Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Sabah - Malaysia, 19 Januari 2015
Menekuni Dharma, Welas Asih, Toleransi, dan Ketekunan untuk Mencapai Tekad Buddha
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang telah menurunkan hujan anugerah untuk menyelamatkan semua makhluk hidup. Terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma atas perlindungan agung yang telah memungkinkan kita memiliki lebih banyak tanah suci dan bunga teratai di bumi! Terima kasih kepada para murid dan sesama umat se-Dharma di Malaysia atas dedikasi mereka. Terima kasih kepada teman se-Dharma, para relawan, dan biksu dari seluruh dunia! Semoga ajaran Buddha Dharma tetap abadi di dunia, dan semoga sifat Kebuddhaan tetap abadi.
Bencana alam dan bencana ulah manusia terus terjadi di dunia ini. Bumi yang kita tinggal ini bagaikan rumah kita, tetapi rumah kita sering mengalami bencana banjir, kekeringan, gempa bumi, tsunami, dan sebagainya yang melukai kita. Terlebih lagi adalah tekanan mental dan trauma yang tak terlihat yang melukai hati kita. Dan juga kanker serta masalah mental yang menyebabkan semakin banyak kerusakan di dunia ini. Bunuh diri, kecelakaan mobil, dan masalah keluarga secara langsung melukai hati kita setiap orang. Oleh karena itu, untuk menghadapi masalah-masalah ini, kita harus baik-baik menekuni Dharma dan membina pikiran kita, memahami sebab dan akibat, meningkatkan jiwa kebijaksanaan kita, menemukan jiwa kebijaksanaan kita sendiri, menggenggam akar kebaikan kita, dan menyelamatkan semua makhluk yang berjodoh di dunia ini, agar lebih banyak orang dapat terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan. Inilah misi agung dan mulia yang harus kita lakukan sebagai Bodhisattva di dunia.
Pada tanggal 2 Januari, seorang pendengar menelepon dan mengatakan bahwa ia selalu merasa suaminya menindasnya. Kemudian Master menunjukkan kehidupan masa lalunya dalam mimpi. Ia adalah seorang pria yang sedang menindas istrinya (yang sekarang menjadi suaminya) dan sedang ribut untuk perceraian di rumah. Oleh karena itu, pembalasan yang ia alami saat ini adalah akibat dari sebab yang ia ciptakan di kehidupan masa lampaunya. Semua sebab menyebabkan semua akibat, sebab dan akibat itu sungguh benar. Pada tahun 2014, kecelakaan pesawat di seluruh dunia telah menyebabkan lebih dari 1.000 kematian. Peristiwa penyerbuan di Shanghai menyebabkan banyak orang tidak dapat bertahan hidup hingga tahun 2015. Dengan pepatah dahulu, “Orang ini tidak bisa melewati rintangan akhir tahun.” Keesokan harinya, ada rekan se-Dharma Xin Ling Fa Men menulis di blognya bahwa dua hari sebelum kejadian, ia bermimpi melihat barisan orang-orang ambruk di Bund, Shanghai, yang menunjukkan bahwa banyak hal di dunia ini bukanlah kebetulan. Ke-36 orang yang meninggal itu semuanya berusia di bawah 30 tahun; peti mati itu tidak diperuntukkan untuk para lansia. Berharap anak-anak muda bisa merawat diri mereka sendiri dengan baik, harus belajar menghargai semua yang dimiliki oleh diri sendiri. Jangan menunggu sampai suatu hari meninggal baru menyesalinya. Pada saat itu, barulah benar-benar merasakan ketidakkekalan hidup, itu sudah terlambat!
Jika seseorang tidak membina diri, dia akan terus bereinkarnasi, terus-menerus terlahir kembali di dunia. Orang tua kita melahirkan kita, lalu kita punya anak, dan anak kita punya cucu, dan seterusnya tak berujung, inilah reinkarnasi. Kita sarapan hari ini, dan kita harus sarapan lagi besok… Reinkarnasi dalam setiap hari mengajarkan kita sebuah kebenaran – semuanya adalah kosong dan hampa. Mengapa kita menanggung semua siksaan ini di dunia? Siksaan adalah penderitaan karena ketidaktahuan, tidak mengerti baru akan tersiksa. Suami istri bertengkar setiap hari, karena tidak mengerti bahwa mereka adalah musuh di kehidupan sebelumnya, sehingga akan menjalani hidup mereka dalam pertengkaran bagaikan musuh di kehidupan ini. Orang yang tidak mengerti adalah orang yang paling menderita. Ketika kita kecil, kita tidak mengerti apa-apa. Apakah kita menderita tidak?
