Bodhisattva Selalu Menetap di Hati, dengan Welas Asih Merasakan dan Menyadari Pikiran Buddha (Bagian 2)
Seminar Dharma Perth - Australia, 8 Maret 2015
Kita manusia seringkali mendengar sebagian dan mudah mempercayai sebelah pihak saja. Beberapa hal jangan dengarkan perkataan orang lain, maka tidak akan ada kerisauan. Masalah banyak orang adalah hidup di mata dan mulut orang lain, “Bagaimana orang lain melihat saya? Bagaimana orang lain berkata tentang saya? Saya kehilangan gengsi…” Lalu dirinya akan merasa sedih, terlalu mementingkan gengsi hanya akan membuat hidup menderita. Jangan membuat diri sendiri susah.
Ada seorang gadis kecil bernama Sophia, duduk di kelas dua. Suatu hari ia pulang sambil menangis sedih. Dia berkata, “Ayah, ada seorang teman sekelasku bilang aku jelek dan bodoh, dan bilang gaya berjalanku sangat jelek.” Ayahnya berkata kepadanya, “Nak, kamu bisa menyentuh langit-langit dengan tanganmu.” Sophia merasa sangat aneh dan berkata, “Ayah, langit-langitnya begitu tinggi. Ayah melompat pun tidak bisa mencapainya, bagaimana aku bisa menyentuhnya?” Ayahnya berkata, “Tidak percaya, kan?” Maka kamu juga jangan percaya pada perkataan teman-temanmu, karena ada beberapa orang yang ucapannya tidak sesuai dengan kenyataan!” Perkataan ayah membuat Sofia mengerti bahwa hidup di dunia ini tidak boleh terlalu memedulikan perkataan orang lain. Setelah dewasa, Sofia menjadi seorang aktris. Suatu kali, manajernya tidak mengizinkannya mengikuti sebuah kegiatan amal, katanya Sofia seharusnya mengikuti acara-acara besar yang dihadiri para selebriti terkenal dan berpengaruh. Namun, Sofia tetap bersikeras untuk ikut, dan hasilnya, berkat kegiatan amal itu, popularitas Sofia pun meningkat dengan cepat. Ketika pendapat dan pemikiran seseorang tidak dipahami dan didukung oleh banyak orang, langkahnya untuk maju akan menghadapi hambatan, tetapi jangan biarkan pikiran dan keyakinanmu tergoyahkan. Selama menemukan jalan yang benar, pastikan bahwa dirimu pasti bisa sampai ke tujuan. Kita harus tetap berusaha menjadi orang baik, karena orang baik pasti akan mendapatkan balasan yang baik. Kita juga harus terus melakukan perbuatan baik, karena perbuatan baik dilakukan oleh orang baik, dan orang yang sering berbuat baiklah yang benar-benar disebut orang baik. Oleh karena itu, ada istilah “Orang baik dan perbuatan baik”.
Orang-orang di masyarakat modern menjadikan nafsu keinginan sebagai harapan mereka. Setiap orang tidak memiliki harapan, lalu berpikir, “Saya ingin uang, saya ingin ketenaran, saya ingin kekayaan, inilah harapan saya.” Mereka hidup dalam sesuatu yang semu dan tidak nyata, tidak tahu apa lagi yang bisa didapatkan di dunia ini, hidup dalam bayangan dan angan-angan. Ada yang hidup dalam kenangan pahitnya sendiri, ada juga yang hidup hanya untuk melanjutkan hidup tanpa tujuan, hari demi hari, tahun demi tahun. Minggu lalu, ada seorang teman se-Dharma menelepon dan bertanya, “Master, mengapa sekarang waktu terasa berlalu semakin cepat?” Apakah kalian juga merasakan hal yang sama? Tiba-tiba saja satu tahun sudah berlalu, mengapa? Sekarang balasan karma juga datang semakin cepat. Dulu ada pepatah, “Orang bijak membalas dendam, sepuluh tahun pun tidak terlambat.” Sekarang, kalau kamu memaki seseorang, dia langsung membalas memaki kamu. Jika kamu tidak baik pada istrimu, malam ini dia akan menaruh banyak garam di masakannya. Kamu bertanya, “Kenapa “xian — asin” sekali?” Dia menjawab, “Bukankah kamu bilang aku ‘xian qi — istri yang baik’?”
