Potensi Kesadaran Memiliki Kebijaksanaan, Welas Asih Memasuki Pintu Buddha (Bagian 1) 悟性拥有智慧 慈悲进入佛门 (上)

Potensi Kesadaran Memiliki Kebijaksanaan, Welas Asih Memasuki Pintu Buddha (Bagian1)

Seminar Dharma Los Angeles - Amerika Serikat, 2 Mei 2015

Hujan Dharma Bodhisattva menyirami Alam Manusia. Semoga semua orang di dunia ini berhati baik, penuh welas asih, terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada Naga Langit Pelindung Dharma. Terima kasih kepada para biksu, para tamu kehormatan, sahabat dari dunia media, serta para relawan dari berbagai negara di seluruh dunia, jasa kebajikan tiada tara. Terima kasih semuanya.

Orang-orang zaman sekarang menghadapi berbagai ancaman dan hidup dalam ketakutan yang mendalam setiap hari. Di seluruh dunia, setiap menit terdapat 106 orang meninggal dunia, dan setiap tahun jumlahnya mencapai 5,5 juta orang. Di antara mereka, sekitar satu juta orang meninggal atau bunuh diri setiap tahun karena masalah psikologis seperti tekanan keluarga, anak, kesehatan, depresi, fobia, dan autisme. Keluar rumah takut kecelakaan, di rumah memiliki banyak kerisauan. Bulan lalu, seorang pria menjual kantor pengacara miliknya di Tiongkok dan datang ke pinggiran kota Newcastle, Sydney, untuk berkumpul kembali dengan istrinya. Namun, sang istri memberitahunya bahwa ia sudah memiliki kekasih baru dan ingin berpisah. Ia bahkan menceritakan betapa perhatian dan baiknya kekasih barunya ini. Hari pertama, suami istri itu bertengkar hebat. Keesokan harinya, sang suami dilanda depresi, semakin dipikir semakin marah, hingga akhirnya mengambil pisau dan menikam istrinya enam puluh kali, sangat sadis. Setelah menyerahkan diri, ia dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara karena menderita depresi. Seorang kopilot maskapai penerbangan Jerman karena depresi parah, memilih mengakhiri hidupnya dengan membawa serta 150 penumpang.

Penyakit pikiran telah menjadi hambatan terbesar dalam kehidupan manusia. Semakin banyak orang yang tidak mampu berpikir jernih. Orang yang tidak bisa berpikir jernih tidak memiliki kebijaksanaan, hidupnya dipenuhi kerisauan, hatinya tidak tenang. Melihat orang lain baik atau buruk pun akan menimbulkan berbagai pikiran negatif. Inilah yang dalam ajaran Buddha disebut sebagai “kebocoran”. Seseorang yang hidup di dunia ini, jika tidak tahu berpuas diri, ia akan terus mengejar. Semakin dikejar, semakin menderita; semakin menderita, semakin banyak kebocoran. “Kebocoran” ini adalah melakukan kesalahan.

Dalam ajaran Buddha, terdapat empat jenis ketidaktahuan. Seseorang paling mudah berbuat kesalahan dalam keempat hal ini.

Yang pertama adalah cinta. Ketika seseorang mencintai orang lain, ia bisa menjadi gila, bisa kehilangan akal sehat. Cinta seperti ini, dalam Buddhisme termasuk cinta yang tidak memahami alasan mengapa ia mencintai. Master sering mengatakan kepada semua orang bahwa setelah seorang ibu melahirkan anaknya, orang pertama yang menjadi “kekasih” bagi sang anak adalah ibunya sendiri. Semua ini merupakan jalinan jodoh dari kehidupan lampau, maka dalam hal cinta, kita harus berhati-hati.

