Kesadaran yang Sempurna, Sering Melihat Sifat Kebuddhaan
Hidup yang ada makan, bisa tidur, hati tenang, tidak tamak, tidak menginginkan sesuatu, sudah merasa puas, sungguh. Masih tamak dan menginginkan apalagi? Apalagi yang ingin diminta? Tidak ada uang, saya tidak melakukannya lagi; kalau tidak bisa pergi, saya tidak pergi; saya akan melafalkan paritta baik-baik, saya demi di masa depan nanti, jiwa saya bisa pergi ke Surga, itu baru benar-benar meyakini ajaran Buddha Dharma. Sampai sekarang, jika mencari uang demi menjamin hari tua diri sendiri, masih lebih baik, jika mencari uang, demi nantinya diberikan ke anak, itu sudah pasti adalah orang yang bodoh. Sudah satu onggok tulang tua, mencari uang masih demi anak? Mengapa Tante Zhou, kamu tidak mencari uang demi putramu? Kamu sekarang seharusnya membantu mengasuh anak, walaupun kamu sudah 82 tahun, akan tetapi sekarang kesadaranmu masih cukup baik, tubuh tidak masalah, kamu bisa duduk di sana membantu orang lain mengasuh anak, jadi kamu bisa mendapatkan sedikit uang, nantinya bisa kamu tabung, sewaktu meninggal, bisa kamu berikan ke putramu, coba saja kamu pergi, kamu sudah berumur 82 tahun masih membantu mengasuh anak orang lain, logikanya bukankah sama saja? 62, 82, bukankah sama saja? Bodoh sekali, benar-benar saya tidak mau menasihati kalian lagi, tunggu sampai suatu hari kalian sendiri bisa memahaminya sudah cukup, yang merasa kecewa tetap Master, karena Master kasihan pada kalian. Di dunia ini ada sesuatu yang disebut sebagai “berkat dari kemalangan”, yang Master berikan pada kalian adalah berkat yang benar. Apakah berkat dari kemalangan itu? Berarti semakin menderita, membina diri dengan semakin baik. Hari ini saya tidak punya uang, maka saya harus membina diri sampai punya uang; hari ini saya tidak punya moralitas baik, maka saya harus membina moralitas baik; hari ini keadaan saya buruk, maka saya harus membina diri sampai menjadi baik; hari ini tubuh saya tidak sehat, maka saya harus membina diri sampai tubuh sehat, ini yang disebut sebagai “berkat dari kemalangan”, kata-kata Master meskipun berat, akan tetapi ini adalah jodoh pendukung bagi kalian.
Menginginkan apalagi di luar, yang di luar semuanya palsu, baju apa yang indah … memohon ke dalam, jangan ke luar. Seorang praktisi Buddhis seharusnya memohon ke dalam, memohon ketenangan pikiran, memohon ketentraman pikiran, tidak memohon ke luar. Kalau kamu meninggal, apakah anakmu masih milikmu? Kehidupan bagaikan mimpi, jadi jangan menyesatkan diri sendiri. Begitu tidur mungkin saja bisa meninggal, maka jangan sampai tersesat, harus meniadakan keakuan, meniadakan orang lain, meniadakan semua makhluk. Terhadap apapun bisa berpikiran terbuka, apa yang saya miliki? Kalaupun orang lain membicarakan saya, lalu bagaimana? Bahkan semua makhluk saja tidak ada, sudah terang, maka kesadaran spiritual akan menjadi tinggi, menyadarkan semua makhluk sampai tuntas adalah tugas praktisi Buddhis. Bila kamu sudah menyadarkan semua makhluk, bukankah berarti tiada orang lagi? Bukankah tiada lagi semua makhluk? Harus diingat, tiga pikiran tidak bisa dimiliki, maka tidak ada lagi perolehan dan kehilangan. Jika ketiga pikiran ini tidak didapatkan, maka di dunia ini, kamu tidak akan ada perolehan dan kehilangan lagi, apa yang kamu dapatkan? Apa yang kamu kehilangan? Apakah ketiga pikiran ini? Kalian yang duduk di bawah, Master akan memilih acak satu orang untuk berdiri menjawab, oke? Ada berapa orang di antara kalian yang bisa menjawabnya? Kalau kalian yang bisa menjawab, sekarang tunjuk tangan, Master memberikan gengsi kepada kalian. Lihat bukan? Saya tidak bercanda dengan kalian, harus benar-benar belajar. “Pikiran di masa lalu tidak bisa dimiliki, pikiran yang sekarang tidak bisa dimiliki, pikiran di masa depan juga tidak bisa dimiliki”, ini disebut sebagai tiga pikiran yang tidak bisa dimiliki. Yang lalu sudah berlalu, maka jangan dibicarakan lagi; yang akan datang belum tiba, juga jangan dibicarakan lagi; sekarang sudah berlalu, lalu bisa bagaimana? Maka jangan melekat pada pikiran-pikiran ini, mengerti?
