24. Kerisauan Meninggalkan Tubuh, Enam Akar Indrawi Menjadi Bersih 烦恼离身,六根清静

24. Kerisauan Meninggalkan Tubuh, Enam Akar Indrawi Menjadi Bersih

Hari ini, Master membahas tentang “Kerisauan adalah Bodhi – kebijaksanaan”kepada semua orang. Darimanakah kerisauan seseorang berasal? Pertama, yang dilihat oleh matamu; Kedua, yang didengar oleh telingamu; Ketiga, yang dicium oleh hidungmu; Keempat, yang dikecap oleh lidahmu; Kelima, yang tersentuh oleh tubuhmu; Keenam, yang terpikirkan oleh kesadaranmu. Sesungguhnya, dalam Ajaran Buddha Dharma, semua ini disebut sebagai “Enam akar indrawi”. Oleh karena itu banyak orang mengatakan, keenam akar indrawi orang ini tidak bersih. Master beritahu kalian, ketika mata melihat hal yang tidak suka dilihat, kerisauan sudah muncul bukan? Ketika telinga mendengar orang lain mengatakan kejelekanmu, bukankah sudah muncul kerisauan? Ketika hidungmu mencium bau aneh dari masakan orang lain, bukankah sudah menimbulkan kerisauan? Ketika lidahmu mengecap rasa yang pahit, menyantap makan yang tidak kamu sukai, apakah ada kerisauan? Ketika tubuhmu bersentuhan dengan sesuatu yang tidak seharusnya disentuh, bukankah ada kerisauan lagi? Banyak orang yang berjalan melewatimu, atau ada bau tertentu, apakah kamu akan merasa risau? Ketika pikiranmu memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan, akan kembali muncul kerisauan. Ketika teringat orang yang tidak ingin dilihat, namun harus melihatnya… Inilah yang disebut dengan enam akar indrawi yang tidak bersih. Akan tetapi, jika kamu bisa menggunakan keenam akar indrawi ini dengan tepat, maka sesungguhnya, keenam akar indrawi ini semuanya memiliki kemampuan supernatural. Kalian semua tahu, bahwa dari antara Bodhisattva yang disembahyangi di banyak kuil, memiliki banyak sekali kemampuan supernatural. Ada yang memiliki kemampuan telinga Dewa, dinamakan “Shun Feng Er” yang dapat mendengar sampai ribuan kilometer; Ada Qian Li Yan yang dapat melihat sampai ribuan kilometer. Jika dari alam lain dikatakan, hidung anjing sangat sensitif, bisa mencium bau yang tidak terdeteksi oleh manusia, ini juga merupakan kemampuan supernatural. Contoh, ada sebagian orang yang bisa membedakan rasa daun teh ini dan daun teh lain dengan meminumnya. Orang yang suka minum kopi bisa mengetahui perbedaan kopi toko ini dengan kopi toko itu. Ini semua adalah penggunaan yang tepat, juga adalah kemampuan supernatural. Bagaimana telingamu bisa memiliki kemampuan supernatural? Seperti ada orang yang sering berbicara di telingamu, “Jangan marah, jangan sedih”. Sebenarnya dari manakah kemampuan supernatural ini berasal? Ini adalah firasat dan pemikiranmu sendiri yang mengatur keenam akar indrawi kamu. Saya merasa risau, namun begitu mentransformasikannya, maka akan menjadi bodhi – kebijaksanaan. Bodhi adalah kebijaksanaan, oleh sebab itu, mentransformasikan kerisauan menjadi kebijaksanaan. Intinya dikatakan, karena dirimu memiliki kerisauan ini, maka kamu baru memiliki kualifikasi ini untuk mengubahnya; Jika kamu bahkan tidak memiliki kerisauan ini, maka kamu tidak akan tahu bagaimana mengubahnya menjadi kebijaksanaanmu.

Tubuh manusia pada dasarnya kosong, tubuh ini kosong. Jiwa atau kesadaran kamu tidak kosong. Tubuh manusia itu kosong, karena tubuh ini akan musnah setelah meninggal, daging ini akan berubah menjadi air, hanya tersisa sedikit tulang belulang. Ada orang yang berkata kepada Master, pahlawan apa? Sejak zaman dahulu, orang yang paling kaya sekalipun, orang yang paling hebat sekalipun, pada akhirnya yang tersisa hanya seonggok tulang.” Yang dikatakannya tidak salah. Namun sedikit kasar. Apakah kamu ingin menjamin tubuh ini? Tubuhmu ini kosong, hanya kesadaran, perasaan, pemikiran kamu yang masih ada. Oleh karena itu, kamu harus bisa menjaga kejernihan pikiranmu.

