Berhasil Membina Diri dalam Satu Kehidupan dan Menyadari Makna Kehidupan (Bagian 2)
Seminar Dharma Singapura, 9 April 2015
Dalam proses belajar Buddha Dharma, kita akan terpengaruh oleh materi yang berwujud dan materi yang tak berwujud, hal itu akan memengaruhi cara berpikir kita. Apa yang dimaksud dengan materi berwujud? Dalam menekuni Dharma, ada orang yang memberimu banyak pusaka Dharma seperti tasbih Buddha dan rupang Buddha, kamu sangat senang. Ada yang memberikan beberapa lembar Xiao Fang Zi kepadamu, semua itu adalah hal-hal yang dapat dilihat. Sedangkan materi tak berwujud adalah hal-hal yang tidak dapat dilihat. Hari ini kamu telah melakukan banyak jasa kebajikan, lalu berpikir, “Saya sudah melakukan banyak jasa kebajikan, mengapa Master tidak memuji saya?” merasa tidak bahagia. Berbuat jasa kebajikan adalah bentuk materi tak berwujud, adalah sebuah kenikmatan batin. Ketika melihat orang lain menikmati makanan yang kamu masak, hatimu dipenuhi dengan sukacita Dharma. Seperti ibu tua yang saat Tahun Baru membuat pangsit di rumah — menggiling kulitnya, menyiapkan isinya, lalu menyajikannya kepada tamu. Ketika tamu mencicipinya dan berkata, “Wah, enak sekali!”, sang ibu pun merasa bahagia.
Kita tidak bisa menuntut orang lain dengan berkata, “Kamu harus menghormatiku, kamu harus begini atau begitu.” Itu sama saja dengan mengejar hal-hal yang tidak berwujud. Saya pernah menceritakan sebuah lelucon kepada kalian, ada seseorang yang menyumbang 3.000 yuan dan menulis namanya sebagai “wu ming shi — Tanpa Nama”. Ketika temannya datang ke rumah, ia mengambil koran dan berkata, “Lihat, orang yang menyumbang 3.000 yuan dengan nama ‘Tanpa Nama’ itu adalah Aku!” Jika kita menolong orang lain sedikit saja tetapi selalu mengharapkan balasan, maka penantian itu akan terasa sangat melelahkan. Misalnya, hari ini kamu telah menolong 100 orang, lalu kamu melupakan semuanya. Di antara mereka, ada 20 orang yang berterima kasih padamu. Ketika kamu melihat begitu banyak orang bersikap baik padamu, “Guan Shi Yin Pu Sa, saya bersyukur sekali, mengapa mereka begitu baik kepada saya?” Itu karena kebaikan yang kamu berikan kepada orang lain, telah kamu lupakan semuanya, tetapi ketika orang lain membalasnya, kamu akan merasa sangat bersyukur. Jika kamu berbuat baik kepada 100 orang dan menunggu balasan dari mereka, meskipun 99 orang sudah membalasmu, kamu masih tidak akan merasa bahagia. Kamu akan berpikir, “Mengapa orang terakhir itu tidak mengucapkan selamat tahun baru padaku?” Manusia memang memiliki sifat serakah, keinginan untuk mendapatkan balasan. “Hari ini aku berbuat baik padamu, maka kamu harus berbuat baik padaku; hari ini aku berkorban untukmu, maka kamu juga harus berkorban untukku,” ini adalah keserakahan dan penderitaan. Mulai hari ini, semua praktisi Buddhis harus melupakan semua kebaikan atau pemberian yang telah kamu lakukan kepada orang lain, termasuk kepada suami, istri, dan anak-anakmu. “Hari ini Aku sudah berbuat dengan sepenuh hati, Aku tidak perlu balasanmu.” Tiba-tiba istrimu bersikap baik padamu, anak-anak bersikap baik kepadamu, kamu merasa Guan Shi Yin Pu Sa telah menunjukkan keajaiban-Nya. Manusia harus belajar hal-hal seperti ini barulah bisa hidup bahagia di dunia.
