Bunga Teratai Bermekaran dengan Semarak, Tanah Suci di Dunia Bersatu Kembali (Bagian 2)
Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 22 Juni 2015
2.500 tahun yang lalu, Sang Buddha membawa ajaran Buddha yang begitu luhur ke Alam Manusia. Setelah menyelesaikan tugas-Nya, Beliau mencapai Mahaparinirvana yang tenang dan kembali ke alam surga. Membuat kita selama ribuan tahun ini senantiasa bernaung dalam cinta kasih Dharma dan menikmati pancaran cahaya Dharma. Beliau membuat kita mengerti bagaimana seharusnya berwelas asih, bagaimana memperlakukan sesama, serta bagaimana menjadi makhluk berakal budi di dunia ini yang tidak mengecewakan harapan banyak orang. Inilah harta paling berharga yang ditinggalkan oleh Sang Buddha kepada kita—yaitu agama Buddha. Kita harus bersyukur! Hati manusia hendaknya seperti air; hati seorang praktisi Buddhis harus lembut. Gunakan kelembutan untuk menguraikan kerisauan di dunia, gunakan keteguhan untuk mengalahkan sifat buruk dalam diri sendiri, gunakan pengabdian untuk menumbuhkan rasa syukur, gunakan kemurahan hati (berdana) untuk memperoleh kesehatan. Dari keputusasaan lahirlah kebijaksanaan, dan melalui ketekunan untuk mencapai tingkat kesadaran spiritual ajaran Buddha Dharma dalam hidup.
Seorang praktisi Buddhis harus memahami apa itu kebahagiaan dan apa itu penderitaan. Kebahagiaan dan penderitaan merupakan suatu tindakan batin. Apa yang kamu anggap menyakitkan, sebenarnya belum tentu benar-benar menyakitkan. Seorang ibu ketika melahirkan merasakan kesakitan, tetapi hatinya penuh kebahagiaan, ia tidak menganggapnya sebagai penderitaan. Ini adalah tindakan batin yang tidak berkaitan dengan kekayaan, usia, maupun lingkungan. Ketika hati benar-benar terjerumus dalam penderitaan, kamu akan masuk ke dalam keadaan batin yang lain, di mana kebahagiaan akan menjauh darimu. Kamu tidak lagi mampu merasakan kepuasan. Kita harus memiliki hati yang tahu merasa cukup — bersyukur, agar kebahagiaan senantiasa menyertai kita. Inilah kepuasan yang datang dari kebaikan dan niat baik seorang praktisi Buddhis.
Ada orang bertanya kepada Master: “Jika ingin mendapatkan kebahagiaan, metode apa yang harus digunakan?” Master memberi tahu kalian, ingin memperoleh kebahagiaan, bukan dengan menambah kekayaan, melainkan dengan mengendalikan dan mengurangi nafsu keinginan di dalam hati. Seseorang yang tidak memiliki banyak nafsu keinginan akan menjadi kuat dan teguh; Seseorang yang tidak memiliki nafsu keinginan akan dihormati oleh orang lain. Seseorang yang jujur dan teguh tidak akan menjadi lemah karena menerima sesuatu dari orang lain, tentu saja ia sangat kuat. Kita harus memahami bagaimana membuat hati kita menjadi kuat, agar bisa mendapatkan penghormatan dari orang lain. “Saya tidak serakah, segala sesuatu saya menyesuaikan jodoh,” maka orang lain akan menghormatimu. Namun, ketika kamu selalu mengharapkan sesuatu dari orang lain, mereka akan meremehkanmu. Tidak serakah terhadap harta kekayaan maupun hal-hal duniawi di luar diri, akan dihormati orang lain.
