5. Senantiasa Menanam Tiga Ladang Berkah dalam Pikiran Kita 心中常种三福田

Senantiasa Menanam Tiga Ladang Berkah dalam Pikiran Kita

Sekarang ada banyak orang yang memohon peruntungan uang – rezeki. Sesungguhnya, untuk memohon peruntungan uang juga ada karmanya, bukan karena kamu sudah memohon peruntungan ini lalu bisa mendapat uang, karena Dewa Rezeki juga harus melihat apakah di kehidupan sebelumnya dan di kehidupan ini kamu ada menanam buah karma baik atau tidak, juga harus melihat apakah di kehidupan yang lalu dan di kehidupan ini kalian pernah menabur benih dengan berdana uang. Pahamilah, uang – harta kekayaan maupun peruntungan baikmu ditentukan dari apakah dirimu pernah menanam bibit karma ini atau tidak. Jika hari ini kamu memiliki peruntungan baik, itu karena kamu pernah menanam bibit karma ini, maka hari ini kamu baru bisa memiliki peruntungan uang, karena kamu sudah menanam ladang berkah, maka kamu baru bisa memiliki buah karma ini. Misalnya, kamu memiliki sebuah ladang, namun kamu tidak menabur atau menanam benih, akan tetapi kamu setiap hari menyiram dan memupuk ladang berkah ini, menjaga kondisinya dengan sangat baik, tetapi mengapa pada akhirnya tidak ada buah yang tumbuh? Sudah mengerti bukan? Ini sama dengan, kamu tidak berdana di kehidupan sebelumnya, tidak melakukan kebajikan, tidak berbuat baik, tidak berdana atau memberi uang, maka itu berarti “tidak ada bibitnya”. Jadi jika sekarang kamu memohon kepada Bodhisattva Rezeki, “Pu Sa, Cai Shen Pu Sa, berkati saya supaya jadi kaya!” Namun kamu tidak punya bibit dalam hal ini, sedangkan saat kamu memohon, itu umpama kamu sedang menyiram air, tetapi kalau tidak ada bibitnya, bagaimana mungkin bisa tumbuh buah kebaikan? Bagaimana mungkin Kamu bisa menuainya? Meskipun kamu “memberinya air dan sinar matahari”, itu sama seperti mempersembahkan buah-buahan kepada Bodhisattva, namun apakah kamu bisa mendapatkan peruntungan uang? Karena kamu tidak memiliki bibitnya, maka meski memohon pada Dewa Rezeki sekalipun tidak akan ada gunanya, benar tidak? Akan tetapi, sama halnya jika kamu memiliki bibitnya, namun tidak memberinya sinar matahari dan air, maka bibit kamu ini pun tidak akan tumbuh dengan baik dan cepat. Mengerti? Logikanya sama saja. Kamu tidak memiliki bibit sebab – berdana, maka bagaimanapun dirimu memohon, juga tidak akan mendapatkan buah karma ini. Karena buah karma – berkah pahala diperoleh dari bibit karma – berdana.