Mengapa meminta kalian untuk menjalani pola makan vegetarian secara permanen? Karena saat ini, penyakit pencernaan pada manusia sudah sangat parah. Dokter mengatakan bahwa sekarang semua jenis penyakit ada. Beberapa penyakit belum pernah mereka temui sebelumnya. Orang-orang zaman sekarang, berternak babi dan sapi semuanya menyuntikkan hormon ke hewan ternak. Kalian tahu bahwa manusia yang mengonsumsi hormon bisa menjadi gemuk. Mereka demi mendapatkan keuntungan lebih besar, mereka menggunakan cara seperti itu — bahkan memberi makan babi dengan cara menyuntikkan makanan langsung ke ususnya. Maka itu, daging hewan yang dimakan manusia membawa penyakit. Orang yang bervegetarian terlebih dahulu telah melangkah pertama, karena ia baik hati, ia welas asih.
Kita hidup di dalam dunia pikiran dan materi, maka sebagai manusia kita harus menumbuhkan energi positif. Kita harus selalu berpikir baik tentang orang lain. Hari ini, ketika saya melihat kalian, merasa kalian begitu mencintai Guan Shi Yin Pu Sa dan begitu baik kepada Master, Master merasa sangat bersyukur dan bahagia. Ini adalah tanda bahwa energi positif ada di dalam hati. Sebaliknya, energi negatif adalah merasa, “Mengapa dia memperlakukan saya dengan buruk?” Yaitu hidup di dalam mulut dan mata orang lain. Banyak orang yang bunuh diri, itu karena hati mereka dipenuhi kegelapan, adalah energi negatif. “Bagaimana orang lain melihat saya? Mereka akan mencaci saya, mereka akan menertawakan saya,” dan akhirnya bunuh diri. Kita hidup di dunia ini, jangan hidup di mata dan mulut orang lain; hiduplah dalam sifat dasar diri sendiri. Sifat dasar adalah Buddha, dan Buddha adalah satu-satunya jalan sejati yang membimbingmu keluar dari penderitaan di dunia. Praktisi Buddhis telah memiliki karakteristik dasar dalam menekuni Dharma, yaitu keyakinan yang benar. Energi negatif adalah kecurigaan, kecemburuan, kesedihan, kebencian, dan keserakahan… sisi gelap hati adalah energi negatif. Jika kamu tidak rela memberi kepada orang lain, kamu tidak akan pernah menerima amal dari mereka. Kalian datang ke Singapura hari ini, banyak orang sedang memberi, membantu acara seminar Dharma, berkontribusi besar. Ini semua adalah memberi; dengan memberi, pasti akan ada perolehan.
Nenek moyang kita telah tiada, tetapi pandangan dan pengaruh yang mereka tinggalkan masih membimbing kita. Kakek saya pernah berkata, “Lebih baik menderita kerugian kecil daripada kerugian besar.”Ayah saya berkata, “Lebih baik menanggung kerugian yang terlihat daripada kerugian yang tersembunyi.” Kamu akan merasa dirugikan — setiap hari merasa rugi di ucapanmu, setiap hari merasa rugi di hatimu. Jika di dalam hati tidak merasa dirugikan, maka sebenarnya tidak akan rugi. Namun jika merasa dirugikan, maka akan benar-benar dirugikan. Di dunia ini, kita harus belajar “memakan” dua hal: Pertama, belajar menanggung penderitaan; Kedua, belajar dirugikan.
Banyak teman se-Dharma, baik wanita lanjut usia, pria lanjut usia, maupun pemuda, mereka akan menitikkan air mata ketika bertemu Master. Mereka bukan mencintai Master, tetapi mereka mencintai Dharma yang Master ajarkan, mencintai ajaran Guan Shi Yin Pu Sa Xin Ling Fa Men.
