20. Berlindung Pada Tri Ratna Sifat Diri 皈依自性三宝

Berlindung Pada Tri Ratna Sifat Diri

Kita harus belajar mengatasi ketidaklancaran – kesulitan hidup, menekuni Dharma jangan berhenti. Jika hari ini ada satu ketidaklancaran datang, besok kembali ada sedikit kerisauan yang menghampiri, maka kita harus lebih baik lagi dalam membina diri. Setiap hari, setiap waktu, saya menekuni Dharma dengan bahagia, memiliki sifat Kebuddhaan, mengembangkan kebijaksanaan, saya akan memandang setiap kesulitan dalam hidup sebagai jodoh pendukung, yakni suatu sumber utama yang mendorong saya untuk maju. Semakin ada banyak kesulitan, masalah semakin banyak, perselisihan juga semakin banyak, maka kebijaksanaan saya bisa semakin berkembang semakin banyak. Dalam agama Buddha ada satu kalimat yang berarti, “kerisauan adalah bodhi”, dengan kata lain, karena kamu memiliki kerisauan, baru bisa terlahir kebijaksanaan dalam dirimu untuk mengatasinya; kalau kamu tidak memiliki kerisauan, maka kamu tidak akan bisa mendaki dan melewati gunung ini, tidak bisa melampaui halangan ini. Master berharap kalian bisa mengerti, bahwa di dunia ini, kita terkadang berpendapat, kita berada sangat jauh terhadap hal apapun, sesungguhnya, baik jarak antara hidup dan mati, sesungguhnya waktunya semua sangat singkat, terkadang kita sering merasa, terlahir di dunia ini, kita masih jauh dari kematian, begitulah seseorang kehilangan hidupnya yang berharga di tengah kemalasannya.


Master baru saja menerima sebuah telepon jarak jauh dari seorang biksu, dia berkata bahwa sepanjang jalan dia merenung, memikirkan hal – hal yang terjadi di Guan Yin Tang selama beberapa hari ini, dia menyadari dan merasakan banyak, juga berbicara banyak dengan Master, dia tidak rela meninggalkan Master, dia bisa merasakan apa yang nyata, siapa yang benar-benar peduli padanya, apa yang benar-benar membuatnya tersadarkan, ini semuanya dipahami dari dalam hati. Tadi masih bersama, di hari selanjutnya sudah harus pergi, dan terpisah jauh satu sama lain, kita manusia tidak mengejar jauh dekatnya jarak, pada kenyataannya, kita sering mengira bahwa Buddha berada jauh sekali dari kita, sesungguhnya Buddha berada di sisi kita, hanya saja kita tidak menyadarinya, bahwa Buddha selalu mencintai kita, dan setiap hari membantu kita, bahkan satu masalah kecil sekali pun, Buddha akan begitu memperhatikan kita.


Banyak sekali umat Buddhis, yang terus mengharapkan Buddha dan Bodhisattva bisa keluar dan menyelamatkan kita semua makhluk, akan tetapi mereka juga tidak percaya kalau Buddha dan Bodhisattva bisa menolongnya, ini adalah ketersesatan orang-orang, maka dia baru bisa memutarbalikkan kebenaran, oleh karena itu, ketersesatan dan memutarbalikkan kebenaran selalu menjadi satu. Asalkan seseorang sudah tersesat, maka selanjutnya, dia pasti akan melakukan kesalahan, akan memutarbalikkan kebenaran, meragukan kekuatan Bodhisattva. Terkadang, dia juga bisa menggunakan teori dalam agama Buddha dan berkata padamu, “Segala dharma terkondisi, bagaikan mimpi, ilusi, gelembung sabun, dan bayangan… kita seharusnya berpandangan demikian”, akan tetapi dia tidak tahu bagaimana cara membina diri dan belajar yang benar. Sesungguhnya, apabila seseorang mengeluh tentang ini, mengeluh tentang itu, bagaimana mungkin kamu bisa mempraktikkan ajaran Buddha dan Bodhisattva dalam kehidupan nyata? Tidak boleh menggunakan sebagian kecil ajaran Buddha dan Bodhisattva dan menafsirkannya separuh-separuh, kita harus memahami bahwa Buddha dan sifat Kebuddhaan sering muncul di dalam pikiran kita, bukan Buddha dalam makna literal, juga bukan Buddha dalam buku dan kitab-kitab, ketahuilah saat Buddha benar-benar muncul di hadapan kalian, itu adalah pikiran Buddha dalam diri kalian. Dengan adanya Buddha dalam hati – pikiran kalian, yakni berpandangan demikian, maka kamu sudah memiliki pikiran Buddha; ada Buddha yang benar dalam pikiranmu, berarti kamu sudah memiliki pikiran Buddha.


