Berhasil Membina Diri dalam Satu Kehidupan dan Menyadari Makna Kehidupan (Bagian 1) 一世修成觉悟人生 (上)

Berhasil Membina Diri dalam Satu Kehidupan dan Menyadari Makna Kehidupan (Bagian 1)

Seminar Dharma Singapura, 9 April 2015

Halo semuanya! Senang sekali bisa berbagi cahaya Buddha dengan kalian semua lagi di Singapura. Membayangkan bisa memberikan wejangan  Dharma bersama dengan kalian semuanya selama tiga atau empat malam, penuh sukacita Dharma!

Master akan berbagi beberapa wejangan penting terkini dari Bodhisattva. Di periode akhir Dharma, pikiran manusia harus murni. Orang harus mengembangkan kebijaksanaan. Orang baik adalah orang baik, dan orang jahat adalah orang jahat; perbedaannya akan menjadi jelas di masa depan. Master akan menjelaskan makna Bodhisattva kepada semua orang: Jika sehelai kemeja putih memiliki noda, apakah kemeja ini masih bisa dipakai? Apakah kemeja itu buruk? Jika seseorang baik, dapatkah ia berbuat jahat? Jika seseorang baik, dapatkah ia mencelakai orang lain? Praktisi Buddhis harus memiliki pikiran yang murni dan sama sekali tidak boleh melakukan hal apa pun yang mencelakai orang lain. Jika kamu melakukan sepuluh perbuatan baik dan dua perbuatan buruk hari ini, kamu bukanlah orang baik. Berharap semua orang berusaha yang keras.

Kitab suci Buddha telah mencatat bahwa di Periode Akhir Dharma, umur pria akan semakin pendek, rata-rata sekitar 60 tahun; dan umur wanita akan semakin panjang, bisa hidup sampai 70, 80, 90, atau bahkan 100 tahun. Mengapa umur pria semakin pendek sekarang? Pertama adalah tekanan; kedua, apakah sekarang lebih banyak pria atau wanita yang menekuni ajaran Buddha Dharma? Hanya mereka yang menekuni Dharma yang dapat diselamatkan; mereka yang tidak menekuninya tidak bisa terselamatkan.

Di Periode Akhir Dharma ini, kita seharusnya berteman dengan orang-orang baik, belajar Buddha Dharma dan bekerja bersama mereka. Jika berteman dengan orang yang salah, mungkin akan menyesatkan kita, dan kita mungkin kehilangan semua harapan dalam hidup ini. Kecelakaan pesawat baru-baru ini melibatkan 150 orang, itu disebabkan oleh ketidakstabilan mental kopilot. Setelah kotak hitam ditemukan, diketahui bahwa kopilot ingin bunuh diri. Saat kapten pilot meninggalkan kokpit, ia mengunci pintu. Rekaman kotak hitam menunjukkan bahwa sang kapten dengan panik menggedor-gedor pintu, mencoba membukanya, tetapi akhirnya kopilot menabrakkan pesawat ke gunung.  Meskipun kopilot ini  mungkin masuk neraka, namun 150 nyawa melayang bersamanya. Pikirkan, orang yang menekuni Dharma dengan baik, apakah Bodhisattva akan membiarkannya naik pesawat itu? Oleh karena itu, kita hanya boleh berteman dengan orang baik. Di periode akhir Dharma ini, jika kamu menemukan seseorang memiliki sifat-sifat buruk yang signifikan, kamu seharusnya tidak berteman dengannya, jika tidak, kamu pasti akan dirugikan.

Ada sebuah kisah nyata, dua orang berbisnis bersama dan keduanya menjadi kaya. Salah satu dari mereka, ingin menjebak yang lain, mengajarinya menggunakan narkoba, yang akhirnya menyebabkan dia bangkrut dan keluarga hancur. Pikirkan, betapa pentingnya berteman sekarang! Betapa beruntungnya kalian dapat mempelajari jalan yang benar dan ajaran Buddha Dharma hari ini! Ada membina diri di kehidupan sebelumnya, maka baru bisa mengenal ajaran Buddha Dharma di kehidupan ini. Sulit mendapatkan raga manusia tetapi sudah memilikinya sekarang, sulit mengenal ajaran Buddha Dharma tetapi sudah mengenalnya sekarang. Baik-baiklah menghargai jiwa kebijaksanaan diri sendiri, yaitu jangan menyia-nyiakan nyawa diri sendiri.

