10. Mencari Titik Keseimbangan Dalam Pikiran Kita 寻找心中平衡点

Mencari Titik Keseimbangan Dalam Pikiran Kita

Kemarin ada seorang pendengar yang memberitahu Master, dia pernah bermimpi, kalau dirinya memiliki umur yang sangat pendek, lalu dia berikrar, setelah berikrar, dia bermimpi lagi kalau Bodhisattva memperpanjang umurnya, selain menjadi panjang umur, dia bisa hidup sampai meninggal dengan tenang, tanpa sakit tiada bencana, namun akhirnya, dia sendiri tidak bertahan untuk terus baik-baik membina pikiran dan melafalkan paritta, dalam mimpinya, dia kembali melihat Master dan Dewa Pelindung Dharma sedang merundingkan masalah panjang umur hidupnya. Dengan kata lain, ketika seseorang merusak sumpahnya sendiri, Dewa Pelindung Dharma pasti akan datang menghukum dia. Orang ini sangat jelas, selain itu, Dewa Pelindung Dharma berkata padanya: “Mengapa kamu tidak mencari Gurumu untuk menolong kamu?” Master sesungguhnya sudah berdiskusi dengan Dewa Pelindung Dharma masalah memperpendek umurnya. Semoga kalian harus benar-benar menghargai, kita sebagai praktisi Buddhis, kata-kata yang sudah diucapkan sendiri, harus diingat baik-baik dalam hati, harus menepati janji, harus bisa bertanggung jawab pada Guan Shi Yin Pu Sa.


Hari ini saya akan membahas sedikit lebih dalam. Apakah pandangan alam semesta dari agama Buddha? Agama Buddha berpendapat, di alam semesta ini ada banyak dunia yang tak terhitung banyaknya, Sang Buddha sudah dari 2500 tahun yang lalu pernah mengatakan, di alam semesta terdapat Tri sahasra maha sahasra lokadhatu. Dengan kata lain, saat alam semesta ini terbentuk, ada dunia yang tak terhitung banyaknya yang ada di dalamnya, bumi kita ini, hanyalah salah satu dunia di tengah ruang alam semesta ini. Ruang kosong besar di dalam agama Buddha dinamakan “Fo cha” – tanah Buddha, “xu kong” – ilusi kosong; sedangkan ruang yang kecil dinamakan “wei chen” – debu kecil, semuanya disebut sebagai “san qian da qian shi jie – Tri sahasra maha sahasra lokadhatu”. Bumi tempat kita hidup ini hanyalah salah satu bagian yang sangat kecil di tengah ruang alam semesta ini, sebuah planet yang sangat kecil, oleh karena itu, berharap kalian janganlah di tengah planet yang kecil ini, masih ingin mencari ruang yang lebih kecil lagi bagi diri sendiri. Coba pikirkan, kita hidup di bumi ini, demi satu keluarga kecil sendiri, demi besar kecilnya kamar kita sendiri, kita hidup mengejar semua benda-benda materiil demi ego dan keuntungan sendiri; lalu pikirkan lagi, betapa besarnya seluruh alam semesta, betapa jauhnya perbedaan tingkat kesadaran kita.


Pikiran yang bisa menaungi kekosongan yang tak terbatas, dengan kata lain, pikiranmu bisa menaungi seluruh alam semesta. Jika hati dan pikiran manusia seluas alam semesta, alangkah ramah dan damainya dunia ini. Justru karena hati dan pikiran manusia menjadi begitu tercemar, tidak mampu menoleransi sedikit saja hal yang tidak menguntungkan dirinya, maka manusia menjadi semakin egois. Berharap kalian benar-benar dapat melepaskan dan memahami segala sesuatu dengan lapang. Master sering mengatakan sebuah kalimat: Mengapa lautan itu begitu agung? Karena ia selalu berada di tempat yang paling rendah. Ia sangat agung — lautan tidak pernah berebut untuk menjadi yang tertinggi.


