Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Taipei - Taiwan, 15 September 2014
Welas Asih dan Sukacita dalam Memberi serta Bersyukur, Meningkatkan Tingkat Kesadaran Spiritual dan Karakter, Kehidupan Dipenuhi dengan Kebijaksanaan
Pikiran yang tenang seperti air, pikiran yang tenang, air pun diam. Ketika pikiran sangat tenang, bisa melihat banyak hal nyata. Ketika pikiranmu sangat tenang, kamu akan melihat kebijaksanaan Tathagata. Apa itu kebijaksanaan Tathagata? Yaitu bisa melihat melampaui dan melepaskan, bisa mengetahui bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal. Manusia sepenuhnya dapat melihat masa lalu dan masa depan. Mengapa bisa melihatnya, itu karena kamu sudah memiliki Buddha di hatimu. Inilah yang dikatakan Sang Buddha 2.500 tahun yang lalu: “Semua makhluk memiliki sifat Kebuddhaan.” Kalian semua memiliki sifat Kebuddhaan. Mengapa tidak menggunakan sifat Kebuddhaan diri sendiri dengan baik dalam menjalani hidup? Banyak orang yang hidup dalam kecemasan, banyak orang yang hidup dalam ketakutan, dan banyak orang yang hidup dalam kesedihan. Berharap semua orang dapat melepaskan diri dari ketakutan dan kesedihan, terbebas dari semua penderitaan, dan memperoleh semua kebahagiaan. Setelah welas asih, kita juga harus menambahkan perasaan sukacita dan perasaaan merelakan. Jika bisa memiliki perasaan sukacita, sering berdana, dan sering bersikap baik kepada orang lain, maka akan memiliki pikiran merelakan. Sukacita dalam memberi akan mendatangkan welas asih. Orang yang memiliki hati yang welas asih pasti akan sukacita dalam memberi.
Master sangat berterima kasih kepada kalian semua. Setiap kali melihat kalian, hati Master selalu sangat terharu. Saya selalu merasa bersalah terhadap Guan Shi Yin Pu Sa, merasa orang yang saya selamatkan terlalu sedikit. Selama melihat masih ada orang yang menderita, saya akan merasa sangat sedih. Apa pun yang kita lakukan di dunia ini akan segera mendapat balasan karma langsung. Oleh sebab itu, orang tidak boleh melakukan kesalahan, harus baik hati, harus berhati-hati dalam membabarkan Dharma. Ada orang yang berusaha sekuat tenaga untuk membantu menyeberangkan orang, ini harus memikul karma, memikul dengan sangat berat. Jika kalian merasa telah membina diri dengan baik, maka kalian boleh melakukan ini. Jika merasa belum membina diri dengan baik, maka diri sendiri harus melafakan paritta dengan baik terlebih dahulu.
Harus selalu memperkuat kekuatan batin diri sendiri. Apa itu kekuatan batin? Dalam hati akan menghasilkan semacam kekuatan. Banyak orang tidak akan mati selama hati mereka memiliki kekuatan. Banyak orang yang menderita kanker, dia memiliki kekuatan batin, maka dia tidak akan mati. Dia berkata, “Guan Shi Yin Pu Sa pasti akan memberkatiku. Aku harus percaya kepada Guan Shi Yin Pu Sa. Aku harus sembuh. Guan Shi Yin Pu Sa – Anda harus menyelamatkanku!” Kekuatan semacam ini akan mengubah faktor sel kanker dalam darahnya berubah. Oleh karena itu, kekuatan tekad seseorang sangatlah penting. Ketika seseorang menghadapi suatu masalah besar dan tidak ada waktu untuk melafalkan paritta atau melepaskan makhluk hidup, apa yang harus ia lakukan? Ketika menghadapi masalah besar, panggillah “Guan Shi Yin Pu Sa” dengan hatimu, bukan teriak keluar suara. Semakin tidak ada suara, semakin menembus ke Alam Surga. Tidak peduli seberapa keras kamu berteriak, Surga tidak dapat mendengarmu. Pusatkan kekuatan hatimu dan gunakan keyakinanmu untuk memanggil di dalam hatimu. Langit akan berguncang dan Bodhisattva pasti akan datang untuk menyelamatkanmu.