Kita harus memiliki seorang Buddha abadi di dalam hati. Selalu menempatkan Bodhisattva di dalam hati, barulah bisa memiliki pencerahan. Orang-orang zaman sekarang, kesadaran sangatlah penting. Anak muda, ketika berpacaran atau berteman, sering berkata, “Aku tidak punya perasaan padanya.” Tidak ada perasaan, maka tidak bisa tercerahkan. Jadi disebut “pencerahan”. Orang yang tercerahkan pasti memiliki perasaan, merasa bahwa hati nuraninya salah, merasa dirinya telah melakukan banyak kesalahan, merasa dirinya telah bersalah pada banyak orang… perasaan-perasaan ini membuat orang melahirkan potensi kesadaran. Tercerahkan ini berasal dari kesadaran, yaitu pencerahan. Dalam menekuni Dharma, kita harus memiliki kesadaran dan pencerahan yang benar. Baik-baiklah menggunakan potensi kesadaran ini untuk membangkitkan sifat dasar dan pikiran diri sendiri.

Kita harus ingat bahwa dalam menekuni Dharma , kita tidak boleh melekat pada rupa, suara, aroma, rasa, sentuhan, dan dharma, tidak boleh dibutakan oleh ketenaran dan kekayaan duniawi. Pikiran mengendalikan jiwa diri sendiri; begitu kita tergerak terhadap sesuatu, selanjutnya kita akan bersedih. Begitu kita mencintai sesuatu, selanjutnya kita akan terikat olehnya. Segala sesuatu yang kita lihat, dengar, cium, dan sentuh di dunia ini seharusnya dianggap sebagai ilusi. Jangan menyimpannya di dalam hati, agar tidak memunculkan pikiran-pikiran lain. Dalam Buddhisme dikatakan “pikiran tidak melekat”. Jangan biarkan pikiranmu berlabuh di dunia, tetapi harus melihat tembus terhadap segala sesuatu di dunia ini. Para umat yang begitu banyak di sini, ketika kalian masih muda, saat masih di bangku SD, saat gembira, saat bersedih, ke mana semua hal-hal itu? Semuanya telah menjadi mimpi ilusi dan bayangan gelembung, tidak ada lagi. Jangan pernah membiarkan orang atau hal yang membuatmu sedih atau gembira di dunia ini untuk menetap di dalam hatimu, karena hati akan merasakan penderitaan dan siksaan.

Mendengar ajaran Buddha Dharma, kita hendaknya mengembangkan pikiran yang bebas dari kemelekatan, yang berarti mengosongkan pikiran kita. Hanya ketika pikiran kosong, barulah dapat diisi dengan hal-hal yang baik dan segar. Penderitaan terbesar dalam hidup dapat diringkas menjadi delapan penderitaan: kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian, tak seorang pun dapat menghindarinya; penderitaan bertemu dengan  yang tidak disukai, harus melihat apa yang tidak ingin dilihat, dan harus berkontak dengan yang tidak ingin kontak dengannya; dan penderitaan spiritual adalah penderitaan karena cinta dan perpisahan, orang yang kamu cintai pergi meninggalkanmu. Ketika anggota keluarga sakit dan dirawat di rumah sakit, tidak ingin orang tua kita meninggal,  anak-anak yang tumbuh dewasa dan meninggalkan orang tua juga merasa sedih,hidup manusia terus bertumbuh dalam penderitaan. Adalagi penderitaan karena keinginan yang tak terpenuhi, karena kamu memiliki keinginan, maka pasti menderita — paling mudah untuk menghilangkan penderitaan ini, menderita karena keinginan yang tak terpenuhi, bukankah karena “keinginan“?Saya tidak mau lagi, saya tidak memohon lagi, maka dari mana datangnya penderitaan? Dalam menekuni Dharma harus disertai dengan kehidupan yang kekal, karena apa yang kita pelajari hari ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan batin yang abadi. Yang tidak pernah meninggalkan kita adalah hal-hal spiritual, sedangkan yang akan meninggalkan kita adalah hal-hal materi — yang cepat datang dan cepat berlalu. Namun hal-hal spiritual tidak akan pernah hilang atau pergi.

Seseorang yang memperoleh kebahagiaan abadi adalah orang yang memiliki kebahagiaan hati dan pikiran. Sekarang, apakah hati kalian merasa bahagia? Lebih bahagia daripada saat Tahun Baru, bukan? Mengapa demikian? Karena hal yang abadi adalah wujud dari kebijaksanaan. Ketika seseorang memiliki kebijaksanaan dalam pikirannya, ia dapat mengatasi segala hal. Ia tidak takut pada apa pun, orang seperti itu adalah Bodhisattva. Seseorang yang hidup di dunia ini mampu menanggung segala penderitaan, dapat memahami segala hal dengan jernih, tidak takut pada hal apa pun, juga tidak memohon dan tidak mengejar apa pun, orang seperti itu telah berhasil, ia adalah Bodhisattva di dunia.