Yang kedua adalah keserakahan. Setiap hari kita hidup dengan cukup baik, tetapi mengapa kita tetap merasa tidak puas dan tidak bahagia? Karena kita terlalu serakah. Saat pertama kali tiba di luar negeri, kita merasa memiliki sebuah mobil sudah cukup, memiliki sebuah rumah pun sudah memadai. Namun, mengapa kemudian merasa rumah itu terlalu kecil, ingin memiliki vila besar, dan akhirnya ingin membeli rumah di tepi pantai? Karena ini adalah nafsu keserakahan manusia.

Manusia hidup dalam ketidaktahuan, karena tidak memahami hubungan antar manusia di dunia ini, maka menjadi semakin bodoh dan melakukan banyak hal yang tidak bisa dipahami. Bagaimana kerisauan datang? Ketika kamu tidak tahu bahwa anak ini datang untuk menagih hutang karma, kamu pasti akan merasa risau. Ketika kamu tidak tahu bahwa hubunganmu dengan suamimu adalah jalinan jodoh buruk dari masa lalu, kamu akan merasa semakin risau. Kerisauan setiap hari berarti setiap hari kamu sedang “bocor”,  membiarkan perasaan yang baik bocor, membiarkan jodoh yang sangat baik menjadi bocor habis. Ketika semua “kebocoran” itu habis, maka hidup pun berakhir. Ketika kamu bocor habis,  dalam istilah duniawi menyebutnya “mati karena gelisah”. Saat itulah kehidupan seseorang berakhir dalam penderitaan.

Orang-orang zaman sekarang tidak memiliki keyakinan. Keyakinan mereka adalah nafsu keinginan. Sudah baik masih ingin lebih baik, rumah sudah besar masih ingin yang lebih besar, ingin punya mobil, satu istri tidak cukup masih mau mencari di luar. Semua itu adalah nafsu keinginan. Jadi, kehilangan ketenangan batin disebabkan oleh nafsu keinginan. Ketika seseorang tidak lagi ingin memperoleh lebih banyak, nafsu keinginannya akan semakin berkurang. Namun ketika ia mendapatkan banyak, justru hatinya menjadi sakit. Semakin banyak yang didapatkan, semakin berat beban yang ditanggung, dan saat meninggal dunia, penderitaannya pun semakin besar. Semakin sedikit, orang akan menjadi semakin ringan.

Berpikir terbuka dan memahami dengan jernih adalah ajaran para Bodhisattva tentang tiada nafsu keinginan, hati dengan sendirinya akan tenang seperti air. Seseorang yang tidak memiliki nafsu keinginan hidup di dunia ini adalah orang yang bahagia, sedangkan orang yang setiap hari ingin mendapatkan sesuatu namun tidak bisa memperolehnya adalah orang yang menderita. Belajar Buddha Dharma memang ada sedikit penderitaan, harus belajar menahan diri, belajar menjaga diri, dan itu tidak mudah. Banyak hal yang diinginkan tidak boleh dikejar, banyak hal yang ingin dimiliki tidak boleh dimiliki, banyak hal yang ingin dilihat tidak boleh dilihat. Namun penderitaan orang yang belajar Buddha Dharma hanyalah sementara, sedangkan penderitaan orang yang tidak belajar Buddha Dharma adalah seumur hidup.

Hari ini, Bodhisattva welas asih, khusus memberikan wejangan berupa sepasang kalimat: “Potensi kesadaran memiliki kebijaksanaan, welas asih membawa masuk ke pintu Buddha.” Ketika seseorang telah tercerahkan, ia akan memiliki banyak kebijaksanaan. Hanya ketika seseorang mampu berpikiran terbuka dan mengerti kebenaran, barulah ia memiliki kebijaksanaan. Orang yang welas asih yang akan menyembah Buddha. Jika seseorang setiap hari dipenuhi kebencian, tidak mau bergaul dengan orang lain, setiap hari iri pada orang lain, dan sedih, ia tidak memiliki hati welas asih, ia tidak dapat memasuki pintu ajaran Buddha. Ada empat huruf pada tulisan horizontalnya berbunyi: “Sifat dasar adalah Buddha.” Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu atas welas asih-Nya. Orang yang dapat hadir hari ini sungguh beruntung.