Dalam ajaran Buddha Dharma, pahala atau keberuntungan dibagi menjadi 3 jenis, yang disebut sebagai Tiga Ladang Berkah. Apakah ladang berkah itu? Yakni jodoh yang bisa membuat kamu menjadi beruntung, dinamakan ladang berkah. Apakah kamu ini adalah orang yang beruntung atau memiliki berkah pahala, semuanya ditentukan dari “3 Ladang Berkah” milikmu. Bagaimana cara untuk mendapat ladang berkah ini? Pertama-tama harus memberikan persembahan dengan hormat. Master beritahu kalian, pertama-tama harus memberikan persembahan pada Buddha, Dharma, dan Sangha. Memberikan persembahan kepada Buddha, misalnya kita melafalkan paritta, bersembah sujud, memasang dupa, mempersembahkan buah-buahan, ini yang dimaksud memberikan persembahan kepada Buddha. Lalu apa yang dimaksud dengan memberikan persembahan kepada Dharma? Misalnya, kita mencetak buku Buddhis, membantu orang lain, ini semua adalah persembahan dalam Dharma, benar tidak? Memberikan persembahan kepada Sangha, misalnya, berdana pada biksu dan biksuni, termasuk para bijaksanawan besar dan para pembabar Dharma, dan juga harus memberikan sokongan kepada orang tua, memberikan persembahan atau dukungan kepada orang-orang yang membutuhkan. Apabila kamu memberikan persembahan ini dengan welas asih, maka kamu akan memperoleh berkah pahala dan ladang berkah. Pertama, saya akan memberitahu kalian cara untuk mendapatkan ladang berkah ini. Jika kamu tidak berdana dengan welas asih, maka yang kamu dapatkan adalah moralitas kebajikan, namun tidak akan ada jasa kebajikannya. Setiap perbuatan baik yang kamu lakukan, semuanya memiliki berkah dan jasa kebajikan. Lalu bagaimana bisa menentukan yang kamu dapatkan itu berkah kebajikan atau jasa kebajikan? Semuanya tergantung dari niat awal kamu. Jika kamu memiliki niat awal yang sangat baik, maka bisa mengubah berkah kebajikan menjadi jasa kebajikan, mengerti?


Selanjutnya, Master akan membahas tentang “3 Ladang Berkah”. Ladang berkah yang pertama adalah memberikan persembahan kepada Buddha, Dharma, dan Sangha, ini disebut sebagai harta hormat, yakni harta dari penghormatan, ini adalah harta atau dana yang dipersembahkan untuk Buddha dan Bodhisattva. Harta hormat ini adalah ladang berkah dari jasa kebajikan yang diperoleh dari penghormatan, jasa kebajikannya adalah yang terbesar. Ladang berkah yang kedua adalah memberi persembahan – dukungan kepada orang tua, Master, guru, ini disebut sebagai mempersembahkan ladang budi. Ladang budi adalah ladang berkah membalas budi. Ladang berkah yang ketiga adalah memberikan persembahan – berdana pada orang yang miskin, susah, sakit, dan cacat, ini termasuk ladang simpati. Apakah ladang simpati? Yakni memberikan persembahan dengan welas asih. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki ketiga ladang berkah ini bisa dengan cepat mendapatkan balasan karmanya. Ladang hormat, ladang budi, dan ladang simpati, ketiganya disebut sebagai “3 Ladang Berkah”.


Jika dalam pikiran kita, sering memberikan persembahan kepada orang tua, vihara, orang yang miskin, maka sesungguhnya di dalam pikiranmu sudah tertanam tiga ladang berkah. Orang yang berdana dalam tiga hal ini, berkah pahala akan mendatanginya. Terkadang kita sudah menanam bibit berkah, namun jika kita tidak “menyiraminya”, tidak membiarkannya terkena “sinar matahari”, buah kebaikan juga tidak akan bisa “matang” sepenuhnya, namun jika kamu memiliki bibit karma ini, maka cepat atau lambat juga akan bertunas. Maksudnya di sini adalah, asalkan kamu membantu orang lain, maka cepat atau lambat kamu pun akan menerima balasannya; asalkan kamu memberikan persembahan kepada Buddha dan Bodhisattva, asalkan kamu berbakti kepada orang tua, maka cepat atau lambat, kamu akan mendapatkan “tunas” ini – yang akan berbunga dan berbuah.


