Memandang Hambar Ketenaran, Kekayaan, dan Hubungan Jodoh, Kebijaksanaan Tanpa Aku, Membina Diri dengan Sungguh-sungguh (Bagian 2) 看淡人间名利情缘 智慧无我真修实修 (下)

Memandang Hambar Ketenaran, Kekayaan, dan Hubungan Jodoh, Kebijaksanaan Tanpa Aku, Membina Diri dengan Sungguh-sungguh (Bagian 2)

Seminar Dharma Hurstville Sydney, 8 Februari 2015

Tak seorang pun di dunia ini akan mengalah padamu. Seorang guru sedang berbicara dengan beberapa anak muda, secara spontan, ia melontarkan lelucon. Sang guru menganggap ini tidak masalah, tetapi anak-anak muda itu langsung berkata “Guru, kami sangat menghormati Anda, tidak menyangka Anda akan sekasar itu.” Hal ini membuat sang guru malu. Sang guru merasa bersalah karena tidak menghormati dirinya sendiri. Selain orang tua, orang-orang terkasih, dan teman-temanmu, mereka yang mengalah padamu adalah mereka yang ingin memanfaatkanmu untuk sementara waktu, tetapi pasti akan memfitnahmu di kemudian hari. Jangan jadikan dirimu sebagai bos; ini adalah prinsip hidup. Jangan merasa diri sendiri yang terhebat, jika tidak, kamu akan menjadi sangat kecil, dan dipandang rendah oleh semua orang. Menguasai prinsip ini dengan baik, kamu akan mendapatkan manfaat yang tak terbatas. Jika tidak menguasainya dengan baik, akibat ringannya adalah difitnah, akibat beratnya adalah penderitaan seumur hidup. Kita harus belajar dari lautan, berpikiran luas, namun tetap rendah hati. Berharap semua orang menekuni Dharma dengan baik, itu barulah benar-benar mengubah diri, barulah benar-benar ingin menjadi orang suci di dunia.

Aku yang sekarang adalah aku yang dulu, dan aku yang sekarang adalah aku yang akan datang. Segalanya adalah hasil dari sebab yang diciptakan diri sendiri, dan akibatnya pun diri sendiri yang akan menerimanya. Ketika seseorang bingung, ia akan menanam benih buruk, orang tidak boleh bingung. Ketika seseorang marah, kebijaksanaannya akan hilang. Seseorang tidak boleh mengambil keputusan apa pun ketika sedang marah, jika tidak, ia akan menyesalinya. Awal dari kebodohan adalah tidak mau mendengarkan nasihat orang lain. Awal dari kegagalan adalah berpikir bahwa dirinya selalu benar, dan awal dari kerisauan adalah berpikir bahwa dirinya harus memiliki satu bagian. Misalnya, ada satu orang Tionghoa di Sydney yang melihat tetangganya memenangkan 320.000 dolar Australia di kasino. Hatinya sangat sedih dan merasa “Ia bisa menang, kenapa aku tidak bisa menang?” Ia lalu berjudi setiap hari, akhirnya kehilangan segalanya dalam waktu kurang dari enam bulan. Pola pikir yang berorientasi pada perjudian tidak akan pernah membawa pembebasan. Praktisi Buddhis harus memandang dunia sebagai tempat untuk mengembangkan pikiran, mengumpulkan berkah dan kebajikan. Menganggap dunia ini sebagai tujuan wisata untuk mengumpulkan jasa kebajikan. Setelah perjalanan berakhir, semua ketenaran, kekayaan, dan perolehan akan hilang. Hidup tidak dapat diperoleh, dan ketidakkekalan adalah akar penderitaan. Membawa kerisauan ke esok hari, pasti tidak akan mampu memahami segalanya dan menemukan sifat dasar. Hanya dengan sepenuhnya menghilangkan kerisauan dan menjalani hidup yang penuh sukacita dan ceria setiap hari, barulah dapat benar-benar terbebas dari kesedihan spiritual.

