Ketidaktahuan dan Kerisauan adalah Medan Pembinaan
Master pernah menjelaskan kepada semua orang tentang “Ci Bei Xi She (Catur Brahmavihara)— Metta – cinta kasih, Karuna – belas kasih, Mudita – sukacita, Upekkha – keseimbangan batin” dari para Bodhisattva. Tahukah kalian mengapa “Metta — cinta kasih”diletakkan di urutan pertama? Mengapa disebut “ci bei – cinta kasih dan belas kasih”, bukan “bei ci – belas kasih dan cinta kasih”? Belas kasihan terhadap semua makhluk lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Namun, “ci — cinta kasih” adalah hal pertama yang seharusnya diwujudkan oleh manusia. “Xi – mudita” berarti hati yang penuh sukacita. “She – upekkha” berarti mampu melepaskan. Dalam belajar Buddha Dharma, yang paling penting adalah menanamkan “ci bei xi she (cinta kasih, belas kasih, sukacita, dan keseimbangan batin)”. Empat hal ini sangatlah penting bagi kita.
Dengan adanya cinta kasih (cinta kasih yaitu hati yang lembut, tidak membenci dan tidak marah), sering merasa kasihan terhadap orang lain, ketika cinta kasih semacam ini muncul, maka selanjutnya muncullah belas kasihan. Belas kasihan adalah merasa bahwa setiap orang yang hidup di dunia ini sesungguhnya sangat kasihan. Apabila hanya memiliki cinta kasih, itu masih bersifat permukaan dan belum cukup mendalam, namun jika ditambah dengan belas kasih, maka itu adalah muncul dari kedalaman hati. Apakah kalian mengerti?
“Xi – mudita” berarti hati yang penuh sukacita. Terhadap semua makhluk kita harus memiliki hati yang sukacita, dan harus menggabungkan dengan cinta kasih serta belas kasih dengan sukacita. Ketika kamu mencintai semua orang, barulah kamu akan merasakan bahwa dunia ini begitu indah. Karena kamu sering mencintai semua makhluk, maka semua makhluk hidup pun akan mencintaimu. Karena kamu memiliki hati yang penuh sukacita, maka dirimu baru dapat melakukan hal ini dengan baik.
Apa itu “She – upekkha”? Yakni mampu untuk melepaskan atau memberi. Kita harus rela memberikan hal-hal baik yang kita miliki kepada orang lain, dan juga melepaskan hal-hal buruk dari diri kita. Dengan kata lain, yang baik maupun yang buruk harus dilepaskan. Mengapa hal-hal baik perlu dilepaskan? Karena itu adalah membantu orang lain. Segala karakter moral yang baik, perilaku yang baik, dan kebiasaan yang baik harus kita lepaskan dan berikan untuk menolong orang lain, untuk melindungi semua makhluk. Sedangkan hal-hal yang buruk, seperti kesalahan diri sendiri, kelemahan, kebiasaan buruk yang seharusnya tidak dimiliki, hati yang suka iri kepada orang lain, dan segala sesuatu yang tidak baik, semuanya harus kita lepaskan.
Catur Brahmavihara seorang Bodhisattva, begitu dipikirkan, kita segera dapat memahaminya. Jasa kebajikan ada di dalam cinta kasih dan belas kasih, dan juga berada dalam sifat Kebuddhaan itu sendiri. Karena catur brahmavihara dari Bodhisattva, maka jasa kebajikan itu berada dalam sifat Kebuddhaan. Artinya, bila hatimu dipenuhi cinta kasih, belas kasih, sukacita dalam Dharma, ditambah dengan dirimu rela memberi, bersedia untuk memberi, maka semua kebaikan itu sesungguhnya muncul dari sifat Kebuddhaannya. Jadi, hal semacam ini bukanlah sekadar menanam berkah, melainkan sedang menanam jasa kebajikan (melakukan jasa kebajikan). Maka itu, sekarang Master menjelaskan kepada kalian, karena banyak orang tidak mengerti apa itu Buddha, apa itu berkah, dan apa itu jasa kebajikan. Mengira bahwa telah melakukan satu perbuatan baik, menolong orang lain, maka itu sudah disebut jasa kebajikan. Saya sudah berkali-kali menjelaskan kepada kalian, bahwa semua jasa kebajikan sepenuhnya berasal dari lubuk hati yang mendorong untuk melakukan perbuatan baik. Apa yang di dalam lubuk hati? Itu adalah sifat Kebuddhaan, ini baru disebut jasa kebajikan. Karena pada lapisan paling dalam dari hati manusia adalah sifat Kebuddhaan.
