Kebijaksanaan yang Sempurna, Memahami Secara Mendalam terhadap Segala Hal, Lautan yang Menaungi Ratusan Sungai, Leluasa Tanpa Hambatan (Bagian 1) — 智慧圆融洞悉万象 海纳百川自在无碍(上)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di New York, 22 September 2014

Kebijaksanaan yang Sempurna, Memahami Secara Mendalam terhadap Segala Hal, Lautan yang Menaungi Ratusan Sungai, Leluasa Tanpa Hambatan

Cahaya Buddha menyinari orang yang memiliki jodoh Kebuddhaan, para umat se-Dharma yang penuh belas kasih, sukacita dan kemurahan hati. Berkumpul bersama dengan teman-teman se-Dharma membuat kita semakin sukacita. Terima kasih semuanya! Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang, Naga Langit Pelindung Dharma. Terima kasih kepada para biksu atas dukungannya. Terima kasih kepada teman-teman se-Dharma dari seluruh dunia. Kita bersatu hati membabarkan Dharma dan memperoleh siraman Dharma bersama. Jodoh nidana yang luar biasa ini akan membuat keluarga kita lebih harmonis, rakyat lebih bahagia, dan dunia lebih damai.

 

Orang zaman sekarang segalanya diinginkan, semakin banyak yang dimohon, semakin besar nafsu keinginannya. Menurut teori ajaran Buddha, keselamatan adalah berkah, jasa kebajikan adalah umur panjang, kepuasan hati baru bisa mendatangkan kekayaan, dan menyesuaikan jodoh adalah mulia. Berharap semua orang bisa menyesuaikan jodoh terhadap segalanya. Hidup dengan sungguh-sungguh melakukan jasa kebajikan di dunia ini adalah kekayaan sejati.

 

Kenali dunia ini dengan jelas, segalanya datang dan pergi secara alami. Alami adalah jodoh, pencerahan dalam hidup adalah terpenuhinya semua kondisi yang berjodoh. Selama kamu memahaminya, maka adalah makhluk hidup yang berjodoh. Kita datang ke dunia ini, pada dasarnya tidak ada kehilangan apa pun, pada dasarnya tidak punya apa-apa, dan kita juga tidak ingin membawa pergi apa pun. Hanya saja menggunakan semua tingkat kesadaran spiritual di dunia ini untuk melatih diri kita menjadi Bodhisattva di dunia. Saat kita akan mengakhiri perjalanan di dunia ini, maka kita dapat kembali ke surga dan terus menjadi Bodhisattva.

 

Dua hari yang lalu, di Hunan ada dua anak laki-laki kecil yang menderita depresi. Karena tekanan belajar, mereka sepakat untuk melompat dari gedung bersama, dan juga meninggalkan surat wasiat. Salah seorang di antara mereka mengungkapkan hal itu kepada teman sekelasnya saat belajar malam dan mengatakan bahwa ia akan bunuh diri. Teman sekelasnya menasihatinya, tetapi ia tidak mendengarkan dan berkata ia ingin keluar ke balkon untuk menghirup udara segar. Kedua anak itu pergi ke balkon bersama dan melompat turun bersama-sama. Depresi dan tekanan yang berlangsung lama tanpa mendapatkan pelepasan, akan mempengaruhi pola pikir seseorang. Seumur hidup seseorang, pemikiran lebih penting daripada perilaku, dan perilaku dikendalikan oleh pemikiran. Ketidaksehatan mental adalah musuh jiwa yang fatal, harus melihat melampaui dan memahami dengan jelas, jika suatu hari kita tertidur dan tidak bisa bangun lagi, saat dalam mimpi, kita tahu bahwa kita telah meninggal, lihatlah di mana kita berada, maka itulah hasil dari pembinaan diri dalam kehidupan ini. Berharap semua orang mengerti untuk hidup demi semua makhluk hidup, maka pada saat meninggal nanti baru akan memiliki kedamaian dalam hati. Bodhisattva menghabiskan seluruh hidupnya demi semua makhluk. Bodhisattva menyempurnakan semua makhluk, dan semua makhluk menyempurnakan Bodhisattva. Bodhisattva tidak dapat terpisahkan dari semua makhluk. Semua makhluk adalah Bodhisattva masa depan. Berharap semua orang berusaha yang keras.