Kesadaran kita terhadap pentingnya pendidikan tertanam dalam pikiran kita. Ketika spiritualitas mengalami perubahan, hati kita pun ikut berubah. Apa itu penyakit spiritual? Apa itu penyakit karma? Ketika kamu merasa tidak bahagia, itu berarti kamu sedang menderita penyakit karma — yaitu penyakit spiritual. Tidak bahagia adalah hubungan buruk di kehidupan lampau. Mengandalkan apa untuk menghilangkan karma? Mengandalkan apa untuk menghilangkan penyakit akibat arwah asing? Welas asih, belas kasihan, suka cita dan rela memberi.
Kita harus memahami bahwa hati murni, orang akan bersih. Orang yang bersih adalah memiliki hati yang sangat murni. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan membina pikiran? Yaitu membina masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jika kamu hanya membina diri dengan baik di kehidupan ini, ke mana kamu akan pergi di kehidupan selanjutnya? Percuma saja jika kamu tidak membina diri dengan baik di kehidupan selanjutnya. Menyeberangkan almarhum dengan baik, membina kehidupan masa lalu dengan baik, tetapi di kehidupan ini masih belum membina diri dengan baik. Membina pikiran dan membina perilaku, semuanya saling berkaitan; Semuanya memiliki hubungan yang saling memengaruhi. Ketika kamu menghilangkan rintangan karma masa lalu, di kehidupan ini akan sangat lancar dan bahagia, dan semuanya akan berjalan sesuai keinginan. Jika kamu sukses dalam segala hal di kehidupan ini, setiap hari tidak melakukan segala kejahatan dan mengamalkan segala kebaikan, pada akhirnya kamu akan bisa menjadi seorang Bodhisattva di Surga, dan seorang Buddha di dunia. Membina pikiran dan membina perilaku adalah membina masa lalu, masa kini dan masa depan.
Kita harus menggunakan ajaran dan prinsip Buddha, memahami sebab – akibat, mengerti reinkarnasi serta kebenaran ajaran Buddha Dharma, barulah bisa memperoleh kedamaian di dunia ini. Orang-orang zaman sekarang sangatlah kasihan, bahkan untuk mencari kedamaian pun sulit sekali. “Master Lu, ibu saya terkena kanker.” “Pernikahan saya gagal.” … Dapat hidup damai dan aman setiap hari saja sudah merupakan berkat dari Bodhisattva. Bagaimana cara bisa aman dan damai? Gunakan hati yang baik, pikiran yang baik, dan niat yang baik. Dengan itu, kita akan memperoleh keyakinan yang benar, pikiran yang benar, dan niat yang benar, yang kita pikirkan selalu benar dan yang kita lakukan selalu baik, maka di dunia ini kita akan tak terkalahkan. Dewa Pelindung Dharma akan selalu mendampingi, dan para Bodhisattva akan senantiasa menetap di dalam hati.
Dalam menekuni Dharma, ajaran Hinayana adalah dasar, sedangkan ajaran Mahayana adalah tujuan. Kita sering mengatakan “menyelamatkan diri sendiri dan menyelamatkan orang lain.” Hanya setelah kita menyelamatkan diri sendiri dengan baik, barulah kita dapat menyelamatkan orang lain. Ada beberapa teman se-Dharma yang pergi menyelamatkan orang lain, tetapi orang lain berbicara lebih baik darinya. Akhirnya, dia malah mendengarkan penjelasan orang itu dan tidak tahu harus mengatakan apa. Ketika orang lain bertanya, “Apa itu Xin Ling Fa Men?”, dia menjawab, “Xin Ling Fa Men adalah Xiao Fang Zi.” Bukankah itu lucu? Yang Master ajarkan itu semua tentang prinsip dan ajaran Buddha. Xiao Fang Zi adalah dasar untuk kalian membayar hutang karma, hal yang material, yang sebenarnya adalah mengandalkan hati untuk mengubah segala dosa dan kejahatan di dunia ini.
