Membawa Kebaikan Bagi Semua Makhluk, Berbahagia Tiada Kerisauan
Dalam menekuni Dharma, hanya boleh terus meningkatkan diri maju ke depan, tidak boleh mundur, karena kita sebagai manusia hanya boleh menjadi orang yang baik, tidak boleh menjadi orang jahat, tidak ada jalan untuk mundur. Mengapa? Karena jika menjadi orang jahat, berjalan mundur sama dengan mencelakakan diri sendiri, karena ibarat kamu sudah berada di jalan besar, mengapa kamu masih bersikeras mengambil jalan kecil? Karena kamu sedang maju ke depan, lalu mengapa masih mau melangkah mundur? Kamu sudah dan sedang membantu semua makhluk dan menolong orang-orang, mengapa kamu masih tidak bisa membantu semua makhluk secara total, menolong diri sendiri sekaligus menolong orang lain? “Tidak takut tidak mengenali kualitas barang, hanya takut jika dibandingkan dengan yang lain”, begitu dibandingkan maka tingkat kesadaran spiritual seseorang akan muncul. Orang yang benar-benar ingin memajukan dirinya, dia harus berjalan ke depan, dia harus belajar dengan sangat tekun, dia baru bisa benar-benar menguasai apa yang dipelajarinya. Bodhisattva selamanya akan membantu orang-orang yang berharap bisa membantu dirinya sendiri, karena ada sebagian orang yang bahkan tidak mau membantu dirinya sendiri, kalau begitu, bagaimana mungkin Bodhisattva bisa membantumu?
Arahat meskipun terus-menerus menghilangkan kerisauannya, akan tetapi mereka tidak sepenuhnya memahami apakah kerisauan itu sendiri. Dengan kata lain, meskipun sudah membina diri sampai mencapai tingkat Surga yang tinggi – yakni bisa terbebas dari tumimbal lahir di enam alam, sudah mencapai tingkatan Surga pertama dan kedua, namun mereka masih belum tentu bisa mencapai pencerahan tertinggi yang paling sempurna, apalagi kita? Menekuni Dharma pasti memiliki kerisauan. Kalian sudah mengikuti Master begitu lamanya, namun ada sebagian orang di antara kalian masih tidak memahami mengapa kita menekuni Dharma? Ada sebagian orang berkata, “Saya supaya bisa melahirkan anak dengan lancar, makanya saya menekuni Dharma”, ada juga orang yang berkata, “Saya supaya bisa menemukan pekerjaan makanya belajar Dharma”, ada orang yang berkata, “Saya supaya tidak kena kanker makanya menekuni Dharma”, namun sesungguhnya, semuanya ini hanyalah pandangan sepihak, yakni seseorang yang belum menemukan akar Kebuddhaannya, dia tidak memahami apa itu sesungguhnya sifat Kebuddhaan, maka dia tidak bisa menekuni Dharma dengan baik.
Hari ini Master memberikan kalian kesempatan, supaya kalian bisa belajar dengan lebih dalam, membantu kalian naik satu level lebih tinggi, semuanya ditentukan lagi dari diri kalian sendiri, apakah kalian cukup tekun atau tidak. Kalian harus mengulang dan belajar prinsip teori ajaran Buddha Dharma, pelajari baik-baik. Master beritahu kalian, Arahat akan terlahir ke dunia mengikuti Buddha, jadi mereka akan datang kembali ke Alam Manusia bersama dengan Buddha dan Bodhisattva, kemudian mereka akan menjadi Pelindung Dharma besar. Karena Bodhisattva datang ke dunia, pasti akan memiliki banyak sekali Pelindung Dharma besar, akan tetapi, para Bodhisattva Arahat ini setelah datang kedunia, karena mereka masih belum mencapai pencerahan akhir yang paling sempurna, maka mereka masih belum sempurna.