Bodhisattva mengatakan“Segala kerisauan adalah medan pembinaan, memahami kebenaran sebagaimana adanya.”Apa arti dari “Segala kerisauan adalah medan pembinaan”? Artinya, semua kerisauan di dunia ini sesungguhnya merupakan medan pembinaan untuk membantu dirimu dalam menekuni Dharma. Karena tanpa kerisauan, maka kamu tidak akan mampu menumbuhkan kebijaksanaan. Justru ketika kerisauan muncul, pada saat itulah adanya kebijaksanaan. Apakah kalian mengerti? “Memahami kebenaran sebagaimana adanya” artinya adalah kamu telah mengetahuinya, dan itu sama halnya dengan kamu telah mampu melakukannya. Artinya, segala kerisauan yang kita ketahui dan kita alami sesungguhnya benar-benar ada, nyata adanya, tetapi pada saat yang sama ia juga seperti sesuatu yang tidak nyata. Ucapan ini sangatlah mendalam, bukan sesuatu yang bisa langsung dipahami hanya dengan sekali mendengar. Karena ada medan pembinaan, maka akan muncul kerisauan; karena itu, kerisauan tidak akan pernah berhenti. Di dunia ini, tubuh jasmani merupakan medan pembinaan, maka setelah menekuni Dharma akan muncul banyak kerisauan.
Yang disebut kerisauan, pada hakikatnya adalah kosong. Pada dasarnya kerisauan adalah kosong, ia tidak memiliki sifat hakiki. Apa artinya kerisauan itu tidak memiliki sifat hakiki? Karena setiap kerisauan yang muncul di dunia ini sesungguhnya tidak memiliki sifat keseluruhan, tidak memiliki wujud yang sejati. Kerisauan itu berubah-ubah, tidak menentu, tanpa sifat yang tetap—ia tidak memiliki kepastian. Hari ini ada kerisauan, besok sudah tidak ada; besok tidak ada, lusa bisa muncul lagi, itulah sebabnya ia bersifat tidak tetap. Sesuatu yang bersifat tidak tetap itu bagaikan ada tapi juga tidak ada, bukan ada dan bukan tiada. Oleh karena itu, berharap kalian jangan takut pada kerisauan. Walaupun sangat banyak kerisauan, sesungguhnya kerisauan itu pada dasarnya adalah kosong. Karena hari ini kamu bisa memiliki kerisauan, tetapi esok hari kerisauan itu sudah lenyap, bukankah hanya benar dan salah, kosong belaka, benar tidak?
Karena kerisauan tidak memiliki sifat hakiki, pada dasarnya memang tidak memiliki sifat yang tetap, maka tidak bisa dikatakan bahwa kerisauan itu pasti ada. Mengapa banyak orang setelah satu bulan, dua bulan, sama sekali tidak memiliki kerisauan? Ia hanya bangun setiap hari, makan, bekerja, ia tidak memiliki kerisauan. Benar tidak? Itu karena kerisauan memang tidak memiliki sifat hakiki, tidak memiliki kepastian. Namun, kerisauan bisa muncul melalui bayangan pikiran dan imajinasi yang kita ciptakan sendiri. Tahukah kalian apa itu imajinasi? Banyak orang sebenarnya baik-baik saja, tidak ada kerisauan, tetapi ia bisa membayangkan adanya kerisauan itu. Contoh sederhana, suami kalian pulang agak larut dua malam yang lalu, kalian dapat membayangkan ia berada di mana; Bosmu hari ini menunjukkan wajah yang tidak ramah kepadamu, kamu dapat membayangkan apa sikapnya terhadapmu, kemudian hatimu sendiri mulai tidak nyaman, dan malam harinya tidur pun tidak nyenyak. Mengertikah kalian? Inilah contoh bagaimana kerisauan bisa muncul melalui imajinasi dan khayalan. Oleh sebab itu, hal yang bersifat khayal dan imajiner sesungguhnya juga termasuk dalam Bodhi itu sendiri, karena ia pun tidak memiliki sifat yang tetap.