Master beritahu kalian, kesadaran yang sempurna, yakni kesadaran atas sifat dasar yang sempurna, maka kamu akan melihat dan membuktikan sifat Kebuddhaan, perilaku sudah sepenuhnya sesuai dengan Buddha dan Bodhisattva, selain itu sudah sepenuhnya mengembangkan sifat Kebuddhaan, sudah menunjukkan suatu fenomena yang sempurna. Kalian adalah murid, Master sekarang mengajarkan Dharma dengan begitu dalam, hal-hal yang Master bahas ini, kalian harus pahami, jika tidak memahaminya, lalu untuk apa duduk di sini? Perilaku sepenuhnya sesuai dengan Buddha dan Bodhisattva, dengan kata lain, kita berbicara di dunia ini harus mengatakan perkataan seperti Bodhisattva, otak kita harus memiliki pemikiran Bodhisattva, dalam perbuatan harus sama seperti perbuatan Bodhisattva, dengan demikian, kamu akan membuktikan keberadaan Buddha dan Bodhisattva. Hari ini mereka menyebut Master sebagai “Bodhisattva”, maka perilaku, ucapan, dan gerak-gerik Master harus seperti Bodhisattva, maka disebut sebagai “jian zheng” – melihat dan membuktikan, semua orang sudah melihatnya, dan membuktikan kalau Master adalah wujud penjelmaan Bodhisattva, maka sesungguhnya, kamu sama dengan telah mencapai pencerahan Bodhisattva. Mengerti? Saya berharap kalian setiap orang bisa menjadi Buddha dan Bodhisattva, karena perilaku dan gerak-gerik kalian bisa membuktikan kalau kamu adalah Bodhisattva, selain itu harus sesuai dengan Bodhisattva, setelah sesuai, juga harus mengembangkan sifat Kebuddhaan secara total. Apa yang dimaksud dengan mengembangkan sifat Kebuddhaan secara total? Yakni dengan menolong orang, pengembangan sifat Kebuddhaan yang sesungguhnya adalah dengan terus-menerus menolong orang, yakni melupakan diri sendiri, hanya tahu menolong semua makhluk. Menunjukkan suatu fenomena yang sempurna, apa maksudnya? Buddha dan Bodhisattva di Alam Manusia (dunia) menolong orang dengan sempurna, membuat kalian bisa melihatnya, oleh karena itu, jika kamu hanya memahami teori Buddha dan Bodhisattva, tidak melambangkan kesempurnaan, karena praktik dan teori tidak mendua, apa maksudnya? Yakni hal yang dilakukan dan teori yang kamu peroleh, belum tentu sama, maka kalian harus memahami bahwa, semua yang dilakukan dengan teori harus menyatu menjadi satu. Perilaku yang kamu lakukan harus sesuai dengan teori Dharma, maka kamu baru menyatu, berarti sejalan, bukan berlawanan. Di mulut berkata seperti itu, namun yang dilakukan pada kenyataannya adalah hal yang berbeda. Tidak sama dengan Bodhisattva, itu berarti berlawanan, tidak sesuai dengan prinsip teori Buddha Dharma.
