15. Keinginan Yang Besar Akan Membuat Pemikiran Kita Tercerai-Berai, Dengan Belajar Mengendalikan, Maka Akan Mampu Mengendalikan Kehidupan Ini
Orang yang memiliki pemikiran yang tercerai-berai (tidak terpusat) pasti memiliki “tan xi guan”- pandangan pesimis, semakin berantakan pemikiran orang tersebut, maka semakin tidak dapat meraih hal yang bagus. Contoh: “Saya beli ini bagus tidak? Tidak, tidak, saya beli itu saja.” Seperti seseorang sedang memilih baju di butik, walau sudah mencoba banyak pakaian, namun pada akhirnya, “Aih! Tidak ada satu pun yang cocok dengan saya.” Maka pandangan pesimis ini mulai muncul, benar tidak? Oleh karena itu, seseorang yang memiliki pemikiran yang tercerai-berai akan membentuk pandangan pesimis.
Seseorang yang tidak memiliki jodoh yang baik akan memiliki kebodohan. Karena jodoh seseorang tidak bagus, pasti akan membuat dia menjadi semakin bodoh. Satu contoh sederhana: seorang wanita yang selalu gagal dalam hubungan asmara, seiring bertambahnya umur, sampai akhirnya menjadi bodoh, setiap bertemu orang akan terus berkata: “Aih, coba bantu kenalkan pasangan untuk saya, apakah ada calon yang baik? Yang tidak terlalu baik juga tidak apa-apa, saya tetap mau.” Sudah menjadi bodoh kan? Karena jodoh tidak baik, jadi mau dengan siapa saja, benar tidak? Maka seseorang yang memiliki jodoh buruk akan mendapatkan kebodohan. Jodoh tidak hanya menandakan jodoh suami istri, masih ada hubungan dengan anak, guru, teman sekelas, dan lain-lain. Kalian sebagai praktisi Buddhis mengapa ada yang membenci orang ini atau orang itu? Ini semua dikarenakan oleh jodoh. Ketika jodoh tidak baik, maka kebodohan akan bertambah. Merasa tidak senang, lalu bertengkar, ini karena jodoh sudah tidak baik; ketika barang dicuri orang lain, ditilang orang lain, maka semakin bertambah kebodohan. Seseorang yang sering ditilang di mana plat nomor dicatat, dia sangat membenci orang yang mencatat plat nomor. Pada satu hari hujan, dia melihat orang itu sedang mencatat plat nomor. Dia mengenakan topi dan masker muka lalu berjalan menuju ke depan si pencatat nomor plat, menurunkan maskernya dan meludahi muka orang itu, kemudian cepat-cepat kabur. Bukankah ini dinamakan bodoh, menurut kalian dia bodoh tidak? Karena jodoh sudah memburuk selalu saja ditilang orang lain, dia tidak menyalahkan diri sendiri yang tidak baik, selalu menyalahkan orang lain, maka harus memahami jodoh, kebencian bisa membuat seseorang menjadi bodoh.
Orang yang memiliki banyak halangan, sesungguhnya karena kekurangan pikiran untuk melafalkan Buddha. Karena pikiranmu tidak memiliki pikiran untuk melafalkan Buddha, maka halanganmu menjadi semakin banyak. Siapa yang tidak memiliki kerisauan di dunia? Seharusnya mulai mencegahnya di dalam keseharian. Ketahuilah bahwa siapapun memiliki kerisauan di dunia ini, maka sebelum kerisauan muncul harus dicegah, sebelum menemukannya harus berhati-hati, jangan tunggu sampai kejadian muncul baru merasa risau, menderita, dan mengeluh, “Mengapa saya bisa mengalami hal ini?” Sebenarnya telah memberitahukanmu banyak informasi, hanya saja kamu tidak mengetahuinya. Seperti seseorang yang mencium sesuatu mulai berbau, lalu lihat apakah ada orang di sekitar yang mengonsumsinya? Begitu melihat orang lain mengonsumsi segera sakit perut, maka kamu tidak akan mengonsumsinya lagi, ini namanya firasat pencegahan. Saat menghadapi keadaan yang muncul dengan sendirinya, maka akan bertemu dengan jodoh. Karena dirimu sudah melakukan pencegahan terlebih dahulu, maka sewaktu menghadapi suatu kondisi, akan bertemu dengan jodoh, mengerti? Contoh, kondisi tubuh saya tidak sehat, saya sudah mempersiapkan obat terlebih dahulu, jadi begitu sakit, saya akan segera minum obat, dan akan segera sembuh, tidak perlu pergi ke rumah sakit lagi. Oleh karena itu, ketahuilah sesuatu yang tiba-tiba terjadi, walaupun itu kejadian mendadak, namun kamu segera tahu ini adalah arwah asing atau halangan karma buruk yang teraktivasi, maka kamu bisa langsung menyadari dan mengatasinya. Apa yang dimaksud menyadari dan mengatasinya? Dengan kata lain kamu bisa segera merasakan dan menjaganya, dengan menjaganya berarti menyelesaikannya, membantunya, maka kamu akan mampu menghilangkan halangan karma buruk dan arwah asing dengan cepat.
