37. Sering Bertobat, Tiada Hambatan Batin 常忏悔 无罣碍

Sering Bertobat, Tiada Hambatan Batin

Manusia awam itu kasihan, akar kesadaran terlalu dangkal. Apa yang dimaksud dengan akar kesadaran? Yaitu akar kita dalam belajar Buddha Dharma terlalu tipis, jalinan jodoh Buddha tidak dalam, kekuatan konsentrasi terlalu lemah. Kita tidak mampu mengendalikan diri sendiri, begitu menghadapi sedikit masalah langsung melonjak marah, begitu menghadapi sedikit masalah langsung menyalahkan orang lain. Kekuatan kebijaksanaan kita terlalu tipis, kita tidak memiliki kebijaksanaan, saat menghadapi masalah langsung tercengang, saat menghadapi masalah langsung kehilangan kebijaksanaan. Keinginan egois kita terlalu berat, karena kita hanya memikirkan diri sendiri dan tidak pernah memikirkan orang lain. Orang yang keinginan egoisnya terlalu berat, mana mungkin bisa memiliki kekuatan konsentrasi, mana mungkin bisa memiliki kekuatan kebijaksanaan? Orang yang egois hanya tahu tentang satu kata, yaitu “Aku”, hanya tahu tentang dirinya sendiri. Menurutmu, apakah orang seperti ini bisa memiliki kebijaksanaan? Kebijaksanaan itu diperoleh dari basis semua makhluk. Sebuah contoh sederhana, ketika ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh satu orang, lalu diadakan rapat untuk didiskusikan bersama-sama, bukankah solusi yang dipikirkan oleh orang banyak jauh lebih baik daripada yang kamu pikirkan sendirian? Inilah yang disebut bahwa semua makhluklah yang membuatmu memiliki kebijaksanaan, sedangkan apa yang kamu hasilkan sendirian hanya disebut sebagai ide, dan itu pun hanya ide kecil yang egois.


Jika kekuatan pertobatan tidak besar, maka kamu tidak akan bisa keluar dari pikiran keinginan egoismu. Harus benar-benar bertobat dengan tulus: “Guan Shi Yin Pu Sa, saya benar-benar telah berbuat salah. Di masa lalu saya telah banyak melakukan kesalahan, Bodhisattva, mohon ampuni saya, saya pasti akan memperbaikinya.” Semakin besar kekuatan tekadmu , maka keegoisanmu akan semakin berkurang, dan jiwa kebijaksanaanmu akan menjadi semakin besar. Oleh karena itu, meskipun sudah jelas tahu bahwa saat lahir tidak membawa apa-apa dan saat mati pun tidak membawa pergi apa-apa, jelas-jelas tahu tidak ada satu pun benda yang bisa dibawa datang maupun dibawa pergi, namun manusia tetap saja merasa tidak bahagia jika tidak serakah. Jika hari ini saya tidak mengambil sedikit lebih banyak daripada orang lain, tidak makan sedikit lebih banyak daripada orang lain, maka saya tidak akan merasa bahagia. Hal ini telah menjadi sifat buruk manusia, benar tidak? Makan hidangan prasmanan seharga puluhan dolar, jika tidak makan sampai balik modal, rasanya tidak bahagia. Akibatnya, lambung dan usus mengalami masalah, tengah malam harus dilarikan ke rumah sakit karena lambung bocor. Mengapa harus bertindak sampai sekujur tubuh menderita seperti ini?


Harus dipahami, kita harus lebih banyak mempelajari tingkat kesadaran spiritual yang luhur dari Buddha. Kalian harus lebih banyak belajar dari Master, Master sering melakukan retret batin di dalam hati, tahukah kalian? Jika tidak, tidak akan ada satu orang pun yang sanggup menahan tekanan yang begitu besar. Di dalam hati harus sering melakukan retret batin. Apa yang dimaksud dengan retret batin? Menutup pintu hati, maka seketika itu juga kamu seperti berada di pegunungan yang dalam, menutup hati, maka seketika itu juga adalah kebahagiaan tertinggi , seketika itu juga adalah Tanah Suci. Harus menutup hati diri sendiri, bagaimana cara menutupnya? Tidak memikirkan apa pun, tidak mencemaskan apa pun, rasakan dirimu seolah-olah berada di dalam ruang hampa udara, rasakan dirimu telah melampaui ruang alam semesta dan tidak lagi berada di Alam Manusia. Ini sama halnya seperti saat pikiran kita sedang buntu, cobalah memandang ke arah langit, memandang ke arah samudra, maka pada saat itu kamu akan bisa berpikiran terbuka, mengerti? Orang yang melakukan bunuh diri terus mengurung diri di dalam kamar, semakin dia berpikir semakin tidak bisa terbuka pikirannya, dia tidak mau keluar rumah, lalu pada akhirnya dia mengambil seutas tali di dalam kamarnya dan mengakhiri hidupnya sendiri. Seseorang yang menghadapi masalah sesulit apa pun, jika dia pergi berbelanja bersama orang banyak, menghadiri perkumpulan, atau bersenang-senang, maka pada saat itu dia tidak akan berpikiran untuk bunuh diri. Oleh karena itu, harus sering melakukan retret batin di dalam hati. Karena setelah hatimu berada dalam kondisi tanpa kerisauan untuk beberapa waktu, meskipun nantinya ada kerisauan baru yang masuk ke dalam hatimu, maka hatimu pun memiliki ruang untuk menampungnya. Jika kamu tidak melakukan retret batin, kamu tidak membersihkan kerisauan di dalam hatimu, maka ketika gelombang kerisauan datang silih berganti secara terus-menerus, batas pertahanan hidupmu akan ditantang, kamu tidak akan sanggup menahan beban berat dari kerisauan tersebut, dan kamu bisa menjadi gila.