 

Berapa banyak orang yang setiap hari hidup dalam kebencian, tidak puas setiap hari, melakukan kesalahan setiap hari, hidup dalam kebodohan, menyakiti diri sendiri dan tidak dapat melepaskan diri. Orang yang paling menyakiti diri sendiri adalah dirinya sendiri. Kita tidak boleh menambahkan faktor apa pun yang menyakiti diri kita sendiri. Kita harus mengerti untuk tidak takut, karena menyakiti orang lain akan takut, tidak akan dapat menemukan kebijaksanaan. Membenci orang lain akan kehilangan semua kebajikan dan kemampuan kita. Ketika karma bersama berbuah, maka akan bersama-sama merasakan buah pahitnya. Hidup di dunia ini harus tersadarkan.

 

Orang yang menekuni Dharma dan membina pikiran harus memiliki pembinaan diri. Pembinaan diri berasal dari aura yang lembut. Setelah menekuni Dharma, aura akan berubah, pandangan mata akan berubah. Dulu membenci orang lain, setelah menekuni Dharma, merasa kasihan pada orang lain, mentalitas akan berubah, aura juga akan berubah. Bila seseorang menatap orang lain dengan mata yang tidak galak, auranya sudah berubah. Membina aura juga dapat mengubah nasib keberuntungan. Banyak orang berkata setiap hari: “Saya ingin mengubah nasib keberuntungan saya. Mengapa nasib keberuntungan saya begitu buruk?” Mengubah nasib keberuntungan bergantung pada aura, kehidupan seseorang bergantung pada aura. Dulu orang berkata “keberuntungan seseorang telah habis”, yang dimaksud adalah orang tersebut telah kehabisan energi. Ketika seseorang sudah tidak dapat berbicara lagi di rumah sakit, pada dasarnya orang tersebut telah mencapai akhir hayatnya. Kesatuan surga dan manusia adalah hakikat jiwa, jika seseorang sangat baik hati, setiap hari memikirkan Bodhisattva, dan melakukan hal-hal Bodhisattva setiap hari, di Surga penuh dengan Bodhisattva, dan kamu menyatu dengan aura di Surga,  tentu saja akan memperoleh berkat dari Bodhisattva, ini adalah aura jiwa aslimu. Orang-orang seperti ini selamanya tidak akan menjadi tua, karena mendapat berkat dari aura Bodhisattva, dapat berhubungan dengan energi spiritual langit dan bumi dari alam semesta.

 

Banyak orang selalu tersenyum, hatinya sudah berpikirkan terbuka, melepaskan, dan mengerti. Jika kamu tidak baik padaku, Aku akan membalasnya dengan senyuman. Jika kamu tidak menyetujuiku, Aku akan tetap tersenyum. Jika suamiku menindasku hari ini, Aku tahu ini adalah jodoh. Jika orang lain iri padaku, Aku tahu itu wajar. Seseorang yang telah belajar melihat segala sesuatu di dunia sebagai hal yang normal, dia barulah orang yang benar-benar normal dan menjalani kehidupan secara leluasa. Banyak orang yang menganggap orang lain tidak normal. Hari ini dia memarahiku, membenciku dan cemburu padaku. Mengapa Aku harus menanggung kemarahan ini dan menanggung kelelahan ini? Semuanya ini adalah perubahan mentalitas. Tidak bisa berpikiran terbuka, berarti tidak bisa mengendalikan mentalitasmu dengan baik.

 

Harus saling berinteraksi dan memiliki respon spiritual dengan langit, bumi, dan alam semesta. Ketika seseorang tidak bahagia dan marah di rumah, bagaimana bisa saling berinteraksi? Pergi berjalan di jalan raya, memperoleh sinar matahari dan udara segar, dan saat kamu pulang ke rumah kamu tidak akan semarah sebelumnya. Jika pergi jalan-jalan di mall, kemudian pulang ke rumah dan melihat suamimu masih marah, kamu akan merasa dia sangat lucu, kamu sendiri sudah membeli banyak barang dan sudah lupa kalau dia sedang marah. Kamu menerima respon spiritual dari surga dan bumi, kamu mengabaikannya karena dia memiliki aura buruk, sedangkan sinar matahari yang kamu terima akan memperluas pikiranmu. Ada sebuah lagu yang berjudul “Pergilah ke luar. Mari kita melihat awan”. Ketika kamu melihat langit, pikirkan tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva, lihatlah lautan besar, kamu akan melupakan banyak kerisauan, ini adalah menerima aura dari alam.

