Mengembangkan Sifat Kebuddhaan, Memancarkan Kebijaksanaan, dan Memperluas Welas Asih (Bagian 1)
Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 20 Juni 2015
Rasa syukur adalah dasar dari welas asih, dan welas asih adalah landasan kemanusiaan. Marilah kita meneladani Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang untuk menyelamatkan semua orang yang berjodoh, dan menjalin jodoh baik secara meluas. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma dan para Bodhisattva.
Para tamu terhormat, biksu, relawan dan teman se-Dharma dari seluruh dunia, St. John Ambulance Hong Kong, dan semua sahabat serta sesama teman se-Dharma yang telah berkontribusi pada seminar Dharma ini, selamat malam semuanya!
Ketidakberuntungan yang diberikan oleh takdir kepada seseorang masih mungkin dihindari, tetapi ketidakberuntungan yang diciptakan oleh diri sendiri tidak dapat dielakkan. Manusia sering mengeluh bahwa hidup ini terlalu melelahkan. Mengapa demikian? Karena kita ingin segalanya, ingin ketenaran, kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan, semuanya tidak mau dilepaskan. Seperti memikul sebuah beban berat di punggung, bagaimana mungkin tidak merasa lelah? Banyak orang berpikir bahwa selama memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka akan bahagia. Mereka menganggap pengejaran tanpa akhir itu adalah kebahagiaan. Namun, saat kita mulai berpikir ingin bahagia, sebenarnya itu adalah awal dari penderitaan, karena hasil dari pengejaran pasti berujung pada penderitaan. Keanehan manusia adalah terburu-buru ingin cepat dewasa, tetapi kemudian meratapi masa kecil yang telah hilang. Kita mengorbankan kesehatan demi mencari uang, lalu menggunakan uang itu untuk berobat dan membeli obat; kita hidup seolah kematian masih jauh, namun menjelang ajal baru merasa belum hidup dengan cukup. Setiap hari kita cemas akan kehilangan lebih banyak di masa depan, tetapi tidak pernah benar-benar menghargai kebahagiaan yang ada di depan mata.
Praktisi Buddhis harus memahami bahwa diriku yang sekarang adalah diriku di masa lalu, dan diriku saat ini akan menjadi diriku di masa depan. Segala sesuatu adalah hasil dari sebab yang kita ciptakan sendiri dan buah akibat yang kita terima sendiri. Ketika seseorang menjadi bingung, ia akan menanam benih sebab yang buruk. Ketika seseorang marah, kebijaksanaannya akan lenyap sepenuhnya. Seseorang tidak boleh mengambil keputusan penting saat sedang marah, karena setiap keputusan yang dibuat dalam kemarahan, kamu pasti akan menyesalinya. Awal dari kebodohan adalah tidak mau mendengarkan nasihat orang lain. Awal dari kegagalan adalah mengira dirinya selalu benar. Awal dari kerisauan adalah merasa bahwa segala sesuatu seharusnya dirinya memiliki sebagian. Ada seseorang yang melihat tetangganya menang 320.000 di kasino. Ia berpikir mengapa dirinya tidak bisa menang. Lalu ia berjudi setiap hari, dan dalam setengah tahun, seluruh hartanya habis. Pola pikir seperti penjudi ini tidak akan pernah membawa kebebasan sejati. Hari ini kita telah belajar Buddha Dharma, kita memahami bahwa manusia hidup di dunia ini seharusnya untuk mencapai pencerahan dan pembebasan. Apa yang benar dan apa yang salah, harus pilih dengan bijak. Hari ini kita telah memilih yang benar, yaitu ajaran Buddha Dharma. Selama kita terus berjalan di jalan ajaran Buddha Dharma, kita pasti akan kembali ke pelukan Guan Shi Yin Pu Sa.
