Seminar Dharma Sabah - Malaysia, 18 Januari 2015
Sifat Kebuddhaan Kekal Abadi, Kebajikan Buddha Menetap Selamanya, Kesadaran Pikiran Mencapai Kebuddhaan, Kebebasan dan tanpa Hambatan
Kita hidup di dunia ini, semakin kamu menginginkan sesuatu, semakin jauh ia darimu, dan semakin kamu tidak menginginkan sesuatu, semakin dekat ia denganmu. Ketika kamu benar-benar menginginkannya, malah tidak dapat menemukannya, dan ia tidak akan datang. Ketika kamu benar-benar tidak membutuhkannya, ia akan muncul di hadapanmu. Delapan penderitaan hidup: penderitaan karena keinginan yang tidak terwujud, penderitaan karena berpisah dari orang-orang terkasih … dan penderitaan terhadap yang tidak ingin dilihat, tetapi harus melihatnya setiap hari, sama seperti tidak menginginkan anak ketika baru saja menikah, akan terus tidak menginginkan anak. Ketika suatu hari ingin punya anak, tetapi tidak bisa hamil. Kita praktisi Buddhis, harus belajar menghadapi kenyataan di dunia. Jika kita belajar menghadapinya, kita tidak akan begitu risau. Mengetahui bahwa datang ke dunia ini adalah untuk menderita dan melunasi utang, maka tidak akan begitu menderita.
Kita harus menjauh dari ilusi yang kontradiktif, karena banyak penderitaan kita adalah ilusi mimpi, kita akan merasa sedih ketika itu tidak bisa terwujud. Semua orang tahu, ada seorang gadis yang sangat menyukai Andy Lau. Ayahnya meminjam uang untuk dia bisa mengejar idolanya, membantunya berfoto dengan Andy Lau. Akhirnya, ayahnya bunuh diri, dan Andy Lau bahkan menerima perawatan psikologis untuk itu. Ia (gadis) tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya, dan ia merasa sedih. Ia harus mengejarnya, dan pada akhirnya ia merasa sangat menderita. Tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah ilusi yang kontradiktif, karena orang berpikir dia bisa mendapatkannya, tetapi kenyataannya kamu tidak bisa mendapatkannya, dan kamu akan menderita, harus menghadapi kerisauan, harus tiada ketakutan.
Bagaimana seseorang bisa ketakutan? Karena kamu berbuat jahat kepada orang lain setiap hari, kamu pasti akan merasa takut. Jika kamu menuntutnya hari ini, kamu tidak tahu apakah dia akan menuntutmu dua hari kemudian. Orang-orang zaman sekarang memiliki rasa iri dan kebencian yang sangat kuat. Bisakah memarahi istri zaman sekarang? Jika kamu mengatakan sesuatu yang buruk tentang istrimu, dia akan membiarkanmu makan makanan asin di malam hari, dia menambahkan banyak garam ke dalam masakan. Sang suami berkata, “Mengapa begitu asin?” Sang istri berkata, “Bukankah kamu selalu mengatakan bahwa aku ‘xian qi — istri yang baik (asin)?” Dendam orang-orang sangat kuat.
Kita harus memahami bahwa hanya ketika kita tidak takut, kita baru bisa menghilangkan semua penderitaan. Jangan menyakiti orang lain, harus mengatasi segala macam penderitaan di dunia, ini disebut mengatasi semua penderitaan. Jangan biarkan orang lain menyebabkan bencana dan kesulitan, jangan menimbulkan kebencian dan kecemburuan. Jika tidak muncul, kamu tidak akan memiliki penderitaan untuk dihilangkan, ini adalah tiada lahir dan lenyap. Tanpa kebijaksanaan, tidak ada yang bisa diperoleh, jadi tidak ada yang diperoleh. Ini adalah tiada kebijaksanaan dan tiada perolehan, karena tidak ada yang bisa diperoleh. Lafalkan paritta setiap hari dan pahamilah dengan baik. Pikiran manusia dapat menciptakan kebaikan dan juga dapat menciptakan kejahatan. Jadi, segala sesuatu diciptakan oleh pikiran. Memiliki mentalitas yang baik hari ini dan memandang semua orang sebagai Bodhisattva, maka kamu hidup di antara para Bodhisattva, yang berarti hidup di Alam Sukhavati.