Cinta dan keserakahan di dunia dapat melukai hati kita. Ketidakpahaman manusia terhadap hal-hal dan cara menjadi manusia disebut ketidaktahuan. Banyak orang tidak tahu untuk apa mereka datang ke dunia ini, sehingga mereka menjadi semakin tidak mengerti. Coba pikirkan, mengapa suami istri selalu bertengkar? Mengapa anak yang lahir adalah datang untuk menagih utang? Semua ini adalah jodoh, jodoh buruk belum berakhir. Jika seseorang tidak memahami, ia akan membenci suaminya setiap hari, membenci istrinya, bahkan merasa tidak suka pada anaknya sendiri. Ketidaktahuan akan melahirkan banyak kerisauan dalam kesadaran diri sendiri, membuat seseorang merasa hidup ini tidak ada artinya. Banyak orang ketika menghadapi masalah sering berkata bahwa hidup tidak berarti. Energi negatif yang terus menumpuk seperti ini membuat seseorang mudah terpancing dan kehilangan kendali. Seseorang yang lama mengalami depresi kesedihan, dan sakit hati,  akan membuatnya mudah marah. Dalam hidup, tidak ada satu pun yang bisa kita bawa pergi, hanya karma yang akan menyertai kita. Ketika mentalitas seseorang tidak seimbang, penuh kerisauan, dan tidak tenang, kebodohan akan tumbuh dalam dirinya. Orang-orang zaman sekarang sering merasa iri ketika melihat orang lain bahagia, dan merasa senang ketika melihat orang lain menderita — ini adalah kondisi batin yang menyimpang. Seorang manusia seharusnya berharap semua orang hidup dengan baik, sementara dirinya menanggung penderitaan. Ini barulah disebut Bodhisattva.

Kualitas moral seseorang adalah dasar dalam menekuni Dharma. Ada seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun, berpakaian sangat anggun, ia membawa anak laki-lakinya berjalan ke taman di bawah sebuah gedung perusahaan untuk makan. Tidak jauh dari mereka, ada seorang kakek yang sedang memangkas tanaman. Ketika wanita dan anaknya sedang makan, mereka membuang selembar kertas bekas ke tanah. Kakek itu tidak berkata apa-apa, hanya berjalan mendekat, memungut kertas itu, lalu membuangnya ke tempat sampah di dekat situ. Tak lama kemudian, wanita itu kembali membuang sampah, dan kakek itu sekali lagi memungutnya dan membuangnya ke tempat sampah. Hal itu terjadi tiga kali berturut-turut, dan sang kakek tetap tidak mengucapkan sepatah kata pun. Wanita itu lalu menunjuk ke arah kakek itu dan berkata, “Nak, kamu sudah melihatnya, bukan? Kalau kamu tidak belajar dengan sungguh-sungguh, nanti kamu hanya bisa melakukan pekerjaan rendahan seperti itu.” Kakek itu mendengar perkataannya, lalu berjalan mendekat dan berkata, “Halo nyonya. Ini adalah taman pribadi milik perusahaan kami. Boleh saya tahu bagaimana Anda bisa masuk ke sini?” Wanita paruh baya itu dengan nada sombong menjawab: “Saya adalah manajer departemen yang baru diterima bekerja.” Pada saat itu, seorang pria berpakaian jas rapi datang menghampiri, berdiri dengan hormat di depan kakek itu, dan berkata, “Pak CEO, rapat akan segera dimulai. Mohon Anda bersiap untuk hadir.” Kakek itu menoleh kepada pria itu dan berkata, “Saya mengusulkan agar jabatan wanita ini dicabut.” Kemudian, kakek itu berjalan mendekati anak laki-laki kecil itu dan berkata dengan penuh makna, “Nak, saya berharap kamu mengerti bahwa di dunia ini, kita harus belajar menghormati setiap orang dan hasil kerja keras setiap orang.” Wanita paruh baya itu tertegun, duduk lemas di kursinya. Jika ia tahu bahwa orang tua itu adalah CEO perusahaan, ia pasti tidak akan bersikap seperti tadi. Menghormati setiap orang tanpa membeda-bedakan status adalah cerminan dari etika dan keanggunan seseorang. Dalam menekuni Dharma dan berperilaku sebagai seorang manusia, keanggunan tidak bisa dibuat-buat. Jika seseorang tidak dapat menumbuhkan kemuliaan hati dari dalam dirinya, maka yang akan tampak hanyalah kepalsuan dirinya di dunia ini. Kekayaan tidak selalu menjadi teman seumur hidup, tetapi belajar menghormati orang lain akan membuat kita memiliki kekayaan batin yang sejati. Ini barulah tingkat kesadaran spiritual seorang praktisi Buddhis.