Pemikiran orang-orang di masyarakat sekarang cenderung lebih kacau. Setiap hari sangat sibuk, tertekan oleh kehidupan hingga terasa sulit bernapas. Ketika menyadari bahwa tubuh dan batin sudah sangat lelah, mereka tidak tahu sudah berapa banyak masa muda dan tahun-tahun berharga yang telah berlalu. Setiap hari bertahan di tengah tekanan hidup. Banyak orang yang begitu pensiun, kehilangan tujuan hidup dan akhirnya tersesat dalam kebingungan diri. Oleh karena itu, dalam budaya Zen Tiongkok diajarkan bahwa menemukan jati diri sejati berarti tidak perlu memandang hidup terlalu sulit. Cukup berusaha sebaik mungkin melakukan hal-hal yang ada di depan mata, berupaya hidup di saat ini, merasakan betapa berharganya kehidupan sendiri, serta mengubah cara pandang terhadap segala hal di dunia ini. Mengenali bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat ilusi dan tidak kekal. Menganggap semua kemelekatan yang membelenggu diri sebagai suatu khayalan. Dengan demikian, barulah bisa terbebas dari penderitaan dan mencapai konsentrasi Zen. Ingin konsentrasi barulah memiliki kebijaksanaan, ingin konsentrasi harus memiliki sila. Inilah “sila, konsentrasi, dan kebijaksanaan” dalam ajaran Buddha Dharma.
Para psikolog membagi proses pembangunan Jembatan Teluk San Francisco di Amerika Serikat menjadi dua tahap: pertama, tahap tanpa jaring pengaman dan kedua, tahap dengan jaring pengaman. Pada awal pembangunan jembatan, perusahaan konstruksi tidak menerapkan langkah-langkah keselamatan kerja apa pun. Para pekerja yang bekerja di ketinggian sering kali jatuh dan mengalami cedera atau bahkan meninggal dunia. Akibatnya, di bawah jembatan selalu berkumpul sekelompok orang miskin yang menganggur, menunggu kesempatan untuk menggantikan pekerja yang jatuh. Dalam tahap “tanpa jaring pengaman”, proyek pembangunan Jembatan Teluk menelan lebih dari 20 korban jiwa. Karena banyaknya kecelakaan, proyek sempat terhenti untuk sementara waktu. Kemudian, perusahaan konstruksi menginvestasikan 100.000 dolar AS untuk memasang jaring pengaman. Hasilnya, efisiensi kerja meningkat sebesar seperempat dibanding sebelumnya. Hanya peningkatan 25% ini saja sudah membawa keuntungan hampir jutaan dolar bagi perusahaan. Yang lebih anehnya, setelah jaring pengaman terpasang sepenuhnya, hingga proyek selesai hanya ada 10 orang yang jatuh, dan semuanya tertangkap oleh jaring pengaman tanpa cedera serius. Para psikolog menjelaskan bahwa ketika seseorang berada dalam ketakutan, kemampuan koordinasi tubuhnya menurun, begitu pula dengan keseimbangan, kecepatan reaksi, dan kemampuan menilai situasi. Jaring pengaman tidak hanya melindungi mereka yang jatuh, tetapi juga membantu para pekerja mengatasi rasa takut, sehingga kecelakaan pun berkurang.