Harus menghilangkan lima nafsu, yakni lima macam nafsu keinginan, menghapuskan kenikmatanmu terhadap enam kekotoran duniawi. “Lima macam nafsu keinginan” dan “enam kekotoran duniawi” sudah pernah Master bahas sebelumnya, jadi tidak dibahas lagi hari ini. Manusia hidup di dunia, yang dinikmati adalah suatu keadaan duniawi yang seharusnya dinikmati orang-orang, dan masih mengira bahwa sangat bahagia. Hari ini ada makanan, besok mendapatkan sedikit uang, ini semua adalah kenikmatan duniawi, maka harus bisa mengendalikan diri sendiri. Banyak paman tua yang begitu melihat gadis-gadis muda segera merasa kegirangan, ini juga dinamakan kekotoran duniawi. Maka harus bisa mengendalikan diri dari enam keadaan kekotoran duniawi. Banyak orang yang begitu melihat makanan segera berkeinginan untuk makan, itu juga harus dikendalikan. Segala hal yang ada di dunia ini termasuk benda-benda dalam enam kekotoran duniawi, semua harus dikendalikan, mengerti? Enam kekotoran duniawi dengan enam keadaan, enam keadaan spiritual adalah suatu keadaan spiritual yang tercipta berdasarkan nafsu keinginan duniawi kamu. Sama-sama berada di dunia, jika kamu memiliki kesadaran spiritual yang sangat tinggi, maka kamu bisa mencapai tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva. Kesadaran spiritual yang berbeda memiliki alam tingkatan yang berbeda, bisa di Alam kesadaran Asura, juga bisa di Alam kesadaran manusia biasa. Walaupun sama-sama hidup di Alam Manusia, namun seseorang bisa memasuki kesadaran spiritual tingkat orang suci, juga bisa memasuki kesadaran spiritual perampok yang miskin, berbahaya, dan haus kejahatan. Benar tidak?
“Tindakan berasal dari nafsu keinginan, kecanduan nafsu keinginan akan kehilangan kesadaran. Mengikuti energi, apabila energi menyimpang, maka akan menjadi abnormal”.“Tindakan berasal dari nafsu keinginan”, yakni tindakan seseorang tergantung pada nafsu keinginan, nafsu keinginan seseorang bisa mendorongnya untuk melakukan suatu tindakan. Orang zaman sekarang yang tidak memiliki nafsu keinginan tidak akan mengambil tindakan. Karena saya ingin pergi membeli barang, maka badan saya baru bertindak. Karena saya mau berpacaran, tubuh saya baru bertindak. Karena saya ingin mencari uang, maka saya baru bertindak, dan lain sebagainya. Semua ini adalah nafsu keinginan, tanpa nafsu keinginan, apakah dia akan bertindak? Sekarang kalian mempelajari Ajaran Buddha Dharma dengan Master, semua ini karena tindakan berasal dari nafsu keinginan, kalian datang karena nafsu keinginan ini, lalu nafsu keinginan seperti apakah ini? Setelah menekuni dan mempraktikkan Dharma, tubuh menjadi sehat, pekerjaan menjadi lancar, dan lain-lain. “Kecanduan nafsu keinginan akan kehilangan kesadaran”, nafsu keinginan bisa menyesatkan dirimu, membuatmu kelimpungan atau tidak sadar. Banyak kaisar yang dikelilingi oleh banyak wanita, sampai akhirnya dia menjadi tidak sadar, tidak memedulikan urusan pemerintahan. Seseorang yang memiliki banyak nafsu keinginan maka dia akan tersesat, setelah tersesat dia akan kehilangan kesadaran, tidak menyadari dan tidak tahu apa yang sedang dia lakukan. Oleh karena itu, kalian jangan memiliki terlalu banyak nafsu keinginan, harus mengurangi nafsu keinginan. “Terlalu mengikuti energi”, dengan kata lain kamu peduli pada suatu hal atau tidak peduli pada suatu hal semua tergantung dari energimu. Jika hari ini energimu lancar, dan merasa senang, maka kamu tidak akan terlalu memikirkan masalah ini. Seperti kalian melihat Master senang, lalu kalian ikut merasa senang. Segala hal ditentukan oleh medan aura kamu. “apabila energi menyimpang, maka akan menjadi abnormal”, jika energi seseorang menyimpang, berarti tidak bisa berpikiran terbuka, maka dia akan menunjukkan raut wajah yang sedih dan murung. Maka energi tidak boleh menyimpang, marah berarti menyimpang. Energi harus benar, energi sudah benar akan berpikiran terbuka.
