Mengatasi “Tiga Orientasi Kepentingan”, Barulah Dapat Melihat Diri Sejati
Dalam masyarakat sekarang, karena nilai-nilai dan sikap realisme orang-orang, muncullah yang disebut dengan “tiga orientasi kepentingan”. Pertama, orang suka mementingkan diri sendiri, dalam melakukan apa pun selalu memikirkan keuntungan bagi diri sendiri, yang disebut menguntungkan diri sendiri; Kedua, dalam kehidupan masyarakat dan berperilaku sebagai manusia, pertama-tama belajar untuk berkarir dan menghasilkan lebih banyak uang, yang disebut sebagai mengejar keuntungan; Ketiga adalah kekuasaan. Semua ini adalah yang Master katakan kepada kalian. Dalam masyarakat sekarang, orang-orang demi mencapai suatu tujuan, pertama mementingkan diri sendiri; kedua mengejar keuntungan; ketiga mengejar kekuasaan. Pada akhirnya, bukankah semuanya demi ketenaran dan keuntungan? Oleh karena itu, orang yang berorientasi pada tiga kepentingan ini akan menghalalkan segala cara untuk merugikan orang lain demi mendapatkan keuntungan bagi dirinya sendiri.
Coba pikirkan, mengapa ada pepatah yang mengatakan “dari sepuluh pedagang, sembilan itu licik”? Karena demi mendapatkan keuntungan dari orang lain, mereka akan merugikan kepentingan orang lain. Demi mencari kekuasaan, mereka saling menipu, menjebak, apa pun bisa dilakukan. Di mana ada persaingan, di situ pasti ada luka. Oleh karena itu, Master mengajarkan kalian untuk tidak bersaing dengan orang lain, karena persaingan pasti akan membawa dampak yang menyakitkan. Bahkan jika hari ini kamu ikut kontes kecantikan, kamu juga bisa membawa dampak buruk bagi anak. Seorang anak yang awalnya begitu murni, jiwanya bisa menjadi tercemar. Jangan bersaing, karena dalam “tiga orientasi kepentingan” itu, kita kehilangan hati welas asih, kehilangan kemurnian hati. Demi sedikit nama dan keuntungan duniawi, kita juga kehilangan hati yang lapang, akibatnya, kita pun kehilangan sifat dasar kita. Coba pikirkan, demi nama, keuntungan, dan kekuasaan, bukankah kita akan kehilangan hati welas asih kita? Coba pikirkan, ketika kita membenci orang lain, dari mana datangnya rasa welas asih itu? Coba pikirkan, demi sedikit uang, kita justru kehilangan sifat dasar kita yang luas, sifat asli yang penuh welas asih dan kebaikan. Kita pun akhirnya kehilangan sifat Kebuddhaan dalam diri kita.
Dalam ajaran Zen, ada ungkapan: “memiliki hati namun tidak menggunakan hati, ada Buddha namun tidak memohon kepada Buddha, ada Dharma namun tidak membicarakan Dharma.” Inilah inti samadhi, bagian yang paling indah yang perlu kita pahami. Master akan menjelaskannya kepada kalian. Kita memiliki hati namun tidak menggunakan hati. Hati seperti apa yang kita miliki? Karena yang kita miliki adalah hati duniawi, kita melupakannya, saya tidak punya hati. Oleh karena itu orang mengatakan tiada hati dan tiada perasaan, orang seperti ini justru tidak memiliki halangan dan tidak memiliki kerisauan. Sebenarnya prinsipnya sama, yang kamu miliki adalah hati manusia biasa—hati duniawi, hati kebencian, hati keserakahan, semua ini adalah hati yang menyakitimu. Jadi, kamu harus “memiliki hati, tetapi juga tidak memiliki hati”. Hari ini, banyak dari kalian yang belajar Buddha Dharma ketika berbicara masih saling membalas satu sama lain, Master merasa ini tidak baik. Kamu menganggap perkataan orang lain sebagai sindiran terhadapmu, lalu kamu langsung membalas menyindir mereka. Ini berarti kamu sudah “memiliki hati”. Sebagai praktisi Buddhis, apa pun yang dikatakan orang lain, kamu jangan menafsirkannya ke arah yang buruk. Misalnya, seorang adik seperguruan datang, lalu ada yang bercanda kepadanya: “Wah, hasil karyamu makin bagus saja.” Adik seperguruan yang sebagai seorang praktisi Buddhis, dia tidak perlu berpikir berlebihan: “Dia sedang menyindirku, kebetulan masih ada beberapa karyaku yang belum selesai.”Kalau begitu, kamu sudah berpikiran menyimpang. Gunakan pikiran yang benar untuk memahami perkataan orang lain. Kamu seharusnya mengucapkan terima kasih: “Saya pasti akan berusaha lebih baik lagi.” Jika si adik seperguruan berpikir: “Kamu sedang menyindirku, aku memang tidak sebaik kalian. Sebenarnya kalian juga bisa melakukannya kalau berlatih.” Coba pikirkan, bukankah itu berarti kamu sudah “memiliki hati”? Harus “tiada hati”, ketika orang lain mengatakan sesuatu kepadamu, jangan kamu anggap sebagai hal buruk, tetapi anggaplah sebagai hal yang baik, benar tidak? Masalah manusia adalah ketika orang lain mengatakan sesuatu, kita selalu menafsirkannya ke arah yang buruk. Itu disebut “memiliki hati”. “Memiliki hati”seperti ini sebaiknya tidak ada, maka dalam ajaran Zen dikatakan “memiliki hati seperti tidak memiliki hati.”
