34. Bersabar Menghadapi Orang Yang Sulit Dihadapi, Membina Pikiran Yang Sulit Dibina
Ingatlah: Kita jangan sering memikirkan AKU – diri sendiri, dengan kata lain tiada diri sendiri. Setiap kali mengerjakan suatu hal, “Oh, bukan saya yang melakukannya, rekan kerja yang mengerjakannya, sangat berterima kasih kepadanya”; “Oh, dalam hal ini, saya tidak melakukan apa-apa, semua orang turut membantu.” Ketiadaan AKU, berarti tidak ada diriku sendiri. Sering berpikir: Saya pun tidak melakukan apa-apa, memangnya apa hebatnya saya? Saya sangat kecil. Jika dipandang ke bawah dari pesawat terbang, maka manusia akan terlihat lebih kecil daripada semut, mobil-mobil terlihat seperti para semut. Sewaktu Bodhisattva melihat kita bertengkar atau mencaci maki orang lain, seperti kita melihat para semut yang sedang berperang. Selain itu, Master beri tahu kalian, kehidupan seksual suami istri harus dikontrol, hal-hal itu adalah perbuatan yang dilakukan binatang, tidak boleh sering dilakukan. Apabila manusia suka melakukan hal-hal yang dilakukan binatang, maka manusia pun akan berubah menjadi binatang. Ada pepatah berbunyi: Orang yang sering berbuat seperti binatang, maka akan sering berpikir layaknya binatang. Jika sering melakukan perbuatan yang dilakukan binatang, maka pikiranmu akan dipenuhi dengan pemikiran binatang. Pemikiran kamu akan berubah menjadi pemikiran yang menyimpang, bukan lagi pemikiran yang benar. Coba lihat saja bagaimana wajah para lelaki hidung belang saat melihat anak-anak gadis. Jika memiliki pemikiran yang menyimpang, maka martabat kamu akan menurun, kamu tidak akan dihargai orang lain. Sebagai manusia harus bisa menghormati dan menyayangi diri sendiri.
Dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma, harus memahami prinsip kebenaran, harus menunjukkan wajah yang berwibawa. Sama seperti Guan Yin Tang, memegahkan Tanah Suci Buddha. Coba kalian lihat, apakah Guan Shi Yin Pu Sa agung dan berwibawa? Membuat kamu yang melihatnya bisa muncul perasaan takjub dan hormat. Coba lihat bagaimana paman-paman tua itu melihat anak-anak perempuan, pandangan mata mereka genit, benar-benar mempermalukan diri sendiri. Seorang praktisi Buddhis sama sekali tidak boleh seperti itu. Begitu juga dengan para wanita, melihat orang lain harus dengan pandangan yang hormat, mata tidak boleh menggoda, juga tidak boleh melihat serong atau melirik, harus lurus dan tulus. Melihat orang lain pun ada ilmunya, ini namanya melihat dengan sopan. Karena saat matamu melihat orang lain, bisa terlihat kamu sedang melihat bagian yang mana dari dirinya. Jika matamu melihat ke suatu bagian tertentu, ini tandanya kamu adalah orang yang tidak beretika. Matamu tidak boleh sembarangan melihat. Mata adalah jendela jiwa, jika matamu melihat bagian tubuh orang lain yang tidak seharusnya dilihat, maka lawan bicara akan segera tahu kalau kamu adalah orang yang cabul. Apa itu menekuni Dharma? Belajar untuk menjadi berwibawa, belajar memperbaiki moralitas diri, belajar menghargai diri, belajar tentang kebaikan hati, kesetiaan, kesopanan – keharmonisan, serta kebijaksanaan, ketulusan dan kejujuran. Ada tidaknya harga diri seseorang, ditentukan oleh apa yang dilakukannya, bukan dengan berpura-pura. Harus belajar dengan baik, kalian masih jauh sekali.