Kesempurnaan tertinggi – pencerahan akhir, berarti sudah sepenuhnya memahami prinsip kebenaran, misalnya, hari ini saya memohon jodoh pernikahan dan permohonannya terkabul, hari ini saya memohon untuk punya anak dan terkabul, akan tetapi saya tahu bahwa semua ini bukanlah tujuan ajaran Buddha Dharma yang sempurna. “Ini Bodhisattva yang memberikannya pada saya, Bodhisattva yang membantu saya, Bodhisattva yang berwelas asih pada saya, maka saya harus benar-benar mengerti bagaimana seharusnya melalui hal-hal yang saya dapatkan ini untuk lebih berterima kasih kepada Bodhisattva, lebih tekun dan sungguh-sungguh dalam menekuni Dharma dan membina pikiran, saya seharusnya lebih memahami bagaimana dalam masyarakat sekarang ini, dalam keluarga, dalam bersikap dan berperilaku dan dalam pembinaan diri untuk lebih dekat dengan Buddha. Karena saya mengerti, ada terlalu banyak hal yang perlu memohon kepada Bodhisattva, saya tahu bahwa ada terlalu banyak orang-orang yang menderita yang memerlukan pertolongan Bodhisattva. Setelah menyembah Buddha, diri saya tidak hanya harus lebih memahami pikiran Buddha, namun saya juga harus memberitahukan pikiran Buddha ini kepada lebih banyak orang, maka akan ada lebih banyak orang yang bisa memperoleh perhatian dan naungan dari Bodhisattva, dengan begitu saya baru bisa memperoleh kesempurnaan yang tertinggi. Karena semua orang sudah menjadi baik, saya baru bisa menjadi baik, karena saat orang lain menderita, maka hati saya pun turut merasa tidak nyaman. Itulah yang disebut merasakan derita orang lain bagai derita diri sendiri, itulah menekuni ajaran Buddha Dharma, apakah kalian mengerti? Kalian harus baik-baik belajar, harus meningkatkan kesadaran spiritual diri sendiri, tidak boleh terus-menerus berjalan di jalan yang lama.
Kita harus memahami bahwa, seseorang begitu terlahir di dunia ini, kita akan mulai berpikir, kita memiliki pemikiran, kita akan memikirkan banyak hal, misalnya mengapa mama baik pada adik namun tidak pada saya? Mengapa saya tidak punya ini, sedangkan orang lain punya? Kita harus berpikir bagaimana membebaskan diri dari derita kerisauan duniawi, mengapa keluarga saya begitu miskin? Bagaimana caranya supaya kehidupan keluarga saya bisa menjadi lebih baik? … Oleh karena itu, harus memanfaatkan sewaktu raga manusia ini masih ada, harus segera membebaskan diri dari lautan penderitaan. Hari ini karena kita memiliki tubuh manusia, makanya kita datang ke dunia ini untuk menjalani penderitaan, justru karena kita sudah menderita, maka kita harus memahami bagaimana supaya bisa meninggalkan penderitaan, dalam agama Buddha disebut sebagai, “meninggalkan penderitaan untuk memperoleh kebahagiaan”, karena ketika kamu sudah tidak menderita lagi, maka kamu akan memperoleh kebahagiaan, karena jika kamu sudah berbahagia, maka kamu tidak akan memiliki kerisauan lagi. Meninggalkan penderitaan dan memperoleh kebahagiaan, adalah supaya kamu memahami apakah penderitaan yang sesungguhnya, dan kamu baru bisa meninggalkannya, jika kamu merasa kalau “hal ini” masih terasa manis, maka kamu tidak akan bisa meninggalkannya.
Master beritahu kalian, dalam pikiran kalian harus tidak memiliki halangan pikiran, apakah halangan pikiran itu? Yakni kekhawatiran, kerisauan, hal-hal yang dipikirkan, hal-hal yang dirindukan, semuanya ini harus segera ditinggalkan, jika kamu tidak bisa terbebas dari halangan pikiran, tidak bisa meninggalkan kerisauan dan penderitaan, maka kamu selamanya tidak akan bisa bahagia. Banyak orang yang tidak mengetahui penderitaan, oleh karena itu, dia baru bisa merasa kalau dirinya sangat bahagia. Orang yang minum minuman keras, apakah dia memahami penderitaan? Apakah dia tahu penderitaan di kemudian hari setelah sakit kanker liver? Orang yang merokok, apakah dia tahu penderitaan dirinya? Dia merasa dirinya sangat bahagia. Ketika pernikahan seseorang yang jelas-jelas sudah gagal, namun dia masih mati-matian tidak mau berpisah, apakah dia akan merasa kalau ini adalah penderitaan? Dia merasa kalau meninggalkan orang itu, dia akan lebih menderita, karena dia tidak memahami bahwa “Sakit sesaat lebih baik daripada derita berkepanjangan”, sesungguhnya tetap saja masih suatu penderitaan. Seseorang yang benar-benar memiliki kebijaksanaan, harus bisa meninggalkan penderitaan dan memperoleh kebahagiaan, dia harus berani memikul beban pikiran dan juga mampu melepaskannya, tidak boleh ada halangan pikiran.
