27. Tidak Memahami Kebenaran yang Ada, Mengubah Karma Menjadi Dosa — 不明事理 转业为孽

Tidak Memahami Kebenaran yang Ada, Mengubah Karma Menjadi Dosa

Yang dimohon tidak berbuah, ketika sesuatu yang dimohon oleh seseorang tidak berhasil, maka selanjutnya akan berubah menjadi kebencian. Ketika kamu ingin memohon suatu hal, namun tidak bisa didapatkan, maka akan terlahir suatu pemikiran benci, yakni kebencian dalam dirimu. Contoh sederhana, hari ini saya memohon untuk seseorang, misalnya, memohon untuk ibu sendiri, “Guan Shi Yin Pu Sa, saya mohon padamu, supaya ibu saya jangan meninggal, mama saya sekarang sakit, Guan Shi Yin Pu Sa, saya mohon, saya bersedia untuk begini begitu …”, sudah mengatakan banyak sekali perkataan bagus, sudah berikrar banyak ikrar besar, terakhir ibu masih tetap meninggal. Akan tetapi, bukannya diri sendiri merasa, karena karma yang dilakukan ibu di kehidupan sebelumnya dan di kehidupan ini, juga ditambah dengan akumulasi karmanya dari berkali-kali reinkarnasi, ditambah dengan jodohnya, umurnya, semuanya ini tidak dipikirkannya, terakhir, malah membenci Bodhisattva, “Bodhisattva, mengapa kamu tidak punya mata membiarkan ibu saya meninggal?” Coba kalian katakan, orang-orang seperti ini kasihan atau tidak? Seperti banyak orang yang memohon pada dokter, berlutut di sana, “Dokter, kamu harus bisa menyembuhkan sakit ibu saya.” Terakhir, dokter sudah berusaha keras, berpikir mati-matian, tetap tidak bisa menyelamatkan hidup ibunya, maka banyak orang yang memukul dokter, akhirnya ditangkap masuk ke kantor kepolisian dan dihukum. Bukankah logikanya sama saja? Di sini ibu baru saja meninggal, di situ dihukum penjara, menurut kalian, bodoh atau tidak?

Oleh karena itu, mengejar ketenaran tidak mendapatkan ketenaran, mengejar kekayaan tidak mendapatkan kekayaan, maka dia pun mulai berkhianat. Banyak orang yang menjadi murid juga begitu, pertama sudah menjadi murid Master, berharap Master bisa memberkatinya. Kalau begitu, Master memberkati begitu banyak orang, mengapa ada begitu banyak orang begitu diberkati langsung sembuh? Banyak orang-orang tua yang sudah sakit selama puluhan tahun, pulang ke rumah, bahkan tidak perlu minum obat lagi. Ada satu orang di Seminar Dharma di Hongkong, begitu bertemu Master, diberkati, lalu banyak penyakit lamanya langsung sembuh, sekarang tidak perlu minum obat lagi. Coba kalian pikirkan, memangnya semua ini adalah kebetulan? Kalian harus merenungkannya, mengapa orang lain memohon bisa terwujud, sedangkan kamu tidak? Murid yang diajar oleh satu guru yang sama, mengapa dia bisa masuk universitas, sedangkan kamu tidak? Karena kamu tidak rajin, karena kecerdasan intelektual kamu kurang, lalu kamu masih menyalahkan orang lain? Oleh karena itu, bahkan Master pun dikhianati, Bodhisattva juga bisa dikhianati, karena dia merasa permohonannya tidak terwujud. Kalian ada banyak murid sebaiknya setelah mengikuti Master, setiap hari diberkati, kemudian berkata, “Master, sekarang saya belajar mengikutimu, saya ingin mendapatkan pacar pria.” Lalu “pong”, pacar pria muncul di hari kedua. “Saya memohon besok bisa mendapatkan pekerjaan yang baik.” “Pong”, hari kedua ada pekerjaan baik yang meneleponmu. Jika kalian bermentalitas seperti ini, apakah bisa memohon dengan baik? Bisa menekuni Dharma dengan baik? Kalau begitu, karena tidak bisa belajar dengan baik, lalu mulai berkhianat, “Master, mengapa tidak terwujud?” Lalu membenci Master, Master malah mengkritik saya, lebih tidak senang lagi, kemudian dirinya sendiri segera mulai menjadi tamak-benci-bodoh. Yang diinginkan tidak didapatkan, lalu mulai membenci, tidak senang, kemudian mundur dari pembelajaran Dharma, menjadi bodoh.