Semua orang harus memahami untuk berpuas diri dan selalu bahagia. Dalam ajaran Buddha Dharma diajarkan banyak prinsip kehidupan. Ada satu prinsip dasar yang dirangkum dalam empat kata, yaitu “知足常乐 zhi zu chang le — berpuas diri dan selalu bahagia”, yaitu tiada nafsu keinginan, hati dengan sendirinya akan setenang air. Jika seseorang tidak ingin kehilangan hari ini, namun juga ingin memiliki hari esok yang lebih baik, maka berharap kalian harus menghargai hari ini. Di hari ini, perbanyaklah berdana dan berbuat jasa kebajikan, biarkan hati kalian lebih banyak menjalin jodoh baik dengan para Bodhisattva, serta lebih banyak melakukan dana dalam Dharma. Ketika kamu mempersembahkan hati Buddha kepada orang lain, maka jasa kebajikannya tiada tara. Jangan lagi menyia-nyiakan hari kemarin, lalu hari ini pun ikut terbuang. Hari ini dan kemarin adalah dasar bagi keberhasilanmu di hari esok. Peganglah hari ini dengan baik, tekunlah belajar Buddha Dharma. Saat melihat orang lain naik menuju Alam Sukhavati, kamu tidak akan menyesal, karena kamu sudah berusaha dengan sungguh-sungguh. Bersabarlah, selama kamu berusaha keras, Bodhisattva pasti akan menuntunmu menuju Alam Sukhavati.
Ada seekor anak babi, seekor domba, dan seekor sapi perah dikurung dalam kandang yang sama. Suatu hari, seorang penggembala menangkap anak babi itu. Anak babi tersebut menjerit keras sambil meronta dengan hebat. Domba dan sapi perah merasa sangat terganggu oleh jeritannya, lalu berkata:“Penggembala itu juga sering menangkap kami, tetapi kami tidak pernah berteriak seperti itu. Kamu benar-benar menyebalkan!”Anak babi itu mendengar perkataan mereka lalu berkata:“Ketika dia menangkap kalian, itu berbeda dengan saat dia menangkapku. Dia menangkap kalian untuk mengambil bulu domba dan susu sapi, tetapi dia menangkapku untuk mengambil nyawaku.” Manusia tidak boleh hanya berdiri di sudut pandangnya sendiri untuk menilai orang lain. Ketika melihat orang lain menderita, kita mungkin tidak merasakan apa-apa, karena kita tidak mengetahui penderitaan yang sebenarnya dialami orang tersebut. Inilah yang disebut welas asih universal yang memandang semua sebagai satu kesatuan. Banyak orang memiliki sudut pandang dan lingkungan hidup yang berbeda, sehingga sulit memahami perasaan satu sama lain. Inilah sebabnya mengapa begitu banyak keluarga di zaman sekarang mengalami keretakan dan perpecahan, karena suami tidak memahami betapa beratnya pengorbanan dan kerja keras istri di rumah setiap hari, dan istri juga tidak mengetahui penderitaan dan tekanan yang dialami suami di tempat kerja. Saling memahami adalah hal yang paling penting, dan pengertian satu sama lain harus dibangun dengan hati yang penuh welas asih. Kita harus memahami orang lain terlebih dahulu baru bisa menyentuh hati mereka. Jika ingin menyelamatkan dan membimbing semua makhluk, kita harus mampu menyatu dengan mereka. Hanya dengan memahami penderitaan makhluk hidup, baru bisa menolong dan membimbing mereka. Semoga mereka dapat melepaskan gengsi dan bersama-sama dengan kita belajar Buddha Dharma dengan baik, serta belajar memahami orang lain dengan sungguh-sungguh. Karena itu ada sebuah pepatah yang mengatakan, “Hidup saling pengertian!”Seorang praktisi Buddhis, terhadap kegagalan dan luka batin orang lain, sama sekali tidak boleh merasa senang atas penderitaan mereka. Sebaliknya, harus memberi perhatian dan pengertian, merasakan sakit orang lain seolah-olah itu adalah rasa sakit diri sendiri. Hanya dengan benar-benar menempatkan diri pada posisi orang lain, kita dapat memahami perasaan mereka. Oleh sebab itu, untuk membimbing seseorang, kita harus terlebih dahulu memahami dirinya, barulah kita dapat benar-benar menuntun dan menolongnya.
