Memiliki Kebajikan dan Kebijaksanaan Buddha, Mencapai Kebuddhaan Tanpa Aku (Bagian 1) — 拥有佛德智慧 成就无我佛果(上)

Seminar Dharma San Francisco - Amerika Serikat, 18 September 2014

Memiliki Kebajikan dan Kebijaksanaan Buddha, Mencapai Kebuddhaan Tanpa Aku

Pertama kalinya Master datang ke San Francisco dan menjalin jodoh baik dengan teman se-Dharma, penuh sukacita Dharma. Jodoh Kebuddhaan bertemu  satu sama lain walau jarak ribuan mil. Di mana ada Buddha, di situ pasti ada jodoh. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa, Naga Langit Pelindung Dharma, terima kasih kepada para biksu, relawan dan teman se-Dharma dari seluruh dunia, serta teman-teman media. Memohon Buddha dengan tulus, menekuni Buddha Dharma dengan hati yang tulus. Mari kita menjalin jodoh baik secara luas, membina  sifat dasar kita dengan welas asih dan ketulusan, serta bersama-sama menikmati berkah cahaya Kebuddhaan.

 

San Francisco adalah sebuah tujuan wisata. Jembatan Golden Gate yang terkenal di dunia sama seperti Jembatan Sydney di Australia. Hari ini, kita menggunakan jodoh Buddha untuk menyatukan hati kita. Kita akan bersama-sama memperoleh manfaat Dharma dan menikmati sukacita Dharma bersama.

 

Pada dini hari tanggal 24 bulan lalu, gempa bumi berkekuatan 6,1 skala Richter terjadi di San Francisco, merupakan gempa bumi terbesar di wilayah tersebut dalam 25 tahun. Kini, bencana alam terjadi di seluruh dunia, termasuk jatuhnya pesawat, tanah longsor, dan lain-lain. Perang di Suriah sejak April telah menewaskan 190.000 orang. Bagaimana seharusnya orang melindungi dirinya sendiri dalam kehidupan nyata? Harus bagaimana menjaga keseimbangan mentalitas diri? Kita setiap hari mengatakan bahwa harus memiliki mentalitas yang baik dan suasana hati yang baik. Bagaimana cara menekuni ajaran Buddha Dharma, pertama-tama kita harus tahu apa itu hati atau pikiran. Pikiran orang berubah bebas sesuai dengan apa yang tampak di depan matanya. Hatinya tergerak mengikuti perubahan di dunia luar, mengikuti arus dan kehilangan kebajikan, tiada kegembiraan tiada kesedihan. Semua perilaku berhubungan dengan hati nurani manusia. Ketika kesadaranmu berubah, memiliki pendapat tentang masalah tersebut, maka pikiranmu akan lahir. Di dunia ini, hari ini senang dan besok bisa sedih, segala sesuatu akan berlalu, maka tiada kegembiraan pun tiada kesedihan.

 

Konfusius, guru besar Tiongkok, pergi keluar suatu hari. Saat itu hari akan turun hujan, tetapi dia tidak membawa payung. Lalu muridnya berkata, “Guru, Zixia punya payung. Pinjam darinya saja.” Konfusius mendengarnya dan berkata, “Tidak. Zixia agak pelit. Saya meminjam kepadanya, jika dia tidak meminjamkannya kepada saya, orang-orang akan berpikir dia tidak menghormati Master. Jika dia meminjamkannya kepada saya, dia pasti akan merasa sakit hati. Ketika berinteraksi dengan orang lain, kita harus mengetahui kekurangan dan kelebihan orang lain. Jangan menggunakan kelemahan orang lain untuk bergaul atau menguji mereka, jika tidak, kamu selamanya tidak akan memahami hati atau pikiran mereka. Jika ingin persahabatan bertahan lama, pemahaman  terhadap orang lain dapat mengungkapkan sifat dirimu sendiri.”