Bodhi adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan dalam dirimu pada hakikatnya juga bersifat tidak tetap. Apa maksudnya? Misalnya, hari ini tiba-tiba kamu merasa sangat cerdas, mampu memikirkan sesuatu dan menemukan solusi. Tetapi keesokan harinya, kamu bisa menjadi sangat bodoh, tidak mampu memikirkan satu definisi atau jawaban yang nyata. Oleh karena itu, bodhi itu sendiri pun tidak memiliki sifat yang tetap.
Selanjutnya, Master menjelaskan kepada kalian bahwa sesungguhnya kerisauan dan bodhi itu tidaklah berbeda. Wah, sekilas terdengar mengejutkan — bagaimana mungkin kerisauan, yang tampaknya adalah sesuatu yang buruk, bisa sama dengan Bodhi? Apa itu bodhi? Bodhi adalah kebijaksanaan, benar tidak? Lalu bagaimana dengan kerisauan? Justru karena kerisauan muncul, maka bodhicitta kamu pun bangkit, dan kebijaksanaanmu lahir. Menurutmu apa bedanya? Ketika perutmu lapar, kamu perlu makan, lalu kamu memiliki makanan untuk dimakan, maka perutmu pun tidak lapar lagi. Benar tidak? Bukankah prinsipnya sama saja? Karena kamu sangat bodoh, maka kamu bisa tertipu oleh orang lain; karena di masa lalu kamu belum pernah mengalami hal-hal semacam ini, maka kamu pun mudah tertipu. Ketika kamu sudah pernah mengalaminya, maka kamu akan mengerti bagaimana seharusnya menghadapi persoalan tersebut — di situlah hatimu menumbuhkan bodhicitta, maka selanjutnya kamu tidak akan lagi mudah tertipu atau terperdaya. Bukankah itu berarti kamu telah menumbuhkan bodhicitta?
Bodhicitta tidak memiliki sifat yang tetap, artinya ia tidak akan muncul pada tanggal tertentu, atau pada usia tertentu. Misalnya, pada usia sekian kamu akan menghadapi masalah, atau pada usia tertentu akan melahirkan suatu kebijaksanaan — semua itu tidak tetap sifatnya. Sepanjang hidup manusia, akan selalu ada masalah yang muncul, dan sekaligus kebijaksanaan yang lahir untuk mengatasi masalah itu. Oleh sebab itu, bodhicitta dan kerisauan selalu hadir bersama. Maka sesungguhnya, kerisauan dan bodhi tidak ada perbedaan, “kerisauan itu sendiri adalah bodhi”. Benar tidak?
Sebagai contoh yang mungkin kurang tepat: ketika uang habis, kita akan berusaha mencari cara untuk mendapatkannya lagi; setelah uang diperoleh, uang itu akan dibelanjakan; setelah habis, kita akan kembali mencari lagi. Benar tidak? Maka, mencari uang dan membelanjakan uang itu sesungguhnya saling terkait. Kamu membutuhkan uang, maka kamu perlu mencari uang. Demikian pula, kamu membutuhkan jasa kebajikan, maka kamu baru akan melakukan jasa kebajikan. Karena di dalam dirimu terdapat banyak kekurangan, banyak karma buruk dan kamu ingin melenyapkannya, maka kamu baru melakukan jasa kebajikan. Itulah sebabnya dikatakan kerisauan adalah medan pembinaan. Bodhi adalah medan pembinaan, dan kerisauan juga merupakan medan pembinaan.