Kita hidup di dunia ini tidak boleh tidak mengerti, tetapi ada berapa banyak orang yang benar-benar memahami? Berapa banyak orang yang dapat memahami betapa agung dan kompleksnya Tri-Sahasra-Maha-Sahasra-Lokadhatu di alam semesta? Sang Buddha telah melihat sejak 2.500 tahun yang lalu, bahwa alam semesta ini terdapat Tri-Sahasra-Maha-Sahasra-Lokadhatu, dan ilmu sains modern kini telah membuktikan satu per satu, yakni Bima Sakti, tata surya, dan berbagai planet.
Karena ketidaktahuan, kita akan terus-menerus dirundung kerisauan, tidak ada rasa kebahagiaan di hati. Kita manusia setiap hari terus berebut demi ketenaran dan keuntungan tiada henti. Berapa banyak orang yang telah mengorbankan jiwa kebijaksanaan mereka demi sebuah ketenaran? Berapa banyak orang yang telah menelantarkan kerabat mereka demi sedikit uang? Dari mana datangnya keserakahan dan kebencian? Keserakahan dan kebencian adalah sifat akar buruk manusia. Manusia serakah sejak kecil, menginginkan yang ini dan yang itu. Dia akan membenci ketika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dengan keserakahan dan kebencian seperti itu, bagaimana datangnya kebahagiaan? Jadi, kita harus sadar, hanya sadar baru bisa mencapai pencerahan. Banyak orang yang hidup dalam mimpi, tidak tahu apa pun, setiap hari saling menipu, kerisauan tanpa akhir, karena dia sedang bermimpi. Harus bangun, harus menggunakan pandangan hidup yang benar di dunia ini agar kita tidak terbelenggu oleh ketenaran dan kekayaan. Ketenaran dan kekayaan tidak dapat dimohon. Asalkan memohon pasti akan membawa kesedihan. Oleh karena itu, melepaskan ketenaran dan kekayaan adalah hal mendasar dalam menekuni Dharma. Banyak biksu telah menjadi teladan bagi kita, meninggalkan ketenaran dan kekayaan serta merelakan segala yang mereka miliki demi mencapai pencerahan dan Kebuddhaan. Berharap semua orang memahami bahwa menekuni Dharma adalah melepaskan, yaitu merelakan, dengan begitu barulah bisa memiliki lebih banyak.
Ketenaran dan kekayaan, berharap semua orang dapat memandangnya dengan ringan dan melihat kebenarannya. Demikian juga dengan kelahiran dan kematian harus melihat melampauinya. Karena lahir maka pasti akan mati suatu hari nanti. Jadi seseorang harus melihat kebenarannya. Kita tidak takut mati, karena kita tahu kita manusia tidak akan mati. Meskipun tubuh kita mati, tetapi jiwa kita akan tetap abadi. Saat kita tidur, tubuh tidak bergerak, tetapi jiwa dapat pergi ke barat dan timur, terkadang tertawa karena bahagia, terkadang menangis karena sedih. Begitu pula setelah kematian, meskipun tubuh tidak bergerak, jiwa tetap dapat menikmati atau menderita. Menekuni Dharma harus membina jiwa dengan baik. Ketika tubuh kita tidak bergerak, seperti saat tidur, kita masih dapat terbang melintasi langit dan melihat dunia yang indah.
Harus mengerti, jika tidak mengerti, maka akan takut mati, sebenarnya, orang tidak takut mati. Ketenaran dan kekayaan itu seperti awan yang mengambang. Ketenaran dan kekayaan itu seperti awan yang mengambang di langit, baru saja ada, beberapa waktu kemudian akan hilang. Hari ini memiliki ketenaran, beberapa hari kemudian pensiun dan tidak ada ketenaran lagi. Hari ini memiliki kekayaan, beberapa hari kemudian habis terpakai dan tidak ada kekayaan lagi. Mana ada ketenaran dan kekayaan? Baru saja melihat awan ini di sini, sebentar kemudian dia akan melayang pergi. Ketenaran dan kekayaan itu seperti awan yang mengambang. Kelahiran dan kematian itu seperti matahari. Saat lahir, itu adalah matahari terbit. Setelah terbenam, matahari akan hilang. Jangan bersedih karena tak bisa melihat matahari lagi. Ia tetap akan terbit di esok pagi dan menyinari setiap sudut dunia, itulah sebabnya hidup itu abadi.