Semakin baik pembinaan diri seseorang semakin besar pula hati welas asihnya, rintangan iblis juga akan semakin banyak. Seseorang harus membina diri hingga mencapai “anutpattika dharma ksanti — ketiadaan kesabaran dharma”, barulah dapat menyingkirkan penderitaan dalam hati. Anutpattika dharma ksanti — ketiadaan kesabaran dharma berarti menghilangkan kesabaran di dalam hati. Ini adalah tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Ketika suami dan istri bertengkar, “Aku tahan, Aku sabar…” — ini bukan tingkat kesadaran spiritual tertinggi bagi seorang praktisi Buddhis, karena suatu hari nanti kamu mungkin tidak mampu menahan lagi dan akhirnya bertengkar juga. Tingkat kesadaran spiritual tertinggi adalah tidak lagi memiliki perasaan “sedang menahan diri.” Misalnya: “Hari ini kamu memperlakukanku dengan buruk, memarahiku sekeras apa pun, saya tidak merasa bahwa kamu sedang memarahiku. Saya hanya menganggap ini sebagai akibat jodoh karma buruk di antara kita. Dengan baik-baik melafalkan paritta bisa menguraikannya. Jadi, saya tidak marah, dan saya juga tidak merasa perlu menahan diri.” Inilah yang disebut “anutpattika dharma ksanti — ketiadaan kesabaran dharma”. Ketika cobaan iblis datang, keadaan luar boleh berubah, tetapi hati jangan ikut berubah, maka cahaya Buddha akan menerangi batin kita.
Dalam belajar Buddha Dharma, sebesar apa pun kesulitan yang kita hadapi, kita tidak boleh mundur, harus memiliki ketabahan. Seseorang yang berhasil dalam pembinaan diri harus belajar menghadapi dua hal di dunia ini: belajar menanggung penderitaan dan belajar menerima kerugian. Manusia harus belajar memutuskan kebiasaan buruknya sendiri. Banyak orang yang dulunya merokok akhirnya berhasil berhenti. Banyak orang yang awalnya mudah murung dan penuh masalah di dalam hati, melalui pembinaan diri akhirnya semakin sedikit kerisauannya. Inilah hasil dari pembinaan diri. Jika kemampuan pembinaan dirimu lebih banyak, kerisauanmu akan berkurang sedikit. Ini seperti seorang anak kecil yang ketika menghadapi sedikit masalah merasa seolah-olah terjadi sesuatu yang sangat besar: “Ibu, terjadi masalah besar!” Lalu sang ibu berkata, “Tidak apa-apa, nanti ibu bicara dengan gurumu.”Kita sekarang juga seharusnya demikian. Apapun masalah yang dihadapi, janganlah merasa risau. Masalah besar apa yang ada? Satu-satunya masalah besar dalam hidup hanyalah kematian. Selain kematian, tidak ada satu hal pun yang patut dirisaukan. Jadi, jika kita dapat membina masalah kematian yang paling penting ini dengan baik, maka kita tidak akan takut terhadap apa pun. Kita bisa naik ke Surga dan memiliki jalan pulang. Kita memiliki rumah di alam surga yang jauh lebih indah, lebih mulia, dan lebih agung. Ketika kamu masih memiliki banyak kerisauan dan karma buruk, itu berarti kamu belum cukup baik dalam membina pikiranmu. Namun jangan menyerah. Teruslah membina diri dengan keyakinan dan keteguhan hati, maka kamu pasti akan berhasil.
Ada seorang guru besar bersama muridnya berjalan di jalan tanah setelah hujan reda. Sepatu barunya penuh terkena lumpur. Muridnya bertanya padanya: “Guru, mengapa Anda tidak mengganti sepatu saja sebelum keluar?” Guru agung itu memandang jalan desa yang berlumpur, lalu berkata dengan penuh makna:“Daripada mengganti sepatu, lebih baik mengganti jalannya.” Seketika itu juga, hati sang murid tersentak. Di bawah bimbingan guru agung tersebut, seluruh penduduk desa akhirnya menemukan sebuah jalan berbatu, sehingga masalah itu terselesaikan untuk selamanya dan tidak perlu lagi merasakan kesulitan mengganti sepatu saat hujan. Kisah ini memberi tahu kita bahwa meskipun mengganti jalan lebih rumit dan mengganti sepatu lebih mudah, namun ketika menghadapi kesulitan, manusia sering kali berpikir bahwa mengubah dunia tidak semudah mengubah diri sendiri. Secara tidak sadar, mereka beradaptasi dengan perubahan lingkungan luar dan hanya mengikuti arus, tanpa menyadari bahwa di dunia ini kita seharusnya menggunakan kesabaran dan keteguhan hati kita untuk mencari sebuah jalan demi menyelamatkan diri kita sendiri.