 

Kita seharusnya selalu bertanya kepada diri sendiri dengan hati: Apakah hal yang saya lakukan hari ini sudah sejalan dengan hati nurani saya? Dapatkah saya melihat sifat dasar saya hari ini? Hati kita seperti sebuah cermin, sangat bersih. Saat kamu menghadapi hal yang buruk dan jahat, hatimu akan memantulkan pikiran buruk. Ketika kamu menghadapi hal-hal baik, hatimu akan memantulkan sisi baikmu. Hati itu pada dasarnya adalah baik, tetapi karena berhubungan dengan kekotoran luar, berulang kali berhubungan dengan lingkungan luar, sehingga akan menciptakan hatimu ini. Kejahatan ada di dalam hati, itu karena hatimu telah menjadi jahat; Jika kamu sering berpikir dalam hati bahwa saya harus berbuat baik untuk menolong orang lain, ini berarti di dalam hatimu terdapat sisi baik. Ada kejahatan di dalam hati, terkadang tampaknya ada di sana tetapi sebenarnya tidak. Bila seseorang memiliki dua mentalitas, haruskah ia memilih memperlakukan orang lain dengan pikiran buruk atau dengan kebaikan? Jika memilih mentalitas yang baik, kamu akan memiliki kebaikan. Jika memilih mentalitas yang buruk, sifat dasarmu akan hilang, tidak akan ada hal-hal yang baik.

 

Orang sering mengatakan “bahagia”. Apa itu bahagia? Bahagia itu adalah hatimu tergerak, karena kamu memiliki pikiran baik, membuat hatimu bersemi dan berbunga. Bersedih berarti kamu memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan dan hatimu tergerak. Segala sesuatu diciptakan oleh pikiran. Segala sesuatu yang dimiliki seseorang diciptakan oleh dirinya sendiri. Sukacita dan kebahagiaan hari ini diciptakan oleh diri sendiri. Kesedihan hari ini juga diciptakan oleh diri sendiri. Membina pikiran adalah untuk membina kebaikan hati. Bila kita ingin menciptakan kebaikan, kita akan menyingkirkan pikiran jahat. Harus menciptakan perilaku yang baik, maka hati baru akan tenang dan bisa terus membina diri dengan baik. Harus membina diri dengan sungguh-sungguh baru bisa berubah. Orang baik akan dibalas dengan kebaikan, dan orang jahat akan dibalas dengan kejahatan. Hari ini bisa mengenal Dharma, berharap semua orang banyak menanam jodoh baik dan menjalin jodoh Kebuddhaan secara luas, agar hati kita bisa meningkat ke tingkat kesadaran spiritual Buddha. Kita hidup di dunia ini akan mendapat lebih banyak kasih sayang.

 

Saat ini, penyakit fisik orang mudah disembuhkan, tetapi penyakit mental sulit disembuhkan. Terjerat dalam kerisauan, kebencian, dan kecemburuan setiap hari, terobsesi dengan cinta dan terjebak oleh uang, dan hidup dalam penderitaan setiap hari. Kita menghabiskan sepanjang hari dalam penderitaan memikirkan mengapa kita datang ke dunia ini, kita tidak lancar dalam hal apapun,  merasa dunia ini terlalu tidak sempurna. Sebenarnya, dunia ini adalah tempat manusia menerima pembalasan. Kita mempunyai dua macam anak, yang satu datang untuk menagih utang dan satu lagi datang untuk membayar utang. Begitu juga dengan suami istri, hari ini memiliki jodoh, besok tidak. Dalam semacam jodoh, karena sudah datang ke dunia ini, maka hanya bisa menanggung dan bertahan. Ketika seseorang tidak dapat menahan penderitaan dan kerisauan, ia akan menjadi gila. Itulah sebabnya timbulnya depresi, autisme, dan fobia. Mengapa orang-orang yang hidup di dunia ini tidak dapat memahami beberapa prinsip keduniawian, sehingga hatinya bisa melepaskan, agar dirinya bisa hidup lebih nyaman. Harus membuat diri sendiri memahami prinsip-prinsip Buddha ini. Banyak ibu yang seperti ini, ketika melihat anaknya akan berkata, “Saya berutang padamu, kamu adalah hantu penagih utang,” hatinya akan merasa seimbang. Ketika banyak suami istri merasa tidak seimbang, maka pikirkanlah, suami istri juga adalah jodoh ini. Jika hari ini memiliki jodoh maka harus baik-baik menyesuaikan jodoh, jika suatu saat kita tidak memiliki jodoh lagi, juga jangan mengeluh, hanya bisa mengikuti jodoh tersebut. Ketika memiliki jodoh harus berusaha untuk menghargai jodoh.