Berharap semua orang benar-benar harus percaya. Master menyeru setiap hari, berharap semua orang percaya bahwa Bodhisattva sungguh ada. Kalian tidak bisa melihat, tetapi Master benar-benar bisa melihat. Beri tahu kalian berharap kalian harus percaya. Bodhisattva sedang menyelamatkan kita. Mengapa masih tidak percaya? Percaya pasti ada, tidak percaya, maka tidak akan ada. Banyak hal dapat dilihat jika kamu percaya, tetapi tidak akan dapat melihatnya jika kamu tidak percaya.
Sebenarnya, orang hidup di dunia ini benar-benar harus belajar mengendalikan diri. Tanpa disiplin diri, seseorang pasti akan melanggar hukum. Surga memiliki hukum surga, Alam Manusia memiliki hukumnya sendiri, dan Alam Akhirat memiliki hukum akhirat. Orang-orang saat ini sulit untuk mengendalikan diri, sama sekali tidak bisa mengendalikannya. Ingin bertengkar ya bertengkar saja. Tidak bisa menahan akan merasa sedih, sama sekali tidak memiliki pengendalian diri. Bahkan kegemukan diri sendiri pun tidak dapat dikendalikan, terus mati-matian makan, apa yang bisa dikendalikan? Untuk melihat apakah seseorang memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri, cara terbaiknya adalah membawanya pergi makan prasmanan. Ada orang yang masuk dan tidak bisa keluar lagi. Makan sepiring demi sepiring, sampai akhirnya masih menambah kue dan buah, kenyang sampai ke tenggorokan. Begitu keluar pintu, belum bicara beberapa kata sudah muntah keluar. Keserakahan manusia adalah hal yang paling merepotkan.
Seorang teman se-Dharma bertanya kepada Master, “Saya sekarang lajang. Saya telah melepaskan pernikahan yang menyiksa saya selama bertahun-tahun. Sekarang saya lajang, bagaimana saya harus membina diri?” Master menjawabnya, “Melepaskan.” Ia berkata, “Saya sudah melepaskan. Saya tidak punya pernikahan lagi. Bagaimana saya melepaskan?” Master memberitahunya, “Kamu langsung menyinggung soal pernikahan begitu bertemu saya, dan berkata ‘pernikahan yang menyiksa saya bertahun-tahun,’ dan raut wajahmu penuh kepedihan, ini berarti kamu belum melepaskan. Jika kamu benar-benar melepaskan, kamu hanya akan bertanya, ‘Master Lu, bagaimana saya harus membina diri?’ Tidak ada pernikahan lagi, sudah berakhir. Mengapa mengungkitnya lagi?”
Ada kalimat brilian dari film “Crouching Tiger, Hidden Dragon”: “Saat kamu mengepalkan tangan, di dalamnya tak ada apa pun. Saat kamu membuka tangan, dunia ada di tanganmu.” Saat kamu menutup hatimu, kamu tidak memiliki apa pun. Saat kamu membuka hatimu, menyambut alam, menyambut semua jodoh baik, perbuatan baik, benih sebab baik, dan buah karma baik, kamu akan memiliki alam semesta. Praktisi Buddhis harus memahami bahwa menutup hati, kamu akan menderita penyakit autisme. Orang yang pendiam akan menderita autisme di usia tua. Seorang anak yang tidak mau sering berkomunikasi dengan orang lain di rumah, ia mudah menderita autisme. Bukalah hatimu dan terimalah orang-orang dan hal-hal baik; kamu akan memiliki mereka. Belajar membuka hati, kamu akan terus hidup dalam harapan. Memiliki harapan dapat membebaskanmu dari keputusasaan.
