32. Tujuan Utama Menekuni Ajaran Buddha Dharma – Pesan Bijaksana
Hari ini pertama-tama kita akan membahas, setelah melihat sifat alami seseorang maka cahaya ke-bijaksanaannya akan memancar keluar. “Melihat” di sini artinya menemukan, sifat alami adalah sifat dasar. Hanya pada saat kalian sudah menemukan sifat dasarmu sendiri, barulah cahaya kebijaksanaanmu bisa bersinar keluar. Apakah yang dimaksud dengan tidak melihat sifat dasar? Berarti berpikiran licik, hanya mementingkan keuntungan di depan mata, namun tidak memikirkan apa yang akan diterima di masa depan. Apakah yang dimaksud dengan melihat sifat dasar? Ini berarti harus memahami dengan jelas apa yang ada di dalam pikiranmu sendiri, dengan memiliki pikiran yang jelas, Anda baru bisa menemukan sifat dasarmu sendiri. Orang yang tidak memahami pikirannya sendiri, tidak akan bisa menemukan sifat dasarnya sendiri. Coba saja kalian lihat orang yang minum minuman keras apakah bisa menemukan sifat dasarnya sendiri? Berapa banyak orang yang tidak tersadarkan, berada dalam kebingungan dan ketersesatan.
Yang melakukan kebaikan pasti akan memperoleh kejayaan, kalau tidak menjadi baik, pasti karena karma buruknya belum terlunasi, setelah karma buruknya habis, maka hidupnya akan menjadi makmur.
Yang melakukan kejahatan pasti akan celaka, bila belum celaka, pasti karena pahalanya belum habis, setelah pahalanya habis, dia pasti akan tertimpa malapetaka.
Seseorang yang melakukan kebajikan dengan sungguh-sungguh, pasti akan memperoleh kejayaan. Apabila dia sudah melakukan kebaikan, namun belum memperoleh buah karma baik, berarti di kehidupan sebelumnya, dia pernah melakukan banyak kejahatan, dan karma buruk dirinya ini masih belum hilang. Sampai semua malapetaka dan kesulitannya berakhir, ketika perbuatan baiknya sudah meng-imbangi kejahatan yang dilakukannya, maka dia pasti akan memperoleh berkahnya, hidupnya pasti akan berjaya. Akan tetapi, syarat utamanya adalah Anda harus melakukan kebajikan, jikalau tidak melakukan kebajikan (atau kebaikan), maka saat malapetaka dan penderitaan berakhir, juga tidak akan memperoleh kemakmuran. Jikalau sudah melakukan banyak kebajikan tetap saja tidak mendapatkan balasan yang baik, ini pasti karena karma buruk yang masih tersisa. Dikarenakan di kehidupan sebelumnya orang ini pasti pernah melakukan banyak kejahatan, dan sampai saat ini belum terurai karma buruknya, oleh karena itu dia masih tetap hidup dalam kesusahan. Jika seseorang melakukan kejahatan maka pasti akan celaka. Apabila seseorang yang sudah melakukan banyak kejahatan namun tetap saja tidak celaka, tidak mendapatkan balasannya, tidak menerima karma buruknya, ini pasti karena buah karma baik dan pahala yang dikumpulkan pada kehidupan sebelumnya masih ada pada dirinya, oleh karena itu dia masih belum menerima balasan atas karma buruknya. Bila balasan karma buruknya sudah tiba, maka dia pasti akan celaka – “melakukan kejahatan pasti akan celaka”, bila tidak celaka berarti masih ada sisa buah karma baiknya, mengapa orang yang melakukan banyak kejahatan, membunuh dan mencelakakan orang lain, masih bisa hidup enak? Ini berarti dulu dia atau leluhurnya, atau di beberapa kehidupan sebelumnya, dia memiliki banyak jodoh baik dan buah karma baik, dan jodoh baik ini jumlahnya lebih banyak dari jodoh buruknya sekarang, maka dia tidak celaka, namun pada saat buah karma baiknya sudah habis, maka dia pasti akan celaka, karena sewaktu kedua hal ini (kebajikan dan kejahatan) ini sudah imbang jumlahnya, dia pasti akan tertimpa malapetaka. Ini seperti pepatah, menanam labu – menuai labu, menanam kacang – menuai kacang.
Jangan biarkan halangan kebencian lahir dalam diri kita, yakni perasaan benci yang menimbulkan gangguan atau menjadi halangan. Seseorang tidak boleh membenci, karena rasa benci akan menimbulkan amarah. Sedangkan halangan atau gangguan ini adalah kekhawatiran, kerisauan, kesedihan, kecemburuan, dan lain-lain. Contohnya: saat seseorang merasa kulitnya sedikit bermasalah, maka orang yang memiliki halangan di hatinya, pertama-tama akan langsung berpikir jangan-jangan ini kanker; namun sebagian orang akan berpikir mungkin ini karena digigit serangga tertentu, tidak apa-apa, pemikirannya tidak akan berkembang ke arah negatif.
