Menekuni Dharma Harus Bisa Segera Terbebaskan
Melanjutkan pembahasan sebelumnya, jika terhadap putramu, kamu bisa konsisten terus disiplin, maka putramu pasti akan sangat hormat terhadap ayahnya; namun jika sepanjang hari kamu menggendong putramu, aduh, membiarkannya menamparmu untuk main-main, maka pada suatu hari, dia begitu rewel secara refleks bisa menamparmu, bukankah ini adalah buah karmanya? Siapa yang menciptakan penyebabnya? Kamu sendiri yang menciptakan sebabnya. Oleh karena itu, nidana yang tidak baik, jika dipaksakan pasti tidak akan lancar. Jika nidana tidak baik, maka kamu jangan memaksakannya, bila hari ini, orang ini tidak memedulikanmu, namun kamu berusaha mati-matian untuk baik padanya, maka tidak akan lancar. Kalau kamu tidak percaya, dicoba saja, pimpinan ini tidak menyukaimu, lalu kamu berpikir, gawat ini, dan setiap hari kamu pergi memuji-muji dia dengan berlebihan: “Aduh, ketua Zhang, saya membelikanmu sesuatu …” Ketua Zhang pasti berkata: “Tidak usah, tidak usah.” Apakah kamu bisa lancar? Yang dipaksakan tidak lancar, karena jodohnya tidak baik, kalau kamu memaksakannya, mana mungkin bisa lancar? Sepasang suami istri yang bertengkar sampai sedemikian hebatnya, seharusnya menenangkan diri terlebih dahulu, akan tetapi karena kamu tidak sabar, masih langsung menghampirinya dan berkata, maaf ya, meskipun kamu menampar diri sendiri di hadapannya, dia pun tidak akan memaafkanmu, ini namanya jodoh. Oleh karena itu, kalian dalam melakukan segala sesuatu, harus mempertimbangkan dengan bijaksana, bersyukur atas nidana yang baik. Misalnya, jika hari ini ada nidana yang baik, saya berterima kasih kepada Guan Yin Pu Sa, karena di kehidupan sebelumnya saya telah melakukan banyak sekali perbuatan baik, saya berterima kasih kepada Bodhisattva. Master sering berterima kasih pada Guan Shi Yin Pu Sa, mengapa? Hari ini saya bisa memiliki Pintu Dharma seperti ini yang bisa menyelamatkan begitu banyak orang, saya benar-benar sangat senang sekali. Karena di kehidupan sebelumnya saya benar-benar menjalani pembinaan diri, di kehidupan yang sebelumnya lagi juga membina diri, saya bisa berada di Alam Surga, saya bisa turun menyelamatkan semua makhluk, saya benar-benar sangat bersyukur, dalam hati memikirkannya pun merasa sangat senang, karena di kehidupan sebelumnya, saya benar-benar membina diri. Maka, saya baru bisa memperoleh buah karma ini.
Kalau begitu, tunggu sampai dirimu sendiri menghadapi penderitaan, saat kamu sedang menderita, kamu juga harus memiliki perasaan bersyukur, Bodhisattva membuat saya mengetahui nidana ini. Hari ini saya merasakan penderitaan ini, ternyata karena Bodhisattva ingin membuat saya tahu, karena di kehidupan sebelumnya saya tidak melakukan perbuatan baik, di kehidupan yang lalu saya benar-benar tidak paham, dan di kehidupan ini saya sudah tahu dan paham, maka di kehidupan mendatang saya tidak akan terlahir sebagai manusia lagi, di kehidupan selanjutnya saya juga tidak akan terlahir sebagai setan jahat maupun binatang. Benar tidak? Maka kita harus memiliki perasaan bersyukur. Terhadap perbuatan baik dan nidana buruk yang dilakukan di kehidupan yang lalu, juga harus bisa memahaminya. Maka, kita harus bisa memahami kehidupan ini, mengapa diri sendiri di kehidupan sebelumnya melakukan begitu banyak kejahatan dan tidak melakukan perbuatan baik, aduh, dari jodoh buruk di kehidupan ini, saya