kamu tidak akan bahagia. Jika tidak mengerti untuk bersikap toleran, tidak peduli berapa banyak teman yang kamu miliki,  mereka juga akan meninggalkanmu. Jika tidak mengerti untuk bersyukur, tidak peduli seberapa pintarnya kamu, juga akan sulit bagimu untuk berhasil. Jika tidak mengerti untuk membina diri, tidak peduli seberapa banyak kamu melafalkan paritta kamu juga tidak akan dapat mencapai buah kesucian. Jika tidak mengerti untuk berpuas diri, tidak peduli seberapa kayanya kamu juga tidak akan bahagia. Jika tidak mengerti untuk berwelas asih, tidak peduli seberapa tekunnya kamu juga tidak akan bisa terbebaskan.

 

Jika kamu sekarang sudah memiliki kebahagiaan, maka harus menghargainya. Teman-teman se-Dharma yang kamu temui dalam hidup ini semuanya merupakan jodoh baik yang terkumpul melalui kehidupan yang tak terhitung banyaknya dengan berbagai kesulitan dan pembinaan bersama. Jika seseorang mengajakmu ke sini hari ini, itu adalah jodoh baikmu, dia adalah temanmu, baik-baiklah menghargainya. Uang, ketenaran dan kekayaan dalam hidup ini merupakan balasan berkah dari perbuatan baik dan pengumpulan jasa kebajikan di jalan reinkarnasi. Banyak orang berkata: “Dia begitu jahat, mengapa dia masih kaya dan menikmati berkah?” Karena berkah di kehidupan sebelumnya belum habis dinikmatinya. Lihatlah dunia saat ini, banyak orang menikmati berkah di masa lalu, mengapa mereka tidak memiliki berkah sekarang? Mengapa terjadi masalah? Bukan tidak ada pembalasan, hanya saja waktunya belum tiba. Jangan iri pada orang lain, dan jangan membenci orang lain. Semua orang berada di bawah pengawasan para Bodhisattva dan pejabat dari Alam Akhirat. Kita memiliki beberapa pengalaman tragis dalam hidup, yang merupakan akibat buruk yang tidak dapat kita hindari dari reinkarnasi. Berharap semua orang berhati-hati dan bertindak baik.

 

Seorang pemuda bertanya kepada guru Zen: “Ada orang memuji saya adalah jenius, dan ada yang menyebut saya bodoh. Guru, menurut Anda apakah saya jenius atau bodoh?” Guru Zen berkata: “Ini tergantung pada bagaimana kamu melihat dirimu sendiri. Misalnya, satu pon beras, kamu menggunakan pandangan yang berbeda untuk melihatnya, nilainya akan sangat berbeda.” Pemuda berkata: “Mohon Guru memberi petunjuk.” Guru berkata kepadanya: “Dari sudut pandang seorang ibu rumah tangga, satu pon beras hanya dapat membuat dua atau tiga mangkuk nasi. Dari sudut pandang seorang petani, satu pon beras paling banyak hanya bernilai 1 atau 2 yuan.  Dari sudut pandang penjual bakcang, membungkusnya menjadi bakcang dapat dijual seharga 3 yuan. Dari sudut pandang pembuat biskuit, mengolahnya menjadi biskuit dapat dijual seharga 5 yuan. Di mata pemilik pabrik MSG, mengolahnya menjadi MSG dapat dijual seharga 8 yuan. Dari sudut pandang pedagang arak, mengolahnya menjadi arak dapat dijual seharga 40 yuan. Berasnya masih sama beratnya dengan satu pon beras. Orang yang sama, sebagian orang mengangkatmu sangat tinggi, sementara sebagian lainnya meremehkanmu, tetapi pada kenyataannya kamu tetap kamu yang semula. Seberapa besar pencapaianmu dalam hidup bukan bergantung pada apa yang dipikirkan orang lain terhadap dirimu, melainkan bagaimana kamu memandang dirimu sendiri. ” Seperti halnya kehidupan kita praktisi Buddhis, jika ingin mencapai pencerahan, itu tergantung pada pemahaman dan kebijaksanaan kita sendiri. Kebijaksanaan praktisi Buddhis itu tidak berwujud. Dalam kehidupan manusia,  kebijaksanaan adalah kunci. Ketika menghadapi masalah di luar negeri, mengapa sebagian orang dapat menemukan cara untuk menyelesaikannya, sementara yang lain tidak berdaya dan menangis di rumah? Kita harus menggunakan kunci kebijaksanaan untuk membuka karma yang ditimbulkan oleh ketidakkekalan, tidak melekat, dan hidup sesuai jodoh. Mengenali kehidupan adalah awal dari tanggung jawab dan tempat untuk menciptakan karma baik dan menghilangkan karma buruk.

