14. Membahas tentang Inisiasi Sila dan Tersadarkan 谈受戒与开悟

14. Membahas tentang Inisiasi Sila dan Tersadarkan

Hari ini kita akan membahas tentang menjalankan sila.

Sang Buddha bersabda: “Seseorang yang bisa menjalankan sila, menaati hukum, baru bisa mendapatkan ketenangan secara jasmani dan rohani.”

Jika seseorang bisa berpegang pada sila, maka dia akan mengetahui apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak, mendisiplinkan dirinya sendiri. Menaati hukum, hukum yang dimaksud di sini, bila di Alam Manusia merujuk kepada hukum yang berlaku, kalau di Alam Akhirat merujuk pada Hukum Akhirat, jika di Alam Langit berarti Hukum Langit.

Hanya dengan menjalankan sila dan menaati hukum, kita baru bisa mencapai ketenangan baik secara jasmani (tubuh) maupun rohani (pikiran).

Lalu bagaimana agar tubuh dan pikiran kita bisa mendapatkan ketenangan?

Karena Anda menjalankan sila dan taat kepada hukum, maka Anda akan mengetahui bahwa kedua hal ini bisa menyembuhkan kerisauan, kegelisahan, dan ketakutan di dalam diri Anda.

Contohnya: hari ini Anda tidak melakukan kejahatan, maka Anda tidak akan merasa takut, walau polisi mendatangi Anda sekalipun, Anda tidak akan merasa takut. Jika Anda bisa menjalankan sila, maka Anda tidak akan dilanda kerisauan, kegelisahan, dan ketakutan.

Contohnya: dokter menasihati seorang pasien yang sangat gemuk: “Kalau kamu bertambah gemuk, maka kamu akan menderita penyakit jantung.” Jika pasien itu mendengarkan nasihat dokter, dan tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung kolesterol tinggi, tidak makan makanan yang berminyak, maka dia tidak akan merasa gelisah. Tanpa kegelisahan, maka tubuh dan pikiran seseorang akan mendapatkan ketenangan.

Tahukah kalian apa kita bina dalam pembinaan pikiran?

Dari satu definisi tertentu, membina pikiran berarti menjalankan sila, tidak melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Tidak mengatakan hal yang tidak seharusnya diucapkan. Tidak memikirkan hal yang tidak seharusnya dipikirkan. Senantiasa mengendalikan diri sendiri dalam segala hal, dan menghilangkan semua tabiat buruk di dalam diri sendiri. Jika seseorang tidak bisa menjalankan sila, maka orang ini tidak akan membina pikirannya dengan sepenuh hati, dia hanya akan hidup sesuai dengan takdirnya.

Hari ini, ada banyak orang yang menjalankan sila, membina pikiran dan melafalkan paritta, maka tubuh mereka semua sangat sehat.

Salah satu dari kelima sila yang disebutkan oleh Buddha dan Bodhisattva, yakni “tidak mencuri”, jika Anda tidak taat pada sila dan mencuri, kalian bilang, apakah dia akan ditangkap polisi? “Tidak membunuh”, jika Anda membunuh orang, maka Anda melanggar hukum Alam Yang, yaitu hukum yang berlaku di Alam Manusia. Jika Anda membunuh binatang, maka Anda melanggar hukum Alam Yin, yaitu Hukum Akhirat, meskipun di Alam Manusia, hukum yang berlaku tidak bisa menghukum Anda, namun di dalam Hukum Akhirat, semua ini pasti ada hukumannya, oleh karena itu, kelima sila ini seharusnya dipatuhi oleh semua orang, tidak hanya dijalankan oleh para biksu dan biksuni saja.

Saya akan menjelaskan dua hal mengenai dunia ini:

Yang pertama, segala hal di dunia ini bila sudah terjadi di dunia ini maka akan tetap terjadi, jadi jangan kalian kira, mengapa kejadian ini menimpa diri saya? Mengapa saya bisa mengalami musibah ini? Tidak ada mengapa. Yang sudah divonis menderita kanker maka dia tetap menderita kanker; yang mati tetap mati. Banyak sekali orang yang sama sekali tidak siap menghadapi kejadian yang muncul secara tiba-tiba.

