36. Seorang Praktisi Buddhis Melakukan Sedikit Kebajikan Tidaklah Sulit 学佛人做点好事并不难

Seorang Praktisi Buddhis Melakukan Sedikit Kebajikan Tidaklah Sulit

Belajar Buddha Dharma harus fokus membina dan menekuni satu Dharma secara mendalam. Saya harus belajar dengan sangat tekun dan gigih, karena dalam pintu Dharma mana pun, asalkan kamu tekun mendalaminya dan benar-benar meresap ke dalamnya, maka hal itu disebut sebagai “Satu hal dipahami, maka ratusan hal lainnya pun turut dipahami” atau “Memahami satu poin, maka dapat menyimpulkan tiga poin lainnya”. Kamu bisa memahami segala macam Dharma melalui satu Dharma, mengertikah? Setiap Dharma, jika kamu membina pikiran dengan benar dan lurus, maka kamu telah menggunakan satu Dharma untuk menanggapi segala macam Dharma. Sebagai contoh sederhana, hari ini saya tidak secara khusus mempelajari bagaimana cara melakukan perbuatan baik, orang berkata, “Kamu pergilah bantu mendorong gerobak orang lain”, atau “Kamu lakukanlah begini dan begitu”, atau “Kamu bantu orang lansia”, dan lain sebagainya. Hal-hal ini saya tidak mengerti dan tidak mempelajarinya secara khusus, saya hanya mempelajari satu hal saja, yaitu: saya harus memiliki hati yang baik. Selama kamu memiliki hati yang baik, maka semua perbuatan baik yang kamu temui akan kamu lakukan. Bukankah ini berarti dengan satu Dharma kamu memahami segala macam Dharma? Kamu tidak perlu mempelajari semua jenis perbuatan baik sampai mahir, karena perbuatan baik itu tidak akan pernah habis dilakukan. Namun, karena kamu memiliki niat baik ini, maka perbuatan baik apa pun akan kamu lakukan. Oleh karena itu, hanya dengan selaras dengan Bodhisattva, barulah di dalam hatimu akan ada Dharma. Karena hati Bodhisattva telah masuk ke dalam hatimu, barulah kamu akan memiliki Dharma dan dapat selaras.

 

Sebagai seorang praktisi Buddhis, bahkan Dharma pun pada akhirnya harus dilepaskan, karena kamu telah berhasil dalam pembinaan. Pintu Dharma adalah sebuah jalan; saat kamu sedang menapaki jalan ini, kamu tidak boleh meninggalkan jalan tersebut. Namun, ketika kamu sudah selesai menempuh jalan ini, kamu tidak boleh lagi menyimpannya di dalam hati, kamu harus melepaskannya, bahkan Pintu Dharma yang terakhir pun sudah tidak ada lagi, barulah kamu dikatakan telah berhasil dalam pembinaan diri. Karena dalam belajar Buddha Dharma tidak ada jalan untuk mundur, kamu hanya bisa terus melangkah maju dengan gagah berani. Hanya setelah mencapai tepian pencerahan (paramita), barulah kamu boleh melepaskannya; bahkan Pintu Dharma ini pun tidak kamu butuhkan lagi, kamu bisa menjadi Bodhisattva, dan kamu pun menjadi Buddha. Setelah kita membina diri hingga mencapai tempat tertentu, ketika kita telah sampai di tujuan, kita telah menjadi Buddha, kita telah menjadi Bodhisattva, barulah kita boleh melepaskan Dharma ini.

 

Proses pembinaan diri  adalah proses yang sangat sulit dan menyakitkan, hati sering kali terombang-ambing. Mengapa ada sebagian orang yang baru mulai membina pikiran dan belajar Buddha Dharma, terkadang merasa sangat tersentuh hingga menangis tersedu-sedu, namun di lain waktu malah melupakan Buddha? Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini disebabkan karena hatinya terombang-ambing. Oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis sembari menekuni Dharma, ia juga harus membina sebuah metode ketetapan. Apa yang dimaksud dengan metode ketetapan? Yaitu bagaimana menetapkan hati terlebih dahulu, barulah kamu bisa melakukan segala sesuatu dengan baik.

