Mengenal Sifat Dasar Diri Baru Bisa Mengenal Dunia
Orang yang menekuni Dharma harus memiliki kebijaksanaan. Karena orang yang memiliki kebijaksanaan dapat melepaskan diri dari penderitaan. Segala hal di dunia ini bersifat sangat sementara. Kita harus memahami bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya sementara dan tidak kekal. Coba pikirkan, bukankah masa kita belajar di saat muda terasa begitu singkat? Lalu pikirkan lagi, bukankah masa-masa kita bekerja juga terasa cepat berlalu? Pikirkan juga, pernikahan pun terasa begitu singkat. Anak yang baru saja lahir, sekarang sudah tumbuh begitu besar. Bagaimana mungkin kita tidak menua? Bagaimana mungkin kita tidak menyadari bahwa hidup kita dengan cepat sedang mendekati ujung akhir? Hanya ketika benar-benar memahami dan menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini tidaklah kekal, tidak ada yang bertahan selamanya, barulah kamu bisa menjalani hidup dengan tenang dan nyaman.
Orang yang membina pikiran harus belajar mengamati bahwa tubuh ini tidak suci. “Melihat” berarti mengamati, “tubuh” adalah jasmani kita, dan “tidak suci” berarti tidak bersih. Kita harus memahami bahwa sebagai orang yang membina pikiran, kita harus mampu melihat kekurangan dalam diri sendiri, menyadari bahwa tubuh kita sebenarnya sangat tidak bersih. Jika kamu tidak membina pikiran, kamu tidak akan tahu bahwa dirimu tidak bersih; seperti halnya jika kamu tidak pergi ke dokter, kamu pun tidak akan tahu bahwa tubuhmu sedang sakit. Prinsipnya sama, jika kamu tidak mandi, tubuhmu akan selalu kotor, tidak bisa dihindari. Dari mana datangnya kotoran ini? Ia muncul secara alami, akibat akumulasi harian. Oleh karena itu, orang yang memahami dan mengerti cara membina pikiran harus tahu untuk menghargai kebahagiaan yang ada di hadapan. Kita harus memahami dan melihat dengan jernih bahwa tubuh manusia selamanya tidak bersih. Harus menyadari bahwa tubuh jasmani ini selamanya bersifat tidak suci.
Harus memahami ketidakkekalan, dan menyadari bahwa hati yang dipenuhi oleh keinginan ini tidak pernah bertahan lama. Coba kalian pikirkan, adakah satu hal yang kalian lakukan yang benar-benar bertahan lama? Hari ini ingin begini, besok ingin begitu; hari ini berpikir seperti ini, besok berubah lagi. Hati kalian berubah setiap hari, perasaan berubah, suasana hati pun berubah. Maka, kita harus mengamati bahwa hati dan pikiran bersifat tidak kekal. Oleh karena itu, Bodhisattva mengajarkan kita untuk sering-sering melihat bahwa hati dan pikiran kita adalah tidak kekal. Dalam diri kalian terdapat banyak kebiasaan buruk, Bodhisattva ingin kalian menyadari bahwa tubuh ini tidaklah bersih, serta hati dan pikiran pun tidak tetap, tidak bertahan lama, dengan demikian dirimu baru akan membina diri. Kalau tidak, bagaimana kamu bisa membina diri? Jika kamu merasa diri sendiri sangat bersih, apa dirimu masih akan mandi? Harus bisa melihat dengan jernih melampauinya — tubuh itu tidak bersih, serta hati dan pikiran itu tidaklah kekal.