Master sering mengatakan: seseorang yang sering memaafkan diri sendiri tidak akan dimaafkan oleh Surga. Hanya dengan mendisiplinkan diri sendiri dengan ketat, “Mengapa saya melakukan kesalahan lagi, saya telah bersalah kepada Guan Shi Yin Pu Sa”, dengan begitu Surga baru bisa memaafkanmu. Sama seperti kamu sedang duduk di kendaraan umum, tidak sengaja menginjak kaki orang lain. “Maaf, maaf, saya tidak sengaja.” Maka orang lain akan memaafkanmu. Namun jika setelah kamu menginjak kaki orang lain malah berkata: “Bukannya saya tidak berhati-hati, namun ada begitu banyak orang yang berdempetan di dalam kendaraan, siapa suruh kamu menempatkan kakimu di sini?” Coba pikirkan, apa yang akan terjadi selanjutnya? Mungkin orang itu akan segera meninjumu. Seseorang yang selalu memaafkan diri sendiri, tidak akan dimaafkan Bodhisattva. Apabila seseorang tidak tulus memaafkan orang lain, maka hatinya selamanya juga tidak akan mendapatkan ketenangan. Kita harus sungguh-sungguh memaafkan orang lain, jika tidak, hati kita tidak akan bisa tenang. Seseorang yang tidak mau memaafkan orang lain, hatinya sendiri akan merasa sangat sedih, hatinya tidak akan damai.
Sebenarnya “biasa” adalah wujud sesungguhnya kehidupan ini. Apabila seseorang mengatakan, “Saya sangat biasa, saya tidak apa-apa”, sesungguhnya orang ini adalah orang yang benar-benar memiliki jiwa yang hidup. Pahamilah satu kebenaran bahwa: manusia harus menjadi biasa. Seperti di instansi tempat kerja, bekerjalah diam-diam, jangan sengaja mencari perhatian demi mendapat pujian. Kerjakan segala sesuatu dengan biasa. Hidup ini tidak abadi, lahir dan lenyap dalam sekejap. Mengerti? Dalam sekejap, nyawa ini bisa hilang, juga dalam sekejap bisa terlahir nyawa kecil yang baru, jangan tertipu oleh ilusi dan bayangan palsu yang kamu lihat. Banyak orang yang sakit 3 bulan lalu meninggal. Keluar masuk rumah sakit, tanpa terasa setelah 3 bulan, sudah meninggal, seorang dewasa yang hidup-hidup pun lenyap dengan begitu saja. Apakah ini bukan suatu ilusi? Seseorang yang mampu mengendalikan diri sendiri akan mendapatkan kebebasan, dengan kata lain, dia bisa menjadi tuan atas dirinya sendiri. Apabila kamu bisa mengalahkan diri sendiri, mengendalikan diri sendiri, maka kamu adalah penentu dari dirimu sendiri. Ketika mulutmu rakus, “Saya ingin makan, saya tidak bisa menahan”, berarti kamu tidak bisa mengalahkan diri sendiri, dan kamu tidak akan bisa menjadi penentu diri sendiri. Kita harus berusaha keras untuk mengendalikan diri sendiri. Seseorang yang tidak bisa mengendalikan diri sendiri adalah budak atas dirinya sendiri, yakni budak dari raga ini; jika seseorang bisa mengendalikan diri sendiri, maka dia adalah majikan dari diri sendiri.
Dalam Sutra Vajra mengatakan: “Pikiran saat ini tidak bisa dimiliki, pikiran masa depan tidak bisa dimiliki, pikiran masa lalu tidak bisa dimiliki.” Ketiga pikiran ini tidak bisa dimiliki, maka kita harus bisa melepaskan semua masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Ketika pikiranmu sudah mampu melepaskan, maka kebencian dan kemarahan akan meninggalkanmu, karena pikiranmu masih tidak bisa melepas, maka kebencian akan selamanya terpendam di dalam hatimu; jika pikiranmu sudah melepas, “Saya sudah tidak benci lagi”, maka kebencian akan hilang. Satu kemarahan bisa berubah menjadi satu malapetaka. Mampu membuang kerisauan adalah orang yang sungguh-sungguh membina pikiran. Untuk apa menyimpan begitu banyak kerisauan di dalam otak? Memangnya belum cukup banyak hal yang disimpan di otak? Seumur hidup ini terus menyimpan sampai sekarang, coba keluarkan semua yang kamu simpan di dalam otakmu, semua adalah hal dan pembicaraan yang tidak penting, semua adalah hal-hal kotor. Hanya mengingat hal-hal buruk, namun tidak bisa mengingat hal-hal yang baik. Jika kalian menyimpan segala hal-hal buruk, kebencian, dendam kepada orang lain di dalam otak kalian, apakah kalian adalah orang yang baik? Mengertikah? Kita harus benar-benar bisa berpikiran terbuka, mampu melepas, jika mampu melepas maka dia adalah seorang praktisi Buddhis. Sampai di sini dulu pembahasan hari ini.
