Sifat dasar seseorang adalah ladang hati, sesungguhnya ia bahagia abadi. Lalu bagaimana supaya sifat dasarmu bahagia selamanya? Siapa di antara kalian yang bisa mengatakannya? Tuan Hong sangat bahagia, apa yang dia gunakan untuk membuatnya bahagia? Sifat dasar yang bahagia abadi berasal dari bersabar. Kalian merasa Tuan Hong sabar atau tidak? Orang lain mengatakan dia baik maupun tidak baik, dia selalu, “Haha”, “tidak tidak”, dia bisa bersabar,dia selamanya bahagia. Coba kamu katakan, kalau tidak bisa bersabar, bukankah tidak akan bahagia? Begitu marah apakah bisa bahagia? Begitu iri hati pada orang lain apakah bisa bahagia? Bisa bersabar, maka akan bahagia. Orang lain mengkritiknya, memarahinya, membicarakannya, namun dia tidak emosi, dia bisa bersabar, dia sangat senang, dia mengira orang lain tidak pernah membicarakannya; saat kehilangan uang, “Hihi, kalau hilang ya sudah.” Ada seorang teman di internet yang mengatakan, dulu, dia kehilangan sedikit uang, sudah langsung heboh, kali ini iPhonenya baru saja diisi lalu hilang, sekarang apa yang dipikirkannya? Dia berpikir, mungkin saja orang itu lebih miskin daripada saya, lebih panik, dia ingin bisa menelepon, ya sudah biarkan saja, asalkan dia bahagia, saya juga akan merasa bahagia – sudah belajar? Kalian saja tidak bisa begini, seperti inilah Bodhisattva bukan?
Bersabar bukanlah tingkat kesadaran spiritual yang tertinggi. Inilah sebabnya Tuan Hong ingin bisa terus berlatih meningkatkan dirinya, kamu bisa bersabar, namun tidak berarti kamu memiliki tingkat kesadaran spiritual, kamu bisa bersabar, namun mungkin saja, setelah kamu selesai bersabar, kamu kembali berbicara di belakang, “Dasar jahanam”, mengerti? Kamu harus bisa menguraikannya, harus bisa menstabilkan “pikiran yang tidak terlahir dan tidak lenyap”. Dengan kata lain, pikiran saya ini memang tidak terlahir, jadi saya pun tidak peduli kalau dia lenyap. Kalau kamu memarahi saya, saya tidak akan melahirkan pikiran membencimu, lalu darimana akan datang kesabaran saya? Karena saya sama sekali tidak merasa sedih, lalu dari mana akan muncul “saya tidak sedih”? Hari ini Master menasihati Tuan Song, dan Tuan Song merasa “Yang Master lakukan demi kebaikan saya”, Master tidak memarahi saya, lalu dari mana datangnya “saya perlu bersabar”? Kamu tidak perlu bersabar, karena tiada yang lahir, lalu dari mana datangnya lenyap? Kamu sama sekali tidak terlahir pikiran tidak senang dalam dirimu, lalu mengapa kamu perlu melenyapkannya? Saya sama sekali tidak memiliki pikiran membenci orang lain, lalu mengapa saya harus menahan diri dan bersabar? Ini dinamakan pikiran yang tidak terlahir dan tidak lenyap.