Ajaran Buddha Dharma ada di Alam Manusia, namun meninggalkan Alam Manusia, maka tidak ada lagi ajaran Buddha Dharma. Karena kita hidup di Alam Manusia – dunia, maka kita bisa mengenal ajaran Buddha Dharma, akan tetapi kalau kita meninggalkan Alam Manusia, maka tidak ada lagi ajaran Buddha Dharma duniawi. Di Surga ada Buddha, akan tetapi cara belajarnya ada di Alam Manusia. Contoh sederhana, saat kamu belajar di sekolah menengah, kamu masih bisa mempelajari pelajaran sekolah menengah untuk ujian masuk universitas, namun tunggu sampai kamu sudah masuk ke universitas, maka kamu sudah menjadi seorang mahasiswa/i, bagaimana mungkin kamu kembali belajar tentang pelajaran bagaimana untuk masuk universitas? Mengerti? Jika kita sudah sampai di Surga dan menjadi Bodhisattva, kalau begitu kamu sudah menjadi Bodhisattva, yang masuk semuanya adalah Bodhisattva, logikanya sama saja.
Kesadaran benar yang sejati adalah kesadaran dan praktik yang sempurna, dengan kata lain kesadaran dan perilaku kamu semuanya sempurna. Seorang praktisi Buddhis harus mengubah material raga badaniah menjadi terang cahaya sifat Kebuddhaan? Raga badaniah manusia bukankah adalah materiil? Bukankah adalah tubuh? Harus bisa mengubahnya menjadi sifat Kebuddhaan, dengan kata lain, kita harus bisa meninggalkan tubuh daging, benar-benar menggunakan jiwa kita untuk menemukan terang cahaya. Sifat Kebuddhaan harus memenuhi seluruh alam semesta, harus belajar ketidakkekalan, harus mengenal ketidakkekalan, apa maksudnya? Yakni kita harus belajar bahwa segala hal di dunia ini tidak ada yang kekal, kita harus mengenal bahwa segala hal di dunia ini tidak ada yang abadi, kamu sudah melihat kebenarannya, berarti kamu sudah meningkat. “Wu chang” – ketidakkekalan, karena tidak ada sesuatu yang abadi, dan kamu sudah benar-benar melihat kebenarannya, kamu sudah tahu kalau di dunia ini memang begitu, malah membuatmu menjadi bertumbuh besar. Oleh karena itu belajar memahami konsep pandangan dan pemikiran diri sendiri sangat penting. Yakni terhadap semua hal yang kamu lakukan, kamu harus bisa memahaminya, hari ini dia melakukan hal ini, saya memahaminya, karena saya sedang menekuni Dharma; hal-hal yang saya lakukan itu, saya harus bisa memahaminya, saya sedang menekuni Dharma. Sesungguhnya, hidup susah sedikit pun tidak masalah, sungguh, sama dengan melatih diri sendiri, hanya dengan mengalami kesusahan baru bisa melatih diri sendiri, maka dari zaman dulu dinamakan sebagai latihan pembinaan keras – susah – “ku xiu xing”. Kata “ku” – susah, pada saat diterjemahkan dari bahasa India, kata ini di India sesungguhnya berarti panas, yakni panas yang luar biasa, pada saat itu di India panas sekali, para biksu itu berjalan di jalanan meminta dana makanan, itu sedang melatih mereka untuk menjalani penderitaan, keringat terus mengalir keluar, matahari bersinar terik, menyengat tubuh diri sendiri, pada saat itu, ini disebut sebagai “ku e” – kesengsaraan.
Master beritahu kalian, kita harus melahirkan pikiran untuk meninggalkan keduniawian, yakni kita harus “membenci” segala ketamakan, kebencian, dan kebodohan di dunia ini. Hanya dengan “muak” – meninggalkan ketamakan, kebencian, dan kebodohan, kamu sendiri baru tidak akan lagi tamak, membenci, dan menjadi bodoh; kalau kamu masih merasa ketamakan, kebencian, dan kebodohan adalah hal yang baik, maka kamu pasti akan terjerumus ke dalam ketamakan, kebencian, dan kebodohan, mengerti? Oleh karena itu, kita harus meninggalkan kehidupan yang ternodai. Kamu harus merasa kalau kehidupan ini sangat kotor dan ternoda, coba kamu pikirkan, bukankah sangat kotor? Di tempat kerja, saling menjatuhkan dan saling menipu, berselisih satu sama lain, coba pikirkan masa lalu kalian, orang ini mengatakan kejelekkan orang itu, dan orang yang itu mengatakan kejelekkan orang ini, hari ini membuat masalah dengan orang ini, besok membuat masalah dengan orang itu, lalu di antara pria dan wanita juga masalah hubungan yang tidak ada habisnya, coba pikirkan, bukankah kalian sudah kotor dan ternodai? Mencuri, merampas, menjarah rumah, diam-diam melakukan kejahatan, hal apa yang tidak kotor dan ternoda? Kalian sendiri harus memahaminya.