Yang kedua, semua uang yang sudah dikeluarkan tidak lagi menjadi milik Anda.
Contohnya: Anda ditipu orang lain, uang Anda diambil orang itu, maka uang itu bukan lagi milik Anda. Ada sebagian orang yang tamak ingin meraup keuntungan, ingin cepat kaya, ingin menciptakan “keajaiban” di dunia ini, maka ingatlah, di dunia ini tidak ada keajaiban seperti itu. Keajaiban yang sesungguhnya, terjadi karena perbuatan Anda di kehidupan sebelumnya. Keselamatan adalah suatu keberuntungan, Anda bisa melewati seumur hidup ini dengan tenang dan selamat, maka Anda adalah orang yang beruntung. Sebelumnya, Master membahas tentang menjalankan sila, ketenangan pikiran, kebijaksanaan– jie ding hui *戒定慧, ketenangan pikiran akan tercapai apabila kita menjalankan sila, karena setelah Anda menjalankan sila, maka tubuh dan pikiran Anda akan menjadi semakin tenang, tidak mengejar apa-apa lagi, tidak ada lagi nafsu keinginan, pikiran Anda menjadi bersih.
Dengan adanya ketenangan pikiran, maka Anda akan memperoleh kebijaksanaan, karena bila Anda bisa mencapai ketenangan, kebijaksanaan Anda akan terbuka, menghadapi permasalahan apa pun Anda akan tetap tenang, tidak ribut dan tidak marah-marah.

Hari ini akan dibahas tiga cara mudah untuk membuka pikiran Anda. Yaitu Mendengar, membaca, memahami.

Mendengarkan Ajaran Buddha Dharma.
Mendengarkan paritta, mendengarkan logika yang benar. Mendengar menggunakan telinga, kita harus banyak mendengar. Apabila seseorang sering mendengarkan Ajaran Buddha Dharma, sering mendengarkan perkataan yang bagus, sering mendengarkan perkataan yang baik, sering mendengarkan perkataan yang bisa menyadarkan pikirannya, maka orang ini perlahan-lahan akan menjadi semakin cerdas, semakin terbuka pikirannya.

Seusai mendengar, maka secara perlahan Anda mulai melafalkan paritta, membaca buku-buku Master, meskipun buku * (angka), maka menjadi li shu *理数yang berarti “penjelasan”, karena logika yang benar pasti memiliki bobot. Logika yang tidak benar juga memiliki bobot.

Contohnya: termometer, bila suhu di atas nol derajat, maka penunjuk suhu akan naik ke atas, berarti angka plus, diibaratkan sebagai logika yang benar. Suhu di bawah nol derajat, maka penunjuk suhu akan turun ke bawah, angka minus, diibaratkan sebagai logika yang menyimpang.

Bila kita menukar posisi kedua kata ini, dari “li – shu” menjadi “shu– li”, maka artinya akan berubah menjadi mathematical, yang di dunia ini dikenal juga sebagai ilmu matematika, fisika, dan kimia, dengan menggunakan penghitungan angka untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di dunia manusia. Sedangkan kata “li” yang berarti “penjelasan”, digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di dalam tingkat kesadaran atau pemikiran seseorang, orang yang memiliki IQ yang tinggi, maka sebenarnya daya pikir dan pemahamannya sangat tinggi.

Seseorang harus memahami logika, logika di sini adalah logika yang benar atau yang positif. Master menghargai kalian, menghargai konsep pemikiran kalian, menghormati keinginan kalian, memberikan kepada kalian semua hal yang terbaik, terindah, dan yang paling berharga, mengajarkan hal-hal yang tidak bisa kalian pelajari di dunia ini kepada kalian.

Mendengarkan Ajaran Buddha Dharma dan melafalkan paritta harus dibaca berulang kali sampai bisa mengenalnya dengan baik, setelah itu menerapkannya ke kehidupan nyata, barulah Anda bisa menyelaminya, dan tingkat kesadaran Anda bisa meningkat dan mencapai tahapan ini, bukan tingkat kesadaran biasa, melainkan masuk ke tingkat “tersadarkan”.

Di dalam hidup ini manusia memiliki dua akar, yang pertama adalah akar tubuh – shen gen *身根, yaitu badan atau raga kita.