Harus sering melatih pikiran untuk tidak memiliki keakuan. Sebelum dilahirkan atau sesudah dilahirkan, apakah ada AKU? Coba pikirkan: Kamu sekarang sudah dilahirkan, siapakah dirimu? Sewaktu kamu dilahirkan, apakah kamu tahu siapa dirimu? Setibanya usia 5-6 tahun, kamu baru memiliki sedikit perasaan, saya berada dalam keluarga ini. Lalu sampai saat meninggal, siapa pula dirimu? Hari ini kamu bernama XXX, setelah kamu meninggal, apakah nama ini masih ada? Ada, di taman pemakaman. Berakhirnya kehidupan ini sama seperti usainya bertamasya ke suatu tempat, satu kehidupan yang singkat telah lenyap begitu saja. Apa yang kalian lakukan setiap hari? Oleh karena itu, setelah bekerja satu hari, harus menganggap bahwa diri sendiri tidak memiliki apapun – saya datang ke dunia ini tanpa apa-apa, ketika saya pergi pun juga tidak akan membawa apa-apa. Saya tidak mengejar ketenaran, saya juga tidak mengejar kekayaan, uang bagi saya tidak ada daya tarik apapun, keuntungan bagi saya juga sama sekali tidak menarik. Bahkan diriku sendiri pun tidak ada, lalu apalagi ketenaran dan kekayaan yang masih saya kejar? Jangan terlalu mengejar ketenaran dan kekayaan, maka orang ini akan hidup dengan bebas. Dengan mengurangi nafsu keinginan, maka orang ini akan hidup dengan bebas seperti sediakala. Apa yang dimaksud “seperti sediakala”? Berarti sama seperti dirimu yang semula. Semua harta kekayaan, walaupun itu milikmu, namun juga hanya bersifat sementara, kamu hanya menjaganya untuk sementara waktu. Contohnya, sewaktu kamu masih belum meninggal, kepemilikan rumah ini masih atas nama diri sendiri, namun begitu kamu meninggal, bukankah rumah ini menjadi milik anak-anak? Kalau begitu apakah rumah ini masih milikmu? Sudah tidak ada lagi. Apakah ini milikmu atau milik anak? Apakah kamu bisa memiliki segalanya? Apakah kamu bisa memiliki keabadian?
Jangan lagi tidak berpikiran terbuka. Kalian semua yang duduk di sini harus berpikir baik-baik, Master setiap hari menasihati kalian panjang lebar, apa tujuannya? Sampai sekarang kalian masih tetap memikirkan masalah diri sendiri, benar-benar kasihan sekali. Oleh karena itu, kepemilikan sementara pada akhirnya akan menjadi milik orang lain, ini bukan kepemilikan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kita harus belajar untuk bersabar. Seumur hidup ini kita akan menghadapi kegagalan, fitnahan, serangan … Menghadapi semua ini, kita harus belajar untuk bersabar dan bertahan. Apakah bersabar dan bertahan itu? Tingkat kesadaran spiritual untuk bisa bersabar dan bertahan sangatlah tinggi, mampu bersabar dan bertahan adalah tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva. Seseorang yang mampu bersabar, adalah orang yang sangat beretika. Walau orang lain bertengkar denganmu, dan kamu tetap tidak emosi, berarti kamu beretika. Tidak peduli baik pria maupun wanita, jika dimarahi orang lain lalu ikut marah, berarti orang ini tidak beretika. Setelah dikritik orang lain lalu emosi, ini juga merupakan orang yang tidak membina diri dengan baik. Contoh sederhana: orang lain mengatakan “Kamu sangat kaya ya”, lalu wajahmu segera menunjukkan kalau kamu adalah orang kaya, ini juga bukan orang yang beretika. Begitu dipuji cantik, lalu segera kegirangan, dan kembali menambah riasannya, ini juga orang yang tidak beretika. Master sering mengatakan pada kalian, “tetap bergeming”. Seseorang yang memiliki kesadaran spiritual, baik dikritik maupun tidak dikritik, bagi dirinya tidak akan ada pengaruhnya.