 

Seorang wanita tua di Australia datang menemui saya, suaminya baru saja meninggal dunia. Dia berkata, “Master, saya sangat tidak menghargai suami saya. Ketika dia masih hidup, saya memarahi dan membicarakannya setiap hari. Dia sangat baik, sekarang setelah dia meninggal, saya tidak ingin hidup lagi. Master, saya sangat sedih!” Saya berkata, “Kamu tidak menghargainya, itu seperti memakai liontin. Setiap hari memakainya tetapi kamu tidak merasa itu adalah harta karun. Begitu kamu kehilangannya, kamu akan sangat menderita.” Seorang praktisi Buddhis sejati harus tahu untuk menghargai orang lain. Sekarang ibu tua itu berkata kepada saya: “Master, tolong bantu saya lihat di mana suami saya. Saya ingin bertobat kepadanya dan meminta maaf kepadanya.” Hal yang paling ditakuti seorang praktisi Buddhis adalah penyesalan.

 

Apa pun yang kita lakukan harus tahu cara meraih benih sebab kebaikan kita, sehingga tidak akan ada buah akibat karma buruk. Jika melakukan hal apapun hari ini, kita hanya melakukannya, tetapi tidak memahami melindungi buah akibat diri sendiri, maka pasti akan merasakan buah karma buruk. Dunia ini tidak pernah indah, orang hanya peduli pada kepentingan di depan mata, hanya tahu menciptakan sebab, tetapi tidak pernah memahami akibatnya. Ada sebuah pepatah di dunia Buddhisme: “Bodhisattva takut pada sebab, dan makhluk hidup takut pada akibat.” Orang hanya merasa takut setelah sesuatu terjadi, tetapi para Bodhisattva sudah merasa takut sebelum sesuatu terjadi. Berharap semua orang dapat menekuni Dharma dan membina pikiran dengan baik, bisa memahami berpuas diri dan selalu bahagia, memahami untuk menghargai jodoh, itu barulah benar-benar melindungi jodoh Kebuddhaan diri sendiri di dunia.

 

Seekor tikus terjatuh ke dalam tong beras yang setengah penuh, kecelakaan ini membuat tikus sangat bahagia. Setelah memastikan tidak ada bahaya di dalam tong beras itu, maka ia makan dan tidur di dalam tong beras itu, menjalani kehidupan yang sangat bahagia. Tak lama kemudian beras dalam tong itu habis dimakannya. Saat itu, tikus baru menyadari bahwa ia tidak dapat lagi melompat keluar dari tong itu dan tidak ada yang dapat dilakukannya. Kehidupan kita tampak biasa saja, namun sebenarnya penuh dengan bahaya di mana-mana. Ketika orang bersenang-senang, dia tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan mengalami bencana. Banyak orang yang dalam sehari-harinya merasa tubuhnya selalu sehat, tetapi ketika suatu hari mereka mengetahui bahwa dirinya menderita kanker, maka sudah terlambat. Baru memohon kepada Buddha saat bencana datang, ibarat minum obat saat penyakit sudah parah, saat mendesak baru memohon perlindungan Buddha.