Alam Surga mengawasi dengan sangat ketat, dan Alam Akhirat juga mengawasi dengan sangat ketat. Selama arwah asing merasuki tubuh, itu pasti ada hubungannya denganmu di kehidupan sebelumnya, tidak dapat melarikan diri darinya. Ada yang berkata: “Saya melafalkan paritta, mengapa arwah asing semakin banyak?” Bagaimana itu mungkin? Itu adalah jodoh burukmu dari banyak kehidupan, yang terakumulasi dalam waktu yang lama, seperti pertengkaran antara suami dan istri. Saat mereka tidak bertengkar, suami istri perang dingin. Ketika bertengkar, di tanggal sekian kamu pernah mengatakan saya begini, kamu tidak baik kepada ibuku, kamu tidak baik kepada ayahku, dan kamu pernah mengatakan kepada anak-anakku bahwa aku baik… Semuanya dikatakan, ada bukti yang membuktikannya. Orang kini ingin membalas dendam padamu, rohnya merasuki tubuhmu untuk menagih utang, kamu berkata, “Bagaimana kamu bisa datang? Mengapa kamu datang kepadaku? Aku tidak mengenalmu.” Bagaimana mungkin tidak kenal? Hantu itu bisa melihat dengan jelas, menatapmu, jadi tidak perlu ragu, baik-baik melunasi hutang. Siapa suruh kamu berutang? Kalian harus belajar dari Master. Sekarang tidak berutang, di masa depan tidak berutang dan selamanya tidak berutang.
Ada dua jenis hutang. Yang satu adalah utang material; yang satunya lagi adalah hutang perasaan dan hutang hati, karena hatimu membencinya. Di Asia Tenggara, guna-guna sangat populer. Mengapa orang ini mempunyai balasan karma yang besar? Pihak lain tidak seharusnya diganggumu, dan kamu mengganggunya. Kamu diam-diam melanggar hukum bumi dan langit. Meskipun kamu mungkin berhasil untuk sementara waktu, namun kamu akan dihukum selanjutnya, sama seperti dijatuhi sanksi hukum. Banyak orang yang sangat marah, kemudian langsung meninju orang lain, lalu mereka ditangkap dan dihukum. Kalian tidak tahu apa yang benar dan apa yang salah. Di Zhengzhou, China, ada seorang pria tua yang sangat kasihan. Setelah dia naik bus, dia bersaing untuk mendapatkan tempat duduk dengan seorang pemuda. Pemuda itu berbicara dengan sangat kasar, pria tua itu sangat marah dan menampar pemuda itu empat kali. Pemuda itu tidak melawan, setelah dia turun dari bus, pria tua itu meninggal di dalam bus. Coba kalian pikirkan, apakah itu layak? Marah pada anak, marah pada suami, marah pada sahabat, apakah itu layak? Menyakiti diri sendiri, nyawa hilang begitu saja. Inilah yang dimaksud dengan marah sampai mati. Marah itu sangat bahaya. Di masa lalu, banyak orang yang memiliki prestasi besar, pencapaian, dan karir hebat, seperti Zhou Yu, dibuat marah sampai mati oleh Zhu Ge Liang.
Tidak peduli seberapa liciknya seseorang juga akan mati karena marah. Ada sebuah kejadian yang terjadi di Taiwan di mana seseorang karena orang lain memarahi orang tuanya, mengatakan kata-kata kasar, dia sangat marah. Dia tidak berpendidikan tinggi, jadi dia memukul orang itu hingga mati. Hakim menuduhnya di pengadilan, dan dia berkata kepada hakim: “Hakim, Anda bajingan, Anda mengambil uang pajak kami…” Hakim mengatakan dia menghina pengadilan. Memarahinya selama setengah jam. Kemudian dia berkata sambil tersenyum: “Pak Hakim, mohon maafkan saya. Saya hanya berpendidikan SMP, sedangkan Anda adalah seorang Hakim Agung yang berpendidikan tinggi. Saya menghina Anda satu kalimat dan Anda memarahi saya selama setengah jam. Orang seperti saya yang tidak berpendidikan tinggi dimarahi orang lain tentang orang tua, kakek, dan leluhur saya. Saya juga tidak bermaksud membunuh orang, saya hanya marah sesaat.” Hakim mendengarnya dan merasa masuk akal, jadi memberikannya hukuman yang ringan.