Master melanjutkan penjelasan kepada kalian, mengapa kerisauan dan bodhi disebut sebagai medan pembinaan? Coba bayangkan, ketika kerisauan muncul, bukankah di dalam hatimu timbul rasa tidak bahagia, ada ganjalan? Pada saat itulah kamu mulai menekuni Dharma, dan di dalam hatimu terbangun sebuah medan pembinaan. Benar tidak? Sebaliknya, bodhi juga merupakan medan pembinaan, karena kamu telah menekuni Dharma, maka kamu akan senantiasa memiliki kebijaksanaan. Benar tidak? Dan kamu mampu mengatasi kerisauan tersebut. Jadi, bukankah bodhi itu sesungguhnya berada dalam medan pembinaan di hatimu? Putar kesana dan kemari, hanyalah “kerisauan adalah bodhi,” agar kalian memahami prinsip kebenaran ini.
Jadi, hakikat sejati dari kerisauan dan sifat Kebuddhaan tidaklah berbeda. Apa itu hakikat sejati dari kerisauan? Yaitu mencari prinsip kebenaran dari akar kerisauan yang sesungguhnya, hakikat sejati dan manfaatnya tidak berbeda dengan sifat Kebuddhaan. Artinya, meskipun ada rintangan berupa kerisauan, namun sifat dasar tetaplah Tathagata. Karena sejak dahulu kamu memiliki sifat Kebuddhaan, tetapi melalui akumulasi karma buruk dari kehidupan-kehidupan lampau, hal itu menutupi kejernihanmu, sehingga sekarang kamu menjadi tidak jelas, dan dari situlah muncul kerisauan. Benar tidak? Walaupun ada kerisauan, tetapi sifat dasar bodhi tetap ada. Dengan adanya bodhi, maka ada kebijaksanaan, dan dengan adanya kebijaksanaan berarti ada sifat Kebuddhaan. Lalu, mengapa dikatakan bahwa kerisauan juga adalah sifat Kebuddhaan? Karena sifat Kebuddhaan itu berasal dari sifat dasar yang semula. Esensi manusia yang sesungguhnya adalah sifat Kebuddhaan yang paling dalam, dan sifat Kebuddhaan inilah yang membuatmu penuh dengan kebijaksanaan, yaitu bodhi. Mengertikah? Jadi dengan adanya sifat Kebuddhaan, baru akan melahirkan bodhicitta, melahirkan kebijaksanaan, dan mampu mengatasi kerisauan. Maka, kerisauan itu sesungguhnya adalah bodhi; inilah sebabnya hakikat sejati kerisauan dan sifat Kebuddhaan tidaklah berbeda.