 

Orang harus belajar memandang segala sesuatu dengan kosong, banyak hal di dunia ini adalah kosong. Ada banyak sekali dari kalian di sini. Pikirkanlah, berapa banyak kebahagiaan, kesedihan, dan kesakitan yang kalian alami saat masih muda? Apakah kalian masih mengingatnya sekarang? Ini adalah masa lalu. Harus bisa melepaskan yang sulit dilepaskan. Orang-orang zaman sekarang enggan merelakan apa pun. Bibi tetangga bisa memasak hidangan yang sangat lezat, kamu bertanya padanya: “Bibi, bagaimana caramu memasak dengan baik? Bisakah kamu mengajariku?” Bibi berkata: “Gampang sekali. Cukup menambahkan sedikit garam, sedikit cuka, dan menumisnya saja.” Hati orang-orang tidak bisa merelakan semuanya, terdapat obat-obatan yang disimpan dirumah, ketika seseorang merasa tidak enak badan, bertanya, “Bisakah kamu memberi saya obat?” “Ia memberikan obat yang hampir kedaluwarsa kepada orang lain. Seseorang berkata, “Kamu punya begitu banyak obat di rumah, mengapa kamu tidak memberinya lebih banyak?” “Saya menyimpannya untuk dimakan sendiri saat sakit nanti.” Manusia harus belajar melepaskan dalam kekosongan, karena kekosongan adalah akar dari kebebasan dan kedamaian sejati. Ketika seseorang tidak memohon lagi, maka akan kosong, semakin banyak seseorang memohon, semakin sedih. Praktisi Buddhis harus belajar memberi, harus mengubah hidup sendiri. Jika tidak mau memberi, semua upaya akan sia-sia.

Jika ingin memperoleh pusaka Buddha, harus belajar untuk terbebas dari nafsu keinginan. Kita memiliki nafsu keinginan, harus meninggalkan nafsu keinginan tersebut. Harus menumbuhkan teratai di dalam hati, harus mencintai semua orang. Lebih sulit lagi untuk membina diri di rumah karena ada istri dan anak-anak, harus pergi bekerja, melafalkan paritta, dan mudah marah serta kehilangan kesabaran sepanjang waktu, membutuhkan usaha berkali-kali lipat untuk membina pikiran dengan baik. Orang yang sungguh-sungguh membina pikirannya harus memiliki kegigihan dan harus mengubah dirinya hari ini, jangan menunggu sampai besok, karena besok belum tiba. Berharap semua orang melupakan masa lalu, menekuni Dharma dengan baik, dan benar-benar menyatukan hatinya dengan hati semua makhluk. Memahami orang lain berarti bersikap toleran terhadap diri sendiri, memahami untuk berwelas asih kepada orang lain adalah Bodhisattva di dunia.

 

Ada seorang pemuda mendatangi seorang bijak dan bertanya kepadanya, “Biksu, mohon bertanya, hari apa yang paling penting dalam hidup seseorang? Apakah hari kelahiran atau hari kematian, hari jatuh cinta atau hari kesuksesan karir?” Orang bijak itu berkata kepadanya, “Hari yang paling penting dalam hidup adalah hari ini.” Pemuda itu bertanya, “Mengapa?” Orang bijak berkata, “Karena hari ini adalah satu-satunya kekayaan yang kita miliki; Tidak peduli berapa banyak hal yang layak diingat dan dirindukan kemarin, semuanya telah berlalu. Tidak peduli betapa mulianya hari esok, namun belum tiba. Betapapun biasa dan suramnya keadaan hari ini, semuanya ada di tangan kita sendiri dan kita sendiri yang mengendalikannya.” Pemuda itu masih ingin bertanya, orang bijak berkata: “Ketika berbicara tentang pentingnya hari ini, sesungguhnya kita telah menyia-nyiakan banyak hari ini. Yang kita miliki hari ini sudah banyak berkurang.” Hari ini adalah satu-satunya modal kita dan juga satu-satunya kesempatan kita. Yang paling seharusnya kita lakukan hari ini adalah melupakan hari kemarin, melupakan hari esok, dan menggenggam erat hari ini. Sutra Vajra mengatakan: “Pikiran masa lalu tidak dapat diperoleh, pikiran masa kini tidak dapat diperoleh, dan pikiran masa depan tidak dapat diperoleh.”

 

Master memberi tahu semua orang praktisi Buddhis beberapa nasihat. Seorang praktisi Buddhis harus senantiasa memperhatikan sikap dan perilakunya.