Contoh: ada sebuah mutiara, mutiara putih yang bening, diletakkan di atas meja, asalkan dia disinari cahaya, maka ia akan memantulkan sinar cahaya warna-warni, ini adalah energi yang memang dimiliki mutiara ini. Akan tetapi, jika melihat mutiara ini di tempat yang tidak ada cahaya, dia masih tetap adalah sebuah mutiara yang tembus pandang. Hanya ketika mutiara ini menyatu dengan dunia di sekitarnya, baru akan tercipta perubahan dari sesuatu yang lain. Karena dia memiliki wujud awal, dia memiliki cahaya warna-warni, kamu akan melihat kalau dia berwarna. Namun sesungguhnya, mutiara ini tidak berwarna, tetapi karena disinari cahaya matahari, baru memancar cahaya warna warni. Jiwa manusia atau “warna” manusia bisa menghasilkan pantulan energi yang berbeda. Oleh karena itu, semua ini tercipta dari jodoh nidana atau sebab-musabab. Justru karena setelah sebab ini menyatu dengan jodoh, baru bisa tercipta sebuah “warna”; tunggu sampai jodoh ini lenyap, maka tidak akan ada lagi “warna” pada dirimu. Contoh lainnya: ada sebuah pensil di tanganmu, maka kamu baru bisa menggambar. Sebab dan jodoh kamu harus menyatu baru bisa menghasilkan suatu objek yang lain. Hari ini, wanita ini akan menikah, dia harus memiliki seorang pasangan pria, baru bisa menikah, baru bisa membentuk jodoh ini. Jika hari ini kamu membina diri sendiri di rumah, tanpa guru yang baik, bagaimana mungkin kamu bisa membina diri dengan baik? Seperti mutiara yang berwarna putih ini, dia akan masih tetap putih dan tidak bisa menghasilkan cahaya warna-warni.

Selanjutnya, Master memberi tahu kalian tiga kalimat yang sangat penting. Banyak orang bertanya, apa tujuan kamu menekuni dan mempraktikkan Dharma? Master beri tahu kalian: Tujuan kita menekuni dan mempraktikkan Dharma adalah ingin menjadi Buddha. Kalau begitu, apa tujuan menjadi Buddha? Tujuan menjadi Buddha adalah demi menyelamatkan semua makhluk. Lalu apa tujuan menyelamatkan semua makhluk? Tujuannya adalah demi menjadi Buddha. Maka perkataan ini kembali lagi ke awal. Oleh karena itu, menjadi Buddha adalah demi menyelamatkan semua makhluk, sedangkan menyelamatkan semua makhluk adalah demi menjadi Buddha. Master datang ke dunia ini adalah demi menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk, maka setelah menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk, Master – Buddha ini akan pulang kembali ke atas. Selain itu, setelah kembali pulang ke atas, keadaan Master akan jauh lebih baik dibanding dengan sebelumnya, karena sudah memiliki jasa kebajikan yang tiada tara. Contoh: apabila kamu ingin menjadi seorang pemimpin, maka kamu harus berusaha keras, harus melatih diri di tempat yang paling susah. Sama seperti bila ingin menjadi seorang sekretaris cabang (suatu jabatan dalam pemerintahan negara Tiongkok), maka kamu harus belajar di sekolah partai pemerintah, kamu harus ditugaskan dulu ke tempat yang susah, maka setelah kamu pulang kembali akan naik jabatan. Sekarang Master sudah turun dari atas, untuk menolong orang-orang, maka setelah tugas saya selesai, saya akan pulang kembali ke atas, tingkat kesadaran spiritual saya akan menjadi lebih tinggi. Sebelum saya pulang kembali, kesadaran spiritual saya sudah jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Sekarang kecepatan Master dalam menerawang totem sudah jauh lebih cepat dari pada sebelumnya. Sesungguhnya segala perubahan tingkat kesadaran spiritual merupakan sebuah ujian bagi seseorang. Jika kamu berhasil melewati ujian ini, maka kamu akan naik satu tingkat. Ini adalah teori materialisme dialektis. Bukan hanya hidup dalam kebodohan di dunia ini, hari ini kamu menguji saya, jika saya lulus, maka saya akan naik satu tingkat. Jasa kebajikan harus dicari sendiri, oleh karena itu, harus baik-baik membina diri.

