Potensi Kesadaran Memiliki Kebijaksanaan, Welas Asih Memasuki Pintu Buddha (Bagian 2) 悟性拥有智慧 慈悲进入佛门 (下)

Potensi Kesadaran Memiliki Kebijaksanaan, Welas Asih Memasuki Pintu Buddha (Bagian

Seminar Dharma Los Angeles - Amerika Serikat, 2 Mei 2015

Orang zaman sekarang dipenuhi dengan sifat egois; setiap hari merasa sedih karena hal-hal yang tidak bisa mereka dapatkan. Terlalu mencintai diri sendiri justru membuat diri semakin kesepian. Praktisi Buddhis harus belajar mencintai semua makhluk, akan memperoleh kebahagiaan besar. Seorang ibu mencintai anak-anaknya sepanjang hidupnya, dan pada akhirnya anak-anak pun akan mencintai ibunya, sang ibu memperoleh kebahagiaan terbesar. Pembebasan batin dan bisa berpikiran terbuka adalah kebahagiaan terbesar. Berpuas diri akan memiliki kebahagiaan, dan ketenangan akan melahirkan kegembiraan. Ketenaran yang kita miliki hari ini adalah kosong. Saya yakin banyak di antara kalian  pernah melakukan hal-hal yang membuat kalian memiliki ketenaran, tetapi seiring bertambahnya usia, ketenaran apa lagi yang masih kalian miliki? Setelah dilakukan, semuanya berlalu. Ketenaran adalah kosong, kekayaan adalah ilusi. Mengejar ketenaran dan kekayaan sama saja dengan mengejar kekosongan. Uang yang diperoleh akan habis digunakan, ketenaran yang didapat pun akhirnya akan hilang. Hari ini, jika kamu tidak memiliki ketenaran itu, kamu tidak perlu khawatir akan kehilangannya di masa depan; jika kamu sudah memiliki ketenaran di hari ini, ketika saatnya tiba untuk kehilangan, kamu akan merasakan sangat menderita. Dulu, ketika tidak memiliki uang, hidup terasa bahagia; namun setelah memiliki uang lalu tidak punya uang lagi, hidupnya akan merasa sangat menderita. Inilah yang disebut kekosongan, lahir tidak membawa apa-apa, mati pun tidak membawa apa-apa, semuanya adalah kosong. Dalam paritta Xin Jing dikatakan: “Rupa tidak berbeda dari kosong, kosong tidak berbeda dari rupa; rupa adalah kosong, kosong adalah rupa.” Segala sesuatu datang dengan cepat dan pergi dengan cepat pula. Coba pikirkan masa muda kita belasan tahun lalu — seperti mimpi belaka. Kegembiraan, kesedihan, penderitaan, dan kebencian di masa muda, ke mana semuanya pergi? Semuanya telah berlalu, itulah makna dari “rupa tidak berbeda dari kosong.”

Semakin besar nafsu keinginan seseorang, semakin besar pula tekanannya; semakin besar keserakahannya, semakin lelah hidupnya. Apa pun yang terlalu kita anggap penting, kita akan menjadi budaknya. Jika terlalu memedulikan pelajaran dan sekolah anak, kita akan menjadi budak anak sendiri, karena anak akan berkata, “Belikan saya ini, kalau tidak saya tidak mau belajar.” Jika terlalu memedulikan uang, bekerja siang malam, berinvestasi tanpa henti, akan menjadi budak uang. Jika mencintai kekasih ini, apa pun yang dia minta kamu berikan, maka kamu akan menjadi budak kekasih. Kita harus menggunakan hati untuk mengatasi semua ini. Mentalitas ibarat sebuah botol — tergantung apa yang kita isi di dalamnya. Jika hatimu diisi dengan kebaikan, hidup akan terasa manis, seperti botol yang berisi madu, dan akan memperoleh balasan yang manis. Namun jika hati diisi dengan racun, maka akan mendapatkan mentalitas yang sangat jahat. Hati yang sama, mengapa tidak diisi dengan madu, tetapi malah diisi dengan racun dan kerisauan? Jika hati baik, maka kita dapat menjauh dari kerisauan.