 

Orang harus mempunyai pembinaan diri, jadi tidak mengucapkan kata-kata yang buruk. Hari ini, ketika kamu sambil melafalkan paritta, mulutmu masih mau mengucapkan kata-kata buruk. Ada teman se-Dharma di Australia berkata kepada saya: Master, suami saya tidak menekuni Dharma dengan baik. Saya sangat marah, jadi saya terus mengatainya, “Jika kamu tidak membina diri dengan baik, kamu akan masuk neraka!” Suaminya berkata, “Hanya karena apa yang kamu katakan ini, saya juga tidak akan membina diri.” Perkataan kasar tidak boleh dibalas dengan ucapan buruk, dan kata-kata yang menyakitkan sebaiknya tidak disimpan di dalam hati. Ketika orang lain mengatakan hal buruk tentangmu, janganlah kamu masukkan ke dalam hati. Mengapa kita mengucapkan “Gong Xi Fa Cai” dan “Semoga semuanya berjalan baik ” selama Tahun Baru Imlek? Karena semua ini adalah kata-kata yang baik. Jika kamu menyimpannya di dalam hati, kamu akan dipenuhi dengan sukacita. Bila orang lain memarahimu, jika kamu menyimpannya di telinga dan hatimu, maka kamu akan jengkel, kesal, sakit hati, dan sedih. Sekali kata-kata diucapkan tanpa hati-hati maka tidak dapat ditarik kembali. Bila suami istri tidak mengucapkan sepatah kata dengan baik, maka akan menanam benih kejahatan, dan jika di kemudian hari terjadi perceraian, maka hal ini dapat menjadi faktor buruk dalam hubungan tersebut.

 

Berbicara tanpa mengetahui adalah tidak pintar; mengetahui namun tidak berbicara adalah tidak jujur. Perkataan orang yang berbudi luhur itu singkat dan benar, dalam berperilaku, bertindak dan berbicara hendaknya singkat saja, namun harus sesuai kenyataan. Orang picik bicaranya berbelit-belit dan penuh kepalsuan, banyak orang menipu orang, bisa mengatakan dengan banyak, tetapi semuanya adalah palsu. Ucapan jangan sampai menusuk hati orang, jangan mengucapkan kata-kata yang pedas atau tajam. Begitu mengucapkan kata-kata yang tajam, maka akan menusuk hati orang. Terkadang ketika mengatakan sesuatu yang bercanda, pastikan untuk tidak menyakiti perasaan orang lain. Wanita ini tidak cantik, demi bertemu denganmu, dia telah menghabiskan dua jam merias wajahnya. Begitu kamu melihatnya berkata, “Aduh, si cantik datang!” Dia tahu kamu sedang mengolok-oloknya.

 

Ketika orang sedang bahagia berbicara, banyak yang tidak dapat dipercaya. Berbicara ketika marah, banyak yang kehilangan sopan santun; Mengkritik kekurangan seseorang secara langsung, walaupun orang tersebut tidak senang tetapi mungkin tidak membenci secara mendalam; tetapi bila kamu membicarakan kekurangan seseorang di belakangnya, bisa jadi orang tersebut tidak senang dan menyimpan kebencian yang amat dalam. Praktisi Buddhis harus memahami bahwa mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dikatakan adalah berbicara berlebihan, dan berbicara berlebihan mudah menimbulkan kebencian; Mengatakan hal yang tidak seharusnya dikatakan adalah berbicara sembarangan, dan berbicara sembarangan bisa mendatangkan bencana. Ucapan yang tidak sesuai dengan kebenaran atau logika, lebih baik tidak diucapkan; jika perkataan tidak masuk akal, maka lebih baik diam. Satu kata yang meleset, membuat seribu kata lainnya menjadi sia-sia; jika satu janji tidak ditepati, sebanyak apa pun ucapan selanjutnya, orang lain tidak akan lagi percaya. Mulut adalah kapak yang menyakiti orang. Mulut adalah kapak yang bisa melukai, ucapan adalah pisau yang bisa memotong lidah. Ingatlah selalu untuk menahan bicara dan menyimpan lidah dengan bijak, maka akan aman di mana pun berada. Praktisi Buddhis harus memahami untuk berbahagia dan tahu bagaimana menjadi orang baik. Dalam Buddhisme dikatakan bahwa menjadi pribadi yang baik baru bisa mencapai Kebuddhaan. Seseorang yang tahu untuk menekuni Dharma dan membina diri dengan baik, dia pasti juga akan sangat baik dalam berperilaku. Inila menjadi pribadi yang baik baru bisa mencapai Kebuddhaan.

