Melakukan Kebajikan dan Menjalankan Nidana, Penuh Welas Asih Menyelamatkan Semua Makhluk (Bagian 1) 行善行因缘 慈悲度众生 (上)

Melakukan Kebajikan dan Menjalankan Nidana, Penuh Welas Asih Menyelamatkan Semua Makhluk (Bagian 1)

Seminar Dharma Johor Bahru - Malaysia, 22 Agustus 2015

Perasaan di dunia terkadang tampak ada namun seolah tiada, kasih Buddha di dunia menampakkan ketulusan yang sejati. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma! Para biksu, para tamu kehormatan, serta para teman se-Dharma dan relawan dari seluruh dunia, salam sejahtera untuk semuanya!

Negeri Johor yang indah, hati masyarakat setempat juga selembut nama negerinya. Dalam belajar Buddha Dharma, menggunakan kelembutan dan kebaikan hati di dunia, menggunakan ajaran Buddha Dharma untuk mengubah hati dan pikiran manusia. Dipenuhi dengan sukacita Dharma, dan penuh dengan kelembutan dan kasih Buddha.

Manusia tidak hidup menyendiri. Hidup di dunia ini, setiap orang membutuhkan bantuan orang lain. Dalam kehidupan bermasyarakat dan hidup bersama, hati yang penuh welas asih dan kebaikan merupakan salah satu dasar utama. Warisan budaya Tiongkok dan pola pikir batin yang benar dapat membantu kita terbebas dari penderitaan penyakit serta konflik perasaan dan emosi. Di sebuah daerah bencana gempa bumi, ada sepasang suami istri muda yang memiliki seorang putri satu-satunya mereka yang berusia tiga tahun tertimpa reruntuhan bangunan dan meninggal dunia. Saat itu, keduanya sangat berduka, setiap hari ingin mengakhiri hidup mereka sendiri. Kemudian, teman-teman se-Dharma dari Xin Ling Fa Men membantu mereka, menjelaskan tentang makna kehidupan, dan mengajarkan mereka melafalkan paritta. Akhirnya mereka dapat berpikiran terbuka dan memahami bahwa semua ini juga merupakan bagian dari jodoh. Mereka melafalkan paritta untuk menyeberangkan  arwah anak mereka. Dalam mimpi, putri mereka muncul dengan sikap yang seolah menghibur kedua orang tuanya, sehingga hati mereka memperoleh penghiburan yang sangat besar. Dua bulan kemudian, sang istri hamil, dan setahun kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan gemuk. Keluarga mereka pun kembali dipenuhi kebahagiaan. Manusia harus mampu melihat hari esok, jangan selalu hanya memikirkan hari ini. Hari ini adalah kenyataan yang ada, tetapi hanya orang yang dapat merasakan adanya hari esok barulah hidup dalam harapan dan tidak akan hidup dalam keputusasaan.

Jika kita manusia mampu menerima dan memahami bahwa dunia ini tidak sempurna, barulah kita dapat memiliki kesempurnaan dan kekayaan batin dalam hati. Manusia setiap hari mengejar kesempurnaan, namun dunia ini sendiri tidak mungkin sempurna. Banyak orang justru melewatkan kesempatan yang sebenarnya menjadi miliknya karena terus-menerus hidup dalam keluhan dan omelan. Menyesuaikan jodoh akan memperoleh apa yang seharusnya didapatkan. Seseorang yang menyesuaikan jodoh dan tidak mengeluh, barulah dapat menangkap kesempatan yang baik. Dalam kitab suci Buddha dikatakan: “Hakikat Tathagata tetap tidak berubah menyesuaikan jodoh.” Artinya, kesempatan dan jodoh datang secara alami, tidak boleh dipaksakan. Kita hendaknya menunggu waktu yang tepat dengan tenang, mengikuti kodratnya, dan menyesuaikan nidana. Tidak memaksa jodoh, barulah dapat benar-benar menyesuaikan jodoh. Hidup di dunia ini, jika tidak mengejar, maka apa yang datang sesuai jodohnya akan bertahan lama. Sedangkan apa yang direbut atau dipaksakan untuk didapatkan, mungkin tidak akan menemanimu selamanya. Kita harus memahami bahwa dunia ini selamanya adalah tidak sempurna.