Segala sesuatu di dunia ini adalah bentuk dan rupa. Artinya, semua yang kamu lihat di dunia ini adalah bentuk dan rupa. Apakah kamu melihatnya? Ya, kamu melihatnya. Semua benda yang berbentuk dan berwujud itu masuk ke dalam pikiranmu, dan apa yang kamu lihat hanyalah benda-benda yang berbentuk dan berwujud itu. Mereka bisa tersimpan dalam pikiranmu, tetapi dengan cepat juga bisa kamu lupakan. Di dalam pikiran manusia, sesuatu bisa tersimpan untuk sementara waktu, tapi lama-kelamaan bisa terlupakan. Jadi, segala sesuatu yang berbentuk dan berwujud sebenarnya bersifat tidak kekal. Misalnya, hari ini saya melihat meja ini yang berbentuk dan berwujud, melihat kalian yang juga berbentuk dan berwujud. Nantinya ketika saya meninggalkan kalian dan pulang, bukankah kalian sudah tidak ada? Meja itu juga tidak terlihat lagi, kalian pun tidak terlihat. Oleh karena itu, segala sesuatu di dunia ini sebenarnya hanyalah ilusi yang muncul. Misalnya, saat merasakan sesuatu yang sangat lezat di mulut, dan perut pun sangat lapar, pada saat itu kamu makan dengan perasaan, “Wah, enak sekali.” Namun, setahun kemudian, apakah kamu masih bisa mengingat rasa enak itu dengan jelas? Ketika sedang jatuh cinta dan merasa bahagia, jika sebulan tidak berpacaran, apakah perasaan itu masih ada? Semua itu hanyalah ilusi, khayalan yang muncul dan berubah, bukan sesuatu yang nyata. Master pernah mengajarkan kalian bahwa hal yang benar-benar nyata adalah yang kekal, yang tidak akan lenyap, yang abadi.
Semua bentuk dan segala sesuatu yang kita lihat sebenarnya telah melalui sebuah proses pengolahan dan penyaringan oleh sebuah pabrik, yaitu pabrik hatimu, yaitu pabrik pengolahan di dalam hatimu sendiri. Apa yang kamu lihat melewati kesadaranmu lalu sampai ke dalam hati. Di dalam hati, semuanya diproses, jika kamu adalah orang yang jahat, maka apa yang kamu pikirkan dan lihat akan berubah menjadi sesuatu yang jahat dan buruk. Namun, jika kamu adalah orang yang baik, apa yang kamu lihat dan pikirkan akan berubah menjadi sesuatu yang baik di dalam hatimu. Misalnya, orang yang sering berpikir buruk, ketika melihat seseorang, langsung menganggap orang itu jahat; sedangkan orang yang sering berpikir baik, ketika melihat seseorang, langsung menganggap orang itu baik. Sebenarnya, yang bergerak adalah hatimu, bukan benda atau orangnya. Saya berikan contoh, kalau biasanya kamu berhubungan baik dengan orang ini, berjabat tangan, bilang “halo, halo,” tiba-tiba ada orang di sampingmu berkata: “Tahukah kamu? Dia adalah penjual peti mati.” Keesokan hari bertemu dia, apakah kamu masih akan berjabat tangan dengannya? Sesederhana itu saja. Ada seorang wanita yang sangat dihormati oleh semua orang. Namun, ada seseorang yang di depan semua orang berkata: “Tahukah kalian? Dia pernah menjadi wanita tuna susila.” Coba lihat, siapa yang masih mau bergaul dengannya keesokan harinya? Bukankah itu hatimu yang bergerak? Setelah mendengar perkataan orang, hati langsung bergerak, dan kesadaran pun berubah. Jadi, apa yang kamu lihat, apa yang kamu lakukan, dan apa yang kamu pikirkan semuanya berubah-ubah. Jadi, kekurangan terbesar manusia adalah sifat berubah-ubahnya. Yang tidak berubah bukanlah manusia, dan yang berubah hingga meninggalkan sifat dirinya juga bukan manusia. Oleh karena itu, harus memahami prinsip-prinsip ini dengan baik.