Pada tahun 1837, Presiden AS Andrew Johnson sangat khawatir dengan kesehatannya, setelah kematian istrinya. Semua anggota keluarganya meninggal karena stroke dan kelumpuhan. Ia setiap hari berpikir bahwa dirinya pasti akan mati karena gejala yang sama, ia selalu hidup dalam ketakutan seperti ini. Suatu hari, presiden ini bermain catur di rumah seorang teman, tiba-tiba tangannya jatuh, sangat lemah, mukanya pucat, dan kesulitan bernapas. Ia berkata, “Ini benar-benar datang! Aku terkena stroke! Aku lumpuh di sisi kanan, aku tidak punya perasaan” Temannya bertanya, “Bagaimana Anda tahu?” Presiden menjawab, “Aku baru saja mencubit kaki kananku beberapa kali, dan aku tidak bisa merasakannya sama sekali.” Temannya berkata, “Kawan, kamu tadi mencubit kakiku!” Kisah ini memberi tahu semua orang bahwa orang-orang sekarang memiliki kesadaran yang terbalik. Sepanjang hari memperlakukan milik orang lain seolah-olah milik dirinya sendiri, pola pikir mereka sangat terdistorsi. Melihat orang lain memiliki apa dirinya juga ingin memilikinya. Begitu ada sedikit hal yang tidak berjalan sesuai harapan, kebencian segera memenuhi hati. Mereka rela melakukan hal bodoh apapun yang menguntungkan dirinya sendiri. Di bandara Sydney, banyak orang menyelundupkan dan memperdagangkan narkoba. Mereka memasukkan narkoba ke dalam kantong plastik dan menelannya, tetapi pada akhirnya ketahuan juga. Mereka rela mengorbankan nyawa demi uang. Inilah keserakahan yang berubah menjadi kebodohan.

Di dunia, betapa pun risaunya, kita harus memahami bahwa selalu akan ada penyelesaiannya. Betapapun daruratnya suatu hal, kita harus menyadari bahwa terburu-buru juga tidak ada gunanya, kita harus melakukannya dengan perlahan. Betapapun menderita, kita harus menyadari bahwa penderitaan itu sementara. Apakah kita menderita saat sakit gigi? Mulut bengkak sungguh tak tertahankan, tetapi rasa sakitnya mereda setelah sebulan. Menanggung penderitaan baru bisa mengikis karma. Selelah apa pun kita, selalu ada waktu untuk beristirahat. Bersikap rendah hati dalam berperilaku, maka akan semakin lancar. Mengerti untuk merelakan baru bisa memperoleh. Sering membantu orang lain, baru akan memiliki jodoh baik, baru akan memperoleh lebih banyak bantuan dari orang-orang yang bijak. Sang Buddha mengatakan “menjalin jodoh baik secara luas, dan memupuk ladang berkah yang luas”, agar kita memiliki bantuan dari jodoh penolong. Banyak membantu orang lain, belajar untuk fleksibel dalam hidup dan pekerjaan kita, menjadi manusia biasa, tidak bertindak seperti bos, merendahkan diri, dan tidak melekat pada hal apa pun di dunia ini.

Semua orang bisa menikmati hidangan hambar, tetapi terlalu banyak garam membuatnya tak bisa dimakan. Dalam berperilaku dan melakukan sesuatu juga seperti itu, jangan terlalu serius. Jika terlalu serius berarti terlalu asin, maka segala hal tidak dapat dilaksanakan, terlalu takut. Jika melihat sesuatu dengan hambar dan sederhana, maka tidak ada hal di dunia ini yang tidak bisa dicapai, bukankah itu saja. Ada apa hebatnya? Berapa banyak kesulitan yang telah kita lewati, bukankah dunia ini hanya berisi kerisauan ini saja? Melepaskan kerisauan dan menemukan pembebasan sejati, ini adalah konsep dasar kita dalam menekuni Dharma. Memandang hambar terhadap segala hal di dunia ini. Memandang sederhana terhadap semua hubungan perasaan di dunia ini, kita baru bisa melepaskan.

Hidup ibarat kereta yang menuju liang kubur tanpa pernah kembali. Ada banyak stasiun di sepanjang perjalanan, naik dan turun. Tidak ada orang yang akan menemanimu sampai ke liang kubur. Ada banyak penumpang yang naik dan turun, semuanya adalah jodoh kita, harus menghargai jodoh. Kita akan bertemu berbagai macam orang di sepanjang perjalanan. Semua orang ketawa dan rukun, waktu akan berlalu dengan cepat. Jika kamu kurang beruntung, banyak jodoh akan meninggalkanmu; jika kamu sangat beruntung, dia akan menemanimu untuk waktu yang lama. Kita harus menghargai jodoh baik dan buruk dalam perjalanan hidup. Praktisi Buddhis harus memandang jodoh dalam hidup sebagai ––  menyesuaikan jodoh.