Ada orang yang setelah mengalami kegagalan dalam hidup, masih berusaha mencari apa yang tersisa, apa yang masih bisa diperoleh, dan apa yang masih tertinggal dari kegagalan itu. Jika setiap hari kita terus bersedih, menyesal, dan murung karena kegagalan, itu sama saja seperti mengadakan upacara peringatan untuk kesalahan yang pernah kita lakukan,hidup dalam keluhan dan penderitaan di dunia ini. Banyak orang tidak memahami penyebab dari kesalahan yang mereka perbuat, sehingga mereka akan terus mengulanginya. Banyak wanita yang berwatak keras kepala; ketika pernikahan pertamanya gagal, ia merasa bahwa kesalahannya ada pada pihak pria, lalu mencari pasangan baru. Pria kedua memang memiliki sifat yang lebih baik daripada suami pertama, tetapi karena ia masih membawa kebiasaan lamanya, akhirnya ia kembali kehilangan pria kedua itu. Oleh karena itu, dalam menekuni Dharma dan berperilaku, kita harus belajar mencari kekurangan dan kesalahan dari diri sendiri. Kita harus memahami bahwa banyak kesalahan dalam hidup ini berasal dari diri kita sendiri, dan sebagian lainnya adalah rintangan karma yang harus kita lalui. Dari setiap kegagalan, kita harus menemukan benih kebahagiaan untuk masa depan, dan belajar memandang dunia dengan senyuman. Penderitaan muncul karena kita tidak memahami sebab dari keberhasilan. Banyak orang tidak tahu bagaimana cara menjadi manusia yang baik, dan karena itulah mereka hidup dalam penderitaan.

Segala sesuatu di dunia ini adalah tidak kekal. Apa yang kita miliki hari ini tidak berarti akan kita miliki selamanya, dan apa yang kita kehilangan hari ini tidak berarti selamanya akan hilang. Kita harus belajar melihat dengan jernih dan melepaskan. Semakin banyak yang kita miliki, semakin besar pula penderitaan kita, karena pada akhirnya semua yang kita miliki akan kehilangan juga. Hari ini kita memiliki segala sesuatu di dunia ini, namun yang kita kehilangan juga adalah hal-hal duniawi yang selamanya. Dalam kereta perjalanan hidup ini, kita datang ke dunia ini tanpa membawa apa pun. Meskipun kita berusaha keras untuk memperoleh sebanyak mungkin harta di dunia, tidak ada satu sen pun yang bisa kita bawa pergi, pada akhirnya hanyalah sebuah peti kecil. Semoga semua orang dapat berpikiran jernih dan memahami kebenaran ini.