 

Semakin luas hati seseorang, semakin besar pula inspirasi yang datang padanya. Semakin sempit hati seseorang, semakin buruk inspirasinya. Orang yang sering marah tidak mempunyai inspirasi sama sekali. Mengapa banyak orang begitu toleran saat mereka berhubungan dengan orang dan benda? Ketika orang lain membuat satu gerakan, dia memahaminya, tersenyum, dan berpikir bahwa orang itu sangat berhati sempit, dia tidak akan terpengaruh oleh aura buruk. Orang yang benar-benar berhati lapang memiliki inspirasi yang sangat kuat, berharap kalian memiliki hati yang lapang. Inspirasi dapat diubah menjadi potensi kesadaran, mengetahui bahwa hal ini dapat dilakukan dengan cara ini dan hal itu dapat dilakukan dengan cara itu. Misalnya, apa yang harus dilakukan jika orang lain tidak mendengarkan ketika kamu memperkenalkan Dharma kepadanya? Ada seorang pendengar yang sangat lucu. Dia tahu bahwa suaminya tidak pernah mendengarkannya dan sangat gengsi. Dia memberi tahu suaminya tentang Xin Ling Fa Men, memintanya membaca buku tetapi dia tidak mau. Memintanya mendengar siaran radio, dia tidak mau mendengarnya. Dia menggunakan metode yang baik, dia tahu suaminya ada di kamar sebelah. Dia sengaja memutarkan siaran Master dengan sangat keras, biar suaminya bisa mendengarnya. Saat keluar rumah, dia berpura-pura meletakkan buku di tempat duduk, suaminya akan membacanya. Saya bertanya padanya: “Bagaimana kamu tahu dia ada membuka buku?” Dia berkata, “Saya membuat tanda”. Harus menggunakan pikiran yang baru untuk menarik perhatiannya. Ingin menjadi Bodhisattva harus memiliki potensi kesadaran. Potensi kesadaran adalah dasar untuk mencapai Kebuddhaan.

 

Suatu hari, filsuf besar Tiongkok kuno Lao Tzu memanggil murid-muridnya ke samping tempat tidurnya, membuka mulutnya, menunjuk mulutnya dengan tangan, dan bertanya kepada murid-muridnya: “Apa yang kalian lihat?” Tidak ada satupun murid yang hadir dapat menjawab. Lao Tzu berkata: “Semua giginya telah hilang, tetapi lidahnya masih ada.” Artinya, meskipun gigi keras, namun tidak berumur panjang. Meskipun gigi tumbuh dengan penuh, tetapi seiring umur semakin bertambahnya usia, gigi akan segera tanggal, umurnya terbatas. Meskipun lidah itu lembut namun memiliki vitalitas yang kuat. Meskipun kamu tidak memiliki gigi lagi, namun lidahmu tetap dapat membantumu hidup di dunia ini. Sebagai manusia, jika kamu mempunyai sifat pemarah, itu akan mencelakai hidupmu. Oleh karena itu, segala sesuatu yang terlalu keras akan patah, jika terlalu keras, maka akan patah. Seseorang tidak boleh terlalu keras, jika terlalu keras, keluarga tidak akan harmonis dan persahabatan tidak akan berlanjut. Meskipun lidah lembut, namun lembut dapat mengatasi kekerasan. Ketika lidah bergulung dan mengucapkan kata yang baik, seperti “Maaf, lain kali saya tidak akan melakukannya lagi,”  Emosi orang lain akan cepat mereda. Hati itu seperti lidah, kalau hatinya lembut, maka akan timbul rasa welas asih. Seseorang harus berhati lembut, orang yang sering berhati lembut, akan memiliki welas asih. Banyak orang berhati keras, rasa welas asihnya kurang.  Welas asih akan memberikanmu kehidupan yang abadi. Ketika seseorang merasa kasihan kepada orang lain, hidupmu akan abadi, karena kamu adalah orang yang baik hati, orang yang terhindar dari kekasaran, kamu tahu bagaimana menghargai jiwa kebijaksanaan orang lain. Berharap semua orang belajar welas asih dan mempraktikkan welas asih, sehingga akan memperoleh kehidupan abadi.