Seorang teman se-Dharma baru saja menekuni Dharma, baru mengenal ajaran Xin Ling Fa Men. Ia menangis di hadapan Guan Shi Yin Pu Sa dan berikrar, “Guan Shi Yin Pu Sa mama, saya akan bangun pukul 5.00 pagi dan melafalkan paritta hingga pukul 6.30 pagi setiap hari.” Ia menceritakan hal ini kepada semua orang, dan akhirnya ia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Orang bertanya kepadanya, “Mengapa kamu tidak bangun pagi-pagi untuk melafalkan paritta?” Ia berkata, “Saya sudah bisa melafalnya dalam mimpi.” Hanya ketika seseorang sungguh-sungguh mempraktikkan tindakan kebajikan sepanjang hidupnya, ia baru bisa menyadari Buddha Dharma bagi seorang praktisi Buddhis, yakni kesatuan Dharma dengan ucapan dan perbuatan. Ajaran Buddha Dharma, ucapan, dan perbuatan seseorang harus menyatu. Praktisi Buddhis harus menanamkan konsep ketidakakuan dalam lubuk hati, harus merasa bahwa tidak ada Aku lagi. Seseorang yang tiada dirinya akan memiliki seluruh umat manusia dan dunia.
Orang yang sering membantu orang lain tidak ada memiliki diri sendiri, seperti Lei Feng pada masa itu. Seseorang yang bisa sepanjang hari memikirkan orang lain, ia pasti adalah orang yang tiada Aku. Para Bodhisattva hanya memikirkan semua makhluk. Guan Shi Yin Pu Sa akan turun dari Surga walaupun hanya acara pemberkatan yang kecil-kecilan. Kalian jangan mengira Bodhisattva turun ke dunia dengan cepat, itu juga ada jaraknya, juga adalah suatu waktu, yaitu kecepatan cahaya. Dulu, ini disebut zaman atom, dan sekarang disebut zaman kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya jauh lebih cepat daripada kecepatan atom. Jadi, Guan Shi Yin Pu Sa datang ke tempat kita dapat melepaskan diri. Jika kalian bisa melihat semuanya, kalian pasti akan berteriak “Pu Sa.” Karena Master sudah terbiasa melihat, sudah banyak melihat. Saya hanya terus bersujud. Seseorang melihatnya kemarin. Tidak masalah apakah kalian melihat atau tidak. Berharap kalian dapat menanamkan citra Guan Shi Yin Pu Sa di dalam hati kalian.
Kita harus sering membersihkan halangan perilaku yang bersifat egois yang menutupi cahaya dalam sifat diri, pada dasarnya kita sangat baik hati, di saat kecil sangat baik hati. Kongrong sudah tahu untuk mengalah pada umur 3 tahun, semua ini adalah perbuatan kebajikan. Tetapi mengapa semakin kita bertambah dewasa, justru menjadi semakin egois? Sifat diri kita telah terselubungi, hati yang baik semakin sedikit, sedangkan niat yang buruk semakin banyak. Dari mana semua ini muncul? Dari karma bersama, karena ketika kita tumbuh dewasa, masyarakat dipenuhi orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Karena itu, kita harus mencari sebidang tanah suci. Tanah suci sementara itu ada di sini di malam ini. Semoga semua orang dipenuhi sukacita Dharma.
Master memberi tahu semua orang, 50 atau 60 tahun kemudian, kita semua dapat bertemu di Surga, sukacita Dharma itu, bebas dari penyakit dan rasa sakit, ke mana saja kita mau. Begitu memikirkannya langsung bisa ke sana, lebih cepat daripada naik taksi. Semua orang berkata Surga itu indah, dan memang benar. Kalian belum pernah ke sana, banyak alam surgawi yang belum pernah kalian pergi, harus berusaha yang keras.