Kita manusia sering kali mudah berbuat dosa dan menciptakan karma buruk, membuat kita menjauh dari kebijaksanaan. Itulah sebabnya banyak orang tidak memiliki kebijaksanaan. Orang yang berbuat jahat dan masuk penjara, mengapa mereka bisa tertangkap? Karena mereka telah meninggalkan prajna, tidak memiliki kebijaksanaan, mereka tidak tahu bagaimana menghadapi segala urusan di dunia ini. Meskipun perbuatan jahat tidak langsung mendapat balasan, namun hal itu seperti makanan yang baru mulai membusuk. Ketika dimakan, makanan itu akan berfermentasi di dalam perut, mengeluarkan bau busuk dan racun yang perlahan merusak tubuhmu. Demikian pula manusia, ketika perlahan-lahan merusak hati nuraninya sendiri dan menciptakan karma buruk, itu sama seperti memakan makanan yang sudah rusak. Walaupun saat dimakan tidak terasa apa-apa, tetapi ia membusuk di dalamnya. Ketika seseorang melakukan perbuatan jahat, meskipun orang lain tidak mengetahuinya, namun jiwanya sedang membusuk. Jika hal itu berlangsung lama, akan menumpuk menjadi dosa, rintangan karma, dan karma buruk. Rintangan karma terbentuk dari akumulasi, tidak akan menjadi orang jahat dalam satu hari. Jika seseorang setiap hari berbuat jahat, selama 365 hari, ia akan menjadi penjahat besar. Seorang murid yang menekuni Dharma tidak boleh berbuat jahat. Melakukan perbuatan baik saja rasanya tidak cukup waktu, bagaimana mungkin masih ada waktu untuk berbuat jahat? Melafalkan paritta saja tidak ada waktu, bahkan Xiao Fang Zi pun tidak sempat melafalkannya, bagaimana mungkin masih punya waktu untuk bertengkar dengan orang lain?

Ajaran Buddha Dharma mengajarkan tentang kesabaran. Sebenarnya, bersabar adalah hal yang baik, tetapi itu bukanlah tingkat kesadaran spiritual tertinggi, karena  masih ada kata “ren — sabar”, sehingga tidak bisa bertahan.  Tidak ada yang perlu “ditahan (sabar)”. Kita datang ke dunia ini adalah untuk mengikis karma dan menanggung penderitaan. Jika di dunia ini kamu masih merasa tidak adil, sedih, atau tidak bisa berpikiran terbuka, itu berarti kamu belum benar-benar melihat kebenaran dunia ini. Karena meskipun dunia ini termasuk Tiga Alam Baik, namun ia adalah yang paling buruk di antara ketiganya. Manusia sangat mudah, hanya dengan satu pikiran saja, bisa berubah menjadi hantu; dengan satu niat saja, bisa jatuh menjadi binatang atau hantu kelaparan. Jadi, manusia sangat bahaya, sedikit saja lengah, bisa menjadi orang jahat. Untuk menjadi orang baik, kita harus menekuni Dharma setiap hari. Pikirkan, “Apakah pikiran saya sama seperti pikiran Bodhisattva? Apakah perilaku saya sama seperti Bodhisattva? Apakah cara berpikir dan ucapan saya sama seperti Bodhisattva?” Hanya dengan begitu, barulah bisa menjadi seperti Bodhisattva.

Setiap manusia memiliki akar sifat buruk. Saat ini, karma bersama adalah semua orang egois, semua orang mementingkan diri sendiri, semua orang serakah. Di rumah juga serakah, juga demi diri sendiri, istri memikirkan dirinya sendiri, suami juga memikirkan dirinya sendiri. Suami merasa dirinya benar, istri pun merasa dirinya benar, lalu di mana kebenaran sejati? Mengapa keluarga sulit hidup rukun? Itu karena karma bersama, karena sifat egois dan keserakahan dalam dirimu. Kita yang menekuni Dharma dan menjadi individu yang baik harus melepaskan pikiran buruk dalam diri. Untuk menghirup udara segar, kita harus mengeluarkan hawa kotor, agar dapat mencapai tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Mengapa ajaran para Bodhisattva yang telah disampaikan ribuan tahun lalu masih dihormati, dikagumi, dan dipelajari oleh begitu banyak orang? Karena yang diajarkan adalah kebijaksanaan.

Seseorang yang hidup di dunia ini harus memiliki  tingkat kesadaran spiritual; harus melepaskan ego diri dan  menyempurnakan kepentingan universal. Walaupun setiap manusia memiliki sifat Kebuddhaan, namun sifat Kebuddhaan itu terselubungi oleh kekotoran dari lima nafsu dan enam kekotoran duniawi, sehingga tidak dapat menemukan kebijaksanaan dan kebajikan. Itulah sebabnya, ketika orang-orang sekarang menghadapi masalah, mereka menjadi bodoh, menghadapi masalah akan hilang kebijaksanaannya.

