Tidak Mengambil, Tidak Melepas, Tidak Melekat Akan Rupa
Kalian harus ingat, dalam menekuni ajaran Buddha Dharma, dia tidak boleh diambil, juga tidak boleh dilepaskan. Apa yang dimaksud dengan “tidak mengambil dan tidak melepas”? Sesuatu yang tidak bisa kamu dapatkan, ada banyak benda yang bukanlah sesuatu yang bisa kamu – manusia ini dapatkan, semuanya kembali lagi pada akar dasar spiritualmu, serta berapa besar jasa kebajikan yang telah kamu lakukan, apakah kamu bisa menyerap Pintu Dharma ini, apakah kamu bisa mendapatkannya. Oleh karena itu, tidak bisa diambil, yakni tidak dapat terambil. Ada banyak hal juga tidak bisa dilepas, tidak dapat dilepaskan. Apakah benda yang tidak bisa dilepaskan? Karena itu adalah kebiasaan pada dirimu, karena itu adalah temperamen buruk pada dirimu, karena ada berbagai macam dosa karma buruk dan arwah asing pada dirimu, apakah kamu bisa melepaskannya? Ada berapa banyak orang yang mengatakan, “Saya akan berubah, saya akan mengubahnya, saya tidak akan lagi merokok, saya tidak akan lagi minum minuman keras …” coba kamu beritahu saya, berapa orang yang sudah berubah? Bisakah berubah? Berapa tahun kalian sudah berubah, dan berapa banyak temperamen buruk yang sudah diubah? Karena dharma ini bukanlah sesuatu yang bisa kamu kendalikan, karena dunia ini bukan kamu yang mengendalikannya. Pada masa itu, Hitler mendominasi seluruh dunia, dia mengira dia bisa mengendalikan dunia ini, namun pada akhirnya apakah dunia ini dikendalikan olehnya? Banyak orang mengira perusahaan ini dikendalikan olehnya, coba pikirkan, apakah bisa dikendalikan oleh dia satu orang? Meskipun kamu adalah bos perusahaan ini, pada akhirnya kamu juga tidak berdaya didesak oleh penagih hutang, kamu tetap akan menutup perusahaan ini. Apakah kamu bisa mengendalikan perusahaan ini?
Oleh karena itu, dharma tidak memiliki sifat dasar. Dengan kata lain, Dharma yang kita pelajari, ia tidak memiliki sifat dasarnya sendiri. Mengapa? Perbuatan baik yang kamu lakukan, ia akan muncul menjadi buah karma baik; jika kamu melakukan perbuatan jahat, maka buah karma jahat akan muncul, ia tidak memiliki sesuatu sifat yang benar-benar dimilikinya sendiri. Dengan kata lain, semuanya tergantung dari dirimu sendiri, ia membantumu berbuat seperti ini, berapa banyak yang kamu lakukan maka sebanyak itu yang akan didapatkan, ia mengikuti balasan karmamu; bukan berarti ia sendiri memiliki sebuah timbangan, seberapa besar perbuatan baik yang kamu lakukan, saya juga tidak memberikannya padamu, atau seberapa besar perbuatan jahat yang kamu lakukan, saya juga tidak memberikannya padamu, tidak begitu; melainkan berapa banyak perbuatan baik yang kamu lakukan, maka sebesar itu pula balasan baik yang akan didapatkan, dan berapa besar perbuatan jahat yang kamu lakukan, maka sebesar itu juga balasan buruk yang akan didapatkan. Maka dikatakan, balasan karma menyertai kita bagai bayangan, sama sekali tidak bisa dihindari, yang akan muncul pasti akan muncul, yang seharusnya lenyap pasti akan lenyap. Maka demikian juga dalam bersikap dan berperilaku, maupun dalam menjalin relasi dengan orang lain, hari ini hubungan kita baik sekali, semuanya bersama-sama merasa sangat senang, itu juga adalah relasi perasaan antara manusia; saat tiba waktunya untuk lenyap, maka yang hilang akan hilang. Mengapa masih ingin membalas dendam? Apakah kalian mendengar salah satu pendengar di stasiun radio? Ada dua anak muda yang mengatakan, “Mengapa kamu masih mau membalas dendam pada saya, kamu ingin membalas dendam sampai kapan?” Orang ini sudah tidak mau baik padamu, berarti tidak akan baik padamu, sudah lenyap, sudah hilang, sudah tidak berjodoh, sudah berakhir. Putramu sekarang sudah tidak mau dirimu lagi, berarti sudah berakhir, atau ibu ini sudah tidak mau putranya, berarti sudah berakhir, yang sudah hilang sudah tidak ada lagi. Jika terus-menerus menggelayuti orang ini, maka selanjutnya akan melahirkan jodoh buruk. Jodoh baik sudah berakhir, maka lupakanlah, mengapa harus terus-menerus memaksakan diri pada orang lain?