Ada sebuah lelucon yang mengatakan bahwa seorang nyonya rumah ingin mengundang tamu makan malam. Ia berkata kepada pelayannya, “Malam ini saya ada tamu datang makan malam, bisakah kamu membuatkan hidangan spesial?” Pelayan itu berkata, “Nyonya, apakah Anda ingin para tamu kembali lagi setelah makan malam nanti, atau Anda ingin mereka tidak pernah ingin kembali lagi setelah makan malam?” Lelucon ini menunjukkan bahwa pikiran seseorang dapat membuat seseorang menjadi Buddha, juga dapat membuatnya menjadi iblis. Ingat, pikiran tercerahkan akan mencapai Kebuddhaan, pencerahan berarti tersadarkan. Ketika seseorang tercerahkan, ia akan menjadi Buddha; Pikiran tersesat akan menjadi iblis. Jika pikiran seseorang tersesat, menginginkan ini dan itu, ia akan menjadi iblis. Kita harus menaklukkan niat jahat dan pikiran buruk, serta menemukan sifat semula. Kita manusia adalah berhati baik. Setelah Sang Buddha mencapai pencerahan, Beliau berkata, “Semua orang memiliki sifat Kebudhaan”. Ini sama seperti yang dikatakan Konfusius “Pada dasarnya manusia memiliki sifat yang baik”.
Bagaimana kita bisa menemukan kebaikan dalam diri kita? Ketika seseorang membenci orang lain, itu seperti virus di komputer. Ketika kamu membenci orang lain, akan masuk satu virus. Iri hati kepada orang lain, ada satu lagi virus di dalam hati. Kebodohan dan melakukan kesalahan, kesedihan, dan penyesalan, hal-hal yang tidak baik seperti ini di dalam hati, seiring berjalannya waktu, komputermu akan rusak. Hati yang dipenuhi kebencian dan kecemburuan, suatu hari nanti, jantungmu akan terluka, hatimu akan terluka. Oleh karena itu, berharap kalian harus memahami untuk menjadi tuan hati nurani diri sendiri, bukan budak keserakahan. Jika memiliki nafsu keinginan, kamu adalah iblis keserakahan. Semakin banyak keserakahan, semakin banyak iblis, dan hati nuranimu akan hilang. Bagaimana kamu bisa memiliki hati nurani jika hatimu dipenuhi dengan pikiran iblis? Orang yang berhati penuh kebaikan, pikiran iblis tidak bisa bertahan. Berharap semua orang menjalin jodoh baik secara luas, dan menjadi makhluk yang memiliki hati nurani dan welas asih.
Seorang komposer muda menghadiri sebuah pesta yang dihadiri banyak bangsawan. Banyak di antaranya adalah pangeran dan adipati. Melihat komposer ini, mereka menertawakannya dan meremehkannya. Komposer merasa sangat rendah diri, dan berkata kepada temannya, “Saya sangat sedih, mereka memandang rendah saya.” Temannya menyemangatinya dengan berkata, “Di dunia ini, adipati memang banyak, tetapi dirimu yang penuh percaya diri hanya ada satu. Berkat dorongan dari temannya, komposer itu akhirnya menjadi seorang musisi besar, di adalah Beethoven, yang kemudian menulis karya-karya musik abadi sepanjang masa. Jadi, orang selamanya tidak tahu, sepatah kata yang diucapkan seseorang kepadamu, mungkin akan memiliki kekuatan, membuatmu mendapatkan manfaatnya seumur hidup. Sang Buddha mengajarkan kita satu pepatah — berpuas diri dan selalu bahagia, yang bermanfaat bagi kita sepanjang hidup. Orang yang berpuas diri baru akan bahagia. Kalian yang hadir di sini hari ini, orang yang bisa bahagia pasti sangat berpuas diri. Banyak yang masih merasa tidak puas, pasti tidak akan bahagia. Master ingin fondasi kalian praktisi Buddhis adalah menghargai kehidupan, karena di dunia ini, konflik hanya akan meningkatkan kebencian, tidak dapat menguraikan perselisihan. Master berharap semua orang berpuas diri, mengurangi konflik, selalu bahagia, dan memiliki kehidupan yang indah.
Hargai setiap jodoh, jika suatu hari seseorang mengucapkan selamat tinggal begitu saja, kamu mungkin takkan pernah bertemu dengannya lagi dalam hidup ini, jodoh itu akan putus dan hilang begitu saja. Jadi, hargailah selagi masih ada jodoh, ketika benar-benar tidak berjodoh lagi kita juga tidak akan menyesalinya. Hidup adalah proses menciptakan sesuatu dari ketiadaan, dari ada menjadi tiada, lalu kehilangan segalanya.