Masyarakat alami menambah tekanan batin pada kita. Kita sepanjang hari berada dalam keadaan gelisah, murung, khawatir, dan takut. Hal yang sangat sederhana bisa membuat kita memikirkannya setengah hari. Sesuatu yang seharusnya bisa menyesuaikan jodoh justru kita pikirkan semakin rumit, sehingga kita akan menjadi semakin menderita. Banyak hal sebenarnya hanya kita pikirkan sendiri, bukan benar-benar kita alami. Bodhisattva berkata, segala sesuatu berasal dari pikiran. Pikiran yang menciptakan penderitaan kita sendiri. Semakin dipikirkan, semakin menderita, semakin dipikirkan, semakin tidak bisa menemukan jalan keluar. Banyak orang seperti ini, semakin lama semakin menderita dan sedih, pada akhirnya “Sudahlah, tidak apa-apa, mau bagaimana lagi?” Setelah melepaskan, malah terasa lebih ringan. Ada seorang biksu tua yang meminta seseorang memegang cangkir, lalu menuangkan air panas terus-menerus ke dalamnya. Airnya meluap, orang itu tetap tidak melepaskan, sampai akhirnya terlalu panas dan ia pun melepaskannya. Hubungan perasaan juga seperti itu, setelah dilepaskan ternyata tidak ada apa-apa. “Anak ini milikku, Aku tidak bisa melepaskannya,” tapi jika benar-benar dilepaskan, ya sudah melepaskannya. Saat muda, siapa di antara kalian yang tidak pernah jatuh cinta? Saat putus, rasanya sangat sedih, bahkan ingin bunuh diri. Tapi sekarang, meskipun bertemu lagi dengannya, “Apa kabar? Sudah menikah? Punya berapa anak?” Sudah tidak punya perasaan seperti dulu, yang lalu biarlah berlalu. Maka dari itu, dalam “Jing Gang Jing — Sutra Vajra” dikatakan, masa lalu tidak dapat diperoleh, masa kini tidak dapat diperoleh, masa depan pun tidak dapat diperoleh.
Sumber dari penderitaan sebenarnya adalah karena kita tidak bisa berpikir jernih, yaitu pikiran negatif kita sendiri yang menyebabkannya. Hidup ini singkat, balasan karma selalu hadir dalam kehidupan kita setiap hari. Kita harus belajar mengendalikan sifat dan karakter diri sendiri. Orang-orang zaman sekarang sama sekali tidak bisa mengendalikan diri sendiri, tidak bisa menahan emosi, akhirnya harus bertengkar, harus merasa sedih, harus terus berdebat sampai akhir, sungguh sulit! Bahkan saat ingin diet pun tidak bisa menahan diri, melihat makanan enak langsung makan banyak-banyak, bagaimana mungkin bisa mengendalikan suasana hati sendiri? Segala macam manajemen ada, ada manajemen perusahaan, manajemen properti… tapi apakah ada manajemen emosi? Kalian belum pernah belajar, bukan? Master mengajarkan kalian untuk belajar manajemen emosi, kelola emosi kalian dengan baik, jangan mudah marah, belajarlah mencintai orang lain, berwelas asih kepada orang lain, dan belajar menempatkan diri pada posisi orang lain, maka kamu akan hidup dengan semakin baik.
Di Guizhou, ada seorang rekan se-Dharma bernama Xiao Liu, seorang mahasiswa berusia 28 tahun. Setelah menikah, pada bulan April 2014 ia melahirkan seorang bayi perempuan dengan berat 3,1kg. Saat itu, bayi tersebut mengalami pembesaran lambung, paru-paru menggelembung, saluran tenggorokan tidak berkembang dengan baik, dan menderita meningitis. Dokter khawatir jika diambil sumsum tulangnya, bayi itu tidak akan kuat menahan, dan mengatakan bahwa penyakitnya sama sekali tidak bisa diobati. Xiao Liu dan suaminya pun membawa pulang bayi mereka yang sudah sekarat. Saat itu berat badan sang bayi tinggal kurang dari 2kg, tidak bisa menyusu, hanya bertahan hidup dengan suntikan nutrisi. Suami istri berdua menangis setiap hari, merasa sangat menderita sekali. Di saat Xiao Liu berada dalam penderitaan terdalam, seorang temannya memperkenalkan ajaran Xin Ling Fa Men kepadanya, memintanya untuk mendengarkan rekaman dan membaca paritta PR harian. Ia berkata bahwa dirinya sudah tidak punya harapan lagi, lalu mendengar tentang Master Lu, dan mencoba berpegang pada satu-satunya harapan yang tersisa, mencobanya. Hasilnya, tanpa minum satu butir obat pun, setelah membakar 30 lembar Xiao Fang Zi, bayinya mulai bisa menyusu dan tubuhnya mulai berisi, sama seperti anak-anak normal seusianya. Setelah membaca 70 lembar Xiao Fang Zi, anak itu sudah benar-benar normal, sama seperti anak-anak normal lainnya. Semua ini benar-benar terjadi. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa!