Kalimat kedua adalah “ada Buddha tetapi tidak memohon kepada Buddha.”Hari ini, ada Guan Shi Yin Pu Sa, kita tidak memohon kepada Guan Shi Yin Pu Sa. Justru dengan begitu, kamu sebenarnya sedang memohon kepada Buddha, karena kamu menggunakan Buddha yang ada di dalam hatimu sendiri untuk menyelesaikan masalah di dunia ini. Lalu untuk apa memohon kepada Buddha? Memohon dan menyembah kepada Buddha tidak sebaik memohon kepada diri sendiri. Ada pepatah yang mengatakan: “Memohon kepada orang lain tidak sebaik memohon kepada diri sendiri, memohon kepada Buddha tidak sebaik memohon kepada diri sendiri.” Banyak orang setelah mengalami masalah, memohon ke sana kemari, mereka pun tidak membantumu menyelesaikannya, pada akhirnya tetap diri sendiri yang menyelesaikannya. Ketika kamu mengalami masalah dalam hubungan, kamu bercerita kepada orang ini, kepada orang itu, tetapi pada akhirnya kamu sendiri yang harus memahami dan menerima, barulah masalah itu bisa terselesaikan. Kamu berbicara panjang lebar, tetapi pada akhirnya tidak ada satu pun yang benar-benar bisa menyelesaikan masalahmu. “Memohon kepada orang lain tidak sebaik memohon kepada diri sendiri; siapa yang memasang lonceng, dialah yang harus melepaskannya,” benar tidak? Sebagai manusia, kamu harus memahami, jika hari ini kamu ingin memohon kepada Buddha, maka kamu harus mengeluarkan sifat Kebuddhaan dalam dirimu. Dengan begitu, kamu sebenarnya bukan sedang memohon kepada Buddha, melainkan kepada dirimu sendiri. Menggunakan kebijaksanaanmu sendiri untuk menyelesaikan semua masalah di dunia, bukankah itu berarti kamu sendiri adalah Buddha? Jika kamu kehilangan kebijaksanaan, maka kamu memang tidak memiliki kebijaksanaan. Jika hari ini kamu tidak menjadikan Buddha di dalam hatimu sebagai Buddha untuk kamu “mohon”, maka di dalam hatimu tidak ada Buddha. Buddha yang kamu mohon juga menjadi kosong, tidak terhubung dengan Buddha, mengertikah? Jika kamu tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Buddha, bagaimana mungkin kamu bisa memohon kepada Buddha? Jika hari ini suami istri bertengkar, tetapi kamu tidak tahu apa yang dipikirkan oleh suamimu, bagaimana kamu bisa berkomunikasi dengannya? Jika kamu tahu apa yang dia pikirkan, kamu pasti bisa berkomunikasi dengannya. Setiap orang yang memiliki keyakinan untuk meyakinkan orang lain, pasti memahami apa yang dipikirkan oleh orang tersebut. Jika kamu tidak memahami pihak lain, tidak tahu apa yang dia pikirkan, tetapi ingin meyakinkannya, maka kamu pasti akan mengalami kegagalan.