 

Saat ini, banyak hal mengikuti perkembangan zaman. Di toko-toko yang menjual kertas sembahyang, ada yang menjual jas, rumah, mobil, dan bahkan iPhone 6. Seorang pelanggan berkata, “Apakah ayah saya dapat menggunakannya setelah membakarnya?” Pemilik toko berkata, “Bos iPhone sudah turun tangan langsung untuk mengajarinya!” Maka hendaknya setiap orang harus memahami bahwa menekuni Dharma harus tulus.

 

Praktisi Buddhis harus tahu cara menghilangkan kerisauan. Ketika melihat hal yang sama, suasana hati yang berbeda akan menghasilkan hasil yang berbeda. Ketika terlambat pergi keluar makan, melihat hanya tinggal beberapa potong roti saja, sebagian orang berkata, “Aduh, datang terlambat, semua makanan sudah habis, hanya tersisa beberapa potong roti saja,” hati merasa sedih. Sebagian orang berkata, “Saya datang terlambat, tetapi masih ada beberapa potong roti yang tersisa untuk saya. Bagus sekali!” Itu sepenuhnya adalah suatu mentalitas. Kebahagiaan dan ketidakbahagiaan seseorang sepenuhnya berada di tangannya sendiri. Orang yang sering tersenyum dan sering gembira tidak akan sering mempunyai kerisauan. Orang yang sering berwajah cemberut dan tidak bisa tersenyum pasti tidak akan bahagia.

 

Berharap semua orang dapat belajar cara mengelola pikiran. Saat ini, universitas memiliki semua jenis manajemen, termasuk manajemen bisnis, manajemen keuangan, manajemen properti… tetapi tidak ada manajemen pikiran. Sekarang Master akan mengajarkan kalian cara mengelola pikiran diri sendiri. Orang-orang sekarang kurang pemahaman terhadap diri mereka sendiri, sehingga akan melakukan banyak kesalahan. Jika kamu sendiri bahkan tidak memahami dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa memahami orang lain? Tidak memahami baru akan menimbulkan konflik dengan orang lain. Dengan adanya konflik maka pasti akan menimbulkan kerisauan. Kendalikan pemikiran diri sendiri. kelola pikiran diri sendiri dengan baik, jaga kemurnian pikiran, menghargai jodoh dan jangan sering menyakiti diri sendiri karena ketidaktahuan orang lain. Jika seseorang tidak bisa menerima pendapat orang lain, berarti dalam hatinya penuh dengan keangkuhan. Harus memperbaiki tabiat buruk, harus menyingkirkan kebiasaan buruk, harus selalu berwelas asih, belas kasih kepada semua makhluk bagaikan terhadap diri sendiri, sering berpikir bahwa dia mungkin adalah saudaraku di kehidupan sebelumnya. Berpikiran terbuka, jangan marah, berpikir jernih baru bisa benar-benar memiliki keberadaan diri.

 

Dalam ilmu ekonomi, ada efek kuda malas, yang menyatakan bahwa masing-masing ada dua kuda yang menarik kereta. Satu kuda berjalan sangat cepat, dan satu kuda lagi berjalan sangat lambat. Jadi pemiliknya menaruh semua barangnya di kereta belakang ke depan. Kuda di belakang sangat gembira: semakin bekerja keras, semakin pula menyiksa diri sendiri! Saya berjalan pelan, dia meletakkan semua barang saya di depan, jadi saya bisa berjalan dengan nyaman. Setelah berjalan beberapa saat, pemiliknya berpikir: jika satu kuda dapat menyelesaikan masalah dua kereta, mengapa saya harus menggunakan dua kuda? Lalu dia menyembelih kuda itu dan memakannya. Inilah efek kuda malas. Jika kamu membuat atasan  merasa bahwa kamu tidak diperlukan lagi, maka kamu tidak lama lagi akan dipecat. Harus berpikir kemungkinan ada bahaya meskipun di lingkungan yang aman. Ada banyak masalah dan penderitaan dalam hidup di dunia ini. Kapan kamu bisa tahu bahwa dirimu akan berakhir? Tahu dirimu tidak akan terkena kanker? Kita harus mengerti untuk tekun dalam menghadapi bencana alam dan bencana ulah manusia. Pikirkan, tiga pesawat jatuh dalam delapan hari, lebih dari 600 orang kehilangan nyawa. Bagaimana jika kalian berada di pesawat itu? Semua orang di pesawat Taiwan tewas kecuali seorang ibu dan anak perempuannya. Mereka melafalkan “Guan Shi Yin Pu Sa” dan mereka mampu selamat setelah pesawat jatuh. Inilah berkat dari Bodhisattva. Berharap semua orang harus banyak memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa untuk memberkati kita, berpikir kemungkinan ada bahaya meskipun di lingkungan yang aman.

