Menjauhi Ilusi, Mengamati Ketiadaan Aku
Mengamati ketiadaan “aku” yang sebenarnya adalah manusia, “aku,” dan dharma (fenomena) lenyap bersama. Apa yang dimaksud dengan “Mengamati ketiadaan aku”? Yaitu benar-benar memandang diri sendiri sebagai kosong di dunia ini, merasa bahwa “aku” tidak lagi hidup di dunia ini. Jadi sebenarnya manusia sudah tiada, “aku” juga sudah tiada, dan dharma juga sudah tiada, semuanya lenyap. Apa itu dharma? Yaitu Alam Dharma. Karena manusia sudah tiada, maka segala sesuatu di dunia ini bagi kamu adalah kosong. Apakah kamu masih akan bertengkar hebat dengan orang lain hanya demi merebut sebuah televisi atau sedikit uang? Apakah kamu akan begitu? Tidak lagi. Semuanya sudah hilang, tidak ada apa-apa lagi — inilah pencerahan terakhir. Yang artinya kamu bisa mencapai tingkat kesadaran Buddha dan Bodhisattva — melihat diri sendiri sebagai kosong dan merasa tidak masalah lagi.
Master memberitahu kalian, kebanyakan karakteristik orang-orang adalah gengsi. Ketika dikritik sedikit oleh orang lain, saya menginginkan gengsi; hari ini tidak diizinkan menjadi pemimpin, saya menginginkan gengsi… Tahukah kamu bahwa gengsi bisa membahayakan hidup? Gengsi adalah bentuk kemelekatan yang tipikal, gengsi adalah bentuk adanya “aku” yang tipikal. Pasangan suami istri yang bertengkar biasanya karena gengsi. Sebenarnya, untuk apa menjaga gengsi? Kamu makan berapa mangkuk nasi, dia makan berapa mangkuk nasi, tidak tahukah kalian berdua? Dia punya kemampuan apa, kamu punya kemampuan apa, tidak tahukah kalian? Tidak ada perbedaan diantara kalian, untuk apa menjaga gengsi? Master sering mengatakan kepada kalian, “Terlalu mementingkan gengsi, maka akan hidup menderita.” Harus tiada aku, kalau tidak bagaimana bisa mencapai Kebuddhaan?
Harus melenyapkan hati, melenyapkan keadaan, melenyapkan manusia dan melenyapkan dharma. Apa arti “melenyapkan hati”? Yakni sudah tidak ada hati. Orang lain mengatakan orang ini tidak punya hati dan paru-paru, maksudnya dia tidak akan marah, tidak sedih, tidak menyimpan dendam, hidupnya sangat bebas dan nyaman, ini disebut hati sudah lenyap. “Melenyapkan keadaan” berarti tidak ada keadaan lagi, apa pun yang dilihat tidak akan menarik minatmu. Wah, ada orang di jalan membagikan sesuatu secara gratis, membagikan susu, itu produk baru, kamu berlari mengambil satu botol, berputar satu putaran, lalu mengambil 1 botol lagi, berputar lagi, kembali mengambil 1 botol lagi. Keadaan ini membuatmu menjadi serakah, benar tidak? Ini adalah keadaan yang membuatmu berubah, keadaan yang mengubah pola pikirmu. Misalnya, ibu selama ini tidak terlalu baik kepada kakak laki-laki ini, namun belakangan ibu membelikannya lebih banyak barang. Adik perempuan melihat itu dan berkata: “Ah, kamu membelikan untuk dia tapi tidak membelikan untuk saya,” wa…. lalu menangis dan ngamuk. Itu artinya melihat orang lain mendapat perlakuan baik, lalu iri, melihat orang lain mendapatkan lebih banyak dan merasa tidak nyaman. Mohon jangan lupa bahwa dirimu adalah praktisi Buddhis, dirimu adalah Bodhisattva, kamu bahkan masih belum cukup memberi, malah mau meminta. “Melenyapkan manusia” adalah merasa bahwa diri sendiri yang hidup di dunia ini dan merasa bukanlah diriku. Hidup tanpa merasa ada seperti tidak ada, maka dirimu baru bisa menjadi orang yang nyaman dan bebas. “Melenyapkan dharma” adalah Alam Dharma dimana kamu membina diri, terhadap apapun yang kamu lihat, semuanya tampak tidak ada, maka kamu akan leluasa, nyaman dan terbebaskan. Jika kamu menetapkan sasaran dalam pembinaan diri sedikit lebih tinggi, meskipun kamu tidak bisa berhasil secara instan, tetapi memiliki energi dan semangat untuk membina diri adalah keberkahan terbesar bagi seseorang. Contoh sederhana, jika kamu tahu biasanya dalam ujian tugas kamu bisa mendapatkan nilai 80 karena setiap kali kamu sudah mempersiapkan diri untuk nilai 100. Jika kamu mempersiapkan diri untuk nilai 120, maka kamu hanya bisa mendapatkan nilai 100. Benar tidak? Jika tingkat kesadaran spiritual saya kurang, kalau saya meningkatkan target tingkat kesadaran lebih tinggi, bukankah saya bisa melewati tingkat kesadaran yang rendah itu?