Kita hidup di dalam dunia yang sekecil debu. Bumi ini hanyalah sebutir debu kecil di antara luasnya alam semesta. Maka, kita manusia pun sebenarnya kecil hingga tak terhingga kecilnya, begitu kecil hingga dalam ruang semesta ini keberadaan kita hampir tak dapat ditemukan. Itulah yang disebut “kosong”, yaitu tanpa pikiran yang melekat. Dari besar hingga tak terhingga besarnya, artinya, jika pikiran manusia diperluas, ia dapat menjadi tanpa batas; namun jika dipersempit, ia juga dapat mengecil hingga tak terhingga kecilnya. Contoh sederhana, ketika anak kalian masih di taman kanak-kanak, apakah anak itu terlihat kecil? Ketika kamu melihatnya dari kejauhan, bukankah ia terlihat sangat kecil? Tetapi ketika kamu menggendongnya di dalam pelukan, menyentuh kepalamu, bukankah saat itu kamu merasa anak itu begitu besar? Dan ketika kamu menatap wajahnya dari dekat, rasanya seolah-olah dialah seluruh duniamu.


Jadi, suatu hal dapat menjadi besar, dan juga dapat menjadi kecil. Jika diperkecil sampai tak terhingga kecilnya, ia menjadi “kosong”. Namun jika diperbesar sampai tak terhingga besarnya, ia menjadi “ada”. Dengan kata lain, di dalam ruang alam semesta ini, apa yang ingin kita lihat, itulah yang akan kita lihat; dan apa yang tidak ingin kita lihat, maka hal itu seakan-akan tidak ada bagi kita. Jika pada hari ini kamu hanya melihat sedikit ruang di dalam rumahmu sendiri, maka kamu akan menjadi seperti katak di dasar sumur; jika setiap hari kamu hanya melihat sinar matahari dari jendela rumahmu, maka cahaya yang kamu lihat selamanya hanya akan terbatas segitu saja. Jika kamu mampu melangkah keluar dari rumah dan melihat dunia luar, barulah kamu akan menyadari betapa luasnya cahaya matahari itu. Oleh karena itu, hati manusia haruslah lapang dan luas.


Master mengajarkan kalian untuk mencapai Tathata – kebenaran sejati atau realitas. Apa itu Tathata? Yakni benar-benar mempraktikkan, benar-benar memahami keajaiban dan keagungan ruang alam semesta. Dalam Buddhisme dikatakan bahwa keajaiban dan keagungan alam semesta terletak di sini. Kita harus memahami satu prinsip, dalam ajaran Buddha Dharma terdapat 84.000 Pintu Dharma, namun seluruh 84.000 Pintu Dharma ini disebut sebagai Pintu Dharma kemudahan, yakni tergantung dari bagaimana kamu membina dirimu sendiri, Pintu Dharma ini adalah Pintu Dharma yang bisa membuatmu meninggalkan penderitaan dan memperoleh kebahagiaan. Karena manusia sangat menderita, ada berbagai macam penderitaan, Bodhisattva mengatakan kalau manusia memiliki 84.000 derita, maka terbentuklah 84.000 Pintu Dharma untuk menolong mereka yang menderita dan kesusahan. Kita harus memahami bahwa ke 84.000 Pintu Dharma ini meski berbeda jalannya namun akan berakhir di tempat yang sama, semuanya memiliki tujuan yang sama, semuanya memiliki prinsip yang sama, yakni untuk membuat kita terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan. Oleh karena itu, dalam hidup ini, kita harus bisa mendapatkan titik keseimbangan. Apakah yang dimaksud dengan titik keseimbangan? Yakni, kita harus memikirkan masa lalu diri sendiri, maka kamu akan bisa menemukan titik keseimbangan.


Coba pikirkan, dulu kamu sudah begitu banyak menderita, lalu pikirkan dirimu sekarang sudah mengalami begitu banyak kebahagiaan; pikirkan dulu betapa bahagianya saya, namun sekarang betapa menderitanya saya, itu pun kamu juga sedang mencari keseimbangan. Mengapa dulu keadaan saya begitu baik? Karena saya membina diri dengan baik, karena saya membina diri dengan baik di kehidupan sebelumnya, lalu mengapa sekarang tidak baik? Karena di kehidupan ini, saya tidak membina diri dalam Dharma, maka saya menerima balasan karmanya, dengan berpikir demikian, kamu baru bisa mendapatkan titik keseimbangan. Coba pikirkan masa lalu, saya juga sedih dan tertekan, tetapi sekarang saya sudah menekuni Dharma, saya merasa diri saya sendiri bisa terbebaskan, saya tidak lagi merasa sedih dan tertekan. Coba kalian pikirkan, seseorang yang bisa sering mencari titik keseimbangan, bukankah berarti dia sudah meninggalkan penderitaan dan memperoleh kebahagiaan?