Master berulang kali mengajarkan bahwa hati dan pikiran orang yang belajar Buddha Dharma bisa mengubah segalanya, yakni hatimu dapat membuat semua hal di dunia ini berubah. Jika hati nuranimu baik dan penuh kebaikan, maka kamu akan berubah ke posisi yang baik. Karena hatimu baik, maka kamu akan melihat kebaikan dalam diri siapa pun, dengan demikian, kamu adalah orang baik. Misalnya, hari ini kamu menganggap hal ini sangat buruk, tapi tiba-tiba hatimu berubah dan kamu memahami prinsip kebenarannya, maka hatimu tidak lagi terbebani, bukankah kamu sudah mengubah hal tersebut. Ada berapa banyak orang yang hampir meninggal, berapa banyak orang yang divonis kematian di rumah sakit. Namun, tiba-tiba mereka tahu bahwa ada Master Lu yang bisa menyembuhkan penyakit yang tak bisa diobati dokter lainnya, mereka mulai menaruh harapan lagi, dan hidupnya pun tidak lagi begitu derita. Meskipun dia belum bertemu dengan Master Lu, meskipun dia belum melihat hasilnya, namun harapan itu sudah menunjukkan bahwa dia sedang berubah—bukankah ini berarti hatimu yang mengubah segalanya? Contoh sederhana: kalian mengatakan bahwa rambut kalian rontok parah, tiba-tiba ada orang yang memberitahu bahwa konsumsi biji wijen hitam bisa membuat rambut tumbuh kembali. Setiap hari saat kamu konsumsi biji wijen hitam dan merasa rambutmu mulai tumbuh, padahal sebenarnya belum tumbuh sehelai pun, ini adalah hatimu yang mengubah persepsimu terhadap keadaan — hatimu yang mengubah semuanya. Demikian juga halnya dalam penilaian orang lain; jika kamu melihat seseorang dengan pandangan baik, hatimu pun menjadi lebih baik. Jika kamu memandangnya dengan buruk, maka hatimu ini adalah hati yang buruk. Jika kamu mencurigai seseorang, pasti ada unsur kecurigaan dalam hatimu. Oleh karena itu, belajar Buddha Dharma itu tidaklah mudah.
Mengapa Bodhisattva mengatakan bahwa di Alam Manusia kita bisa langsung membina diri masuk ke surga? Karena Alam Manusia adalah titik perubahan, karna belajar Buddha Dharma di dunia ini sangatlah sulit, dan siapa yang mengerahkan lebih banyak usaha, dialah yang lebih mudah naik ke Surga. Coba kalian pikirkan, bagaimana dengan alam lain? Contoh sederhana, apakah Alam Binatang bisa membina masuk ke surga? Di Alam Asura, mereka hidup bahagia dan nyaman, menikmati hidupnya, apakah mereka masih ingin keluar dari enam alam kehidupan? Tidak, mereka tidak ingin. Contoh sederhana, kalau kita sebagai manusia tidak mengalami lahir, tua, sakit, dan mati, dan setiap hari kita selalu bahagia dan senang. Coba pikirkan, apakah kalian masih akan menekuni Dharma dan melafalkan paritta? Sama seperti banyak anak dari keluarga kaya yang sejak kecil sudah hidup enak dan punya segalanya, mereka tidak punya banyak kerisauan. Pada saat itu, mereka malah berpikir, “Saya ingin lahir lagi sebagai manusia di kehidupan berikutnya, rasanya sangat menyenangkan!” Seiring bertambahnya usia, muncul berbagai macam masalah dan kesulitan, serta kerisauan, saat itulah dia mulai menyadari, “Wah, ternyata hidup manusia penuh penderitaan, saya tidak ingin datang lagi di kehidupan berikutnya.” Inilah yang disebut dengan pemahaman dan pengenalan akan kebenaran. Jika kamu mengenal dunia ini, berarti kamu telah mengenal sifat dasar manusia; jika kamu tidak mengenal dunia ini, berarti kamu tidak mengenal sifat dasar manusia.
Oleh karena itu, Master mengajarkan kepada semua orang, berharap kalian dalam melakukan apapun, gunakanlah hati untuk mengubahnya. Jika hatimu berubah, perasaanmu akan berubah, dan niatmu akan berubah. Jika hatimu tidak berubah, perasaanmu tidak tulus, dan niatmu tidak sungguh-sungguh, maka tidak akan bisa menekuni Dharma dengan baik. Jika kamu memiliki pola pikir yang benar, kamu akan menghargai segalanya yang ada di depanmu, kamu akan menghargai jodoh, dan kamu akan menghargai segala yang kamu miliki hari ini. Kalau kalian sekarang sudah tercerahkan, kalian tahu bahwa kalian memiliki seorang Master yang begitu baik sekali, yang setiap hari dengan sepenuh hati mengajarkan kalian, maka kalian akan menghargai jodoh dengan Master. Ketika kalian menghargai jodoh, kalian menghargai berkah yang kalian miliki hari ini, dan kalian mendapatkannya, berarti kalian telah menghargai berkah itu. Harus tahu, berapa banyak orang yang bahkan belum pernah mendengar Master mengajarkan hal seperti ini. Oleh karena itu, harus belajar untuk menghargai berkah dan jodoh terhadap segala sesuatu di dunia ini, tidak boleh memaksa, dan juga tidak boleh berangan-angan kosong atau berkhayal.