memperoleh jodoh ini, saya sudah mengerti, ternyata itu adalah kejahatan yang saya lakukan di kehidupan sebelumnya, maka di kehidupan ini saya baru bisa datang ke dunia ini dan menderita seperti ini. Di kehidupan ini, saya sudah mengerti, maka di kehidupan selanjutnya, saya tidak akan menderita lagi. Apakah kamu memiliki perasaan bersyukur? Jika di kehidupan ini, kamu masih belum memahaminya, mengapa kamu bisa menghadapi begitu banyak penderitaan, seperti banyak orang pada umumnya,”Saya tidak mau tahu, sekarang saya menderita, saya harus menjadi lebih kuat, saya harus berperang melawan takdir”, kamu menciptakan dosa yang lebih besar, di kehidupan selanjutnya, bahkan kesempatan terlahir sebagai manusia pun tidak ada. Ada berapa banyak orang karena ingin menjadi kuat, maka kehilangan diri sendiri di jalan kebenaran, pada akhirnya berjalan menyimpang, menjadi gangster, membunuh orang, membakar rumah-rumah, dia tetap menjadi bos besar, dia menganggap bahwa dirinya tetap bisa hidup berfoya-foya di dunia ini. Pada akhirnya sama seperti para pemimpin yang korupsi dan diturunkan, terakhir ditangkap polisi dan segera menerima hukuman mati, dan masih mengatakan, “Seratus tahun kemudian, masih menjadi pria yang hebat”. Mungkin saja seratus tahun kemudian, tetap menjadi seekor anjing yang baik. Apakah bisa terlahir menjadi manusia? Apakah bisa menjadi orang? Maka, kita benar-benar harus terbuka kesadaran.
Setelah seseorang tersadarkan, yakni dari kesadaran sendiri hingga kesadaran jodoh. Apakah kesadaran sendiri? Yakni, terlebih dahulu diri sendiri harus memahami, setelah bisa memahami hal-hal ini, lalu jodohmu tiba, maka kamu menjadi semakin tersadarkan, pada saat ini, dari dirimu sendiri yang merasakan jodoh ini, kemudian meningkat menjadi kesadaran jodoh, dengan kata lain, adanya jodoh ini yang mendorongmu untuk tersadarkan. Mengerti? Jadi pertama-tama, dirimu sendiri harus mengerti, kemudian jodohmu baru bisa sempurna. Contoh, hari ini kalian berdua bertengkar, jika kamu tidak memahami prinsip kebenaran ini, maka kamu selamanya tidak akan bertegur sapa dengannya atau memujinya, kamu tidak akan bisa menantikan kesadaran jodoh. Tunggu sampai dirimu sendiri sudah memahami kebenarannya, kamu baru bisa bertegur sapa dengannya, berarti jodoh ini sudah tersadarkan. “Maaf ya, hari ini saya benar-benar tidak hati-hati, perkataan saya sudah menyakitimu, saya tidak bermaksud begitu, mohon kamu bisa memaafkan”, baik, maka dia pun mengerti jodoh ini, ternyata hari ini karena ada arwah asing pada tubuh sendiri, tetapi suami tidak percaya, kalau begitu jika sekarang saya bertegur sapa dengannya, masalahnya akan terselesaikan. Kita harus bisa bicara, jika banyak masalah yang hanya dipendam saja di sana, tidak mau dibicarakan, maka kamu bisa mencari satu alasan untuk menguraikannya, sesungguhnya, alasan ini adalah alasan sungguhan, alasan apakah itu? Yakni, dengan memberitahu dia, bahwa mungkin ada arwah asing di tubuh. Hari ini di badan saya mungkin ada arwah asing, maka hari ini saya telah menyakitimu, mungkin benar-benar ada arwah asing. Meskipun tidak ada arwah asing, begitu kamu mengatakan seperti itu, pihak lawan bicara kamu juga akan memakluminya. Salah siapa? Bukan salah kamu, juga bukan salah saya, salah arwah asing. Maka, kamu juga tidak salah, dia juga tidak salah, arwah asing yang salah. Bukankah berarti kamu sudah melampauinya?