Membantu orang lain adalah tahapan dalam ajaran Buddha Dharma. Membantu orang lain, kita harus melakukannya sesuai dengan urutan yang benar. Pertama-tama, bantulah diri sendiri terlebih dahulu. Sebelum mengajar orang lain, lihatlah dulu apakah diri kita sudah seperti seorang Bodhisattva. Jika diri sendiri tidak seperti seorang Bodhisattva, bagaimana bisa menjadi Bodhisattva? Bertekun dalam membina pikiran barulah urutan yang sempurna. Jika berhasil dalam pembinaan diri, maka pasti akan berhasil dalam menyelamatkan orang lain. Bila di dalam hati ada Buddha dan dalam pikiran ada kebenaran, maka ucapan kita akan penuh makna. Orang yang bisa berbicara dengan kebenaran adalah orang yang di dalam hatinya terdapat ajaran Buddha Dharma. Seseorang yang tidak memahami ajaran Buddha Dharma, itu bagaikan kehilangan sifat dasar dan hati nuraninya, ia hanya bisa terbawa arus dunia, dan segala yang diperolehnya di dunia ini hanyalah seperti mencoba menangkap bayangan bulan di air.
Apa yang kita lihat dengan mata kita belum tentu adalah kenyataan. Ada seorang anak berusia sekitar tujuh belas atau delapan belas tahun, ia melihat sebatang emas di dalam air, lalu ia melompat ke dalam air untuk mengambilnya. Ayahnya berkata kepadanya, “Nak, emas itu ada di atas pohon, yang di dalam air itu hanyalah bayangannya.” Kita manusia juga demikian, apa yang kita lihat dengan mata belum tentu benar-benar ada. Banyak hal hanyalah ilusi dan palsu. Ketika kamu mengejar ketenaran, sebenarnya adalah kehilangan ketenaran itu. Ketika seseorang belum pernah menjadi ketua, ia selalu dihormati oleh orang-orang. Namun setelah ia menjadi ketua dan berjuang demi jabatan itu, ketika akhirnya ia tersingkir, ia pun kehilangan ketenaran tersebut. Bukankah itu berarti bahwa ketika seseorang mengejar ketenaran justru saat itulah ia kehilangan ketenaran itu? Ketika kamu berjuang mati-matian demi uang, orang-orang tidak akan peduli padamu. Mereka tahu kamu adalah orang yang menginginkan uang tanpa peduli pada harga diri. Kamu akan kehilangan kekayaan, karena tanpa hubungan baik dengan orang lain, tidak akan ada sumber rezeki. Tanpa sumber rezeki, reuni pun sulit tercapai. Semua ini adalah ujian terhadap sikap mentalmu di tengah kesulitan. Belajar mengendalikan dan menguasai mentalitas diri sendiri adalah dasar pertama bagi seorang praktisi Buddhis .
Menjadi seorang Bodhisattva dalam menekuni Dharma, seseorang harus memiliki tujuan yang agung, berani mengikis karma dan menerima balasan karma. Menekuni Dharma tanpa tujuan yang agung, kekhawatiran dan kerisauan akan membebani dirimu. Orang dirugikan bukanlah kerugian. Kehilangan nyawa barulah kerugian besar. Orang menanggung sedikit penderitaan tidaklah menderita, masuk ke neraka itu barulah benar-benar menderita.