 

Mentalitas seperti ini bisa membuat “penyakit” semua makhluk semakin lama semakin berat. Banyak orang memohon supaya orang tuanya tidak meninggal, terakhir mereka tetap meninggal, maka mengatakan, “Karena orang tua saya meninggal, saya sudah tidak punya orang tua lagi yang mengajari saya. Saya mulai merusak diri, saya mulai berani berbuat sembarangan.” Seperti ada anak, yang karena orang tuanya bercerai, maka anak ini mulai belajar yang tidak baik, setiap hari hidup hura-hura, sampai akhirnya menjadi hidup minum-minum, berjudi, dan melacur, benar tidak? “Penyakit”nya menjadi semakin parah, sesungguhnya ini karmanya yang ditanggung oleh Buddha dan Bodhisattva akan semakin besar. Karena kamu masih seorang praktisi Buddhis, Bodhisattva kasihan padamu, maka semakin berat penyakitmu, yang ditanggung Bodhisattva juga semakin besar. Misalnya, Nyonya Zhou, anaknya tidak menurut juga tidak berbakti, kamu bisa mengatakan, “Saya sama sekali sudah tidak mau dia, saya sudah tidak peduli lagi padanya”. Akan tetapi, Nyonya Zhou, coba kamu pikirkan, walau kamu tidak memedulikannya, dalam hati, kamu juga tetap marah, walau kamu tidak mengacuhkannya, dalam hatimu tetap sedih, bukankah berarti yang kamu tanggung untuknya semakin banyak? Kalau terpikir, kamu akan merasa benci dan sedih, kalau dikatakan lebih kasar, kalau teringat kamu akan berpikir, mengapa saya bisa melahirkan anak kurang ajar seperti ini? Bukankah berarti kamu telah menanggung untuknya?

 

Karena Bodhisattva memandang semua makhluk sebagai anak kesayangannya, semua Bodhisattva memandang kita semua orang sebagai anak-anaknya, oleh karena itu, banyak agama barat juga menyebut romo – Father sebagai ayah, semuanya adalah anak. Asalkan anak ada karma, maka Bodhisattva pasti akan merasakan sakit. Mengerti? Hari ini anak ini melakukan kesalahan, memang ayah ibu tidak sakit hatinya? Hari ini, anak ini sejahat apapun, namun ayah ibu melihat dia ditangkap, hati juga pasti merasa sedih. Oleh karena itu, asalkan dia sendiri bisa merasakan hati Bodhisattva, dia baru tidak akan mendapatkan buah karma ini. Asalkan orang ini mengetahui hati-pikiran Bodhisattva, maka dia tidak akan menciptakan bibit karma ini, jadi dia tidak akan menanggung buah karma ini, kalau tidak, tunggu sampai karmanya tiba, hatinya sendiri akan sering berada di Neraka. Karena ketika seseorang sedang menderita, berarti hatinya berada di Neraka. Ketika seseorang sangat menderita, semakin lama semakin menderita, berarti dia sudah berada di Neraka. Kalian beritahu Master, apakah kalian pernah sakit hatinya? Saat kalian tidak bisa berpikiran terbuka, betapa sedihnya kalian, karena kalian tidak memahami bibit karma ini, maka kalian baru bisa menerima buah karma ini. Kalian tidak memahami bibit karma ini, maka buah karma juga bisa datang, dengan memahami buah karma ini, maka buah karma baru tidak akan datang. Karena saya memahami bibit karma ini, maka saya tidak akan menciptakan bibit karma ini, dan saya tidak akan menerima buah karma ini.

 

Jangan biarkan hati-pikiran sendiri sering “hidup” di Neraka, harus membuat pikiran diri sendiri sering “hidup” di Surga. Saat sedang senang, bukankah seperti berada di Surga? Saat gembira, bukankah waktu terasa berlalu dengan sangat cepat? Saat sedang menderita, saat sedang bekerja, bukankah merasa waktu berjalan sangat lambat? Itu karena pikiranmu yang menciptakannya. Banyak orang, asalkan roh sejatinya pergi, dia baru mengetahui masa lalunya. Kalian tahu, banyak orang di dunia ini yang tidak tahu kalau seseorang nantinya masih akan menerima balasan karmanya, setelah meninggal masih akan menerima banyak perlakuan yang tidak baik; setelah meninggal, dia baru memahami, bisa melihat diri sendiri, dia telah melakukan kesalahan, dia sekarang menerima balasan karmanya, pada saat itu, roh sejatinya sudah tidak bisa kembali ke tubuhnya, pada saat itu, derita yang diterimanya adalah benar-benar penderitaan psikologis. Coba kalian bayangkan, manusia bukankah tersiksa secara psikologis? Siksaan badaniah bisa dilewati, namun siksaan psikologis tidak bisa ditahan. Kalian lihat saja, ada banyak orang, mengapa bisa menderita gangguan kejiwaan? Karena tidak bisa tahan menghadapi siksaan psikologis. Kalau tersiksa tubuhnya, sakit sebentar, sudah lewat; hari ini jatuh, tahan sakit sedikit, makan obat penahan sakit, sudah berakhir; namun derita psikologis, walaupun kamu minum obat penahan sakit, apakah bisa berhenti sakitnya? Seseorang yang kalian cintai pergi meninggalkanmu, obat penahan sakit mana mungkin bisa menghentikan sakit hatimu? Operasi apa yang bisa kamu jalani untuk melupakan pemikiran-pemikiran ini? Jiwamu tersiksa, psikologis – mental kamu pun juga tersiksa.