Ada seorang penjual vas bunga yang memikul dua keranjang berisi vas-vas yang indah di kedua sisinya. Ia terus berjalan ke depan. Tiba-tiba salah satu vas yang paling indah dan halus jatuh ke tanah dan pecah. Namun, ia tidak menoleh sedikit pun dan tetap melangkah maju. Seseorang di pinggir jalan menegurnya, “Vas bungamu pecah, kenapa tidak melihatnya sama sekali?” Penjual itu menjawab, “Sudah pecah, untuk apa dilihat lagi?” Hidup kita juga seperti itu. Orang yang terus menatap masa lalu tidak akan pernah melihat masa depan. Hanya mereka yang menghargai hari ini yang akan memiliki hari esok. Para ilmuwan telah membuktikan bahwa 80% isi pikiran manusia dipenuhi oleh penyesalan dan penderitaan, sedangkan hanya 20% yang berisi kebahagiaan dan kegembiraan. Seseorang yang sering mengenang masa lalu akan sering merasa menderita. Orang yang tidak bisa berpikir jernih itu karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sudah berlalu. Master berharap kalian tidak lagi memikirkan masa lalu, karena kita masih memiliki hari esok.

Dalam Sutra Vajra (Jin Gang Jing) dikatakan: masa lalu tidak dapat diperoleh, masa depan tidak dapat diperoleh, dan masa kini pun tidak dapat diperoleh. Coba pikirkan, lima puluh tahun nanti, di manakah semua orang yang hadir di sini hari ini? Kamu yang hari ini masih dipenuhi kerisaun, ketika suatu hari nanti kamu terbaring di rumah sakit, akan meninggalkan dunia ini, apakah kamu masih akan mengingat kerisauanmu hari ini? Semua kerisauan, ketakutan, dan kesedihan yang kita alami saat masih di sekolah dasar, ke mana semuanya pergi? Sudah tidak ada lagi. Hari ini kita tidak lagi mengingat kesedihan dan kepedihan masa kecil itu. Berharap semua orang dapat melupakan masa lalu dan tahu untuk menghargai.

Orang-orang zaman sekarang setiap hari berbicara tentang kesehatan, tetapi setiap hari merokok dan minum alkohol, merusak diri sendiri. Tubuh dan pikiran memiliki hubungan yang sangat erat. Dalam budaya tradisional Tiongkok, diajarkan tentang keseimbangan yin dan yang. Jika dalam asupan gizi seseorang menumpuk terlalu banyak lemak, hal itu akan merusak jantung, meningkatkan kolesterol, dan menjadi beban bagi tubuh. Seseorang yang memiliki terlalu banyak harta benda dan berutang perasaan, mentalitasnya akan merasa semakin tidak tenang. Praktisi Buddhis yang membina pikiran harus membina mentalitas menjadi baik, mentalitas harus seimbang. Mentalitas orang-orang zaman sekarang menyebabkan kesedihan seumur hidup; orang yang mentalitasnya tidak baik nasibnya pasti sangat menderita. Melihat orang lain bahagia, kita harus ikut berbahagia; melihat orang lain menderita, kita harus turut merasakan penderitaannya — inilah makna “orang lain terluka, saya pun merasa sakit.” Setelah menekuni Dharma, berharap semua orang dapat memiliki sikap: “Yang bukan milikku, Aku tidak menginginkannya; Aku sudah puas, Aku sudah cukup.” Di dunia ini, jangan menginginkan terlalu banyak. Terlalu banyak keinginan hanya akan melukai diri sendiri: terlalu banyak perasaan membuat hati terluka, terlalu banyak makanan merusak lambung, terlalu banyak tekanan merusak tubuh, dan terlalu banyak pacar menguras uang.