Ada seorang pria yang sangat malas dan bodoh. Ia merasa bahwa setelah menjalani sebagian besar hidupnya, hidupnya sangat gagal. Ia miskin dan menderita, merasa bahwa nasib sangat tidak adil terhadap dirinya. Setiap hari ia hanya mengeluh dan mengomel. Suatu hari, ia pergi menemui seorang bijak. Dengan menangis, ia mencurahkan semua pengalaman selama bertahun-tahun tentang bagaimana dirinya diremehkan, diejek, disakiti, dan disalahpahami oleh orang lain. Orang bijak berkata: “Menurut saya, orang yang paling tidak adil terhadap dirimu sebenarnya adalah dirimu sendiri.” Pria itu bertanya: “Mengapa?”Orang bijak berkata:“Orang lain meremehkanmu satu kali, tetapi kamu sendiri mengabaikan dirimu belasan kali. Orang lain mengabaikanmu satu kali, tetapi setelah pulang ke rumah, kamu meremehkan dirimu sendiri berkali-kali tanpa terhitung. Sebenarnya siapa yang terus mengatakan bahwa dirimu bodoh dan malas? Kamu setiap hari mengeluh dan bersedih, mengatakan bahwa dirimu gagal dan miskin. Pertama, siapa yang membuat dirimu sedih setiap hari? Itu adalah dirimu sendiri. Kedua, siapa yang membuat dirimu miskin dan bodoh? Apakah kamu pernah berusaha untuk mengubahnya? Jika hari ini kamu tidak menertawakan dirimu sendiri, tidak meremehkan dirimu sendiri, tidak salah memahami dirimu sendiri, dan tidak menyakiti dirimu sendiri, maka orang lain pun tidak akan mampu melukaimu.” Praktisi Buddhis harus memahami bahwa hati dan pikiran diri sendiri adalah yang paling penting. Hargailah diri sendiri, ketahuilah bahwa diri sendiri memiliki kemampuan. “Saya bisa berhasil,” inilah yang disebut keyakinan.

Banyak orang sepanjang hidupnya menghabiskan waktu dengan menyakiti diri sendiri, tenggelam dalam perasaan merendahkan diri sendiri, dan setelah kehilangan perasaan sejati dalam dirinya, akhirnya tidak lagi menemukan jati dirinya. Berharap kalian lebih banyak bertobat. Orang yang ingin mencapai pembebasan harus terlebih dahulu menolong dirinya sendiri. Orang yang menolong dirinya sendiri harus terlebih dahulu belajar untuk menolong orang lain, karena menolong orang lain berarti menolong diri sendiri. Kita harus bisa berpikiran terbuka dan mengerti. Orang yang berpikiran jernih adalah seorang bijak—orang yang memiliki kebijaksanaan. Banyak orang sepanjang hidupnya tidak bisa berpikir jernih, sehingga hidupnya dipenuhi dengan penderitaan dan penyakit. Oleh karena itu, kita harus berpikir jernih, bersemangat, dan menyadari bahwa dunia ini bukan milik satu orang saja, melainkan milik semua makhluk. Jika saya hidup untuk semua makhluk, maka semua makhluk juga akan hidup untuk saya. Orang yang mengerti bagaimana menolong orang lain adalah orang yang telah mencapai pencerahan dalam menekuni Dharma.