Seseorang memiliki hal baik, itu adalah buah karma baik. Buah karma baik didapat karena menanam kebaikan. Ada yang bertanya, “Master, mengapa ada orang yang memiliki jodoh penolong, tetapi saya tidak punya?” Itu karena mereka pergi membantu orang lain. Kesepian muncul karena sifat egois; orang yang egois tidak dipedulikan orang lain, sehingga muncul rasa kesepian. Keraguan muncul karena rasa takut. Semakin takut, semakin mudah meragukan dunia ini. Ketakutan berasal dari kebencian terhadap orang lain. Hanya dengan membina hati yang murni, barulah bisa mengubah hati manusia biasa menjadi hati Buddha.
Belajar Buddha Dharma tidak boleh ada alasan apapun, karena alasan biasanya adalah tanda-tanda akan menyerah. Banyak orang berkata tidak punya waktu untuk melafalkan paritta, seperti halnya banyak orang sakit, dokter berkata, “Datanglah berobat,” dia berkata, “Saya tidak punya waktu untuk berobat” Ketika akhirnya sudah masuk rumah sakit dan dirawat, barulah tidak ada kesempatan lagi untuk diri sendiri. Belajar Buddha Dharma harus maju terus, pantang mundur. Hidup ini seperti lomba maraton yang panjang, yang diuji adalah kesabaran, ketekunan, dan kegigihan. Harus bisa berlindung pada diri sendiri dan terus meningkatkan diri.
Praktisi Buddhis harus bisa menahan diri. Jangan berkata hal-hal yang tidak seharusnya dikatakan. Jika suami istri bertengkar, bicarakan masalahnya saja, jangan mengungkit kesalahan masa lalu untuk menyakiti orang lain, karena akhirnya hanya akan menimbulkan luka di hati orang lain dan diri sendiri. Saat ini hati kita kotor, kacau, dan penuh kerisauan. Kita harus membuat hati kita menjadi baik, berpikiran luas, dan menggunakan hidup yang terbatas ini untuk menyatu dengan dunia spiritual yang tak terbatas. Harus bisa berpikir terbuka, apa pun yang sudah berlalu biarlah berlalu, jangan terjebak dalam pertengkaran dan persaingan yang sia-sia dan tiada akhir. Di rumah, di kantor, jika terus bertengkar, akhirnya suami pergi, orang tua tersinggung, punya anak pun akhirnya bermasalah dengan anak sendiri—bukankah itu menyusahkan diri sendiri? Kita tidak boleh terus-menerus menghabiskan hidup dalam persaingan duniawi. Makna hidup adalah harus tersadarkan, tujuan hidup adalah untuk mencapai pembebasan. Jika hari ini kita tidak merasa khawatir, masih bisa duduk di sini dan tertawa, itu artinya masih ada hal yang bisa kita pahami. Jika hari ini duduk di sini dengan wajah muram, itu artinya sama sekali tidak bisa berpikir jernih, tidak bisa berpikiran terbuka. Semoga kalian bisa berpikir terbuka dan memahami, ini adalah belajar Buddha Dharma. Hidup bahagia dan penuh sukacita setiap hari, itulah menjadi Buddha.