Kita harus percaya kepada Buddha,ini adalah titik awal untuk menjadi seorang Buddha. Kita harus tekun dalam melafalkan paritta, berikrar dan melepaskan makhluk hidup. Ini adalah poin-poin dasar utama untuk menjadi seorang Buddha. Untuk menjadi Buddha, seseorang harus tekun, orang yang ingin menjadi Buddha dan sukses di dunia harus kuat. Seorang pemuda bertanya kepada seorang guru: “Guru, terlalu menderita bagi kita untuk hidup di dunia. Adakah metode yang dapat Anda ajarkan kepada saya?” Guru itu berkata: “Dua orang sedang menggali sumur. Yang satu sangat cerdas, sementara yang satu lagi sangat bodoh. Mereka menggali sedalam dua meter dan tidak menemukan air. Orang bodoh itu terus menggali, dan orang cerdas itu berpindah tempat untuk menggali. Pada akhirnya, orang bodoh itu menemukan air, sementara orang cerdas itu terus mengganti dan tidak menemukan apa pun.” Mendengar itu, pemuda tersebut segera berkata, “Guru, saya mengerti, dalam melakukan sesuatu kita harus tekun dan konsisten, jika tidak, maka tidak akan berhasil dalam apa pun.” Guru melanjutkan ceritanya: “Orang yang cerdas, setelah beberapa kali mencoba, akhirnya menemukan sumber air. Sedangkan orang bodoh itu hanya terus bekerja keras tanpa arah, semakin menggali semakin dalam, padahal air yang ia temukan sebelumnya bukanlah sumber air.
Ia telah berjerih payah begitu banyak, tetapi pada akhirnya tetap tidak menemukan sumber air.” Pemuda itu langsung berkata: “Guru, saya mengerti prinsip hidup yang Anda bicarakan. Orang harus beradaptasi dengan keadaan mereka dengan terus-menerus merangkum pengalamannya, bukan bersikap kaku atau keras kepala.” Sang guru tersenyum dan berkata: “Kisah ini belum berakhir. Meskipun kedua orang ini telah berusaha sekuat tenaga, yang cerdas berpindah lokasi berkali-kali, dan yang bodoh berusaha keras untuk menggali. Keduanya tetap tidak dapat menemukan sumber air utama.” Pemuda itu berkata, “Lalu, apakah kita punya prinsip atau filosofi untuk berperilaku?” Sang guru berkata, “Sebenarnya, tidak ada sumber air di tempat ini, begitu juga dengan kita dalam berperilaku. Tidak ada satu cara yang bisa digunakan dalam hidup. Tidak ada satu hal yang prinsipnya tidak berubah. Semuanya bergantung pada eksplorasi dan pemahaman.” Begitu juga dengan dunia ini, kamu mengira dia adalah suamimu, yang akan mencintaimu selamanya, lalu kamu bisa bebas berkata dan berbuat sesuka hati. Kamu mengira dia anakmu, lalu tidak menganggapnya dengan serius, memarahi dan mengkritiknya setiap hari. Kamu pikir kamu siapa? Pada akhirnya akan kehilangan akarmu, karena prinsip-prinsip di dunia ini akan terus berubah. Dalam menekuni Dharma, kita harus menggunakan potensi kesadaran sebagai fondasi, harus belajar sesuai aturan dan Dharma, harus belajar ajaran Buddha Dharma di dunia. Menggunakan ajaran Buddha Dharma untuk menuntun hidup kita, sehingga kita selamanya tidak akan membuat kesalahan.

Mengapa hampir semua buah adalah bulat? Ahli botani mengatakan bahwa dari semua benda dengan volume yang sama, hanya bentuk lingkaran yang memiliki luas terkecil. Ketika buah tumbuh menjadi bentuk bulat, penguapan air dari permukaannya lebih sedikit, sehingga hama lebih sulit berkembang biak. Tidak peduli dari mana pun angin bertiup, dampaknya terhadap permukaan buah adalah paling kecil. Master ingin memberi tahu semua orang, kita harus menyikapi segala sesuatu dengan bijak dan harmonis. Kita harus belajar dari buah, dengan meminimalisir penampilan luar, bersikap rendah hati, dan menyingkirkan kesombongan. Memperkecilkan ego diri adalah suatu bentuk kekuatan batin. Memperkecilkan ego diri dapat menahan serangan badai eksternal, inilah yang disebut orang-orang sebagai rendah hati. Kita harus bersikap rendah hati di rumah dan di masyarakat. Bersikap rendah hati, maka tidak akan disakiti oleh orang lain. Berharap semua orang dapat menjaga hati diri sendiri dengan baik dan tidak tersakiti oleh lebih banyak kerisauan. Belajarlah untuk rendah hati dan belajarlah untuk mencintai diri sendiri. Orang seharusnya berpuas diri dan tidak terlalu menonjolkan diri. Apa yang kita miliki hari ini, kita harus merendahkan rasa kebahagiaan kita. Jika kita merasa tidak puas setiap hari, kita akan hidup dalam penderitaan setiap hari. Jika setiap hari merasa “Ini sudah cukup, sudah puas, itu sudah cukup,” ketika rasa kebahagian direndahkan, kamu akan hidup dalam kebahagiaan setiap hari. Jangan terlalu mengejar keuntungan dan kerugian kecil di dunia. Melepaskan diri sendiri barulah orang bijak.