Kalian semua harus ingat, “wu sheng fa ren” atau anutpattika dharma ksanti (suatu kesabaran dengan meyakini bahwa tiada fenomena-dharma yang muncul). Apakah yang dimaksud “wu sheng” – tiada muncul? Dengan kata lain, saya bahkan sudah tidak memiliki “pikiran untuk bersabar” ini. Sedangkan “fa ren” – kesabaran Dharma adalah kesabaran di alam Dharma. Karena saya sama sekali tidak perlu bersabar, karena saya sama sekali tidak merasa kalau “saya harus sabar”, saya tidak memiliki pikiran untuk bersabar, lalu apa yang perlu saya tahan? Jika ada orang yang mencaci maki Master, lalu Master mengatakan, “Saya tidak marah”. Orang lain mengkritik saya, maka saya hanya merasa ini hanyalah pandangan dia saja, memangnya apa pengaruhnya bagi saya? Mengapa saya harus marah kepadanya? Saya akan menceritakan satu lelucon pada kalian. Ada satu orang yang sangat hebat, dia pergi ke perusahaan orang lain, dan ada orang yang bertanya: “Kamu siapa?” Dengan tatapan lurus, dia menjawab: “Kamu tidak tahu siapa saya?” Pada akhirnya orang lain menyebutnya sebagai orang sakit jiwa, karena dia pun tidak tahu siapa dirinya sendiri. Dia masih mengira kalau dirinya sangat terkenal, namun sesungguhnya dia tidak memiliki ketenaran apapun. Kekurangan orang-orang adalah terlalu merasa dirinya hebat. “Dari dulu saya tidak pernah melakukan kesalahan, dulu saya terus memimpin orang lain, dulu saya begini dan begitu …” Hei, yang dulu sudah berlalu. Kamu harus ingat, semua ini hanyalah masa lalu. Sekarang kamu sudah tidak memilikinya lagi, jika kamu masih menggunakan kata “dulu-dulu”, berarti kamu sudah tidak memilikinya. Jika kamu kembali mengeluarkan sesuatu yang sudah tidak ada lagi, berarti kamu adalah orang yang tidak rasional dan tidak bijaksana.
Jika menyimpang dalam menekuni dan mempraktikkan Dharma akan berakhir menjadi penyakit kejiwaan. Apabila ada iblis di tubuh seseorang, maka dia akan berubah menjadi seorang penderita penyakit kejiwaan. Dia akan mengira kalau dirinya hebat sekali karena sudah membaca banyak buku, sudah membaca banyak buku-buku Buddhis, yang dikatakannya kelihatan rumit dan hebat sekali, bahkan menggunakan sesuatu milik Bodhisattva untuk menyerang orang lain. Agama Buddha tidak akan pernah menyerang orang lain. Siapapun yang menggunakan agama Buddha untuk menjatuhkan orang lain, maka sesungguhnya dia sudah menyimpang. Oleh karena itu, kita harus belajar mencapai ketiadaan kesabaran Dharma – “wu sheng fa ren”. Meskipun saya perlu bersabar, namun saya bahkan tidak memiliki pemikiran untuk bersabar. Suatu kesabaran yang sama sekali tidak dianggap perlu baru bisa disebut sebagai “fa ren – kesabaran Dharma”. Sama sekali tidak merasa perlu bersabar, baru bisa disebut sebagai “wu sheng – tiada muncul”. Dengan kata lain, saya tidak merasa kalau saya perlu bersabar. Banyak orang merasa dirinya perlu bersabar: “Marah, tidak boleh, saya harus bersabar. Saya adalah praktisi Buddhis, saya harus bersabar. Kamu marahi saya, atau pukul saya, saya harus tetap bersabar.” Sesungguhnya ini bukan tingkat kesadaran yang tertinggi. Jika kamu memang hebat, maka ketika dia memarahimu, dirimu tidak akan merasa kalau dia sedang memarahimu, dia adalah sebuah tangga yang sedang meningkatkan kesadaran spiritual kamu, ini adalah suatu jodoh pendukung, sumber yang mendukung kamu untuk lebih maju. Dia memberikanmu sebuah keadaan ini supaya dirimu bisa lebih maju. Dia memarahimu, maka kamu dengarkan saja, kalau memang benar, maka diperbaiki, kalau tidak benar, jadikan sebagai peringatan bagi dirimu. Karena di pinggir jalan belum ada orang yang memarahimu. Di rumah dia memarahimu, maka kamu bisa memandangnya sebagai suatu keadaan untuk mengembangkan dirimu.