 

Maka, sudah salah, namun diri sendiri juga tidak tahu kalau salah, berarti sudah tidak ada cara untuk mengubah kekuatan karmanya, dengan kata lain, ketika roh sejatinya sudah meninggalkan tubuhnya, setelah tiba di Alam Akhirat, dia sudah tidak berdaya mengubah kekuatan karmanya lagi. Tingkat kesadaran spiritual manusia biasa, dibandingkan dengan Bodhisattva dan orang suci, bedanya sangat jauh sekali, terhadap hal yang sama, namun pemikirannya berbeda, hal yang dilakukan manusia tidak akan sama. Hari ini semua orang merasa sangat lapar, datang sepiring sayur, orang suci akan berpikir, seharusnya membiarkan orang lain mengambil dulu, seperti Kong Rong yang berusia 4 tahun pun tahu untuk memberikan pir yang lebih besar pada orang lain, namun ada sebagian orang awam yang tidak bijaksana, dia sendiri akan terlebih dahulu berebut untuk makan. Inilah perbedaan cara berpikir orang suci dan Bodhisattva, dengan orang awam biasa. Memikirkan orang lain terlebih dahulu, maka orang ini adalah orang suci, sedangkan orang awam biasa, tidak memiliki pemikiran rasional, kalau orang suci memiliki pemikiran rasional, orang awam biasa tidak bisa memahami kesadaran spiritual orang suci dan Bodhisattva, sedangkan orang awam akan menggunakan pemikiran manusia biasa untuk memikirkan Bodhisattva, hanya akan memperberat halangan karma buruknya. Misalnya, kamu memohon satu hal pada Bodhisattva, permohonannya tidak terkabul, lalu kamu menggunakan pemikiran orang biasa untuk memikirkannya, “Mengapa Bodhisattva tidak membantu saya? Surga tidak punya mata ya? Saya sudah begitu menderita, mengapa Surga tidak membantu saya?” Jika kamu menggunakan pemikiran orang biasa untuk berpikir tentang Bodhisattva, coba renungkan saja, bukankah halangan karma burukmu semakin lama malah akan semakin berat? 

 

Master suka memberi contoh. Misalnya cara berpikir satu orang jahat saat memikirkan orang baik, sedangkan orang baik ini, tidak pernah berpikiran buruk terhadap orang lain, akan tetapi orang jahat ini, dia berpikir, orang baik ini akan berpikir seperti apa? Dia selalu akan berpikiran negatif tentang orang lain, benar tidak? Karena dia adalah orang jahat, dia memikirkan orang yang baik menjadi orang jahat, maka dia pasti akan menciptakan karma buruk. Sudah jelas orang lain tidak menyerangmu, misalnya, Xiao Zhu pergi bekerja ke kantor, tiba-tiba bosnya bersikap buruk padanya, ada satu orang di samping yang diam-diam menertawainya, yang pertama terpikir olehnya adalah mencurigai orang ini menjelek-jelekkan dia di depan bosnya, dia curiga pada orang ini, ini sangat wajar. Akan tetapi, jika kamu tidak memikirkannya, mungkin saja tidak begitu. Kalian jangan berpikir sembarangan, kalau tidak sampai akhirnya, ternyata bukan orang ini yang mengatakannya, ya sudah, berarti kamu sudah memfitnahnya, bukankah berarti kamu sudah menciptakan karma yang baru? Kalau menggunakan perkataan masa kini, bukankah berarti kamu kembali menjalin satu relasi buruk dengan orang lain, memunculkan satu musuh baru? Maka sebaiknya jangan memikirkannya. Yang datang tidak berasal, yang pergi tidak bertujuan. Apa maksudnya? Kosong tiada apapun, kosong tiada siapapun. Kita sudah datang ke dunia ini, kita tidak tahu sedang melakukan apa; yang pergi tidak bertujuan, orang yang pergi pun tidak tahu sedang melakukan apa. Sesungguhnya, dunia ini adalah kosong, benar tidak? Dunia ini membawa apa untuk kamu? Semuanya tidak ada, kamu berjalan ke sana kemari di tengah kekosongan, kamu masih mengira yang dijalani adalah benar.