 

Sebagai contoh, dulu saat kita terlambat masuk sekolah, teman-teman sudah duduk dengan rapi di dalam kelas, sedangkan kamu sendiri datang terlambat. Kamu lari masuk sambil berbunyi “pak pak pak”, “Guru, maaf saya terlambat.” Setelah duduk, kamu segera mengeluarkan kotak pensil dan buku; pada saat itu hatimu sedang panik dan tidak tenang. Dalam lima hingga sepuluh menit pertama setelah kamu duduk, kamu sama sekali tidak tahu apa yang sedang dijelaskan oleh guru. Inilah yang disebut dengan tidak ada ketetapan, benar tidak? Mengapa Master meminta kalian saat mendengarkan wejangan di hari Rabu, hati harus benar-benar tenang dan tidak boleh terlambat? Orang yang terlambat tidak akan bisa menyimak wejangan dengan baik. Kalian tahu, di gedung opera atau aula musik yang bagus, orang yang terlambat tidak diperbolehkan masuk. Mengapa? Mendengarkan musik itu ibarat menikmati sebuah puisi, kamu harus mendengarkan nuansa dari musik tersebut. Saat sebuah opera dimulai, hati orang yang berada di atas panggung dan di bawah panggung sudah menyatu; jika saat itu ada seseorang yang tiba-tiba masuk dan berlari ke sana kemari, maka kamu akan membuat hati orang lain menjadi tidak tenang. Saat Master mengadakan seminar Dharma kali ini, orang yang bertugas merekam video harus menyiapkan kameranya terlebih dahulu, kurangi berdiri, dan jangan sering membuat orang lain melihat ke arahmu. Hanya orang yang hatinya bisa tenang  barulah bisa memiliki Dharma; itulah sebabnya disebut sebagai metode ketetapan.

 

Master berkata, Dharma tidak bisa langsung dilepaskan begitu saja. Saat seseorang mencapai usia paruh baya, cukup tekuni satu Dharma, maka kamu tidak akan berjalan dengan mendua hati. Jika kamu belajar Buddha Dharma dengan sepenuh hati, maka kamu tidak akan memiliki hati yang mendua. Sang Buddha pernah bersabda: “Yang paling awal adalah yang paling akhir, yang paling biasa adalah yang paling dalam.” Apa artinya? Ini dijelaskan dengan sangat jelas; yang paling awal adalah yang paling akhir. Di saat seseorang dilahirkan, bukankah itu adalah awalnya? Bukankah itu sama dengan akhirnya? Sebelum dilahirkan, sosok dirimu itu tidak ada; dan pada akhirnya, sosok dirimu pun tidak akan ada lagi. Sabda yang diucapkan Buddha mengandung filosofi yang sangat mendalam. Kalian datang ke dunia ini hanya untuk satu kehidupan yang singkat, apa yang telah kalian lakukan? Setiap hari kalian hanya menyakiti diri sendiri, mempermainkan diri sendiri, dan menyiksa diri sendiri. Bukankah merokok itu sedang mempermainkan diri sendiri? Bukankah membual itu sedang menyakiti diri sendiri? Bukankah membenci orang lain itu sedang menyakiti diri sendiri? Menggunakan akal-akalan yang pada akhirnya membuatmu dicemooh orang lain, bukankah itu sedang menyakiti diri sendiri? Master sudah berapa kali memberitahu kalian, belajar Buddha Dharma itu harus benar dan lurus, bukan untuk main-main. Sang Buddha bersabda, yang paling biasa adalah yang paling dalam; ketika kamu menggunakan hati yang paling biasa untuk bersujud kepada Buddha, sesungguhnya kamu sedang menggunakan hati yang paling dalam. Kamu pikir saat bersujud menyembah Buddha, orang lain tidak bisa melihat hasilnya? Kamu bersujud setiap hari, setiap bulan, setiap tahun; ketika sampai pada akhirnya kamu memohon dan langsung dikabulkan, bukankah itu adalah hal yang tertinggi dan terdalam? Itu karena seseorang melakukannya dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit hingga menjadi banyak, karena itu adalah hasil dari akumulasi yang terus-menerus. Jangan lagi menyiksa diri sendiri. Autisme adalah kondisi di mana seseorang menutup diri sendiri, dan penyakit mental pun terjadi akibat perbuatan menyiksa diri sendiri. Tidak bisa berpikiran terbuka, pikiran terus buntu, “Saya benar-benar tidak bisa berpikir jernih”, hingga akhirnya menjadi sakit mental. Jika bukan kamu sendiri yang mencelakai dirimu, lalu siapa lagi yang mencelakaimu? Tidak bisakah kamu mau merenungkan filosofi Buddha ini? Mengapa manusia bisa menyiksa diri sendiri? Itu karena kamu tidak memiliki kebijaksanaan.