 

Jika orang tidak mau membina diri dan sedikit bermalas-malasan, maka dia akan diganggu oleh takdir. Serakah akan kenikmatan dan tidak tahu untuk mengikis karma, maka akan segera ditelan oleh air keruh dunia. Hati orang-orang zaman sekarang sangat jahat, mereka tidak tahu untuk membantu orang lain, setelah berbuat jahat, malah berpikir untuk pergi. Seorang pria mengendarai sepeda motor menabrak seorang pria tua di daerah pusat kota. Pria itu sangat ketakutan sehingga dia tidak tahu harus berbuat apa, dia ingin melarikan diri, tetapi semakin banyak orang berkumpul di sekitarnya. Tiba-tiba dia memeluk pria tua itu dan berkata sambil menangis: “Ayah, tunggu Aku, Aku akan segera mencari dokter.” Setelah berkata demikian, dia melarikan diri. Pria tua itu sangat marah, dia berusaha untuk duduk dan berkata, “Baiklah, kembali ke sini.” Semua orang di sampingnya memuji: “Sungguh anak yang berbakti!” Orang yang menutupi kekurangannya sendiri dengan menyakiti orang lain adalah korban trauma mental. Keegoisan manusia bagaikan bom waktu, yang diletakkan di sampingmu, dan suatu hari nanti akan meledak dan melukaimu. Sebagai orang harus murni, kalau kamu tidak menyukai orang lain, itu artinya pembinaan dirimu kurang. Saat orang marah, IQ-nya adalah nol, setelah beberapa waktu akan pulih kembali, yang akan menyertaimu adalah penyesalan. Kunci kemuliaan seseorang adalah belajar mengendalikan emosinya sendiri. Ketidakbebasan di dunia biasanya berasal dari terkendali oleh emosi negatif di dalam diri, kita harus belajar mengendalikan diri sendiri dan terus bekerja keras. Hanya dengan benar-benar percaya pada keberadaan Bodhisattva, baru dapat membuat orang lain percaya padamu. Hanya jika kamu sungguh-sungguh yakin bahwa hatimu yang murni dapat membantu orang lain, barulah kamu bisa benar-benar memperoleh bantuan dari orang-orang di dunia.

 

Di kantor pusat Volvo di Swedia, perusahaan ini sangat besar dan memiliki lebih dari 2.000 tempat parkir. Orang yang datang lebih awal selalu parkir paling jauh dari kantor. Wartawan bertanya, “Apakah kalian punya tempat parkir tetap?” Mereka berkata, “Kami datang lebih awal. Kami punya waktu boleh berjalan lebih banyak. Rekan kerja yang datang lambat mungkin akan terlambat dan merasa cemas, jadi kami membiarkan mereka parkir dekat dengan gedung kantor.” Kita harus belajar berpikir untuk orang lain, praktisi Buddhis harus lebih banyak memikirkan orang lain, baru bisa memiliki hati yang baik dan hati seorang Buddha. Menekuni Dharma berarti harus belajar cara mengesampingkan kerisauan di dunia. Manusia, hal-hal, dan benda semuanya merupakan hambatan bagi kita. Hanya dengan memahami secara mendalam dan memperoleh pencerahan sepenuhnya, kita baru dapat kembali kepada kebajikan sifat dasar manusia.

 

Baik-baiklah menekuni Dharma dan membina pikiran. Perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan, dan perbuatan jahat akan dibalas dengan kejahatan. Jadilah orang baik hari ini, orang yang memiliki hari ini akan memiliki masa depan. Orang yang selalu hidup di masa lalu tidak akan memiliki masa depan. Berpuas diri dan selalu bahagia, hidup di luar negeri dengan bahagia. Anak kita adalah datang untuk menagih hutang atau membayar hutang. Kita melunasi semua hutang di kehidupan ini, tidak ada kekhawtiran, kamu  pergi ke jalanmu, dan saya kembali ke surgaku. Saya membina diri dengan baik, saya menjadi Bodhisattva di Surga. Jika kamu tidak membina diri dengan baik, kamu akan bertemu dengan Raja Yama di alam akhirat. Selalu ingat bahwa hati ini adalah murni, baik, dan tidak mengecewakan orang lain. Kita seumur hidup tanpa halangan, keterikatan, dan kekhawatiran, tidak mengejar atau memohon apa pun, serta hidup tanpa nafsu keinginan, hati selalu lapang dan tenang seperti air. Air adalah hati kita, jernih dan transparan; seumur hidup tidak mencelakai orang lain, seumur hidup tidak berutang kepada orang lain. Jangan menunggu sampai menjelang ajal baru mengatakan, “Istriku, Aku minta maaf.” Banyak orang seperti ini. Saat mau meninggal, mereka masih ingat, “Kamu pernah memarahiku. Kamu pernah membenciku.” Pikirkanlah, di manakah kita lima puluh tahun nanti? Berharap kalian baik-baiklah menekuni Dharma dan membina pikiran. Apa yang kita miliki hari ini adalah milik kita sendiri. Memiliki satu hari ini lebih baik daripada dua hari esok. Baik-baiklah menekuni Dharma, kelak akan dapat menikmati kebahagiaan abadi di Surga!