Ada sebuah kisah: Suatu hari, Sang Buddha bertemu dengan seorang perampok bernama Angulimala di pegunungan. Angulimala adalah pembunuh kejam yang tidak berkedip saat menghabisi nyawa orang. Ia tentu saja tidak berniat melepaskan Sang Buddha. Ia berkata, “Orang-orang bilang kekuatanmu tak terbatas, tetapi hari ini kamu jatuh ke tanganku. Ternyata kamu tidak sehebat yang mereka katakan. Hari ini Aku akan memenggal kepalamu agar semua orang tahu bahwa Aku lebih kuat darimu.” Buddha menjawab dengan tenang, “Sebelum mati, Aku punya satu permintaan.” Sang Buddha menunjuk ke pohon persik di sampingnya dan berkata, “Tolong tebang satu ranting dari pohon itu.” “Itu terlalu mudah.” Ia mengayunkan pedangnya, dan seketika ranting itu terpotong. Ia melemparkan ranting itu ke arah Sang Buddha dan berkata, “Sudah, apa lagi yang ingin kamu katakan? Sekarang giliranmu yang akan kutebas.” “Saya masih punya satu permintaan, “Sang Buddha memungut ranting itu dengan penuh kasih dan berkata,” sekarang, tolong buat ranting ini tumbuh kembali ke pohonnya.” Angulimala tertawa terbahak-bahak: “Kamu gila! Semua orang tahu, ranting yang sudah ditebang tidak mungkin bisa tumbuh kembali!” Sang Buddha menjawab, “Kasihan sekali orang yang malang. Kamu mengira dirimu sangat kuat hanya karena kamu bisa dengan mudah melukai dan menghabisi nyawa seseorang. Namun menghancurkan, menyakiti, dan merusak adalah hal yang paling mudah dilakukan, bahkan anak kecil pun bisa melakukannya. Jadi, di mana letak kekuatanmu? Orang yang benar-benar kuat adalah mereka yang tahu bagaimana menyembuhkan luka orang lain dan menciptakan kehidupan.” Angulimala seketika tersadarkan dan memperoleh pencerahan. Sejak saat itu, ia perlahan memahami ajaran Buddha Dharma dan akhirnya menjadi murid setia Sang Buddha.

Seseorang yang mampu mengakui kesalahan dan menyesalinya adalah orang yang memiliki dasar untuk menjadi seorang Bodhisattva. Siapa di antara kita yang tidak pernah berbuat salah? Namun, mengapa di rumah kita sering tidak mau mengakui kesalahan sendiri? Ketika kamu mengakui kesalahan, hatimu akan merasa lega dan terbebas; jika tidak, hatimu akan semakin tertekan dan menderita. Orang yang mau bertobat akan lebih mengenal dirinya sendiri, sedangkan orang yang tidak tahu bertobat tidak akan pernah bisa memahami orang lain. Dalam ajaran Buddha Dharma, seseorang yang mampu memahami hati orang lain dan mengenali hatinya sendiri disebut sebagai “yang sadar”. Hanya mereka yang sadar yang dapat mencapai pencerahan, harus memiliki kesadaran terhadap diri sendiri. Pertengkaran antar manusia terjadi karena masing-masing merasa dirinya benar — saya merasa benar, dia juga merasa benar — akhirnya berujung di pengadilan. Karena Bodhisattva mampu menyadari hati dan pikirannya sendiri, maka  disebut mampu memahami hati dan pikiran semua makhluk. Mengapa seorang ibu yang baik bisa membuat banyak anaknya berbakti kepadanya? Karena ibu memahami hati anak-anaknya. Sebaliknya, ada ibu yang memiliki lima atau enam anak, tetapi bersikap pilih kasih. Akibatnya, di masa tuanya ada anak yang berbakti dan ada yang tidak. Benih sebab ini adalah sang ibu yang menanamnya sendiri, jangan menyalahkan anak tidak berbakti, itu karena orang tua sendiri tidak memiliki keseimbangan hati.

