35. Pikiran Yang Tak Terkondisi, Membina Perilaku Dan Membina Pikiran 无所住心,修行修心

35. Pikiran Yang Tak Terkondisi, Membina Perilaku Dan Membina Pikiran

Banyak pasangan suami istri ketika sedang bertengkar sering mengucapkan satu kalimat yang sama: “Saya anggap dia seperti orang mati saja, saya lakukan apa yang ingin saya lakukan, tidak perlu memedulikannya.” Walaupun kalimat ini tidak enak didengar, namun juga merupakan suatu cara. Yakni, kamu jangan memedulikannya, jangan menaruh harapan padanya, maka kamu tidak akan merasa kecewa. Jika kamu menaruh harapan padanya, merasa suamimu seharusnya begini begitu, maka ini akan membawa kekecewaan bagimu. Apa makna dari “semestinya”? Kamu merasa dia adalah anakku, saya sudah melahirkan dan membesarkannya dengan susah payah, dia harus bersikap begini terhadap saya. Sesungguhnya saat kamu sudah lanjut usia, dan hanya bisa berbaring di sana, masih bisa berbuat apa? Setelah kamu meninggal, lalu bagaimana? Dia segera mengambil harta warisanmu. Ada tidaknya keberadaanmu tidak membawa pengaruh apa-apa. Apabila setelah menekuni Dharma, kamu bisa berpikir seperti ini: “Pada dasarnya saya tidak mengharapkan apapun darimu, hidup saya baik-baik saja.” Lalu apa yang bisa dia lakukan? Dia juga tidak bisa melakukan apa-apa. Semakin baik perilaku seorang ibu terhadap anaknya, maka keinginan anak akan menjadi semakin banyak. Ini disebut memanjakan. Jika kamu cuek terhadap dia, tidak memedulikannya, maka dia malah bisa mengerjakan kerjaannya sendiri. Begitulah manusia, jangan menaruh harapan terlalu tinggi terhadap orang lain. Begitu juga sikap Master terhadap kalian, tidak menaruh terlalu banyak harapan terhadap kalian. Jika kalian semua ingin melakukan jasa kebajikan, maka lakukan saja, jika kalian tidak melakukan jasa kebajikan, Master juga tidak akan meminta kalian lakukan. Melakukan jasa kebajikan harus dengan cara berlomba.

Master pernah berikrar pada Guan Shi Yin Pu Sa, menyerahkan seumur hidup Master kepada Bodhisattva, kepada semua makhluk, demi menyelamatkan semua orang yang berjodoh di seluruh dunia. Master mulai menapaki jalan saya sendiri, oleh karena itu Guan Shi Yin Pu Sa sangat memperhatikan Master. Ketua Komitte Buddhis New South Wales besok akan datang bertemu Master, ini menandakan apa? Ini berarti Master bisa secara resmi menyelamatkan semua orang-orang yang berjodoh yang beragama Buddha di seluruh dunia, menyebarkan Pintu Dharma yang begitu bagusnya ini ke India, Jepang, Thailand, Malaysia, dan negara lain. Ingatlah, berkomunikasi dengan orang lain dengan segenap hati, itulah komunikasi yang sesungguhnya, sedangkan berkomunikasi dengan bahasa hanyalah komunikasi tubuh saja.

Mengapa banyak orang yang bunuh diri? Mengapa beremosi ketika dimarahi orang lain? Karena ada “AKU”, adanya harga diri. Master beritahu kalian, siapapun yang memiliki harga diri, maka dia pasti memiliki rasa minder. Dari mana harga dirinya berasal? Karena dia merasa sangat minder, dia merasa tidak sebanding dengan orang lain. Orang yang semakin tinggi harga diri, maka semakin kuat pula rasa minder, sedangkan orang yang memiliki rasa minder yang semakin kuat, akan memiliki harga diri yang semakin tinggi. Jika bisa mencapai ketidakakuan, dengan kata lain sudah tidak ada “Aku” di dunia ini, bahkan diriku sendiri saja sudah tidak ada lagi, maka tidak akan ada lagi harga diri dan perasaan minder, apa yang tidak bisa ditahan? Bahkan tidak perlu bersabar atau bertahan terhadap apapun lagi. Oleh karena itu, tidak masalah yaitu “pikiran yang tak terkondisi”. Sudah tidak ada tempat lagi untuk menempatkan pikiran saya, karena saya tidak memiliki kebencian terhadap orang lain, saya tidak memiliki kebodohan, saya tidak memiliki nafsu keinginan, saya sudah tidak memiliki pikiran apapun – ini adalah tingkat kesadaran Bodhisattva. Sedangkan kekurangan manusia yaitu memandang dirinya terlalu tinggi.

