Memahami Sebab Penderitaan, Mengetahui Sebab Kebahagiaan
Master berharap kalian bisa keluar dari ketamakan diri sendiri, harus bisa menjaga pikiran fana kalian. Kalian harus bisa membuka satu bilah pintu hati kalian, supaya hati baik kalian yang sesungguhnya bisa keluar, agar orang-orang bisa merasakan welas asih dan kebaikan hati kalian, dengan begitu, hati – pikiran kalian baru tidak akan mundur dari pembinaan. Ketika kamu menggunakan hati nurani dan welas asih untuk bersikap baik terhadap semua makhluk, maka hatimu tidak akan menjadi mundur dan menyerah. Oleh karena itu, membina pikiran sangat sulit dan terlalu sulit, benar-benar sulit sekali. Kalian jangan mengira, karena memiliki kerisauan, lalu bisa selesai dengan mencukur rambut, dan pergi ke gunung menjadi biksu atau biksuni. Master beritahu kalian, jika begitu, malah akan menambah kerisauanmu, karena kamu masih belum sepenuhnya tersadarkan, jadi malah akan menjadi lebih risau, apakah kalian mengerti?
Master mengajarkan kalian untuk memahami bahwa, karena kita sudah mulai membina diri, maka kita harus bisa menghadapi kenyataan Alam Manusia dan menemukan diri sendiri yang sejati. Dulu saya tidak memahami banyak hal, dan hanya bisa berjalan mengikuti nasib sendiri, tiga tahun ini sangat bagus, tiga tahun ini sangat buruk, atau tiga tahun ini sangat parah, atau tiga tahun ini sangat mengesankan, sekarang kamu sudah menemukan “jalan” ini, kalau kamu masih tidak mau rajin membina diri, itu sama dengan mendatangkan masalah bagi diri sendiri. Karena kamu sudah berada di Alam Manusia, yakni alam kerisauan ini, maka kamu harus menemukan sebuah jalan untuk membebaskan diri dari kerisauan – penderitaan; hari ini kamu sudah menekuni Dharma, berarti kamu sudah menemukan jalan ini, maka kamu harus tekun memajukan diri ke depan. Orang yang takut menghadapi kesulitan adalah seorang pengecut. Orang yang takut masalah, bukankah adalah pengecut? Kita sudah terlahir ke Alam Manusia – tempat yang penuh penderitaan ini, maka kita harus menghadapinya, mengatasinya, membantu diri sendiri, dan semua makhluk. Kita sudah begitu menderita, memang masih bisa melarikan diri? Masalah keluarga sudah muncul, apakah masih bisa menghindarinya?
Hari ini Master berbincang-bincang dengan pendengar yang sudah membuat janji, namun sampai pada akhirnya, Master benar-benar tidak tahan lagi, Master berkata: “Ayah dan ibumu bercerai, memangnya kamu tidak tersakiti?” Mendengar perkataan ini membuatnya tertegun, masalah ini, bagaimana mungkin dia memberitahu Master? Namun Master melihatnya. Semua hal-hal ini, memang sudah digariskan dalam nasib kita. Bagaimana caranya supaya ayah dan ibu kita tidak bercerai? Kalau kita sendiri yang menderita masih tidak apa-apa, namun bagaimana caranya untuk melindungi orang tua sendiri? Inilah hal-hal yang harus kita pelajari dan kita bina.
Oleh karena itu, jangan hanya peduli pada diri sendiri, jika hanya memedulikan diri sendiri, sama dengan membina ajaran Buddhisme Hinayana. Kita masih harus memikirkan kakak adik, ayah ibu, kakek nenek, maka di dalam satu keluarga ini, berarti kesadaranmu sudah tercapai. Ada banyak anak kecil yang sangat egois, seumur hidup hanya memikirkan diri sendiri, tidak memikirkan kakak adik, juga tidak peduli pada ayah dan ibu; namun juga ada banyak anak yang semenjak kecil sudah bisa memikirkan ayah ibunya, merawat kakak adiknya, sama seperti seorang ibu di rumah, mengapa begitu? Ini karena tingkat kesadaran spiritualnya. Orang yang takut akan masalah, apakah dia bisa menghindari masalah? Tetap saja harus menghadapinya. Hanya dengan menemukan diri sendiri yang sesungguhnya, bisa mengendalikan diri sendiri, dengan mengetahui orang seperti apa diri saya sebenarnya, orang seperti ini baru bisa menemukan jati dirinya. Misalnya, saya adalah seorang anak laki-laki, maka saya harus menanggung beban keluarga; saya adalah anak perempuan, saya sudah bukan anak kecil, kalau saya melakukan kesalahan, maka saya juga harus menanggung penderitaannya, yang penting saya harus bisa berubah.