Tubuh adalah akar dari penderitaan Anda, mengapa demikian? Karena tubuh ini, seperti: bila Anda sakit, tidak memiliki pekerjaan, mengalami kecelakaan, dan lain-lain, semuanya karena tubuh Anda sedang menderita, dan tubuh ini adalah akar dari penderitaan Anda. Atau

contoh lainnya: saat Anda haus, Anda ingin minum, bagaimana jika tidak ada air? Ingin membeli air, bagaimana bila tidak punya uang? Maka Anda hanya bisa menggunakan tubuh ini bersusah payah untuk mencari uang. Akar yang satu lagi dinamakan akar materi – wu gen *物根, dengan kata lain adalah keinginan akan benda-benda duniawi. Menginginkan semuanya, dan jika tidak mendapatkannya lalu merasa menderita, ini juga merupakan suatu akar penyakit.

Asalkan seseorang masih memiliki raga luar, maka dia pasti akan mengalami kelahiran, penuaan, kesakitan, dan kematian – sheng, lao, bing, si *生老病死. Dan asalkan masih ada benda di dunia ini, yakni segala benda yang ada di Alam Manusia, pasti akan mengalami terbentuk, tinggal, rusak, dan lenyap – cheng, zhu, huai, kong *成住坏空.

Contohnya: sebuah meja, pertama-tama menggunakan kayu untuk membentuknya, jadilah sebuah meja, seiring dengan berjalannya waktu, lama-kelamaan meja itu mulai membusuk, lalu rusak dan tidak bisa dipakai lagi, pada akhirnya meja itu dibuang, maka meja ini menjadi lenyap. Oleh karena itu, semua benda yang kalian lihat di dunia ini, sebenarnya adalah proses peralihan dari terbentuk, tinggal, rusak, dan lenyap.

Manusia – lahir, tua, sakit, mati; benda – terbentuk, tinggal, rusak, lenyap.

Aliran Buddha Mahayana adalah wujud dari kebijaksanaan dan kebesaran hati Pu Sa (Bodhisattva). Di dalam aliran Mahayana, ditekankan untuk menyelamatkan semua makhluk, Pu Sa tidak hanya memahami untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari penderitaan, juga ingin menolong semua makhluk, seperti pada waktu sebuah musibah melanda, saat satu orang datang menolong orang yang lain, dia akan berpikir siapa yang ditolong duluan dan siapa yang ditolong belakangan, tetapi Pu Sa tidak akan memikirkan hal ini, tentu saja dia akan menyelamatkan siapapun orang itu.

Namun seperti menekuni Ajaran Buddha Dharma di Alam Manusia ini, sangat sedikit orang-orang yang memiliki semangat Mahayana – bertekad untuk menyelamatkan semua makhluk, karena setiap orang masih memiliki pemikiran yang membedakan orang lain.

Pu Sa mengatakan: “Menyelamatkan semua makhluk yang tak terhingga dan tak terbatas banyaknya, seperti pasir di pinggir sungai Gangga yang tidak terhitung banyaknya.”

Selain itu, Pu Sa menyelamatkan manusia di dalam aliran Mahayana dikatakan sebagai, “penyelamatan yang setara” – ping deng pu du *平等普度, menyelamatkan semua makhluk tanpa membeda-bedakan, tidak peduli dalam keadaan apa pun, tidak membedakan laki-laki dan perempuan, tidak membedakan yang tua dan yang muda, tidak membedakan yang kaya dan yang miskin, juga tidak membedakan yang berstatus tinggi dan rendah.

Contohnya: hari ini semua orang yang mendengarkan ceramah Master, setiap orang memiliki tingkat pembinaan yang berbeda di dalam Ajaran Buddha Dharma, tingkat pemahaman yang tidak sama, semuanya tidak merata, dan ketidaksamarataan ini disebabkan oleh diri kalian sendiri, bukan disebabkan oleh Master. Master memberikan kekuatan yang sama besarnya kepada kalian, namun seberapa besar yang bisa kalian terima, semuanya kembali lagi kepada kemampuan penalaran dan pembinaan masing-masing.

Di dalam aliran Theravada, pada waktu menyelamatkan orang lain, masih membedakan lawan bicara, melihat dulu siapa orang itu, “Bila tidak suka, maka saya tidak akan memperkenalkannya kepada Ajaran Dharma”, masih ada kemelekatan yang kuat, “Saya akan mengenalkan Ajaran Buddha Dharma hanya kepada orang-orang yang saya sukai, tidak kepada orang yang tidak saya sukai”.

