48. Meninggalkan Kebingungan dan Perasaan, Selalu Menumbuhkan Kebijaksanaan 离迷离觉 常生智慧

Meninggalkan Kebingungan dan Perasaan, Selalu Menumbuhkan Kebijaksanaan

Untuk membuka pintu gerbang kebijaksanaan diri sendiri, maka harus banyak merenung dan sedikit bicara, banyak berpikir dan sedikit berbicara, inilah yang disebut dengan membuka kebijaksanaan. Menghapuskan khayalan berarti jangan memiliki pikiran khayal; jangan memikirkan hal-hal yang tidak nyata, dan jangan memikirkan hal-hal yang tidak mampu kamu lakukan. Saat ini ada begitu banyak orang yang membeli lotre, itu karena di dalam hati mereka terdapat khayalan, tidak mau bekerja keras secara nyata, dan sepanjang hari selalu ingin memenangkan rezeki nomplok. Niat yang buruk dan pikiran penuh khayalan, keduanya tidak boleh diinginkan. Sedikit pun pikiran yang tidak baik tidak boleh ada, harus berjuang melawan pemikiran buruk diri sendiri. Hari ini jika saya memikirkan hal yang tidak baik, saya harus segera menghapuskannya, tidak boleh membiarkannya ada. “Saya sangat benci dengan suami ini, rasanya ingin mati bersama dengannya saja”, begitu niat seperti ini muncul, harus segera menyingkirkannya. Tidak boleh membenci orang lain, karena saya adalah seorang praktisi Buddhis — dia telah mencelakai sekeluarga saya, ini karena di kehidupan lampau saya berutang kepadanya—apakah mengerti? Harus mengurainya.

 

Seorang praktisi Dharma harus bisa melihat sifat dasarnya sendiri, perlu melihat sifat dasar diri sendiri, serta harus selalu bisa merendahkan hati, selalu bisa melepaskan keegoan hatinya sendiri, memandang diri sendiri dengan lebih rendah lagi, dan lebih rendah lagi. Hari ini saya melakukan ini untukmu, lalu memangnya kenapa? Jangan mengira diri sendiri sangat tinggi hati dan angkuh. Hari ini saya membantumu mengambilkan nasi, lalu memangnya kenapa? Hari ini saya membantumu mencuci piring, lalu memangnya kenapa? Lihatlah Tuan Song, dulu dia adalah seorang kepala pabrik dengan empat ribu karyawan, sekarang dia juga melayani kalian para anak muda. Jangan mengira diri sendiri sangat hebat, pandanglah diri sendiri dengan lebih kecil, jangan terlalu menjunjung tinggi diri sendiri. Master tidak ingin memuji kalian baik, karena jika Master memuji kalian baik, maka kalian akan menjadi sombong; Master sering mengatakan kalian tidak baik, agar kalian bisa waspada, dengan begitu kalian baru bisa mengalami kemajuan. Apa gunanya Master sepanjang hari memuji kalian baik? Kalian sudah sedang melakukan jasa kebajikan, maka lakukanlah dengan baik. Master bertugas menunjukkan kebiasaan buruk kalian, bukan membicarakan kelebihan kalian. Kelebihan jika tidak dibicarakan tidak akan hilang, kelemahan jika tidak dibicarakan akibatnya akan gawat.

 

Harus benar-benar meninggalkan kebingungan dan perasaan dalam praktik, jalan yang kita tempuh harus benar-benar meninggalkan kebingungan dan meninggalkan perasaan. Orang yang benar-benar sudah tercerahkan, tidak hanya harus meninggalkan kebingungan batinmu, bahkan perasaanmu pun harus dilepaskan. Perasaan apa yang kamu miliki? Tidak ada perasaan. Ketika “ego diri” saja sudah tidak ada lagi, lalu perasaan apa lagi yang masih ada? Saat orang lain memarahi dirimu, apa yang kamu rasakan? Tidak ada perasaan. Ketika saya berbuat sedikit kebaikan, lalu orang lain memuji saya, tidak ada perasaan, ini adalah hal yang sudah seharusnya saya lakukan. Hari ini saya berada di dalam rumah, ini adalah hal yang sudah semestinya, saya memang seharusnya melakukan hal-hal kecil ini. Hari ini saya membabarkan Dharma, saya membimbing umat, itu adalah hal yang sudah sewajarnya. Bahkan perasaan bahwa dirimu sangat bangga, perasaan bahwa dirimu telah berbuat banyak, bahkan “perasaan” semacam ini pun tidak boleh ada.

 