Bagaimana cara memiliki kebijaksanaan seorang Bodhisattva? Pikirkan apa yang sering dikatakan oleh Bodhisattva: Orang bijak tiada musuh. Orang yang memiliki kebijaksanaan, pertama, tidak memiliki musuh; kedua, kita harus memahami bahwa hidup ini tidak kekal. Dunia ini bagaikan sebuah kereta kehidupan dan kematian, tidak ada seorang pun yang akan menemanimu dari lahir hingga akhir hayat, semuanya adalah datang dan pergi. Ketika kereta berhenti di suatu stasiun, mungkin ia akan turun dan meninggalkanmu, dan kamu terus melanjutkan perjalananmu; Hingga suatu hari nanti, kamu juga akan turun dari kereta itu. Baik pernikahan maupun anak-anak, semuanya hanyalah teman seperjalanan dalam hidupmu. Jangan memandangnya terlalu serius, tetapi juga jangan terlalu meremehkan. Perjalanan hidup ini adalah kereta yang kamu kemudikan sendiri.

Kita praktisi Buddhis harus memahami bahwa seberapa pun besar kesulitan yang kita hadapi dalam hidup, semuanya tidak terjadi secara kebetulan. Itu adalah hasil dari perbuatan di kehidupan lampau dan kehidupan sekarang. Orang yang memahami hukum sebab-akibat serta mengerti hubungan antara kehidupan lampau dan kehidupan sekarang adalah orang yang telah mencapai pencerahan agung. Menekuni ajaran Buddha Dharma adalah perjalanan jangka panjang. Kita harus memiliki keyakinan yang teguh, harus bertahan, harus belajar untuk bersabar terlebih dahulu, lalu mencari cara untuk menguraikannya. Cara terbaik untuk menguraikan adalah dengan melihat segala sesuatu secara jernih, memahami kebenarannya, dan melepaskannya. Semua orang di dunia ini terbentuk karena perpaduan dari sebab musabab. Mengapa hari ini kamu terlahir di keluarga dengan orang tua seperti ini?

Kesuksesan seseorang tidak terjadi secara kebetulan. Begitu pula dengan pernikahan dan pertemanan seseorang, ada orang yang mudah cocok saat bergaul, ada pula yang sulit untuk sejalan. Sebenarnya, semua itu berkaitan dengan kehidupan lampau. Oleh karena itu, ketika melihat orang lain hidupnya baik, jangan merasa iri. Setiap keberhasilan seseorang pasti memiliki alasannya sendiri. Ada orang yang berpenampilan tampan, itu karena di kehidupan sebelumnya ia setiap hari mempersembahkan bunga kepada Bodhisattva.

Master sangat lelah setelah naik pesawat, namun tetap ingin melihat kalian semua — para murid, teman se-Dharma, dan para Bhiksu yang sangat saya hormati. Hubungan antar manusia adalah perasaan. Pada awalnya, kita semua tidak saling mengenal, tidak memiliki perasaan, tetapi perlahan-lahan hati kita menjadi saling terhubung. Perasaan seperti apa yang membuat kita bisa berjalan bersama? Itulah perasaan dalam Dharma Buddha — 佛情 (fo qing). Kasih sayang dalam keluarga bisa memudar, bisa memburuk, bahkan bisa hilang. Namun, kasih dalam Dharma Buddha akan selalu abadi, karena Buddha yang hidup dalam pikiran kita yang menyatukan hati kita dengan Buddha. Maka disebut perpaduan antara hati dan Buddha.

Mengapa begitu sulit untuk mencapai tingkat Kebuddhaan? Bagaimana caranya agar benar-benar dapat mencapai tingkat Kebuddhaan? Membina pikiran dengan sungguh-sungguh adalah jalan dasar menuju keberhasilan mencapai tingkat Kebuddhaan. Praktisi Buddhis harus jujur dan bersungguh-sungguh. Betapa serakahnya kalian, saat melafalkan paritta Li Fo Da Chan Hui Wen, menyebutkan nama suci Pu Sa terlalu cepat. Pu Sa baru saja hendak memberkati kalian, sudah lewat. Pu Sa melalui tubuh Dharma Master memberi tahu kepada para teman se-Dharma bahwa tidak boleh melafalkan terlalu cepat. Misalnya, hari ini kamu mengundang banyak tamu dan harus menyebutkan nama mereka. “Kami mengundang XXX,” lalu bertepuk tangan, kemudian “YYY” bertepuk tangan lagi. Jika sekaligus “XXX, YYY, ……” tidak mengucapkannya dengan jelas, itu tidak hormat. Saat melafalkan nama suci Pu Sa harus pelan-pelan, bagian lain boleh dilafalkan lebih cepat. Energi paritta Li Fo Da Chan Hui Wen sangat kuat sekali. Para Bodhisattva datang untuk membantu kalian mengikis karma. Jika dilafalkan terlalu cepat, itu berarti kita tidak menghormati para Bodhisattva.