Kisah ini memberi tahu semua orang, karena kita orang yang belajar Buddha Dharma sekarang tidak memiliki rasa aman, karena kita hidup di dunia ini dengan penuh kekhawatiran setiap hari — takut mengalami kecelakaan, takut terkena kanker, cemas karena anak-anak tidak berperilaku baik, khawatir suatu hari pasangan kita akan meninggalkan kita. Hidup dalam ketakutan seperti ini membuat banyak orang menderita gangguan kecemasan dan depresi. Ini adalah tidak ada rasa aman — membuat kita kehilangan kemampuan berpikir jernih, membuat hati kita tidak lagi tenang dan tidak berada pada diri kita. Ini adalah penyakit batin manusia. Dahulu orang hanya berbicara tentang kesehatan tubuh, tetapi sekarang kita berbicara tentang kesehatan tubuh dan pikiran. Tanpa pikiran yang baik, tidak akan ada tubuh yang sehat. Pikiran adalah penopang kehidupan. Hanya pikiran yang penuh kebaikan dan welas asih yang dapat membawa tubuh yang sehat dan anggota badan yang kuat. Kita praktisi Buddhis harus menggunakan “jaring pengaman” ajaran Buddha — percaya pada welas asih Guan Shi Yin Pu Sa dan percaya pada Naga Langit Pelindung Dharma, barulah bisa mengalahkan rasa takut, barulah bisa hidup dengan tenang dan leluasa, barulah bisa memahami bahwa segala kesulitan dan kerisauan di dunia ini dapat diatasi.
Manusia selalu ragu, berpikir bahwa jika orang lain tidak bisa melakukannya, maka dirinya pun pasti tidak bisa melakukannya. Sebenarnya, ketika seseorang sudah meyakini bahwa dirinya tidak mampu, kamu telah lebih awal menetapkan pikiranmu ke dalam tahap ketidakmampuan. Mengapa kita tidak mencoba untuk melakukannya? Orang lain bisa mencapai keberhasilan dalam pembinaan diri, orang lain bisa pergi ke Alam Sukhavati, mengapa kita tidak bisa? Orang lain bisa hidup seperti Bodhisattva, orang lain bisa hidup dengan damai dan tenteram, mengapa kita tidak bisa menjalani hidup dengan baik? Kita harus memiliki keyakinan. Keyakinan muncul dari menjalankan sila. Mulailah menjalankan sila dari hari ini, kita meneladani para Bodhisattva. Lihat apakah perbuatan kita setiap hari sama seperti perbuatan Bodhisattva. Dengan begitu, kamu akan semakin dekat dengan Bodhisattva. Buddha adalah hati, Buddha adalah hatimu. Gunakan hatimu untuk menciptakan seorang Bodhisattva yang indah di dunia ini.
Mengapa banyak orang bisa mendapatkan nilai 100 dalam ujian? Kita tidak melihat bagaimana mereka setiap hari tekun mengerjakan tugas PR. Ada orang yang demi ujian TOEFL, setiap hari berlatih berbicara sampai tenggorokannya radang. Mengapa banyak teman se-Dharma yang memohon langsung terkabulkan? Kita tidak melihat mereka setiap hari melafalkan 49 kali Da Bei Zhou, 49 kali Xin Jing, melakukan jasa kebajikan, dan menyembah Buddha. Para pengusaha muda yang sukses — kita tidak melihat mereka malam-malam tanpa tidur yang tak terhitung jumlahnya, mereka bekerja lebih keras daripada kita yang masih terlelap tidur. Para artis yang tiba-tiba terkenal di seluruh dunia itu — kita tidak melihat puluhan tahun latihan dan kerja keras mereka secara diam-diam. Kita tidak melihat apa pun, lalu berkata bahwa diri kita tidak mungkin bisa. Kita belum mencoba apa pun, tetapi berkata bahwa orang lain juga tidak mungkin bisa. Diri sendiri tidak mampu melakukannya dan juga mengatakan orang lain tidak mampu. Sebenarnya, hal yang kita pikir tidak mungkin, orang lain bisa melakukannya. Sebagai praktisi Buddhis, kita harus percaya pada diri sendiri, kita pasti juga bisa melakukannya. Master berharap kalian sungguh-sungguh belajar Buddha Dhamma, tidak berebut hal-hal duniawi, dan setelah meninggal dunia nanti, kita dapat bertemu kembali di Surga.