Kalimat ketiga adalah, “ada Dharma namun tidak membicarakan Dharma.” Apa artinya ini? Artinya adalah membiarkan kamu memahami sendiri. Hari ini ada begitu banyak ajaran Buddha; jika kamu membaca begitu banyak buku Buddhis secara sembarangan, kapan kamu bisa benar-benar memahaminya? Jika kamu setiap hari mendengar ajaran Buddha, kapan kamu benar-benar bisa mengerti maknanya? Apakah ada Dharma? Ada, tetapi saya tidak mencarinya, saya mengandalkan pemahaman (pencerahan) batin, dan dari situ saya bisa menyadari banyak hal. Jika kamu setiap hari memohon dharma, “Bodhisattva, berikan saya satu cara agar masalah ini bisa terselesaikan,” kamu tidak akan bisa menyelesaikannya. Ada pepatah: “Es setebal tiga kaki tidak terbentuk dalam satu hari,” karena di dalamnya ada jodoh sebab dan akibat. Jadi, ketika kamu ingin mencari dharma untuk menyelesaikan masalah ini, kamu justru tidak akan mendapatkan dharma. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan benar-benar “mendapatkan dharma”? Saya tidak memohon, saya cukup melafalkan paritta dan membina pikiran. Perlahan-lahan kamu akan memahami, mengapa dia bersikap begitu buruk kepada saya? Mengapa saya mengalami rintangan seperti ini? Itulah yang disebut sebagai sebab jodoh, dan itulah akibatnya (balasan karma).
Kita harus memahami bahwa, dalam hal apa pun, manusia tidak bisa benar-benar memahami diri orang lain. Sebenarnya, ketika kita menghadapi banyak masalah, kita pun tidak memahami diri kita sendiri. Apakah kamu tahu bahwa hari ini saat kamu mengemudi, kamu akan membunyikan klakson? Apakah kamu tahu sebelumnya bahwa kamu akan marah dan bahkan melakukan kesalahan hari ini? Coba pikirkan, ketika kamu masih muda dan melakukan begitu banyak kesalahan, apakah itu berarti kamu memahami dirimu sendiri? Jika kamu benar-benar memahami dirimu, kamu tidak akan melakukan begitu banyak kesalahan. Justru karena kita tidak memahami diri sendiri, maka kita melakukan semua hal itu.
Ada orang yang berkata, saya sangat takut dengan urusan perasaan. Ada juga yang berkata, saya tidak takut dengan urusan perasaan, karena saya bisa mengendalikan diri dengan baik. Sebenarnya kamu sudah keliru, karena kamu tidak akan bisa mengendalikan dirimu dengan baik dalam hal perasaan, maka kamu baru bisa melakukan kesalahan, benar tidak? Banyak orang sebelum menjadi biksu/biksuni sudah berikrar: “Saya menyerahkan hatiku kepada Buddha, meskipun laut kering dan batu hancur, hatiku tidak akan berubah. Saya bertekad meninggalkan kehidupan duniawi ini, dan pasti akan mencari tepian pencerahan (paramita).”Kemudian pergi ke kuil untuk menjalani kehidupan sebagai biksu/biksuni. Banyak selebritas juga seperti itu, mencukur kepala, naik ke gunung, namun tidak lama kemudian kembali ke kehidupan duniawi lagi, karena dia tidak memahami dirinya sendiri. Coba kalian pikirkan, ada berapa banyak dari kalian yang benar-benar memahami diri kalian sendiri? Ketika menghadapi suatu masalah, apa yang akan kalian lakukan? Kalian mengira kalian pasti akan bertindak begitu, tetapi pada akhirnya kalian berubah dan malah melakukan kesalahan lagi.
Kita harus memahami bahwa kita tidak mengenal diri kita sendiri. Jika kita ingin mengenal diri sendiri, pertama-tama kita harus meninggalkan diri sendiri, mengertikah? Jika kamu ingin tahu seperti apa kepribadianmu, kamu harus terlebih dahulu dengan tenang meninggalkan dirimu sendiri, melihat kembali kehidupanmu, apa saja yang telah kamu lakukan, mana yang benar, mana yang salah. Kamu harus terlebih dahulu keluar dari dirimu sendiri, barulah kamu bisa melihat dengan jelas kualitas dirimu yang sebenarnya. Banyak orang tidak memahami kualitas dirinya. Seperti banyak orang yang memarahi orang lain, ketika mengatakan bahwa dia sedang marah, dia malah bertanya balik: kapan dia memarahi orang? Memang seperti itulah prinsip kebenarannya. Saya berharap kalian harus berpikir dengan jernih. Hanya dengan begitu, kamu baru bisa melihat dengan jelas kepribadian dan hakikat dirimu, dan barulah tahu bagaimana cara membina diri.