Para Buddha dan Bodhisattva mengajarkan kita tentang pandangan dan jalan tengah. Dalam melihat suatu masalah, kita harus berdiri di posisi tengah, jangan merendahkan orang lain, jangan pula menganggap seseorang terlalu buruk, dan juga jangan menilainya terlalu baik. Bersikaplah sesuai kenyataan, inilah yang dikatakan oleh Konfusius sebagai jalan tengah. Manusia harus belajar menyesuaikan sikap dan cara berpikirnya. Misalnya, dua orang pergi makan di restoran prasmanan, tetapi waktu tersisa hanya lima belas menit. Saat mereka tiba, semua hidangan sudah dibereskan, hanya tersisa roti. Orang pertama berkata, “Aduh, datangnya terlambat, makanannya sudah habis, seharusnya tidak datang ke sini makan!” Ia  sangat marah sekali. Sedangkan orang kedua berkata, “Wah, bagus sekali, ternyata masih ada roti! Saya kira sudah tidak ada apa-apa lagi.” Hal yang sama, jika kita memandangnya dengan hati yang baik dan positif, maka hasilnya juga akan baik. Jangan mudah marah.

Kadang-kadang seseorang bertengkar denganmu, itu karena ada arwah asing di tubuhnya. Terkadang saat sedang bertengkar, kamu lihat wajah orang itu sudah bukan seperti dirinya lagi, wajahnya menjadi garang dan menyeramkan. Sebenarnya, itu karena arwah asing telah merasuki dirinya. Jika kamu bertengkar dengan arwah asing, kamu akan melukai sifat dasarmu sendiri. Jika tidak ingin sakit hati, belajarlah bersabar, dan berpikiran terbuka, tingkat kesadaran spiritual yang tercerahkan. Mengapa manusia merasa risau? Karena manusia selalu membayangkan kerisauan yang belum terjadi, dan sudah takut akan “kemungkinan yang akan datang”. Kita hidup di dunia ini tidak akan terjadi banyak hal, karena manusia terus-menerus mencemaskan hal-hal itu akan terjadi, sehingga mereka akan kehilangan kebahagiaan. Seperti anak muda yang sedang jatuh cinta, setiap hari khawatir kekasih cantiknya akan meninggalkannya. Melihat kekasihnya bermain ponsel, langsung bertanya sedang menelepon siapa, depresi setiap hari. Jangan khawatir, jika hari ini dia benar-benar meninggalkanmu, itu berarti kalian memang tidak berjodoh.

Shakespeare pernah berkata: Selama kita masih hidup di dunia ini, tidak peduli kerisauan dan kesulitan apa pun yang dibawa oleh usia tua, penyakit, kemiskinan, bahkan penjara, dibandingkan dengan rasa takut akan kematian, kita sebenarnya sudah seolah-olah hidup di surga. Maksud dari perkataan Shakespeare ini adalah agar kita belajar untuk menanggung penderitaan. Di dunia ini, kita perlu belajar “memakan” dua hal: yang pertama adalah pahitnya penderitaan, dan yang kedua adalah kerugian. Hanya dengan begitu, kita baru bisa selalu bahagia.

Dunia ini penuh dengan ketidakkekalan karena pada dasarnya dunia ini memang tidak sempurna. Manusia selalu hidup dengan hati yang menginginkan kesempurnaan di dalam dunia yang tidak sempurna, bagaimana mungkin hati bisa tetap sempurna? Kesalahan terbesar manusia adalah mengira dirinya mampu melakukan segala sesuatu dengan sangat baik. Setelah belajar Buddha Dharma, hati hendaknya menjadi tenang seperti air. Kita harus menyadari bahwa kehidupan yang penuh kekurangan adalah hal yang wajar. Hidup di dunia ini, hari ini merasa tidak puas, besok merasa tidak cukup, lusa terjadi sesuatu lagi — semua itu adalah hal yang normal. Kita harus belajar menerima keadaan apa adanya. Jika sesuatu sudah terjadi pada diri saya, maka saya akan menghadapinya dengan baik, harus belajar bertoleransi dan menerima keadaan dengan tenang; sikap ini adalah obat mujarab bagi praktisi Buddhis untuk menahan amarahnya. Di tengah masyarakat modern yang penuh dengan kerisauan ini, mampu menenangkan hati, mampu memikirkan orang lain, dan mampu memahami perasaan sesama — itulah Zen.