2. Jika Hati Kosong, akan Menerangi Sifat Dasar 心若虚空 照亮本性

Jika Hati Kosong, akan Menerangi Sifat Dasar

Sebagai contoh sederhana, misalnya saya orang yang membina pikiran, saat mengatur pekerjaan di hari ini, karena hubungan orang ini tidak terlalu baik dengan saya, maka saya tidak memberinya tugas. Dari segi permukaan terlihat kamu sedang mengatur orang lain, dirimu juga sedang melakukan jasa kebajikan. Namun sesungguhnya, selama dalam hatimu ada niat seperti itu, maka bukan hanya tidak memperoleh jasa kebajikan sedikit pun, melainkan justru akan menodai hatimu hingga menjadi sangat kotor dan tercemar. Dalam hal melakukan kegiatan Kebuddhaan, dirimu bahkan berani menyalahgunakan posisi demi kepentingan pribadi, dosa apakah ini? Apakah kamu mengira para Bodhisattva dan para dewa di langit tidak mengetahuinya? Jangan berpikir bahwa sudah belajar Buddha Dharma, maka adalah Bodhisattva, apakah batinmu kotor, seharusnya dirimu sendiri tahu dengan jelas. Banyak hal, ketika diri sendiri tidak mau melakukannya, lalu dorong kepada orang lain,  masih mengatakan bahwa itu memberi kesempatan bagi mereka untuk menanam jasa kebajikan. Ketika kamu memberi kepada orang ini atau orang itu, apakah di dalamnya ada egoisme dan pikiran liar? Banyak hal yang kalian ingin sembunyikan dari Master, bukankah itu menunjukkan adanya pikiran liar? Ini tidak baik, inilah yang disebut “menciptakan berbagai dharma dengan disertai prasangka”, sesungguhnya hanyalah sesuatu yang tampak benar namun sebenarnya keliru. Semua itu hanya membuat orang lain memuji, tindakan pikiran ini — yakni tindakan pikiran sudah menjadi kotor. “Meskipun membina diri,  namun oleh karenanya hati pun ternodai.” Jadi, sekalipun kamu sering melafalkan paritta, karena hatimu masih memiliki pikiran liar, maka kebaikan hatimu sudah ternodai oleh pikiran liar. Orang seperti ini “pasti sulit memperoleh jalan sejati dari pembinaannya”. Artinya, kamu tidak akan bisa mendapatkan jalan sejati dari pembinaan dirimu, karena kamu tidak dapat berjalan di jalan yang benar. Ibarat ketika mengemudi, jelas-jelas kamu melaju kedepan, tetapi setirnya selalu oleng ke kiri dan ke kanan; pada akhirnya, kamu akan keluar dari jalur yang seharusnya.


“Mengejar ketenaran namun bertolak belakang dengan kebenaran” artinya suka akan ketenaran, tetapi pada kenyataannya adalah bertolak belakang dengan kebenaran. Dengan kata lain, kamu melakukan sesuatu demi ketenaran, padahal sesungguhnya hatimu penuh keburukan. Ini adalah pantangan besar kedua dalam pembinaan diri. Jika hari ini kalian datang ke Oriental Radio Dongfang demi nama dan keuntungan, jika menyukai orang ini lalu berbicara lebih banyak kepadanya, semua ini memiliki kebocoran, dan merupakan pantangan besar dalam membina diri. Misalnya, bersikeras ingin menonjolkan diri, ingin berbicara lebih banyak dalam Buddha Dharma, inilah yang disebut melanggar pantangan “mengejar ketenaran namun bertolak belakang dengan kebenaran”. Di stasiun radio kita ada seorang penyiar,  saat mengikuti wejangan untuk para muda-mudi, ia senang mencari nama. Begitu memegang mikrofon, ia langsung berkata, “Saya adalah penyiar dari Oriental Radio Dongfang, pertanyaan saya begini…” Saat berbicara, ia berharap semua orang menatap kepadanya, apakah ini disebut membina diri? Tujuannya sudah salah, maka orang pasti akan berbuat salah. Manusia jangan terlalu mengejar gengsi, karena gengsi bisa mencelakakan orang. Di dunia ini, gengsi adalah hal yang paling mencelakakan orang, betapa banyak orang yang mati hanya demi menjaga gengsinya?