 

Perilaku dalam batin kita sangatlah penting. Banyak orang tidak tahu bagaimana tindakan dirinya serta ucapan dari mulutnya keluar. Sebenarnya, hal itu dikendalikan oleh pikiranmu, dan tidak ada hubungannya dengan usia, kekayaan, atau lingkungan. Memiliki hati yang puas, kebahagiaan akan menyertaimu. Jika ingin bahagia, bukanlah menambah kekayaan, tetapi harus mengerti untuk mengurangi nafsu keinginan. Semakin sedikit nafsu keinginan maka akan semakin bahagia. Semakin banyak kekayaan yang dituntut, maka akan semakin menderita. Melihat orang lain baik, “Mengapa saya tidak bisa melakukan ini?” Akar fondasi yang berbeda. 84.000 pintu Dharma muncul pada waktu yang tepat, sesuai dengan akar fondasi setiap orang yang berbeda-beda. Praktisi Buddhis harus mengurangi nafsu keinginannya. Orang yang tidak memiliki keinginan, pikirannya sangat damai, tidak ada keinginan maka pikiran dengan sendirinya akan menjadi setenang air. “Tiada keinginan akan menjadi kuat”. Ketika seseorang menjadi kuat, maka dapat menopang dirinya sendiri, karena dia tidak memiliki persyaratan, nafsu keinginan, atau tuntutan pada orang lain, maka dia akan menjadi lebih kuat. Berpuas diri dan selalu bahagia adalah cara hidup.

 

Seorang guru diundang untuk memberikan pidato di sebuah universitas. Dia mengambil selembar kertas putih dan menempelkannya di papan tulis. Ia kemudian menggunakan pena untuk menitikkan satu titik hitam di tengah kertas dan bertanya, “Murid-murid, apa yang kalian lihat pada kertas ini?” Seorang murid berdiri dan berkata, “Guru, saya melihat sebuah titik hitam kecil.” Guru bertanya lagi, “Murid-murid, apa yang kalian lihat?” Semua murid berkata, “Kami semua melihat sebuah titik hitam kecil.” Guru berkata, “Kalian benar, tetapi mengapa kalian hanya melihat titik hitam kecil dan tidak melihat seluruh kertas putih sebersih itu? Jika kalian bertengkar, berselisih pendapat, atau berdebat dengan seseorang, mengapa kalian fokus melihat kekurangannya? Mengapa tidak melihat bahwa dia masih memiliki banyak kelebihan, dia pernah membantumu di masa lalu? Begitu juga suami dan istri. Seorang istri menikahi denganmu, bekerja keras untukmu sepanjang hidupnya, mengurus anak-anak di rumah. Mengapa kamu tidak melihat semua kelebihannya, tetapi hanya berpegang pada satu hal dan pada akhirnya bercerai dengannya? “

 

Sebagai manusia, kita harus belajar memaafkan orang lain dan berterima kasih kepada orang lain, berterima kasih kepada orang tua kita, mereka telah membesarkan kita, tidak mendapatkan apapun dan meninggalkan kita dengan tangan kosong. Kita juga harus berterima kasih kepada guru-guru kita ketika kita masih muda dan kepada rekan-rekan se-Dharma yang membantu kita. Seseorang hidup di dunia ini mengandalkan jodoh dengan semua makhluk. Kita tidak bisa meninggalkan teman dan saudara kita. Praktisi Buddhis pertama-tama harus belajar bersyukur, sering pulang ke rumah untuk mengunjungi orang tua, sering berbakti kepada orang tua. Menghormati orang lain berarti menghormati diri sendiri. Memiliki hati yang bersyukur berarti welas asih, karena dasar dari welas asih adalah rasa syukur di dunia.