Jangan berpendapat kalau diri sendiri sekarang sedang menahan diri dan bersabar, “Saya sudah bersabar, kamu jangan memancing amarah saya lagi”, maka “boom”, akan meledak. Ingatlah, jangan mengira kalau saya sudah bersabar, saya setiap hari di rumah, tetapi kamu menjahati saya, karena saya sedang menekuni Dharma, maka saya harus bersabar, saya sedang bertahan menghadapi hinaan dan kesulitan, kalau saya tidak belajar Dharma, sudah dari awal saya meledak marah. Dalam hati kita tidak boleh terlahir kebencian, apa yang bisa dikeluhkan dan bisa dibenci? Mengeluh juga adalah karma. Anakmu membuatmu marah-marah sampai seperti ini, bukankah berarti dia adalah “setan penagih hutang”? Dengan anak sendiri, apalagi yang bisa dikatakan? Kita harus memiliki “kesabaran yang tidak terlahir”(anutpattika-dharma-ksanti), dengan kata lain, jangan melahirkan pikiran untuk bersabar. Karena saya sama sekali tidak akan marah, tidak akan iri hati, saya sama sekali tidak mengingat dendam pada orang lain, sama sekali tidak ambil pusing, saya tidak merasa malu, juga tidak merasa marah, saya juga tidak perlu pelan-pelan menguraikan gengsi saya. Banyak orang saat berbicara dengan orang lain, begitu satu kritikan dari orang tersebut, lalu “pong”, wajahnya langsung memerah – maka maaf saja, berarti orang ini sama sekali bukanlah praktisi Buddhis. Seorang diplomat senior, menghadapi pertanyaan apapun yang orang lain tanyakan kepadanya, wajahnya sama sekali tidak berubah, juga tidak akan panik, orang seperti ini memiliki kesabaran. Mengapa ada sebagian orang begitu terusik langsung marah? Adakah kalian begitu juga di rumah? Satu gerakan, bisa membuatnya berpikir, “Dia sengaja bersikap begini terhadap saya”, lalu segera emosi. Satu ucapan orang lain yang jelas-jelas tidak bermaksud menyindirnya, namun begitu dia mendengarnya, segera marah. Bahkan Master yang bicara pun bisa marah, kalau begitu apakah kamu masih bisa tertolong?
Oleh karena itu, Master minta kalian, dalam hati jangan membenci semua makhluk, orang-orang adalah semua makhluk, adalah orang yang perlu kamu bantu. Contoh sederhana, kalau kamu pergi membantu anak-anak kecil yang ada di tempat penitipan anak, dan bila anak-anak itu sangat nakal, menurutmu, apakah kamu boleh membenci mereka? Begitu kamu membencinya, “Anak ini yang paling menyebalkan”, kamu pulang ke rumah saat makan bersama suami pun masih mengatakan hal ini, sedangkan anak itu pulang ke rumahnya, melompat-lompat bermain dengan girang, sama sekali sudah melupakan masalah tadi bagaimana dia membuat kamu guru ini marah, lalu menurutmu, apakah kebencianmu ini ada gunanya, benar tidak? Oleh karena itu, tingkat tertinggi dari kesabaran adalah tidak perlu bersabar, tidak ada yang perlu disabarkan. Master dulu pernah mengkritik Tuan Song, dan wajah Tuan Song bisa memerah, dia merasa malu. Masih ada banyak sekali orang, begitu Master mengkritik kalian satu kalimat, lalu kalian bisa mencari-cari alasan ini dan itu, tidak mau mendengarkan Master, memangnya apa yang perlu dijelaskan? Bahkan Master saja tidak boleh mengkritik kalian? Tidak ada penjelasan, juga tidak perlu bersabar, Master mengkritik kalian demi kebaikan kalian, seperti saat kalian berbicara dengan anak, bukankah itu juga demi kebaikan anak? Kalau anak berkata, “Mama, kamu menasihati saya, saya tidak akan kesal dan marah-marah, saya sedang bersabar.” Mama berkata, “Kamu makan lebih banyak lagi.” “Baik, mama, saya bersabar.” “Kamu bisa pakai baju lebih tebal?” “Baik, mama, saya sudah bersabar, saya mendengarkan kata-katamu, saya sudah memakai baju satu lagi.” Master menasihati kalian bukankah sama seperti orang tua yang berbicara dengan kalian? Apa yang perlu disabarkan?
Harus bisa menstabilkan pikiran, jadi tidak perlu bersabar. Harus bisa meratakan hati – menenangkan diri, “Saya sudah cukup baik, saya sudah hidup dengan damai dan tenang di dunia ini, saya sudah memperoleh Pintu Dharma ini, saya punya rumah, saya juga punya sedikit uang, saya tidak akan tidur di pinggir jalan. Coba lihat, orang-orang lansia yang tidur di pinggir jalan dan para gelandangan, dibandingkan mereka, keadaan saya sudah sangat bagus, sama sekali tidak perlu memikirkan bersabar, tidak perlu bersabar.” Sesungguhnya, banyak hal dalam masyarakat ini yang tidak perlu diambil pusing, jangan terus berpikir kalau, “saya harus bersabar”. Pikiran “menahan diri” sudah tidak benar, berarti kamu sudah memiliki masalah psikologis. “Saya terus bersabar sampai hari ini”, sudah bermasalah, selamanya sampai pada suatu hari suami istri bisa bertengkar, “Saya setiap hari bersabar padamu, saya sudah tidak bisa sabar lagi”, pasti ada suatu hari di mana seseorang tidak bisa bersabar lagi. Asalkan kamu memiliki kata “bersabar” ini, maka pasti akan tiba harinya di mana kamu tidak bisa bersabar.