Kerisauan sebagian orang muncul karena mereka sengaja menerima ucapan orang lain, lalu membiarkan diri mereka sendiri terluka. Padahal, ucapan orang lain itu sebenarnya tidak ditujukan kepadamu, tetapi banyak orang justru merasa seolah-olah itu tentang dirinya. Setiap kali saya selesai seminar Dharma, banyak orang datang dan berkata, “Master, hari ini Anda bicara tentang saya, saya tahu Anda demi kebaikanku.” Tak lama kemudian, ada lagi yang berkata, “Master, Anda tahu luka batin saya. Saya tahu Anda sedang membicarakan saya.” Kapan saya pernah membicarakan mereka? Mereka sendiri yang merasa demikian. Itulah sebabnya sekarang, saat film diputar, sering ada tulisan “Film ini murni fiksi, jangan merasa tersindir.” Semua orang punya kebiasaan seperti ini. Jika kamu ingin melukai dirimu sendiri, kamu akan curiga dan menebak-nebak, semakin dipikirkan, semakin takut. Kerisauan itu seperti ular berbisa di dalam hati. Saat kamu tidak risau, ular itu diam saja; tetapi ketika kamu mulai risau, ular berbisa itu akan bergerak, menggigit hatimu, hatimu akan merasa sedih. Ular berbisa akan menyakiti hatimu.
Mengenal dan memahami orang lain membuat kita lebih mudah mengambil keputusan yang adil dari sudut pandang yang rasional. Namun, terhadap diri sendiri, karena kita terlalu mengenal diri sendiri, kita justru tidak tahu apa kekurangan kita. Jadi, saat suami istri bertengkar, istri selalu menyalahkan kekurangan suami, suami pun menyalahkan kekurangan istri. Padahal sebenarnya itu adalah kekurangan mereka berdua. Kebiasaan menilai diri sendiri dengan sikap yang terlalu emosional berarti terlalu berfokus pada perasaan sendiri. Kelemahan manusia adalah terlalu mementingkan diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain.
Orang tidak bisa melihat kekurangannya sendiri, mengira apa yang dikatakan orang lain tentang dirimu selalu benar. Kemudian tertipu, yang dirugikan tetap dirimu sendiri. Seorang kepala bagian di sebuah instansi sering bekerja di tengah pujian dan sanjungan orang lain. Ia tidak bisa mendengar kata-kata yang benar, mengira semua yang ia lakukan sudah benar, dan orang lain pun tidak berani mengatakan apa pun tentangnya. Suatu kali, saat makan, ia makan saus tomat sampai mulutnya belepotan. Ia sendiri tidak menyadarinya dan tidak ada yang memberitahu kepadanya. Ia tetap berbicara panjang lebar dengan orang lain, sementara orang-orang hanya menertawakannya, dan ia pun merasa sangat bangga. Saat ke kamar mandi dan bercermin, ia baru sadar wajahnya berantakan, lalu dengan marah berkata pada bawahannya, “Kenapa kalian tidak bilang? Tadi mulut saya penuh saus tomat!” Kepala seksi menjawab, “Pak, apakah itu disebut kekurangan? Penampilan luar tidak bisa mewakili kemampuan keseluruhan bapak.” Kepala bagian itu pun merasa senang. Suatu hari, kepala instansi menegurnya lewat telepon, mengatakan ia terlalu sombong dan merasa paling benar. Ia sangat marah, melepaskan telepon dan berkata, “Apakah saya sombong? Apakah saya merasa paling benar?” Belasan rekan kerjanya menjawab, “Pak, Anda sangat ramah, tidak pernah sombong.” Semakin dipikir, ia semakin kesal, lalu menelepon kepala instansi, “Pak, silakan turun dan dengarkan sendiri bagaimana staf di bagian saya menilai saya. Saya tidak pernah sombong, saya benar-benar ramah.” Seminggu kemudian, kepala bagian itu menerima surat dari kepala instansi yang memintanya untuk mengundurkan diri.
Kita harus memahami bahwa penilaian yang tidak benar dari luar bisa membuat kita salah menilai diri sendiri dan akhirnya menyebabkan penyesalan. Mengapa banyak pernikahan bisa gagal? Istri mendengar orang berkata, “Suamimu ini sudah termasuk baik? Suami orang lain jauh lebih baik.” Akhirnya, semakin lama ia melihat suaminya, semakin merasa suaminya tidak baik. Begitu juga dengan suami, setelah mendengar bahwa istri orang lain sangat baik, ketika pulang ke rumah, ia pun merasa istrinya sendiri semakin dilihat semakin tidak baik.