Sering melakukan retret batin, sering melakukan pembersihan. Master memberitahu kalian semua, untuk beberapa waktu jangan memedulikan hal-hal di luar jendela. Hari ini kamu menutup pintu rumah, tidak menerima telepon di rumah, tidak menonton televisi, saya hanya duduk di sini melafalkan paritta, seolah-olah di dunia ini hanya ada kamu seorang diri, kemudian membaca buku, maka tidak ada lagi hal benar dan salah yang perlu dibicarakan, tidak ada lagi pergunjingan yang bisa dibahas. Dari mana datangnya masalah benar dan salah dari manusia? Itu adalah hasil dari perbincangan kalian sendiri, diucapkan oleh kalian sendiri, dan dibuat oleh kalian sendiri. Sebenarnya di dunia ini tidak ada masalah apa pun, orang bodohlah yang mencari masalahnya sendiri. Cobalah kamu melakukan retret batin di rumah selama satu minggu, mari kita lihat apakah kamu masih memiliki masalah benar dan salah? Kamu bahkan tidak akan bisa memikirkan hal benar dan salah itu lagi. Harus mencapai kondisi tiada interaksi antara diri sendiri dan orang lain, “Tiada rupa aku, tiada rupa orang, tiada rupa semua makhluk”. Master sudah menghubungkan penjelasan ini kembali ke dalam kitab suci, bukan? Harus tidak ada ego diri sendiri, tidak ada orang lain, tidak ada semua makhluk, pada saat inilah saya melebur menjadi satu kesatuan dengan langit, bumi, dan alam semesta, dan kamu adalah orang yang paling mulia. Karena otakmu kosong, hatimu akan menjadi bersih, kamu tidak akan memiliki pikiran kacau. Pada saat inilah, kamu adalah seorang Bodhisattva.


Kita harus bebas dari kesalahan ucapan dan kesalahan jasmani. Kita tidak boleh mengucapkan kata-kata yang salah melalui mulut kita, dan kita tidak boleh melakukan hal-hal yang salah melalui tubuh kita. Coba kalian pikirkan, ada berapa banyak orang yang melakukan kejahatan melalui tubuh mereka? Pejabat setinggi apa pun, jika tubuhnya melakukan kejahatan, maka dia akan tertimpa kemalangan. Mulut kita tidak boleh berbicara sembarangan, kata-kata yang sudah telanjur diucapkan, maka masalah akan datang. Tidak boleh berbicara sembarangan, inilah yang disebut bebas dari kesalahan ucapan dan bebas dari kesalahan jasmani, tidak boleh ada cacat cela. Untuk bisa bebas dari kesalahan ucapan dan kesalahan jasmani, kamu harus membersihkan kesucian di dalam hatimu. Apa yang dimaksud dengan membersihkan kesucian di dalam hati? Yaitu dengan sungguh-sungguh menyapu bersih bagian dalam hatimu, menyapunya hingga bersih, menyapunya hingga murni, maka hatimu akan menjadi suci dan tenang. Coba pikirkan, masalah ini tidaklah menjadi masalah, masalah itu pun tidak menjadi masalah; inilah proses membersihkan hatimu. Oleh karena itu, segala benda di luar tubuh tidak ada hubungannya dengan diriku, artinya segala hal yang berada di luar tubuh tidak membawa pengaruh apa pun terhadap diri saya, sehingga hati bebas dari hambatan batin. Coba renungkan, jika kamu sudah merasa tidak masalah terhadap segala hal di dunia ini yang berada di luar tubuhmu, kamu tidak mengaitkan dirimu dengannya, tidak mempermasalahkannya, bukankah hatimu sudah bebas dari hambatan batin? Ketika tidak ada lagi masalah yang mengganjal di dalam hatimu, itu berarti kamu telah melepaskannya.