Kita harus membina diri dalam semangat Mahayana untuk menyelamatkan semua mahluk. Satu hal lagi di dalam aliran Theravada, yaitu bila orang itu tidak meminta atau membutuhkannya, maka tidak akan diperkenalkan kepada Ajaran Buddha Dharma.

Apakah ada keadaan seperti ini di antara kalian? Bila orang tidak memintamu, maka Anda tidak akan menolongnya. Bila orang lain tidak memohon kepada Anda, maka apakah Anda memiliki inisiatif untuk menolong mereka? Di dalam Ajaran Buddha Dharma dikatakan: “Tidak memperkenalkan Ajaran Buddha Dharma kepada mereka yang tidak berjodoh”, ini bukan berarti tidak akan “diperkenalkan” selamanya, melainkan menunggu sampai jodoh itu matang, baru menolong mereka, jadi jangan salah paham. Kebijaksanaan Pu Sa (Bodhisattva) teramat sangat sempurna, adalah pencerahan yang paling tinggi.

Membina diri di dalam Ajaran Buddha Dharma harus meningkatkan diri dalam segala aspek, bukan hanya menyelamatkan atau memperkenalkan Dharma kepada orang yang disenangi saja, bila orang itu tidak berjodoh, maka Anda seharusnya menciptakan jodoh itu untuk menolong mereka, semoga kalian semua bisa melakukannya.

Pada saat mendengarkan pembahasan paritta, mendengarkan ceramah tentang Dharma, jangan hanya mendengarkan kalimatnya saja, yang Master bahas setiap kali memberikan wejangan kepada kalian, adalah logika kehidupan, jadi jangan hanya mendengarkan kalimatnya saja, juga jangan hanya mendengarkan variasi kata-katanya saja, kalian seharusnya mendengarkan inti dari logika yang diajarkan.

Karena Master sekarang sedang mengajarkan kalian satu paket teori, kalian harus menganalisa logika yang terkandung di dalamnya, dan harus dipahami dengan tepat, ini bukan logika yang menyimpang, ini adalah logika yang benar, seperangkat teori kebenaran, mengenai hukum Ajaran Buddha Dharma yang berlaku di dunia ini.

Mari kita membahas tentang dunia spiritual, yang sebenarnya adalah perasaan, kesadaran, dan naluri Anda, semuanya termasuk di dalam lingkup dunia spiritual. Di dalam dunia spiritual atau Alam Roh, memiliki kesadaran dan naluri, makhluk-makhluk yang tinggal di dunia ini adalah arwah asing yang kita kenal di Alam Manusia.

Dunia Roh atau alam spiritual adalah suatu dimensi ruang yang sangat besar, dia juga merupakan suatu alam kelahiran, sama seperti Alam Setan atau Alam Ashura atau Alam Langit.

Apa itu naluri?

Seperti: saat di dalam pikiran Anda muncul pemikiran yang menginginkan orang lain bersikap baik terhadap Anda, maka Anda tidak perlu melafalkan paritta, jika di dalam benak Anda selalu terpikir: “Lebih baik sedikit pada saya, lebih baik sedikit pada saya…” Coba lihat saja, apakah orang ini akan bereaksi dan merasakannya? Ini dinamakan komunikasi dengan indra keenam melalui Alam Roh. Saat Anda bertemu atau mengenal seseorang, Anda akan langsung mengetahui apakah kalian berdua cocok atau saling menyukai? Inilah yang dinamakan dengan kesadaran, naluri.

Membahas tentang melepaskan makhluk hidup – fang sheng *放生, kebaikan yang paling besar dari hal ini adalah menolong Buddha masa depan. Karena segala hal yang Anda lakukan di hari ini (melepas makhluk hidup), atau sampai ikan yang Anda lepas itu bereinkarnasi, dia mungkin saja akan terlahir sebagai manusia, atau jika anak cucu Anda melihat apa yang Anda lakukan, maka akan tumbuh perasaan welas asih di dalam hatinya, mungkin saja anak ini akan menjadi Buddha di masa depan. Ingatlah, kekuatan dari memberikan contoh dan menjadi teladan memiliki pengaruh yang sangat besar.

Hari ini Anda melepaskan ikan ini, mungkin saja dia adalah sanak saudara Anda di kehidupan sebelumnya. Anda harus membina pikiran dengan semangat welas asih tanpa perasaan takut, maka Anda pasti bisa menemukan kembali sifat suci Anda.