Seseorang bertanya kepada Master: “Master, mengapa orang lain memiliki begitu banyak jodoh penolong, sedangkan saya tidak? Mengapa ada orang yang ketika menghadapi masalah, semua orang akan berusaha membantu mereka? Di manakah jodoh penolong itu? Bagaimana cara memohonnya?”Menjalin jodoh baik secara luas, bersikap lebih baik kepada orang lain, maka orang lain pun akan bersikap lebih baik kepadamu, itulah yang disebut jodoh penolong. Dari mana jodoh penolong itu berasal? Yaitu kamu menjalin jodoh baik secara luas, berteman dengan orang lain, memperlakukan orang lain dengan tulus dari hati, tidak menyakiti siapa pun. Menghormati orang lain berarti memuliakan diri sendiri. Kita harus belajar memiliki hati yang baik tanpa pamrih; dengan demikian, kamu akan memiliki hati welas asih yang tulus. Di dunia ini, ketika seseorang ditindas atau disalahpahami oleh orang lain, hal itu dapat menimbulkan kebencian. Namun, jangan pernah karena kebodohan makhluk hidup atau ketidakpahaman orang lain yang telah melukai kita, lalu kita justru menambah penderitaan dan kesusahan bagi diri sendiri. Terlebih lagi, jangan sampai ketidaktahuan orang lain membuat diri kita sendiri menderita. Dengan sikap hati yang menerima apa adanya dan menyesuaikan jodoh, kita dapat menguraikan segala rintangan batin dan kerisauan. Kerisauan timbul karena pemahaman yang keliru terhadap hal-hal di dunia ini. Terkadang, ketika disalahpahami, selama di dalam hati kita tahu bagaimana kita bersikap dan menjalani hidup, itu sudah cukup. Terkadang tidak perlu menambah luka pada diri sendiri hanya karena perlakuan orang lain yang menyakiti kita. Bukankah banyak orang yang hidup dalam luka akibat perlakuan orang lain? Merasa bahwa orang lain telah menyakiti diri sendiri, lalu diri sendiri menjadi sangat sedih dan menderita. Sebenarnya yang menderita adalah dirinya, bukan kita. Praktisi Buddhis harus menjauh dari penderitaan, berpikiran terbuka, dan memahami dengan jernih, segalanya adalah jodoh. Dalam kehidupan manusia, tidak ada satu pun orang yang bisa menemani kamu sejak hari kelahiran hingga hari terakhir kehidupanmu. Kehidupan ini bagaikan sebuah kereta api perjalanan hidup, ada yang naik dan ada yang turun. Di sepanjang perjalanan itu, kita harus memanfaatkan setiap jodoh dengan baik, rajin berbuat kebajikan dan menjalankan nidana. Dengan hati yang tulus menukar hati welas asih semua makhluk, barulah dapat memiliki hati yang penuh kasih seperti Bodhisattva.

Seorang rekan se-Dharma bermarga Lin dari Kota Taiping, Malaysia. Ia mengalami satu kejadian yang tampaknya seperti dongeng: tanpa minum obat dan tanpa operasi, sebuah tumor benar-benar hilang tanpa bekas. Bagaimana ia bisa melakukannya? Ia sendiri berkata:“Saya memiliki tumor di leher berukuran 19 cm × 1,3 cm. Ketika jumlah Xiao Fang Zi yang saya bakar mencapai paket ketiga sebanyak 21 lembar, dalam keadaan tanpa minum obat dan tanpa operasi, tumor di leher saya benar-benar hilang tanpa bekas. Laporan medis membuktikan bahwa ajaran Xin Ling Fa Men benar-benar nyata dan akurat.

  Seseorang yang sungguh-sungguh belajar Buddha Dharma tidak boleh setiap hari dipenuhi kerisauan. Jika masih memiliki kerisauan, berarti ada kebocoran. Ada kebocoran, maka kesadaran akan mudah melakukan kesalahan. Banyak orang sering melakukan perbuatan baik. Kadang-kadang ketika muncul satu pikiran buruk saja, wajahnya langsung memerah karena malu. Ini menunjukkan bahwa dia adalah orang baik; hanya saja dalam kesadarannya timbul sedikit karma buruk, sehingga dia segera merasa malu. Manusia tidak boleh memiliki keserakahan, juga tidak boleh memiliki sedikit pun hal buruk. Hari ini memiliki sedikit itu tidak masalah, tetapi jika dikumpulkan selama 365 hari, itu akan menjadi noda hitam yang besar. Setiap hari melakukan kebaikan, mengumpulkannya menjadi jodoh baik. Sebaliknya, setiap hari memunculkan satu pikiran buruk akan membuat seseorang menjadi orang jahat. Setiap hari menjaga hati dan pikiran sendiri, tidak boleh menimbulkan ketidaktahuan, sama seperti tubuh dan karma buruk kita.