Seseorang tidak boleh berbuat apapun bila emosinya sedang meluap, tidak boleh mengambil keputusan apapun bila suasana hatinya sedang tidak tenang. Ada orang yang tidak tahu kalau dirinya sedang marah disaat dirinya lagi marah. Ada orang yang wajahnya terlihat jelek ketika sedang marah, dia tidak bisa melihatnya dan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Kapan tahu bahwa diri sendiri tidak tenang? Pertama, (Saya berbicara tentang duniawi terlebih dahulu) detak jantung bertambah cepat, wajah memerah, orang akan sedikit gemetar, dan tidak dapat berdiri tegak, saat itu, mentalitasmu sudah tidak benar. Begitu juga di Surga, manusia surgawi akan mengalami lima kemunduran. Bunga-bunga akan layu, kursi-kursi yang mereka duduki akan berguncang, dan tubuh mereka akan mulai berbau… tidak dapat lagi berdiri di surga. Pada saat ini, dia tahu bahwa berkah surgawinya telah habis dan sudah waktunya bagi dia untuk kembali ke Alam Manusia. Begitulah ketika manusia surgawi turun, mereka akan reinkarnasi dan terlahir kembali. Inilah kehidupan di surga. Kedua, sebelum marah, kamu akan merasa tidak berdaya, tidak ada seorang pun di sekitar yang dapat membantumu. Jika ada seseorang disamping yang membantu mengatakan beberapa patah kata, mungkin kamu tidak akan marah lagi. Ketika seseorang tidak berdaya, dia mudah emosional; ketika orang lain mengatakan sesuatu kepadamu, dan kamu menanggapinya dengan kata-kata dalam waktu lima detik, hal itu dianggap emosional. Dari manakah datangnya ketenangan seseorang? Ketenangan seseorang bergantung pada kekuatan hati/batin. Tidak peduli seberapa besar masalah yang dihadapi, kamu harus bersabar, menghitung angka.
Sang Buddha berkata, “Bumi ini seperti rumah yang terbakar,” bumi semakin panas, itu efek rumah kaca. Sang Buddha telah memverifikasinya sejak 2.500 tahun yang lalu. Sang Buddha mengatakan bahwa ada 84.000 bakteri dalam air. Jika dokter masa kini tidak memiliki mikroskop, mereka tidak akan pernah dapat membuktikan bahwa perkataan Sang Buddha adalah benar. Dan ilmu pengetahuan modern telah menemukan melalui mikroskop bahwa terdapat 84.000 jenis mikroorganisme dalam air. Sang Buddha berkata bahwa dunia ini adalah rumah yang terbakar. Kalian lihat, kebakaran mudah terjadi di rumah, dan pertengkaran pun biasanya terjadi di rumah. Suami istri mana yang akan pergi ke luar pintu untuk berdebat ketika mereka bertengkar? Ketika bertengkar akan menutup pintu dan tidak lupa untuk menutup jendela agar tetangga tidak mendengar. Bila bertengkar, itu seperti rumah yang terbakar. Ketika kebakaran, hal pertama yang dilakukan bukanlah memadamkan api, melainkan melarikan diri dari kejadian kebakaran. Jika istri menyalakan api di rumah, suami segera lari dari kebakaran, pergi ke pusat perbelanjaan, dan begitu kembali, api sudah padam. Jangan menambahkan bahan bakar ke dalam api. Jika kamu ada di lokasi kebakaran, dia melihat orang yang terlibat, apinya tidak bisa dipadamkan, dia akan terus-menerus memarahi kamu, dia benci begitu melihatmu karena ada aura buruk di tubuhmu yang sedang meledak, sama seperti “sedang buka untuk usaha”.