Jika seseorang sering terpengaruh oleh lingkungan luar, maka sifat aslinya akan menjadi menyimpang. Dalam Buddha Dharma terdapat delapan puluh empat ribu pintu Dharma. Jika kamu mempelajari setiap pintu Dharma sedikit demi sedikit, mungkin sampai beberapa kehidupan pun belum tentu bisa naik ke surga. Berusahalah dengan tekun dan sungguh-sungguh mempelajari Buddha Dharma, maka kamu akan memahami arti kehidupan yang sejati. Mereka yang benar-benar bisa sukses adalah para spesialis dan bukanlah dokter umum. Mereka yang bisa mengobati segala macam penyakit hanya bisa menjadi dokter umum, sedangkan orang yang bisa sukses adalah seorang spesialis. Kita sekarang adalah “spesialis” yang menempuh jalan kembali ke surga. Kita harus membina diri menuju Alam Sukhavati dan Empat Alam Brahma. Kita harus tekun mendalami satu pintu Dharma dan terus berusaha dengan sungguh-sungguh. Kita pasti dapat menjadi ahli dalam menempuh jalan pulang ke rumah sejati kita.
Master mempertaruhkan nyawa dalam membabarkan Dharma, berharap kalian juga dapat bersungguh-sungguh menolong dan menyadarkan lebih banyak orang, jangan menyia-nyiakan waktu. Pada umumnya, orang tidur sekitar delapan jam sehari sudah cukup. Bagi yang usianya lebih tua, tidur enam jam juga tergolong normal secara medis. Berharap kalian jangan serakah dalam tidur. Terlalu banyak tidur juga merupakan suatu bentuk karma buruk. Manusia tidak boleh malas, karena orang yang malas tidak dapat naik ke surga.
Kebingungan manusia di dunia ini terutama berasal dari godaan di dalam hati sendiri. Hal-hal yang kamu anggap benar, meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan kebenaran, tetapi kamu merasa itu adalah benar. Mengapa suami istri bisa bertengkar? Karena istri merasa dirinya benar, suami juga merasa dirinya benar. Padahal jelas tidak masuk akal, namun masing-masing merasa apa yang dikatakannya adalah benar, hingga membuat pihak lain sangat marah. Di dunia yang penuh dengan ketidaklogisan ini, mengapa sesuatu bisa dijelaskan seolah-olah sangat masuk akal? Inilah sebabnya mengapa ketika berperkara, kamu justru bisa semakin marah. Banyak hal di dunia ini sebenarnya tidak memiliki benar atau salah; semuanya hanyalah hasil dari sebab-akibat dan jodoh.
Ketika kita sebagai manusia berinteraksi dengan dunia luar, banyak orang menjadi bergantung lalu akhirnya gagal. Mereka mengira orang itu sangat mampu, lalu kamu pun mengikuti orang tersebut. Ketika kita berkomunikasi dengan hati kita sendiri, hati adalah yang paling dapat membantu kita. Sering-seringlah bertanya kepada diri sendiri. Teman yang paling dekat adalah hatimu. Hati manusia bisa “berbicara”. Di dalam pikiran kita, hati dan diri kita sendiri sering berdialog. Sebagai contoh, ada suatu barang di sini yang tidak ada orang mengambilnya. “Saya boleh ambil, kan?” Hati kita berbicara, “Tidak boleh, itu termasuk mencuri.” “Mencuri apa? Saya tidak mencuri, ini kan tidak ada yang punya.” “Tidak boleh. Praktisi Buddhis tidak boleh mengambil barang milik orang lain.” “Ini bukan mengambil kok!” “Itu juga tidak baik, akan menanggung karma.” “Menanggung karma apa? Masa cuma ambil sekali saja sudah memikul karma?”“Tahukah kamu bahwa kamu adalah seorang Bodhisattva?” “Oh, praktisi Buddhis… kalau begitu saya tidak jadi mengambilnya, biarlah tetap di sana. Yang bukan milik saya, tidak seharusnya saya miliki.” Pikiran benar kamu telah mengalahkan pikiran buruk dalam hatimu. Dalam melakukan apa pun, terlebih dahulu berkomunikasilah dengan “teman” di dalam hatimu. Tanyakan pada hati nurani sendiri dulu, yaitu bertanya pada sifat dasar diri sendiri: apakah kamu rela merugikan orang lain? Bangunlah sebuah jembatan untuk berkomunikasi dengan batinmu sendiri. Selama jembatan itu ada, itu sudah merupakan awal dari pencerahan.