Banyak orang bertanya: “Master, apakah akhir-akhir ini saya memiliki keberuntungan?”Saya memberi tahu kalian, sebenarnya kalian sendiri bisa mengetahui apakah memiliki keberuntungan atau tidak. Ketika seluruh tubuhmu dipenuhi penyakit, sudah pasti tidak memiliki keberuntungan. Orang yang memiliki keberuntungan baik, tubuhnya pasti sehat; ketika kondisi tubuh tidak baik, maka peruntungan juga pasti sedang menurun. Menjaga dan merawat tubuh dengan baik berarti menjaga dan mengendalikan nasib diri sendiri dengan baik. Sekarang ini, di antara orang-orang yang sakit, ada berapa banyak yang bisa memiliki tubuh sehat sekaligus keberuntungan yang baik?

Semoga kalian memahami bahwa jangan memberikan kerusakan apa pun kepada tubuh sendiri. Banyak orang bertanya: “Bagaimana seseorang merusak tubuhnya?”Merokok, minum alkohol, makan berlebihan dengan rakus; sudah kenyang tetapi masih memaksakan diri untuk terus makan. Di Johor ada restoran prasmanan — buffet, bukan? Ketika masuk ke tempat prasmanan, apakah mulut bisa berhenti makan? Sudah makan sampai makanan hampir terasa di tenggorokan, lalu melihat masih ada kue-kue cantik, desserts dan buah-buahan, “makan sedikit lagi saja.” Begitu keluar dari restoran malah muntah. Manusia memang begitu serakah. Biasanya makan satu porsi lauk di restoran bisa belasan ringgit, tetapi di prasmanan hanya sekitar dua puluh atau tiga puluh ringgit, sehingga orang makan mati-matian sampai merusak usus dan lambungnya. Manusia memang sering tidak memperhatikan tubuhnya sendiri, dan sering tidak memahami balasan karma. Hari ini saya menindas orang lain, memarahi orang, melakukan hal-hal yang tidak baik; besok melakukan hal yang sama lagi. Pada akhirnya ketika kerisauan datang dan karma buruk muncul, barulah dia sadar bahwa manusia memang akan menerima akibat dari perbuatannya sendiri.

Ada seorang biksu kecil bertanya kepada seorang biksu agung yang telah mencapai pencerahan:“Guru, Anda telah mencapai pencerahan, membina diri dengan baik, serta membina tubuh dan batin dengan begitu baik. Apakah ada rahasianya?” Biksu agung itu berkata:“Rahasianya adalah, ketika saya merasa lapar, saya akan makan. Ketika saya merasa lelah, saya akan tidur.”Biksu kecil itu berkata:“Guru, apa bedanya dengan orang biasa? Semua orang juga seperti itu, ingin tidur lalu tidur, lapar lalu makan.” Biksu agung berkata: “Tidak sama! Ketika orang lain makan, mereka selalu memikirkan hal-hal lain, tidak fokus, pikirannya kacau, sehingga makan pun tidak nikmat. Ketika tidur, mereka bermimpi, khawatir, dan gelisah, sehingga tidurnya tidak nyenyak. Sedangkan saya, saat makan ya hanya makan, saat tidur ya hanya tidur. Karena itu saya tidur dengan tenang dan makan dengan lahap. Inilah perbedaan saya dengan orang lain.” Biksu agung itu kemudian berkata lagi: “Di dunia ini sangat sulit bagi seseorang untuk benar-benar melakukan segala sesuatu dengan sepenuh hati dan penuh perhatian.”

Banyak orang ingin melakukan banyak hal, tetapi untuk benar-benar berkonsentrasi dan sepenuh hati pada satu hal sangatlah sulit. Bahkan untuk sepenuh hati berbuat baik kepada istrinya sendiri pun sulit. Saat mengemudi di jalan lalu melihat wanita cantik di iklan, hatinya sudah tidak bisa fokus lagi. Manusia hidup di dalam perubahan setiap hari, karena hati kita selalu mondar-mandir di tengah benturan konflik kepentingan, kita tidak mampu menggunakan hati yang tenang dan biasa untuk menghadapi kejayaan dan keterpurukan di dunia ini. Banyak orang, begitu dipuji oleh orang lain, sampai lupa diri dan tidak tahu arah lagi. Ada juga yang setelah dipuji, sampai lupa siapa dirinya sendiri. Tetapi ketika dimarahi orang lain, mereka juga lupa siapa dirinya, lupa bahwa dirinya adalah seorang yang berbudi, lalu langsung berdiri dan bertengkar dengan orang lain. Inilah keadaan manusia yang tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri ketika menghadapi berbagai  keadaan hidup. Master ingin kalian memahami bahwa di dunia ini ada “seribu macam khayalan kosong”, hal-hal yang tidak bisa diperoleh jangan terus dipikirkan; terus memikirkannya itu adalah khayalan kosong. “Berbagai macam pikiran dan pertimbangan”, yaitu hal-hal yang sebenarnya tidak seharusnya kamu pikirkan tetapi kamu tetap memikirkannya juga. Inilah hambatan terbesar dalam kehidupan manusia.

