21. Mempelajari “Pandangan Jalan Tengah” dan Mempraktikkan “Hanya Kesadaran” 学“中观” 习“唯识”

Mempelajari “Pandangan Jalan Tengah” dan Mempraktikkan “Hanya Kesadaran”

Di Alam Manusia, ketika ada orang yang peduli kepadamu, itu adalah jodoh; ketika tidak ada yang peduli kepadamu, itu juga jodoh. Artinya, jika seseorang memiliki banyak orang yang memperhatikannya, berarti orang ini berjodoh; namun jika semua orang tidak menghiraukannya, ia tetap memiliki jodoh, hanya saja itu adalah jodoh yang berlawanan. Oleh karena itu, jangan sering mengeluh bahwa bakatmu tidak dihargai, diperlakukan tidak adil, atau bahwa sulit menemukan orang yang benar-benar memahami dirimu. Lebih baik renungkanlah diri sendiri: apakah kamu memiliki welas asih universal yang memandang semua sebagai satu kesatuan? Setiap kata yang Master sampaikan kepada kalian, hendaknya direnungkan dengan sungguh-sungguh. Orang yang sering memiliki welas asih universal yang memandang semua sebagai satu kesatuan tidak akan banyak mengeluh; ia justru mampu menemukan jodoh yang baik di tengah jodoh yang berlawanan.


Apa yang dimaksud dengan welas asih universal yang memandang semua sebagai satu kesatuan? Yaitu ketika orang lain terluka, kita pun ikut merasakan sakit. Dalam bahasa modern, ini berarti menempatkan diri pada posisi orang lain. Oleh karena itu, memahami penderitaan orang lain akan membawa pada pencerahan. Semua ini adalah ajaran yang disampaikan oleh Master. Hanya ketika kamu benar-benar memahami penderitaan orang lain, barulah dirimu dapat tersadarkan. Ketika melihat ibu menderita penyakit kanker, maka akan berpikir: mengapa ia terserang kanker? Itu dikarenakan ia tidak menekuni Dharma, dan mengonsumsi terlalu banyak makanan laut hidup di masa lalu, sehingga tidak mendapatkan perlindungan dari Bodhisattva. Karena ketika segala sesuatu dalam hidup berjalan terlalu lancar, manusia justru paling mudah kehilangan kewaspadaan dan tersesat. Ketika hubungan perasaan berjalan lancar, ketika karir juga berjalan lancar, dan saat seseorang merasa bahwa segalanya serba baik, pada saat itulah orang mulai tersesat. Jika menggunakan istilah masa kini, berarti seseorang tidak boleh dibutakan oleh kelancaran.


Master memberitahu kalian: dalam segala hal, jangan selalu menganggap diri sendiri benar. Jika kebiasaan ini berlangsung lama, pada akhirnya justru akan mencelakakan diri sendiri. Oleh karena itu, kita harus belajar bernaung pada sifat dasar diri sendiri. Setelah itu, kita harus memiliki kesadaran dan pencerahan; pikiran harus positif, dan sifat dasar harus bersih. Dengan demikian, kamu tidak akan dikuasai oleh ketersesatan. Apa maksudnya? Artinya, pikiran-pikiran jahat dan cara berpikir yang menyesatkan tidak akan menetap di dalam pikiranmu, bahkan tidak akan muncul, maka harus menjaga pikiran tetap lurus dan benar.


Sebagai manusia, kita harus mengurangi nafsu keinginan dan berpuas diri. Semakin sedikit keinginan seseorang, semakin mudah merasa puas. Saya sudah sangat puas, hari ini saya masih ada sesuap nasi untuk dimakan, saya bersyukur; hari ini saya masih ada tempat untuk beristirahat, saya bersyukur; ada dunia ini sebagai tempat bagi saya untuk menekuni Dharma, yang membuat saya dari Alam Manusia ini bisa langsung memasuki Empat Alam Brahma atau Alam Sukhavati, maka saya harus bersyukur, semuanya dijalani dalam rasa syukur. Hanya di dalam rasa syukur itulah kamu dapat bernaung pada sifat dasar diri sendiri. Oleh karena itu, mengurangi nafsu keinginan dan berpuas diri, baru bisa meninggalkan godaan harta dan nafsu.