Terakhir saya sampaikan kepada kalian semua, sesungguhnya lingkungan itu sendiri tidak ada baik atau buruknya. Lingkungan kita hari ini pada dasarnya sama saja, yang terpenting adalah orangnya. Kerugian maupun keuntungan yang kamu peroleh bergantung pada manusia, lingkungan itu sendiri tidak berubah terhadapmu. Padahal berada dalam lingkungan yang sama, semua orang bekerja di kantor yang sama. Mengapa dia bisa bekerja dengan baik, sedangkan kamu tidak bisa? Mengapa atasan mempercayai dia, tetapi tidak mempercayai kamu? Sesungguhnya, untung dan rugi itu bergantung pada diri masing-masing, semua itu disebabkan oleh perilaku manusia sendiri. Lingkungan hidup kita semua pada dasarnya sama. Oleh karena itu, kita harus lebih banyak belajar untuk mengalah, yakni “mundur selangkah, lautan menjadi luas dan langit menjadi lapang”. Jika kita hanya tahu bagaimana mengambil keuntungan dari orang lain, sesungguhnya itu sama saja dengan menambah beban kenikmatan pribadi kita sendiri. Prinsipnya sangat sederhana, hari ini jika kamu mengambil keuntungan dari orang lain, itu sama saja dengan menikmati milik orang lain. Setiap kenikmatan yang kamu nikmati berarti mengurangi sedikit berkah kebajikanmu; semakin banyak kamu menikmati, semakin berkurang pula keberkahanmu.


Master mengajarkan kepada kalian, “Jika diliputi kerisauan, maka langit dan bumi terasa sempit”,  orang yang sering merasa risau, dunia di sekelilingnya akan terasa sangat sempit. “Jika penuh keluhan, maka akan menjalin musuh dimana-mana”, apabila seseorang setiap hari mengeluh pada langit dan bumi, maka ia akan terus-menerus menjalin permusuhan dan kebencian dengan orang lain. Karena kamu mengeluh pada langit dan bumi, dalam pandangannya ini salah, itu pun salah, maka ia akan menjalin permusuhan di mana-mana. “Jika selalu bersedih, maka diri sendirilah yang terikat”, ketika kamu terus-menerus merasa diri sendiri sangat kasihan, maka akan mengikat dirimu sendiri, sehingga tidak bisa mengembangkan kemampuan dan bakatmu. “Jika marah, maka malapetaka besar akan menimpa”, apabila seseorang dikuasai oleh amarah, maka bencana besar sedang menunggu di depan mata.


Kita praktisi Buddhis harus mengerti, sebagaimana sebab, demikian pula akibat. Sebab yang muncul adalah akibat dari perbuatanmu sendiri; akibat yang muncul pun dirimu sendiri yang menyebabkannya. Semua hukum karma kita terus mengalir seiring berlangsungnya hidup dan sebab-akibat, dan diri kita pun lenyap, sebab pun lenyap, akibat pun lenyap, setelah menanggung akibat, maka sebab pun berakhir. Ketika selesai menanggung akibat, maka sebab baru pun mulai muncul. Menanam sebab yang baru, kembali menghasilkan buah akibat yang baru. Karena kamu telah menikmati buah akibat itu, maka kamu pun kembali menanam sebab yang baru. Inilah sebabnya mengapa banyak orang setelah terlahir kembali, ia menikmati buah akibat dari kehidupan lampaunya. Namun, pada saat yang sama ia kembali menanam sebab yang buruk, sehingga di kehidupan berikutnya ia harus menerima akibat dari sebab yang ditanam di kehidupan sekarang, lalu kembali menanggung buah karma buruk. Manusia seringkali menjalani hidup ini dalam keadaan bingung, tidak tahu mana yang seharusnya dipertahankan dan mana yang seharusnya dilepaskan. Yang patut dipertahankan harus dijaga, dan yang harus dilepaskan sebaiknya dilepas. Semakin banyak kamu menyingkirkan hal-hal yang bersifat materi, maka semakin banyak hal baik yang bisa tertinggal dalam hatimu. Sebaliknya, semakin banyak kamu dipenuhi oleh hal-hal material, semakin sedikit pula kebaikan yang ada di dalam hatimu.


Orang yang terlalu mementingkan uang akan meremehkan hubungan kemanusiaan; sedangkan orang yang mementingkan hubungan kemanusiaan akan memandang uang dengan ringan. Orang yang memandang uang terlalu penting akan meremehkan hubungan kemanusiaan, bukankah ini sama dengan yang Master katakan tentang prinsip hidup? Oleh karena itu, harus “menjadikan hati bagaikan ruang hampa”, hati yang kosong, mampu menampung segala sesuatu, barulah bisa menjauhi dari sisi pertentangan. Jika hatimu mampu menampung semua sisi pertentangan, barulah kamu bisa bersikap toleran terhadapnya, kamu akan mampu memaafkan orang lain, mampu menoleransi mereka. Orang ini sangat menjengkelkan, tetapi saya juga merasa dia cukup menyedihkan, maka saya memilih untuk memaafkannya, karena saya tidak mementingkan diri sendiri. Dia menipu saya, tidak apa-apa. Karena meskipun dia menipu saya, saya tidak mengalami kerugian apa pun. Karena saya tahu bahwa dia menipu saya, dan sesungguhnya itu merugikan dirinya sendiri, tidak berpengaruh buruk terhadap saya. Jika hatimu mampu menampung dan menerimanya, maka kamu tidak akan merasakan pertentangan dengannya. Tetapi jika kamu tidak mampu menerimanya, maka kamu akan menjalin permusuhan dan kebencian dengannya seumur hidup.