Di Australia ada seorang imigran dari Hong Kong. Rumah di Hong Kong sangat kecil, rumah dengan dua kamar satu ruang tamu atau tiga kamar satu ruang tamu saja sudah sangat mahal. Setelah tiba di Australia, penjual rumah berkata kepadanya: “Saya akan memberi Anda sebuah rumah yang sangat besar, dua sampai tiga kali lebih besar daripada rumah Anda sebelumnya, tetapi harganya malah lebih murah daripada rumah Anda di Hong Kong.” Ketika dia melihat rumah itu di Australia, rumahnya begitu besar dan indah, dia langsung membelinya. Setengah tahun kemudian, saat menghadiri pertemuan di rumah temannya, dia melihat rumah orang lain adalah rumah mewah, tetapi harganya ternyata sama persis dengan apartemennya. Mengapa? Karena di Australia segala sesuatu tidak kekurangan, yang paling banyak adalah tanah. Tanah yang belum dikembangkan di Australia bahkan hanya sekitar 7 dolar Australia per meter persegi. Banyak hal, sebelum melihatnya kita belum tentu merasa tidak bahagia. Tetapi setelah melihat ada yang lebih baik daripada milik kita, lalu merasa diri sendiri tertipu, hati menjadi sedih. Sejak saat itu orang tersebut setiap hari di rumah merasa tidak bahagia, setiap hari marah-marah, dan setiap hari ingin mengganti rumahnya.

Kita harus dengan sepenuh hati membaur ke dalam masyarakat ini. Apa yang bisa diperoleh orang lain, belum tentu saya juga bisa mendapatkannya, itu adalah hal yang wajar. Orang lain marah tetapi saya tidak marah, itu juga adalah hal yang wajar. Manusia harus menggunakan kehidupannya untuk memahami dan menyadari dunia ini. Rasa sakit orang lain adalah rasa sakit saya juga. Seseorang yang hatinya tidak ada pikiran yang mengganggu, barulah merupakan hati yang tenang dan biasa. Kita harus membina hingga mencapai tingkat kesadaran spiritual seperti ini, barulah dapat menumbuhkan Bodhicitta.

Banyak orang di dunia ini demi ketenaran dan kekayaan rela mengorbankan nyawa, benar-benar hanya menginginkan uang dan tidak mau nyawanya. Ada seorang arkeolog yang sangat fanatik. Ketika mendengar bahwa di sebuah gunung ditemukan situs peninggalan budaya kuno, dan konon peninggalan itu tersebar di mana-mana. Ia mengabaikan semua nasihat dan larangan orang lain. Dengan hati penuh semangat, ia menerjang badai salju dan masuk ke pegunungan besar itu. Namun tidak lama kemudian, ia tersesat di tengah gunung. Salju yang turun lebat di langit membuatnya semakin sulit melangkah. Dengan tubuh menggigil, ia bersembunyi di dalam sebuah gua gunung, berharap badai salju segera berlalu. Tetapi badai salju terus berlanjut tanpa henti. Tidak lama kemudian, tubuhnya membeku kaku dan ia hampir kehilangan nyawa. Tidak tahu berapa lama waktu berlalu, ia mulai merasakan sedikit kehangatan pada tubuhnya. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan menyadari dirinya masih berada di dalam gua batu itu. Bedanya, di depan matanya kini ada nyala api yang berkobar. Dengan heran ia membuka lebar matanya, lalu melihat seseorang sedang melemparkan potongan-potongan kayu aneh dengan bentuk yang aneh ke dalam api unggun itu. Arkeolog melihat potongan-potongan kayu itu, tiba-tiba ia bangkit, lalu merebut kayu dari tangan orang tersebut sambil berteriak: “Apakah kamu sudah gila? Ini adalah barang antik! Nilainya bahkan lebih berharga daripada nyawa. Bagaimana kamu bisa membakarnya begitu saja?” Orang itu menatapnya, seolah tidak mengerti dan berkata padanya: “Apa nilai dari kayu-kayu ini? Saya tidak melihat bahwa kayu-kayu bekas ini lebih berharga daripada sebuah nyawa. Kalau tidak membakarnya untuk menghangatkanmu, menurutmu apakah kamu masih bernyawa sekarang?” Sering kali manusia terlalu memandang penting hal-hal materi, sehingga banyak orang bekerja mati-matian demi uang tanpa mempedulikan nyawa. Manusia sering kali berlebihan dalam mengejar harta dan materi duniawi, hingga melupakan satu-satunya harta yang paling berharga—yaitu tubuhnya sendiri. Jika tubuh sudah rusak, maka semuanya pun berakhir. Nyawa yang paling berharga pun ditukar demi materi yang tidak bisa dibawa pergi, dan pada akhirnya semuanya menjadi kosong.