Mengamati diri sendiri berarti senantiasa memeriksa diri sendiri dan bertanya, “Apakah saya telah melakukan kesalahan?” Mengamati diri sendiri “Apakah saya berbeda dari Bodhisattva?” Kesempurnaan diri berarti hal yang kamu lakukan sempurna atau tidak. Keseimbangan antara rasional dan emosional sangatlah penting. Rasional berarti memiliki pemahaman yang benar tentang segala hal; keseimbangan berarti apakah pemahaman tentang hal ini dapat dikomunikasikan kepada orang lain dan menciptakan rasa keseimbangan. Keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan tanggung jawab. Hal yang dilakukan diri sendiri apakah bertanggung jawab atau tidak juga harus seimbang. Keseimbangan antara pemberian dan perolehan. Saya banyak berkorban hari ini, mendapatkan sedikit juga harus seimbang. Seorang pengusaha yang berkorban banyak dan hanya menerima sedikit uang, tetapi dia tetap memiliki keseimbangan batin, berpikir, “Asalkan saya untung, berapa pun hasilnya, tidak masalah.” Mentalitas inilah yang membuat orang-orang terus bekerja sama dengannya, dan bisnisnya berkembang semakin besar. Inilah efek dari keseimbangan. Jadi, tidak peduli apa pun yang dihadapi, hati harus seimbang.
Banyak orang lanjut usia berkata, “Saya beruntung masih hidup hari ini. Saya akan hidup dengan baik jika memiliki kesempatan ini, dan tidak masalah jika saya tidak punya kesempatan.” Inilah yang dikatakan orang awam. Sebenarnya, kehidupan setiap orang dikendalikan oleh langit dan bumi. Meramal nasib, hanya bisa meramal nasib, tidak bisa mengatakan meramal nasib keberuntungan. Hasil ramalan dapat hidup sampai 70 tahun belum tentu bisa hidup sampai umur segitu. Ada banyak rintangan dalam hidup, yang menguji apakah setiap jalan dalam tahap kehidupan yang kamu tempuh itu benar atau salah, memperpanjang umurmu atau memperpendek umurmu. Semua orang pernah membaca “Liaofan Si Xun”. Bapak Yuan Liaofan awalnya diramal dia hanya bisa hidup sampai umur 40 tahun, dan tidak punya anak. Pada akhirnya, dia hidup sampai usia 70-80 tahun, memiliki anak dan cucu. Ini karena dia melepaskan makhluk hidup, berikrar, melafalkan paritta dan menyelamatkan orang.
Menekuni Dharma bisa membuat seseorang untuk menahan diri. Kita harus memahami bahwa tidak marah berarti bisa menahan diri. Menghormati kebenaran, karena hal ini adalah kebenaran, saya harus mempercayainya. Takut akan sebab dan akibat. Makhluk hidup adalah bertindak terlebih dahulu tanpa memedulikan sebab dan akibat, ketika akibatnya datang baru takut. Namun, para Bodhisattva sudah mempertimbangkan akibatnya sebelum bertindak. Jadi, Bodhisattva tidak akan melakukannya. Inilah prinsip “Bodhisattva takut akan sebab, dan makhluk hidup takut akan akibat.” Takut akan sebab dan akibat dapat membuat masyarakat penuh keharmonisan dan toleransi.
Dalam menekuni Dharma, kita harus semakin belajar semakin tekun. Jika kamu tidak tekun hari ini, kamu akan perlahan-lahan mengalami kemunduran. Mendaki gunung, semakin memanjat semakin melelahkan. Banyak orang berkata mengapa menekuni Dharma begitu melelahkan dan sulit? Berapa banyak orang yang benar-benar dapat berhasil? Itu tidak mudah, harus tekun. Kebanyakan orang dapat menyelesaikan sekolah dasar atau menengah, tetapi berapa banyak orang yang benar-benar dapat mencapai sekolah pascasarjana atau doktor? Membina pikiran, pikiran harus menjadi semakin cerah. Sebagai manusia, harus berperilaku layaknya manusia, tingkat kesadaran spiritual harus semakin seperti seorang Bodhisattva. Orang yang membina pikiran akan memperoleh kebijaksanaan. Beberapa orang berkata, “Dulu saya bodoh, tetapi setelah menekuni Dharma, saya mengerti semuanya.” Mengapa? Paritta adalah kebijaksanaan para Bodhisattva. Setelah membaca kebijaksanaan Bodhisattva akan membuatmu menjadi pintar.