Bernaung pada pikiran yang benar, baru bisa meniadakan ketersesatan dalam setiap pemikiran. Apa yang dimaksud dengan “bernaung pada pemikiran yang benar”? Artinya, pikiranmu baru bisa melahirkan pemikiran yang benar. Setelah memiliki pemikiran yang benar dalam pikiranmu, baru bisa menghilangkan pandangan sesat dalam setiap pemikiranmu, tidak akan berpandangan salah, maka tiada pandangan yang sesat. Semua yang ada dalam pikiranmu semuanya benar, maka tidak akan muncul pemikiran sesat, kamu baru bisa tidak memiliki pemikiran sesat, tiada pandangan sesat.

Jangan ada keakuan, kesombongan, keserakahan, serta kemelekatan. Banyak orang merasa pembinaan dirinya sudah cukup baik, telah melakukan banyak jasa kebajikan, lalu menganggap dirinya sangat hebat, sering mengeluh kekurangan orang lain. Inilah awal mula munculnya keserakahan dan kemelekatan dalam diri sendiri. Oleh sebab itu, seorang praktisi Buddhis sejati harus bisa membebaskan dirinya sendiri, harus bisa menyadarkan semua makhluk. Kita harus bisa berpikiran terbuka, kita hidup menderita di dunia ini, sesungguhnya kita sama dengan sedang “menambal”, apa yang ditambal? Menambal “kebocoran” akibat halangan karma buruk yang kamu lakukan di masa lalu. Hidup susah sama dengan menambal, jadi meskipun kamu menderita, namun kamu malah menambal dan memperkuat diri sendiri.


Memiliki tekad bodhicitta, berarti harus bisa mengubah pikiran yang tenang menjadi keyakinan yang suci, pertama-tama pikiranmu harus bersih dan tenang, keyakinanmu baru bisa muncul. Keyakinan sangat penting, Master mengajarkan kalian, pertama-tama harus membersihkan dan menenangkan pikiran, kemudian baru mengubahnya menjadi keyakinan yang bersih. Satu kalimat dalam {Sutra Hati – Xin Jing}, “Yi wu suo de gu. Pu Ti Sa Duo” – dengan tiada yang didapatkan, Bodhisattva. Coba kalian renungkan, kalimat ini memiliki bobot yang sangat besar dalam ajaran Buddha Dharma, “dengan tiada yang didapatkan” berarti menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dapat diperoleh. Artinya, kamu menyadari bahwa pada hakikatnya dunia ini tidak memiliki apapun, ini disebut “menyadari ketiadaan”. Segala sesuatu di dunia ini pada akhirnya tidak dapat dimiliki, yang disebut dengan “tiada yang didapatkan” . Hanya dengan menyadari “tiada yang didapatkan”, barulah dapat terbebas dari kerisauan dan tidak melekat. Oleh karena itu, apabila seseorang mampu memahami bahwa tidak ada sesuatu pun yang benar-benar dapat dimiliki atau diperoleh, ia akan menyadari hakikat “tiada yang didapatkan”di dunia ini, maka ia tidak akan memiliki kerisauan. Tiada perolehan berarti tiada yang menetap, jika tidak ada sesuatu yang dapat diperoleh, lalu dari mana muncul hati dan pikiran untuk menetap? Dan pada apa hati dan pikiran itu bisa menetap? Ketika kamu tidak berusaha memiliki atau memperoleh hal tersebut, maka di dalam hatimu pun tidak tersimpan apa-apa. Jika di dalam hati tidak ada hal-hal itu, bagaimana mungkin hal-hal tersebut bisa tertinggal dan menetap di dalam hatimu?