Pada masa lalu, orang bermeditasi, duduk dengan tenang memasuki konsentrasi zen. Perlahan-lahan, terkadang roh bisa keluar dari tubuh fisikmu. Pada saat itu, kamu bisa melihat banyak kekurangan dalam dirimu sendiri. Master tidak menganjurkan kalian berlatih dengan cara seperti ini, karena jika roh tidak bisa kembali ke tubuh, itu akan menjadi masalah besar. Namun dahulu di pegunungan, banyak orang yang bertekad besar dalam praktik spiritual berani melakukan hal seperti ini.
Berharap kalian dapat memahami diri sendiri. Ketika seseorang membanggakan dirinya, sebenarnya ia sedang membanggakan suatu gambaran yang terbentuk dari kesadarannya sendiri. Yang ia banggakan bukanlah dirinya yang sebenarnya, melainkan gambaran dalam pikirannya tentang betapa hebatnya dirinya. Apa sebenarnya yang luar biasa dari dirinya yang nyata? Yang ia banggakan hanyalah kehebatan yang ia ciptakan sendiri dalam pikirannya. Seorang anak kecil pun bisa seperti itu. Hari ini ayah dan ibu tidak ada di rumah, dia menyapu lantai dan membersihkan rumah hingga rapi. Ketika orang tuanya pulang, dia berkata: “Ibu lihat, hari ini rumah sangat bersih! Semua ini saya yang melakukannya.”Ia sedang membanggakan dirinya. Padahal sebenarnya, yang ia banggakan bukanlah dirinya sendiri, melainkan perasaan dalam pikirannya bahwa ia telah melakukan sesuatu yang sangat hebat. Master hari ini menjelaskan kepada kalian tentang filsafat dan prinsip dalam ajaran Buddha Dharma, agar kalian memahami bahwa yang dibanggakan itu adalah sesuatu yang kosong, bukan sesuatu yang benar-benar ada dan nyata. Itu hanyalah gambaran yang dibuat-buat —“ego” semata. Yang kalian peroleh juga hanyalah sesuatu yang kosong; kalian tidak akan mendapatkan sesuatu yang benar-benar nyata, karena kalian sendiri belum memahami diri kalian. Kalian sebagai manusia itu bersifat tidak nyata, apa yang kalian lakukan juga bersifat kosong. Yang kalian banggakan adalah ego, dan ego ini bukanlah diri yang sejati, sehingga juga merupakan sesuatu yang tidak nyata.
Mata kita bisa melihat segala sesuatu di luar, tetapi tidak bisa melihat mata kita sendiri. Siapa di antara kalian yang bisa melihat matanya sendiri? Kalian melihat orang lain dengan sangat jelas, siapa yang benar, siapa yang salah, tetapi apakah kalian bisa melihat diri kalian sendiri? Dengan prinsip yang sama, manusia selalu bisa melihat kekurangan orang lain, tetapi tidak bisa melihat kekurangan dirinya sendiri. Memiliki dua mata hanya tahu untuk melihat orang lain, tetapi tidak tahu melihat diri sendiri, tidak mampu melihat diri sendiri, inilah sifat ilusi manusia. Jika kamu bahkan tidak bisa melihat dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa memahami dirimu? Memang benar kita tidak bisa melihat mata kita sendiri, tetapi “mata kebijaksanaan”justru berada dalam keadaan yang tidak terlihat itu. Apa maksudnya? Kedua mata ini digunakan untuk melihat hal-hal duniawi, sedangkan yang benar-benar dapat membuatmu melihat hatimu sendiri, melihat nuranimu, melihat sifat dasarmu, melihat apakah kamu memiliki hati Kebuddhaan dan hati welas asih, bukanlah dengan dua mata fisik ini, melainkan dengan mata kebijaksanaanmu. Mengapa Master menutup mata ketika melihat totem? Karena saat mata terbuka, yang terlihat adalah dunia nyata yang bersifat kosong. Namun ketika mata ditutup, barulah kamu bisa melihat dunia yang sesungguhnya, karena saat itu adalah menggunakan mata kebijaksanaan untuk melihat. Di dunia ini, ada orang yang memiliki mata pencuri, ada yang memiliki mata penuh nafsu, ada yang mata duitan, ada yang gila kekuasaan, semua ini adalah cara melihat dengan menggunakan dua mata fisik. Sebenarnya, semua ini bersifat kosong, samar, tidak tetap, semuanya adalah palsu.