Seperti yang dikatakan tadi, jika kita memohon kepada Bodhisattva, namun diri kita tidak menanam bibit di ketiga ladang berkah ini, maka seperti apapun kamu memohon, juga tidak akan terwujud. Kalau kamu sendiri pada dasarnya sudah berdana dalam hal ini, berarti “tunas” ini sudah kamu tanam, pada saat itu, walau sinar mataharinya kurang, atau airnya tidak cukup, namun cepat atau lambat, tunas ini pelan-pelan akan tumbuh. Jika setelah kamu menanam bibit ini, Kamu melihat kalau dia belum bertunas dan tumbuh besar, dan pada saat itu kamu memohon kepada Bodhisattva, mengapa ada sebagian orang begitu memohon segera terkabul permohonannya? Mengapa orang ini begitu memohon rezeki lalu segera menjadi kaya raya? Sesungguhnya, karena di masa lalunya, dia sangat baik terhadap orang lain, dia sudah membantu banyak orang, dia menyembah Buddha, begitu bertemu kuil, dia akan masuk dan memberikan penghormatan, dia sudah melakukan jasa kebajikan… maka saat dia menginginkan kekayaan, begitu memohon kepada Bodhisattva, “Pu Sa mohon berkati saya, beri saya sedikit peruntungan uang, supaya bisnis saya ini bisa berhasil.” Maka dalam sekejap, bisnisnya itu bisa sukses. Karena pada saat dia memohon, “sinar matahari dan air” semuanya sudah diberikan, maka “tunas” ini akan berkembang dalam sekejap. Orang-orang di sampingnya melihat, “Wah, mengapa begitu dia memohon langsung terkabul? Sedangkan saya sudah memohon seumur hidup tetap tidak terkabul?” Karena kamu tidak punya bibitnya, sedangkan orang lain sudah menanam bibitnya. Apakah yang Master katakan masih belum cukup jelas? Memangnya Bodhisattva pilih kasih? Ini semua dikarenakan orang lain memiliki bibit karma di dalamnya. Maka kita harus memahami bahwa, saat berkah pahala terkumpul maka buah kebaikan akan muncul. Kita harus mengumpulkan berkah pahala, pada saat ini, semakin banyak berkah pahalanya, maka buah kebaikan hatimu baru bisa berbuah.


Mengapa dalam menekuni Dharma, seseorang harus memiliki kebijaksanaan? Karena kebijaksanaan bisa menjangkau sepuluh penjuru Alam Dharma. Seseorang yang bijaksana harus bisa menghormati gurunya, mengutamakan ajaran Dharmanya, bersungguh-sungguh membina dirinya. Oleh karena itu, Master mengajarkan kalian untuk menjadi orang yang bijaksana, jadi kalian harus bisa menghormati guru, harus bisa menghormati ajaran Buddha Dharma yang kita pelajari, tidak boleh melakukan yang tidak seharusnya dilakukan, harus benar-benar membina diri dengan baik dan nyata, bukan hanya berpura-pura. Jika kamu ingin memiliki lebih banyak kebijaksanaan, maka harus memahami bahwa “seorang praktisi harus menyadari kekeliruannya”. Coba kamu pikirkan, semakin banyak kebijaksanaan seseorang, maka ia harus semakin sering menyesali dan bertobat, karena kamu sudah selesai menyesali dan bertobat atas semua kesalahan pada dirimu, kebijaksanaanmu baru bisa muncul keluar. Sifat Kebuddhaan dalam pikiranmu, pada dasarnya memang sangat bijaksana, namun kamu telah mengotori sifat Kebuddhaan ini dalam berkali-kali kehidupanmu, jadi dengan bertobat setiap hari sama dengan menyeka bersih sifat Kebuddhaan kamu setiap hari, semakin dibersihkan akan menjadi semakin terang, jadi cahayanya semakin kuat dan bisa terpancarkan keluar.


Seseorang yang ingin memiliki kebijaksanaan harus terus-menerus bertobat, harus bisa mengetahui kesalahannya. Jika menggunakan istilah masa kini, dia harus menyadari kesalahannya dan mengubahnya, kalau sudah diubah bukankah dirinya akan menjadi bersih? Kalau sudah bersih bukankah berarti bisa diisi dengan hal-hal baik? Jika seluruh tubuh kita dipenuhi dengan hal-hal kotor, maka bagaimana mungkin hal-hal baik bisa masuk? Konfusius pernah berkata: “Dalam satu hari instropeksi diri tiga kali” – “yi ri san xing wu shen”. “Xing” adalah instropeksi atau memeriksa diri sendiri, “wu shen” adalah tubuh diri sendiri. Berarti setiap hari harus 3 kali berpikir, “Apakah yang saya lakukan hari ini sudah benar? Apakah saya sudah seperti Bodhisattva? Saya melakukan kesalahan atau tidak? Saya sesungguhnya orang yang bagaimana?” Setiap hari harus merenungkannya sebanyak 3 kali. Tiga kali instropeksi diri, ini adalah pesan dari orang suci – Konfusius.