Orang Tiongkok sering mengatakan, “kepahitan ditelan ke dalam, maka menjalani penderitaan pun harus menyesuaikan jodoh, bersabar sama dengan menyesuaikan jodoh”. Jika kamu tidak bisa bersabar, berarti kamu tidak bisa menyesuaikan jodoh. Yang sudah lenyap, ya biarkanlah lenyap; jika hal ini sudah terjadi, maka terjadilah. Bukankah perasaan antara manusia juga adalah dharma, mengerti? Menjadi orang pada dasarnya juga merupakan bagian dari alam dharma ini, juga berada di tengah dharma ini. Hari ini kamu bersikap lebih baik pada orang ini, maka orang ini juga bersikap lebih baik padamu; jika kamu bersikap buruk pada orang ini, maka orang ini pun akan bersikap buruk padamu, bukankah perasaan manusia juga adalah dharma? Manusia harus bisa tidak melekat pada rupa. Dengan kata lain, jangan memandang hal ini terlalu berat, jangan memandang hal ini sebagai sesuatu yang terlalu serius, seperti hari ini kamu menganggap hal ini penting sekali. Manusia tidak boleh melekat pada rupa, berarti selamanya jangan terlalu menganggap hal atau masalah ini sebagai sesuatu yang nyata, benar tidak? Kita harus bisa melihat rupa namun tidak meninggalkan rupa, jadi bisa melihat rupa ini, juga tidak meninggalkan rupa ini. Contoh, hari ini saya memiliki kesempatan ini, meskipun saya sudah bertemu dengan satu pacar pria, akan tetapi, hati saya tidak melekat padanya, menyesuaikan jodoh. Hari ini semua mengantri di sini untuk membeli barang yang murah ini, kamu juga mengantri, akan tetapi, sampai tiba giliran kamu, barangnya sudah terjual habis, oh, tidak apa-apa, karena tidak melekat pada rupa. Pada saat mengantri, melihat rupa dan tidak meninggalkan rupa. Karena ada antrian, maka saya turut mengantri, tetapi, benar-benar mengantri di sana, sampai pada giliran kamu, sudah habis, reaksi pertama kebanyakan orang adalah mencaci-maki, benar atau tidak? Ini yang dinamakan, “melekat pada rupa”.
Melihat rupa dan tidak meninggalkan rupa, namun melihat dharma meninggalkan dharma, apa maksudnya? Segala hal yang kamu lihat, kamu harus bisa meninggalkannya. Jika hal ini sudah menjadi suatu dharma – fenomena di dunia ini, dharma yang saya rujuk di sini bukanlah ajaran Buddha Dharma. Misalnya, perusahaan sudah bersiap-siap memecat satu orang, memintamu untuk segera pergi, maka kamu pun juga tidak masalah. Melihat dharma dan meninggalkan dharma, sesuatu yang jelas-jelas terlihat, namun dharma ini adalah kemelekatan, sesungguhnya, kamu harus bisa meninggalkannya. Jelas-jelas kamu bisa melihatnya, jika berkembang terus, maka jalinan perasaan kedua orang ini akan semakin baik, maka harus segera pergi meninggalkannya; jika diteruskan, kedua orang ini akan segera bertengkar, maka harus segera pergi; atau bila diteruskan, saya akan melanggar hukum, maka kamu harus segera membuat pemikiran liar meninggalkan dirimu, mengerti?