Seperti kalian saat ini yang setiap hari selalu memikirkan diri sendiri, sedikit-sedikit menggunakan pikiran licik, bertingkah ke sana kemari, ini tidak boleh. Banyak orang datang ke Dong Fang Tai dan berkata: “Mengapa beberapa orang di Dong Fang Tai ada begitu banyak masalah?” Di mana ada manusia, di sana pasti akan ada masalah. Semua orang datang ke sini untuk membina pikiran dan membina perilaku, justru karena diri sendiri belum membina diri dengan baik. Master memberi tahu kalian, jika kalian sudah membina diri dengan sangat baik, maka tidak perlu lagi datang ke sini untuk membina diri. Jika kalian semua adalah orang baik dan orang yang welas asih, kalian tidak akan terlahir lagi sebagai manusia, kalian sudah menjadi Bodhisattva di atas langit. Di Alam Manusia, adanya masalah adalah hal yang sangat wajar. Orang-orang yang datang, semuanya adalah orang yang memiliki kebiasaan buruk. Apakah orang yang datang ke rumah sakit tidak akan memiliki penyakit? Apakah orang yang masuk ke dalam penjara tidak akan memiliki catatan kriminal? Kalian hari ini datang ke Vihara untuk melafalkan paritta, apakah mungkin kalian tidak memiliki karma buruk? Meskipun dosa ini bukanlah kejahatan di Alam Manusia, namun itu adalah karma buruk atau dosa di dalam sifat dasar dirimu. Kalian harus memiliki rasa malu dan bersalah, di bawah mendengarkan wejangan Master, paling baik sembunyikan kepala kalian di balik sandaran kursi. Kalian harus merenungkan apakah kalian dapat mempertanggungjawabkan terhadap Bodhisattva. Jika kalian memang memiliki kemampuan, maka setiap hari berkata di hadapan Guan Shi Yin Pu Sa: “Guan Shi Yin Pu Sa, hari ini saya tidak membicarakan keburukan orang lain sepatah kata pun, tidak memikirkan satu pun niat yang buruk, dan tidak melakukan satu pun perbuatan yang jahat.” Apakah kalian berani mengatakannya?

 

Harus meninggalkan kebingungan dan perasaan, selalu menumbuhkan prajna, selalu menumbuhkan kebijaksanaan. Harus menghilangkan hal yang nyata sekaligus menghilangkan khayalan, bahkan hal-hal yang dianggap nyata pun harus dihilangkan. Kamu merasa ini adalah hal yang nyata? Hilangkanlah, karena ini semua adalah palsu. “Dia sungguh tulus bersikap baik kepada saya”, dia bersikap baik kepada saya pun paling hanya bertahan selama satu kehidupan ini saja, setelah itu akan sirna dan berakhir, bukankah itu berarti palsu dan tidak bisa dibawa pergi? Bahkan hal yang nyata pun harus dihilangkan, karena “kenyataan” ini terlahir dari perpaduan kondisi palsu di Alam Manusia. Dulu orang lain bersikap baik kepadamu, bukankah itu nyata? Mana teman-teman sekolah yang dulu hubungannya sangat akrab dengan kalian saat masih kecil? Sekarang mereka ada di mana? Dulu saat Master masih sekolah, Master memiliki banyak teman baik. Master sejak kecil sudah memiliki karisma kepemimpinan; apa pun yang Master lakukan, anak-anak itu semua akan berkumpul mengelilingi Master. Anak-anak itu sungguh sangat baik kepada Master. Master sangat menyayangi mereka dan merindukan mereka. Master setiap hari bersikap seperti seorang kakak tertua yang memedulikan mereka. Coba kalian renungkan, apakah itu nyata? Itu palsu, sekarang siapa pun sudah tidak dapat ditemukan lagi. Master terkadang melihat beberapa orang, teringat akan wajahnya, tetapi tidak bisa memanggil namanya. Kalian pun demikian, saat teringat akan suatu hal, rasanya sudah berada di ujung lidah dan membekas di dalam otak, bukan? Tetapi tetap saja tidak bisa mengingat nama orang tersebut. Palsu, bukan? Oleh karena itu, harus menghilangkan hal yang nyata sekaligus khayalan palsu, maka seketika akan melihat sifat Kebuddhaan. Begitu kamu menghapuskan semua hal duniawi ini, maka kamu akan melihat Bodhisattva.

 

Selalu mengingat untuk membina diri, sering kali memikirkan bahwa saya harus membina diri, maka orang ini akan memiliki kekuatan tekad dalam Dharma Selalu memikirkan “saya harus membina pikiran”, maka kalian akan mendapatkan kekuatan tekad dalam Dharma. Coba kalian pikirkan, bukankah demikian? “Saya harus membina pikiran, saya harus membina diri, saya harus melafalkan paritta ya”, baiklah, ketika kamu terus melafalkannya, bukankah kamu sudah memiliki kekuatan tekad? Besok berpikir lagi, “saya harus melanjutkan melafalkan paritta, saya harus membina pikiran”, bukankah kekuatan tekad itu datang? Jika kamu tidak selalu mengingatnya, tidak selalu memikirkan untuk membina diri, bagaimana mungkin kamu bisa memiliki kekuatan tekad dalam Dharma?

 

Chan hui — bertobat, secara sederhana dirumuskan, “chan” berarti menghentikan, berarti memutus; “hui” berarti tidak melakukannya lagi, ini baru disebut dengan “chan hui – bertobat”. Saya harus menghentikan dan memutus hal-hal salah yang telah dilakukan, kemudian tidak melakukannya lagi, dengan begitu saya baru dikatakan bertobat. Hanya setelah bertobat, seseorang baru bisa menjadi murni dan bersih. Jika kamu tidak bertobat, bagaimana dirimu bisa menjadi murni dan bersih? Banyak dari kalian yang merupakan orang tua tunggal, jika kamu tidak bertobat atas hal-hal salah yang telah kamu lakukan sendiri, maka kamu setiap hari di dalam rumah akan tetap membenci suamimu sendiri. Hari ini hubunganmu dengan anakmu menjadi tegang dan kaku, jika kamu tidak bertobat atas sikap burukmu terhadap anakmu hari ini, maka kamu akan terus melanjutkan kebencianmu terhadap anakmu sendiri.