Dalam hidup, kita harus belajar memahami apa yang dipikirkan orang lain. Orang yang mampu memikirkan kepentingan orang lain akan hidup dengan bahagia. Jika suami tidak memahami hati istrinya, dan istri tidak mengerti hati suaminya, pertengkaran pasti akan terjadi. Kadang-kadang manusia sungguh menyedihkan, tidak tahu kesalahan apa yang telah diperbuat, istri pun tidak mau mengatakannya. Hingga suatu hari saat pertengkaran terjadi, barulah istri mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya, memarahi suaminya pria picik, pelit, egois, dan lain sebagainya. Saat itulah si pria tersadar dan terkejut, “Apakah saya benar-benar seegois itu?” Setelah menyadarinya, barulah ia mulai berubah. Inilah yang disebut dalam ajaran Buddha sebagai “menyesali kesalahan masa lalu dan memperbaiki kesalahan di masa depan.” Dengan sering mengintrospeksi diri, suami dan istri baru bisa hidup bersama hingga tua, bertransformasi awam menjadi suci. Karena itu, hati harus bisa berpikir dengan jernih.

Menjadi suami istri itu tidak mudah, maka hargailah perempuan. Seorang gadis muda menikah denganmu, melahirkan anak untukmu, bekerja, mengurus rumah tangga… sungguh kasihan. Pria yang sering memarahi atau memukul istrinya pasti pria yang kecil hati. Manusia harus bisa melihat kelebihan orang lain. Seorang lelaki sejati jarang meneteskan air mata, di tempat kerja mungkin ia diperlakukan tidak adil, dimarahi atasan, pulang ke rumah tidak bisa mengeluh, juga tidak bisa menangis. Kadang ia hanya melampiaskan sedikit amarah, maka maafkanlah dia. Ia mungkin mengenakan celana dan kaos kaki lama, pulang ke rumah langsung berbaring di tempat tidur, bahkan tidak punya tenaga untuk mandi. Maafkanlah semua itu. Hanya suami istri yang bisa saling memahami dan saling memaafkanlah yang dapat hidup bahagia hingga akhir. Menyadari hati orang lain sama dengan menyadari hati sendiri.

Di sebuah toko serba ada, pada suatu hari tiba-tiba turun hujan deras. Seorang nenek berpakaian sederhana masuk ke dalam toko untuk berteduh, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup, namun tidak ada satu pun pramuniaga yang memedulikannya. Seorang pemuda dengan tulus menyapanya, “Nyonya, halo, apa yang bisa saya bantu?”Nenek itu menjawab dengan sungkan, “Tidak usah, saya hanya ingin berteduh sebentar, nanti segera pergi.” Karena merasa segan, nenek itu ingin membeli sesuatu, tetapi setelah melihat cukup lama, ia tidak tahu harus membeli apa. Pemuda itu berkata kepada nenek itu: “Nyonya, silakan saja berteduh, jangan sungkan. Saya ambilkan kursi di dekat pintu, Anda bisa duduk dan beristirahat sebentar.” Dua jam kemudian hujan berhenti. Nenek itu meminta kartu nama pemuda tersebut, lalu pergi. Beberapa bulan kemudian, pemuda itu menerima undangan dari perusahaan pusat perbelanjaan tersebut serta sebuah perusahaan keluarga lain untuk membahas kerja sama bisnis, dan ia ditunjuk secara khusus untuk menghadiri pertemuan itu. Belakangan baru diketahui bahwa nenek itu bukan orang biasa, melainkan ibu dari miliarder Amerika, raja baja Andrew Carnegie. Pemuda itu kemudian hidup dengan lancar dan kariernya terus menanjak, hingga akhirnya menjadi asisten utama Carnegie, dan sejak itu ia menjadi salah satu tokoh penting di Amerika, dengan kedudukan hanya di bawah Carnegie. Kisah ini menunjukkan bahwa seseorang hanya dapat bertumbuh ketika ia tahu menghargai; seseorang hanya dapat bertumbuh ketika ia hidup dengan kejujuran; dan seseorang harus memiliki welas asih di dalam hatinya agar dapat benar-benar bertumbuh. Sebuah perbuatan kecil yang dilakukan tanpa sengaja bisa memperlihatkan kebaikan hatimu. Setiap hari melakukan hal-hal kecil yang penuh welas asih ini bisa membuatmu menjadi orang yang berhati besar. Setiap hari memberi cinta dan welas asih, kamu bisa menjadi Bodhisattva yang welas asih di dunia ini.