 

Seseorang melakukan sedikit perbuatan baik itu tidaklah sulit, yang sulit adalah seumur hidup melakukan perbuatan baik dan tidak melakukan perbuatan buruk. Kita katakan, melakukan sedikit jasa kebajikan itu tidak sulit, yang sulit adalah seumur hidup melakukan jasa kebajikan dan tidak melakukan perbuatan jahat. Hari ini kalian sembari melakukan perbuatan baik, di saat yang sama juga terus-menerus melakukan perbuatan jahat; dari mana datangnya jasa kebajikan? Dari mana datangnya permohonan yang pasti dikabulkan? Master melihat kalian sangat kasihan, Master melihat banyak orang seperti badut yang sedang mempertontonkan dirinya di atas panggung ini. Kalian sangat kasihan, mengira diri sendiri sangat pintar, menghasut sana-sini, lalu apa hasilnya pada akhirnya? Mengapa harus berbuat macam-macam? Kalian anak muda, jika sudah datang, maka lakukanlah jasa kebajikan dengan baik. Sebagian orang sering menyalahkan Master karena terlalu memanjakan kalian para anak muda; kalian juga harus memberikan kebanggaan bagi Master! Membual dan berbohong sudah menjadi hal yang biasa sehari-hari, bagaimana kalian bisa membina diri dengan baik? Menggunakan istilah zaman sekarang, jika kamu melakukan kejahatan di masyarakat, polisi mungkin belum bisa menangkapmu seketika; namun jika kamu datang ke kantor polisi untuk melakukan kejahatan, jika kamu datang ke hadapan Dewa Pelindung Dharma untuk melakukan kejahatan, maka itu sungguh sangat menyedihkan.

 

Saat Sang Buddha pertama kali membabarkan Dharma, Beliau membabarkan “Empat Kebenaran Mulia”, yaitu “dukkha (penderitaan), sebab dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha”. Beliau membicarakan tentang penderitaan hidup; alam manusia adalah yang paling menderita, setelah dilenyapkan, maka berakhirlah penderitaan itu, benar tidak? Dengan begitu, kamu telah berhasil mencapai jalan tersebut. “Dukkha, sebab dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha”, terus dibahas mulai dari awal kehidupan manusia hingga akhir kehidupan manusia. Oleh karena itu, inilah Kebenaran Sejati: dukkha, sebab dukkha, lenyapnya dukkha, dan jalan menuju lenyapnya dukkha.

 

Harus dipahami, mengetahui perbuatan baik dan jasa kebajikan, namun kamu tidak bersedia melakukannya, atau tidak bisa melaksanakannya, seseorang yang melihat hal baik tapi tidak bersedia melakukannya, seseorang yang melihat hal-hal yang sangat mudah untuk membantu orang lain namun dia tidak bersedia membantu, maka dia tidak akan mencapai tingkat “mengetahui kesalahan dan pasti memperbaikinya”. Jika kamu tidak mau melakukannya, itu berarti kamu sudah melakukan kesalahan, namun jika kamu tetap tidak mau melangkah, itulah yang disebut “tahu salah tapi tidak memperbaikinya”. Oleh karena itu, membantu orang lain melakukan kebajikan namun di dalam hati merasa tidak nyaman; ada sebagian orang yang setelah membantu orang lain melakukan sesuatu, wajahnya langsung terlihat tidak senang, ada pula yang setelah membantu orang lain, di dalam hatinya selalu ada ganjalan. Inilah yang dinamakan jasa kebajikan yang bocor.