Hari ini kalian masih bisa duduk di sini menekuni Dharma, punya energi duduk di sini dan belum tertidur itu adalah berkah. Orang yang tidak mendengarkan ajaran Buddha berarti tidak punya berkah; orang yang ketiduran itu adalah orang yang berada di antara setengah sadar dan setengah tidur. Seringkali kita hidup di dunia ini seperti sedang tertidur, karena kita tertidur maka kita mudah tertipu dan dibohongi. Coba katakan, saat kita mengendarai mobil, siapa yang tidur saat mengemudi? Adakah yang tidur? Kalau tidak ada, kenapa banyak orang yang tertidur dan menabrak mobil? Oleh sebab itu, harus mengerti, bisa bertemu dengan Master adalah balasan berkah kalian. Sisa waktu hidup sudah tidak banyak lagi, kalau dibalik, sisa waktu untuk membina diri juga tidak banyak, waktu tidak menunggu siapa pun. Zaman telah silih berganti, namun hati orang awam belum mati. Zaman telah silih berganti, maksudnya adalah banyak dinasti yang terus mengalami pergantian, namun hati kalian – hati orang awam belum mati, masih sama seperti dulu — penuh dengan keserakahan, kebencian dan kebodohan. Seberapa pun tua usia kalian, kalian masih begitu serakah. Kalian serakah sejak kecil, mulai dari meminta permen lebih banyak, minum susu lebih banyak, memakai baju baru lebih banyak, hingga ketika sudah tua masih saja serakah. Pikirkanlah, lepaskan kemelekatan, dan hendaklah merasa cukup agar selalu bahagia.
Orang yang sudah tersadarkan tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah ilusi. Apa itu ilusi? Hari ini ada, besok tidak ada; besok tidak ada, hari ini ada. Hari ini berada di Melbourne, tapi setelah bangun tidur sudah berada di Sydney, bukankah berarti Melbourne sudah tidak ada; beberapa hari kemudian kembali ke Melbourne lagi, eh, Sydney ke mana? — Inilah yang disebut ilusi. Hari ini Master memiliki berapa banyak murid, beberapa hari kemudian dihitung lagi, kenapa muridnya jadi berkurang; beberapa hari setelah itu, kenapa muridnya bertambah lagi — semuanya itu hanyalah ilusi. Jadi jangan terus-terusan terpaku pada satu Pintu Dharma, merasa bahwa yang dipelajari diri sendiri adalah yang terbaik, merasa bahwa Pintu Dharma yang ditekuni diri sendiri adalah yang paling bagus. Contoh paling sederhana, banyak orang mengatakan minum air itu baik, ini tidak pernah salah kan, minum air itu baik. Tapi kenapa kamu tidak mengatakan bahwa air sekarang sudah tercemar? Misalnya minum 5 liter air sehari itu baik untuk membersihkan usus, tapi jika kamu minum 5 liter air kotor (air yang tercemar) apakah itu juga membersihkan ususmu? Jadi, harus mengerti, harus meninggalkan rupa.