Harus bisa memiliki kesadaran jodoh. Menyalahkan orang lain, berarti masih belum memahami kebenarannya. Hari ini di sini ada begitu banyak anak perempuan yang cantik, lalu kamu pasti harus berpikiran jahat kah? Tidak ada begitu banyak anak perempuan, lalu kamu tidak akan berpikiran jahat kah? Kamu adalah orang yang membina pikiran dengan baik, maka untuk apa kamu menyalahkan orang lain. Ada banyak sekali biksu-biksu agung, yang pergi ke pusat perbelanjaan, duduk di sana, begitu mata terpejam, tetap bisa memblokir telinganya, tidak mendengarkan apapun, tidak melihat apapun, pikirannya tidak dipengaruhi oleh dunia luar, keadaan tidak bisa mengganggu pikirannya, keadaan berubah namun pikirannya tidak berubah. Kelebihan Master adalah walaupun keadaan berubah, namun pikiran – hati tetap tidak berubah. Kamu harus bisa menggunakan kebijaksanaan untuk mengatasinya, kamu harus bisa membuat keadaan berubah mengikuti pikiranmu, bukannya pikiranmu yang berubah mengikuti keadaan orang lain. Saat Master memberikan wejangan kepada grup muda-mudi, ada begitu banyak anak-anak muda, apakah menyukai mereka? Suka. Apakah senang? Senang. Bersukacita? Bersukacita. Setelah selesai wejangan, kembali ke kamar, begitu pintu dikunci, siapapun tidak ditemui, benar tidak? Bagaimana pun keadaan berubah, saya sendiri tidak berubah, pikiran saya tidak berubah. Kalian harus mempelajari konsentrasi seperti ini.
Kali ini, Master bertanya kepada Tulku – Buddha hidup, bagaimana kalian bermeditasi? Bagaimana kalian menjalani retret tertutup? Sesungguhnya, saya tahu bagaimana menjalani retret tertutup, akan tetapi berbagai agama dan Pintu Dharma, caranya tidak sama, retret tertutup pada aliran Buddha Tibet dan aliran Vajrayana, terbagi menjadi empat bagian, pagi hari dari jam berapa sampai jam berapa, kemudian istirahat satu jam, kemudian lanjut dari jam berapa sampai jam berapa, mereka duduk di sana bermeditasi dan melafalkan paritta, sesungguhnya adalah tidak menjawab telepon, tidak bertemu tamu, hanya duduk di dalam sana, menutup pintu dan memikirkan kesalahan yang lalu. Kelihatannya, nantinya di antara para pengikut, saya harus membuat suatu medan pembinaan, saya benar-benar berharap ada banyak orang di antara kalian yang bisa ikut saya menjalani retret tertutup baik-baik. Sungguh, khusus mempersiapkan satu ruangan, terutama Xiao Yu yang pertama duduk dengan saya terlebih dahulu di dalam, coba kamu duduk seharian, apakah kamu bisa duduk dengan tenang, ikut saya duduk di dalamnya, bermeditasi dan melafalkan paritta, sampai tiba waktunya makan, saya kembali memasukkan kamu ke dalam, maka pikiran pada saat ini pasti akan kacau balau, akan tercerai-berai, mengerti? Menjalani retret tertutup berarti memaksa mengusir keluar semua hal-hal yang tidak baik dalam pikiranmu. Oleh karena itu, kalian harus bersyukur atas nidana ini yang membuat dirimu tersadarkan, janganlah kamu membenci nidana, aduh, mengapa dia datang, mengapa dia bersikap buruk pada saya, jangan membenci orang lain, kamu harus bersyukur. Karena sebab ini menciptakan jodoh ini, membuat saya memahami prinsip kebenaran ini di dunia ini: karena suami saya ini tidak logis, sepanjang hari memukul saya, membuat saya tahu, bahwa di kehidupan sebelumnya, saya telah melakukan begitu banyak kejahatan, maka di kehidupan ini, saya seharusnya menguraikannya, maka di kehidupan selanjutnya saya baru tidak akan dipukuli orang lain. Ini yang dinamakan bersyukur. Sibuk sekian lama, dia memukul saya, lalu saya memukulnya, dan kamu mencari lima orang, dan dia juga mencari sepuluh orang, terakhir semuanya masuk penjara. Maka anaknya setiap Senin, Rabu, Jumat pergi mengantarkan makanan ke penjara untuk ibunya, dan Selasa, Kamis, Sabtu, mengantarkan makanan untuk ayahnya, memangnya kamu kira tidak ada kejadian seperti ini?