Tiada yang didapatkan berarti tidak menetap, jika dijelaskan dengan bahasa kehidupan sehari-hari di Alam Manusia, ini disebut “tidak dipersoalkan lagi atau tidak masalah, tidak apa-apa”. Tidak yang tidak didapatkan, sesungguhnya ketika kamu benar-benar melihat kebenarannya, menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang benar-benar bisa diperoleh. Tidak ada tiada yang didapatkan adalah mendapatkan, kamu kembali mendapatkan, kamu sudah kosong, itu juga suatu bentuk mendapatkan, karena yang kamu dapatkan adalah kekosongan, hanya dengan kosong baru bisa melahirkan kebijaksanaan, dengan kekosongan baru bisa menyimpan kebijaksanaan. Terlalu banyak pemikiran liar, bagaimana kebijaksanaan dapat bertahan lama? Kalian harus memahami bahwa “tiada yang didapatkan, menjadikan “tiada yang didapatkan” sebagai landasan dalam membina diri. Kamu harus pahami segala sesuatu di dunia ini sebagai sesuatu yang pada hakikatnya tidak ada. Jangan mengejar hal-hal yang sejak awal memang tidak bisa diperoleh, inilah akarmu dalam menekuni Dharma. Tidak serakah—itulah akarnya. Segala sesuatu adalah kosong. Ketika benar-benar dipahami, maka semua materi duniawi datang dalam keadaan kosong, dan pergi pun kembali kosong.


Dalam ajaran Buddha Dharma terdapat dua poin yang sangat penting: yang satu disebut “zhong guan – pandangan jalan tengah (madhyamaka)”, dan yang satu lagi disebut “wei shi – pandangan hanya kesadaran (vijnaptimatra)”. Hanya kesadaran berarti hanya ada kesadaran.


Pertama-tama, kita bahas tentang “中观zhong guan – pandangan jalan tengah (Madhyamika)“. Pandangan jalan tengah berarti melihat segala sesuatu dari posisi tengah — tidak condong ke satu sisi. Jalan tengah tidak berada di dalam, dan juga tidak berada di luar. Artinya, dalam membina diri, kita tidak boleh hanya mementingkan penampilan luar, tetapi juga tidak boleh mementingkan pada batin internal. Jika tidak di luar dan tidak di dalam, lalu di mana? Bukankah itu berada di tengah? Ketika melihat suatu persoalan, jika tidak memandangnya sebagai “kiri” dan juga tidak memandangnya sebagai “kanan”, maka kamu melihat persoalan itu secara netral, itulah cara pandang jalan tengah. Ketika dua pihak yang sedang bertengkar sama-sama datang kepadamu dan masing-masing mengatakan keburukan pihak lain, kamu tidak membela yang satu dan juga tidak membela yang lain, melainkan berdiri di posisi tengah, inilah yang disebut pandangan jalan tengah.


Karena tidak sering melihat, barulah bisa memutuskan pandangan. Jika kita tidak sering menghadapi hal-hal yang merisaukan, dan tidak sering berurusan dengan hal-hal dunia fana yang kotor dan tidak bermakna, maka barulah dapat memutuskan pandangan. Apa maksudnya? Banyak orang suka berkata, “Dia bilang apa? Ceritakan kepadaku!” Maka dia mulai terbentuk “pandangan”. Yang dimaksud dengan memutuskan pandangan adalah memutus seluruh “pandangan” yang terbentuk dari apa yang kita lihat, dengar, dan ketahui, semuanya diputuskan, tidak ada lagi, dengan demikian kamu baru bisa bersikap netral dan mampu menerapkan pandangan jalan tengah. Ketika melihat sesuatu tetapi berkata “saya tidak melihatnya”, itulah yang disebut memutus pandangan. Banyak praktisi yang sudah membina diri dengan baik, ketika ada orang datang dan berkata, “Dia mengatakan ini dan itu tentangmu,” mereka menjawab, “Oh, saya tidak pernah mendengarnya,” dengan cara ini, ia memutus pandangan bodohnya sendiri. Oleh karena itu, di antara “sering melihat” dan “memutuskan pandangan”, itulah yang disebut pandangan jalan tengah. Sering melihat banyak hal, namun sama sekali tidak menyimpannya di dalam hati, sepertinya tidak melihat apa pun, yang satu kiri, yang satu kanan. Pada akhirnya, meskipun melihat tetapi juga tidak melihat; tidak melihat namun sepertinya melihat. Sebenarnya, banyak orang ketika menjawab pertanyaan, “Apakah kamu melihatnya?”“Tidak melihat,” padahal sesungguhnya dia melihat. Ada pula banyak orang yang ketika ditanya, “Apakah kamu melihatnya?” Padahal ia sudah melihat, namun ia menjawab, “Tidak melihat.” Bukankah ini yang disebut pandangan jalan tengah? Melihat, tetapi di dalam batin menganggap seolah tidak melihat; mengetahui suatu hal, namun tidak menganggapnya sebagai kenyataan, melainkan sebagai sesuatu yang ilusi. Maka itu terbentuklah pandangan jalan tengah. Jika dijelaskan dengan bahasa modern bagi para praktisi Buddhis, ini adalah dialektika materialisme.