Kita harus menghapuskan dosa karma buruk dan mengosongkan diri sendiri. Memandang semua masalah menjadi kosong, melihat semua orang adalah kosong, inilah kekosongan – sifat kosong. Karena jika kamu tidak lagi memikirkan diri sendiri, berarti sudah tidak ada lagi diri sendiri, maka kamu pun bisa menghapus halangan karma burukmu. Dalam agama Kristen, para umat akan mengaku dosa kepada pastor. Kalian menekuni Dharma mengikuti Master, maka kalian mendatangi Master dan bertobat kepada Master, sesungguhnya, ini adalah suatu cara yang sangat bijaksana. Ada banyak orang yang setelah melakukan kesalahan berkata, “Maaf Master, saya telah bersalah”, maka selanjutnya, dia akan mendapatkan bantuan Master, dia pun akan memperoleh kebebasan – karena dia sudah menceritakannya kepada Master, maka dia pun merasa lega.


Ini seperti sewaktu kita masih kecil, karena masih belum mengerti banyak hal, jadi kita melakukan kesalahan, lalu mati-matian menutupinya dari orang tua, malah setiap hari bersusah hati dan tidak tahu harus bagaimana, terakhir pada suatu hari, “Papa, saya telah salah …” Maka ayah kamu akan membantumu mengatasi masalah ini, inilah logikanya. Ada satu orang yang bersembunyi dalam gunung selama 43 tahun, karena dia telah membunuh orang, selain itu, dia tidak sengaja membunuh, di dalam gunung, setiap hari dia hidup dengan sangat susah dan menderita, dia berkata: “Kalau saja pada saat itu saya mengaku, mungkin hukuman paling berat yang saya terima adalah 20 tahun penjara, namun saya malah hidup bersembunyi di gunung bagaikan hewan liar selama 43 tahun. Sekarang walau saya dikurung dalam penjara, hati saya malah merasa tenang. Sebelumnya, saya hidup di gunung bagaikan orang liar, setiap hari tersiksa dan sangat menderita sekali.” Oleh karena itu, orang yang bisa bertobat adalah orang yang memiliki kebijaksanaan.


Bertobat pada Master – guru sendiri bisa mengikis halangan karma buruk, dalam ajaran Buddha Dharma ini disebut sebagai “huan jing” – mengembalikan kesucian. Mengembalikan kesucian, berarti memulihkan kesucian – kebersihan dirimu. Setelah bertobat, hatimu akan menjadi bersih dan nyaman, mengertikah? Mengembalikan kesucian bisa memperoleh berkat kekuatan, karena setelah kesucian kamu kembali, Kamu akan memperoleh berkat kekuatan. Kalau kamu sering bertobat, maka kamu pasti bisa menjaga ketaatan kamu pada sila, maka kamu akan disinari cahaya Buddha, selain itu akan muncul suatu “cahaya sila”. Dengan kata lain, saat kamu sering bertobat, akan muncul suatu cahaya, dan cahaya ini adalah cahaya sila. Coba kamu pikirkan, “Pu Sa, saya tidak akan minum minuman keras lagi, hari ini saya sudah minum minuman keras …” Bukankah berarti saat kamu bertobat, kamu akan menjadi bersih? Bukankah kamu akan berhenti minum minuman keras? “Pu Sa, saya tidak akan melakukan hal ini lagi”, bukankah berarti nantinya kamu akan berhenti melakukan hal ini? Maka cahaya sila akan muncul. Ini adalah filsafat teori Buddhis yang sangat luar biasa yang dikatakan oleh Bodhisattva. Mengerti?