Harus meninggalkan semua keadaan, baru bisa mendapatkan kebebasan. Harus meninggalkan segala kondisi atau keadaan di dunia ini, dengan kata lain, jangan karena kamu melihat hal ini, lalu saya menjadi marah, apa maksud dari keadaan di sini? Yakni melihat hal atau masalah ini. Banyak orang yang begitu matanya melihat hal ini, langsung merasa tidak senang, mengapa mangkuk ini ditaruh di sana? Tante Ma sangat lucu sekali, asalkan dia masuk ke dalam dapur – ke dalam keadaan ini, “Mengapa kalian menaruh mangkuk di sini?” Ini orang pun tidak mencuci, atau sudah berapa kali kulkas dibuka”, dia mengetahui semuanya, barang ini seharusnya diletakkan di sini, sekarang kembali ditaruh di sana”, ini pun dia juga tahu. Begitu dia masuk ke dalam keadaan ini, dia akan segera merasa tidak nyaman, tetapi dia tidak bisa mengatakannya, karena harus bersabar. Tunggu sampai suatu hari, Master meminta semua orang untuk membersihkan dapur, Tante Ma akan berkata, “Saya sudah dari dulu mengatakannya, saya sudah menahan diri selama sebulan.” Ya sudah, kesabaran pasti akan meledak pada suatu hari nanti, benar tidak? Maka, jangan bersabar, harus bisa bersikap seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak bersabar, maka kamu akan memperoleh kebebasan, lepaskan semuanya, harus bisa melepaskan semuanya.
Dengarkan kata-kata ini baik-baik, “Terhadap segala hubungan, tidak tinggal di hati”. Dengan kata lain, terhadap semua hal ataupun semua orang, setelah kamu berhubungan dengannya, janganlah kamu menyimpannya dalam hati, betapa mendalam dan menyeluruhnya perkataan Bodhisattva. “Tidak tinggal di hati”, yakni jangan menyimpan segala permasalahan ke dalam hati atau pikiranmu, maka tidak akan terlahir kesabaran dalam dirimu. Pikiran yang tidak dikuasai, pikiranmu tidak dikendalikan oleh hal apapun, bukankah kamu akan menjadi bebas dan leluasa? Sekarang pikiranmu dikuasai oleh sebotol acar sayur yang kamu simpan di kulkas, maka siapapun yang menggeser posisi acar sayur ini, maka pikiranmu bergerak mengikutinya. Meskipun acar sayur Tante Ma ini untuk dikonsumsi Master, kalian tidak boleh makan, akan tetapi begitu orang lain memakannya, begitu menyentuhnya, Tante Ma akan merasa, kalian tidak hormat pada Master, ini tidak baik, kemudian, sesungguhnya pikirannya ini berarti sudah dibelenggu oleh acar sayur ini. Master meminta kalian untuk memiliki “pikiran yang tidak melekat”, dengan kata lain, tidak ada tempat apapun yang bisa mengunci pikiran kalian, kamu baru bisa bebas dan leluasa. Melihat orang ini merasa tidak senang, melihat orang itu merasa kesal, berarti kamu sudah mengunci pikiranmu pada dirinya. Begitu melihat anak ini, lalu kamu merasa risau, bukankah berarti pikiranmu sudah berada di tubuh anak ini? Pikiran yang tidak dikuasai, dengan kata lain, pikiran saya tidak dimiliki oleh satu orang tertentu, pikiran saya juga tidak dimiliki oleh satu masalah tertentu, maka pikiran saya baru bisa bebas. Kamu, Xiao Ma, pikiranmu sekarang dimiliki oleh putramu, kalau putramu baik, kamu merasa senang, kalau putramu tidak baik, maka kamu marah-marah, benar tidak? Karena pikiranmu sudah dikuasai oleh putramu. Oleh karena itu, mengapa seseorang saat ingin mengerjai orang lain, akan menyerang kelemahannya, karena pikirannya sudah dikuasai. Pikiran yang tidak melekat pada anak, harus belajar agar pikiran tidak dikendalikan oleh apapun, sesungguhnya berarti telah memperoleh pembebasan.