Oleh karena itu, kita harus belajar membina pikiran Mahayana dari ajaran Buddhisme Mahayana, harus melatih welas asih besar tanpa memandang jodoh, yakni meskipun orang itu bukan anak saya, bukan keluarga saya, juga bukan sanak saudara saya, namun saya tetap bersikap baik kepadanya tanpa alasan atau tujuan apapun; kita harus membina welas asih universal tanpa perbedaan, merasakan penderitaan orang lain bagai derita diri sendiri, dengan kata lain, saat orang lain sakit kepala, kamu harus bisa merasakan kalau kepalamu juga sangat sakit sekali. Sewaktu Master menjadi sukarelawan di panti jompo, saya pernah mendengar orang-orang berkata, pada saat para suster memapah para lansia itu, mereka berjalan dengan sangat cepat, sedangkan para lansia itu karena matanya tidak kelihatan, saat berjalan cepat, mereka akan merasa sangat ketakutan. Maka di panti jompo pada saat memberikan pelatihan untuk para suster, mereka akan menutupi mata suster-suster itu dengan kain, lalu suster yang lain akan menuntun mereka berjalan, supaya mereka bisa merasakan bagaimana perasaan para lansia yang tidak kelihatan itu.
Sekarang kita harus memahami, pada saat kamu membantu orang lain, kalau orang lain sedang sangat menderita, bagaimana perasaanmu? Kalau begitu, kamu tidak akan menjawab telepon dengan asal-asalan – tidak setengah hati. Bagaimana kalau dia adalah dirimu, jika dia adalah ibumu atau anakmu, apakah kamu akan berbicara seperti ini? Ini yang disebut sebagai welas asih besar yang universal tanpa perbedaan. Oleh karena itu, jika ingin mengikis halangan karma buruk, harus menggunakan kesadaran semula sifat dasar diri sendiri. Apakah kesadaran semula sifat dasar diri sendiri? Itu adalah “pada mulanya, manusia memiliki karakter asli yang baik”. Sewaktu seseorang masih kecil, dia memiliki hati nurani yang sangat baik, lalu mengapa bisa berubah menjadi buruk? Karena terlalu lama bersama dengan orang jahat, mungkin memiliki kebencian yang terlalu lama di hati, oleh karena itu, harus menggunakan kesadaran yang paling semula, dengan kata lain, menggunakan pemikiran sewaktu kamu masih sangat polos dan suci sekali untuk memikirkan masalah yang sekarang ini. Misalnya, sewaktu masih kecil, kamu memiliki karakter yang sangat baik, ibumu memberitahumu, “Orang ini sangat jahat”, lalu kamu akan berkata pada ibumu, “Mama, tante ini sangat baik kok, mengapa kamu begitu membencinya?” Ini adalah kesadaranmu yang semula, karena kamu memiliki hati yang baik hati, kesadaran semula yang baik hati, yakni kesadaran yang sudah ada dari awal.
Kita ingin melakukan segala hal yang membawa kebaikan bagi semua makhluk, dan kita harus melakukan hal-hal yang menguntungkan semua makhluk, dengan kata lain, asalkan hal ini adalah hal yang baik, adalah hal yang bisa membantu semua orang, maka saya harus membantu semua orang, ini namanya membawa kebaikan bagi semua makhluk. Hari ini, tidak peduli siapapun dirimu, asalkan bisa membantumu, maka saya harus melakukannya, ini namanya membawa kebaikan bagi semua makhluk.
Pahamilah, ketika kamu sedang membantu dan membawa kebaikan bagi semua makhluk, sewaktu kamu sedang membantu orang lain, maka tidak akan timbul halangan pikiran dalam dirimu. Kita harus bisa menghilangkan halangan pikiran dalam pikiran kita sendiri, yakni harus bisa membantu orang lain. Contoh sederhana, banyak orang pada saat Hari Raya Kue Bulan, di rumah ada banyak sekali kue bulan, namun jika kamu minta dia untuk memberikan beberapa kotak kepada orang lain, dia pun tidak rela. Sewaktu kamu memberikan semua kue bulan kepada orang-orang, kamu sendiri akan merasa sangat bersukacita, kamu tidak akan ingat kalau ini adalah kue bulan dari rumah saya, mengerti? Oleh karena itu, ketamakan dapat dihilangkan dengan menggunakan kerelaan – memberi, kalau saya sangat menyukai yang ini atau yang itu, maka saya harus bisa merelakannya atau memberikannya, lebih banyak memberi akan mengurangi ketamakan; lebih banyak berwelas asih akan mengurangi kebencian, seseorang yang memiliki lebih banyak welas asih di hatinya, maka kebenciannya akan berkurang; lebih banyak kebijaksanaan akan mengurangi kebodohan, orang yang lebih banyak kebijaksanaannya, maka kebodohannya akan berkurang.