Apa itu meninggalkan rupa? Yaitu jangan melihat apa yang tampak di depan mata kita, kita harus pergi meninggalkan apa yang kita lihat, agar kita benar-benar bisa memahami apakah itu benar atau salah. Master masih memberikan contoh yang sebelumnya, dua orang sedang berkelahi, kamu tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya pergi meninggalkan rupa ini, artinya saya meninggalkan rupa kalian berdua yang sedang berkelahi, maka saya bisa tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Saya meninggalkan Alam Manusia, barulah saya tahu mana yang benar mana yang salah di dunia ini. Jika kamu terikat pada suatu hal, kamu tidak bisa melepaskannya, dan kamu tidak akan tahu apakah hal itu benar atau salah, mengerti? Kenapa banyak orang makan makanan yang sangat asin? Karena dia terikat pada rasa yang kuat di mulut. Dia makan makanan asin setiap hari, sampai akhirnya dia tidak bisa merasakan apa itu asin lagi. Sedikit lebih hambar saja, sebenarnya sudah sangat asin, tapi dia masih bilang terlalu hambar, prinsipnya sangat sederhana. Misalnya banyak orang yang sangat suka kebersihan, ketika sudah sampai di tempat yang sangat bersih, dia masih mengambil sesuatu dan mengelap ke kiri dan kanan, sudah dilap sekali masih ingin mengelap lagi, sudah dilap lagi masih ingin mengelap lagi. Sebenarnya itu karena konsep pikirannya sedang berubah. Meninggalkan rupa adalah menyadari bahwa semua hal yang dipahami oleh pikiran harus tiada kemelekatan, baik dalam menerima maupun merelakan. Artinya jangan melekat pada baik atau buruknya suatu hal. Contohnya, sekarang ada satu kotak kue, di dalamnya ada croissant, kue wijen, mungkin juga ada kue tart, dan lumpia. Kemelekatan pada “menerima dan merelakan” adalah, “Hehe, saya hanya suka yang ini, saya mau ambil ini.” Apa itu tidak melekat dalam menerima maupun merelakan?“Tidak masalah, kalian ambil dulu saja, saya bisa makan apa saja, semuanya enak kok.” Karena kalau kamu melekat, kamu hanya bisa merasakan satu rasa kue saja, kamu tidak akan pernah mencicipi rasa kue wijen, kamu juga tidak akan pernah mencoba lumpia, inilah yang disebut kemelekatan. Jadi kemelekatan adalah hal yang paling merugikan orang.
Kita harus tiada perolehan dan tiada kehilangan. Artinya, dalam hati kita tidak merasa memperoleh apa pun, juga tidak merasa kehilangan apa pun. Apa arti “tiada perolehan dan tiada kehilangan”? Yaitu tidak mendapatkan apa-apa dan juga tidak kehilangan apa-apa. Karena saya masih seperti dulu, maka saya tidak kehilangan apa-apa. Contoh sederhana, hari ini kamu tidak mengambil keuntungan dari orang lain, kamu tidak mendapatkan apa-apa, dan kamu juga tidak kehilangan apa-apa. Jika hari ini kamu mengambil keuntungan dari orang lain, maka selanjutnya kamu akan menjadi orang yang dirugikan, kamu pun mengalami perolehan dan kehilangan. Jadi, tidak mendapatkan dan tidak kehilangan, maka hati yang sejati akan muncul. Hanya ketika kamu tidak berusaha mendapatkan, sifat dasarmu baru akan muncul. Sifat dasarmu adalah baik, kamu tidak menginginkan apa pun dari orang lain, kamu adalah orang yang baik, maka kamu baru bisa menghalangi kotoran dari luar, yang artinya kotoran dari luar tidak akan masuk ke dalam ladang hatimu. Karena kamu tidak peduli dengan apa pun lagi, hal-hal kotor tidak akan masuk ke dalam hatimu, kamu menjadi tidak mendapatkan dan tidak kehilangan, dan kamu akan mendapatkan kebenaran — kebijaksanaan agung dari kekosongan sejati dan tiada wujud. Apa itu “kekosongan sejati?” Yaitu seseorang yang benar-benar baik hati, orang ini adalah kosong, tidak masalah terhadap apa pun. Orang yang bersikap tidak masalah terhadap segala hal adalah kekosongan, ini yang disebut kebijaksanaan agung. Orang yang tidak berebut dengan orang lain adalah orang yang cerdas, orang yang tidak berdebat adalah orang yang cerdas, orang yang tidak berkelahi adalah orang yang cerdas. Orang seperti ini tidak akan mengalami bencana. Orang yang seharian bertengkar, berkelahi, dan bertikai akan dibalas dendam oleh orang lain, maka dia akan mengalami bencana. Jadi, belajar Buddha Dharma harus belajar kebijaksanaan.