Pikiran seseorang menentukan nasibnya, bisa juga dikatakan jiwa seseorang menentukan kehidupannya. Banyak orang yang memutar-balikkan pernyataan ini, misalnya ada sebagian orang yang beranggapan “tubuh seseorang menentukan jiwanya”. Seperti: minum minuman keras, sewaktu kecanduan alkoholnya kambuh, maka walaupun dia sadar bahwa nanti dia akan menyetir mobil, tidak boleh minum minuman beralkohol, namun karena nafsu badaniahnya, maka dia akan tetap minum, dan saat menyetir mobil, dia akan didenda polisi atau mengalami kecelakaan. Oleh karena itu, kita tidak boleh dikendalikan oleh tubuh kita, pikiran (jiwa) kita yang harus mengendalikan tubuh, bukan tubuh yang mengendalikan pikiran. Kebutuhan badaniah contohnya minum minuman keras, keinginan seksual, berpikiran macam-macam … … semua ini adalah contoh pikiran yang dikendalikan oleh tubuh. Manusia adalah binatang tingkat tinggi, karena memiliki jiwa dan pikiran, pikiran ini adalah jiwa tingkat tinggi. Oleh karena itu, kita harus menggunakan cara berpikir untuk mengendalikan jiwa kita sendiri, dengan demikian kita baru bisa menghindari kesalahan.
Seseorang harus sering merasa malu, dengan sering merasa malu (atas kekurangan sendiri) akan membuat dirimu menjadi lebih maju. Kita harus belajar membandingkan diri dengan yang lebih baik, dengan begitu baru bisa terlahir perasaan malu atau tidak enak hati. Ingat baik-baik, jangan pernah mempertentangkan diri sendiri dengan kelebihan orang lain. Contohnya: kalau orang lain baik, berarti saya tidak baik, karena ini adalah pemikiran egois yang mengganggu.
Seseorang harus sering merasa bersuka cita. Harus menggunakan kebijaksanaannya untuk memerangi kerisauan di dalam dirinya, melawan ketidaksenangan dalam diri sendiri, mengalahkan kesulitan diri sendiri, oleh karena itu kita harus lebih sering merasa bahagia. Seseorang harus sering merasa gembira (bersyukur) karena dirinya masih lebih beruntung dari pada orang lain yang berkesusahan, membentuk jodoh yang baik di dalam pikirannya, menciptakan suasana yang damai dan harmonis, menjadi medan aura positif.
Seseorang harus sering berwelas asih. Dengan memiliki perasaan welas asih, kita baru bisa menumbuhkan kebijaksanaan. Cinta kasih adalah memberikan kebahagiaan kepada orang lain, sedangkan belas kasihan adalah menghilangkan penderitaan orang lain. Sering memperhatikan orang lain, selalu memikirkan kepentingan orang lain, inilah perasaan welas asih. Wujud nyata dari perasaan welas asih ini adalah bersikap ramah terhadap orang lain, tidak marah-marah. Perasaan benci sangat menakutkan, karena dia bisa membakar habis semua kebajikan dan hasil pembinaan diri yang dicapai sebelumnya menjadi abu, juga membawa kerisauan dan ketidak-tenangan yang luar biasa besar pada diri Anda. Oleh karena itu dikatakan: “Satu api amarah akan melalap habis jasa kebajikan menjadi abu”, “Lahirnya satu kebencian akan membuka jutaan pintu halangan”. Saat terlahir satu kebencian, maka berbagai macam halangan berupa karma buruk pun akan ikut bermunculan.
“Menghapus karma buruk lama menyesuaikan jodoh, jangan sampai menciptakan karma buruk yang baru”, yang dimaksud dengan “karma buruk lama” adalah semua buah karma buruk yang diperbuat di kehidupan yang lalu. Biasanya merujuk pada reinkarnasi kehidupan yang sebelumnya. Jangan berkeras hati untuk menghapuskan buah karma buruk di kehidupan yang lalu, karena yang diperbuat di kehidupan sebelumnya sudah menjadi karma yang tidak bisa dihapus lagi, semua yang diterima di kehidupan ini adalah buah karma yang ditanam di kehidupan sebelumnya, oleh karena itu untuk menghapus karma buruk lama ini hanya bisa mengikuti jodoh (takdir), dan ketika menyesuaikan jodoh, kita harus belajar mengikuti jodoh yang baik, menguraikan jodoh yang buruk. Dalam membina diri harus dipastikan jangan sampai melakukan karma buruk yang baru, kalau tidak malah akan menjadi “karma buruk lama belum habis terkikis, sudah menambah karma yang baru”, karena di masa depan, hidup akan menjadi lebih sulit, bahkan mungkin terus merosot ke bawah.
Membina pikiran sebenarnya tidak hanya membina satu aspek pikiran saja, namun juga harus memperluas jalinan jodoh, apabila tidak ada jodoh maka pembinaan pikiran Anda tidak akan bisa meningkat.