Ketidaktahuan berasal dari usia tua dan mati. Apa maksudnya? Yaitu kamu tidak memahami banyak hal di dunia ini, karena kamu tidak mengerti bahwa Alam Manusia ini adalah enam alam tumimbal lahir — ada penuaan dan ada kematian. Ketika kamu menua, kamu tidak memahami; ketika kamu mati pun, kamu juga tidak memahami. Oleh karena itu, ketidaktahuan berasal dari usia tua dan mati, dan semuanya tak berujung. “Tak berujung” artinya seseorang setelah usia tua dan mati, lalu terlahir kembali, kemudian dari muda menuju usia tua dan mati lagi, lalu terlahir kembali lagi — tumimbal lahir itu tiada akhirnya. “Tak berujung” berarti tidak ada ujungnya. Dengan kata lain, manusia tidak akan sepenuhnya lenyap. Ketika seseorang meninggal, tubuh jasmaninya sudah tiada, tetapi rohnya tetap terus ada di dunia ini, terus hidup dalam dimensi empat ruang ini, jadi sebenarnya ia tidak mati. Sama halnya dengan banyak orang yang tertidur, tetapi sesungguhnya ia tidaklah tidur. Jadi, sesungguhnya tidak ada ketidaktahuan. Artinya, manusia yang hidup di dunia ini sebenarnya tidak pernah benar-benar “tidak tahu”. Sejak awal kamu memang tidak mengerti apa-apa, dan pada dasarnya kamu memang tidak seharusnya mengerti banyak hal, juga tidak perlu memahami banyak hal. Dengan begitu, kamu akan tetap murni dan bersih. Sejak awal, dunia ini sebenarnya tidak memiliki ketidaktahuan (ketidaktahuan yaitu tidak mengerti atau tidak memahami). Jadi, pada dasarnya memang tidak ada sesuatu seperti “berakhirnya ketidaktahuan”. Karena justru dari ketiadaan ketidaktahuan itu, muncullah yang disebut ketidaktahuan. Dalam Sutra Hati dikatakan“Tiada ketidaktahuan, dan tiada pula berakhirnya ketidaktahuan; tiada penuaan dan kematian, dan tiada pula berakhirnya penuaan dan kematian.” Artinya, penuaan dan kematian itu juga tidak memiliki ujung, karena ketika ia sampai pada akhirnya atau ujungnya, ia akan terlahir kembali sebagai seorang anak. Coba kamu katakan, bagaimana ini bisa disebut berakhir? Hal apa yang berakhir?
Dunia ini tidak ada akhirnya. Sama seperti kisah yang pernah kita pelajari tentang Yu Gong Yi Shan (Orang Tua yang Memindahkan Gunung). Yu Gong berkata: “Setelah aku mati, anakku akan meneruskan menggali. Setelah anakku mati, masih ada cucuku. Demikianlah turun-temurun tanpa ada habisnya.” Sesungguhnya yang diajarkan adalah prinsip ini, bahwa kehidupan itu dapat berlanjut terus. Hari ini seseorang meninggal, benarkah ia mati? Tidak, karena semangat jiwanya masih hidup di antara kita — orang ini sebenarnya tidak mati.
Coba kalian pikirkan, ketika Guan Shi Yin Pu Sa menjelma sebagai Putri Miaoshan, pada akhirnya beliau juga parinibbana kembali ke surga. Tetapi apakah Guan Shi Yin Pu Sa meninggal? Tidak, beliau tidak akan pernah mati. Lalu, apa yang ditinggalkan oleh Sang Buddha Sakyamuni bagi dunia ini? Yaitu ajaran Buddha yang begitu agung. Apakah beliau mati? Sesungguhnya tidak juga — beliau hanya meninggalkan tempat ini dan pergi ke tempat yang lain. Sebagai contoh sederhana, jika kalian pindah dari desa ke Australia, bisa dikatakan kalian telah meninggalkan desa. Banyak anak kecil mungkin akan berkata orang itu sudah mati, karena seumur hidup mereka tidak akan pernah melihatmu lagi. Namun, kenyataannya kalian berada di Australia — kalian tidak mati.
Master tadi mengatakan bahwa tidak akan pernah ada lenyap sepenuhnya. Artinya, tidak ada yang ketidaktahuan yang harus dilenyapkan, juga tidak ada penuaan dan kematian yang harus dilenyapkan. Sesungguhnya, ketidaktahuan itu pun bukan sesuatu yang ingin kita lenyapkan, maka penuaan dan kematian pun bukan sesuatu yang bisa kita lenyapkan. Misalnya, ketika ketidaktahuan muncul lalu kamu melenyapkannya, tetapi setelah beberapa waktu, kebiasaan buruk dari ketidaktahuanmu itu muncul kembali, dan kamu pun kembali melenyapkannya lagi. Bukankah ketidaktahuan ini sama dengan kerisauan? Dalam lingkaran lahir dan mati, ia tidak akan pernah ada habisnya. Artinya, sejak kamu lahir, kamu terus tidak memahami, dan sampai mati pun tetap tidak memahami. Itulah yang disebut dengan “berakhirnya ketidaktahuan”.