Praktisi Buddhis harus belajar kesadaran batin, yaitu harus bisa berpikiran terbuka. Setelah belajar Buddha Dharma, jangan bersikap ekstrem dalam melakukan sesuatu. Jika batin tidak tercerahkan, maka pikiran akan semakin buntu dan sulit menemukan jalan keluar. Semakin dipikirkan, semakin tidak mengerti; semakin tidak mengerti, semakin dipikirkan — akhirnya semakin tidak bisa memahami apa pun. Ketika itu terjadi, kebijaksanaan perlahan-lahan akan meninggalkanmu. Orang yang kurang bijaksana akan memiliki sedikit keberuntungan; orang yang sedikit keberuntungannya akan memiliki banyak rintangan karma. Orang yang memiliki berkah tidak akan berpikiran buntu. Orang yang selalu gembira setiap hari akan ada keberuntungan datang kepadanya; sedangkan orang yang setiap hari merasa sedih, tidak bisa berpikiran terbuka, dan penuh kerisauan, keberuntungan akan menjauh darinya. Sumber kerisauan adalah diri sendiri yang mencari-cari masalah, kesulitan, dan kesialan. Coba pikirkan, adakah orang yang sedang naik jabatan atau akan memperoleh rezeki besar, tetapi wajahnya cemberut setiap hari? Tidak ada keberuntungan.

Kekayaan dan harta berasal dari kebajikan memberi (dana), hasil dari pembinaan diri di kehidupan lampau. Manusia bisa memohon apa saja dan mendapatkannya, tetapi memohon kekayaan tidak akan berhasil. Mengapa demikian? Karena uang hanya bisa diperoleh melalui berdana. Jika di kehidupan sebelumnya seseorang banyak berdana, maka di kehidupan sekarang ia akan memiliki rezeki keberuntungan. Bila seseorang berdana sejak kecil, maka lima puluh tahun kemudian barulah ia akan memiliki rezeki keberuntungan. Oleh karena itu, segala hal bisa dimohon, tetapi memohon untuk menjadi kaya tidak akan berhasil.

Berkah adalah bawaan sejak lahir, sedangkan kebajikan adalah hasil dari akumulasi perbuatan baik setelah lahir. Karena itu, praktisi Buddhis harus menumbuhkan keduanya — berkah dan kebajikan. Semakin kaya seseorang, semakin ia memahami pentingnya berdana. Li Ka-shing, sangat kaya, ia terus-menerus berdana; karena itu, semakin besar keberuntungannya dan semakin tinggi kebajikannya. Sebaliknya, orang yang pelit dan tidak mau memberi akan menjadi semakin miskin. Seseorang yang tahu untuk mengalah dalam hidup, ia pasti memahami hukum karma (sebab-akibat). “Saya tidak ingin bertengkar denganmu, karena saya tidak mau menanggung akibat karmamu.” Orang yang mampu melepaskan dan tidak melekat pada perolehan dan kehilangan akan mudah memahami segala hal. Hari ini ada pemilihan manajer, saya tidak ikut bersaing, tidak masalah. Di sebuah perusahaan besar, ketika seorang kepala departemen hendak mengundurkan diri, dua wakil manajer saling berebut posisi itu, bahkan saling menjatuhkan di depan pimpinan. Akhirnya, keduanya tidak dipromosikan. Justru seorang karyawan yang tidak ikut bersaing, bekerja dengan tenang dan rendah hati, akhirnya diangkat menjadi manajer. Tahu mengapa demikian? Karena ia rajin melafalkan paritta.