 

Dalam menekuni Dharma dan berperilaku, kita harus tahu kapan harus maju dan mundur. Sebagai manusia, kita harus mengerti untuk maju dan mundur, yang tidak seharusnya  kita katakan, maka jangan mengatakannya. Yang seharusnya kita katakan, namun tidak mengatakannya, maka itu berarti sedang menciptakan karma bagi diri kita sendiri. Jadi, ini sangat sulit, terutama menekuni Dharma di periode akhir Dharma. Tidak baik kalau tidak mengatakan, dan tidak baik juga kalau mengatakan. Tidak baik jika mengatakan berlebihan, dan tidak baik juga jika berkata terlalu sedikit, jadi bagaimana kita mengatakannya? Apakah harus mengatakannya dengan hati, atau dengan mulut, atau dengan tindakan, atau dengan pikiran kita? Berbicara itu tidak mudah, satu kata dapat membuat orang panas dan marah, dan satu kata dapat membuat orang merasa hangat seperti musim semi. Harus tahu kapan maju dan mundur secara tepat, agar tidak terjebak dalam situasi serba salah.

 

Lupakan segera kejayaan dan keterpurukan. Jika seseorang memberimu kehormatan, kamu harus segera melupakannya. Jika seseorang mempermalukanmu, membuat kamu merasa sangat malu dan canggung, kamu harus segera melupakannya, karena hal-hal ini jika tidak  dilupakan, maka ia akan segera menimbulkan karma buruk di dalam hatimu. Seseorang hendaknya tidak mengingat hal-hal buruk yang dilakukan orang lain, tidak boleh mengingat orang lain menindasku, menghinaku, atau mempermalukanku. Banyak orang akan selalu ingat bahwa mereka pernah memiliki masa lalu yang gemilang. Mereka datang ke Amerika Serikat dengan masa lalu yang gemilang, tidak rela membantu anak-anak mereka menjaga cucu-cucu mereka. Tidak kaget terhadap kejayaan dan keterpurukan, tersenyum saat mendengar komentar yang baik; dan tersenyum juga terhadap komentar buruk.

 

Jika seseorang terlalu banyak bicara, kata-katanya sendiri akan menjadi penghalang baginya dalam melakukan sesuatu. Banyak orang justru mengalami hambatan karena terlalu banyak dan terlalu berlebihan dalam berbicara, dan hambatan itu datang dari ucapannya sendiri. Kita tidak boleh memiliki pikiran diskriminasi di dunia ini. Pikiran diskriminasi berarti bersikap baik kepada orang yang kaya dan berstatus, tetapi merendahkan orang yang miskin dan tidak punya status. Seseorang yang menekuni Dharma harus melepaskan egonya, sepenuhnya mengendalikan pikirannya, dan menjaga agar hati Kebuddhaannya selalu ada. Pikiran diskriminasi adalah mengelompokkan orang ke dalam tingkatan-tingkatan. Pada masa Perang Dunia Kedua, Hitler menganggap orang Yahudi sebagai ras rendahan karena pikiran diskriminasinya, sehingga dia membunuh mereka. Karena pikiran diskriminasinya membuat dia berjalan menuju iblis.