Hari ini, Master akan melanjutkan pembahasan tentang, “tidak mengambil dan tidak melepas, segala dharma tidak bisa didapatkan”. Janganlah melekat pada rupa, segala sesuatu yang bisa terlihat di dunia ini disebut sebagai dharma. Hari ini saya melihat uang, hari ini saya melihat ketenaran, melihat kekayaan, segala hal yang saya lihat, saya ingin mengambilnya, namun sesungguhnya, semua dharma ini, janganlah saya mengambilnya. Hari ini kamu di rumah orang ini melihat uangnya jatuh, itu tidak ada hubungannya denganmu, tinggalkan dia; jika kamu terus melototinya, maka akan terlahir suatu nafsu keinginan pada dirimu. Hari ini kamu melihat orang ini sangat cantik, maka kamu harus meninggalkannya, jangan terus melihatnya, jika kamu terus melihatnya, akan memicu masalah. Hari ini kedudukan pimpinan ini, jika setiap hari kamu pikirkan, setiap hari kamu melihatnya, maka kamu akan setiap hari memikirkannya. Oleh karena itu, tidak melekat pada rupa, sama dengan tidak mengambil dan tidak melepas. Saya tidak berpikir untuk mengambilnya, saya tidak memiliki pemikiran untuk merebutnya, mengambil berarti merebut dan memilikinya, saya tidak mengambilnya, saya juga tidak melepasnya, saya juga tidak mau kembali menghilangkan hal-hal ini. Ada berapa banyak orang, sebelum menjadi pejabat, berusaha mati-matian untuk menjadi pejabat, tunggu sampai sudah menjadi pejabat, lalu dijahati terus oleh orang lain sampai tidak karuan, pada akhirnya, ingin melepas tidak mau menjabat lagi, juga tidak bisa dilepas, tidak bisa melepaskannya. Mengapa? Karena merasa kehilangan gengsi. Oleh karena itu, mengambil dan melepas bagimu semuanya sangat penting. Kamu jangan mengambil benda ini, maka tidak akan ada hasil keadaan di mana kamu harus melepaskannya. Jika kamu ingin mengambilnya, maka pasti akan melahirkan suatu buah karma. Sama halnya, kamu menikahi istrimu, kamu sudah berpikir baik-baik, kamu menikahi istri ini, sesudah menikah, tetapi setiap hari bertengkar, ribut ingin cerai, maka selanjutnya saat kamu melepaskannya akan terasa sakit.
Contoh, kamu membeli sebuah mobil, kamu sudah menghabiskan banyak uang, dalam hatimu berpikir, saya sudah mengambil, kemudian mobilmu di gores orang hingga berantakan, pada akhirnya kamu harus menjual mobil ini, memperbaikinya, lalu kembali keluar uang, kamu merasa sedih atau tidak? Membaret satu goresan sama seperti menyayat hatimu. Apakah kalian tidak memiliki perasaan seperti ini? Bukankah banyak wanita di antara kalian yang di rumah juga begitu? Membersihkan rumah sampai bersih mengkilap, namun akhirnya anak masuk ke rumah, kembali memberantakan seluruh rumah, karena kalian sudah “mengambil” kebersihan, maka kalian harus “melepas” kekotoran, maka saat melepas, kalian akan merasa sangat sulit, oleh karena itu, saya tidak mengambil, maka saya juga tidak melepas. Contoh: saya tidak melahirkan anak, maka saya juga tidak perlu melepaskan hidup saya untuk melindungi keamanan anak. Sekarang, jika saya meminta kalian melepas, apakah maksud dari melepas? Yakni jangan mengambil atau mengejar benda apapun, tidak mengambil benda milik orang lain. Jika kamu mengambil benda milik orang lain, lalu orang lain di luar menjelek-jelekkan kamu. Coba tanya saja, banyak orang pasti juga begitu, saat memberikan barang padamu, “Aduh, tidak apa-apa, ini bagus sekali, kamu ambil saja, ambil saja …” setelah memberi, lalu di luar mengatakan, “Coba lihat saya memberinya benda itu, dia pun mau”, apakah kamu memalukan atau tidak?