Dulu ada satu perkataan yang berbunyi, “Mengingat derita masa lalu, menghargai manisnya saat ini”, dengan kata lain mengajarkan kalian untuk sering merenungkan masa saat seseorang sedang susah. Masih ada berapa banyak orang yang sampai sekarang masih belum mendapatkan status kependudukan tetap. Kalian orang yang sudah memperoleh status tetap, coba pikirkan, bukankah kalian sudah mencicipi manisnya? Masih ada banyak orang yang belum memiliki sebuah keluarga yang utuh; masih ada banyak orang yang tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap, karena sekujur tubuhnya dijangkiti penyakit, lalu kamu setidaknya tidak sakit parah bukan? Maka kamu seharusnya berbahagia. Ketahuilah, sekalipun kamu menjadi anggota dewan kenegaraan, atau menjadi perdana menteri, sewaktu kamu divonis mengidap kanker, kamu tetap harus melaluinya di rumah sakit, ketenaran dan keuntungan tidak ada gunanya. Oleh karena itu, kita harus lebih bijaksana untuk menemukan titik keseimbangan dalam pikiran – hati kita.


Dalam kehidupan ini, kita harus memiliki pandangan benar jalan tengah. “Jalan tengah”, berarti terhadap segala hal, selalu memandang dari “tengah”, tidak condong ke kiri maupun ke kanan. Pandangan benar, berarti dalam segala permasalahan harus menggunakan pandangan pemikiran yang benar untuk menilai orang lain, jangan memandang orang lain secara negatif; pandangan benar, berarti menggunakan kualitas mental yang benar dalam memandang orang lain. Kalian semua tahu konsep jalan tengah, misalnya, anak ini tidak baik, namun orang tua juga jangan langsung menjatuhinya dengan hukuman yang paling berat, karena meskipun anak ini telah melakukan kesalahan, kamu juga tetap harus menyemangati dan membantunya. Kalau anak ini sudah menjadi baik, kamu juga jangan memujinya secara berlebihan. Di sini ada banyak anak gadis yang sewaktu berpacaran, memuja-muja pacar prianya secara berlebihan, maka begitu kamu jadi sedikit “cuek” padanya, dia akan segera merasa sangat tidak senang, jadi dia akan meninggalkanmu. Yang Master katakan ini, semuanya adalah pelajaran yang seharusnya kalian terima. 


Master mengajarkan kalian untuk baik terhadap orang lain, dan kehangatannya harus ditambah secara perlahan. Misalnya, hari ini saya memberi 50º, kemudian 51º, maka dia setiap hari akan merasakan sangat hangat, kemudian naik lagi jadi 52º, dia kembali merasa hangat. Sekarang, banyak orang baik dalam berbisnis maupun berteman, jika dalam sekejap secara langsung ingin memberikan semua kebaikan kepada orang lain, menaikkan suhu sampai 80º, kemudian naik lagi sampai 90º, lalu selanjutnya, apakah kamu masih bisa menaikkan suhunya lagi? “Kompor” kamu ini sudah kehabisan bahan bakar, lalu ketika kamu tidak bisa menaikkan “suhu” kehangatan ini lagi, maka suhu kamu akan menurun, dan sesungguhnya saat suhu tersebut sudah turun sampai ke 80º, tetap masih sangat panas, 70º pun juga masih sangat panas, namun orang itu sudah merasa “sangat dingin sekali”. Oleh karena itu, kita jadi orang tidak boleh dalam sebentar terlalu ramah, juga tidak boleh terlalu dingin, harus mengambil jalan tengah, kita harus membuat orang lain merasakan kalau setiap hari kita menjaga “kehangatan” ini. Jika dalam sekejap menunjukkan wajah yang tidak menyenangkan terhadap orang lain, terlihat sangat buruk sekali, lalu dalam sekejap kembali bersikap baik sekali terhadap orang itu sampai ingin menempel terus. Mengapa bisa begitu? Itu karena tidak memahami pandangan prinsip jalan tengah.