“Tiada kondisi”, maka “tiada yang didapatkan”, tidak ada lagi masalah tentang mendapatkan maupun tidak mendapatkan. Tiada yang didapatkan berarti “Tiada lagi penderitaan, penyebab penderitaan, melenyapkan penderitaan, dan menemukan jalan Kebuddhaan”, yakni “tiada kebijaksanaan berarti tidak bisa mendapatkan”, Master sedang mengajarkan kalian {Xin Jing}. “Tiada kelahiran”, yakni tidak terlahir “Aku”, berarti ketidakakuan. Master akan membahasnya pada kalian: buah kesadaran spiritual dari bersabar dan bertahan dalam kesulitan sangat tinggi, setara dengan Bodhisattva tingkat ke delapan. Seseorang yang mampu bersabar, tidak marah-marah, selamanya tersenyum dan tertawa, ini adalah orang dengan tingkat kesadaran spiritual yang tinggi. Seseorang harus bisa bersabar, harus bisa menstabilkan pikirannya. Kekurangan kita manusia adalah tidak bisa menahan diri, karena tidak tahan makanya baru bisa menunjukkan sikap aneh. Harus bisa mengendalikannya. Walau orang yang sudah berumur belum tentu bisa mengendalikannya, masih berusia muda pun belum tentu bisa mengendalikannya, karena untuk bisa mengendalikannya, ia harus memiliki keadaan pikiran tertentu, dengan kata lain harus bisa mengendalikan diri dan bersabar. Master harus lebih bisa bersabar, Master harus belajar untuk lebih sabar dibandingkan kalian, harus bisa memiliki “ketiadaan kesabaran Dharma”. Kalian para murid bersikap tidak baik terhadap Master, kalian melakukan kesalahan, walaupun Master bersabar, akan tetapi Master juga berkewajiban untuk menasihati kalian. Setelah bersabar, namun kalian tetap tidak mau berubah, maka maaf saja, Master sudah memiliki “tidak melahirkan kesabaran Dharma”. Meskipun kalian menelepon Master, lalu membicarakannya lagi kepada Master, namun Master tidak akan memedulikannya lagi, karena Master sudah melepas. Kekurangan seseorang tidak boleh sering diulang. Seperti marah-marah, atau tidak pengertian, tidak belajar untuk bersabar dalam kesulitan dan tidak tekun memajukan diri, ada sebagian murid Master yang tidak mengerti bagaimana seharusnya bersikap dan berperilaku yang baik, dan pada akhirnya malah mengundang masalah, lalu membuat Master menjadi khawatir, lalu tidak lama kemudian kembali datang meminta maaf. Murid seperti ini kurang sekali kebijaksanaannya. Dia tidak bisa belajar untuk bersabar, dia tidak memiliki kesadaran spiritual Bodhisattva.