Coba pikirkan baik-baik, menjadi manusia itu tidak mudah, belajar Buddha Dharma juga tidak mudah, semuanya tidaklah mudah. Master dengan penuh kesabaran dan kasih sayang setiap hari menasihati kalian, harus senantiasa bersyukur kepada Guan Shi Yin Pu Sa yang maha welas asih dan belas kasih. Sekarang, Xin Ling Fa Men semakin hari semakin meluas di seluruh dunia, kalian semua sudah melihat masa depannya. Semua orang sedang maju, tetapi tangga setiap orang berbeda, posisi setiap orang pun berbeda. Oleh karena itu, kita hanya boleh terus melangkah naik, tidak boleh mundur ke bawah.


 Pesan terakhir Master kepada kalian, ingatlah selalu, kita menekuni Dharma di dunia ini, kita harus meneladani tingkat kesadaran spiritual seorang Buddha. Kita hidup sebagai manusia di dunia ini, sesungguhnya kita harus melepaskan diri dari tingkat kesadaran manusia, jangan belajar menjadi manusia semata. Meskipun manusia berada di dalam Tiga Alam Baik, namun manusia juga bisa sangat jahat. Sifat dasar manusia sekarang telah ditenggelamkan oleh kotoran yang terkumpul dari kehidupan-kehidupan lampau, sehingga yang terlihat hanyalah hal-hal permukaan, bukanlah sisi sejati dari jiwa spiritual. Begitu kamu dapat melihat hal yang paling dasar dari dalam jiwa spiritualmu, itulah hal yang paling kamu butuhkan. Namun, hal-hal yang perlu didapatkan ini, sudah tidak bisa lagi kamu raih, kamu hanya bisa melepaskannya terlebih dahulu dan mencari posisi yang lebih tinggi. Sesungguhnya, itu sama artinya dengan mencari “sabun pembersih” yang lebih baik untuk mencuci jiwamu, barulah sifat Kebuddhaan dan sifat dasar dalam dirimu dapat disinari serta dibersihkan dengan tuntas. Karena saat ini kita sudah tidak memiliki kemampuan untuk membersihkan hati kita sendiri. Karena kita telah tercemar oleh keserakahan, kebencian, dan kebodohan, hingga tidak dapat melihat sifat dasar dan hati nurani kita.


Sekarang ini, manusia sudah sampai pada tingkat keburukan seperti apa? Jika kamu sedikit saja mengucapkan kata-kata yang menyinggungnya, ia segera menunjukkan wajah tidak senang, bahkan langsung membalas dendam kepadamu. Oleh karena itu, semua orang harus mengerti satu prinsip, ketika kita hidup, harus dengan sungguh-sungguh; ketika kita mati pun juga benar-benar nyata. Hanya dengan hidup secara sungguh-sungguh, barulah dapat membina diri hingga naik ke atas. Jika pembinaan pikiran dan perilakumu adalah palsu, kosong dan penuh tipu daya, maka pada akhirnya saat kamu meninggal, kamu tidak akan bisa naik ke atas, lagipula kamu hanya menipu diri sendiri.


Master membantu kalian justru dengan cara mengatakan kekurangan kalian. Jika kekurangan tidak dikatakan, akibatnya bisa fatal; sedangkan kelebihan, sekalipun tidak dibicarakan, tidak akan hilang. Master akan mengatakan sampai kalian terasa seolah-olah tak ada lagi yang tersisa, sampai wajah kalian tidak tahu harus ditaruh di mana. Jika kalian sanggup menanggungnya, maka kalian sudah berhasil, sifat dasar sejatimu sudah muncul keluar. Jika saat dikritik kamu masih merasa harus menjaga gengsi, berarti yang muncul hanyalah kepalsuan dan kesombonganmu. Maka virus-virus kesombongan, iri hati, dan kebencian yang ada di dalam hatimu tidak akan bisa disembunyikan lagi. Jika setelah Master menegur kalian, dan kalian dengan sungguh-sungguh memperbaiki diri dan melepaskan ego, maka “virus” di dalam diri kalian sudah tidak ada lagi, inilah yang disebut “pengaktifan” . Jika ada di antara kalian yang setelah ditegur Master lalu menjadi marah, sedih, atau tidak bisa berpikiran terbuka, selanjutnya pikiran bodoh pun akan muncul. Inilah wujud alami dari “virus” dalam diri kalian, dan sebenarnya itu berarti belum membina diri dengan baik.