Jika kita ingin mengubah diri sendiri, kita harus belajar membina pikiran. Hanya dengan menghargai kehidupan, kita bisa mencapai pembebasan. Dunia ini penuh dengan kerisauan, dunia ini penuh dengan rintangan, banyak orang bercerai, tidak bisa berpikir jernih, bahkan bunuh diri — semua itu karena mereka tidak mampu melewati rintangan tersebut. Suami istri, jika bisa saling menahan diri, bersabar, dan terus melafalkan paritta, maka rintangan itu akan berlalu. Kita harus percaya bahwa setelah hujan, langit pasti akan cerah kembali. Saat hari mendung dan matahari tak terlihat, jangan mengira matahari telah tiada. Banyak orang tidak menyadari bahwa esok hari sinar matahari akan kembali bersinar terang. Tidak menekuni Dharma dan tidak melafalkan paritta sangat sulit untuk melewati berbagai rintangan dalam hidup. Dalam perjalanan usia manusia, angka tiga, enam, dan sembilan merupakan rintangan. Usia 33, 39, 43, 46, 49, 66, 73, 84… angka-angka ini adalah masa yang telah ditentukan oleh langit. Ketika menghadapi masa-masa rintangan ini, kita harus melafalkan paritta dan membina diri, bertahan dan melewatinya.

Seperti halnya banyak orang yang tidak berolahraga dan tidak menjaga tubuhnya dengan baik, ketika cuaca berubah, mereka langsung jatuh sakit. Dalam peristiwa desak-desakan di Bund Shanghai tahun 2015, ada 36 anak muda yang kehilangan nyawa, tidak satu pun berusia lebih dari 27 tahun. Jantung, liver, paru-paru, dan ginjal mereka semuanya sehat — mengapa bisa begitu? Karena seseorang hidup di dalam takdir dan rintangan karmanya; jika ia tidak dapat menghindarinya, mereka terinjak hingga meninggal. Manusia sulit untuk mengendalikan takdir dan keberuntungannya sendiri. Ketika keluar rumah hari ini, kita tidak tahu apakah akan ada bencana menimpa. Dari hasil wawancara wartawan, diketahui ada tiga orang yang awalnya berencana pergi ke Bund, tetapi akhirnya tidak jadi pergi. Mengapa? Satu orang sedang melafalkan paritta, satu lagi sedang mentraktir temannya makan makanan vegetarian, dan satu orang lainnya sedang membakar Xiao Fang Zi untuk menyeberangkan arwah kakeknya. Ketiga orang ini terhindar dari musibah. Manusia harus belajar dari kegagalan dan penderitaan orang lain, barulah ia dapat memperoleh kebijaksanaan.

Di dunia ini, kita tidak boleh menginginkan terlalu banyak. Sebuah ponsel mewah memiliki 70% fitur yang sebenarnya tidak kita gunakan. Sebuah mobil mewah memiliki 70% kecepatan yang tidak pernah kita butuhkan. Sebuah rumah megah paling banyak hanya kita tempati 30%-nya, sementara 70% sisanya kosong. Berbagai kegiatan sosial yang kita ikuti, 70% di antaranya hanyalah kesia-siaan dan kekosongan. Pakaian dan barang-barang yang kita miliki, 70% tidak pernah terpakai. Uang yang kita hasilkan seumur hidup, sebanyak apa pun, 70% akhirnya akan diwariskan untuk orang lain. Melihat kebenaran dan melepaskan, membina pikiran diri dengan baik, memupuk kebajikan diri dengan baik, kesehatan tubuh dan pikiran adalah yang paling penting. Dunia ini penuh dengan kerisauan; hanya dengan memahami orang lain, kita baru bisa hidup di dunia ini.