Apa yang dirasakan dan diterima di dunia ini semuanya adalah kepahitan – derita. Dengan kata lain, memberitahu kalian bahwa hidup di dunia ini, asalkan sesuatu yang bisa merasakan, dia akan menderita, yakni derita, kekosongan, dan ketidakkekalan. Penderitaan dan kekosongan semuanya tidak kekal, karena penderitaan di dunia ini akan ada akhirnya. Akan tetapi kalau kamu pergi ke Neraka, penderitaan yang akan kamu terima, itu tidak akan pernah ada habisnya, selamanya tidak akan bisa bebas. Oleh karena itu, mengapa Master begitu panik, meminta kalian menggunakan waktu yang singkat di Alam Manusia ini untuk membina pikiran dan membina diri baik-baik, tidak mengijinkan kalian kelak pergi ke Neraka, karena di Neraka tidak ada waktu, maka disebut sebagai “Wu Jian Di Yu” – Neraka Tanpa Ruang. Kalau kamu dipenggal kepalanya di Neraka, maka tidak lama kemudian, kepala akan tumbuh kembali, lalu dipenggal lagi, setiap kali merasa kaget dan ketakutan; di Neraka Kotoran, baunya luar biasa, kalian tidak akan bisa keluar. Oleh karena itu, meminta kalian harus bisa meninggalkan, hanya punya waktu yang begitu singkat, kalian masih mau melakukan ini dan itu, masih tidak mau melafalkan paritta dan membina pikiran baik-baik, masih mengejar sedikit harta kekayaan, ketenaran, dan keuntungan di dunia ini. Kalau seseorang sudah tua, bagaimana mungkin masih mampu bergerak, apakah masih ingin menikmati berkah ketenangan, menderita sedikit itu tidak masalah, saya hidup sedikit menderita, namun saya masih tetap hidup, saya hidup dengan lebih baik, saya juga tetap hidup, akan tetapi kondisi “lebih baik” ini tidak kekal, penderitaan yang saya alami juga tidak kekal, maka disebut sebagai derita dan kekosongan yang tidak kekal, menderita juga adalah kosong. Kalian dulu masih kecil takut disuntik, baru saja disuntik, takut atau tidak? Kalian sekarang saat tidak disuntik, apakah masih ada perasaan ini? Tidak kekal, akan tetapi, setelah kalian meninggal, jiwa bersifat abadi, saya ingin kalian membina sesuatu yang abadi, jangan membina sesuatu yang dimiliki yang bersifat sementara.
Banyak wanita yang belum pernah melahirkan, takut atau tidak? Banyak orang belum pernah dioperasi, takut atau tidak? Sebelum pergi, merasa sangat takut, tunggu sampai sekarang, coba kalian katakan, apakah masih ingat? Sudah tidak memiliki perasaan ini lagi. Yang sudah melahirkan anak tidak merasa sakit lagi, maka tidak kekal. Oleh karena itu, Master meminta kalian untuk mengingat derita, ini sangat penting, harus sering mengingatnya, sering mengingat penderitaan dan kesakitan diri sendiri di masa lalu, maka kalian akan merasa kalau sekarang sangat baik. Saya sudah merasa puas, saya dulu telah banyak menderita, maka memikirkan saat ini, saya merasa puas, ini namanya mengingat derita, mengerti? Kemudian, sering memikirkan kesalahan diri sendiri, sering memikirkan penderitaan diri sendiri, baru bisa menyemangati diri sendiri, sering memikirkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan dulu, sering memikirkan penderitaan-penderitaan yang dialami dulu, kamu baru bisa bertekad berusaha keras, kamu baru akan merasa di kehidupan selanjutnya saya tidak mau lagi terlahir sebagai manusia, apakah kamu Xiao Rong Rong di kehidupan selanjutnya masih mau datang ke Alam Manusia lagi? Maka hanya dengan mengandalkan waktu kamu sekarang yang singkat ini, sekarang kamu sudah 56 tahun, masih ada kurang lebih 10 sampai 15 tahun, cukup atau tidak? Bisa membina diri sampai ke Surga tidak? Sudah tidak keburu lagi, masih membuang-buang waktu.