Banyak orang berkata, “Bagaimana caranya supaya saya bisa lebih bahagia?” Asalkan kamu berbahagia, maka kamu tidak akan merasa tidak bahagia. “Mengapa saya begitu menderita?” Jika kamu sudah tidak memiliki penderitaan di hari ini, maka kamu pasti akan memiliki kebahagiaan. Jika hari ini kamu masih memiliki derita kerisauan, maka kamu tidak akan merasa bahagia. Oleh karena itu, seseorang bisa menemukan kekurangan dirinya sendiri. Master berharap kalian semua memahami bahwa, masalah terbesar dalam pembinaan diri adalah diri sendiri membina diri di rumah, kamu akan merasa sangat nyaman. Banyak orang merasa, saya sendirian di rumah, saya akan merasa sangat nyaman, apa maksudnya? Tidak ada orang yang datang mengganggu saya, melafalkan sedikit paritta, bukankah sangat enak? Akan tetapi begitu pergi ke luar, menghadapi banyak orang, banyak masalah ini dan itu yang berdatangan, kerisauan akan muncul. Coba pikirkan, kamu membina pikiran bukankah demi menghilangkan kerisauan? Kalau kamu menghindari kerisauan, tidak berarti kamu tidak memiliki kerisauan. Contoh, keluarga kalian dituntut oleh orang lain, lalu kamu pergi bersembunyi ke Blue Mountain (tempat wisata terkenal di Australia), namun apakah kamu bisa menghindar dengan pergi ke sana? Dalam pikiranmu dipenuhi dengan kerisauan; begitu kamu tidur, kamu bisa melupakan masalah ini, namun begitu kamu bangun, kamu kembali teringat akan masalah ini; dituntut orang lain, kalau misalnya sampai tertangkap bagaimana? Kalau sampai divonis hukuman bagaimana? Oleh karena itu, semua ini tidak bisa menghilangkan kerisauanmu.
Master beritahu kalian, meskipun dalam hidup ini ada kerisauan, dan ada banyak sekali masalah, yang lambat laun, mungkin kamu tidak bisa bertahan menghadapinya, kamu bisa “dilahap” oleh masalah-masalah itu, kamu akan dipusingkan oleh semua masalah itu, akan tetapi, inilah alasan mengapa kamu harus keluar membina pikiran, karena ketika kamu sedang membantu orang-orang, kamu akan memperoleh kebahagiaan yang tak terlihat.
Master sering mendengar kisah seperti ini, orang ini dulu tidak pernah disukai orang-orang, dia sendiri di rumah tidak melanggar hukum, juga tidak melakukan kejahatan, namun terakhir, dia tetap dituntut orang lain sampai ke pengadilan, karena tidak ada orang yang membantunya, hidupnya sangat menderita. Sekarang dia mulai membina pikiran dan melafalkan paritta, dia sudah menolong banyak orang, dia menyelamatkan kesadaran spiritual banyak orang. Ketika dia menghadapi masalah, banyak orang yang membantunya, mau menjadi saksinya. Dia berjalan di jalanan, sudah jelas orang yang satunya lagi jatuh sendiri, namun tetap menyalahkan dia, orang itu berkata kalau dia yang menabraknya. Begitu polisi datang, dia juga tidak bisa bicara dengan jelas, namun akhirnya ada banyak orang yang keluar menjadi saksi dan membelanya, selain itu banyak orang berkata, dia adalah seorang praktisi Buddhis, dia adalah orang baik; dalam praktisi Buddhis masih ada pengacara yang membelanya di pengadilan tanpa bayaran sepeser pun, begitu si pengacara menulis sebuah surat, membuat pihak lawan terbungkam. Ini karena dia keluar menolong orang-orang, maka dia mendapatkan respon yang positif.
Inilah mengapa dalam menekuni Dharma kita harus menolong orang-orang, karena dengan kamu menolong orang-orang, kamu bisa menjalin jodoh dengan orang-orang. Jika kamu tidak membantu orang lain, maka kamu hanya memiliki jodoh kesepian – berarti tidak berjodoh, maka tidak ada orang yang akan membantumu, dan kamu tidak akan mendapatkan bantuan orang-orang. Di dalamnya masih juga terkandung jodoh welas asih Bodhisattva, ketika kamu membantu semua makhluk, Bodhisattva masih akan memberimu sebuah jodoh welas asih, yakni sewaktu kamu sedang dalam kesusahan dan kerisauan, kamu bisa memperoleh suatu jodoh welas asih, kamu bisa memperoleh bantuan welas asih dari orang lain.