Pada kehidupan ini, kita harus menemukan tujuan sesungguhnya kita datang ke dunia ini, kita harus tahu apa tujuan kita yang sebenarnya di dunia ini, yakni untuk membebaskan diri sendiri. Jika kita hidup di dunia ini masih tenggelam dalam penderitaan, menangis sedih dan bersusah hati, apakah kamu bisa terbebaskan? Jika kamu tidak terbebaskan, maka kamu akan lebih menderita lagi. Orang yang berpikiran buntu menderita, orang yang tamak juga menderita, karena mereka tidak terbebaskan.
Master berharap kalian memahami bahwa, seumur hidup kita ini akan berakhir pada suatu hari nanti, namun tidak boleh ada penyesalan pada diri sendiri, orang tua, dan semua makhluk, kita harus bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kita pada diri sendiri. Satu kalimat yang sering kita katakan, “Seumur hidup ini, kita sebenarnya sibuk apa?” Kamu mendapatkan keuntungan uang dari orang lain, namun kamu merusak jiwa kebijaksanaannya, kamu menipu orang lain, walau kamu mendapatkan keuntungan, akan tetapi kamu telah merusak jiwa kebijaksanaan dirimu sendiri? Saat tiba hari penghabisan kamu, maka kamu akan menerima hukuman, oleh sebab itu, dalam melakukan hal apapun harus didasari dengan hati nurani.
Kalian harus memahami bahwa, menghadapi segala hal di dunia ini, kita harus sering berpikir, sering merenung: segala hal di dunia ini, jika kita memilikinya, memangnya semua itu tidak bersifat sementara? Rumahmu, uangmu, anakmu, orang tuamu … semua yang kamu miliki, semuanya hanya sementara, apakah kamu masih tidak mengerti? Sesungguhnya, kita tidak memilikinya, semua benda yang bersifat sementara, tidak bisa dimiliki, oleh karena itu, segala kepemilikan di dunia ini semuanya hanya sementara, musuh bisa berubah menjadi kekasih, dan kekasih bisa berubah menjadi musuh – orang yang dibenci. Oleh karena itu, jika dalam kehidupan ini, kita bahkan tidak bisa mengendalikan nasib diri sendiri, maka kita tidak akan bisa meninggalkan penderitaan, membuat kita pada akhirnya hanya bisa mengakhiri hidup kita dengan mengenaskan, jika demikian, berarti seumur hidup kita ini sudah sia-sia.
Yang Master ajarkan kepada kalian adalah kebenaran di dunia ini, kalian sendiri boleh merenungkannya, apakah logika kebenaran ini benar atau tidak? Janganlah kita membiarkan hidup kita ini berakhir dengan sesederhana dan sembarangan begitu saja; pikiran kita jangan lagi dirisaukan dengan orang-orang yang kita benci maupun yang kita cintai di dunia ini, sesungguhnya semua ini sudah tidak bermakna lagi. Oleh karena itu, kita hidup di dunia ini, siapapun yang pernah kita cintai dan kita benci, seiring dengan berlalunya hidup kita, semuanya sudah tidak ada lagi, sudah tidak berarti lagi. Lalu untuk apa kamu mencintai dia? Untuk apa kamu membenci dia? Tidak ada yang perlu dicintai maupun dibenci, inilah kebijaksanaan yang mendasar.
Apakah kebijaksanaan yang mendasar? Dengan kata lain, seseorang memiliki kebijaksanaan, dia bisa memiliki sedikit kebijaksanaan atau kepintaran untuk sementara waktu, benar? Kebijaksanaan yang mendasar adalah, saya sudah sepenuhnya melihat dan memahami dunia ini, sudah melihat kebenaran yang sesungguhnya secara total dari dunia ini, saya sudah tahu bahwa segala hal di dunia ini semuanya adalah palsu, adalah benda-benda yang tidak bisa disimpan dalam pikiran saya dalam waktu yang lama, maka pelan-pelan, kamu akan memperoleh kebijaksanaan yang mendasar, yakni kebijaksanaan yang seharusnya dimiliki setelah seseorang mengenal akar dasar kebenaran. Master berharap, saat kalian membantu orang lain, bisa mengatakan teori dan prinsip ajaran Buddha Dharma seperti ini.