Begitu kita memasuki dunia ini, sama dengan masuk ke dalam dunia fana, kelahiran – penuaan – sakit – kematian, harta – rupa nafsu – ketenaran – makanan – tidur, kebahagiaan – amarah – kesedihan – sukacita, semuanya tidak abadi, maka kita harus bisa melihat kebenarannya, dan harus bisa melepas. Kita terlahir di dunia ini, semuanya adalah ilusi, begitu ketidakkekalan datang, maka reputasi, ketenaran, keuntungan, dan kekayaan, semuanya akan lenyap, oleh karena itu, kita pastinya tidak boleh melekat di dunia ini. Master memberitahu kalian sebuah cara yang baik, orang yang tidak melekat, tidak akan memiliki kebencian, segalanya menyesuaikan kemunculan jodoh.


Menekuni Dharma, harus belajar kepolosan, kebaikan, keindahan, dengan polos dan baik hati baru bisa menunjukkan keindahanmu. Keindahan tidak memerlukan rasionalitas, sewaktu jiwa kamu bebas, maka keindahan – kecantikan dengan sendirinya akan muncul keluar. Seseorang yang membantu orang lain, orang yang menekuni Dharma, maka kamu tidak perlu menyuruhnya, dia dengan sendirinya akan membantu orang lain, ini merupakan moralitas baik yang timbul dengan sendirinya. Konfusius mengajarkan “kebajikan, kebenaran, kesopanan, kebijaksanaan, kejujuran”, ini juga adalah dasar keindahan, sedangkan keegoisan, ketamakan, kebengisan, kelicikan, dan ketidakjujuran orang-orang zaman sekarang, sesungguhnya sudah mendorong umat manusia berbuat sesuka hatinya di dunia yang tidak kekal ini, sudah sepenuhnya mengikuti kepuasan nafsu keinginannya sendiri, sudah meninggalkan prinsip utama “orang baik yang mengasihi sesama” yang seharusnya dimiliki manusia, “orang baik yang mengasihi sesama” ini adalah perwujudan dari welas asih dalam agama Buddha.


Orang yang benar dan adil mampu bersabar, seseorang jika mengatakan “Saya adalah Buddha yang sangat benar dan adil, saya menekuni Dharma dengan benar”, maka orang ini pasti bisa bersabar. Apabila seseorang tidak bisa bersabar, sering bertengkar dengan orang lain, menuding-nuding dan mencaci-maki orang lain, maka orang seperti ini sesungguhnya tidak bisa menjadi Buddha, orang seperti ini sama sekali bukan orang yang berkeyakinan benar.


Kita jangan memikirkan diri sendiri, harus memikirkan semua makhluk, jadi kita jangan hanya memikirkan diri sendiri, kita harus memahami pentingnya melakukan segala hal demi semua makhluk. Orang yang benar tidak boleh mengambil harta yang didapatkan dengan tidak benar, ini adalah dasar seorang praktisi Buddhis untuk membawa kebaikan bagi semua makhluk, apa maksudnya? Dengan kata lain, seorang praktisi Buddhis, jika kamu adalah orang yang benar, kamu tidak akan berbuat sembarangan, tidak akan mengambil harta-harta yang tidak benar asalnya, ini sesungguhnya adalah dasar seorang praktisi Buddhis membawa kebaikan bagi semua makhluk. Kalau kamu ingin menjadi orang yang baik, maka pertama-tama kamu harus memahami bahwa, kamu tidak boleh mengambil harta orang lain dengan cara licik, ini adalah poin dasar utama sebagai pribadi yang baik, maka disebut membawa kebaikan bagi semua makhluk.


Hidup seseorang sangat singkat, ketenaran dan keuntungan akan hilang dalam sekejap, kita sudah memperoleh tubuh manusia, kita mengikuti nafsu kepuasan diri sendiri dan melanggar sila, tidak tahu menyesal dan tidak mau memperbaiki diri, nasibnya turut bertumimbal lahir mengikuti karma. Coba pikirkan, bukankah kita juga demikian bertumimbal lahir, hari ini mengalami kesusahan ini, besok masih akan menghadapi kesusahan itu, lalu lusa kembali lagi menjalani kesulitan ini, justru karena berada di tengah tumimbal lahir. Kita tidak menyesalinya dan tidak mau memperbaikinya, orang yang tidak mau memperbaikinya, berarti tidak tahu bagaimana bisa melampaui kelahiran dan keluar dari penderitaan. Seseorang yang tidak mau memperbaiki kekurangan pada dirinya sendiri, sesungguhnya, berarti orang ini tidak ingin memiliki kebahagiaan, maka selamanya dia akan hidup di tengah penderitaan, dan justru karena disiksa oleh penderitaan ini, maka orang ini jadi tidak tersadarkan, tidak mau mengubah keburukannya sendiri. Mengapa Master begitu keras terhadap murid-murid, karena ingin kalian bisa memperbaiki kekurangan diri, setiap hari harus diubah, maka kalian tidak akan tenggelam di tengah penderitaan. Ada orang yang sudah memperoleh tubuh manusia, seumur hidupnya mencari jalan kebebasan hidup, akan tetapi hidup ini sangat singkat, masih belum memperoleh Pintu Dharma untuk membebaskan diri, sudah kembali bertumimbal lahir lagi. Coba pikirkan, waktu begitu singkat, maka kita harus menghargai hidup.