 

Di Los Angeles, Amerika Serikat, ada seorang pria mabuk yang baru saja putus cinta, dia tergeletak di jalan pada malam hari. Polisi membantunya berdiri dan mendapati bahwa dia adalah orang kaya setempat. Ketika polisi mengatakan mereka akan membawanya pulang, orang kaya itu berkata, “Rumah? Aku tidak punya rumah.” Polisi menunjuk ke sebuah vila yang tidak jauh dari situ dan berkata, “Apa itu? Lihat, apa itu?” Orang kaya itu berkata, “Itu adalah tempat tinggalku.” Kita di dunia ini, banyak orang beranggapan bahwa rumah adalah sebuah tempat tinggal dan sebuah halaman. Sebenarnya, ketika orang yang kita cintai meninggalkan kita dan perasaan kita kehilangan kehangatan dan kasih sayang, apakah ini masih rumah? Walaupun kamu tinggal dengan seseorang yang tidak memiliki hubungan kerabat atau perasaan, itu sama dengan orang yang tidak memiliki rumah. Kita praktisi Buddhis punya rumah di mana-mana dan sanak saudara di mana-mana. Teman-teman se-Dharma lebih baik dari pada saudara-saudara kita, ini adalah bentuk welas asih yang besar tanpa syarat apapun. Kita bersedia membantu orang lain tanpa alasan, karena kita adalah orang yang meneladani Bodhisattva. Hanya dengan welas asih Buddha baru bisa memberimu rumah spiritual yang hangat.

 

Orang hidup di dunia ini punya begitu banyak kekhawatiran. Khawatir anak-anak, khawatir suami, khawatir pendidikan sendiri,  khawatir segala hal tentang dirinya sendiri… Kekhawatiran seperti ini lama-kelamaan akan menjadi hambatan, yaitu hambatan kamu dalam belajar. Banyak orang berkata, “Saya khawatir saya tidak bisa belajar dengan baik, saya khawatir saya akan menyimpang”seiring berjalannya waktu, perlahan akan memiliki hambatan. Praktisi Buddhis harus terlebih dahulu melepaskan kepentingan duniawi, karena kepentingan duniawi hanya akan membawakan lebih banyak masalah bagi kita. Semakin banyak keuntungan, semakin lelah orang; semakin banyak posisi yang kamu miliki, semakin lelah kamu; semakin banyak uang, semakin banyak berinvestasi di mana-mana, semakin besar pula tekanan yang ada, oleh sebab itu, harus belajar untuk melepaskan. Semakin banyak ketenaran dan kekayaan yang kamu peroleh di dunia ini, semakin sedikit yang akan kamu peroleh di surga. Semakin banyak ketenaran dan kekayaan yang kamu lepaskan di dunia ini, semakin banyak yang akan kamu peroleh di surga. Mengapa kita menghormati biksu? Karena biksu melepaskan segala ketenaran dan kekayaan di dunia, berkeliling dunia dengan tas kecil, membantu orang lain, dan menjadi teladan bagi orang lain, membuat kita mengerti untuk melepaskan. Semakin sedikit yang mereka dapatkan di dunia ini, semakin besar peluang mereka untuk kembali ke Surga di masa mendatang.

 

Seorang pria bertanya kepada seorang petani, “Apakah kamu sudah menanam gandum?” Petani itu berkata, “Tidak, saya khawatir akan turun hujan setelah saya menanamnya.” Pria itu bertanya lagi, “Apakah kamu sudah menanam kapas?” Petani itu berkata, “Saya khawatir serangga akan memakan habis semua kapas.” Pria itu bertanya lagi, “Lalu, apa yang kamu tanam?” Petani itu berkata, “Saya tidak menanam apa pun. Saya ingin memastikan apa yang saya tanam itu aman.” Seseorang yang tidak mau memberi, tidak mau mengambil risiko, dia pasti tidak akan pernah mencapai apapun. Seseorang yang tidak mau membantu orang lain tidak akan pernah menjadi Buddha atau Bodhisattva. Berharap kalian memberikan cinta kasih dan waktu kalian, kurangi keinginan duniawi dan perbanyak tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva. Dengan demikian, baru bisa menjadi Buddha di dunia.