Poin kedua yang sangat penting dalam ajaran Buddha Dharma adalah “唯识wei shi – hanya kesadaran (Vijnaptimatra),yakni segala sesuatu di luar, dunia luar, lingkungan luar, objek-objek indra di luar tubuh, semuanya adalah kosong. Kesadaran dalam diri manusia adalah satu-satunya kesadaran. Dengan kata lain, kesadaran dalam batinmu adalah satu-satunya kesadaran, ini menjelaskan tentang “kosong di luar, namun ada di dalam”. Segala sesuatu yang kamu rasakan dari luar, pada dasarnya bersifat kosong dan palsu. Sedangkan apa yang kamu alami dan sadari di dalam hati, itulah yang benar-benar nyata. Master memberikan sebuah contoh kepada kalian, ketika orang lain memberi tahu kamu bahwa di luar sangat dingin, selama kamu masih berada di dalam rumah yang hangat, kamu tidak akan merasakan dingin, benar tidak? Namun saat kamu membuka pintu dan melangkah keluar, lalu hembusan udara dingin menerpa tubuhmu, pada saat itu, kesadaran kamu satu-satunya akan dimulai, karena ini berarti apa yang dirasakan tubuh luar kamu langsung terasa ke dalam kesadaran pikiranmu. Dan kesadaran inilah yang disebut “wei shi – hanya kesadaran”, yakni satu-satunya kesadaran:“saya benar-benar merasa dingin.” Jika bukan melalui “hanya kesadaran”, maka apa pun yang dikatakan orang lain, di dalam kesadarannya ia tidak akan mempercayainya. Mengapa Master menginginkan kalian belajar hal-hal ini? Tahukah kalian mengapa kita perlu memahami hal-hal ini? Sesungguhnya ini adalah intisari penting dalam menekuni Dharma. Jika tidak memahami hal ini, kamu tidak akan mampu membangkitkan kesadaran orang lain. Karena kamu tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan dalam kesadaran mereka. Sekalipun kamu berbicara panjang lebar, atau memberikan sebuah buku, atau menyuruhnya menonton sebuah cakram (video), kesadarannya tetaplah kesadaran semula, dengan demikian, kamu sama sekali tidak dapat menyadarkannya. Oleh karena itu, kalian harus memahami cara kerja kesadaran ini.


Yang dimaksud dengan “dalam” adalah pikiran. Pikiran memiliki “pikiran eksternal” dan “pikiran internal”. Secara permukaan, kita sering berkata, “hatiku bagaimana dan bagaimana”, tetapi sesungguhnya hati atau pikiran ini terbagi dalam banyak jenis. Perasaan hati luar itu ibarat sebuah pusat komando, namun di dalamnya terdapat banyak “komandan”. Siapakah para komandan itu? Mereka adalah mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Pergerakan hati dan pikiran seseorang bergantung pada apa yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung, dirasakan oleh lidah, dirasakan oleh tubuh, serta dipahami oleh pikiran. Semua ini adalah dasar dan kondisi yang menyebabkan perubahan hati dan pikiran.  Mengapa hati seseorang bisa berubah? Karena ia terlalu banyak mendengar apa yang dikatakan orang lain, bukankah itu melalui telinga? Karena ada orang yang berkata kepadanya, “Cepat lihat ke sini, ini masalahnya.” Begitu matanya melihat, ia langsung mempercayainya, kesadarannya pun berubah, maka hatinya pun mulai berubah. Kesadarannya mulai berubah, sehingga disebut sebagai “pikiran eksternal”.