Selanjutnya, Master ingin membahas tentang “berlindung” – “gui yi”. Karena banyak bertanya perihal berlindung atau bernaung dalam Xin Ling Fa Men, sesungguhnya, praktisi awam bisa terlebih dahulu berlindung pada sifat dasarnya sendiri, dinamakan berlindung pada diri sendiri. Berlindung pada Buddha, berarti berlindung pada kesadaran, karena Buddha sudah tersadarkan, oleh karena itu, berlindung pada Buddha, berarti kamu adalah orang yang sudah tersadarkan, karena Buddha adalah yang tersadarkan. Berlindung pada Dharma, berarti berlindung pada kebenaran, apakah kebenaran itu? Karena ajaran Buddha Dharma adalah Dharma yang benar. Berlindung pada Sangha, apa maksudnya? Karena kita masih belum menjadi biksu/ni, maka kita berlindung pada sifat dasar yang bersih dan tenang. Tri Ratna dalam menekuni Dharma, adalah kesadaran – kebenaran – kesucian yang seharusnya kita praktisi Buddhis awam ketahui. Oleh karena itu, berlindung pada sifat Kebuddhaan pada sifat diri, berarti berlindung pada diri sendiri. Karena setiap orang memiliki sifat Kebuddhaan, Sang Buddha berkata, “Di antara Surga, bumi, dan manusia, setiap orang memiliki sifat Kebuddhaan”, ini berarti memahami sifat Kebuddhaan.


Kita datang ke dunia ini, seharusnya “datang tanpa datang, melihat tanpa melihat”. Apa maksudnya? Kita manusia datang ke dunia ini, kita tidak tercemari oleh kebiasaan dan kekotoran duniawi, maka kita adalah tampak melihat namun sesungguhnya tidak melihat. Datang tanpa datang, kita datang ke dunia ini, kita tidak melihat hal-hal yang kotor, kita datang ke dunia ini, sama seperti kita tidak pernah datang, seperti datang namun tidak datang, tidak datang tiada kedatangan. Melihat tanpa melihat, setelah kita melihat benda-benda duniawi di dunia ini, kita bagaikan tidak melihatnya. Kita datang ke dunia ini, sama dengan tidak datang, kita pergi ke suatu tempat tertentu, sama seperti tidak pernah pergi, karena dia adalah ilusi, datang dari mana? Kamu datang ke mana? Karena kamu sudah kembali, maka tiada kedatangan, benar tidak? Karena kamu tidak pernah datang, maka kamu tidak perlu kembali, karena kamu sudah pernah kembali, atau sekarang kamu sudah kembali, maka kamu sama dengan tidak datang, sesungguhnya, ini memberitahu kalian sebuah konsep pemikiran, kehidupan ini bagai satu kata – “kosong”.


Seorang praktisi Buddhis setiap hari mengatakan, “harus bisa melepas, harus kosong”, mengapa Master memberi tahu kalian kedua kalimat ini? Agar kalian bisa benar-benar memahami apa itu kekosongan yang sesungguhnya. Begitu teringat akan hal ini, berarti harus memutuskannya, harus terpikir, “Aih, manusia adalah kosong”, maka kamu akan mulai memiliki pusaka untuk memutuskan kerisauan. Jika dalam pikiranmu terpikir, bahwa segala hal yang datang dan pergi tidak kekal di dunia ini – semuanya adalah kosong, berarti sudah ada niat untuk memutuskan dalam pikiranmu, tandanya kamu sudah memiliki pikiran untuk memutuskan kerisauan. Di tengah keberadaan seperti tiada, di tengah ketiadaan sepertinya ada, berarti memutuskan kedua sisi antara “ada” dan “tiada”. Apa maksudnya? Berarti, kiri ada, kanan tiada, kalau begitu, hubungan antara ada dan tiada adalah, setelah ada akan menjadi tiada, setelah tiada akan menjadi ada, ada sepertinya tiada, tiada sepertinya ada, ini adalah kosong. Setelah ada bisa menjadi tiada, setelah tiada bisa kembali ada, adalah memahami hakikat kekosongan Dharma. Saya bisa berpikiran terbuka dan memahami segalanya, berarti saya sudah tersadarkan, saya berpendapat bahwa segala hal di dunia ini, datang dan pergi dalam sekejap, setelah saya memahami kebenaran-kebenaran ini, berarti saya sudah memahami kekosongan. Kalian setiap hari membicarakan tentang “Sun Go Kong”, kalian masih tidak mengetahui bahwa makna Dharma dari nama ini adalah memahami kekosongan, agar terbuka kesadarannya.