Jangan mengambil, maka tidak perlu melepas, disebut sebagai tidak mengambil dan tidak melepas, segala dharma tidak bisa dimiliki, dharma apapun tidak bisa didapatkan, maka dikatakan, tiada yang didapatkan juga tiada yang hilang. Tidak ada yang didapatkan, maka juga tidak akan ada yang hilang, benar tidak? Hari ini kamu mendapatkan satu benda berharga ini, pada suatu hari, kamu mungkin akan kehilangannya. Pada saat kehilangan, kamu merasa sangat menderita; jika hari ini saya tidak mau mendapatkannya, saya juga tidak berpikir untuk memilikinya, maka saya tidak akan kehilangan benda ini. Menekuni ajaran Buddha Dharma adalah belajar konsep pandangan ini, yakni mempelajari intisari-intisari seperti ini.
Semuanya adalah nidana – sebab musabab. Oleh karena itu, semua dharma adalah nidana, segala benda yang kalian miliki di dunia ini semuanya terlahir karena nidana. Hari ini kalian bisa duduk bersama Master di sini, itu pun juga adalah nidana; hari ini kalian menjadi tamu pendengar, itu juga adalah nidana; beberapa hari kemudian, kalian menjadi murid, itu juga adalah nidana; mereka yang duduk mendengarkan di pintu, juga adalah nidana. Tunggu sampai nantinya kalian sudah menjadi murid, itu juga adalah nidana. Hari ini kamu mengenalnya, dia juga mengenalmu, semuanya adalah jodoh. Semua dharma adalah jodoh, segala benda di dunia ini adalah jodoh. Hari ini kalian sangat baik padanya, bukankah adalah jodoh? Dua hari kemudian bertengkar dengannya, saat kamu ingin berbaikan, maka harus terpikir saat bertengkar; ketika kamu sedang bertengkar, maka harus terpikir pada suatu hari nanti juga akan berbaikan. Oleh karena itu, saat bertengkar jangan mencaci-maki habis-habisan, jangan marah-marah sampai mengatai nenek moyang leluhur orang lain, di masa depan masih mungkin ada kesempatan untuk berbaikan; saat sedang baik, juga harus mengendalikannya, harus berhati-hati memikirkan masa lalu dan hal-hal ke depan. Dalam mengerjakan suatu hal, harus memikirkan langkah selanjutnya, saat kamu sudah bekerja sampai akhir, kamu harus berpikir pada nantinya juga masih bisa berbaikan, oleh karena itu, dengan orang lain, harus bisa bertemu baik-baik dan berpisah baik-baik. Menekuni Dharma bukankah mengajarkan kalian untuk menjadi orang yang baik? Bukankah belajar bersikap dan berperilaku yang baik? Maka saat hubungan sedang baik, juga jangan berlebihan, pada akhirnya saat bertengkar, pertengkaran akan menjadi semakin hebat, lalu salah siapa? Hanya bisa menyalahkan diri kalian sendiri. Memang siapa yang bisa disalahkan? Maka dalam mengerjakan segala hal tidak boleh berlebihan, menekuni Dharma harus bisa mengambil jalan tengah, inilah makna“jalan tengah” yang dikatakan orang Tiongkok. Buruk juga jangan terlalu buruk, baik juga jangan terlalu baik, harus bisa sepertinya dekat namun juga jauh. Oleh karena itu, orang Tiongkok memiliki pepatah yang berbunyi, “Nenek moyang mengatakan: menjaga relasi antara orang baik sehambar air”.