Kalian harus memahami tentang tiada perolehan dan tiada kehilangan. Jika kalian bisa merasakan apa yang Master baru saja sampaikan, misalnya saya datang ke Australia, saya tidak memiliki apa-apa. Apa pun yang saya miliki hari ini, jika saya berikan kepada orang lain, bagaimana jadinya? Saya tetap tiada perolehan dan tiada kehilangan. Waktu saya datang, saya tidak punya banyak uang. Sekarang saya sudah punya banyak uang, kenapa saya masih harus memperebutkan uang itu? Waktu saya datang hanya bawa satu koper saja, sekarang saya sudah punya sebanyak ini, kenapa saya harus memperebutkan keuntungan yang sedikit itu? Orang yang sering bisa merasakan tiada perolehan dan tiada kehilangan adalah orang yang memiliki berkah. Coba pikirkan seumur hidupmu, kamu sebenarnya tidak pernah kehilangan apa pun, juga tidak pernah mendapatkan apa pun. Itulah hasilnya, karena hasil itu adalah kesetaraan semua makhluk hidup. Setiap orang dalam seumur hidupnya tidak mendapatkan apa pun, dan ketika meninggal pun tidak kehilangan apa pun. Lalu, untuk apa berebut? Apa yang diperebutkan itu sebenarnya palsu belaka. Hari ini kamu berkata, “Saya harus mengenakan pakaian yang cantik, saya harus mengendarai mobil mewah,” tapi apakah semua yang kamu miliki hari ini akan tetap menjadi milikmu besok? Pikirkanlah, kerajaan yang didirikan oleh kaisar dulu akhirnya juga menjadi milik orang lain. Ketika Kaisar Qin menyatukan enam negara, semua raja dari enam negara itu lenyap, negara-negara itu pun musnah. Apakah mereka mendapatkan sesuatu? Tidak, telah kehilangan. Mengapa di Tiongkok ada begitu banyak tempat bersejarah dan monumen terkenal? Karena dalam sejarah Tiongkok pernah ada banyak negara dan dinasti. Setiap negara atau dinasti membangun istana mereka sendiri. Jadi, di Tiongkok ada banyak tempat bersejarah yang indah, seperti Istana Kekaisaran yang megah di berbagai daerah. Namun akhirnya, semua negara itu pun hilang atau runtuh. Sebenarnya, seiring perubahan sejarah, segala sesuatu yang telah dibuat bisa hilang dalam sekejap. Untuk apa kita harus berebut? Memperebutkan sebuah wilayah atau kerajaan itu sangat sulit, karena harus berani menghadapi risiko kehilangan nyawa dan menumpahkan darah. Oleh karena itu, praktisi Buddhis harus mengerti prinsip ini — kita datang tidak mendapatkan apa-apa, dan pergi juga tidak kehilangan apa-apa.