Oleh karena itu, jika kita seumur hidup ini bisa mengenal ajaran Buddha Dharma, kita baru bisa segera terbebaskan. Apa yang dimaksud dengan “segera”? Orang Beijing mengatakan “langsung” terbebaskan. Pada hari Rabu saat mendengarkan kelas Master, masih bisa langsung tersadarkan, namun begitu berakhir, segera lupa, benar-benar payah sekali. Makanya, kamu selamanya tenggelam di dalam tumimbal lahir, karena pada berkali-kali kelahiran dan kehidupan, kamu bertemu dengan jodoh hubungan burukmu, dengan kata lain, hari ini kalian di sini, di perusahaan tempat bekerja, di rumah, yang kita hadapi adalah “musuh” kita dari berkali-kali kehidupan yang lalu. Kalian dengan anak kalian adalah jodoh hubungan buruk, dengan suami juga adalah jodoh hubungan buruk, kalian mengira istri atau suami yang kalian temui hari ini bukanlah jodoh hubungan buruk kalian dari kehidupan sebelumnya? Hanya saja jodoh baik dan jodoh buruk semuanya ada. Bertemu dengan jodoh hubungan buruk, karena di beberapa kehidupan yang lalu, semuanya sedang berebut mengejar ketenaran dan kekayaan, habis-habisan sampai kalau bukan kamu yang mati, maka saya yang hidup, oleh sebab itu, di kehidupan selanjutnya, kamu masih mengejar ketenaran dan kekayaan sampai habis-habisan, ini yang dinamakan tenggelam di dalam tumimbal lahir di enam alam, mengerti? Oleh karena itu, jika kita terus-terusan begini, kapan kita bisa keluar dari tiga alam ini? Apakah bisa keluar? Tidak akan bisa keluar. Bagaimana kita bisa keluar dari tumimbal lahir di enam alam? Omong kosong. Xiao Yu berkata kepada Master, Master, di kehidupan selanjutnya, saya tidak mau lagi datang ke Alam Manusia, saya ingin keluar dari tumimbal lahir, dia mengatakannya dengan sungguh-sungguh, mengatakan dengan sangat bagus, seperti rambutnya yang dicukur habis, bukankah tumbuh kembali juga? Ucapan yang kamu katakan, bukankah setelah beberapa waktu kembali lagi? Coba sekarang kamu membebaskan diri dulu, apakah kamu benar-benar bisa keluar? Dari asmara, apakah kamu bisa melampauinya? Ketenaran dan kekayaan, sangat sulit membebaskan diri darinya, jika tidak hati-hati, akan masuk kembali. Dia bagaikan suatu pusaran air, tidak henti-hentinya berputar-putar di sisi kamu, begitu kamu tidak waspada, akan segera tergelincir masuk.
Kalau kalian memang hebat, belajar seperti Master, saya begitu menutup pintu, tidak memikirkan apapun, saya memperlakukan jodoh dengan baik, saya menganggap kalian semua sebagai suatu tingkat kesadaran spiritual untuk saya berlatih, tidak peduli apapun masalah yang kalian beritahu saya, yang baik maupun tidak baik, semuanya saya anggap sebagai suatu tingkat kesadaran. Yang ingin saya katakan akan saya katakan, namun selesai mengatakannya akan melupakannya. Jika saya mengingat semua hal-hal buruk dari kalian di dalam pikiran saya, berarti namanya saya tidak memiliki kebijaksanaan. Kalau teringat, saya akan mengatakannya, selesai bicara, saya akan melupakannya. Karena dalam pikiran saya, saya semuanya kosong, tidak ada sesuatu apapun yang perlu diingat-ingat terus. Apa hebatnya? Sekarang ada benda apa yang bisa membuat saya tidak bisa tidur? Penderitaan orang-orang bisa membuat saya tidak bisa tidur, namun masalah pribadi lainnya tidak ada. Kalian para murid pengikut datang ke tempat saya, orang ini begini, orang itu begitu, setelah membicarakannya, saya akan melupakannya, terserah kalian mau bagaimana, kalian ingin bicara seperti apapun maka bicaralah, sampai pada akhirnya masih tetap seperti ini. Kalian bisa membuat Master jadi seperti apa? Master bisa dibuat kalian jadi seperti apa?