Seorang tukang kayu menebang sebatang pohon dan membuat tiga tong kayu. Satu untuk tempat sampah dan disebut tong sampah, sangat busuk dan semua orang menghindarinya. Satu untuk tempat air dan disebut tong (ember) air, semua orang menggunakannya. Dan satu lagi untuk tempat beras, meskipun disebut tong beras, tetapi semua orang mengandalkannya untuk bertahan hidup. Baik itu tong beras, tong air, maupun tong sampah, kayunya sebenarnya sama, tong-tong itu sama, tetapi isinya berbeda. Nasib kita juga seperti itu, kita memiliki hidup ini juga seperti itu. Mentalitas seperti apa yang kamu miliki akan menentukan pembalasan dan kehidupan seperti apa yang akan kamu dapatkan. Memiliki mentalitas yang baik, mengisinya dengan welas asih, dan rasa syukur, kita akan memiliki kehidupan seperti seorang Bodhisattva dan masa depan yang indah.
Kehidupan seseorang menentukan takdirmu seumur hidup. Penderitaan di dunia membuat kita lebih tahu untuk menghargai hidup. Hidup harus dijalani dengan penuh harapan. Hanya ada orang yang tidak dapat berpikiran terbuka di dunia ini, tidak ada jalan yang tidak dapat ditempuh. Tidak peduli masa baik atau buruk, kita harus mengikis karma, meningkatkan berkah dan kebijaksanaan untuk membantu kehidupan kita sendiri. Daya saing tidak dapat menciptakan sesuatu yang indah, dan kesombongan tidak dapat menghasilkan sesuatu yang mulia. Praktisi Buddhis memiliki hati yang baik dan dapat menghasilkan energi tak terbatas untuk menyelesaikan berbagai kerisauan tak terbatas di dunia!
Terhadap kerisauan duniawi, seseorang hendaknya mencari kesalahan dalam dirinya sendiri. Misalnya, banyak pria sangat membenci dugaan dan kecurigaan wanita, seringkali karena wanita-wanita ini begitu akurat dalam dugaan mereka, pasti ada yang salah dengan pria tersebut. Orang sering bertanya, “Master, saya sangat baik hati, mengapa saya sangat menderita? Dan beberapa orang begitu jahat, namun dia hidup dengan baik?” Jika hati seseorang menderita, itu pasti menunjukkan bahwa ada kejahatan relatif di dalam hatinya. Artinya, selama seseorang merasa menderita, ada sesuatu yang jahat di dalam dirinya. Jika tidak ada kejahatan di dalam hatinya, maka tidak akan ada penderitaan. Jika seseorang tidak memiliki pikiran atau perkataan jahat di dalam hatinya, ia tidak akan menderita.
Misalnya, kamu merasa penghasilanmu sedikit, gaji rendah, dan rumah tidak cukup besar, sering merasa krisis untuk bertahan hidup dan sering marah, berpikir: “Beberapa orang tidak berpendidikan tetapi sangat kaya. Mengapa saya yang berpendidikan tetapi penghasilan begitu rendah? Ini sangat tidak adil. Tidak ada seorang pun di rumah yang mendengarkan saya. Saya merasa sangat marah.” Sebenarnya, kamu seharusnya memahami bahwa penghasilanmu hari ini cukup untuk menghidupi keluargamu. Kamu memiliki rumah dan tidak menjadi tunawisma di jalanan, hanya saja rumahmu lebih kecil saja. Jangan merasa menderita dengan hal-hal ini sama sekali, karena penderitaan itu berasal dari keserakahanmu, jadi kamu akan menderita. Tanpa keserakahan, tidak akan ada kejahatan. Bagaimana mungkin orang yang tidak serakah menderita? Melihat orang yang tidak berpendidikan menjadi kaya, itu berarti kamu memiliki rasa iri hati; merasa pendidikan diri tinggi, itu adalah kesombongan. Kamu mengira berpendidikan tinggi harus memiliki penghasilan yang tinggi, itu adalah kebodohan. Kekayaan adalah hasil dari berdana di kehidupan lalu. Anggota keluarga tidak mendengar nasihatmu, merasa marah, itu karena kamu tidak memiliki toleransi. Pikiran yang sempit akan melahirkan kebencian. Memiliki pikiran jahat ini di dalam hati, baru akan menciptakan penderitaan yang tak tertahankan.