Selama kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh, tidak ada hal yang tidak bisa dicapai. Orang yang sama sekali tidak berani mencoba dan tidak mau melakukannya, mungkin seumur hidupnya memang tidak akan mungkin berhasil. Manusia harus pandai menyelaraskan mentalitasnya sendiri. Banyak orang seumur hidup tidak tahu untuk menyelaraskan mentalitasnya. Pada zaman dahulu, ada seorang pria yang setiap kali marah, ia akan pulang ke rumah dan berlari mengelilingi rumah serta sebidang kecil tanahnya sebanyak tiga kali. Kemudian, rumahnya semakin besar, tanahnya semakin luas. Setiap kali ia marah, ia tetap berlari mengelilingi rumah dan tanahnya. Bahkan hingga tua pun ia masih melakukannya. Cucunya bertanya, “Kakek, mengapa setiap kali marah kakek selalu berlari mengelilingi rumah dan tanah?” Sang kakek menjawab, “Ketika saya masih muda, setiap kali saya bertengkar atau berdebat dengan orang lain, saya akan berlari mengelilingi rumah dan tanah sebanyak tiga kali. Saya berpikir, rumahku begitu kecil, tanahku tidak banyak — mana ada waktu dan tenaga untuk marah kepada orang lain? Dengan berpikir demikian, amarah pun hilang, dan saya akan memiliki lebih banyak waktu untuk bekerja keras dan belajar.” Cucunya bertanya lagi, “Kakek, setelah menjadi orang kaya, mengapa kakek masih berlari mengelilingi rumah dan tanah?” Kakek menjawab, “Sekarang saya sudah kaya. Saat berlari, saya berpikir: rumah begitu besar, tanah begitu luas, saya tidak perlu permasalahkan dengan orang lain. Dengan berpikir demikian, amarah pun hilang.” Inilah yang disebut menyelaraskan mentalitas diri sendiri. Manusia harus belajar membebaskan diri. Meskipun masalah tampak tetap, tetapi kebijaksanaan manusia itu tiada batasnya. Hanya ketika hati kita ingin bebas dan mampu melepaskan diri dari suatu hal, barulah kamu bisa benar-benar terbebas dari masalah dunia nyata. Banyak orang bertengkar dengan suaminya, ia berpikir, “Hari ini suamiku memarahiku, tidak apa-apa, kami adalah satu keluarga. Besok atau lusa kami tidak akan bertengkar lagi. Jadi, kerisauan hari ini seharusnya tidak ada. Siapa tahu lusa bukan dia yang memarahi saya, tetapi saya yang memarahinya.” Begitu berpikir demikian, kemarahannya pun lenyap. Praktisi Buddhis berpikiran terbuka, yaitu membiarkan diri sendiri untuk memikirkan bagaimana agar dirinya bisa berpikiran jernih. Meyakinkan diri sendiri berarti membebaskan diri sendiri. Hal yang paling sulit diyakinkan adalah diri sendiri. Tidak ada seorang pun yang memaksamu untuk risau. Tidak ada seorang pun yang memaksamu untuk melakukan kejahatan, membenci, sedih dan iri hati, hanya dirimu sendiri. Jadi, hanya dengan membebaskan diri, barulah bisa benar-benar terbebas dari penderitaan duniawi dan menghapus karma buruk.
Dalam ajaran Buddha mengatakan tentang berkat. Mengapa kita memerlukan berkat? Karena berkat benar-benar memiliki kekuatan. Mengapa? Sebab berkat adalah bentuk keyakinan yang memberikan energi kepadamu. Beri contoh, jika seseorang tidak memiliki sepatu dan tidak mampu membelinya, maka berkat ibarat meminjamkan sepasang sepatu kepadamu. Dengan sepatu itu, kamu bisa berjalan lebih cepat daripada bertelanjang kaki. Namun setelah berjalan beberapa waktu, orang itu akan mengambil sepatunya kembali. Setelah mendapatkan berkat, seseorang harus berusaha lebih giat dan tekun sendiri. Sama seperti bermain ayunan — pada awalnya, kamu tidak akan berayun terlalu tinggi, ketika seseorang mendorongmu, ayunan itu akan naik. Kamu harus mengeluarkan tenaga secara diam-diam, agar bisa terbang lebih tinggi. Ini adalah berkat.