Dalam berperilaku dan melakukan hal-hal, semuanya dapat diselesaikan dengan kebijaksanaan. Bila kamu memiliki kebijaksanaan, kamu tidak takut pada apa pun. Orang yang tidak mempunyai kebijaksanaan akan tercengang ketika menghadapi masalah, yang benar-benar dibutuhkan adalah kebijaksanaan. Ketika memiliki kebijaksanaan, kita akan melafalkan paritta, berikrar dan melepaskan makhluk hidup. Setelah kita melepaskan makhluk hidup, banyak ikan memiliki spiritual, mereka tidak pergi, mengelilingimu, dan bisa menari. Menurut kalian, apakah senang ketika menyelamatkan orang? (Senang) Apakah senang ketika melepaskan makhluk hidup? (Senang) Sangat senang! Betapa senangnya bisa menyelamatkan nyawa yang hampir binasa! Harus banyak melepaskan makhluk hidup, bukan hanya melepaskan ikan, tetapi juga melepaskan dirimu sendiri. Baik-baiklah membebaskan diri dari kesulitan dan masalah dalam pikiranmu. Kalian adalah murid-murid Master, jadi janganlah mempermalukan Master, tidak boleh tidak memiliki kebijaksanaan, tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak seharusnya kalian lakukan, tidak boleh mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya kalian katakan. Terkadang sebuah kata dapat membuat orang melompat, satu kalimat dapat membuat orang tertawa. Mengapa tidak berbuat lebih banyak amal dengan ucapan?
Terkadang suami istri tidak memiliki konflik yang besar, hanya ucapannya yang tidak enak didengar. Ada orang yang menyebalkan begitu membuka mulutnya, sedangkan ada orang yang menyenangkan begitu membuka mulutnya. Apakah kalian ingin menjadi seseorang yang disukai orang lain, atau seseorang yang dibenci orang lain? Baik-baiklah memberikan perasaan sukacita Dharma kepada orang lain, ucapanmu akan semakin disukai orang. Misalnya, ketika memperkenalkan Dharma kepada orang-orang, kamu berkata, “Paman, kesehatanmu tidak baik, kamu jangan khawatir. Ada satu pintu Dharma yang sangat bagus, kamu cobalah, lafalkan paritta dan kesehatanmu akan membaik.” Jika seseorang yang tidak menekuni Dharma, dia akan berkata: “Banyak orang yang menderita penyakit yang sama sepertimu. Ada yang meninggal lebih awal karena kanker, dan ada yang meninggal lebih lambat. Paman tua, kamu jangan khawatir, kamu tidak akan meninggal secepat itu.” Kata-kata yang sama dari seseorang bisa membuat orang lain senang, juga bisa membuat orang tidak senang. Dulu ada seorang anak kecil, mulutnya tidak pandai berbicara. Begitu dia membuka mulutnya, maka akan menyinggung orang lain. Ayahnya tahu masalahnya dan berkata kepadanya sebelum mengajaknya makan malam di rumah orang lain: “Nak, kamu jangan bicara apa pun. Bicaralah setelah kamu keluar pintu. Jangan bicara di rumah orang lain.” Anak itu berkata, “Ayah, jangan khawatir, saya tidak akan mengatakan sepatah kata pun.” Mereka sangat senang makan di rumah orang lain. Orang lain itu berkata, “Anak ini sangat patuh, Dia tidak mengatakan sepatah kata pun.” Dia hanya tersenyum. Setelah makan, orang lain sangat sopan dan mengantar mereka sampai pintu. Begitu mereka keluar pintu, anak itu berkata, “Saya beri tahu kamu, saya tidak boleh bicara apa pun hari ini. Ayah saya sudah bilang bahwa saya tidak boleh bicara di rumahmu. Sekarang sudah keluar pintu, rumahmu ada yang meninggal pun saya tidak peduli.” Mengapa orang tidak belajar berdana melalui ucapan saat mereka masih hidup? “Selamat, jasa kebajikan yang tiada taranya, terima kasih, bersyukur …” Mengapa kalian mengatakan “Terima kasih, Master”? Bukankah terima kasih kepada Master adalah bersyukur? Bersyukurlah kepada semua orang. Bersyukurlah kepada semua orang yang telah mewujudkan kalian seperti sekarang ini. Bersyukurlah kepada semua orang yang telah mencintaimu, yang telah membantumu, yang telah membesarkanmu.
Hati yang sesungguhnya dimulai dari sini—hati yang bersyukur! Rasa syukur dapat berubah menjadi welas asih. Orang yang bersyukur akan berwelas asih.