Suatu hari, Konfusius pergi keluar, dan saat itu langit tampak akan turun hujan. Namun, beliau tidak memilki payung. Salah satu muridnya berkata, “Zixia punya payung, Guru bisa meminjam darinya.” Mendengar itu, Konfusius berkata, “Tidak boleh. Zixia adalah orang yang agak pelit. Jika saya meminjam darinya dan dia tidak mau meminjamkan, orang lain akan menganggap dia tidak menghormati gurunya. Tetapi jika dia meminjamkannya pada saya, hatinya pasti terasa sakit.” Dalam bergaul dengan orang lain, kita harus memahami kelebihan dan kekurangan mereka. Jangan menggunakan kelemahan orang lain sebagai dasar dalam berinteraksi, karena itu sama saja dengan menguji mereka. Jika kamu melakukan itu, kamu tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang dan pengertian dari orang lain. Seseorang yang ingin persahabatan dapat bertahan lama, ia harus belajar menempatkan diri pada posisi orang lain dan berpikir untuk kepentingan orang lain. Dengan begitu, kamu akan memperoleh dukungan dan kebijaksanaan dari orang lain.

Di Amerika, ada seorang pemilik usaha kecil yang sudah lama ingin menjalin kerja sama bisnis dengan seorang pemilik perusahaan besar, namun berkali-kali gagal. Suatu hari, setelah kembali dari kantor pengusaha besar itu, ia lagi-lagi tidak berhasil mencapai kesepakatan. Ketika berjalan melewati sebuah pohon kecil yang tumbang karena angin, ia dengan lembut menegakkan kembali pohon itu. Untuk mencegahnya roboh lagi, ia sengaja kembali ke mobilnya untuk mengambil seutas tali dan mengikat pohon tersebut agar tetap berdiri kokoh. Tindakan kecil itu ternyata terlihat jelas oleh pengusaha besar dari jendela kantornya di lantai atas. Sikap tulus yang tidak sengaja itu menyentuh hati pengusaha besar. Pada pertemuan berikutnya, kerja sama mereka akhirnya berhasil. Saat menandatangani perjanjian, pengusaha besar itu berkata, “Tahukah kamu? Yang membuatku terharu bukan karena kamu menegakkan pohon itu, tetapi karena kamu rela berjalan cukup jauh hanya untuk mengambil tali dan mengikatnya agar tidak tumbang lagi.” Kisah ini memberi tahu kita bahwa ketika orang lain membutuhkan bantuan, jika kita mampu mengorbankan kepentingan diri sendiri, meskipun hanya sedikit saja, itu sudah merupakan bentuk pengorbanan, itu adalah berdana. Jadi, pengorbanan yang dilakukan seseorang dapat membawa keberhasilan. Terutama praktisi Buddhis harus memahami untuk membantu orang lain. Ketika kita menolong tanpa diketahui oleh siapa pun, kamu bisa membuat orang lain terharu, inilah yang disebut “berdana tanpa rupa”. Inilah tingkat kesadaran spiritual tertinggi seorang praktisi Buddhis sejati.

Sepanjang hidup, ucapkanlah lebih banyak kata-kata yang menyentuh hati, lakukanlah lebih banyak hal yang menyentuh hati orang lain, maka kita akan mampu menyentuh hati semua orang, dan hati kita akan menjadi semakin baik, inilah praktisi Buddhis. Setiap orang sebenarnya tidaklah miskin; karena keserakahan dan ketidakpuasan yang membuat seseorang menjadi semakin miskin. Jika merasa diri sendiri sudah cukup dan merasa dirinya sudah kaya, hidup tanpa membandingkan diri dengan orang lain — itulah kehidupan yang sejati. Rumah sendiri terasa nyaman untuk ditinggali, tetapi ketika melihat rumah orang lain lebih besar, barulah muncul perasaan bahwa rumah sendiri kecil — itulah perbandingan. Menikmati hidup yang sesungguhnya adalah memahami jodoh yang alami.