Harus membina hingga mencapai “wu sheng fa ren – anutpattika dharma ksanti  (suatu kesabaran dengan meyakini bahwa tiada fenomena-dharma yang muncul)”, sebenarnya manusia ini tidak memiliki kondisi. Dengan kata lain, semuanya tidak lagi menjadi masalah, di mana pun sama saja. Biksu menginap di kuil manapun, dengan kata lain ke mana pun dia pergi, semua kuil akan menerimanya. Para biksu dan biksuni sudah melepaskan keluarganya, mereka bisa tinggal di mana saja, sesungguhnya ini berarti tidak terkondisi – tidak ada satu tempat yang tetap untuk ditinggali. Coba pikirkan setiap orang seumur hidupnya sudah pindah rumah berapa kali. Hari ini kamu tinggal di sini, mungkin saja beberapa hari kemudian kamu akan pindah lagi. Hari ini kalian berada di Alam Manusia ini, namun tidak lama kemudian kalian meninggal, kemudian kalian akan berpindah ke alam lain. Seperti layar televisi, sekarang kita tinggal di saluran 7, setelah meninggal, jika kita pergi ke tempat yang baik, maka mungkin saluran 9 atau saluran 10, apabila kita pergi ke tempat yang tidak baik, itu adalah saluran 2. Semuanya berada di dalam layar televisi ini, tidak bisa keluar dari tumimbal lahir enam alam. Jika ingin keluar dari “televisi” ini sangat tidak mudah. Coba pikirkan, seseorang pernah pindah rumah berapa kali? Banyak orang yang menikah berapa kali? Banyak orang sudah melahirkan anak berapa kali? Sudah lewat, berarti sudah tidak ada lagi. Lalu masih melekat pada apa lagi? Kalau sudah lewat ya sudah, bina pikiran baik-baik. Hargai masa ini baik-baik, harus menolong lebih banyak orang. Hari ini masih bisa “membaur”, maka berbaurlah dengan yang lain. Di dunia ini meskipun makna kata “berbaur” kurang bagus, namun dalam agama Buddha, ia juga bermakna “menyesuaikan jodoh”. Memang beginilah jodohmu, lalu mau bagaimana lagi? Master akan mengatakan sebuah lelucon: Ada satu orang tua dari desa pergi ke kota, pertama kali melihat lift. Dia melihat sebuah kamar kecil yang pintunya terbuka, seorang nenek tua masuk ke dalamnya, lalu tidak lama kemudian pintu kamar ini kembali terbuka, yang keluar adalah seorang gadis muda. Orang tua ini merasa sangat menyesal, dalam hati dia berpikir, kalau tahu begini maka saya seharusnya membawa istri saya yang di desa untuk masuk ke dalam kamar kecil ini. Inilah kebodohan manusia yang menyebabkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Ketika seseorang memiliki ketidaktahuan, saat dia tidak memahami apapun, maka dia baru bisa menderita, setelah memahaminya, maka dia tidak akan menderita lagi. Mengapa sekarang ada begitu banyak orang yang setelah mengikuti Master menekuni ajaran Buddha Dharma, dia bisa terbuka pikirannya dan tidak lagi menderita? Karena dia sudah memahami prinsip kebenarannya. Dulu dia tidak memahaminya, makanya dia menderita. “Mengapa dia bersikap buruk terhadap saya? Mengapa saya bersikap baik kepadanya, tetapi dia malah bersikap buruk terhadap saya?” Dia tidak terpikir bahwa di kehidupan sebelumnya dia sudah mencelakai orang itu dengan sangat kejam. Kalian dengar dalam siaran, ada seorang pendengar yang mengatakan, ada satu arwah asing yang ada di tubuhnya dan tidak mau pergi, karena hubungan buruk di kehidupan sebelumnya. Arwah asing tidak mau pergi, ingin berada di tubuhnya untuk membuatnya mati. Oleh karena itu, balasan karma tidak menetap, berarti tidak akan berada di suatu tempat yang pasti.