Agar cahaya Buddha menyinari kita dan memperoleh berkat dari Bodhisattva, pertama-tama kita harus berusaha keras, dan kedua, kita harus memiliki ketulusan hati. Bagi seorang praktisi Buddhis, kemiskinan bukanlah sebuah kesalahan. Namun, jika pada saat meninggal dunia seseorang kehilangan jiwa kebijaksanaan, itu barulah penyesalan terbesar dalam hidup. Orang yang seumur hidupnya tidak berjodoh mengenal ajaran Buddha akan hidup dalam penderitaan. Ketika kamu berada dalam sinar mentari Dharma, berpikiran jernih dan mengerti, serta menikmati kebijaksanaan ajaran Buddha Dharma, bahkan makanan dan minumanmu pun menjadi jalinan jodoh baik dengan semua makhluk, merasakan hidup ini seperti di surga, dan dunia ini bagaikan bunga teratai besar. Teratai kita harus sebesar roda kereta, dan hati kita harus seluas samudra. Dengan begitu, kita baru bisa mengenal ajaran Buddha Dharma. Kita jauh lebih beruntung daripada mereka yang tidak belajar Buddha Dharma. Mereka adalah orang yang masih hidup dalam penderitaan. Kita harus menolong mereka, menyelamatkan mereka agar terbebas dari dunia penuh kesengsaraan yang mereka ciptakan sendiri.
Kesalahpahaman antar manusia sering kali sulit dihindari. Di negara bagian Alaska, Amerika Serikat, ada sepasang suami istri muda. Setelah menikah, mereka memiliki seorang anak. Namun, sang istri meninggal dunia saat melahirkan. Sang suami sangat sibuk — selain bekerja keras untuk mencari nafkah, ia juga harus merawat anaknya. Ia melatih seekor anjing yang sangat cerdas dan patuh. Anjing itu bisa menjaga anak kecil, bahkan bisa menggigit botol susu dan menyusui sang bayi. Suatu hari, sang tuan pergi keluar rumah dan di perjalanan ia terjebak badai salju. Keesokan harinya, ia baru berhasil pulang. Begitu mendengar suara langkah tuannya, anjing itu segera berlari keluar menyambutnya. Saat pintu rumah dibuka, darah berceceran di mana-mana, di atas tempat tidur juga dipenuhi darah. Anaknya hilang, sementara anjing itu berdiri di sampingnya dengan moncong penuh darah. Sang tuan mengira anjing itu menjadi buas dan telah memakan anaknya. Ia marah besar, mengambil pisau dan menebas anjing itu hingga mati. Tiba-tiba, ia mendengar suara tangisan bayi. Ia segera mencari dan menemukan anaknya di bawah tempat tidur, tubuhnya berlumuran darah, tetapi tanpa luka sedikit pun. Ketika diperhatikan lebih saksama, ia melihat bahwa salah satu kaki anjingnya telah digigit hingga putus, dan di dekatnya tergeletak seekor serigala mati dengan potongan daging anjing masih di mulutnya. Anjing itu telah menyelamatkan majikan kecilnya, tetapi tewas karena kesalahpahaman tuannya. Kesalahpahaman di dunia sering kali terjadi karena saling tidak memahami, kurangnya akal sehat, dan tidak adanya kesabaran. Manusia tidak mampu memahami orang lain dan tidak mau introspeksi diri. Sebagian besar kesalahpahaman muncul karena tindakan yang terburu-buru tanpa mengetahui keadaan sebenarnya, sehingga menimbulkan saling menyalahkan. Dalam kesalahpahaman, orang sering kali langsung menuduh pihak lain serba salah, dan semakin lama kesalahpahaman itu semakin dalam. Orang terhadap seekor hewan kecil yang tidak tahu apa-apa saja bisa salah paham sedemikian besar, maka kesalahpahaman antar manusia tentu jauh lebih sulit dibayangkan. Orang yang tidak belajar Buddha Dharma mana bisa memperoleh kesabaran dan kemampuan menahan diri? Orang yang tidak meneladani Bodhisattva, darimana adanya welas asih, pengertian, dan kelapangan hati? Berharap semua orang yang belajar Buddha Dharma harus memiliki hati yang penuh welas asih, hati yang mampu memahami orang lain, dan hati yang lapang serta hati yang penuh toleransi. Maka hatimu akan seluas alam semesta, tingkat kesadaran spiritualmu berada di langit. Kamu tidak akan menyakiti orang lain karena kesalahanmu sendiri, dan orang lain akan berterima kasih padamu, kamu adalah seorang Bodhisattva.