Hargailah orang lain, tidak merebut atau merampasnya, maka tidak akan timbul jodoh yang buruk. Tidak merebut akan memiliki energi positif. Jika berebut dengan orang lain, makan akan memiliki energi negatif, dan pada akhirnya hal itu akan melukai dirimu sendiri. Jangan menyentuh karma — apa yang menjadi milikmu akan tetap menjadi milikmu, dan yang bukan milikmu jangan dipaksakan untuk dimiliki. Jangan mencari jodoh di tempat yang tidak ada jodohnya. Keberhasilan seseorang di dunia ini bukan ditentukan oleh kemampuan, melainkan adalah apakah ia memiliki jodoh ini atau tidak. Sering kali, yang membuat seseorang tersesat adalah keinginannya sendiri untuk mengejar dan meminta sesuatu.

Belajar untuk berpuas diri, barulah bisa bahagia. Jika ingin terbebas dari kerisauan harus mengurangi keinginan, tidak memiliki banyak nafsu keinginan dan tuntutan, hati akan menjadi tenang. Moto dari Master adalah: “Tiada nafsu keinginan, hati akan tenang seperti air.” Ketika kamu tidak memiliki nafsu keinginan, apa pun yang dimiliki orang lain, hatimu akan tenang seperti air, tidak ada nafsu keinginan, “Saya sudah cukup, sudah puas.” Tiada nafsu keinginan, hati akan setenang air. Hati yang bebas dari hambatan barulah tiada halangan.

Kesucian seseorang adalah benar-benar memahami orang lain. Kesucian seseorang adalah benar-benar memikirkan penderitaan orang lain. Orang-orang zaman sekarang sungguh egois. Ada dua orang yang sangat akrab berjalan di hutan, tiba-tiba mereka bertemu seekor harimau. Keduanya melihat harimau itu dan langsung ingin lari. Salah satu dari mereka segera mengambil sepatu olahraga dari tasnya dan memakainya. Temannya melihat dia mengganti sepatu, lalu berkata, “Apa yang kamu lakukan? Sekalipun kamu ganti sepatu, kamu tetap tidak bisa lari lebih cepat dari harimau!”Orang itu menjawab, “Saya tidak ingin lari lebih cepat dari harimau, saya hanya perlu lari lebih cepat darimu saja.”

Di abad ke-21 ini, manusia tidak lagi memiliki rasa krisis. Krisis terbesar manusia adalah ketika melihat orang lain mengalami kecelakaan pesawat, gempa bumi, terkena kanker, atau keluarganya hancur, ia tidak merasakan apa-apa. Ia hanya peduli pada dirinya sendiri. Kita harus sungguh-sungguh menekuni Dharma agar dapat mencegah krisis menimpa diri kita sendiri. Ketika melihat orang lain mengalami kesulitan, kita harus menyadari bahwa hal serupa bisa saja terjadi pada diri kita. Jangan menunggu sampai semuanya terlambat, seperti orang yang baru sempat mengganti sepatu sebelum melarikan diri dari mulut harimau. Sebagai manusia, kita harus mengerti bahwa dengan menolong orang lain terlebih dahulu, barulah bisa menolong diri sendiri. Sebaliknya, hanya dengan menyelamatkan diri sendiri terlebih dahulu, barulah kita mampu menolong orang lain. Praktisi Buddhis harus membina pikiran dengan sungguh-sungguh, menyelamatkan hati diri sendiri dan orang lain. Setiap orang harus terlebih dahulu berpikiran terbuka dan kemudian membuat orang lain berpikiran terbuka. Kita harus tahu cara menghargai dan menjaga apa yang kita miliki, sehingga tidak akan kehilangannya. Ketika kehilangan, kita harus menyadari bahwa dengan memiliki lebih sedikit, barulah tidak akan menanggung penderitaan akibat kehilangannya.