Terus-menerus mengenang masa lalu akan menimbulkan lebih banyak pikiran yang mengganggu. Terus-menerus memikirkan masa depan akan menimbulkan lebih banyak khayalan. Benar-benar menghadapi kenyataan hidup dan menggunakan kebijaksanaan untuk menyelesaikan konflik, barulah disebut orang yang membina diri dengan benar dan sungguh-sungguh. Seorang praktisi Buddhis harus menghormati orang lain, barulah bisa memperkecilkan ego diri sendiri. Jika kamu menghormati suami, maka suami pasti akan menghormatimu; Kamu menghormati anakmu, maka dia akan menghormatimu. Kamu menghormati rekan kerja, mereka akan menghormatimu. Kita jangan menoleransi serbuan pikiran-pikiran yang mengganggu. Hanya dengan melihatnya dengan jelas, kita baru bisa menghilangkan karma di dalam hati,  harus mengatasinya. Apa pun masalah yang datang, pikirkanlah kita adalah praktisi Buddhis. Kita memiliki welas asih dan cinta kasih para Bodhisattva. Kita dapat mengatasi kesulitan karena keabadian yang dilihat praktisi Buddhis bukan hari kemarin, melainkan hari esok.

Seorang anak dari teman se-Dharma yang  menderita hemangioma. Dokter berkata, “Dia tidak bisa diselamatkan, cepatlah mempersiapkan pemakamannya.” Sang ayah sangat sedih. Sambil menyiapkan peti mati kecil yang indah untuk anaknya, ia sambil meminta bantuan dari semua orang. Kemudian, ia mengenal Xin Ling Fa Men. Seluruh keluarga bersama-sama melafalkan Xiao Fang Zi untuk anak itu, dan juga mendapatkan beberapa lembar dari sumbangan. Setelah membakar hampir 4.000 lembar Xiao Fang Zi, keajaiban terjadi: indikator anak itu perlahan-lahan kembali normal, dan sel-sel kanker hilang. Banyak orang datang untuk memberi selamat kepadanya, dan ayahnya berkata: “Terima kasih, Bodhisattva! Tetapi sayangnya, saya tidak bisa mendapatkan kembali uang peti mati itu” Semua orang tercengang mendengar ini. Orang-orang sekarang benar-benar lebih mementingkan uang daripada nyawa. Seorang pendengar menelepon kepada Master dan bertanya, “Master, akhir-akhir ini peti mati sedang diskon 25%. Bolehkah saya membeli beberapa?” Saya tercengang dan berkata kepadanya, “Begini saja — mumpung sedang diskon, beli saja sekarang, kayunya pasti bagus. Tegakkan itu sekarang dan jadikan sebagai lemari pakaian. Saat kamu meninggal, balikkan peti mati mendatar dan berbaringlah di dalamnya.”

Setiap hari dalam hidup setiap orang itu bagaikan selembar kertas kosong; jangan mencoret atau menulis sembarangan. Hidup itu sangat berharga. Jangan makan atau minum sembarangan, jangan melakukan hal-hal buruk. Berpikirlah dua kali sebelum bertindak, sehingga tidak akan membawakan terlalu banyak kerisauan pada diri sendiri. Perbuatan seseorang sepanjang hidup, tidak peduli baik maupun jahat, semuanya adalah akumulasi dari waktu. Buah dari akumulasi ini adalah karaktermu. Lakukan perbuatan baik setiap hari, karaktermu akan baik. Berpikiran jahat setiap hari, karaktermu akan jahat. Ubahlah sudut pandangmu terhadap dunia; dunia ini sangat luas, tetapi orang tampak sangat kecil. Kita harus berpikir di posisi orang lain dalam hubungan pertemanan, sehingga akan menyadari bahwa semua makhluk memiliki sifat Kebuddhaan.