Harus dipahami, jika kamu telah melepaskan segala sesuatu, melepaskan segala benda di luar tubuh, maka barulah kamu benar-benar telah bertobat. Sebagai contoh, kamu bertobat: “Guan Shi Yin Pu Sa, saya telah berbuat salah, saya tidak seharusnya memukul dia.” Jika pada saat itu kamu merasa segala hal di dunia ini tidaklah menjadi masalah, apakah kamu masih akan memukulnya? Bukankah itu berarti kamu sudah bebas dari hambatan batin? Mengapa kamu sampai memukul anak ini? Karena kamu memiliki hambatan batin; kamu merasa telah membesarkan anak ini dengan susah payah, lalu mengapa dia memperlakukanmu seperti itu? Bukankah kamu sedang terikat hambatan batin? Kamu melepaskan dia, tidak menjadi masalah lagi, benar tidak? Harus menerapkan pertobatan di dalam ucapan dan perbuatanmu. Setelah saya bertobat hari ini, maka kata-kata yang keluar dari mulut saya tidak boleh salah lagi, dan perilaku pun tidak boleh ada kesalahan lagi. Coba kalian pikirkan, saat kalian di dalam grup muda-mudi membicarakan ini dan itu, pernahkah kalian berpikir bahwa seiring berjalannya waktu, kata-kata ini semuanya akan tersebar ke sana kemari? Bagaimana mungkin Master tidak mengetahuinya? Saat hari ini kalian mengucapkan kata apa pun, kalian harus memikirkan buah akibatnya, “hari ini saya mengucapkan kata-kata ini, kelak orang ini pasti akan mengetahuinya.” Oleh karena itu, jika saya tidak mengucapkannya, maka dia tidak akan tahu. Mengapa  harus membicarakannya? Master melihat kalian sungguh sangat kasihan. Jangan mengira diri sendiri berpendidikan tinggi, sebenarnya IQ dan EQ kalian sangatlah rendah. Master sering kali merasa malu demi kalian, namun Master tetap harus memberkati kalian.


Hanya setelah kekuatan konsentrasi sudah cukup, barulah kita bisa membimbing kesadaran spiritual semua makhluk. Kamu sendiri harus memiliki kekuatan konsentrasi terlebih dahulu, barulah kamu bisa membantu semua makhluk. Kamu sendiri baru belajar Xin Ling Fa Men beberapa hari, lalu hari ini pergi membimbing orang lain. Orang tersebut sudah belajar pintu Dharma lain selama belasan tahun, dia hanya bertanya beberapa kalimat saja kepadamu, kamu sudah tidak bisa menjawabnya. Orang itu pun langsung berbalik menceramahimu, dan pada akhirnya, bukan kamu yang berhasil membimbing dia, melainkan dia yang telah mempengaruhimu kembali. Apakah ada orang yang seperti ini? Coba suruh dia datang dan mempengaruhi Master. Inilah yang disebut tidak memiliki kekuatan konsentrasi. Di sini tanganmu sedang memegang buku, di sana sedang memegang barang lain, lalu kamu berlari menghampiri dan berbicara kepada orang lain. Dia sudah belajar Buddha Dharma selama belasan tahun, begitu dia sembarangan mengucapkan beberapa kalimat tentang Dharma, kamu langsung tercengang.


Harus dipahami, kekuatan konsentrasi itu berasal dari kekuatan kebijaksanaan; hanya orang yang memiliki kebijaksanaan barulah bisa memiliki kekuatan konsentrasi. Jika kamu ingin pergi membimbing orang lain, kamu harus mempelajari dengan sungguh-sungguh “Bai Hua Fo Fa” dari Master. Jika kamu mampu memahami dan menguasai setiap artikelnya secara mendalam, atau bahkan bisa menghafalnya dengan baik, maka saat kamu membicarakan Xin Ling Fa Men kepada orang lain, apa pun yang mereka katakan, barulah kamu bisa menjawabnya dengan lancar dan fasih , benar tidak? Membabarkan Dharma kepada orang lain bukanlah untuk berdebat, melainkan untuk membuat dia paham. Di masa lalu dia mungkin telah banyak belajar ajaran Buddha dan banyak mempelajari Buddha Dharma, itu karena dia memiliki dasar yang baik, tetapi dia belum tentu dapat memahami keindahan dan keajaiban di dalamnya. “Bai Hua Fo Fa” kita saat ini, dapat membuat orang-orang memahami kebenaran sejati dari kehidupan, memahami keajaiban sejati dari Dharma; membuat orang begitu membacanya langsung sadar, begitu mendengarnya langsung sadar, begitu merasakannya langsung sadar. Begitu bersentuhan dengan Xin Ling Fa Men, begitu ada perasaan langsung seketika tersadarkan, bukankah ini yang disebut sebagai pencerahan?