 

Orang yang sering berbohong, dia akan merasa semakin senang saat mengucapkannya. Orang yang sering membual, bualannya akan menjadi semakin besar, dia sudah menjadikan kebohongan sebagai sebuah kesenangan. Coba pikirkan orang tua kalian, apakah ada yang seperti itu? Apakah memang demikian? Kemudian pikirkanlah, apakah kalian juga seperti itu? Sembarangan membual, sembarangan berbohong, hingga akhirnya hal ini mengakar dan masuk ke dalam kesadaran kedelapan kalian; kalian sudah menjadikan kebohongan dan ucapan dusta sebagai kesenangan. Coba pikirkan saat kalian masih muda, bukankah kalian begitu mudahnya membual? Tidak berbohong adalah salah satu sila dari Pancasila Buddhis. Sering berbohong akan membuatmu tanpa sadar jatuh ke dalam kebiasaan buruk berbohong. Sama seperti anak kecil yang suka mencuri sayur untuk dimakan; jika tidak mencuri, dia merasa tidak leluasa, karena dia sudah terbiasa. Harus diingat, banyak kebiasaan baik maupun buruk terbentuk secara perlahan tanpa kamu sadari. Mengapa sebagian orang bisa membual dengan begitu cepat? Karena dia sudah terbiasa membual. Mengapa sebagian orang makan dengan begitu cepat? Karena dia sudah terbiasa makan dengan cepat, benar tidak? Bukankah logikanya memang demikian? Hal-hal yang dilakukan “tanpa disadari” itulah yang mencelakai manusia.

 

Sebagai praktisi Buddhis, tidak boleh jelas-jelas tahu diri sendiri berbuat salah, namun malah suka melibatkan orang lain. Seorang praktisi Buddhis adalah seorang Bodhisattva, kamu tidak boleh saat berbuat salah langsung berkata: “Bukan saya, itu dia kok. Seandainya dia tidak memanggil saya, saya pasti tidak akan begini.” Orang seperti ini bukanlah praktisi Buddhis, tahukah kalian? Melibatkan orang lain, bersikeras mengatakan bahwa orang lainlah yang mencelakainya, dan melimpahkan semua kesalahannya kepada orang lain, apakah ini seorang praktisi Buddhis? “Istri saya begini begitu, makanya… tidak hanya… tapi juga…”, “Suami saya begini, makanya saya baru jadi begini.” Baru saja datang seorang pendengar setia Master; karena suaminya berbuat sesuatu, sekarang dia harus membesarkan tiga orang anak sendirian, sungguh kasihan. Suaminya tidak bisa melewati ujian asmara, maka dia menyakiti dirinya sendiri dan juga menyakiti orang lain. Oleh karena itu, manusia harus tahu kesalahan dan memperbaikinya, harus mengerti untuk tidak melimpahkan kesalahan kepada orang lain. Jika kamu “mengetahui kesalahan namun tidak memperbaikinya, mengetahui kebajikan namun tidak melakukannya, serta menarik orang lain ke dalam kesalahanmu”, dengan kata lain, kamu tahu dirimu salah tapi tidak mau berubah, kamu tahu seharusnya melakukan kebajikan tapi tidak mau melakukannya, maka kamu sendiri sudah berdosa, dan kamu akan mendatangkan banyak masalah. Inilah bukti bahwa pemahamanmu terhadap Dharma masih belum cukup dalam dan belum cukup tuntas. Maka dari itu, saat seseorang baru saja membuka mulut langsung berkata: “Itu dia kok, bukan saya, itu karena begini, karena begitu…”, setelah berbicara panjang lebar dan akhirnya menyalahkan orang lain, sesungguhnya dia sendiri pun pasti tidak baik.