Berikutnya, Master akan membahas tentang membangkitkan kesadaran spiritual orang-orang. Hari ini kalian menekuni Dharma, kalian ingin menjadi Bodhisattva, lalu bagaimana kalian menyadarkan orang-orang? Apa tujuan menolong kesadaran spiritual orang-orang? Menyadarkan kesadaran spiritual orang-orang terbagi menjadi dua jenis: pertama adalah memiliki tujuan tertentu dalam menyelamatkan kesadaran spiritual para makhluk; yang lainnya adalah tanpa tujuan tertentu. Membangkitkan kesadaran spiritual orang–orang dengan tujuan tertentu, berarti kamu menolong semua makhluk dengan maksud tertentu. Menolong kesadaran spiritual orang-orang berarti tanpa tujuan tertentu yaitu kamu menolong semua makhluk tanpa maksud tertentu. Keduanya adalah cara yang baik. Master menyarankan, baik dengan tujuan tertentu maupun tanpa tujuan tertentu, keduanya dijalani secara bersamaan. Melakukan perbuatan baik dengan maksud tertentu dan tanpa maksud tertentu, menurut kalian, mana yang lebih bagus? Sesungguhnya sama-sama bagus. Hanya saja, dari suatu pengertian tertentu, menolong orang lain dan melakukan kebaikan secara alami, tentu saja lebih bagus. Sedangkan melakukan perbuatan baik dengan tujuan tertentu, tentu saja lebih kurang bagus. Contoh, hari ini saya tertarik pada wanita ini, maka saya berusaha keras memperkenalkan Dharma padanya, ketika berbincang tentang Ajaran Buddha Dharma padanya merasa sangat nyaman, meskipun saya tidak ingin melakukan hal buruk dengannya, namun saya hanya ingin berbicara dengan dia, memperkenalkan Dharma kepadanya. Ini adalah menolong kesadaran spiritual seseorang dengan tujuan tertentu. Menolong kesadaran spiritual seseorang tanpa maksud tertentu, dengan kata lain, tidak peduli apakah kamu adalah seorang nenek tua atau kakek tua, juga tidak peduli sejelek apapun paras wajahmu, saya hanya ingin menyelamatkanmu dengan hati seorang Bodhisattva. Ini berarti menolong kesadaran spiritual semua makhluk tanpa tujuan. Hari ini, melihat gadis ini lalu berbicara lebih banyak, jika melihat seorang ibu tua, maka berbicara lebih sedikit, ini adalah tindakan “bertujuan” dan “tanpa tujuan”. Kita menekuni dan mempraktikkan Dharma adalah jangan biarkan pikiran kita berdosa, jangan biarkan mulut kita berdosa, jangan biarkan mata kita berdosa.

Menolong kesadaran spiritual orang-orang yang sudah tiba jodohnya, tidak membabarkan Dharma kepada orang-orang yang jodohnya belum tiba. Akan tetapi, terhadap orang- orang yang jodohnya belum tiba, juga harus menunggu sampai jodohnya tiba baru menolong mereka. Oleh sebab itu, dikatakan sementara tidak memperkenalkan Dharma kepada yang belum berjodoh. Buddha Sakyamuni membabarkan Ajaran Buddha Dharma selama 49 tahun, Beliau menanggung begitu banyak penderitaan, berada di bawah pohon Bodhi bersama para muridnya membabarkan Dharma, pada akhirnya seluruh murid semuanya naik ke Surga dan menjadi Bodhisattva. Betapa mulianya kesungguhan hati Buddha Sakyamuni. Untuk apa Buddha Sakyamuni menanggung penderitaan begitu banyak? Demi menyelamatkan semua makhluk. Demi tujuan ini, dia sudah menjadi Buddha. Setelah menjadi Buddha, tetap harus turun ke dunia untuk menyelamatkan semua makhluk. Setelah menyelamatkan semua makhluk lalu memiliki energi dan jasa kebajikan, maka Beliau akan menjadi Buddha lagi. Ini seperti setelah kamu melakukan perbuatan baik dan kemudian terpilih menjadi teladan pekerja, setelah menjadi teladan, lalu akan melakukan lebih banyak perbuatan-perbuatan baik lainnya, kemudian di tahun berikutnya, kamu menjadi karyawan teladan lagi. Bukankah logikanya sama saja?