Orang yang tamak tidak akan pernah melihat segala sesuatu dengan jernih. Orang yang pesimis pasti akan memiliki kebencian. Orang yang pikirannya kacau pasti akan berpandangan mengeluh, yakni sering merasa “Aku tidak puas”, “Aku sangat kasihan”, “Aku tidak mau”. Oang yang jodohnya buruk pasti karena terlalu serakah dan akan menjadi bodoh. Orang yang banyak rintangan akan kekurangan pikiran Buddha.
Master memberi tahu kalian sebuah kisah nyata. Di Amerika Serikat, ada seorang sopir berkulit hitam, dia mengendarai taksi. Dia membawa seorang ibu dan anak berkulit putih. Anak berkulit putih itu bertanya kepada ibunya, “Bu, mengapa kulit pak sopir itu berbeda dengan kita?” Sang ibu menjawab, “Anakku, Tuhan demi membuat dunia ini penuh dengan warna-warni, maka menciptakan manusia dengan warna kulit yang berbeda-beda.” Setelah tiba di tempat tujuan, sopir taksi itu menolak untuk menerima ongkos. Ibu anak itu bertanya, “Mengapa kamu tidak menerima ongkos?” Pria berkulit hitam itu menjawab dengan berlinang air mata, “Waktu kecil, saya juga menanyakan pertanyaan yang sama kepada ibuku. Ibu berkata kepada saya, ‘Kita adalah orang kulit hitam. Kita ditakdirkan untuk lebih rendah daripada orang lain dalam hidup ini.’ Seandainya ibuku menjawab sepertimu, saya pasti akan mencapai sesuatu yang berbeda hari ini.”
Pikiran benar akan menghasilkan perilaku benar. Praktisi Buddhis terlebih dahulu harus menyesuaikan jodoh dan melihat kelebihan diri sendiri, karena kita adalah keturunan Buddha, adalah makhluk yang memiliki sifat Kebudhaan. Hanya dengan menghargai semua yang kita miliki saat ini, kita baru bisa benar-benar merasa puas, baru bisa benar-benar bahagia! Jika kamu ingin orang lain bahagia, kamu sendiri harus memperoleh kebahagiaan terlebih dahulu. Jika kamu ingin menebarkan sinar matahari ke dalam hati orang lain, kamu harus terlebih dahulu mengisi hatimu sendiri dengan sinar matahari. Dalam menekuni Dharma dan menyelamatkan orang, terlebih dahulu harus membiarkan sifat Kebuddhaan diri sendiri bertahan selamanya, dan kebajikan Buddha menetap selamanya. Berharap bisa tetap tinggal di dunia. Hanya kekuatan tekad yang dapat menetap di dunia yang penuh malapetaka ini selama kalpa yang tak terhitung jumlahnya, memberi manfaat bagi semua makhluk hidup. Tetap tidak tercemar di dunia fana, menjauhi keserakahan, kebencian, dan kebodohan, memberi manfaat bagi semua makhluk, dan terbebaskan dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan!
Seorang ahli filsafat pernah berkata, “Hidup itu seperti seekor burung. Jika tidak berusaha keras untuk terbang akan jatuh dan berusaha keras untuk terbang akan mati tertabrak.” Kita harus belajar mengendalikan takdir kita sendiri. Jangan terburu-buru melakukan apa pun. Jangan menunggu badai berlalu untuk menanggung bencana yang dibawakannya. Master berikan penjelasan dulu, banyak orang tidak peduli apa pun ketika bertengkar, dan akhirnya bercerai karena gengsi. Berapa banyak suami istri yang awalnya tidak akan cerai, tetapi karena gengsi, karena satu ucapan yang terlanjur diucapkan, dan tidak bisa ditarik kembali. Berharap semua orang tidak menanggung bencana yang datang setelah badai, tetapi belajarlah untuk terbang tinggi sebelum badai itu tiba. Belajarlah untuk pergi keluar berbelanja sebelum istrimu marah.
Sang Buddha bersabda, kekhawatiran manusia muncul dari cinta dan keinginan; dari kekhawatiran muncul ketakutan; tiada cinta sama dengan tiada kekhawatiran, jangan memiliki keinginan yang besar terhadap hal ini, maka tidak ada kekhawatiran. Tiada kekhawatiran berarti tiada ketakutan, jika tidak memiliki kekhawatiran, maka benar-benar tidak kenal takut. Singkirkan semua keserakahan dan cinta yang tidak perlu di dunia, ini adalah fondasi dasar bagi praktisi Buddhis!