Kita memiliki berkah yang tak terhingga dan tak terbatas, yaitu telah menekuni Dharma dan memahami kebenaran. Master memberi tahu kalian, memperoleh sesuatu sebenarnya berarti melekat atau peduli pada sesuatu. Jika kamu merasa “Ah, saya telah mendapatkan ini”, sesungguhnya kamu sedang melekat padanya — berusaha keras untuk mengejar hal-hal tersebut, inilah yang disebut adanya perolehan. Namun jika tingkat kesadaran spiritual seseorang adalah tinggi, maka dia tidak ada perolehan. Perolehan yang sejati bukanlah mendapatkan sesuatu, melainkan adalah tidak melekat pada apa pun. Adanya perolehan berarti masih ada pikiran serakah di dalamnya, namun tiada perolehan berarti tidak melekat pada apa pun. Saya tidak melekat pada apa pun dalam segala hal, apakah kamu masih akan bersaing? Masih akan memperebutkannya? Tidak akan. Kalian harus tahu bahwa makna sejati dari seorang praktisi Buddhis terletak pada pemahaman dan pencerahan, ini adalah yang paling penting. Berapa banyak orang demi sedikit ketenaran dan keuntungan, setiap hari susah tidur, makan pun tidak enak. Lalu ada berapa banyak orang demi sedikit masalah dan konflik, dirinya hidup dalam penderitaan; dan ada berapa banyak orang yang demi memperebutkan sedikit ketenaran dan keuntungan, marah sampai setengah mati. Jangankan kalian yang menekuni Dharma dan melakukan jasa kebajikan, bahkan yang tidak belajar Buddha Dharma dan melakukan jasa kebajikan pun tidak boleh marah, apalagi kalian ini sebagai praktisi Buddhis. Hari ini kalian dapat atau tidak, bukan kalian yang menentukan, melainkan para Bodhisattva di langit yang menentukan. Apa yang dipersaingkan dan diperebutkan? Sungguh-sungguh membina pikiran, selalu memikirkan orang lain, dan membina diri dengan baik. Mempersatukan semua kekuatan yang bisa dipersatukan, ini adalah ungkapan modern, sebenarnya dalam kata-kata mutiara Bodhisattva adalah: Menyelamatkan semua makhluk berjodoh yang bisa diselamatkan.
Dalam lautan penderitaan kehidupan, di manakah rumah sebenarnya? Pikirkanlah, ada anak-anak yang masih kecil sudah pergi ke Thailand sendiri, orang tua pun berat melepasnya, baru belasan tahun sudah pergi, di manakah rumah sebenarnya? Sampai di Thailand, meninggalkan Tiongkok, lalu pergi ke Australia, di manakah rumah sebenarnya? Hidup ini harus dihargai. Ingatlah, dalam lautan penderitaan kehidupan, di manakah rumah sejati? Kehidupan ada dalam setiap tarikan napas, ketidakkekalan selalu berubah. Hari ini ada, besok tidak ada, ketidakkekalan berubah setiap hari. Sebuah mobil yang baik-baik saja, besok bisa rusak karena kecelakaan; seseorang yang sehat, bisa kehilangan kaki karena kecelakaan; sepasang suami istri yang harmonis, bisa berpisah karena pertengkaran; sebuah hati yang sehat, bisa menjadi keras karena kemarahan; otak yang baik, bisa mengalami gangguan mental jika tidak bisa berpikiran terbuka. Perubahan, ketidakkekalan yang terus berubah, berubah setiap hari. Oleh karena itu, Master mengajarkan kalian untuk cepat belajar Buddha Dharma dan cepat membina diri, jangan sia-siakan hidup ini. Jangan lagi membuang-buang waktu, jangan lagi menyia-nyiakan masa muda kalian, jangan lagi menyia-nyiakan jiwa kebijaksanaan diri sendiri. Setiap kalimat yang Master sampaikan kepada kalian adalah ungkapan bijak yang penuh makna dan filosofi.
Master beri tahu kalian, orang yang tidak sungguh-sungguh membina pikiran akan selamanya kehilangan jiwa kebijaksanaannya. Jiwa kebijaksanaan yang sejati harus dijaga agar tetap hidup, yakni harus mengubah diri sendiri dan tahu untuk menghargai hidup diri sendiri, maka orang ini baru akan memiliki jiwa kebijaksanaan; orang yang bahkan tidak menghargai hidupnya sendiri, dia tidak memiliki jiwa kebijaksanaan. Kalau kalian hari ini tidak membina diri dan tidak berusaha keras, jiwa kebijaksanaan kalian akan perlahan sirna.