“Semua dharma – fenomena yang terkondisi”, yakni, segala hal di dunia ini yang asalkan kamu anggap sebagai benda duniawi – benda alam dharma, bagaikan mimpi ilusi, gelembung sabun, dan bayangan, dengan kata lain, semua benda yang kamu anggap ada, sesungguhnya adalah kosong. Kamu mengira, kamu punya anak, setelah kamu meninggal, anak sudah bukan milikmu, sudah tidak bisa bertemu dan melihatnya lagi; kamu mengira kalau hari ini kamu sudah makan siang, namun makan siang sudah disantap habis, berarti sudah tidak ada lagi; hari ini kamu mengira, kamu bisa hidup selamanya di dunia ini, namun tunggu sampai suatu waktu tertentu, hidupmu akan berakhir. Oleh karena itu, segala dharma – fenomena yang terkondisi di dunia ini, bagai mimpi ilusi, gelembung sabun, dan bayangan. Kalian harus mempelajarinya dan mendengarkannya baik-baik.
Selanjutnya, Master akan memberitahu kalian, melakukan perbuatan baik memang membantu semua makhluk, akan memperoleh kebahagiaan batin yang utuh dan membantu orang lain meninggalkan penderitaan. Pahamilah bahwa, saat kamu sedang membantu orang lain, kalian akan memperoleh kebahagiaan – sukacita yang luar biasa. Kalian – para sahabat muda ini, kalian pernah membantu berapa orang? Kebahagiaan seperti apa yang kalian dapatkan? Orang-orang memberi kalian sup dan minuman, apakah kalian kira mereka khusus membuatkannya untuk kalian? Itu karena dia sedang melakukan jasa kebajikan, saat dia memberikannya kepada orang-orang, hatinya dipenuhi dengan sukacita, dia memperoleh jasa kebajikan, sedangkan kalian, sebagai orang-orang yang menyantapnya, jika kalian tidak melakukan banyak hal yang membantu orang lain, maka kalian akan kehilangan jasa kebajikan. Contoh sederhana, orang yang memiliki jasa kebajikan, sama seperti orang kaya yang mentraktir kamu makan, uang yang dia keluarkan adalah jasa kebajikannya, sedangkan kamu membantunya menyantap banyak makanan. Namun yang orang itu lakukan adalah jasa kebajikan, jika hari ini kamu makan cuma-cuma, kamu tidak membantu orang lain, tetapi dia memberi kamu makan, maka menurutmu, apakah ada kebaikannya bagimu? Orang lain merasa senang, karena dia memberi kamu makanan, sedangkan kamu menyantap makanan orang lain, apakah hatimu tidak merasa bersalah? Dari dulu di Tiongkok ada satu pepatah yang berbunyi, “Tidak berjasa tidak berani menerima bayaran”. Ketika kamu menggunakan jasa kebajikan tanpa melakukan jasa kebajikan, maka lama-kelamaan, pelan-pelan kamu akan kehilangan jasa kebajikan.
Seseorang yang memiliki perasaan bersyukur, baru bisa menekuni Dharma. Kalian anak-anak muda ini, sehabis makan buang sembarangan, tidak menyeka meja dengan bersih, bahkan tidak mau mencuci mangkuk. Kalian harus disiplin, seorang praktisi Buddhis harus bisa bersikap disiplin, oleh karena itu dengan membantu orang lain, akan memperoleh sukacita yang utuh – kamu sendiri akan merasa bahagia, selain itu masih bisa membantu orang lain terbebas dari penderitaan. Contoh sederhana, bahu orang ini sangat sakit, kamu memberitahu dia, “Dipijat di sini, tempelkan koyo, malam hari minum lebih banyak air”, dengan memberitahunya begitu, orang lain bisa terbebaskan dari banyak penderitaan. Setelah kamu mengatakannya, orang lain akan melihat kamu dengan penuh terima kasih, dan kamu bisa memperoleh berkat dan balasannya.
Apakah kamu merasa senang membantu orang lain? Tentu saja senang, namun yang lebih penting adalah, kita harus membantu mereka menemukan sebab kebahagiaan. Apakah yang dimaksud dengan sebab kebahagiaan? Yakni nidana kebahagiaan. Kamu bukan hanya membantu dia menyelesaikan suatu masalah kecil, namun kamu harus membantunya mengatasi masalah sebab kebahagiaan, yakni alasan dia berbahagia. Hari ini, dia sudah berusia lanjut, dia bilang kalau dia takut mati, Master membantunya menemukan sebab kebahagiaannya, asalkan dia terus-menerus melepaskan makhluk hidup, menekuni Dharma dan melafalkan paritta dengan baik, tubuhnya sehat-sehat saja, maka Bodhisattva pasti akan memberkatinya agar lebih panjang umur, membuatnya mendapatkan hidup yang abadi. Dia sudah memperoleh sebab kebahagiaan ini, maka dia akan tahu, asalkan dia melakukan pelepasan makhluk hidup, asalkan dia melafalkan paritta dan menekuni Dharma, asalkan dia menjadi orang baik, maka dia pasti akan panjang umur. Ini berarti kamu telah membantunya menemukan sebab kebahagiaan ini, maka dia akan terus berbahagia. Coba renungkan, kalian saja tidak bisa sabar menerima telepon, kalian benar-benar payah sekali.