Kita harus berpandangan sama. Jadi dalam memandang suatu masalah, kita harus memiliki pandangan yang sama, dengan kata lain, memandang orang lain secara setara atau sama. Misalnya, jika masalah ini dialami dia, bagaimana saya akan berpikir? Masalah yang kamu lihat, orang lain juga melihatnya, lalu bagaimana cara pikir kamu terhadap masalah ini? Inilah yang disebut berpandangan sama. Coba kamu pikirkan, mengapa orang lain bisa menanganinya dengan begitu baik, dan mengapa saya menanganinya seperti ini? Itu berarti saya tidak benar, benar tidak? Jika orang ini tidak memiliki hubungan dengannya, bagaimana cara dia menghadapi masalah ini? Lalu bagaimana pula caramu menghadapi masalah ini? Kalau pandangan pikiranmu tidak sama dengan orang lain, berarti kamu tidak berpandangan sama, mengerti? Menyelesaikan masalah secara sama, seperti itu lebih alami dan lebih adil.


Kita harus memandang dunia alami sebagai sesuatu yang harmonis, memandang segala benda-benda alami sebagai sesuatu yang semestinya. Hari ini mengapa dia tidak memedulikan saya? Karena saya sendiri yang tidak menjadi orang baik, karena saya sendiri bersikap dan berperilaku tidak baik, maka baru bisa begitu. Pada awalnya sebenarnya semua baik-baik saja, namun diri sendiri yang tidak cukup baik. Menyalahkan diri sendiri seumur hidup tidak akan membuat kita menyesal, namun menyalahkan orang lain seumur hidup akan merasa menyesal. Yang Master katakan memiliki makna filsafat yang mendalam, coba kalian pikirkan secara berkebalikan, bukankah begitu? Seseorang jika seumur hidupnya menyalahkan dan membenci orang lain, pada akhirnya dia akan meninggal dengan penuh rasa ketidakadilan: mengapa saya bisa begini? Mengapa saya begitu sial? Tetapi jika karena merasa diri sendiri yang salah, merasa ini adalah balasan karma sendiri, maka kamu tidak akan menyalahkan diri sendiri. Kalian harus memahami prinsip kebenarannya.


Kita harus memandang segala hal sebagai jodoh yang datang dan pergi, adalah sesuatu yang terjadi secara alami. Hari ini dia bersikap buruk terhadap saya, tidak apa-apa, mungkin karena jodoh buruk yang teraktivasi; hari ini saya punya makanan, itu karena jodoh Kebuddhaan saya yang sudah matang, ada orang yang datang memberi makanan; hari ini saya tertimpa kesialan, berarti saya belum berjodoh. Jika kamu berpikir seperti ini atau seperti itu, bukankah akan membuatmu berpikiran terbuka? Ketika kamu sudah bisa berpikiran terbuka terhadap segala hal, bukankah berarti kamu sudah menemukan keharmonisan? Bukankah pikiranmu sudah mampu menaungi seluruh alam semesta? Hari ini kamu sudah menghabiskan banyak energi untuk mensukseskan sebuah bisnis, namun tidak berhasil, jika kamu berpikir, ini karena kamu belum berjodoh, maka kamu sama sekali tidak akan marah, berarti pikiranmu sudah menaungi seluruh alam semesta, kamu sudah berpikiran terbuka. Orang ini memang istrimu, mengapa tidak bisa rukun denganmu? Tidak lama kemudian malah menjadi istri orang lain? Kamu juga harus berpikiran terbuka, kalau kamu berpikiran buntu, kamu menyalahkan diri sendiri, maka kamu akan menyakiti diri sendiri. Masalah yang tidak dapat diselesaikan, sesuatu yang tidak ada hasilnya, mengapa masih mau melakukannya? Sesuatu yang membuat diri sendiri bersedih, tidak akan menyelesaikan masalah, kalau begitu mengapa kamu masih melakukannya? Jika kamu bisa menjaga mentalitas seperti ini, bukankah berarti kamu bisa menaungi segala permasalahan di langit maupun di bumi? Ini namanya memiliki pikiran yang mampu menaungi kekosongan yang tak terbatas – yakni alam semesta.