Karena kamu sudah bertobat atas suatu hal tertentu, maka kamu tidak akan melakukannya lagi, kalau kamu tidak bertobat, mungkin saja nantinya kamu masih akan melakukan hal ini lagi. Contoh, seorang wanita yang menikah dengan seorang pria, setiap hari dia bertengkar dengan pria ini, sampai pada akhirnya, dia berkata: “Saya tidak percaya kalau di seluruh dunia ini hanya ada kamu satu pria, saya akan mencari orang lain.” Dia tidak mau bertobat, lalu dia mencari pria lain, dan kembali menemukan satu pasangan lain, namun karena dia tidak mengubah temperamen buruknya, pada akhirnya dia masih akan memiliki akhir yang sama, benar tidak? Di mana cahaya silanya? Oleh karena itu, semakin disiplin kamu menjalankan sila, maka akan terlahir suatu kekuatan dalam dirimu yang disebut sebagai kekuatan sila. Kekuatan sila, adalah kekuatan dari menjalankan sila. Dengan kata lain, seseorang yang sepanjang waktu bertobat dan menjalankan sila, orang yang sering berkata kalau saya telah melakukan kesalahan pada hal ini atau hal itu, maka lain kali dia tidak akan melakukan kesalahan lagi, dan kekuatan sila ini semakin lama akan menjadi semakin kuat, yang akan melahirkan suatu cahaya. Cahaya ini bisa menghilangkan sinar rasa bersalah kamu, yakni menghilangkan anggapan perasaan bersalah diri sendiri. Karena kalau sinar rasa bersalah ini terus menyinari kamu, maka kamu akan merasa sangat malu – minder, merasa kalau dirimu sendiri telah melakukan banyak kesalahan.


Mengapa ada begitu banyak orang yang setelah mengikuti Master menekuni ajaran Buddha Dharma, berkata: “Master, saya benar-benar telah melakukan banyak kesalahan.” Bukankah ada banyak sekali yang kita dengar dalam siaran radio? Setiap orang yang datang menemui Master berkata: “Master, saya telah melakukan banyak sekali hal-hal kotor, saya telah banyak menyakiti orang lain.” Karena dia sudah menjalankan sila, karena dia sudah bertobat, karena dia sudah tahu kalau dia telah bersalah, maka selanjutnya dia tidak akan mengulanginya lagi. Ini adalah suatu kekuatan dari bertobat, yakni kekuatan yang pelan-pelan membuat diri sendiri menyadari kesalahannya, ini adalah suatu bentuk cahaya yang memberkati diri sendiri. Sesungguhnya, apa ini? Karena saya sudah taat pada sila, saya sudah bertobat, jadi kamu bisa memberikan kekuatan pada diri sendiri, selain itu kamu akan memperoleh berkat dari Bodhisattva. Seperti seorang anak kecil yang berkata: “Pak atau Bu guru, ayah ibu, saya sudah bersalah, saya tidak akan melakukannya lagi.” Guru akan berkata: “Anak baik, jangan lakukan lagi.” Ibu akan berkata: “Anak baik, tenang saja, ayah dan ibu akan bersikap lebih baik padamu.” Bukankah berarti kamu mendapatkan cahaya? Memperoleh terang? Apa salahnya kamu bertobat pada Bodhisattva? Kalau malah bersikeras, “Saya itu benar, saya tidak peduli.” Pada akhirnya, kamu akan tersingkir dan dikucilkan oleh orang lain, terakhir kamu akan dicaci-maki habis-habisan oleh orang-orang. Seseorang yang bersikeras menyimpan benda-benda kotor pada dirinya, menganggapnya sebagai harta berharga dan tidak mau membuangnya, bukankah berarti kamu sama dengan tong sampah? Kalau kamu mempertahankan semua hal-hal kotor pada dirimu, malah menyayanginya, tidak mau membuangnya, maka dirimu akan mengeluarkan bau busuk yang tidak ada habisnya.


Sekian pembahasan Master pada hari ini, kita harus berterima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang telah memberikan Pintu Dharma yang begitu bagusnya kepada kita. Kalian harus memahami kebenarannya, harus disiplin menjalankan sila, harus bisa bertobat.