Dua orang sedang mengobrol. Seorang bertanya kepada pelaut, “Apakah kamu suka laut? Laut sangat dingin sekali.” Pelaut itu menjawab, “Laut tidak menakutkan. Laut itu jernih dan luas. Kami sekeluarga  menyukainya.” Orang itu bertanya lagi, “Apakah ayahmu mencintai laut?” Pelaut itu menjawab, “Ya, tetapi beliau meninggal di laut.” “Apakah kakekmu mencintai laut?” “Ya, tetapi beliau meninggal di Samudra Atlantik. Bahkan abang saya pun hilang dalam badai di laut.” Orang itu berkata, “Kalau begitu, saya tidak akan pergi ke laut.” Pelaut itu bertanya kepada teman ini, “Maukah kamu memberi tahu saya di mana ayahmu meninggal?” “Ayah saya meninggal di tempat tidurnya.” “Bagaimana dengan kakekmu?” “Dia juga meninggal di tempat tidurnya. Bahkan kakak saya juga meninggal di tempat tidur rumah sakit.” Pelaut berkata, “Kalau begitu, kamu jangan tidur di tempat tidur lagi.” Kisah ini memberi tahu kita bahwa dunia ini penuh bahaya, tetapi orang yang memahami bahaya kehidupan baru bisa mengatasinya. Sama seperti praktisi Buddhis, jika kamu tidak memahami ajaran Buddha Dharma, kamu tidak akan pernah menekuni Dharma. Orang yang pengecut, karena takut akan kecelakaan kecil, sehingga membawakan kemalangan bagi dirinya. Jadi dia akan menyerah pada prinsip dalam hidup, dan ini sebenarnya adalah kerugian terbesarnya. Praktisi Buddhis tahu penderitaan dan tidak takut akan penderitaan. Tahu bahwa dunia ini adalah tempat untuk melatih tekad dan tempat terbaik bagi kita untuk berubah. Hari ini, kita telah mengenal ajaran Buddha Dharma, kita harus melafalkan paritta dengan baik dan memohon berkat kepada Bodhisattva. Kita pasti akan sehat jasmani dan rohani serta memiliki banyak anak dan cucu.

Kekurangan terbesar manusia adalah menggunakan pengalaman yang diketahui sendiri untuk menilai hal yang tidak diketahui. Ini pasti akan mengarah pada kesalahan, mengambil kesimpulan yang salah sebagai hasil yang benar. Emas sebesar apa pun tak bisa membeli penyesalan sebelum terjadi, dan harta sebanyak apa pun tak dapat membeli obat untuk menebus penyesalan. Praktisi Buddhis harus menerima kenyataan, belajar dari orang lain untuk mengenali kekurangan dan kelemahan diri sendiri, memahami sebab dan akibat,  meneladani Bodhisattva takut akan sebab, tidak meneladani makhluk hidup yang takut akan akibat. Hidup dalam kebijaksanaan, maka tidak akan ada penyesalan, tidak akan ada kebodohan. Berharap semua orang harus memahami bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan dapat dicapai dengan melepaskan dan berpikiran terbuka. Kesempurnaan pikiran terletak pada pemahaman seseorang terhadap masyarakat. Apa yang kamu pikir benar belum tentu benar; apa yang kamu pikir salah belum tentu salah, itu hanyalah perasaan dan perspektifmu saja. Mengubah perspektif ini dan berusaha berpikir positif adalah kesempurnaan. Setiap hari memandang perspektif diri secara negatif adalah kekurangan.

Ada seorang ayah yang selalu berpikir, “Anakku dan ibunya begitu manis dan dekat, mengapa aku, sebagai seorang ayah, tidak merasa dekat dengan anakku? Hari ini, beristirahat di rumah, aku ingin menjadi seorang ibu satu kali dan bertukar peran dengan istriku.” Ketika putranya pulang di malam hari, ia langsung berkata begitu memasuki pintu, “Bu, aku pulang!” Sang ayah keluar dari dapur mengenakan celemek dan berkata sambil tersenyum, “Sayang, kamu sudah pulang, ayahmu keluar dan akan segera kembali.” Tak lama kemudian, istrinya pulang, dan putranya menangis dan berkata, “Bu, Ayah sudah gila!” Orang-orang seharusnya melakukan segala sesuatu sesuai status mereka. Praktisi Buddhis harus melakukan pekerjaan Bodhisattva, harus melepaskan kerisauan duniawi. Orang yang meneladani Bodhisattva harus melakukan perbuatan baik.