Orang yang bisa membuatmu berwelas asih, bisa mengajarkan kalian untuk menekuni Dharma adalah orang suci. Orang yang mengajarkan kalian untuk menyimpan dendam adalah orang awam. Orang yang mengajarkanmu untuk membalas dendam adalah orang jahat. Kalian menyelamatkan orang-orang setiap hari; kalian adalah orang suci yang welas asih
Bodhisattva ada di sekitar kita, pengorbanan setiap orang, setiap cinta kasih dan welas asih, Bodhisattva mengetahui semuanya. Dulu Bodhisattva selalu khawatir dunia ini sangat menyedihkan, semuanya demi ketenaran dan kekayaan. Ada banyak bencana di dunia ini, manusia sangat menderita! Bodhisattva tidak bisa menyelamatkan kita. Sekarang, Bodhisattva melihat begitu banyak orang menekuni Dharma, semuanya melafalkan paritta Da Bei Zhou dan Xin Jing, semuanya bisa menerima berkat dari Bodhisattva, mengubah kemalangan menjadi keberuntungan, Bodhisattva juga merasa tenang. Dengan sungguh-sungguh tidak mengecewakan Guan Shi Yin Pu Sa adalah salah satu tanggung jawab kita dalam hidup ini; Baik-baiklah menekuni Dharma dan tidak mengecewakan anak dan cucu kita juga merupakan salah satu fondasi kita dalam menekuni Dharma.
Jalani hidup dengan baik, tidak mengecewakan diri sendiri, dan jangan biarkan diri menjalani hidup yang sia-sia. Kita telah menyia-nyiakan terlalu banyak waktu. Kita belum tentu bisa berhasil membina diri dalam satu kehidupan.
Semoga kalian semua menekuni Dharma dengan sungguh-sungguh. Di bawah cahaya welas asih Guan Shi Yin Pu Sa, semoga sinar Buddha menerangi segalanya. Para ibu yang sudah lanjut usia harus memanfaatkan waktu dengan baik untuk membina dan memperbaiki diri. Tidak terkena kanker saja sudah merupakan sebuah berkah. Coba lihat di sekitar kita, berapa banyak orang yang tidak terkena kanker? Berapa banyak orang yang tidak mengalami musibah? Sekarang, orang yang melakukan penyelewengan dalam keuangan itu ditarik kembali dengan cepat bukan? Bukan tidak ada pembalasan, hanya waktunya belum tiba. Jika kalian selamanya tidak berbuat jahat, apakah kalian akan mendapat balasan karma buruk? Jika setiap hari berbuat baik, apakah akan mendapat balasan? Tentu saja akan ada balasan. Pada saat itu, balasannya akan sebesar roda kereta! Baik-baiklah membina pikiran. Dalam ajaran Xin Ling Fa Men, semakin banyak generasi muda yang bergabung, penuh dengan sukacita dalam Dharma. Banyak di antara mereka adalah anak perempuan yang menuntun orang tuanya untuk belajar Dharma. Sekarang, anak-anak semakin mirip dengan Bodhisattva. Banyak anak kecil yang baru lahir tidak lama sudah bisa melafalkan paritta Da Bei Zhou dan Xin Jing. Master sangat senang melihat anak-anak melafalkan paritta, karena ketika mereka melafalkan paritta, saya menerawang totem dan melihat mereka semua adalah Bodhisattva kecil yang turun dari Surga.
Orang yang dapat mengenal ajaran Buddha Dharma pasti memiliki berkah. Baik-baiklah membina diri, kita tidak boleh datang ke dunia ini lagi. Kita harus berhasil membina diri dalam satu kehidupan! Harus berhasil membina diri dalam satu kehidupan. Master tidak ingin melihat orang ini tidak naik ke Surga atau orang itu turun ke alam bawah. Saya berharap dapat melihat semua wajah kalian yang familiar di surga. Sukacita Dharma seperti itu tidak ada di dunia ini. Oleh karena itu, semua orang mengatakan bahwa Surga itu bagus.
Orang yang tidak menderita adalah menikmati berkah. Orang yang tidak memiliki kerisauan hari ini berarti tidak memiliki kesedihan. Kita menghilangkan kerisauan dan membina pikiran dengan baik, tidak takut pada hal apa pun, karena kita memiliki dukungan terbesar kita—Guan Shi Yin Pu Sa yang agung dan welas asih! Terima kasih semuanya! Melakukan sedikit perbuatan baik tidaklah sulit; yang sulit adalah melakukan perbuatan baik seumur hidup! Terima kasih semuanya!