Di Zhejiang, Tiongkok, ada seorang pengusaha besar di bidang properti dengan kekayaan puluhan miliar. Pada usia 40-an tahun, ia meninggal dunia. Menjelang ajalnya, di Rumah Sakit Ruijin, seluruh tubuhnya dipasangi infus. Ia berkata kepada dokter: “Mengapa saya yang terkena kanker? Mengapa harus saya? Saya masih punya banyak hal yang ingin saya lakukan.” Istrinya menangis di sampingnya. Pada akhirnya ia meninggal, meninggalkan harta puluhan miliar. Kemudian, istrinya membawa harta itu dan menikah dengan sopirnya. Sang sopir bahkan bercanda di luar: “Dulu saya pikir saya bekerja untuk bos, tidak disangka bos sibuk seumur hidup ternyata bekerja untuk saya.”

Manusia harus mampu melihat kebenaran dan memahami dengan jernih. Mengapa dalam kitab suci Buddha dikatakan “segalanya adalah kosong”? Segala sesuatu pada dasarnya kosong, kehidupan ini tampak ada namun juga seperti tidak ada; hari ini  memiliki, besok bisa kehilangan. Inilah makna “rupa adalah kosong”. Coba pikirkan, hal-hal yang kita miliki saat kecil, apakah masih ada sekarang? Kosong adalah rupa, rupa adalah kosong. Kesadaran manusia terbentuk dari apa yang dipikirkan dan dibayangkan, lalu masuk ke dalam batin, itulah yang dikatakan dalam paritta Xin Jing “perasaan, pikiran, tindakan, dan kesadaran”. Jika kita berpikir dengan pikiran yang benar, ingin menyelamatkan makhluk hidup, maka kita harus lebih melepaskan kemelekatan terhadap materi, juga belajar melepaskan kemelekatan terhadap anak. Banyak orang berkata, “Tanpa anak, hidup saya sudah tidak ada artinya lagi.” Ketika anak sudah besar namun tidak berbakti, dia akan berkata, “Kalau anak ini tidak segera pergi dari saya, saya bisa mati karena dibuat marah olehnya, nyawa saya pun bisa hilang.” Jika tahu bahwa anak datang untuk menagih hutang dalam kehidupan ini, dia adalah penagih hutang, maka jalani saja dengan baik menyesuaikan jodoh. Lakukan tanggung jawab sebagai orang tua. Apa yang ingin ia lakukan, biarkan ia melakukannya, menyesuaikan jodoh saja, berharap ia bisa belajar Buddha Dharma. Orang yang datang hari ini dan mampu membawa anaknya ikut serta, kelak anak itu akan berbakti kepadamu. Jika kamu tidak membiarkannya belajar Buddha Dharma, tidak mengajarkannya nilai-nilai kebajikan, kebenaran, tata krama kebijaksanaan, dan keyakinan, maka di masa depan ia pasti akan meninggalkan orang tuanya. Praktisi Buddha harus belajar menyesuaikan jodoh dan melepaskan, barulah bisa tidak memiliki halangan dalam hati dan tiada halangan.