Kesabaran seperti ini sesungguhnya sudah menjadi suatu “fa ren – kesabaran Dharma”, dengan kata lain sudah tidak ada “maksud untuk bersabar” di dalamnya. Setiap kali Master usai memberikan wejangan, ada banyak orang yang berkata, Master hari ini pasti sedang membicarakan saya. Setiap orang mengira Master sedang membicarakan dia. Akan tetapi sesungguhnya yang Master bicarakan adalah suatu fenomena, Master tidak berpikir untuk membicarakan kalian. Ketika kalian “mengenakannya” pada diri kalian sendiri, maka kalian akan merasa sangat sedih duduk di sana. Sering ada murid yang datang mencari Master: “Master, hari ini Anda sedang mengkritik saya, benar tidak?” ini berarti membiarkan diri sendiri beringsut masuk ke dalam lubang. Oleh karena itu, seseorang yang sudah tidak ada diri sendiri, mana mungkin bisa marah? Saya tidak akan marah, karena sudah tidak ada “Aku”lagi. Kekurangan banyak orang adalah “Saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya sudah tidak tahan lagi.” Kata “Aku”ini benar-benar mencelakakan orang. Maka lupakanlah “Aku”! Lupakan diri sendiri adalah meningkatnya kesadaran spiritual diri sendiri. Karena sudah tidak ada diri sendiri, maka kamu tidak akan marah, kamu tidak akan emosi, kamu tidak akan serakah, benci, dan bodoh. Dari dulu sampai sekarang, ada berapa banyak orang yang meninggal demi suatu harga diri – gengsi. Sekarang banyak orang yang mengikuti perlombaan balap motor, hari ini dia pergi mengikuti pertandingan ini, dia pun tahu kalau dia mungkin tidak akan bisa pulang dengan selamat, dia bahkan merelakan nyawanya, semuanya hanya demi mendapatkan gengsi saja.
Master meminta kalian menekuni dan mempraktikkan Dharma agar bisa melepaskan diri sendiri, jangan mementingkan gengsi. Master hari ini mengkritik yang ini, mengkritik yang itu, supaya kalian bisa belajar untuk bersabar. Belajar sampai akhirnya harus mencapai “wu sheng fa ren” – ketiadaan kesabaran Dharma. Yang menghalangi meningkatnya kesadaran spiritual bagai sebuah “tembok”. Dalam suatu arti tertentu, Master justru mau menghancurkan tembok kalian ini, karena tembok ini telah menghalangi kebijaksanaan kalian. Oleh karena itu, kamu akan merasa sakit. Harus belajar bersabar. Ingatlah: tidak melawan, tidak membalas caci makinya, ini juga merupakan kesabaran. Ada dua macam keadaan yang paling sulit bersabar: Yang pertama adalah suami istri. Karena jalinan hubungan buruk suami istri sudah terakumulasi dari beberapa kehidupan, tunggu sampai kedua suami istri ini bertengkar, maka amarah itu akan benar-benar sulit diterima. Amarah ini paling sulit ditahan. Jika kamu mampu bersabar menghadapi amarah suami atau istri, maka kamu ini sungguh tidak mudah. Kesabaran suami istri adalah suatu kesabaran yang paling sulit di antara yang tersulit. Sedangkan yang satu lagi adalah hubungan dalam pekerjaan. Kesabaran dalam bekerja sesungguhnya merupakan kesabaran dalam hubungan antara orang yang satu dengan yang lain, ini juga sangat sulit. Perubahan keadaan akan membuat hatimu turut berubah. Di rumah berhubungan dengan suami atau istri saja sudah sulit, apalagi berhubungan dengan orang lain di kantor atau tempat-tempat umum, tentunya lebih sulit. Semua orang di mana pun bisa bertengkar, semua orang di mana pun bisa memarahi orang lain, ini bukan masalah bahasa, melainkan kondisi di sekitar kamu yang sesungguhnya adalah buah karmamu yang terlahir dari karma buruk kamu dari berkali-kali kehidupan. Yang Master beri tahu kalian adalah filosofi kehidupan, penerapan ajaran Buddha Dharma dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, setelah mengetahui bahwa kedua keadaan ini yang paling sulit untuk ditahan, maka setelah pulang ke rumah, kamu bisa mulai bersabar. Suami mengkritik saya, tidak apa-apa. Yang paling sulit sekali pun, saya tetap bersabar. Harus bisa mengendalikan diri sendiri, sampai pada akhirnya, sudah tidak lagi merasa mengendalikan diri. Bahkan marah pun tidak. Saya memang begini. “Master, mohon maafkan saya, saya sudah salah. Saya bersalah pada Guan Shi Yin Pu Sa.” Kalau begitu, sudah, tidak ada masalah apapun. Kalau tidak, kamu tidak berpikiran terbuka, kamu marah, bukankah kamu sendiri akan merasa sedih?