Ada seorang pedagang manusia yang sering memperdagangkan orang. Ia bermarga Zhang. Di dalam kereta, ia berkenalan dengan seorang wanita cantik. Bapak Zhang ini kemudian mengusulkan agar setelah turun dari kereta, mereka pergi bersama ke sebuah desa pegunungan di Shanxi untuk merasakan kehidupan pedesaan yang menyenangkan. Wanita itu tampak malu-malu di hadapannya dan setuju dengan ajakan itu. Dalam hati, pedagang Zhang berpikir, “Di desa itu ada keluarga yang membeli istri. Kalau saya menipu wanita ini ke sana, pasti bisa jual dengan harga tinggi.” Namun, siapa sangka, setelah mereka tiba di tempat tujuan, Zhang justru diseret oleh beberapa pria bertubuh kekar ke dalam tambang batu bara gelap. Ternyata, ia dijual oleh wanita cantik itu ke sana untuk dijadikan kuli.
Orang yang memiliki “iblis” di dalam hatinya akan bertemu dengan iblis; orang yang ingin mencelakai orang lain pasti akan disakiti oleh orang lain. Sebagai praktisi Buddhis, hati dan niat kita harus benar, barulah bisa menghasilkan energi positif. Di periode akhir Dharma ini, kita tidak memiliki banyak waktu dan cara untuk bergaul dengan teman yang buruk. Kita hanya boleh berteman dengan orang baik, berteman yang baik akan membawamu ke jalan yang benar, yaitu energi positif. Jika tidak, kamu akan terseret oleh teman buruk ke dalam lima nafsu keinginan dan enam kekotoran duniawi, menanggung penderitaan dari siklus reinkarnasi di dunia. Semoga semua orang dapat menumbuhkan lebih banyak rasa welas asih di antara sesama teman se-Dharma, barulah kamu akan menjadi semakin tekun.
Master akan menceritakan kepada semua orang sebuah kisah nyata. Ada seorang pemuda yang baru saja dibebaskan setelah menjalani hukuman penjara. Ia karena tertipu dan melakukan pencurian, sehingga dijatuhi hukuman tujuh tahun. Setelah keluar dari penjara, ia berniat mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, ia bertemu dengan beberapa teman buruk yang berkata kepadanya, “Apakah kamu tahu siapa yang melaporkanmu tentang pencurian waktu itu? Si xxx! Dialah yang membuatmu dipenjara selama tujuh tahun. Kalau dendam ini tidak dibalas, kamu bukan laki-laki sejati!” Pemuda itu pun marah besar. Ia berpikir tidak akan ada yang tahu, lalu pada tengah malam ia pergi ke rumah orang itu dan memukul kepalanya dengan palu. Alhasil, tiga hari kemudian kasus itu terungkap. Korban menjadi vegetatif, dan ia kembali masuk penjara, kali ini dijatuhi hukuman seumur hidup. Ia sangat menyesal — menyesal telah bergaul dengan teman-teman buruk itu, dan menyesal telah mendengarkan perkataan mereka.