Master terakhir memberitahukan beberapa patah kata. Membina perilaku, semakin besar kebajikan dari pembinaan diri seseorang, rintangan iblisnya semakin tinggi, harus waspada. Harus waspada untuk mencegah. Mengapa bisa demikian? Karena semakin besar keluhuran budi seseorang, rintangan iblisnya akan semakin banyak. Semakin baik pembinaan diri seseorang, godaan iblisnya semakin banyak. Contoh sederhana: Seorang pekerja tekstil wanita biasa, tidak ada orang yang mencemburui kamu. Ketika kamu menjadi seorang pekerja teladan, semua orang akan cemburu padamu. Semakin besar kebajikan, semakin tinggi rintangan iblis; Jika melampaui rintangan iblis, maka semakin mendalam pembinaan kebajikanmu. Dulu ketika Master mengajarkan Dharma kepada praktisi Buddhis awam, tidak ada orang yang melakukan apapun terhadap Master. Sekarang Master semakin terkenal, membuat semakin banyak orang cemburu. Sesungguhnya ini adalah ujian/cobaan. Banyak orang akan memarahimu, kamu bahkan tidak memiliki persiapan mental, bagaimana kamu bisa membina pikiran dengan baik? Sekali dibicarakan orang, maka kamu tidak memperkenalkan Dharma kepada semua makhluk lagi? Master bertemu dengan banyak orang yang pergi ke suatu komunitas, ketika melihat mereka datang, selalu berkata “Terima kasih semuanya, saya pasti akan melakukan dengan baik”, kemudian minggu depan tidak datang lagi. Mengapa? Karena semua orang membicarakan dia, menyebarkan berita, tidak mampu menerima tekanan psikologis, tidak datang lagi. Harus mampu menghadapi ujian. Master hari ini membicarakan kamu, melihat bagaimana kamu menghadapi rasa malu ini. Jika kamu tidak belajar, kamu sendiri tidak memiliki kebajikan, “tidak mendapatkan apa-apa”. Apakah sudah mengerti?

Menekuni Ajaran Buddha Dharma harus bisa menggunakan kebijaksanaan dengan baik, pikiran yang teguh dan tidak berubah baru bisa memancarkan sinar Kebuddhaan. Ketika kamu menghadapi ujian iblis, asalkan kamu memiliki keyakinan yang teguh: “Saya ingin mengikuti Master baik-baik mempelajari Pintu Dharma ini”, maka kamu tidak akan “dikuasai” oleh iblis, sebaliknya kamu akan memancarkan suatu cahaya Kebuddhaan. Semakin tinggi moralitas seseorang, maka iblis yang akan dihadapinya semakin besar, maka harus berhati-hati mencegahnya. Harus berkeyakinan teguh dan tak tergoyahkan, maka cahaya Kebuddhaan kamu akan muncul. Oleh sebab itu, tidak peduli menghadapi kesulitan besar apapun, kita tidak boleh mundur, harus bisa teguh bersabar, harus bisa mengokohkan keyakinan dirinya, harus bisa bersabar menahan hinaan. Sesungguhnya, bersabar menghadapi hinaan, memiliki makna yang positif. Akan tetapi jika digunakan pada orang-orang yang suka mencari-cari alasan, maka sama bisa berhasil, namun maknanya berubah menjadi negatif. Apakah yang dimaksud dengan “bertahan”? Terkadang kita mengatakan bertahan dengan teguh, bertahan berarti meneguhkan tekad sendiri sekaligus bersabar, “Saya harus bisa mencapai tujuan saya.”

Sesungguhnya bersabar dalam kesulitan di satu sisi sangat mudah dilakukan, setelah bersabar, maka semuanya akan berlalu, tidak ada lagi. Saat suami memarahimu, lalu kamu menahan diri tidak bertengkar, maka tidak lama kemudian, setelah dia usai marah-marah, masalah ini pun akan berlalu. Ini yang disebut dengan bersabar dan membiarkannya berlalu. Segala hal di dunia ini pasti akan berlalu. Setiap orang pasti akan mati, lalu masih ada apalagi yang tidak bisa dilalui? “wu sheng fa ren – anutpattika dharma ksanti” yang dimiliki oleh Bodhisattva adalah tingkat kesadaran spiritual yang sangat tinggi, ini adalah buah kesadaran Bodhisattva tingkat ke delapan. “Walau kamu bersikap buruk terhadap saya, namun saya sudah tidak merasakan pikiran untuk bersabar sekalipun, saya sama sekali tidak merasa saya harus bersabar terhadap kamu, saya tidak marah.” Ini adalah buah kesadaran Bodhisattva. Bibit karma yang diciptakan seseorang, maka dia sendiri yang akan menerima buah karmanya. Sekarang di seluruh dunia ada begitu banyak orang yang memiliki harapan yang sama yakni semua berharap supaya tubuh Master sehat. Karena dengan adanya Master, maka mereka semua akan mendapatkan perlindungan. Master harus meninggalkan lebih banyak buku dan catatan tertulis kepada kalian ini sama dengan menanam bibit karma baik; Sedangkan dengan tubuh yang sehat, bisa mewujudkan ikrar besar, juga bisa menolong semua orang-orang yang berjodoh di seluruh dunia, maka ini adalah memperoleh buah karma baik.