Kamu telah membantunya menemukan sebab kebahagiaan, berarti kamu telah membantunya meninggalkan sebab penderitaan. Apakah yang dimaksud dengan meninggalkan sebab penderitaan? Mengapa dia sekarang begitu menderita? Dia tidak bisa berpikiran terbuka, maka kamu harus memberitahu dia, “Jangan takut susah, ini adalah sebab penderitaan yang ditanamnya di kehidupan sebelumnya”, asalkan pikirannya sudah terbuka, maka dia tidak akan menderita lagi. Bukankah Master membantu kalian semua seperti itu? Meskipun kalian tidak bisa melihat masa lampaunya, namun kalian bisa memberitahukan prinsip ini kepadanya. Master bisa melihat masa lampaunya, maka perkataan Master lebih kuat, namun kalian pun juga bisa berkata: “Kamu harus ingat, penderitaanmu di kehidupan ini, karena sebab yang kamu ciptakan di kehidupan sebelumnya. Di kehidupan ini, dia bertengkar seperti ini dengan kamu, pasti karena kamu berhutang padanya di kehidupan yang lalu.” Kamu sudah membantunya menemukan sebab penderitaan ini, bukankah dia akan menjadi senang? Bukankah dia tidak akan menderita lagi?
Saat kita sakit gigi semasa kecil, ayah ibu akan memanfaatkan momen kita sakit gigi ini untuk menasihati kita, “Kalian harus sikat gigi, kalau kamu tidak sikat gigi, maka akan sakit gigi”, sekarang sakit sekali bukan? Jadi bagaimana? Saat sedang sakit, apapun yang kamu minta dia lakukan, dia pasti akan melakukannya. Pada saat itu, orang tua menyuruh kita mengulum air garam hangat, lalu menelannya, dan mengulum air garam lagi, dan kembali meminumnya. Hanya saat kamu menderita, kamu baru akan melakukan apapun yang diperintahkannya. Hanya saat kita sedang risau dan menderita, kita baru bisa mengubah diri sendiri. Membuat diri sendiri lebih susah dan menderita, bukanlah sesuatu yang buruk, mengerti? Hanya dengan menderita, kita baru bisa menemukan kebahagiaan. Kalau kamu tidak merasakan penderitaan, bagaimana bisa menemukan kebahagiaan?
Oleh karena itu, kita harus membantu orang-orang menemukan sebab kebahagiaan dan sebab penderitaan, baru bisa mengubah nasibnya sendiri, baru bisa membuat penderitaan pergi untuk selamanya, dan membuat kebahagiaan tinggal abadi di dalam hatinya. Saat bertengkar dengan suami, kamu akan berpikir: “Ini karena saya berhutang padanya di kehidupan sebelumnya, bibit sebab yang diciptakan di kehidupan yang lalu, maka di kehidupan ini harus menerima buah karmanya.” Dengan berpikir begitu, maka tidak akan bertengkar lagi. Setelah dua hari berlalu kembali bertengkar. Coba pikirkan: “Mengapa angka pertengkaran begitu tinggi? ”Mengapa saya di kehidupan sebelumnya begitu jahat? Kamu selamanya akan menyalahkan diri sendiri, maka kamu selamanya tidak akan memiliki penyesalan. Kamu sudah memiliki faktor sebab ini, maka kamu tidak akan menciptakan buah karma ini, kamu tidak akan bertengkar lagi dengan orang lain, mengerti? Hari ini kamu begitu menderita, tinggal di rumah yang begitu buruk, kamu tidak punya uang, banyak orang sekarang sudah mengerti, mengapa dirinya begitu miskin di kehidupan ini? Itu karena dia tidak melakukan perbuatan baik di kehidupan sebelumnya, dia tidak berdana di kehidupannya yang lalu, inilah perputaran siklus kejahatan.
Kita harus bisa mengubah diri sendiri, harus selamanya menyimpan kebahagiaan di dalam hati – pikiran, hanya dengan memahami prinsip kebenaran ini, kita baru bisa membuat kebahagiaan untuk selamanya menetap di dalam hati. Hari ini saya sudah memahami prinsip kebenarannya, maka saya bisa bahagia untuk selamanya; kalau saya tidak memahami prinsip kebenarannya, maka saya selamanya tidak akan memperoleh kebahagiaan.