Master adalah Bodhisattva, Master bisa memaafkan kalian. Memaafkan ini sesungguhnya adalah respon yang didapat dari diri kalian. Apabila kalian memohon maaf dari Master, maka Master akan memaafkan kalian. Jika kalian tidak memohon maaf dari Master, kalian masih tetap sombong, kalau begitu maaf saja, berikutnya kamu tidak usah datang lagi. Bukankah ini semua kalian yang menyebabkannya? Ingatlah, tidak ada keakuan. Menghadapi pimpinan, rekan kerja, maupun orang-orang yang berbeda suku, semua ini adalah keadaan yang paling sulit untuk bersabar. Jika kamu sudah tidak memiliki keakuan, kamu baru bisa mencapai ketiadaan kesadaran Dharma – “wu sheng fa ren”. Saat melihat orang lain berkulit hitam, lalu muncul pemikiran diskriminatif, ini adalah suatu bentuk ketidakadilan dan kecemburuan. Orang kulit putih juga tidak merendahkan kita orang kulit kuning, lalu mengapa kita harus merendahkan orang kulit hitam? Inilah manusia, manusia biasa tidak memiliki kesadaran spiritual, manusia adalah binatang, manusia adalah hewan tingkat tinggi, kalau begitu masih binatang. Oleh karena itu, harus bisa membina diri mencapai kesadaran spiritual Bodhisattva. Yang mengajar di universitas adalah dosen, bukan profesor, meskipun dosen senior sekalipun, tetap masih adalah dosen. Karena level kamu adalah dosen, masih belum mencapai tingkat profesor.
Kemudian harus ingat, yang lalu tidak bisa dimiliki, yang sekarang tidak bisa dimiliki, yang akan datang tidak bisa dimiliki. Tidak ada pikiran untuk dimiliki. Apakah yang dimaksud dengan “tidak ada pikiran untuk dimiliki”? Saya sudah tidak memiliki pikiran, saya ini pun sudah tidak ada lagi. Pikiran saya sudah tidak terpengaruh oleh keadaan luar, pikiran saya seperti sudah tidak ada, ini adalah tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Contohnya, orang lain sedang mengantri membeli suatu barang diskon, sedangkan orang yang “tidak ada pikiran untuk memiliki” adalah: pikiran saya tidak berpikir, saya tidak memiliki pikiran untuk melakukan hal ini, bisa mendapatkannya atau tidak, bukan masalah, saya tidak memiliki nafsu keinginan, saya tidak memiliki kebencian, saya tidak memiliki kebodohan spiritual. Jika sudah tidak ada lagi pikiran ketamakan, kebencian, dan kebodohan, maka yang tertinggal hanyalah hati nurani. Master beri tahu kalian, kesadaran spiritual ketidakakuan berarti sudah mencapai ketiadaan AKU. Dengan kata lain, kamu sudah tidak memiliki dirimu sendiri. Kesadaran spiritual kamu sudah tercapai, kamu sudah benar-benar tidak ada diri sendiri. “Saya tidak marah lagi, saya sudah berpikiran terbuka, karena tidak ada hebatnya saya ini. Kalau kalian ingin mengkritik, maka silakan saja, jika kalian tidak mengizinkan saya melakukannya, maka saya tidak akan melakukannya.” Kamu tidak memiliki nafsu keinginan apapun terhadap orang lain, berarti sudah tidak ada nafsu keinginan dalam pikiranmu.