Hari ini kalian menjaga Master, maka kalian harus memahami satu prinsip: Bukan karena Master hari ini memerlukan pelayanan kalian, melainkan karena Master sudah dari awal berikrar untuk mengorbankan diri sendiri demi menolong semua makhluk, raga dan jiwa Master semuanya adalah Bodhisattva, Master sudah tidak memiliki sedikit pun benda-benda pribadi, jika Master sehat, berarti sama dengan menolong semua makhluk. Kalian menjaga Master, bukan sedang menjaga “Master Lu”, melainkan supaya Master bisa membabarkan ajaran Buddha Dharma dengan lebih baik, kalian harus memahami prinsip kebenaran ini. Walaupun terkadang Master merasa sangat risau, itu juga karena ada terlalu banyak karma buruk orang-orang yang harus Master tanggung sendiri, benar-benar sangat Lelah. Biksu besar di kuil sering menerima medan aura buruk dari orang lain. Ketika diminta mendoakan orang lain, mereka menerima dana jasa kebajikan dari orang lain, namun tidak berhasil menyeberangkan para arwah asing, maka arwah-arwah ini akan terus mengikuti mereka. Oleh karena itu, banyak biksu yang sakit, sangat kasihan sekali. Akan tetapi sekarang sudah banyak kuil yang melafalkan Xiao Fang Zi.

Di kuil Shao Lin ada seorang biksu besar yang sudah terbuka mata dewa, dia berteman baik dengan salah seorang teman se-Dharma Master. Teman se-Dharma ini adalah profesor di Universitas Beijing, setelah dia melafalkan Xiao Fang Zi untuk keluarganya, Master sudah melihat keluarganya itu sudah berada di Alam Sukhavati. Biksu besar ini juga melihat bahwa keluarganya itu sudah didoakan sampai ke Alam Sukhavati. Biksu besar yang memiliki kemampuan supernatural ini sama sekali tidak tahu Xiao Fang Zi yang Master ajarkan. Trisuci di Alam Sukhavati, ada Guan Shi Yin Pu Sa, jadi jika belajar mengikuti Guan Shi Yin Pu Sa mana mungkin tidak bisa pergi ke Alam Sukhavati? Kalian harus memahaminya, harus membina diri baik-baik! Apakah kalian tahu, apa yang Master pikirkan? Master sendiri merasa sangat bersalah. Kalian percaya kepada master, Master merasa sangat senang. Pintu Dharma yang begitu bagusnya, namun masih ada banyak orang yang tidak mengetahuinya. Master tidak ingin seorang pun yang mengikuti Master membabarkan Dharma tertinggal di belakang, harus membuat lebih banyak orang menekuni Xin Ling Fa Men, agar bisa terbebas dari kerisauan dan penderitaan di Alam Manusia. Kalian selamanya tidak akan bisa memahami pikiran Bodhisattva. Yang sekarang Master katakan kepada kalian adalah kata-kata hati Master, ini adalah pikiran Bodhisattva. Semoga kalian bisa membina diri baik-baik, perjalanan masih panjang. Para pemuda-pemudi ini sangat rajin, setiap hari datang ke stasiun radio. Kalian semua harus lebih banyak menyemangati mereka, membantu mereka, bersama-sama dengan mereka membina diri baik-baik. Menekuni dan mempraktikkan Ajaran Buddha Dharma harus benar-benar dengan tulus hati.