Mengapa Master sering meminta kalian untuk menerima sukacita maupun kepedihan, coba kamu lihat, saat Master sedang membabarkan Dharma, sebentar membuat kalian senang, sebentar membuat kalian sedih. “Bersukacita” karena kalian sudah menemukan ajaran Buddha Dharma, “sedih” agar kalian tidak melupakan masa lalu kalian, hanya dengan berduka, kamu baru bisa maju ke depan. Jika sepanjang hari hidup di tengah sukacita, maka orang ini tidak akan ada kemajuan; kalau sepanjang waktu hidup di tengah kepedihan, orang ini juga tidak akan maju, karena dia tidak bisa melihat cahaya harapan, dia tidak bisa melihat masa depan.
Kasihan sekali, Master sudah menggunakan seluruh suara tenggorokan saya, sudah berusaha sekuat tenaga untuk menolong kalian, yang seharusnya dikatakan sudah Master katakan, kalau yang bersedia mendengarkannya, maka dengarkan baik-baik; yang tidak mau mendengar, maka apapun yang seharusnya diterima diri sendiri, Master pun hanya bisa menerimanya, kalau kalian tidak baik, Master juga akan menerimanya. Karena Master akan menderita, dan penderitaan yang Master terima adalah penderitaan para murid, karena kalian menderita, maka Master merasa sedih. Coba pikirkan teman-teman se-Dharma sekalian, sekarang kita sudah menderita begitu banyak, karena terlalu lambat mulai membina pikiran, sudah terlalu lambat mulai melakukan jasa kebajikan, oleh karena itu, balasan karma kalian di masa lalu pasti akan dibalaskan.
Master percaya, baik grup muda-mudi, maupun kalian para murid pengikut, orang yang benar-benar membina dirinya, di masa tua nanti, keadaan kalian pasti akan bagus. Jalan hidup sendiri dijalani sendiri, jangan menunggu sampai nantinya berbaring di ranjang dan memohon pada Master, kalian baru teringat perkataan Master hari ini pada kalian, itu sudah sangat terlambat. Yang kalian lakukan untuk Bodhisattva terlalu sedikit, jasa kebajikannya tidak mencukupi, diri sendiri pada saat waktunya tiba juga pasti ada balasan karmanya; hanya jasa kebajikan yang bisa menghapus balasan karma, jasa kebajikan, jasa lebih besar dari kesalahan, sesederhana itu logikanya. Lalu mengapa ada orang di antara kalian, yang begitu ada sedikit masalah segera tertimpa kesialan besar? Karena tidak punya jasa kebajikan. Master tidak ingin bicara lebih banyak, benar-benar membina diri, praktik nyata, itulah orang yang bijaksana.
Ketamakan selamanya mencelakakan orang lain, ketamakan bisa menghilangkan nyawa seseorang, maka kita sama sekali tidak boleh tamak, ketamakan bisa mencelakakan orang lain sampai mati. Apa yang seharusnya kamu dapatkan, Bodhisattva akan memberikannya padamu, apa perlu kalian memikirkannya? Kalau tidak pikiran kalian tidak akan bebas dan leluasa, Master secara langsung akan mengatakannya pada kalian, apa yang dimaksud pikiran yang tidak bebas dan leluasa? Yakni pembinaan yang tidak cukup baik. Mengerti? Yang palsu akan mencelakakan diri sendiri, berpura-pura tulus sama dengan menipu diri sendiri, jika kalian tidak memperbaikinya baik-baik, maka lihat saja, tidak perlu mengatakannya pada Master. Master beritahu kalian, Master bisa melihat semuanya, hari ini walau tenggorokan saya sakit, permintaan saya terhadap murid pengikut sudah pasti tinggi, kalau tidak, pelan-pelan kalian akan mundur ke belakang. Semoga kalian semua mawas diri, lebih banyak memutar otak, lebih sering berpikir, menolong nyawa satu orang, lebih mulia dari membangun pagoda Buddha tujuh tingkat.