Orang yang berbuat baik akan mengumpulkan berkah kebajikan. Berbuat baik terus-menerus hari ini berarti mengumpulkan berkah dan kebajikan, harus menghargai berkah. Jangan buang-buang makanan, jangan membeli terlalu banyak pakaian, harus menghargai semuanya. Orang yang menghargai berkah akan memiliki berkah yang abadi. Orang yang menghargai berkah akan memiliki keberuntungan. Keberuntungan dan kemalangan seseorang semuanya disebabkan oleh hatinya. Hati yang tidak seimbang akan segera mendatangkan malapetaka. Jika kamu membenci seseorang dan terus-menerus membicarakannya, suatu hari dia akan benar-benar bertengkar denganmu. Orang yang menanam benih kebaikan adalah orang baik, dan orang yang menanam benih kejahatan adalah orang jahat. Penderitaan hari ini adalah buah akibat dari menanam kejahatan dalam jangka waktu panjang. Banyak orang yang masih menanam benih kejahatan hari ini, mereka akan terus menderita. Semua penderitaan yang kita alami hari ini disebabkan oleh masa lalu. Jangan salahkan orang lain, salahkan diri sendiri. Banyak wanita Australia merokok dan minum alkohol selama kehamilan, anak yang dilahirkan adalah anak abnormal. Mereka menangis setiap hari melihat anaknya. Siapa yang menyebabkan ini? Ini adalah akibat dari tindakan diri sendiri. Berharap semua orang memahami sebab dan akibat. Memahami sebab dan akibat itu sendiri adalah kebijaksanaan.
CEO Apple, Steve Jobs, pernah menganjurkan “Pertahankan tubuh yang lapar, pertahankan bodoh.” Dia tidak menyebutkan ajaran Buddha tentang mempertahankan keinginan akan pengetahuan. Dia menganjurkan untuk mempertahankan lapar dan bodoh. Dia beranggapan bahwa kelimpahan pengetahuan, kekayaan, dan koneksi, memiliki terlalu banyak pengetahuan, uang, dan teman—dapat mencekik jiwa seseorang. Artinya, ketika kamu sudah penuh, betapa pun baiknya hal itu juga tidak dapat lagi memasuki pikiranmu. Seperti segelas air yang sudah penuh; betapa pun bagusnya minuman juga tidak dapat lagi dituangkan ke dalamnya. “Satu-satunya cara adalah mempertahankan kondisi kelaparan material dan spiritual, dan mempertahankan hal-hal bodoh yang diri sendiri tidak tahu.” Ini berarti seseorang harus terus meningkatkan diri dan mencari ilmu. Ketika komputer pertama kali diperkenalkan, banyak orang yang perusahaannya tutup karena tidak memiliki komputer, karena tidak berdaya untuk berbisnis dengan perusahaan modern. “Menciptakan kreativitas dari sifat dasar” ketika seseorang mampu terus-menerus memperkenalkan hal-hal baru, ia baru bisa terus memiliki semacam kreativitas.
Mengutip perkataan Steve Jobs, artinya praktisi Buddhis harus giat menekuni Dharma, menjaga kondisi tidak mengerti dan mencari pengetahuan, barulah bisa mempelajari lebih banyak pengetahuan tentang Buddha Dharma. Banyak orang yang setelah bertemu Master, mereka terus berbicara tentang Dharma tanpa henti. Saya mendengarkannya dengan serius dan mencatatnya, tetapi ketika saya ingin berbicara, dia melihat jam tangan dan tidak tahu apa yang akan saya katakan. Tidak boleh membuat diri sendiri merasa sangat penuh (sudah mengerti), jika merasa sudah penuh, maka dirimu akan merasa sudah memilikinya, dan tidak dapat menerima banyak hal baik. Demikian juga dengan suami istri yang bertengkar, tidak mau mendengarkan pihak lain. Kamu harus mendengarkan apa yang istrimu katakan hari ini, kamu bisa belajar banyak darinya, karena ucapan yang tidak berani dikatakan oleh istri pada biasanya, hanya akan dilontarkan pada saat marah. Terkadang orang sama sekali tidak menyadari apa yang mereka lakukan pada biasanya. “Memangnya saya begitu egois? Memangnya saya tidak pernah membelikannya sesuatu?” Saya mengabaikannya di hari ulang tahunnya dan tidak membelikannya bunga… Ya, saya benar-benar harus berhati-hati! Dia ingat segalanya. Saya tidak boleh sembrono itu. Saya harus memperbaiki diri sendiri.” Saya harus mendengarkan apa yang orang lain katakan. “Kamu ini orang yang sangat egois.” “Jangan bilang Aku, kamu lebih egois dariku.” Bisakah dua orang menikah jika tidak egois?