 

Menekuni Dharma hingga jangka waktu tertentu, orang akan mencapai pencerahan, yaitu akan tersadarkan, mengerti dan tahu apa itu jalan Kebuddhaan. Jika kamu telah melihat dan memahami dunia ini, tahu bahwa lahir tidak membawa apa pun datang dan mati tidak membawa apa pun pergi, maka kamu tidak akan khawatir ketika menghadapi penderitaan. Jika tidak peduli apapun penderitaan yang kamu alami, kamu tahu bahwa itu hanya sementara dan tidak bisa dimiliki selamanya, maka semua tingkat kesadaran spiritualmu akan menyesuaikan jodoh terhadap perolehan dan kehilangan. Apa yang kamu peroleh hari ini tidak akan bertahan selamanya, dan apa yang kamu kehilangan hari ini juga tidak akan bertahan selamanya, segalanya menyesuaikan jodoh. Oleh sebab itu, orang yang telah menyadari kebenaran, tidak akan khawatir ketika mengalami penderitaan, menyesuaikan jodoh terhadap perolehan dan kehilangan. Terhadap segala kerisauan makhluk hidup di dunia ini harus bisa dilepaskan, seperti halnya terhadap hubungan perasaan di dunia. Hal-hal yang sangat kita sukai saat kecil kini telah tiada. Anak yang kita cintai telah tumbuh besar, dan tak terlihat lagi. Istri atau suami yang kita cintai terkadang pergi mendahului kita. Jadi Master sering berkata, apa yang bisa ditinggalkan seseorang? Meskipun suami istri saling mencintai sepanjang hidup mereka. Nantinya juga akan ada satu yang duluan meninggal dunia dan satu belakangan. Sebaik apapun hubungannya, ketika salah satunya akan meninggal, yang satu lagi juga tidak akan berkata, “Ayo kita pergi bersama.” Paling-paling dia akan berkata, “Suamiku, saya akan datang menemuimu beberapa tahun lagi” semuanya adalah jodoh. Jangan menganggapnya terlalu serius, maka tidak akan menyakitimu. Jika menganggap semua hubungan di dunia ini terlalu berlebihan, itu akan menyakitimu.

 

Bukankah saat ini banyak sekali anak muda yang menyakiti dirinya sendiri? Seperti dua siswa SMP yang saya ceritakan tadi, mereka baru kelas 1 SMP, mereka melompat dari gedung bersama-sama, siapa yang mereka sakiti? Mereka menyakiti diri mereka sendiri, juga menyakiti semua orang di sekitar mereka, dan orang tua mereka. Memangnya mereka tidak tahu betapa besar cintanya kedua orang tua kepada mereka? Tidak tahukah mereka berasal dari sperma ayah dan darah ibu? Tulangnya dari ayah dan dagingnya dari ibu. Mereka melompat bersama, orang tua mereka akan merasakan sakit yang sangat mendalam hingga ke lubuk hati. Berharap semua orang mengerti apa itu berbakti. Jangan sakit juga merupakan bentuk bakti kepada orang tua. Tidak menyakiti jiwa sendiri dan tidak melakukan kesalahan juga merupakan bentuk bakti kepada orang tua. Seorang gadis yang sering melakukan aborsi adalah tidak berbakti, karena kamu tidak menjaga baik-baik tubuh yang diberikan kedua orang tuamu. Melukai otot dan tulang, yang terluka adalah tubuhmu sendiri, namun yang paling sakit justru hati ibumu.

 

Kita punya kerisauan karena ketidaktahuan. Karena kita tidak mengerti, maka bertindak sembarangan, sehingga menyebabkan lebih banyak kerisauan dan pandangan salah. Hanya dengan menggunakan kebijaksanaan Buddha untuk mengintrospeksi diri sendiri, barulah kita bisa memahami dan menyadari ketidaktahuan. Pikirkanlah setiap hari, apakah saya terlihat seperti seorang Bodhisattva hari ini? Apakah saya terlihat seperti seorang Bodhisattva saat saya bertengkar dan melempar barang? Apakah saya egois hari ini? Hari ini saya mementingkan diri sendiri dan mengesampingkan orang lain, maka adalah orang yang egois. Sering memikirkannya akan terbebas dari keserakahan, tidak serakah tidak memohon. Banyak orang tidak mengerti, setelah orang tua mereka meninggal, mereka berjuang mati-matian untuk mendapatkan warisan. Perlu diketahui bahwa warisan adalah termasuk yin. Master mengajarkan kalian, pakaian almarhum walaupun hanya dipakai sekali juga tidak boleh diambil, Ini adalah benda yin. Berapa banyak orang yang demi berebut warisan, mereka bergugat ke pengadilan, berkelahi sampai babak belur, benda yin tidak boleh terus melekat pada diri.